Anda di halaman 1dari 3

yaitu; pengelolaan dan seleksi induk, pemijahan,

penetasan, perawatan larva, dan pendederan.


I.

PENDAHULUAN

Ikan baung (Mystus nemurus C.V)


mempunyai bentuk tubuh panjang, licin dan tidak
bersisik kepalanya kasar dan depres dengan tiga
pasang sungut di sekeliling mulut dan sepasang
dilubang pernapasan. Panjang sungut rahang atas
hampir mencapai sirip dubur. Pada sirip dada dan
sirip punggung, masing-masing terdapat duri patil.
Ikan baung mempunyai sirip lemak di belakang sirip
punggung yang kira-kira sama dengan sirip dubur.
Sirip ekor berpinggiran tegak dan ujung ekor bagian
atas memanjang menyerupai sungut. Tubuhnya
berwarna abu-abu kehitaman, pungggung lebih
gelap dan perut lebih cerah serta panjang tubuhnya
dapat mencapai 50 cm.
Ikan baung di alam memijah selama musim
penghujan yaitu saat permukaan air tinggi dan
menggenangi daerah disekitarnya. Induk baung
dengan ukuran berat 750 1.600 gram/ekor
mengandung telur sebanyak 34.000 87.000 butir
Telur ikan baung berwarna coklat muda sampai
coklat tua dan mempunyai zat perekat sehingga
telur tersebut akan menempel pada benda di
dekatnya. Telur akan menetas dalam waktu 30 36
jam sejak pembuahan pada suhu air sekitar 25
28C.
Ikan baung melakukan pembuahan diluar
tubuh (external spawning). Telur ikan baung yang
telah dibuahi oleh sperma akan bewarna jernih dan
yang tidak dibuahi akan bewarna putih keruh karena
kuning telur pecah dan menutupi ruang perivitellin
dan akhirnya telur tersebut akan mati. Kematian
telur atau embrio selain disebabkan tidak terbuahi
juga karena adanya serangan jamur, bakteri, atau
kondisi lingkungan yang tidak memungkinkan
berkembangnya telur. Telur yang mati akan
ditumbuhi jamur yang dapat membahayakan telurtelur yang masih hidup
Untuk
menunjang keberhasilan usaha
budidaya ikan baung, salah satu faktor yang
menentukan adalah ketersediaan benih ikan yang
memenuhi syarat baik kualitas, kuantitas maupun
kontiniutasnya. Oleh karena itu keberhasilan usaha
pembenihan ikan merupakan faktor penentu usaha
pengembangan budidaya ikan baung. Pengelolaan
usaha pembenihan ikan meliputi beberapa kegiatan

II.

PENGELOLAAN DAN SELEKSI


INDUK

A. Pengelolaan Induk
Calon induk ikan baung mempunyai berat
antara 200750 gr/ekor. Induk ikan baung jantan
dan betina dipelihara dalam satu kolam induk
yang berukuran 500 m dengan air yang stabil.
Pematangan
gonad
dilakukan
dengan
pemberian pakan komersial (pelet) sebanyak
4%/hari dari berat biomasnya yang diberikan 3
kali sehari
B. Seleksi Induk
Ciri-ciri induk baung jantan dan betina
adalah sebagai berikut :
a.

Induk betina
Ukuran perut membesar dan lembek
Bentuk badan agak lebar dan pendek
Disekitar
lubang
genitalnya
agak
kemerahan
Apabila dilakukan pengurutan di bagian
perut. telur akan keluar berbentuk bulat
penuh, berwarna kecoklatan (telur yang
bagus inti telur sudah menepi dan tidak
menggumpal jika diberi larutan sera)

b. Induk Jantan
Bentuk badan panjang dan ramping
Ujung genital papilanya (penis) berwarna
merah
Panjang
genital
papilanya
sampai
kepangkal sirip anal
Cairan sperma berwarna bening agak
kental
Induk baung yang matang gonad dari
kolam induk
dipindakan (diberok) di kolam
pemberokan atau akuarium. Hal ini dilakukan
dengan tujuan untuk mengurangi kandungan
lemak yang ada pada tubuh induk ikan.
Kandungan lemak di dalam tubuh induk ikan
yang berlebihan dapat mengganggu proses
keluarnya telur pada saat pengurutan (striping).
III.

