Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
Penyakit Hirschsprung merupakan kelainan kongenital yang disebabkan oleh
gagalnya proses migrasi pada kolon selama masa gestasi. Tidak terdapatnya sel
ganglion pada pleksus Auerbach (mesenterik) atau di pleksus Meissner
(submukosa) menyebabkan obstruksi atau gangguan pasase pada usus besar
Angka insidensi penyakit Hirschsprung di Indonesia sendiri belum diketahui
secara jelas, namun angka insidensi di dunia adalah 1:5000 kelahiran hidup.
Penyakit hirschsprung dapat dibedakan menjadi 2 tipe yaitu Short-segment
Hirschsprung dan Long-segment Hirschsprung. Kebanyakan kasus Hirschsprung
adalah short-segment yang dimulai dari rektum sampai sigmoid bagian bawah,
dengan persentase 80% dan 20%nya adalah long-segment yang ditemukan di atas
kolon sigmoid dan bisa mengenai seluruh usus16.
Kebanyakan hirschprung dapat didiagnosa selama masa neonatus. Gejala
utama adalah kesulitan defekasi yang timbul selama 24jam pertama setelah lahir.
Kesulitan ini dapat pula disadari beberapa minggu hingga beberapa bulan setelah
kelahiran. Hirschsprung memiliki trias klasik yang muncul pada neonatus yaitu
terlambatnya keluar mekonium lebih dari 24jam pertama, muntah hijau serta perut
membuncit secara keseluruhan. Untuk pemeriksaan fisik colok dubur, maka akan
didapatkan ujung jari terjepit lumen rektum yang sempit3.
Untuk pemeriksaan penunjang yang digunakan adalah full-thickness rectal
biopsy yang merupakan gold standard pada hirschsprung dan rectal suction
biopsy dengan tingkat sensitivitas >90% serta spesifitas 95%. Penatalaksanaan
pada kasus hirschsprung biasanya dilakukan tindakan bedah sementara dan
tindakan bedah definitf3.
Tindakan bedah sementara ialah colostomy yang bertujuan untuk dekompresi
obstruksi usus yang terjadi serta mengurangi kejadian enterokolitis yang
merupaakn pemberat pada kasus hirscshprung. Selanjutnya, tindakan bedah

definitf adalah Teknik Swenson, Teknik Duhamel, teknik Soave. Menurut


Aschrafts Pediatric Surgery 5th Edition, teknik pull-through sekarang lebih dipilih
untuk terapi hirschsprung.

BAB II
LAPORAN KASUS
2.1. Identifikasi
Nama

: RF

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Usia

: 3 bulan

Pekerjaan

:-

Pendidikan

:-

Kebangsaan

: Indonesia

Agama

: Islam

Status

:-

Alamat

: Jalan sri negara lr. Sepakat, Palembang

MRS

: 31 maret 2016

Rekam Medis

: 945534

2.1.1 Anamnesis (Aloanamnesis pada tanggal 8 April 2016)


Keluhan Utama
Perut cembung
Riwayat Perjalanan Penyakit
Sejak lahir (usia 4 hari) perut anak terlihat kembung, demam tidak ada
tetap bab frekuensi 3 kali sekali menyemprot lalu dirawat di ruang neonatus.
Dilakukan foto polos abdomen dan washing satu kali sehari kembung berkurang.

Bab setiap hari, dikatakan tidak ada kelainan, pulang kontrol. Sejak tiga minggu
smrs mulai terlihat kembung lagi, kembung berkurang bila flatus.
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat penyakit dengan keluhan yang sama dalam keluarga disangkal.
Riwayat Kehamilan dan Kelahiran
Masa kehamilan

: 38 minggu

Partus

: Caesar

Ditolong oleh

: Dokter

Tanggal

: 31 Maret 2016

Riwayat Antenatal Care


Riwayat mengonsumsi obat-obatan dan atau jamu-jamuan selama masa
kehamilan disangkal. Riwayat trauma selama masa kehamilan disangkal. Riwayat
perdarahan selama masa kehamila disangkal.
Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum

: Baik

Kesadaran

: Compos mentis

Suhu

:37,1

Pernafasan

:30/menit

Nadi

:122/menit

Keadaan Spesifik
Kepala dan leher

: nafas cuping hidung tidak ada


Konjungtiva tidak anemis

Sklera tidak ikterik


Thorax

: bentuk simetris
tidak ada retraksi di dinding dada
Tidak ada ronki
Tidak ada wheezing
Bunyi jantung I dan II normal
Tidak ada murmur dan gallop

