Anda di halaman 1dari 22

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

ii

I. PENDAHULUAN

Oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak sangat diharapkan guna

II. PEMBENIHAN IKAN PAPUYU ...


A. Seleksi Induk ..
B. Penyuntikan.
C. Penetasan Telur Dan Pemeliharaan Larva
D. Pendederan I .
E. Pendederan II .
F. Pendederan III
III. PEMBESARAN IKAN PAPUYU
A. Lokasi dan Wadah Pemeliharaan .....................................
B. Penebaran Benih.

6
6
7
8
10
10
11
12
12
24

perbaikan dan penyempurnaan penulisan buku sejenis di masa mendatang.

IV

PEMELIHARAAN DAN PEMBERIAN PAKAN...........................

25

V.

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT

27

VI.

PANEN .................................................................................

28

VII.

ANALISA USAHA .

29

A.
B.

29
34

Puji shukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala
limpahan rahmat dan Karunia-Nya sehingga pembuatan buku Petunjuk Teknis
Budidaya Ikan Papuyu dapat diselesaikan dengan baik dan tepat waktu.
Informasi tentang budidaya ikan papuyu masih sangat tebatas dan sulit
didapat, sehingga buku ini dapat menjadi pedoman dan petunjuk dalam
nenbudidayakan ikan papuyu, baik pembenihan maupun pembesaran,
Kami sadari sepenuhnya bahwa buku ini belum begitu sempurna,
karena keterbatasan informasi dan data yang berasal dari pembudidaya ikan
yang memang belum banyak melakukan kegiatan budidaya jenis ikan ini..

Ucapan terima kasih dan pengjargaan


sampaikan kepada bapak,

yang setingi-tingginya, kami

ibu dan saudara(i) atas segala dukungan dan

partisipasinya dalam penyusunan buku ini.


Demikian adanya semoga buku dapat bermanfaat bagi kita semua
khususnya dalam rangka pengembangan budidaya ikan papuyu di Kalimantan
Selatan.

VIII

Banjarbaru, Oktober 2015


Kepala Dinas perikanan dan Kelautan
Provinsi Kalimantan Selatan,

Analisa Usaha Pembenihan Ikan Papuyu .


Analisa Usaha Pembesaran Ikan Papuyu .

PENUTUP .........
DAFTAR PUSTAKA

37
38

Dr. Ir. H. ISRA


Pembina Utama Madya
NIP. 19590707 198503 1 031

I. PENDAHULUAN
ii

Ikan papuyu atau betok (Anabas testudineus Bloch) merupakan

alam dapat mencapai ukuran >200 gram/ekor dalam 1 tahun, sedangkan

ikan asli perairan tawar Indonesia yang hidup liar di rawa-rawa, sungai, danau

dalam lingkungan budidaya mencapai kisaran

dan genangan air lainnya seperti handil, sawah dan saluran air. Ikan papuyu

selama 1 tahun.

berat 70 - 100 gram/ekor

dagingnta pitih dan tebal, serta memiliki cita rasa yang terbilang enak dan

Ikan papuyu merupakan jenis ikan agresif dan dapat dijumpai di

gurih sehingga sangat digemari masyarakat terutama di Kalimantan Selatan

berbagai perairan tawar hingga payau. Di Kalimantan Selatan ikan ini banyak

dan mempunyai harga jual yang tinggi.

dijumpai di rawa-rawa dalam 3 (tiga) ekosisten yaitu rawa radah hujan, rawa

Secara morfologi ikan papuyu memiliki bentuk lonjong lebih ke


belakang pipih dengan ukuran tubuh kecil, panjang hingga sekitar 25 cm,
namun kebanyakan lebih kecil.

pasang surut dan rawa monoton. Perbedaan sifat biologi ikan papuyu dari
tiga ekosistem rawa adalah :

Ikan ini kepalanya besar dan bersisik

keras/kaku. Bagia Sisi atas tubuh (dorsal) berwarna gelap kehitaman agak
kecoklatan atau kehijauan. Sisi samping (lateral) berwarna kekuningan,

No,
1.

terutama di sebelah bawah, dengan garis-garis gelap melintang yang samar


dan tak beraturan. Sebuah bintik hitam (terkadang tak jelas kelihatan) terdapat
di ujung belakang tutup insang. Sisi belakang kedua tutup insangnya bergerigi
tajam seperti duri yang dapat dimegarkan untuk merayap naik dan berjalan di
daratan terutama pada saat hari hujan.

2
3.
4.
5.
6,
7.

Kreteria
Ukuran
- Maksimum
- Rata-rata
Pertumbuhan
Mortalitas
Fekunditas
Survival rate
Rasa daging
Warna

Tadah Hujan
150 gram
60 90 gram
Lambat
Rendah
Tinggi
Tinggi
Agak bau lumpur
Agak kekuningan

Ekosistem Rawa
Pasang Surut
300 gram
100 200 gram
Cepat
Tinggi
Tinggi
Agak rendah
Agak hambar
Hijau kebiruan

Monoton
270 gram
100 170 gram
Cepat
Sedang
Tinggi
Tinggu
gurih
Hijau kebiruan
agak tua

Ikan Papuyu termasuk dalam golongan ikan omnivore (pemakan segalanya),

berupa tumbuh-tumbuhan air, ikan-ikan kecil, udang-udang renik, hewanhewan kecil lainnya dan serangga. Oleh karena itu ikan ini mudah diberikan
makanan tambahan atau pakan buatan (pellet), Menurut Mudjiman (1985), jumlah

makanan yang dikonsumsi oleh ikan secara umum berkisar antara 3 6 %


dari total berat ikan. Namun jumlah makanan itu dapat berubah-ubah
tergantung pada suhu lingkungannya. Ikan ini memangsa aneka serangga dan
hewan-hewan air yang berukuran kecil. Jenis makanan yang dimakan ikan
biasanya tergantung pada kesukaan terhadap jenis makanan tertentu, ukuran
1
dan umur ikan, musim serta habitat hidupnya. Pertumbuhan ikan papuyu di

Usaha budidaya ikan papuyu masih belum banyak dilakukan secara

air lebih dari 12 jam.

Walaupun demikian ikan papuyu tidak dapat terlalu

massal dan luas karena terbatasnya benih yang didapat dari alam. Produksi

lama bertahan di daratan dan harus segera mendapatkan air dalam beberapa

ikan papuyu masih merupakan hasil tangkapan dari alam yang saat ini telah

jam kemudian atau ia akan mati.

mulai berkurang dan

menunjukan kelangkaan sebagai akibat

aktivitas

penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, seperti penyentruman,


penggunaan potasium dan lainnya. Selain itu patut diduga karena terganggu
ekosistem tersebut akibat adanya ikan-ikan lain seperti nila, bawal dan Lele
dumbo yang telah berkembang biak di perairan umum.
Ikan papuyu dapat hidup baik pada kualiras air sebagao berikut :

Suhu
pH
Kecerahan
Warna air
Bau
DO
CO2
NH3
Fe

: 27 30 C
: 4- 8
25 30 cm
: Coklat gelap
Bangai/lumpur
: 4
<8
0,4 ppm
<2

Dalam keadaan normal ikan papuyu bernapas dengan insang.