PEMIJAHAN

Pemijahan dilakukan secara buatan dengan


menggunakan rasangan hormon ovaprim sebanyak
0,50,7 ml/kg dari bobot ikan. Penyuntikan hormon
dilakukan dua kali dengan selang waktu 812 jam.
Penyutikan hormon pertama dilakukan sebanyak
bagian dan sisanya untuk penyuntikan kedua.
Setelah penyutikan, induk betina dan jantan
dipelihara dalam kolam/akuarium inkubasi hingga
saat striping. Enam jam setelah penyuntikan ke dua
induk jantan dibedah untuk diambil kantong
spermanya. Cairan sperma ditampung dalam gelas
yang sudah diisi NaCl 0,9% sebanyak 1/2
bagiannya. Aduk hingga rata. Bila terlalu pekat,
tambahkan NaCl sampai larutan berwarna putih
susu agak encer. Ambil induk betina dan urut
bagian perut ke arah lubang kelamin sampai
telurnya keluar. Telur ditampung dalam nampan
atau mangkuk platik/porselen yang bersih dan
kering. Masukan larutan sperma sedikit demi sedikit
dan aduk sampai merata. Agar terjadi pembuahan
tambahkan air bersih dan aduklah sampai merata
sehingga pembuahan dapat berlangsung dengan
baik. Untuk mencuci telur dari darah dan kotoran
lainnya, tambahkan lagi air bersih kemudian
dibuang. Lakukan pembilasan 23 kali agar bersih.
Telur yang sudah bersih dimasukkan kedalam
kolam/akuarium penetesan yang sudah diisi air.

IV.
PENETASAN TELUR
Telur yang telah dicampur sperma ditetaskan
dalam akuarium berukuran 80x60x40 cm yang
telah dilengkapi dengan aerasi dan bila ada
dapat dilengkapi pemanas (water heater
thermostat).
Masukkan telur dengan cara diambil memakai
bulu ayam, lalu sebarkan ke seluruh
permukaan akuarium sampai merata.
Dalam waktu 2436 jam telur akan menetes
dan larva yang dihasilkan dapat dipindahkan ke
dalam akuarium pemeliharaan larva.
Penetasan, telur yang telah terbuahi akan
mengalami perkembangan embryogenesis,
pada suhu 2731C, pH 6,57,5, dan telur
menetas dalam waktu 24 jam.

pemupukan dengan pupuk organic sebanyak


500100 gram/m.

V. PEMELIHARAAN LARVA
5 7 jam setelah telur menetas air akuarium
diganti.
Larva berumur 3 hari diberi pakan tambahan
berupa nauplius artemia sebanyak 4 kali/6 jam.
Selanjutnya hingga hari ke 10 larva diberi pakan
berupa cacing tubifek dengan frekwensi
pemberian pakan 3 kali/hari yaitu pada pagi,
siang, dan sore hari..
Larva baung mempunyai kebiasaan menyebar
pada malam hari dan hidup berkelompok serta
membentuk gumpalan terutama pada siang hari,
sehingga dapat menyebabkan kematian larva
yang berada di bagian dalam gumpalan karena
kekurangan oksigen. Oleh karena itu kepadatan
larva sebanyak 1.000 ekor/akuarium dan
sistem aerasi harus selalu diperhatikan agar
kandungan oksigen terlarut di dalam air tetap
tinggi.

Pemasangan shelter berupa pelepah daun


kelapa yang diletakan dibagian tengah kolam.
Kolam di air secara perlahan-lahan dan dibiarkan
selama 3 5 hari agar tumbuh makanan alami.
Lakukan penebaran benih dengan kepadatan
100 ekor/m
7 hari setelah penebaran, benih tidak perlu diberi
pakan.
Pada hari ke 8 benih mulai diberi pakan
sebanyak 10% dari bobot biomasnya dengan
prekuensi pemberian 2 kali/hari.
Pendederan dilakukan selama 30 hari, dan benih
ikan dapat dipanen dengan ukuran 35 cm/ekor.
Panen sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore
hari dan selajutnya benih dibesatkan di kolam,
karamba atau wadah pemeliharaan ikan lainnya/

Untuk meminimalisir penurunan kualitas air


lakukan penyiponan setiap hari. Larva dipelihara
dalam akuarium selama 15 hari dan benih dapat
dipanen dengan ukuran 1,5 2 cm..

DAFTAR PUSTAKA
Adi Sucipto, 2014. Budidaya Ikan Baung.
http://www.adisucipto.com/2014/07/budidayaikan-baung/. Diakses 4 Juni 2015.
VI.

PENDEDERAN

Sebagai langkah awal pendederan I adalah


pengolahan tanah dan pemupukan. dasar kolam.
Cangkul balik tanah dasar kolam dan lakukan
pengapuran sebanyak 250 gram/m dan.

Anonim.. Proses Pembenihan Ikan Baung.

http://1001budidaya.com/pembenihan-ikanbaung/. Diakses 5 Juni 2015.

Anonim. Budidaya Ikan Baung

http://canduraxsfish.webs.com/budidayaik
anbaung.htm. Diakses 6 Juni 2015.
Anonim. 2013. Budidaya Ikan Baung

https://dejeefish2.wordpress.com/2013/04/01/
budidaya-ikan-baung/. Diakses 7 Juni 2015.