Anda di halaman 1dari 3

I.

PENDAHULUAN
Ikan lele tergolong jenis ikan pemakan
daging (karnivor) yang sangat menyukai
pakan alami antara lain berupa hewan renik
(kutu air dari kelompok Daphnia, Cladocera,
atau Cipepoda), cacing sutera, jentik
nyamuk,
keong-keong
kecil,
belatung,
serangga dan daging lain yang masuk dalam
perairan.
Ikan lele juga dikenal sebagai
pemakan detritus (sisa bahan organik). Ikan
lele sangat responsif terhadap makanan
dimana hampir semua pakan yang diberikan
sebagai
ransum
atau
pakan
akan
dimakannya. Oleh karena itu, ikan lele
memiliki laju pertumbuhan yang sangat
cepat dalam waktu yang singkat. Selain itu
ikan lele rasanya enak dan kandungan
gizinya
cukup
tinggi,
serta
memiliki
kemampuan adaptasi terhadap lingkungan
yang tinggi, lebih tahan terhadap berbagai
penyakit dan mudah dibudidayakan sehingga
cepat populer di Indonesia.
Secara ekonomis, usaha budidaya lele
sangat menguntungkan, namun terkendala
pada komponen biaya produksi yang cukup
besar yaitu berkisar antara 75-85% dari total
biaya produksi, sebagai akibat mahalnya
harga pakan ikan (pelet). Penerapan
teknologi
bioflok
yang
mampu
mengolah/mendaur ulang limbah menjadi
pakan alami ikan merupakan solusi untuk
menekan biaya produksi serendah mungkin.
Budidaya ikan lele system bioflok adalah
pemeliharaan
ikan
lele
dengan
cara
menumbuhkan
mikroorganisme
yang
berfungsi mengolah limbah budidaya itu
sendiri menjadi gumpalan-gumpalan kecil
(flok) yang bermanfaat sebagai makanan
alami. Pertumbuhan mikro organisme dipacu
dengan cara memberikan kultur bakteri non
pathogen (probiotik) dan pemasangan aerasi
yang akan mensuplay oksigen sekaligus

mengaduk air kolam. Teknologi bioflok dapat


mengurai kembali amoniak dari hasil sisa
pakan menjadi protein bioflok yang dapat
kembali dikonsumsi oleh ikan. Pemanfaatan
teknologi bioflok ini bisa menghemat
penggunaan pakan hingga 20-30%.
Bioflok berasal dari dua kata yaitu Bio
kehidupan dan Flok gumpalan. Bioflok
dapat
diartikan
sebagai
bahan organik hidup yang menyatu menjadi
gumpalan-gumpalan kecil. Gumpalan kecil
tersebut
terdiri
dari
berbagai
mikroorganisme air termasuk bakteri, algae,
fungi, protozoa, metazoa, rotifera, nematoda,
gastrotricha dan organisme lain yang
tersuspensi dengan detritus.
Bioflok
merupakan agregat diatom, makroalgae,
pelet sisa, eksoskeleton organisme mati,
bakteri, protista dan invertebrata juga
mengandung bakteri, fungi, protozoa dan
lain-lain yang berdiameter 0,1-2 mm. Bioflok
merupakan flok atau gumpalan-gumpalan
kecil yang tersusun dari sekumpulan
mikroorganisme hidup yang melayanglayang di air.
Proses terbentuknya flok dimulai dari
proses nitrifikasi yang reaksinya adalah
amonia plus oksigen menjadi ion nitrit dan
akhirnya nitrat dan air.
Pada reaksi ini
terdapat campur tangan bakteri oksidasi
amonia dan bakteri oksidasi nitrit, artinya
semua proses ini memerlukan oksigen yang
cukup tinggi yaitu 4 ppm pada siang hari dan
6 ppm pada malam hari. Mikroorganisme
seperti bakteri dengan kemampuan lisis
bahan
organic
memanfaatkan
detritus
sebagai makanan. Sel bakteri mensekresi
lendir metabolit, biopolymer (polisakarida,
peptida, dan lipid) atau senyawa kombinasi
dan terakumulasi di sekitar dinding sel serta
detritus. Kesalingtertarikan antar dinding sel
bakteri
menyebabkan
munculnya
flog
bakteri.

II. TAHAPAN BUDIDAYA


A. Pembuatan Kolam
Untuk menghemat biaya kolam dapat
dibuat dari bahan terpal yang diperkuat
dengan
tulang/kerangka
dari
bahan
bambu atau besi. Ukuran kolam dapat
disesuailan dengan luas lahan dan modal
usaha yang tersedia. Ukuran kolam yang
ideal adalah 1 m sehingga dapat
menampung ikan lele sebanyak 1.000
ekor.
Bentuk kolam dapat dibuat segi
empat atau empat
persegi panjang,
namun sebaiknya kolam dibuat bulat
(bulat) agar mudah dalam pengaturan
sirkulasi air.