Abdomen

: Perut Cembung
Tidak ada dorm contour
Tidak ada dorm steifung
Adanya distensi
Hepar dan lien sulit teraba
Bising usus meningkat

Genitalia

: Dalam batas normal

Anggota gerak

: Akral hangat

10

Pemeriksaan Penunjang

Hasil pemeriksaan rontgen abdomen

Diagnosis
Hirschsprung Disease

11

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1. ANATOMI

Usus besar merupakan bagian dari rongga abdomen yang berfungsi untuk
absorbsi air dan elektrolit serta menyimpan bahan yang tidak dicernakan sampai
dapat dikeluarkan dari tubuh sebagai feses17. Panjangnya berkisar 1,5 m dengan
diameter sekitar 6,5 cm yang bermula dari caecum sampai canalis ani.
Dijabarkan menjadi caecum, appendix vermiformis, colon ascenden, colon
transversum, colon descenden, colon sigmoideum (colon pelvicum), rectum dan
anus.
Kolon sendiri dibagi menjadi 3 bagain yaitu colon ascenden, colon
transversum, colon descenden. Colon ascenden berjalan ke atas dari caecum ke
permukaan inferior lobus kanan hati, dari hati posis colon ascenden membelok ke
kiri membentuk flexura coli dextra (fleksura hepatika) yang membuatnya beralih
menjadi colon transversum.

Gambar 1. Anatomi Usus Besar (Sobotta, 2007)

12

Colon transversum panjangnya kira-kira 38 cm dan berjalan menyilang


abdomen, menempati regio umbilikalis dan hipogastrik. Colon transversum
membentuk lengkungan besar berbentuk huruf U, waktu mencapai daerah limpa
membengkok ke bawah membentuk flexura coli sinistra (fleksura lienalis) yang
membentuk colon descenden.
Colon sigmoideum mulai setinggi krista iliaka dan membentuk lekukan huruf
S. Memiliki panjang berkisar 25 cm. Pada pria terletak di belakang vesica
urinaria sedangkan pada wanita terletak di belakang uterus17.
Rectum berada di bagian posterior rongga pelvis. Panjang rectum sekitar 13
cm, rectum ke atas dilanjutkan oleh colon sigmoideum dan berjalan turun di depan
caecum, meninggalkan pelvis dengan menembus dasar pelvis, berawal di vertebra
sacralis III dan berakhir di ujung tulang koksigis17.
Suplai darah colon proximal dan distal secara berturut diperoleh dari arteri
mesenteric superior (SMA) dan arteri mesenteric inferior (IMA) (Gambar 2 dan
3). Sistem perdarahan colon ascenden dan flexura coli dextra terjadi melalui
arteri ileocolica dan arteri colica dextra, cabang arteri mesenterica superior.
Vena ileocolica dan vena colica dextra, anak cabang mesenterica superior,
mengalirkan balik darah dari colon ascenden.

13

Gambar 2. Arteri Mesenterika Superior Gambar 3. Arteri Mesenterika Inferior (Snell, 2006)

3.2. Etiologi
Penyakit hirschsprung disebabkan karena perpindahan neural crest cells yang tidak
komplit pada masa gestasi. Neural crest diturunkan oleh neuroblast muncul pada saat
perkembangan esophagus yang terjadi pada minggu kelima usia kehamilan. Sel-sel yang
berada di kranial dan kaudal akan masuk saat perkembangan usus antara minggu kelima
kehamilan hingga kedua belas. Semakin cepat perpindahan neural crest cells, maka semakin
panjang bagian dari aganglionosis yang akan muncul. Etiologi lain dari penyakit hirschsprung
dapat dikarenakan perubahan extracellular matrix, dan adesi neural cell. Faktor genetik
memiliki hubungan yang erat pada kejadian hirschsprung. Kebanyakan kasus hirschsprung
mengenai anak laki-laki dengan perbandingan 4:1 dibandingkan anak-anak perempuan3.
3.3. Patofisiologi
Keadaan klinis yang paling utama dari hirschsprung adalah obstruksi yang disebabkan
oleh tidak adanya gerak peristaltik. Hal ini berhubungan dengan tidak adanya sel-sel ganglion
dalam myenteric dan submucosal plexus. Pada penderita hirschsprung 75% sel-sel ganglion
berada pada rectosigmoid colon. Segmen panjang pada hirschprung mendeskripsikan
aganglionosis dari descending kolon, splenic flexure, atau kolon trasversum. Kecurigaan
hirschsprung didapatkan jika bayi terlambat mengeluarkan mekonium 24-48 jam setelah
kelahiran. Konstipasi dengan intermitten diare, distensi abdomen dengan adanya muntah, dan
asi intoleran bersamaan dengan kehilangan berat badan secara berkala merupakan gejalagejala klinis dari hirschsprung.

