Anda di halaman 1dari 22

Efek penambahan Etanol pada bahan bakar diesel yang memicu

terjadinya perubahan peforma mesin, getaran, serta pembakaran pada


ruang bakar Mesin Diesel
Department of Mechanical Biosystems, Gorgan University of Agricultural
Science and Natural Resources
ABSTRAK:
Etanol dianggap sebagai bahan bakar terbarukan di berbagai negara, yang
dihasilkan dari tanaman, manis dan biomassa tepung. Etanol sebagai biasanya
merupakan aditif untuk bensin dan solar yang dapat meningkatkan kinerja
mesin dan mengurangi emisi. Di dalam studi ini, etanol ditambahkan ke
bahan bakar diesel murni dengan konsentrasi 2, 4, 6, 8, 10, dan 12%. yang
dihasilkan yaitu merupakan torsi dan tenaga, rem efisiensi termal (BTE),
pembakaran, dan level getaran yang terevaluasi. Dalam percobaan ini, enam
silinder CI mesin dalam lima kecepatan rotasi 1600, 1700, 1800, 1900, dan
2000 rpm digunakan dalam mode beban penuh (full load mode). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa torsi dan tenaga (power) meningkat pada ratarata sebesar 3,8% pada campuran bahan bakar dengan konsentrasi 6% ethanol
(D94E6= 94% diesel + 6% ethanol) dibandingkan dengan mereka yang murni

solar. Untuk bahan bakar ini, RMS dan kurtosis getaran pada blok mesin
meningkatkan 4,75% dan 7,75% dibandingkan dengan solar murni, tetapi
menunjukkan guncangan pada mesin.Meskipun peningkatan berkuasa untuk
campuran bahan bakar D94E6, beberapa ketidakteraturan diamati dalam kinerja
mesin, dan mesin bekerja lebih non-seragam. Maka dari itu tampaknya dengan
meningkatnya konsentrasi etanol lebih dari 8% di diesel bahan bakar, pengapian
mengalami penundaan performa

dan mesin beroperasi ketidakteraturan.

Dengan kata lain, perubahan tekanan yang meningkat dalam silinder.


Pengenalan:
Mesin diesel merupakan mesin yang paling efisien dari semua tipe mesin
pembakaran dalam (internal combustion engine) dan mesin diesel dapat
menghasilkan torsi yang besar sehingga banyak Mesin diesel merupakan mesin
pembakaran yang memiliki efisiensi termal yang tinggi. Akan tetapi, pemakaian
mesin diesel sampai saat ini masih mengandalkan bahan bakar minyak diesel
yang berbasis minyak bumi. Bahan bakar ini, di samping persediaannya
terbatas, pemakaiannya juga menimbulkan masalah berupa emisi yang
berbahaya bagi lingkungan.Maka dari itu Etanol dapat dijadikan bahan bakar
alternatif untuk mengganti bahan bakar diesel. Penelitian ini bertujuan untuk
menyelidiki prestasi mesin dual fuel diesel yang dicampur oleh etanol.

Mesin diesel secara luas digunakan dalam industri dan pertanian lapangan
untuk aplikasi mobile dan stasioner [1] dikarenakan kehandalan mereka, daya
tahan dan efisiensi bahan bakar yang tinggi [2-5]. Namun, banyak strategi telah
diadopsi untuk mengurangi pencemaran NOx dan emisi secara bersamaan untuk
mencapai target emisi [3,4,6]. Banyak peneliti jauh difokuskan pada biomassa
bahan bakar berbasis (bahan bakar terbarukan) yang berasal dari produk
pertanian, yang berlaku di mesin Diesel [7]. Dikarenakan penggunaan produk

ini sebagai bahan bakar ini mengurangi gas rumah kaca, polusi udara,
ketergantungan pada bahan bakar impor, dan biaya energi, dan bahan bakar ini
menutupi sebagian permintaan energi[5]. bahan bakar ini dapat digunakan
dalam bentuk murni atau dicampur bentuk dengan bahan bakar fosil dalam
sistem transportasi, penghangatan rumah, bangunan, dan proses industri [8,9].
Bioetanol merupakan sumber energi terbarukan yang penting

di berbagai

negara yang berbeda.