Menurut Jhingran, (1975) ikan papuyu klasifikasi ikan dalam :

Kingdom
Filum
Sub filum
Kelas
Sub kelas
Infra kelas
Super ordo
Ordo
Family
Genus
Spesies

:
:
:
:
:
:
::
::
:
:
:

Animalia
Chordata
Vertebrata
Pisces
Actinopterygii
Teleostei
Acanthopterygii
Perciformes
Anabantidae
Anabas
Anabas testudineus

Ikan

papuyu mempunyai keistimewaan tahan hidup dalam kondisi perairan rawa

Ikan papuyu (Banjar) umumnya hidup liar di perairan tawar terutama

dengan kandungan oksigen terlarut dan pH yang rendah, tahan terhadap

rawa-rawa dengan nama lain ikan betok dan nama ilmiah Anabas testudineus

penyakit dan dapat hidup di air tergenang (stagnan). Ikan papuyu termasuk

Bloch.

unik karena karakteristiknya yang berbeda dibandingkan dengan ikan air

(Melaya), ikan betik atau bethok (Jawa), geteh-geteh (Manado). puyu-puyu (Padang),

tawar lainnya yaitu memiliki kemampuan untuk mengambil oksigen langsung


di udara dengan bantuan organ labirin (labyrinth organ) yang terdapat di
bagian kepalanya. Ikan papuyu tahan hidup dan tinggal dalam lumpur dengan
sedikit air selama 1 - 2 bulan bahkan dapat bertahan hidup di daratan tanpa

Di beberapa daerah ikan ini disebut dengan nama lain yaitu ikan puyu

puyo-puyo (Bintan), kusang (Danau Matanua), sedangkan dalam bahasa Inggris ikan
ini mempunyai nama Climbing Gouramy atau climbing perch.
Ikan papuyu menyebar luas, mulai dari India, Cina, Srilangka, Fhilifina,
hingga Asia Tenggara lainnya dan Kepulauan Nusantara serta di sebelah barat Garis
Wallace dan menyebar di kepulauan Indo-Australia

Daerah penyebaran ikan

3
4

Ada beberapa tahapan yang harus dilakukan dalam kegiatan

Papuyu di Indonesia meliputi Sumatera, Nias, Bintan, Sulawesi, Bangka, Sumbawa,


Pati, Ambon, Jawa, Bacau, Halmahera, Kalimantan, dan Madura.

pemijahan papuyu yaitu seleksi induk siap pijah, penyuntikan induk, ovulasi,

II. PEMBENIHAN IKAN PAPUYU


Pembenihan

ikan

bertujuan

untuk

hingga penetasan telur.

menghasilkan

benih

ikan

A. Seleksi Induk.

berkualitas dalam jumlah besar, sehingga kegiatan usaha pembesaran ikan

Induk ikan papuyu sebaiknya dari hasil domestikasi yang

tidak tergantung pada ketersediaan benih di alam. Disanping itu untuk

dipelihara terpisah antara jantan dan betina dalam kolam permanen 1 x

meningkatkan

1,5 x1 m dengan ketinggian air 0,5 m dan kepadatan ikan 100 - 150

pendapatan

pembudidaya

ikan

sekaligus

peningkatan produksi perikanan budidaya, mendukung

menunjang

upaya pelestarian

ekor/bak.
Setiap hari induk diberi pakan pelet 3 - 5% dari berat total populasi

plasma nuftah dan ketahanan pangan.


Ikan

Papuyu

berkembangbiak

dengan

cara

induk

betina

mengeluarkan telur dan dibuahi induk jantan dengan mengeluarkan sperma.


Pembuahan terjadi diluar, dengan cara tubuh induk papuyu jantan menjepit
tubuh induk papuyu betina sambil mengeluarkan telur dan sperma.

ikan dengan frekuensi pemberian 1 kali pada pagi hari. Setiap bulan
sekali dilakukan pergantian air sebanyak 100 % dan pengamatan
kematangan induk yang siap dipijahkan. Selama musim penghujan
(Oktober-April), induk ikan papuyu betina mencapai kematangan gonad
atau dapat dipijahkan kembali 2 bulan setelah induk tersebut dipijahkan.

Telur ikan Papuyu berbentuk bulat berwarna bening kekuningan


dengan sifat mengapung di air,

Seekor induk papuyu dapat memproduksi

telur sebanyak 13.000 15.000 tergantung berat dari ikan.

Ikan Papuyu

memijah sepanjang musim penghujan dan pada saat musimnya mampu


memijah 2 3 kali dengan jumlah telur (fekunditas) 5.000 15.000 butir/nduk
Pembenihan ikan papuyu diawali dari seleksi induk-induk ikan yang
diperoleh dari hasil tangkapan di alam dan dipelihara di kolam agar terbiasa
hidup dalam lingkungan terbatas dan terbiasa makan pakan tambahan yang
berupa pelet. Induk-induk papuyu dipelihara secara intensif dan terpisah
antara jantan dan betina agar dapat matang gonad secara alami dan
selanjutnya dapat dilakukan pemijahan.

Ciri-ciri induk papuyu jantan dan betina serta persyaratan induk


adalah sebahai berikut :
1. Betina
Tubuh gemuk dan lebar kesamping,
Warna badan agak gelap,
Sirip punggung lebih pendek,
Bagian bawah perut agak melengkung,

Jika matang gonad pada bagian perut diurut akan keluar telur,

Alat kelamin berwarna kemerah-merahan.

2. Jantan :
Tubuh ramping dan panjang,
Warna badan agak cerah,

Sirip punggung lebih panjang,

dan 1 betina). Pemijahan akan terjadi pada tengah malam hingga pagi hari

Bagian bawah perut rata,

dan telur-telur akan menempel pada dinding akuarium

Jika perut diurut akan keluar cairan sperma berwarna putih susu.

3. Beberapa persyaratan induk

Ukuran induk betina yang ideal diatas 90 gram dan jantan diatas 30

gram
Badan terlihat segar (tidak cacat) dan gerakannva lincah
Mampu menghasilkan telur dalam jumlah cukup banyak,
Umur induk lebih dari 10 bulan,
Pertumbuhannya cepat.
C. Penetasan Telur Dan Pemeliharaan Larva
Induk-induk ikan papuyu yang telah memijah dipindahkan ke
kolam induk untuk pematangan gonad berikutnya. Setelah penyuntikan II
induk betina, maka ovulasi akan terjadi 5 jam berikutnya. Telur akan
menetas dalam waktu 20 24 jam pada suhu 260C atau akan menetas
dalam waktu 12 jam pada suhu 300C. Prosentase dari telur yang dibuahi

B. Penyuntikan
Pemijahan ikan papuyu dilakukan secara semi buatan, induced
spawning. Caranya, siapkan akuarium ukuran panjang 60 cm, lebar 50 cm
dan tinggi 45 cm; keringkan selama 3 hari; isi air setinggi 30 cm; hidupkan
dua titik aerasi dan biarkan hidup
Penyuntikan terhadap induk ikan jantan dan betina dilakukan secara
bersamaan. Suntik secara intramuscular pada otot punggung 2 ekor induk
betina dan 8 ekor induk jantan pada sore hari dengan hormon ovaprim
sebanyak 0,4 - 0,5 ml/kg dan masukan ke dalam satu akuarium.
Perbandingan antara jantan dan betina 3 : 1 atau 4 : 1. ( 3 atau 4 jantan
7

sekitar 95% dengan daya tetas 95%.