Pada bagian atas kolam harus diberi


pelindung/atap untuk menghindari terik
sinar matahari langsung dan air hujan.
Sinar matahari dan air hujan dapat
mempengaruhi kualitas air kolam.
Peralatan lain yang perlu dipersiapkan
adalah aerator yang berfungsi untuk
mensuplay udara ke dalam air kolam dan
popa air untuk pengisian air ke kolam dan
penambahan air bila diperlukan. Selain itu
juga diperluksn bak sortir, serok kecil dan
besar, serta berbagai macam peralatan
kainnya.
B. Pengisian Air Kolam
Pengisian air dilakukan ketika semua
peralatan dan media kolam bioflok sudah
difinising. Isi air dengan ketinggian 30-40
cm, hal ini dilakukan agar benih lele tidak
stres dan mati. akibat belum mampu
menahan tekanan air dan kelelahan
menggapai makanan yang terlalu jauh.
Pengisisan air yang tidak terlalu banyak

memungkinkan
flok
akan
terbentuk
dengan cepat. Seiring dengan berjalanya
waktu dimana benih ikan mulai tumbuh
besar, maka air harus terus ditambah
sampai batas ketinggian maksimal antara
100-120 cm.
Sehari
setelah
kolam
diisi
air
tambahkan probiotik, sebagai bibit bakteri
pengurai zat organik menjadi flok protein
dengan konsentrasi 5-10 ml/m. Pada hari
ke 3 tambahkan molase (tetes tebu/gula
pasir/gula batu/gula aren) kedalam kolam
dengan kensentrasi 50-100 ml/m. Molase
berfungsi sebagai bahan perangsang
tumbuh
kembangnya
bakteri-bakteri
pengurai supaya dapat berkembang
secara efektif.
Lakukan pengadukan secara terus
menerus (24 jam) dengan menghidupkan
aerator. Biarkan sampai beberapa hari
hingga air sudah terdapat flok protein
didalamnya. Kisaran waktu terbentukan
flok tidak bisa dipastikan namun terdapat
ciri-ciri yang menandai air kolam siap
ditebar benih antara lain :
Air terlihat berwarna kuning hijau
kecoklatan, kuning tidak kuning hijau
juga tidak hijau berwarna samar tapi
dominan kecoklatan.
Air terlihat seperti keruh, tapi jika diambil
sample pada gelas yang bening akan
kelihatan jernih dan jika didiamkan
beberapa menit akan terlihat ada
endapan berwarna hijau samar kuning
dan tidak pekat jika dipegang.
Jika kolam diaduk pada dasarnya akan
keluar kabluk, seperti debu yang
melayang-layang diair.
C. Penebaran Benih
Penebaran benih dilakukan setelah flok
terbentuk, dan lakukan pengecekan pH
terlebih
dahulu.
Penebaran
benih

sebaiknya dilakukan pada pagi hari sekitar


pukul 05.00 atau pada malam hari. Ukuran
benih dianjurkan 7 cm agar lebih tahan
terhadap kondisi suhu lingkungan.
D. Pemberian pakan.
Pemberian pakan dengan konsentrasi
lebih banyak pada malam hari karena sifat
lele yang nokturnal atau aktif pada malam
hari, sehingga pemberian pada malam
hari akan lebih efesien.
Campurkan probiotik pada pelet atau
pakan ikan dengan konsentrasi 4 ml/kg.
Jika memungkinkan pakan ikan dapat
dipermentasikan di tempat tertutup yang
minim
oxigen.
Fermentasi
pakan
dilakukan dengan cara mencampur 1 kg
pakan dengan 300 ml air yang dicampur
probiotik 2 cc, diaduk-aduk kemudian
diperam selama 2 hari dan maksimal 7
hari. Hasil permentasi, pakan ikan akan
berwarna
keputihan
dan
akan
memberikan dampak yang baik bagi
pertumbuhan dan kesehatan ikan lele.
Gunakan pakan yang berkualitas baik,
dengan ukuran pakan disesuaikan lebar
bukaan mulut ikan. Selain itu pemberian
pakan harus teratur agar didapat hasil
produksi yang maksimal dengan pakan
yang
serendah-rendahnya,
hingga
diperoleh FCR 0,7. Artinya, dari 0,7 kg
pakan
yang
diberikan
mampu
menghasilkan 1 kg daging.
Pengelolaan air pada budidaya lele
sistem bioflok ini tidak membutuhkan
ganti air sampai panen , tetapi tidak ada
salahnya jika melakukan penambahan air
untuk menggantikan kehilangan air akibat
penguapan.
Penambahan
probiotik
seminggu sekali dengan konsentersi 5-10
ml/m juga diperlukan, guna menjaga
kesetabilan bakteri pengurai supaya terus
berkembang.