Perubahan iklim dan isu lingkungan global akibat pengembangan dan
penggunaan energi yang berbasis fosil menjadi pertimbangan dalam pemilihan
energi alternatif pada mesin diesel. Etanol memiliki sejumlah keunggulan
dibandingkan dengan bahan bakar konvensional yang dapat langsung dicampur
dalam tangki bahan bakar, diinjeksikan ke ruang bakar, dan dibakar dengan
tujuan mengurangi emisi gas buang yang dihasilkan.
Etanol memiliki oksigen yang terdapat di dalam struktur molekulnya,
sehingga, memerlukan lebih sedikit oksigen untuk pembakaran di perbandingan
dengan diesel dan bahan bakar bensin dan menciptakan lebih rendah polutan
[10].
Etanol dapat diproduksi melalui menghidrolisis dan fermentasi selulosa,
gula, dan pati [11-16]. Sumber pertama dari getaran mesin bergetar dan rotasi
gerakan komponen mesin, dan sumber lainnya adalah ledakan (ignition) bahan
bakar di dalam ruang bakar. Faktor pertama getaran tergantung pada kecepatan
mesin dan faktor kedua getaran dikendalikan oleh jenis metode injeksi bahan
bakar dan bahan bakar. Suara dan getaran yang disebabkan oleh pembakaran
proses di mesin bisa memiliki efek langsung pada daya tahan dan memakai
bagian-bagian mesin. Hal ini terutama terjadi pada mesin dengan rasio kompresi
yang tinggi dan meningkatnya tekanan pembakaran cepat.

Etanol merupakan salah satu komponen yang paling penting dari bahan
bakar biodiesel di kompresi pengapian mesin Diesel . Penelitian telah
menunjukkan bahwa menambahkan etanol dengan perbandingan tertentu dalam
bahan bakar diesel meningkatkan tenaga mesin dan konsumsi bahan bakar
spesifik (SFC) dan mengurangi emisi [10,45-47]. Dalam beberapa kasus, etanol
dicampur dengan biofuel yang bertujuan untuk mengurangi viskositas [47].
Beberapa penelitian telah dilakukan dalam hal kinerja dan emisi aditif
beralkohol untuk bensin dan bahan bakar diesel.
Hasil menunjukkan bahwa, bila menggunakan etanol sebagai campuran ,
daya dan torsi mesin yang meningkat sebesar 3,17-8,50% dan 1,75-10,28%
masing-masing dibandingkan dengan bahan bakar diesel murni. Konsumsi
bahan bakar spesifik meningkat 4,37-7,44% karena nilai kalori

etanol

jikadibandingkan untuk bahan bakar diesel. Hasil analisis menunjukkan bahwa


ketika diesohol adalah digunakan, tingkat UHC (hidrokarbon tidak terbakar)
menurun tetapi emisi CO2 meningkat.(Hidrokarbon adalah zat yang
menghasilkan asap dan CO2, sehingga bahaya kalau tercemar).
Dalam waktu sebelumnya mengenai vibrasi dan ketukan di mesin telah
banyak studi yang dilakukan. Taghizadeh dan lainnya telah melakukan
penelitian dari mesin diesel yaitu dengan membandingkan menggunakan diesel
murni dan dengan bio-diesel, dimana telah di uji dari beberapa varian biodiesel. Hasil menunjukkan bahwa getaran dan vibrasi pada mesin berkurang,
jadi semakin bio-diesel murni yang digunakan mesin diesel maka penurunan
getaran dan vibrasi pada mesin akan semakin berkurang sehingga mesin
menjadi lebih lembut.
Walaupun begitu Taghizadeh dan lainnya juga pernah melakukan
percobaan pada Mesin motor bensin untuk meneliti perbedaan getaran yang
dihasilkan dari 3 bahan bakar yaitu: bensin, ethanol dan campuran dari
metanol.Pada pengujian ini bahan bakar bensin murni dibandingkan dengan 2

zat alkohol yaitu ethanol dan methanol dimana komposisi campurannya yaitu
bensin dicampur dengan masing penambahan 10%,20% dan 30% dari keduanya
secara berturut-turut.Hasil yang ada percobaan ini yaitu dengan menggunakan
bahan bakar bensin murni maka amplitudo vibrasi pada getaran yang terjadi
pada mesin yaitu 1500 HZ dimana campuran lainnya yaitu bensin dengan
ethanol yaitu dengan rata-rata 2200 HZ dan juga campuran bensin dengan
methanol menghasilkan frekuensi getaran pada mesin yaitu 2400 HZ. Sehingga
penggunaan bahan bakar bensin pada motor bensin menghasilkan getaran
terlembut jika dibandingkan 2 campuran lainnya.