Larva ikan Papuyu berukuran panjang < 1 mm berwarna bening
dengan bintik mata hitam. Pada umur 1 hari larva akan diam mengapung
di permukaan air atau menempel pada substrat, setelah umur 1 hari larva
mulai berenang aktif.

Larva yang baru menetas tidak perlu diberi

makanan tambahan, sebab masih mempunyal cadangan makanan dari


kantong kuning telur (yolk egg).

Setelah larva berumur 3 hari dapat

diberi pakan tambahan berupa naupli artemia secukupnya atau secara


adlibitum. hingga kuat untuk berenang. Larva berumur 4 hari dapat diberi
makanan tambahan berupa suspense kuning telur. Frekuensi pemberian
8

pakan 3 kali sehari (pagi, siang dan sore) selama 10 hari. Setelah itu bisa

D. Pendederan I

diberikan makanan pellet yang dihaluskan. Masa kritis larva terjadi pada

Pendederan I dilakukan dalam hapa yang dipasang di kolam.

saat hari ke-7 sampai hari ke-14.. Setiap ekor induk betina bisa

Siapkan sebuah kolam berukuran 200 m2, keringkan selama 46 hari; isi

menghasilkan larva sebanyak 13.500 ekor.

air setinggi 4060 cm; tebarkan 4 karung kotoran ayam atau puyuh dan
biarkan selama 4 5 hari; pasang 4 10 buah hapa ukuran panjang 2 m,
lebar 1 m dan tinggi 80 cm dengan tiang-tiang bambu. Tebar/masukan
2.000 ekor larva umur 10 - 14 hari dan berikan pakan tambahan berupa
pelet halus. Pemeliharaan ini dilakukan selama seminggu. Pada saat itu,
larva sudah berukuran 0,5 cm.

E. Pendederan II
Pendederan II dilakukan di kolam berukuran 200 m2, keringkan
selama 4 6 hari; isi air setinggi 40 60 cm; tebarkan 4 karung kotoran
ayam atau puyuh dan biarkan selama 4 5 hari. Tebar benih yang
berasal dari pendederan I (lepas hapa) dengan kepadatan 200 300
ekor/m2; beri pakan tambahan berupa pelet halus sebanyak 500 gram/hari
diawal pemeliharaan, 750 gram pada minggu kedua, 1.000 gram pada
minggu ketiga atau sesuai dengan kebutuhan. Pendederan berlangsung
9

selama 30 hari dan benih papuyu mencapai ukuran 13 cm.


10

III.

PEMBESARAN IKAN PAPUYU

Secara klimatologis ikan papuyu tidak membutuhkan kondisi iklim


dan geografis yang spesifik. Ketinggian tempat budidaya ikan ini

dapat

berada di dataran rendah sampai dataran tinggi. Begitu pula dengan


kelembaban dan curah hujan tidak ada batasan yang spesifik.

Pada

prinsipnya kondisi perairan untuk budidaya Ipembenihan) papuyu adalah air


harus bersih dan kaya akan oksigen terutama untuk benih yang masih kecil.
Lokasi yang cocok untuk budidaya

ikan papuyu antara lain di daerah

pinggiran aliran sungai, rawa-rawa dan danau.


F.

A. Lokasi Dan Wadah Pemeliharaan

Pendederan III
Pendederan III dilakukan di kolam lain dengan perlakuan sama
dengan pendederan II. Pendederan ini dilakukan selama sebulan dan
benih sudah mencapai ukuran 3 5 cm. Benih hasil pendederan III
selajutnya dipelihara di kolam atau wadah budidaya ikan lainnya untuk
pembesarannya.

1.Kolam
Kolam

merupakan

salah

satu

tempat

yang

ideal

untuk

pembesaran ikan papuyu, kerena dapat dibuat dengan ukuran yang


cukup

luas sehingga menyerupai habitat aslinya di alam bebas.

Bentuk kolam sebaiknya empat persegi panjang atau segi empat, agar
mudah dalam pengelolaaannya

11

12

Beberapa tahapan persiapan kolam yang dilakukan dalam

Beri pakan tambahan berupa pelet butiran sebanyak 5%/hari.

pembesaran ikan papuyu dadalah sebagai berikut :

Pembesaran berlangsung selama 6 bulan. Saat itu, ikan papuyu

sudah mencapai berat antara 60 75 gram.

Siapkan beberapa petakan kolam masing-masing berukuran 200


m atau lebih,

Keringkan tanah dasar kolam selama 2 minggu atau hingga tanah


dasar kolam telihat retak - retak. atau kadar air tanah 20%.

13

Kolam terpal mempunyai keunggulan antara lain :


Lebih fleksibel, dimana penggunaan kolam terpal dapat di
integrasikan dengan kegiatan lain, seperti beternak, pertanian

agar terhindar dari kebocoran saat kolam diisi air.

maupun perkebunan dan juga dapat ditempatkan disekitar

Lakukan pengapuran dengan dosis 25-30 gram CaO/m atau 75

rumah/pekarangan

gram CaCO3/m.

Praktis, mudah dibuat dan hemat biaya

Berikan pupuk kandang 500-1.000 gram/m. Untuk perbaikan

Persiapan kolam dapat dilakukan dengan mudah dan cepat.

kualitas pupuk kandang dapat dilakukan dengan menambahkan

Dapat dibuat di lahan sempit dan kering serta poros

dedak 10% dan EM4 secukupnya. Setelah pupuk ditebar di dasar

Tidak memerlukan banyak air/hemat air

kolam, air dimasukkan setinggi 10 cm.

Pengawasan lebih mudah dan intensif

Setelah 35 berikutnya tebarkan pupuk anorganik yaitu Urea


bertujuan untuk menumbuhkan pakan alami baik berupa phyto
maupn zooplankton serta jasad renik lainnya.

Kolam Terpal

Lakukan perbaikan pematang dan pintu air masuk maupun keluar,

sebayak 5 gramm dan SP36 sebanyak 10 gran/m. Pemupukan

2.

Setelah 3 hari berikutnya, air dalam kolam dinaikkan secara

Kuantitas dan kualitas mudah dikontrol


Padat penebaran lebih tinggi
Jarang ditemuhan hama dan lebih mudah pengendalian penyakit
Mortalitas lebih rendah dan panen lebih mudah
Kolam terpal mempunyiai kelemahan antara lain :

bertahap sebanyak 30% (tiga kali) hingga ketingian 60-80 cm dan

Rawan bocor dan tidak tahan lama

dibiarkan (didiamkan) selama 2 minggu,

Miskin akan ion dan mineral tanah

Pada pagi atau sore hari benih ikan dapat ditebar dengan

Air lebih cepat bau

kepadatan 50 ekor/m2.