14

3.4. Diagnosis
Gejala- gejala klinis penderita hirschsprung biasanya tidak ada mekonium 24-48 jam
setelah kelahiran, konstipasi dengan diare intermiten, distensi abdominal, atau ada muntah.
Dilakukan biopsi sebagai standar diagnosis, kontras enema, anorektal manometry, dan biopsi
rektal. Biasanya pasien hirschsprung memperlihatkan banyak distensi gas di dalam usus kecil
dan kolon. Pada anak-anak yang lebih tua atau bukan bayi biasanya dilakukan anorektal
manometri. Hasil yang ditemukan tidak adanya rektoanal reflex. Diagnosis standar dalam
mendokumentasikan hirschsprung adalah rektal biopsi. Normal kolon terdapat myenteric dan
submucosal ganglion sel. Sebagai tambahan, adanya peningkatan asetilkolinesterase pada
submukosa dan mukosa dapat menegaskan diagnosis hirschsprung. .
3.5 Penatalaksanaan
Dekompresi serta serial washout untuk penanganan awal pada anak hirshcsprung harus
dilakukan sebelum anak mencapai kriteria operasi. Antibiotik spektrum luas diberikan, dan
mengkoreksi hemodinamik dengan cairan intravena. Pada anak dengan keadaan yang buruk,
perlu dilakukan kolostomi.
1. Tindakan Bedah Sementara
Tindakan bedah sementara pada penderita penyakit Hirschsprung adalah berupa kolostomi
pada usus yang memiliki ganglion normal paling distal. Tindakan ini bertujuan
menghilangkan obstruksi usus dan mencegah enterokolitis sebagai salah satu komplikasi
yang berbahaya. Manfaat lain dari kolostomi adalah menurunkan angka kematian pada saat
dilakukan tindakan bedah definitif dan mengecilkan kaliber usus pada penderita Hirschsprung
yang telah besar sehingga memungkinkan dilakukan anastomos
2. Tindakan Bedah Definitif 8,9,11,12
Dewasa ini ditunjukkan bahwa prosedur pull-through primer dapat dilakukan secara
aman bahkan pada periode neonatus. Pendekatan ini mengikuti prinsip terapi yang sama
seperti pada prosedur bertingkat melindungi pasien dari prosedur pembedahan tambahan.
Banyak dokter bedah melakukan diseksi intra abdominal menggunakan laparoskopi. Cara ini
banyak digunakan pada periode neonatus. Pada anak-anak dengan distensi usus yang
signifikan adalah penting untuk dilakukannya periode dekompresi menggunakan rectal
tube jika akan dilakukan single stage pull-through. Dibawah adalah jenis teknik pembedahan
yang sering dipakai.