Bahan-bahan dan Metode Uji coba

Mesin yang digunakan pada uji coba ini di kendalikan dan di


stabilasisikan oleh komputer. Kemudian dynamometer pada uji coba ini
digunakan untuk menghitung nilai torsi (torque) dan horse power (HP) yang
dihasilkan oleh RPM (Rotaitions per Minute) sesuai yang ingin di ujikan.
Untuk mengetahui sinyal vibrasi pada uji coba ini maka digunakan 3
buah accelerometer. Sinyal vibrasi accelerometer menghasilkan arah-arah yaitu
Vertical (x) , lateral (y) dan longlitudinal (z). Kemudian proximity sensor
digunakan untuk mengukur sudut poros engkol mesin. Jadi, sudut crankshaft
tercatat secara bersamaan selama pengukuran vibrasi atau getaran. Dalam
proses ini, pulsa dan accelerometers sinyal getaran sensor jarak (proximity
sensor) ini dipindahkan ke switchboard. Kemudian Sinyal output switchboard
tugasnya adalah memindahkan sinyal dari analog-kebentuk digital.
Mulai titik pengumpulan data ditetapkan dengan top dead center (TDC)
dari piston (No 1) oleh sensor jarak. Eksperimental skematik ekstraksi sinyal
getaran dan sudut engkol ditunjukkan pada Gambar. 1.
Pada percobaan ini anhydrous ethanol (C2H5OH) dan solar murni di
blend ( dicampur ). Maka dari itu terbentuk 7 jenis dari campuran keduanya
yaitu

bahan

bakar

campuran

karakteristik

diukur

dalam

eksperimen

berdasarkan standar ASTM tercantum pada Tabel 3. Percobaan dilakukan pada

kondisi mesin beban penuh. Mesin itu berjalan pada kecepatan rotasi 1600,
1700, 1800, 1900, dan 2000 rpm. tekanan injeksi tetap (35 MPa) untuk semua
mesin kecepatan dan campuran bahan bakar. Hal ini dilakukan dengan tekanan
regulasi valve di rotary mekanik pompa injeksi bahan bakar. Penyemprotan
injector juga mengatur tekanan ini.

2.2 Metode Analisis


Software yang di gunakan pada percobaan ini adalah MATHLAB

Ini adalah merupakan spesifikasi dari masing-masing 7 bahan campuran


baik visikkositas kinematik dan visikositas dinamik dan lain-lain,spesifikasi ini
berdasarkan standar dari
American Society for Testing and Materials (ASTM).
Kemudian berikut adalah rumus yang digunakan pada aplikasi
MATHLAB dalam percobaan ini yaitu:
2.2.1 RMS dari Akselerasi Sinyal
RMS didefenisikan dengan rumus yang terdiri dari periode (N) dan
akselerasi data terhadap waktu yaitu tk, x(tk)

RMS adalah energi sinyal getaran, yang tergantung pada amplitudo. RMS
dihitung sesuai dengan kuadrat data getaran.
2.2.2 Kurtosis sinyal akselerasi
Untuk membandingkan hasil dengan metode lain, kurtosis kriteria
diterapkan untuk evaluasi kinerja mesin menggunakan sinyal getaran.

Kurtosis merupakan ukuran besar dan ketajaman maksimum sinyal dan


minimum. kurtosis yang lebih besar nilainya menunjukkan bahwa pulsa lebih
besar, lebih tajam dan memiliki luas jarak. Kurtosis mendeteksi lebih jelas
perbedaan antara dari dua sinyal.
2.2.3 Fast Fourier Transform
Dalam pemrosesan sinyal, dengan menerapkan input tertentu, respon dari
sistem ditentukan dan disediakan dalam yang bentuk yang tepat. Seringkali,
fungsi waktu tidak mewakili informasi yang berguna, sedangkan respon
frekuensi menunjukkan satu atau lebih frekuensi dimana energi terkonsentrasi di
sekitar itu. Untuk data digital sumbu x (j) dengan jumlah N, FFT dihitung
dengan Persamaan. (3)