Kolam terpal dilihat dari peletakannya dapat dikategori dalam 3


(tiga) model yaitu :
a. Kolam Terpal Diatas Tanah

Beberapa tahapan yang perlu diperhatikan dalam pembuatan

terpal rusak atau sobek karena permukaan dinding atau lantai

kolam terpal jenis ini antara lain :


-

yang kasar atau tajam.

Persiapkan peralatan pertukangan, seperti gergaji, palu,

ketam, paku dan golok dan lainnya.


-

kolam terendah untuk pembuangan air.

14
Pastikan tempat/lokasi pembuatan kolam terpal mudah

sudutnya kemudian dilipat dengan rapi. Pada bibir kolam

dialirkan ke kolam melalui bantuan selang air.


Lakukan

pembersihan

lahan

atau

tempat

yang

atas, terpal bisa dijepit dengan papan atau bilah bambu agar

akan

terlihat rapi dan posisi terpal stabil.

digunakan agar bersih dari rumput, benda-benda tajam, batu


dan pepohonan yang terlalu rimbun yang dapat mengganggu

agar dapat dibuat sambungan menggunakan knee atau

Buat lay out sesuai ukuran kolam yang akan dibuat

sambungan paralon.

(disesuaikan ukuran terpal), dengan menggunakan benang


atau sejenisnya. Apabila akan membuat lebih dari satu kolam,

atau dinding bawah kolam. Perbaiki dan lakukan penambalan

Pasang patok atau tonggak utama dari balok kayu atau


bambu

di

setiap

sudut.

Untuk

memperkuat

bila terjadi kebocoran. Lanjutkan pengisian dengan air sambil

kolam,

terus diperiksa dan diamati, baik kebocoran maupun kekuatan

tambahkan beberapa patok di setiap sisi dengan jarak 1 m..


-

kolam terhadap tekanan air.

Lakukan pemotongan kayu kaso atau bambu sesuai ukuran


kolam untuk membentuk rangka.

Gunakan paku untuk

menyambung bahan membentuk kerangka.

Posisi lantai

dibuat miring ke salah satu sisi, agar mudah untuk menguras


dan membersihkan air kolam.
-

Isi kolam terpal yang sudah jadi dengan air kurang lebih 1/3
bagian, dan periksa apakah ada yang bocor di bagian dasar

perhatikan jarak antar kolam.


-

Untuk pelimpasan air lubangi terpal dibagian atas ( 25 cm


dibawah sisi atas terpal) dengan bentuk silang atau bintang

masuknya sinar matahari.


-

15
Lakukan pemasangan terpal dengan baik, hati-hati dan rapi
serta cukup rapat ke permukaan dinding dan lantai. Bagian

dijangkau dan dekat sumber air, atau setidaknya air dapat


-

Letakkan paralon beserta knee secara horisontal pada sisi

Gunakan papan kayu atau potongan bilah bambu untuk


disusun membentuk dinding dan lantai. Usahakan papan atau
bilah bambu permukaannya halus, hal ini untuk mencegah

Selanjutnya kolam terpal didiamkan hingga 7 hari, dan


selanjutnya dapat ditebar benih ikan.

b. Kolam Terpal Didalam Tanah

16

Kolam terpal dalam tanah dibuat dengan cara menggali tanah

a.

Kolam terpal diatas dan dibawah tanah

berbentuk persegi panjang seperti akan membuat kolam tanah. Panjang

17
Kolam terpal model ini adalah kolam terpal yang dibuat

dan lebar galian tanah disesuaikan dengan ukuran terpal yang digunakan

sebagian posisinya berada didalam tanah dan sebagian berada

dan kedalamannya 70 cm. Misalnya ukuran terpal yang akan dipakai 8

diatas tanah. Kolam dibuat dengan cara menggali tanah berbentuk

x 12 meter, maka tanah yang harus digali berukuran 6 x 10 x 0,7 meter.

persegi panjang.

Setelah tanah digali ratakan dan padatkan

permukaan dasar

galian serta jauhkan kerikil, bebatuan maupun benda keras lainnya guna
menghindari kebocoran saat kolam diisi air.
Tanah bekas galian dimasukkan dalam karung dan diletakan
dipinggir galian untuk dijadikan tanggul dengan ketinggian 30 cm.

Panjang dan lebar galian tanah disesuaikan

dengan ukuran terpal yang diinginkan sedangkan kedalamannya 50


cm. Misalnya ukuran terpal yang akan dipakai 8 x 12 meter, maka
tanah yang harus digali berukuran 6 x 10 x 0,5 meter. Tanah hasil
galian diletakan di sekeliling pinggir lubang galian bagian atas dan

Selanjutnya terpal dimasukkan dalam galian tanah yang telah dibuat dan

dipadatkan yang berfungsi sebagai pematang dengan ketinggian

pada bagian sudut terpal dilipat sedemikian rupa sehingga air tidak

50 cm. Setelah tanah digali, ratakan dan padatkan permukaan dasar

merembes keluar pada saat diisi air.

galian, jauhkan dari kerikil, bebatuan serta benda keras lainnya atau

Pada

bagian

sisi-sisi

atas

terpal

diikatkan

pada

tonggak

diberi sekam atau pasir halus dengan ketebalan 10 cm, guna

sedemikian rupa sehingga posisi terpal rapi, stabi, dan tidak mudah

menghindari kebocoran pada saat kolam diisi air.

bergeser.

pemasangan terpal dengan cara memasukan terpal kedalam lubang

Selanjutnya kolam terpal diisi air sambil terus diperiksa dan

diamati, baik kebocoran maupun kekuatan kolam terhadap tekanan air.


Kolam terpal didiamkan hingga 7 hari, dan selanjutnya dapat
ditebar benih ikan. Kelebihan dari kolam terpal jenis ini adalah suhu air di
dalam kolam dapat lebih stabil terhadap pengaruh suhu udara.

Lakukan

galian. Pemasangan agar dilakukan dengan baik, hati-hati dan rapi


serta cukup rapat terutama pada bagian sudutnya yang dilipat. Pada
18
bagian atas sisi kolam, terpal dijepit dengan papan atau bilah bambu
agar terlihat rapi dan stabil.

Untuk pelimpasan air lubangi terpal

dibagian atas ( 25 cm dibawah sisi atas terpal) dengan bentuk silang


atau bintang agar dapat dibuat sambungan menggunakan knee atau
sambungan paralon.

Isi kolam terpal yang sudah jadi dengan air

kurang lebih 1/3 bagian, dan

periksa apakah ada yang bocor di

dipergunakan alat batu pelampung

yang terbuar dari bahan bambu

bagian dasar atau dinding bawah kolam. Perbaiki dan lakukan

atau drum bekas yang dirakit sedemikian rupa. Karamba-karamba

penambalan bila terjadi kebocoran. Lanjutkan pengisian dengan air

diikatkan pada tiang pancang yang kuat dan kokoh agar tidak hanyut

sambil terus diperiksa dan diamati, baik kebocoran maupun kekuatan

terbawa arus, terutama pada saat hujan deras.

kolam terhadap tekanan air.