15

1. Prosedur Swenson
Orvar swenson dan Bill (1948) adalah yang mula-mula memperkenalkan operas tarik
terobos (pull-through)sebagai tindakan bedah definitif pada penyakit Hirschsprung. Pada
dasarnya, operasi yang dilakukah adalah rektosigmoidektomi dengan preservasi spinkter ani.
Dengan meninggalkan 2-3 cm rektum distal dari linea dentata, sebenarya adalah
meninggalkan daerah aganglionik, sehingga dalam pengamatan pasca operasi masih sering
dijumpai spasme rektum yang ditinggalkan. Oleh sebab itu Swenson memperbaiki metode
operasinya (tahun 1964) dengan melakukan spinkterektomi posterior, yaitu dengan hanya
menyisakan 2 cm rektum bagian anterior dan 0,5-1 cm rektum posterior.10
Prosedur Swenson dimulai dengan approach ke intra abdomen, melakukan biopsi eksisi
otot rektum, diseksi rektum ke bawah hingga dasar pelvik dengan cara diseksi serapat
mungkin ke dinding rektum, kemudian bagian distal rektum diprolapskan melewati saluran
anal keluar sehingga saluran anal menjadi terbalik, selanjutnya menarik kolon proksimal
(yang tentunya telah direseksi bagian kolon yang aganglionik) keluar melalui saluran anal.
Dilakukan pemotongan rektum distal pada 2 cm dari anal verge untuk bagian anterior dan
0,5-1 cm pada bagian posterior, selanjunya dilakukan anastomose end to end dengan kolon
proksimal yang telah ditarik keluar sebelumnya. Anastomose dilakukan dengan 2 lapis
jahitan, mukosa dan seromuskuler. Setelah anastomose selesai, usus dikembalikan ke kavum
pelvik atau abdomen. Selanjutnya dilakukan reperitonealisasi, dan kavum abdomen ditutup.3
2. Prosedur Duhamel
Prosedur ini diperkenalkan Duhamel tahun 1956 untuk mengatasi kesulitan diseksi pelvik
pada prosedur Swenson. Prinsip dasar prosedur ini adalah menarik kolon proksimal yang
ganglionik ke arah anal melalui bagian posterior rektum yang aganglionik, menyatukan
dinding posterior rektum yang aganglionik dengan dinding anterior kolon proksimal yang
ganglionik sehingga membentuk rongga baru dengan anastomose end to side.35
Prosedur Duhamel asli memiliki beberapa kelemahan, diantaranya sering terjadi stenosis,
inkontinensia dan pembentukan fekaloma di dalam puntung rektum yang ditinggalkan apabila
terlalu panjang. Oleh sebab itu dilakukan beberapa modifikasi prosedur Duhamel,
diantaranya :

Modifikasi Grob (1959): anastomose dengan pemasangan 2 buah klem melalui


sayatan endoanal setinggi 1,5-2,5 cm, untuk mencegah inkontinensia.

16

Modifikasi Talbert dan Ravitch: modifikasi berupa pemakaian stapler untuk


melakukan anastomose side to side yang panjang.

Modifikasi Ikeda :

Ikeda

membuat

klem

khusus

untuk

melakukan

anastomose, yang terjadi setelah 6-8 hari kemudian.

Modifikasi Adang: Pada modifikasi ini, kolon yang ditarik transanal dibiarkan
prolaps sementara. Anastomose dikerjakan secara tidak langsung, yakni pada hari ke
7-14 pasca bedah dengan memotong kolon yang prolaps dan pemasangan 2 buah
klem; kedua klem dilepas 5 hari berikutnya. Pemasangan klem disini lebih dititik
beratkan pada fungsi hemostasis.

3. Prosedur Soave
Prosedur ini sebenarnya pertama sekali diperkenalkan Rehbein tahun 1959 untuk tindakan
bedah pada malformasi anorektal letak tinggi. Namun oleh Soave tahun 1966 diperkenalkan
untuk tindakan bedah definitif Hirschsprung. Tujuan utama dari prosedur Soave ini adalah
membuang mukosa rektum yang aganglionik, kemudian menarik terobos kolon proksimal
yang ganglionik masuk kedalam lumen rektum yang telah dikupas tersebut.5,6
4. Prosedur Rehbein
Prosedur ini tidak lain berupa deep anterior resection, dimana dilakukan anastomose end
to end antara usus aganglionik dengan rektum pada level otot levator ani (2-3 cm diatas anal
verge), menggunakan jahitan 1 lapis yang dikerjakan intraabdominal ekstraperitoneal. Pasca
operasi, sangat penting melakukan businasi secara rutin guna mencegah stenosis.
5. Prosedur Trans Anal Endorectal Pull-Through ( TEPT)
Tehnik ini dilakukan dengan pendekatan lewat anus. Setelah dilakukan dilatasi anus dan
pembersihan rongga anorektal dengan povidon-iodine, mukosa rektum diinsisi melingkar 1
sampai 1,5 cm diatas linea dentata. Dengan diseksi tumpul rongga submukosa yang terjadi
diperluas hingga 6 sampai 7 cm kearah proksimal. Mukosa yang telah terlepas dari
muskularis ditarik ke distal sampai melewati anus sehingga terbentuk cerobong otot rektum
tanpa mukosa (Torre, 2000). Keuntungan prosedur ini antara lain lama tinggal dan operasi
lebih singkat, waktu operasi lebih singkat, perdarahan minimal, feeding dapat diberikan lebih
awal, biaya lebih rendah, skar abdomen tidak ada. Akan tetapi masih didapatkan komplikasi
enterokolitis, konstipasi dan striktur anastomosis.