2.3. Engine vibration theory

Gambar. 2 menunjukkan mesin berjalan seiring dengan piston (P), yang


menghubungkan batang (panjang l), dan poros engkol (radius r). Crank berputar
berlawanan dengan kecepatan sudut dari x 2PN = 60. Titik O adalah posisi
piston tertinggi. Displacement (XP) dan percepatan ( XP) piston dapat
dinyatakan sebagai pers. (9) dan (10), masing-masing. Vertikal ( Xc) dan
lateral (yc) percepatan terpusat massa menghubungkan batang disajikan sebagai
pers. (11) dan (12),

Percepatan tubuh mesin berbanding lurus dengan kuadrat dari kecepatan


rotasi mesin. Menggunakan Pers. (13) dan (14) dan dengan mempertimbangkan
untuk massa mesin (M engine), vertikal (Ax) dan lateral (Ay) percepatan mesin
dapat diperoleh dari pers. (15) dan (16). Dua persamaan ini menunjukkan
bahwa massa mP dan mC memiliki peran penting dalam getaran mesin.
pengurangan massa dari piston (MP), menghubungkan batang dan poros engkol
(mC) menggunakan paduan blok mesin berkurang percepatan vertikal(kapak).
Jadi, kekuatan komponen tidak dikorbankan untuk mengurangi massa.
Percepatan lateral (ay) dipengaruhi oleh massa mC.

3. Result and discussion


Untuk setiap perlakuan, sifat diukur meliputi mesin getaran, torsi dan
tenaga yang analisis yang relevan akan dilakukan sebagai berikut. Gambar 3a
menunjukkan efek meningkatkanya torsi pada etanol ditambahkan ke bahan
bakar diesel terhadap torsi mesin. Maksimal torsi yang dihasilkan pada
kecepatan mesin 1600 dan 1700 rpm ,untuk semua bahan bakar. Torsi minimum

juga terkait dengan kecepatan 2000 rpm. Alasannya bisa jadi semprotan tidak
teratur pada injektor dan asupan udara tidak cukup untuk mesin, yang
mempengaruhi meningkatkanya kecepatan. Di sisi lain, bahan bakar campuran
D94E6 menghasilkan torsi maksimum mesin diantara semua campuran bahan
bakar.Akibatnya, tekanan rata-rata dari pembakaran bahan bakar akan semakin
tinggi, dan akan menyebabkan peningkatan gaya pada permukaan piston dan
kemudian torsi.
Penambahan bioetanol untuk bahan bakar diesel di D94E6 campuran
bahan bakar telah meningkatkan torsi bahan bakar ini dibandingkan dengan
bahan bakar diesel murni itu sendiri yaitu rata-rata 8,3% . Dalam istilah
ekonomi, Tampaknya D94E6 memiliki output yang lebih baik terhahadap
peningkatan torsi mesin dari bahan bakar lainnya.
3.2. Analyzing of engine power

Dinamometer mengukur kecepatan mesin dan torsi dan mencatat tenaga


yang dihasilkan mesin. Perubahan torsi dibandingkan putaran mesin sangat
rendah sebelum kecepatan dinilai dari mesin. Jika torsi diasumsikan konstan,
persamaan tenaga mesin adalah P = dn, di mana d = T / 9554, yang merupakan
angka konstan.
Gambar. 3b menunjukkan bahwa untuk semua campuran bahan bakar,
daya maksimum dalam kecepatan 1.900 rpm dan dengan meningkatkan
kecepatan mesin, torsi berkurang. Hal ini disebabkan penurunan efisiensi
volumetrik di kecepatan mesin yang lebih tinggi.
Gambar 3b menunjukkan adanya efek meningkatkan konsentrasi
bioetanol ditambahkan ke bahan bakar diesel murni terhadap tenaga mesin.
Seperti yang diharapkan, jumlah maksimum daya yang dihasilkanoleh mesin
ada pada bahan bakar D94E6, karena jumlah torsi dalam campuran bahan bakar

ini merupakan yang paling maksimum yang merupakan peningkatan


pembakaran dan konversi yang efektif.
Dalam istilah prinsip ekonomi, tampaknya campuran bahan bakar D94E6
memiliki kinerja daya yang lebih baik dari campuran bahan bakar lainnya.
Kemungkinan karena campuran lain tidak seefisien D94E6 ,ini bisa jadi karena
pencampuran yang tidak efisien, bahan bakar terhadap ethanol-diesel berada
pada konsentrasi tinggi etanol tertentu , maka ini bisa memicu terjadinya nonheterogennya campuran tersebut, sehingga menimbulkan campuran yang tidak
cocok pada mesin diesel itu sendiri.