Selanjutnya kolam terpal didiamkan

hingga 7 hari, dan selanjutnya dapat ditebar benih ikan.

Karamba tancap/pagar biasanya terbuat dari bahan kayu ulin


dengan ukuran 4 x 4 meter dan tinggi
3.

karamba bagian bawah tertancap di dasar perairan. Dasar karanba

Keramba
Karamba umumnya terbuat dari bahan kayu

2 - 3 m. Kisi-kisi diding

ulin dengan

rancang bangun berbentuk segi empat atau empat persegi panjang.

dapat berupa tanah dasar perairan yang berada di dalam karamba


atau dibuat lantai dari bahan kayu ulin.

Dinding maupun lantai karamba terdiri dari kisi-kisi kayu ulin dengan

Pada bagian atas karamba terapung maupun tancap dibuatkan

jarak antara 1,5 2 cm tergantung ukuran benih yang akan ditebar.

pintu dengan ukuran 50x50 cm atau secukup orang dewasa masuk

Di Kalimantan Selatan terdapat 2 (dua) jenis karamba yaitu karamba

ke dalam karamba guna memudahkan pengelolaan karamba, seperti

terapung dan karamba tancap/pagar.

penebaran benih, pemberian pakan, panen dan lainnya.

Karamba terapung umumnya berukuran 2 x 3 meter dengan


ketinggian 1 meter atau lebih. Karamba diletakan diparairan dengan

4. Jaring Tancap.

posisi terapung yaitu 3/4 bagian karamba berada di dalam air dan

Jaring tancap (fixed net cage) adalah sistem teknologi budidaya

selebihnya diatas air.. Agar posisi karamba selalu terapung

ikan dalam wadah berupa jaring yang diikatkan pada patok yang

19

20

menancap ke dasar perairan. Jaring tancap adalah jaring kantong

d.

Jaring yang digunakan ada 2 lapis, yaitu jaring bagian dalam

yang bentuknya persegi panjang seperti hapa dengan ukuran yang

sebagai wadah budidaya dan jaring bagian luar dengan ukuran

lebih besar dan dipasang pada kerangka kayu atau bambu dipinggi

mata jaringnya agak besar yang berfungsi untuk pelindung atau

perairan. Lokasi yang ideal untuk budidaya ikan di jaring tancap

pencegah serangan hama.

adalah perairan umum seperti rawa-rawa, sungai, danau atau waduk


yang memiliki kedalaman 1 1,5 m.
Langkah awal pembuatan jaring tancap adalah mempersiapkan
peralatan dan sejumlah jaring berukuran panjang 4 m, lebar 3 m dan
tinggi 1 m dengan ukuran mata jaring 0,5 cm. Setelah peralatan dan
bahan yang diguna untuk membuat jaring tancap tersedia maka

e.

21
Pada pagi atau sore hari benih Ikan papuyu yang berasal dari
pendederan III dapat ditebar dengan kepadatan 50 100
ekor/m2.

Benih ikan beri pakan tambahan berupa pelet

sebanyak

5%/hari

dengan

frekwensi

pemberian

kali.

Pembesaran di jaring tancap berlangsung selama 6 bulan dan


ikan papuyu dapat mencapai ukuran 65 - 75 gram/ekor.

langkah yang dilakukan adalah :


a.

Buat rancang bangun (kerangka) jarring tancap menurut ukuran


yang dikehendaki, dalam hal ini panjang 4 meter, sedang lebar 3
meter. Kemudian kayu gelam atau ulin ditancapkan kedasar
perairan sekokoh mungkin untuk membuat kerangka jaring.
Empat atau enam tiang utama dipanjang yang masing-masing
merupakan tulang tempat mengikat tiang-tiang melintang.

b.

.Kayu galam/ulin/bambu diikat dengan tali tambang/rotan atau


dipaku melintang. antar tiang utama yang telah ditancapkan.

c.

5. Fishpen.

Setelah kerangka jaring tancap terbentuk dengan ukuran 4 3 x

Pengertian fishpen adalah bagian badan air yang dikurung seperti

1 meter, selanjutnya jaring dipasang sedemikian rupa, dimana

pagar dan digunakan untuk memelihara ikan atau biota air lainnya.

posisi jaring bagian bawah hampir menyetuh dasar perairan dan

Pemeliharaan ikan di dalam fishpen pada dasarnya adalah pemanfaatan

titik atas Jaring jangan sampai tenggelam, minimal 50 cm diatas

bagian-bagian tertentu dari perairan umum seperti sungai, rawa-rawa, danau

permukaan air pada saat hujan/banjir. Dan ketika air surut tinggi

atau waduk.

air dalam jaring tidak kurang dari 50 cm

Lokasi untuk membangun fihspen umumnya adalah perairan


umum seperti sungai, rawa-rawa danau atau waduk yang memiliki
kedalaman 1 - 1,5 m.

Lokasi seperti ini umumnya berada di

pinggir/tepi perairan.
Siapkan sejumlah bilah (reng) bambu atau bilah kayu ulin,
balok ulin atau galam. paku dan peralatan pertukangan lainnya.
22
Tancapkan balok-balok kayu sekokoh mungkin sebagai tiang dengan
jarak 1 meter ke dasar perairan hingga membentuk bangun segi
empat atau empat persegi panjang dengan ukuran sesuai yang
diinginkan. Hubungkan masing-masing tiang dengan 3 (tiga) balok
kayu bagian atas, tengah dan bawah hingga membentuk bangun
yang

kokoh.

Pasang

bilah

bambu

atau

ulin

dengan

cara

menancapkan ujung bilah bagian bawah ke dasar perairan dan


bagian lain diikat dengan tali kawat atau dipaku pada kerangkan
fishpen. Fishpen sebaiknya dibangun pada saat musim kemarau
sehingga lebih mudah dalam penggunaan paku dan lebih kokoh.
Tinggi fishpen disesuaikan, yaitu 30 cm diatas pemukaan air pada
saat musim penghujan/banjir.

B. Penebaran Benih.
Dalam budidaya ikan termasuk ikan papuyu harus memperhatikan
mutu benih yang akan ditebar, karena nutu benih berhubungan erat
dengan laju pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup selama masa
pemeliharaan.
23
Padat penebaran untuk pembesaran ikan papuyu di kolan (Kolam
tanah, beton maupun terpal) sebanyak 100 - 300 ekor/m untuk ukuran
benih 5 8 cm dan 400 ekor/m untuk benih berukuran 3 5 cm. Padat
penebaran pembesaran ikan papuyu di karamba sebanyak 300 - 400
ekor/m dan jaring tancap sebanyak 50 100 ekor/m2 dengan ukuran
benih 5 8 cm. Penebaran benih ikan dilakukan pada sore atau pagi hari
saat suhu udara relatif rendah, guna meminimalisir kemungkinan stress
pada benih ikan papuyu. Penebaran benih dilakukan melalui aklimatisasi

guna menyesuaikan suhu air dalam wadah kantong packing benih


dengan suhu air dalam wadah budidaya (kolam, karamba, jarring tancap
dan lainnya).
Dalam pembesaran, benih ikan papuyu sebaiknya berasal dari
Balai Benih Ikan (BBI) atau panti benih ikan dimana benih ikan sudah
terbiasa hidup dalam lingkungan budidaya sehingga sudah terbiasa
dengan pemberian pakan yang berupa pellet.