17

2.9. Komplikasi
Secara garis besar, komplikasi pasca tindakan bedah penyakit Hirschsprung dapat
digolongkan atas kebocoran anastomose, stenosis, enterokolitis dan gangguan fungsi spinkter.
Sedangkan tujuan utama dari setiap operasi definitif pull-through adalah menyelesaikan
secara tuntas penyakit Hirschsprung, dimana penderita mampu menguasai dengan baik fungsi
spinkter ani dan kontinen.
Beberapa hal dicatat sebagai faktor predisposisi terjadinya penyulit pasca operasi,
diantaranya: usia muda saat operasi, kondisi umum penderita saat operasi, prosedur bedah
yang digunakan, keterampilan dan pengalaman dokter bedah, jenis dan cara pemberian
antibiotik serta perawatan pasca bedah.12
Kebocoran anastomose pasca operasi dapat disebabkan oleh ketegangan yang berlebihan
pada garis anastomose, vaskularisasi yang tidak adekuat pada kedua tepi sayatan ujung usus,
infeksi dan abses sekitar anastomose serta trauma colok dubur atau businasi pasca operasi
yang dikerjakan terlalu dini dan tidak hati-hati. Menurut pengamatan Swenson sendiri,
diperoleh angka 2,5 5 %, sedangkan apabila dikerjakan oleh ahli bedah lain dengan
prosedur Swenson diperoleh angka yang lebih tinggi.
Kartono mendapatkan angka kebocoran anastomose hingga 7,7% dengan menggunakan
prosedur Swenson, sedangkan apabila dikerjakan dengan prosedur Duhamel modifikasi
hasilnya sangat baik dengan tak satu kasuspun mengalami kebocoran. Manifestasi klinis yang
terjadi akibat kebocoran anastomose ini beragam, mulai dari abses rongga pelvik, abses
intraabdominal, peritonitis, sepsis dan kematian. Apabila dijumpai tanda-tanda dini
kebocoran, segera dibuat kolostomi di segmen proksimal.14
Stenosis yang terjadi pasca operasi tarik terobos dapat disebabkan oleh gangguan
penyembuhan luka di daerah anastomose, serta prosedur bedah yang dipergunakan. Stenosis
sirkuler biasanya disebabkan komplikasi prosedur Swenson atau Rehbein, stenosis posterior
berbentuk oval akibat prosedur Duhamel sedangkan bila stenosis memanjang biasanya akibat
prosedur Soave. Manifestasi yang terjadi dapat berupa kecipirit, distensi abdomen,
enterokolitis hingga fistula perianal. Tindakan yang dapat dilakukan bervariasi, tergantung
penyebab stenosis, mulai dari businasi hingga spinkterektomi posterior.12
Enterokolitis merupakan komplikasi yang paling berbahaya, dan dapat berakibat kematian.
Swenson mencatat angka 16,4% dan kematian akibat enterokolitis mencapai 1,2%. Kartono