3.2.1 oxygen fracttin dan BTE (brake Thermal Efficiency)


Faktor yang efektif dalam peningkatan tenaga mesin dapat dikaitkan
dengan energi lebih yang dihasilkan di dalam silinder dengan menaikkan
kandungan oksigen pada etanol. Menggunakan bahan bakar oksigenat
meningkatkan rasio udara-bahan bakar sehingga rasio stoikiometri lebih ideal
tercapai, yang tentunya akan mempengaruhi pembakaran mesin dan emisi Salah
satu alasan utama untuk peningkatan daya adalah adanya etanol dalam bahan
bakar campuran dibandingkan dengan solar murni. Karena etanol (C2H5OH
dengan massa molar 46 g / mol) memiliki satu oksigen mol di struktur
molekulnya, yang telah membentuk 34,78% dari total beratnya.

3.3. Menganalisis pembakaran dan getaran dari mesin


Secara umum, dalam rangka untuk mengidentifikasi status mesin,
menerapkan kecepatan rendah akan lebih berguna sehingga dapat diketahui
dengan jelas hal yang akan di indetifikasikan . Frekuensi domain dan
pendekatan domain waktu frekuensi akan digunakan untuk yang lebih rinci

analisis dan membuat penilaian yang lebih baik pada status mesin yang
mungkin dalam sinyal waktu-domain.

3.3.3. Frequency domain analysis


Sesuai dengan data gambar yang dilihat pada gambar 10, maka bisa
dilihat dari 7 jenis campuran solar-ethanol dan 1 solar murni, yang memiliki
frekuensi getaran vibrasi pada paling tenang pada kinerja mesin di 1800 rpm
adalah jenis D96E4( 96% diesel-4% ethanol).maka dari itu mesin mengalami
peforma yag lembut.

Hal ini menunjukkan bahwa penambahan bioetanol dengan konsentrasi 8,


10, dan 12% tidak hanya tidak meningkatkan kekuatan, tetapi juga
menyebabkan kinerja buruk, dan terjadi vibrasi lumayan besar pada mesin.

4.Hasil:

Dalam penelitian ini, torsi yang dihasilkan dan power mesin ,


pembakaran dan getaran yang dihasilkan dari penambahan etanol untuk bahan
bakar diesel dengan konsentrasi 2, 4, 6, 8, 10, dan 12% sudah terselidiki
diselidiki yaitu di uji dengan mesin enam silinder di bawah beban penuh
digunakan dalam kecepatan 1600, 1700, 1800, 1900 dan 2000 rpm. hasil
penelitian menunjukkan bahwa penambahan bioetanol untuk bahan bakar diesel
pada konsentrasi 6% meningkatkan torsi(torque) dan power mesin,jika
dibandingkan dengan bahan bakar diesel murni dengan rata-rata 8,3%. Bahan
bakar ini, percepatan mesin juga telah meningkat 4,79% dibandingkan dengan
solar murni.
Meskipun kenaikan daya pada bahan bakar

D94E6, beberapa

penyimpangan muncul dalam fungsi mesin, dan bekerja non seragam. Dapat
disimpulkan bahwa peningkatan kadar etanol lebih dari 8% (D92E8) dalam
bahan bakar diesel menimbulkan penundaan pengapian dan meningkatkan
ketidakteraturan performa mesin. Di sisi lain , itu dapat meningkatkan
perubahan tekanan di dalam silinder dan menyebabkan knocking pada mesin.
Knocking yang dimaksud adalah guncangan yang dihasilkan di beberapa
silinder mesin. Hal ini disebabkan para nonheterogeneous campuran bioetanol
dan solar di D90E10 dan D88E12 yang disemprotkan dalam silinder yang
berbeda.