Benih ikan dari hasil

tangkapan di alam bukan berarti tidak baik, tetapi diperlukan waktu dan
perlakuan yang lebih baik untuk penyesuaian diri terhadap lingkungan
budidaya.

24

IV. PEMELIHARAAN DAN PEMBERIAN PAKAN


Ikan papuyu bersifat ornnivora (pemakan segalanya) meskipun
cendrung bersifat herbivora (pemakan tumbuhan). Ikan papuyu memakan
udang renik, serangga air dan ikan-ikan kecil sehingga disebut juga sebagai
ikan predator. Ikan ini agak sulit untuk diberi makan pakan buatan (pellet)

mencapai ukuran

65 75 gram/ekor.

Ikan papuyu dapat diberi pakan

tambahan berupa sisa-sisa dapur atau ikan rucah yang dipotong kecil-kecil
sesuai ukuran mulut ikan.
Dalam pembesaran ikan papuyu di kolam, karamba maupun jaring
tancap sebaiknya dilakukan seleksi setelah masa pemeliharaan sekitar 2
bulan dan dua bulan berikutnya hingga panen. Ikan-ikan yang berukuran lebih

sehingga perlu dibiasakan sejak masih benih.


Kecepatan pertumbuhan ikan sangat tergantung kepada jumlah
makanan yang diberikan, ruang, suhu, kedalaman air, kandungan oksigen
dalam air, dan parameter kualitas air lainnya. Makanan yang didapat oleh ikan

besar dipindahkan ke wadah pemeliharaan lain agar ikan-ikan yang masih


kecil tidak kalah dalam persaingan makanan. Dengan cara ini akan diperoleh
hasil panen ikan dengan ukuran lebih besar dan seragam.

terutama di manfaatkan untuk pergerakan, memulihkan organ tubuh yang


rusak, setelah itu kelebihan makanan yang didapatkan digunakan untuk
pertumbuhan. Pertumbuhan ikan Papuyu di alam dapat mencapai ukuran
>200 gram per ekor dalam 1 tahun, sedangkan pertumbuhan dalam
lingkungan budidaya (kolam, fishpen dan jaring tancap) mencapai kisaran 70 100 gram per ekor selama 1 tahun
Ikan papuyu yang dipelihara di kolam maupun karamba dan jarring
tancap diberi pakan tambahan berupa pelet sebanyak 3 5% bobot
biomassanya dengan frekwensi pemberian 2-3 kali/hari (pagi, siang dan sore
hari).
Ikan papuyu yang dipelihara di kolam selama 5 - 6 bulan dengan
padat penebaran 50 ekor/m dan diberi pakan pellet sebanyak 5%/hari dapat
mencapai ukuran 70 85 gram/ekor atau 12 15 ekor/kg dengan tingkat
kelangsungan hidup 80%.
Ikan papuyu yang dipelihara dalami jaring tancap dan diberi pakan
tambahan berupa pelet sebanyak 5% dari bobot biomassanya dengan
frekwensi pemberian 4 kali/hari dan dipelihara

selama 6 bulan dapat


25

26

V. PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT

Panen ikan papuyu dapat dilakukan secara selektif maupun

Hama adalah organisme yang dapat menimbulkan ganguan pada

panen total. Panen selektif ikan yang dipelihara di kolam berpengaira teknis

ikan budidaya secara langsung maupun tidak langsung. Untuk menanggulangi

dilakukan dengan pengeringan kolam dan

ikan-ikan yang telah mencapai

serangan hama lebih ditekankan pada system pengendalian hama terpadu,

ukuran konsumsi ditangkap, sedangkan ikan-ikan yang berrukuran lebih kecil

yaitu pemberantasan hama yang berhasil, tetapi tidak mengakibatkan

dipelihara kembali. Apabila ukuran ikan yang dipanen secara keseluruhan

kerusakan ekosistem. Apabila masih ada cara pengendalian yang ramah

telah mencapai ukuran konsumsi sebaiknya dilakukan panen total.

lingkungan, maka tidak perlu menggunakan obat-obatan (pestisida anorganik).

Panen ikan papuyu yang dipelihara di kolam yang pengairannya sulit

Penanggulangan hama secara mekanis dapat dilakukan pada saat persiapan

atau tidak dapat dikeringkan seperti kolam rawa, maka panen dapat dilakukan

kolam. Tindakan pencegahan seperti persiapan kolam dengan perlakuan

dengan menggunakan alat batu jarring yang ditarik dari salah satu sisi kolam

pengeringan tanah dasar kolam yang sempurna, pengolahan tanah yang baik,

ke sisi lainnya sehingga ruang gerak ikan semakin sempit. Selanjutnya ikan

pengapuran, perbaikan pematang, dan pemasangan saringan alr di pintu air.

ditangkap dengan serok dan yang telah mencapai ukuran konsumsi

Cara ini merupakan tindakan pencegahan (preventif) yang lebih


menguntungkan karena tidak menimbulkan dampak buruk pada lingkungan,

ditampung dalam wadah tersendiri sedangkan yang masiih kecil dilepas untuk
dipelihara kembali.

mudah dan murah pelaksanaannya dan memberikan pengaruh yang cukup

Cara panen ikan papuyu yang dipelihara di karamba adalah dengan

lama. Ikan pemeliharaan yang terluka akibat terserang pemangsa akan

mengunakan serok ikan-ikan ditangkap kemudian yang berukuran konsumsi

mudah stres, dan bagian yang memar atau terluka merupakan media yang

dimasukan dalam wadah tertentu dan yang masih kecil dipelihara kembali

berpotensil terjadinya serangan penyakit infeksi.

Panen ikan papuyu agar dilakukan dengan hati-hati guna menjaga kualitas

Penyakit ikan pada prinsifnya menyerang ikan budidaya tidak datang

ikan yang dipasarkan.

begitu saja, melainkan melalui proses hubungan antara tiga faktor, yaitu
kondisi lingkungan (kondisi air dalam kolam), kondisi inang (ikan peliharaan),
dan adanya jasad pathogen (jasad penyakit). Timbulnya serangan penyakit
merupakan hasil interaksi yang tidak serasi antara lingkungan, ikan, dan
jasad/ organisme penyakit. Interaksi yang tidak serasi ini menyebabkan stress
pada ikan, sehingga mekanisme pertahanan diri yang dimilikinya ikan menjadi
lemah dan akhirnya mudah diserang penyakit.

V. PENEN

27

VI. ANALISA USAHA

28

A. Analisa Usaha Pembenihan Ikan Papuyu


Perhitungan analisa usaha pembenihan ikan papuyu ini diharapkan
dapat membantu pelaku utama dan pelaku usaha untuk membuat
rencana usaha sekaligus mendorong tumbuh dan berkembangnya
budidaya ikan papuyu di Kalimantan Selatan Khususnya.
1. Biaya Investasi

Bunga investasi 18%/tahun

Rp.