18

mendapatkan angka 14,5% dan 18,5% masing-masing untuk prosedur Duhamel modifikasi
dan Swenson. Sedangkan angka kematiannya adalah 3,1% untuk prosedur Swenson dan 4,8%
untuk prosedur Duhamel modifikasi. Tindakan yang dapat dilakukan pada penderita dengan
tanda-tanda enterokolitis adalah segera melakukan resusitasi cairan dan elektrolit,
pemasangan pipa rektal untuk dekompresi, melakukan wash out dengan cairan fisiologis 2-3
kali perhari serta pemberian antibiotika yang tepat. Sedangkan untuk koreksi bedahnya
tergantung penyebab / prosedur operasi yang telah dikerjakan. Prosedur Swenson biasanya
disebabkan spinkter ani terlalu ketat sehingga perlu spinkterektomi posterior. Sedangkan pada
prosedur Duhamel modifikasi, penyebab enterokolitis biasanya adalah pemotongan septum
yang tidak sempurna sehingga perlu dilakukan pemotongan ulang yang lebih panjang.11
Fungsi spinkter ani pasca bedah dapat dikatakan sebagai- parameter utama keberhasilan
operasi tank terobos, disamping komplikasi utama yang disebutkan diatas. Namun hingga
saat ini, belum ada suatu parameter atau skala yang diterima universal untuk menilai fungsi
anorektal ini. Fecal soiling atau kecipirit merupakan parameter yang sering dipakai peneliti
terdahulu untuk menilai fungsi anorektal pasca operasi, meskipun secara teoritis hal tersebut
tidaklah sama. Kecipirit adalah suatu keadaan keluarnya feces lewat anus tanpa dapat
dikendalikan oleh penderita, keluarnya sedikit-sedikit dan sering.11
Pada anak yang sudah agak besar, pemotongan 2 cm dari anal verge dapat mencederai
spinkter ani interna sehingga inkontinensia dapat terjadi. Oleh sebab itu Swenson
menganjurkan pemotongan rektum pada level yang berbeda: 2 cm di anterior dan 0,5-1 cm di
posterior (Swenson II). Disamping itu penyebab lain kecipirit pada prosedur Swenson
disebabkan oleh stenosis sirkuler yang terjadi. Pemotongan rektum yang terlalu tinggi
memang dapat menyelamatkan fungsi spinkter ani, namun menyebabkan obstipasi berulang.
Hal ini terlihat pada prosedur Rehbein dimana reseksi dan anastomose kolorektal dilakukan
intraabdominal, memberikan hasil kontinensia yang sangat memuaskan namun tinggi angka
obstipasi sehingga kurang disukai ahli bedah.
Sedangkan prosedur Duhamel modifikasi merupakan prosedur yang paling logis dalam
mengatasi masalah inkontinensia dan obstipasi. Pemotongan rektum 2 cm dari anal
verge pada /4 lingkaran posterior tidak akan mencederai spinkter ani interna, sedangkan
mengatasi sisa kolon aganglionik yang terlalu panjang adalah dengan membelah septum
sepanjang mungkin. Hal ini dapat menerangkan mengapa dengan prosedur Duhamel
modifikasi, diperoleh angka stenosis, dan obstipasi kronik yang rendah.10

19

Namun kecipirit tidaklah sama dengan inkontinensia. Kartono mengusulkan pembagian


inkontinensia atas kecipirit, kontinensia kurang, inkontinensia dan obstipasi berulang.
Kriteria tersebut bersifat subjektif dan bersifat non skala sehingga sulit dipergunakan dalam
menilai keberhasilan operasi tarik terobos. 14
Sedangkan Hekkinen (1997) mengusulkan 7 parameter objektif untuk menilai fungsi
anorektal dengan masing-masing memiliki skor. Dikatakan normal apabila skor 14,
kontinensia baik apabila skor 10-13, kontinensia sedang jika skor antara 5-9, sedangkan
inkontinensia apabila skor sama dengan atau kecil dari 4. 1
Prognosis
Secara umum prognosis untuk penyakit hirschsprung

adalah baik. Komplikasi

enterokolitis paska operasi biasanya menghilang setelah 1 tahun. Inkontinensia alvi dapat
dihindari melalui teknik yang tepat dalam mempertahankan spinkter dan anal canal.

BAB IV
ANALISIS KASUS

20

Bayi berusia 3 bulan dibawa orangtuanya ke rumah sakit mohammad hoesin palembang
dengan keluhan perut cembung. Dari anamnesis didapatkan bahwa setelah 4 hari pulang dari
rumah sakit perut bayi mulai kembung dan ada muntah berwarna hijau. Orangtua bayi
tersebut juga mengeluh anaknya tidak dapat buang air besar. Kemudian dibawa ke rumah
sakit mohammad hoesin palembang. Dilakukan tindakan washing untuk mengurangi perut
kembung. Setelah washing perut dirasakan mengecil dan bayi sudah dapat buang air besar
tiga kali dalam sehari secara teratur.
Pada pemeriksaan fisik bagian abdomen dari inspeksi terlihat perut bayi masih kembung
setelah dilakukan tindakan washing, tidak terlihat venektasi. Saat dilakukan palpasi dirasakan
ada distensi perut. Perkusi terdengar suara abdomen bayi timpani. Auskaltasi bising usus bayi
menigkat.
Pemeriksaan tambahan dilakukan rongten foto polos BNO 3 posisi yaitu, supinasi, true
abdomen, dan left decubitus abdomen dengan hasil terdapat udara di dalam abdomen bayi.
Dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang kemungkinan besar bayi
menderita hirschsprung desease (HD). Tatalaksana awal dilakukan washing pada bayi,
diberikan ceftriaxon 1 x 500 mg, dan dekompresi.

DAFTAR PUSTAKA

21