E. Pemeliharaan Ikan.
Pemeliharaan merupakan waktu dimana
akan banyak dijumpai berbagai macam
masalah yang memerlukan pemikiran dan
tindakan yang cepat dan tepat.
Oleh
karena itu perlu dilakukan penanganan
dan
pengoprasian
sesuai
perosedur
budidaya yang telah dianjurkan, agar
permasalahan yang mucul mudah untuk
diatasi.
Langkah yang harus dilakukan dalam
pemeliharaan ikan adalah :
1. Pemberian pakan secara teratur.
Pemberian pakan harus tepat waktu
dan tepat ukuran.
Pakan sebaiknya
diberikan
3 kali sehari pada pukul
00:09, 15:00 dan 21:00 sebanyak 5%
dari bobot biomasnya per hari.
2. Tambahkan air 2 hari sekali hingga
batas ideal yaitu sedalam 100-120 cm.
Jika air kolam dikurangi sebanyak 20
liter biasanya harus ditambah sebanyak
40 liter atau 2 kali lipat dari
pengurangannya, agar tercapai batas
ideal.
3. Lakukan pengambilan sampling ikan
lele 10 hari sekali untuk menentukan
jumlah pakan yang diberikan, yaitu
antara 3-6% dari bobot biomas ikan lele
yang dipelihara.
4. Tambahkan molase seminggu sekali
dengan konsentrasi 50-100 ml/m, guna
menjaga keseimbangan C/N rasio agar
tetap berada diatas 12. Jika molase
berupa tetes tebu tidak tersedia dapat
diganti dengan tepung terigu atau
tepung tapioka.
5. Pertahankan suhu pada 28C, suhu ini
sangat berpengaruh tehadap flok pada
kolam
terutama
pada
musim
pancaroba, dimana suhu sering kali
berubah-ubah. Oleh karena itu dalam
budidaya lele sistem bioflok dianjurkan

untuk menggunakan kolam fiberglass,


agar ketika musim penghujan suhu dan
pH tidak mengalami penurunan maupun
peningkatan secara derastis begitu juga
pada saat musim kemarau.
6. Lakukan pengontrolan secara rutin, dan
segera ambil tindakan seandaimya
terjadi kelainan pada ikan lele yang
dipelihara,
seperti,
nafsu
makan
berkurang, gerakan ikan lamban dan
sebagainya. Jika hal tersebut terjadi,
cek apakah air terlalu pekat atau tidak.
Jika terlalu pekat, maka lakukan
pengurangan air hingga 50% dan
tambah dengan air bersih sampai
ketinggian semula.
F. Panen
Sehari sebelum panen, ikan lele yang
dipelihara jangan diberi pakan, agar
ketika
panen
atau
pada
saat
pengiriman,
ikan
lele
tidak
memuntahkan kembali pakan atau
buang kotoran.
Untuk memudahkan panen, pindahkan
air kolam ke kolam lainnya yang belum
berisi air. Air bekas budidaya jangan
dibuang
dengan tujuan agar tidak
membuat flok kembali seperti tahap
awal, sehingga lebih hemat biaya dan
efisiensi waktu. Apabila cukup tersedia
kolam,
air bekas budidaya tersebut
dapat digunakan untuk 2 buah kolam,
masing-masing
dengan
konsentrasi
50% air bekas dan 50 air bersih.
Setelah
panen
perlu
dilakukan
pencucian pada kolam bekas budidaya.
Bersihkan flok-flok yang mengumpul
disela-sela sisi kolam sampai bersih
dengan mengunakan sabun. Bilas kolam
hingga hilang bau sabunnya dan
biarkan selama sehari sampai air benarbenar habis mengering. Kolam dapat
diisi kembali dengan air bekas panen

yang ditampung di kolam lain dengan


kedalamam 50 cm dan ditambakan air
bersih hingga kedalamam 100 cm.
Selain itu dapat menggunakan air
bersih seluruhnya dan membuat flok
baru seperti semula.
DAFTAR PUSTAKA
AFIESH SP. 2015. Biofloc Atau Flok Dalam
Perikanan Budidaya.
http://afiesh.blogspot.co.id/2013/01/
biofloc-atau-flok-dalamperikanan.html. Diakses, Senin 19
September 2016.
Anonim. 2015. Tahapan Budidaya Ikan Lele
Sistem Bioflok
http://budidayaikangunungkidul.blog
spot.co.id/2015/05/tahapanbudidaya-ikan-lele-sistem.html.
Diakses Selasa 20 September 2016.
Anonim. 2016. Budidaya Lele Padat Tebar
Menggunakan Sistem Bioflock.
http://petanismart01.blogspot.co.id/
2016/04/budidaya-lele-padat-tebarmenggunakan.html. Diakses, Rabu
21 September 2016.
SYAIKHUR ROHMAN. 2015, Panduan Lengkap
Dan Akurat Dalam Membuat Kolam
Bioflok.http://satuilmusejutaumat.blogsp
ot.co.id/2015/05/
panduan-dalammembuat-kolam-bioflok.html.
Diakses
Kamis, 22 September 2016.