1.701.360,-

Sewa kolam luas 200 m2


4 buah @ Rp.750.000,-

Rp.

3.000.000,-

Tenaga kerja,
2 org x 12 bln x Rp.1.500.000

Rp.

36.000.000,-

Penyusutan Peralatan 10%/tahun

Rp.

945.200,-

Jumlah (a) Rp.

41.646.560,-

Akuarium (60x40x45 cm)


20 buah @ Rp. 250.000,-

Rp.

Alat suntik, 2 buah @ Rp. 3500,-

Rp.

Serok kecil, 2 buah @ Rp. 7.500,-

Rp.

15.000,-

Ovaprim 1 botol

Rp.

250.000,-

Serok besar, 2 buah @ Rp. 20.000,-

Rp.

30.000,-

Artemia 3 kaleng @ Rp.300.000,-

Rp.

900.000,-

Baskom plastic, 2 buah @ Rp. 100.000,-

Rp.

200.000,-

Pupuk kandang 360 kg @ Rp.500,-

Rp.

180.000,-

Termometer 1 buah

Rp.

150.000,-

pH meter, 1 buah

Rp.

750.000,-

Kapur 180 kg @ Rp.500,-

Rp.

90.000,-

Blower, 1 buah

Rp.

750.000,-

Pakan (pelet), 600 kg x Rp. 9.000,-

Rp.

540.000,-

Infilter 1 buah

Rp.

500.000,-

Lain-lain

Rp.

. 300.000,-

Aki

Rp.

450.000,-

Jumlah (b) Rp.

2.260.000,-

5.000.000,.

7.000,-

b. Biaya Variabel (biaya tidak tetap)

Jumlah Biaya Operasional (a + b) Rp. 43.906.560,-

Induk ikan papuyu betina, 3 kg


@ Rp. 100.000

Rp,

300.000,-

Induk ikan papuyu jantan 6 Kkg @


Rp.100.000,-

RP.

600.000,-

Lain-lain

Rp.

500.000,-

Jumlah Rp.

9.452.000,-

3. Rugi-Laba = Pendapatan Biaya operasional


Pendapatan setahun (4 siklus)
- Peroduksi benih ukuran 5 8 cm dalam 1 siklus =
30 ekor induk betina x15.000 larva = 450.000 ekor larva
- Mortalitas benih hingga ukuran 5-8 cm sebanyak 80% = 80% x
450.000 ekor larva = 360.000 ekor larva

2. Biaya Operasional
a. Biaya Tetap

29

- Produksi benih/siklus = 450.000 ekor 360.000 ekor


= 90.000 ekor

30

-Total Produksi benih setahun (4 siklus) = 4 x 90.000 ekor


= 320.000 ekor
-Total Pendapatan setahun (harga jual benih Rp.200,-/ekor)
= 320.000 ekor x Rp.200,- = Rp. 64.000.000, Keuntungan bersih dalam setahun =
Rp.64.000.000,- - Rp.43.906.560,- = Rp.20.093.440,4. B/C Ratio,

6. PBP (Pay Back Period) adalah suatu indikator yang dinyatakan dalam
ukuran waktu yaitu berapa lama waktu yang diperlukan untuk
mengembalikan modal investasi yang dikeluarkan. Semakin cepat
dalam pengembalian biaya investasi, semakin baik kegiatan usaha yang
dikakukan karena semakin lancar dalam perputaran modal.
PBP= Investasi : (Keuntungan + Penyusutan) x 1 tahun
=Rp. 9.452.000,- : (Rp.20.093.440,- + Rp.945.200,-) x 1 tahun

B/C Ratio merupakan alat analisa untuk mengukur tingkat keuntungan

= 9.452.000 : 21.038.640

teknologi baru di dalam proses produksi usaha pembenihan ikan.

= 0,5 tahun

B/C ratio = Total Pendapatan : Total Biaya Operasional


= Rp.64.000.000,- : Rp. 43.906.560,= 1,46
Analisa B/C ratio lebih besar dari 1 (satu) berarti usaha yang
dilaksanakan layak untuk dikerjakan. Jika nilai B/C ratio yang diperoleh
sama dengan 1 (satu), berarti titik impas (cash in flows sama dengan
cash out flows), maka diperlukan pembenahan. dan jika lebih kecil dari 1

= 6 bulan.
Artinya modal investasi usaha yang digunakan akan kembali dalam
jangka waktu 6 bulan.

Dalam perhitungan ini mortalitas sejak larva

hingga mencapai benih ukuran 5 - 8 cm cukup tinggi, dan dengan


sentuhan teknologi yang lebih baik tingkat mortalitas dapat ditekan
serendah mungkin.

(satu) berarti tidak layak untuk dikerjakan.


5. Break Even Point (BEP)
BEP (Produksi) = Total Biaya Operasional : Harga Penjualan
= Rp. 43.906.560,- : Rp. 200,- = 219.533 ekor
BEP (Harga)

= Total Biaya Operasional : Total Produksi


= Rp. 43.906.560,- : 320.000 = Rp.137,-

Jadi usaha pembenihan ikan papuyu akan mengalami titik impas (BEP)
31
pada saat menghasilkan benih sebanyak 219.533 ekor dengan harga
jual Rp.137,-/ekor.

B. Analisa Usaha Pembesaran Ikan Papuyu


Perhitungan

analisa

usaha

ini

dimaksudkan

32
untuk

memberikan

gambaran peluang usaha pembesaran ikan papuyu yang masih terbuka luas

dan mempunyai prospek cukup baik apabila dilakukan dengan sungguhsungguh dan dalam skala yang lebih besar.
1.

Biaya Investasi

Sewa kolam luas 200 m2


4 buah @ Rp.750.000,-

Rp.

3.000.000,-

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

36.000.000,-

Pakan (pelet) 2.400 kg x Rp.9.000

Rp.

21.600.000,-

Obat-obatan

Rp.

250.000,-

Lain-lain

Rp.

300.000,-

Jumlah (b) = Rp.

38.450.000,-

Biaya Operasional (Jumlah a + Jumlah b) =

Tenaga kerja,
2 org x 12 bln x Rp.1.500.000
Peraltan
- Serok 2 buah x Rp. 10.000,- Baskom plastik 2 bh x Rp.75.000,- Ember plastik 2 buah x Rp.25.000,
- Lain-lain

20.000,150.000,50.000,250.000,-

Jumlah Rp.

470.000,-

Total Investari Rp.

39.470.000,-

Rp.

40.228.500,-

3. Rugi-Laba = Total Pendapatan Biaya operasional


Total Pendapatan setahun
Peroduksi ikan 1 siklus, padat tebar 40.000 ekor, mortalitas 20%, dan
panen ukuran 20 ekor/kg
- Mortalitas 20% = 20% x 40.000 ekor = 8.000 ekor
- Produksi ikan

= 40.000 ekor 8.000 ekor = 32.000 ekor

- Panen ikan ukuran 20 ekor/kg = 32.000 ekor : 20 = 1.600 kg

2. Biaya Operasional/siklus

- Produksi ikan setahun = 1.600 kg x 2 siklus = 3.200 kg

a. Biaya Tetap

- Harga jual ikan Rp.35.000/kg = 3.200 kg x Rp.35.000,-

Bunga Investasi 18%/tahun = 9%/siklus


= 9% x Rp.39.470.000, -

Penyusutan peralatan 10%/tahun 5%/siklus =


5% x Rp 470.000
Jumlah (a) =

Rp.