References

[1] Yang WM, An H, Chou SK, Chua


KJ, Mohan B, Sivasankaralingam V, et
al. Impact
of emulsion fuel with nano-organic
additives on the performance of
diesel
engine. Appl Energy 2013;112:1206
12. http://dx.doi.org/10.1016/j.
apenergy.2013.02.027.
[2] Zhang ZH, Balasubramanian R.
Influence of an iron-based fuel-borne
catalyst
on physicochemical and toxicological
characteristics
of
particulate
emissions
from a diesel engine. Appl Energy
2015;146:2708.
http://dx.doi.org/10.1016/
j.apenergy.2015.02.029.
[3] Wang Z, Liu H, Zhang J, Wang J,
Shuai S. Performance, combustion
and
emission characteristics of a diesel
engine fueled with polyoxymethylene
dimethyl ethers (PODE3-4)/diesel
blends. Energy Proc 2015;75:2337
44.
http://dx.doi.org/10.1016/j.egypro.20
15.07.479.
[4] Liu H, Wang Z, Wang J, He X.
Improvement
of
emission
characteristics and
thermal efficiency in diesel engines
by
fueling
gasoline/diesel/PODEn
blends.
Energy
2016;97:10512.
http://dx.doi.org/10.1016/j.energy.20
15.12.110.
[5] Zhu M, Ma Y, Zhang D. Effect of a
homogeneous combustion catalyst
on the

combustion characteristics and fuel


efficiency in a diesel engine. Appl
Energy
2012;91:16672.
http://dx.doi.org/10.1016/j.apenergy.
2011.09.007.
[6] Chen Z, Yao C, Wang Q, Han G,
Dou Z, Wei H, et al. Study of cylinderto-cylinder
variation in a diesel engine fueled
with diesel/methanol dual fuel. Fuel
2016;170:6776.
http://dx.doi.org/10.1016/j.fuel.2015.
12.019.
[7] Cheikh K, Sary A, Khaled L,
Abdelkrim L, Mohand T. Experimental
assessment
of performance and emissions maps
for biodiesel fueled compression
ignition
engine. Appl Energy 2016;161:320
9. http://dx.doi.org/10.1016/j.
apenergy.2015.10.042.
[8]
Taghizadeh-alisaraei
A,
Ghobadian B, Tavakoli-hashjin T,
Mohtasebi SSSS,
Saeid S, Mohtasebi SSSS, et al.
Vibration analysis of a diesel engine
using
biodiesel and petrodiesel fuel blends.
Fuel
2012;102:41422.
http://dx.doi.org/
10.1016/j.fuel.2012.06.109.
[9] Tan PQ, Ruan SS, Hu ZY, Lou DM,
Li H. Particle number emissions from
a lightduty
diesel engine with biodiesel fuels
under transient-state operating
conditions.
Appl
Energy
2014;113:2231.
http://dx.doi.org/10.1016/j.

apenergy.2013.07.009.
[10] Hansen AC, Zhang Q, Lyne PWL.
Ethanol-diesel fuel blends a review.
Bioresour Technol 2005;96:27785.
http://dx.doi.org/10.1016/j.
biortech.2004.04.007.
[11] Scholl AL, Menegol D, Pitarelo
AP, Fontana RC, Filho AZ, Ramos LP,
et al.
Ethanol production from sugars
obtained during enzymatic hydrolysis
of
elephant
grass
(Pennisetum
purpureum, Schum.) pretreated by
steam
explosion.
Bioresour
Technol
2015;192:22837.
http://dx.doi.org/10.1016/j.
biortech.2015.05.065.
[12] Taherzadeh MJ, Karimi K.
Enzyme-based hydrolysis processes
for ethanol from
lignocellulosic materials: a review.
BioResources
2015;2:70738.
http://dx.
doi.org/10.15376/biores.2.4.707-738.
[13] Galbe M, Zacchi G. A review of
the production of ethanol from
softwood. Appl
Microbiol Biotechnol 2002;59:618
28. http://dx.doi.org/10.1007/s002530021058-9.
[14] Boucher J, Chirat C, Lachenal D.
Extraction of hemicelluloses from
wood in a
pulp biorefinery, and subsequent
fermentation into ethanol. Energy
Convers
Manage J 2014;88:11206.
[15] Moradi F, Amiri H, SoleimanianZad S, Ehsani MR, Karimi K.
Improvement of
acetone,
butanol
and
ethanol
production from rice straw by acid
and alkaline
pretreatments. Fuel 2013;112:813.
http://dx.doi.org/10.1016/
j.fuel.2013.05.011.

[16] Sarkar N, Ghosh SK, Bannerjee


S, Aikat K. Bioethanol production
from
agricultural wastes: an overview.
Renew
Energy
2012;37:1927.
http://dx.
doi.org/10.1016/j.renene.2011.06.04
5.
[17] Jianmin L, Yupeng S, Xiaoming Z,
Shiyong
X,
Lijun
D.
Procedia
engineering fuel
injection system fault diagnosis
based on cylinder head vibration
signal. Proc
Eng
2011;16:21823.
http://dx.doi.org/10.1016/j.proeng.20
11.08.1075.
[18] Gravalos I, Loutridis S, Moshou
D, Gialamas T, Kateris D, Tsiropoulos
Z, et al.
Detection of fuel type on a spark
ignition engine from engine vibration
behaviour.
Appl
Therm
Eng
2013;54:1715.
http://dx.doi.org/10.1016/j.
applthermaleng.2013.02.003.
[19]
Selim
MY.
Pressuretime
characteristics in diesel engine
fueled with natural
gas. Renew Energy 2001;22:47389.
http://dx.doi.org/10.1016/S09601481
(00)00115-4.
[20] Uludamar E, Tosun E, Aydn K.
Experimental and regression analysis
of noise
and vibration of a compression
ignition engine fuelled with various
biodiesels.
Fuel
2016;177:32633.
http://dx.doi.org/10.1016/j.fuel.2016.
03.028.
[21]
Taghizadeh-alisaraei
A,
Ghobadian B, Tavakoli-hashjin T,
Mohtasebi SS,
Rezaei-asl
A,
Azadbakht
M.
Characterization
of
engines
combustionvibration
using diesel and biodiesel fuel blends
by time-frequency methods:

a
case
study.
Renew
Energy
2016;95:42232.
http://dx.doi.org/10.1016/j.
renene.2016.04.054.
[22] Wang X, Liu C, Bi F, Bi X, Shao K.
Fault diagnosis of diesel engine
based on
adaptive wavelet packets and EEMDfractal dimension. Mech Syst Signal
Process
2013;41:58197.
http://dx.doi.org/10.1016/j.ymssp.20
13.07.009.
[23] Dayong N, Changle S, Yongjun
G, Zengmeng Z, Jiaoyi H. Extraction
of fault
component from abnormal sound in
diesel engines using acoustic signals.
Mech
Syst
Signal
Process
2016;75:54455.
http://dx.doi.org/10.1016/j.
ymssp.2015.10.037.
[24] Ortmann S, Rychetsky M,
Glesner M, Groppo R. Engine knock
detection using
multi-feature classification by means
of non-linear mapping. In: Proc
{ISATA},
vol. 97; 1997. p. 60713.
[25] Parizet E, Pruvost L, Lecle Q,
Leclre Q, Parizet E. Diesel engine
combustion and
mechanical noise separation using
an improved spectrofilter. Mech Syst
Signal
Process
2009;23:207287.
http://dx.doi.org/10.1016/j.ymssp.20
09.04.001.
[26] Vulli S, Dunne JF, Potenza R,
Richardson D, King P. Time-frequency
analysis of
single-point engine-block vibration
measurements
for
multiple
excitationevent
identification.
J
Sound
Vib
2009;321:112943. http://dx.doi.org/

10.1016/j.jsv.2008.10.011.
[27] Debbal SM, Bereksi-Reguig F.
Time-frequency analysis of the first
and the
second heartbeat sounds. Appl Math
Comput
2007;184:104152.
http://dx.
doi.org/10.1016/j.amc.2006.07.005.
[28] Peng ZK, Chu FL, Tse PW.
Detection of the rubbing-caused
impacts for rotorstator
fault diagnosis using reassigned
scalogram. Mech Syst Signal Process
2005;19:391409.
http://dx.doi.org/10.1016/j.ymssp.20
03.09.007.
[29] Franz Hlawatsch FA. Timefrequency analysis: concepts and
methods. 1st
ed. ISTE Ltd. and John Wiley & Sons,
Inc.; 2008. http://dx.doi.org/10.1002/
9780470611203.
[30] Al-Badour F, Sunar M, Cheded L.
Vibration
analysis
of
rotating
machinery using
time-frequency analysis and wavelet
techniques. Mech Syst Signal Process
2011;25:2083101.
http://dx.doi.org/10.1016/j.ymssp.20
11.01.017.
[31] Mertins A. Signal analysis:
wavelets,
filter
banks,
timefrequency transforms
and applications. John Wiley & Sons
Ltd.; 1999.
[32]
Cohen
L.
Time-frequency
analysis; 1995. 299 pp.
[33] Chen J, Bond Randall R, Bond R.
Improved automated diagnosis of
misfire in
internal combustion engines based
on simulation models. Mech Syst
Signal

Process 2015;6465:5883. http://dx.doi.org/10.1016/j.ymssp.2015.02.027