. 1.776.150,-

Rp.

2.350,-

Rp.

1.778.500,-

= Rp. Rp.112.000.000

Keuntungan bersih setahun =


Total pendapatan - Biaya operasional setahun
= (Rp 112.000.000,- - Rp. 80.457.000,-) x 2 siklus
= Rp.31.543.000,-

4.

B/C Ratio.
B/C Ratio merupakan alat analisa

b. Biaya Variabel (Biaya Tidak Tetap


Benih ikan papuyu ukuran 3-5 cm
40.000 ekor x Rp.300,-

Rp.

Pupuk kandang 400 kg x Rp.500

Rp.

200.000,-

Kapur 200 Kg x Rp.500,-

Rp.

100.000,-

33
12.000.000,-

34
untuk mengukur tingkat

keuntungan dalam proses produksi.


B/C ratio = Total Pendapatan : Biaya Operasional
= Rp.112.000.000,- : Rp.80.457.000,- = 1,39

Analisa B/C ratio lebih besar dari 1 (satu) berarti usaha yang
dilaksanakan

Dalam perhitungan analisa usaha diatas ukuran benih yang ditebar 3

layak untuk dikerjakan. Jika nilai B/C ratio yang

- 5 cm dengan harga Rp.300,-/ekor, mortalitas benih 20%, produksi ikan

diperoleh sama dengan 1 (satu), berarti titik impas (cash in flows

20 ekor/kg dengan harga jual Rp.35.000/kg. Apabila penjualah hasil

sama dengan cash out flows), maka diperlukan pembenahan. dan

produksi ikan dibedakan menurut ukuran ikan maka pendapatan akan

jika lebih kecil dari 1 (satu) berarti tidak layak untuk dikerjakan

lebih besar,

5. Break Even Point (BEP)

Pengalaman pembudidaya ikan, hasil panen dalam

pembesaran ikan papuyu 20% dapat mencapai ukuran 10 - 15 ekor/kg

BEP (Produksi) = Biaya Operasional : Harga Penjualan

dengan harga jual mencapai Rp.50.000,- Rp.70.000,-/kg.

= Rp.40.228.500,- : Rp. 35.000,= 1.149,39 kg


BEP (Harga)

..

= Biaya Operasional : Total Produksi


= Rp. 40.228.500,- : 1.600
= Rp.25.142,81,-

Jadi. pembesaran ikan papuyu akan mengalami titik impas (BEP) pada
saat produksi yang dicapai sebanyak

1.149,39 kg dengan harga

Rp.25.142,81,6. Pay Back Period (PBP) adalah suatu indikator yang dinyatakan dalam
ukuran waktu yaitu berapa lama waktu yang diperlukan untuk
mengembalikan modal investasi yang dikeluarkan. Semakin cepat
dalam pengembalian biaya investasi, semakin baik usaha yang
35
dikakukan karena semakin lancar dalam perputaran modal.
PBP = Investasi : (Keuntungan + Penyusutan x 1 tahun)
= Rp.39.470.000:(Rp.31.543.000+Rp.940.000) x 1 th.

VII. PENUTUP

36

Pengembangan budidaya ikan betok/papuyu sebagai ikan spesifik


lokal merupakan rencana strategi pengembangan perikanan budidaya di
Provinsi Kalimantan Selatan.

Budidaya ikan asli lokal tidak hanya

melestarikan keragaman hayati, tetapi juga dapat mendatangkan keuntungan


= Rp.39.470.000 : Rp.32.483.000 x 1 th = 1,23 th.
Artinya modal investasi usaha yang digunakan akan kembali dalam
jangka waktu 1,23 tahun atau 14,8 bulan.

ekonomi yang cukup menkankikan.

Budidaya ikan papuyu sebaiknya dilakukan di kolam tanah/kolam


semen, fishpen dan keramba tancap, karena wadah pemeliharaan ini
dasar perairannya mwnyerupai habitat aslinya yaitu tanah/lumpur yang
patut diduga memberikan andil ketersediaan pakan alami. Penggunaan
wadah lain untuk pembesaran ikan papuyu dapat dilakukan, dan perlu
terus dikaji dan dikembangka melalui rekayasa teknologi sehingga mampu
berproduksi semaksimal mungkin.

Anonim. 2011. Manajemen Pembenihan Ikan Papuyu.


http://rakhmathadisaputra.blogspot.com/2011/12/manajemenpembenihan-ikan papuyu.html. Diakses Jum'at, 23 Oktober
2015
Anonim. 2012. Cara Budidaya Ikan Papuyu.
http://arisandifarm.blogspot.com/2012/09/cara-budidaya-ikanpepuyu.html. Diakses Senin, 26 Oktober 2015

Anonim 2013.

Betok.. http://akumasihwaras.blogspot.co.id/2013/01/pengaruh-

Induk papuyu yang akan dipijahkanan sebaiknya induk-induk yang


telah didomestikan, sehingga sudah terbiasa hidup dalam lingkungan
budidaya dan terbiasa makan pakan tambahan berupa pelet.
Dalam pembesaran papuyu dianjurkan untuk menggunakan benih
yang berasal dari Balai Benih ikan atau Uniit Pembenihan Rakyat, dimana
benih sudah sudah dapat makan pellet,
Pembesaran ikan papuyu akan lebih cepat apabila benih yang

jenis-makanan-terhadap.html
Anonim 2014. Budidaya Ikan Betok.
http://gemawirausaha.blogspot.co.id/2014/02/budidaya-ikanbetok.html Diakses Kamis, 22 Oktober 2015
Balai Budidaya Air Tawar Mandiangin. 2012. Teknologi Pembesaran
Ikan (Papuyu (terapan). Direktorat Jenderal Perikanan
Budidaya, Departemen Kelautan dan Perikanan. Diakses
Selasa, 27 Oktober 2015.
M. GUFRON H. KURDI. Panduan Lengkap Memelihara Ikan Air Tawar
di Kolam Terpal. http://books.google.co.id/books?
id=_dQttofAvDkC&pg=PA59&hl=id&source=gbs_toc_r&cad=4#
v=onepage&q&f=false. Diakses Selasa, 27 Oktober 2015

ditebar berukuran 5 8 cm, dan dilakukan seleksi secara berkala.

.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim Budidaya Ikan Papuyu (Anabas testudneus)
http://www.uftwo.com/index.php?
option=com_content&view=article&id=147:budidaya-ikanpapuyu-anabas testudneus&catid=27:perikanan&Itemid=53.
Diakses Kamis, 22 Oktober 2015

Pengaruh Jenis Makanan Terhadap Pertumbuhan Ikan

37