Anda di halaman 1dari 11

Tujuan pokok keperawatan adalah memberikan perawatan yang berkualitas.

Model
yang digunakan untuk mengukur kualitas perawatan yang dilakukan sebelum, selama,
dan setelah operasi adalah standar praktik keperawatan perioperatif, yang juga
berdasarkan pada proses keperawatan. Standar ini memerlukan hal-hal berikut : Pengkajian yang sistematis yang dapat digunakan kembali dan dikomunikasikan
kepada orang lain. - Analisis pengkajian dengan kesimpulan tertulis sebagai sebuah
diagnosa keperawatan - Tujuan yang berorientasi pada pasien yang menggambarkan
hasil yang diharapkan dari rencana keperawatan. - Rencana asuhan keperawatan yang
ditulis dan menguraikan tindakan keperawatan atau tindakan tindakan yang akan
membantu pasien mencapai tujuan. - Implementasi dari rencana yang telah ditetapkan Evaluasi yang sistematis dari perencanaan untuk menentukan apakah hasil yang
diharapkan telah tercapai. Menggunakan proses keerawatan Bila proses keperawatan
digunakan pada lingkungan perawatan pasien perioperatif di dalam kamar operasi, atau
ruangan bedah ambulasi, atau unit unit bedah hal itu menunjukkan pikiran dan
tindakan yang dilakukan perawat dalam merawat pasien yang menjalani operasi atau
prosedur invasif lainnya. Perawat perioperatif, mengembangkan rencana keperawatan,
mengimplementasikan rencana pada fase intraoperatif, dan mengevaluasi efek
intervensi yang telah direncanakan pada fase postoperatif. Perhatikan contoh berikut
ini. Seorang pasin masuk kamar operasi dan melaporkan ia tak bisa meluruskan lutut
kirinya karena penyakit artritis. Pengkajian visual yang dilakukan oleh perawat
menegaskan bahwa pasien hanya dapat mengekstensikan lututnya 60 derajat dan
perawat menyimpulkan(diagnosa) bahwa lutut akan menjadi subjek cedera kecuali
tindakan pencegahan dilakukan. Perawat membuat diagnosa, resiko tinggi cedera
selama dalam posisi operasi berhubungan dengan artritis lutut kiri. Perawat dan pasien
kemuadian merencanakan posisi yang nyaman untuk lutut sebelum diberikan anastesi
umum. Tujuannya adalah untuk mencegah cerdera fisik pada lutut yang sakit. Perawat
mengimplementasikan intervensi yang telah direncanakan untuk menjaga dan
melindungi lutut dan mencegah cedera sebelum prosedur dilakukan. Pada fase
postoperatif, diruang pemulihan pasien berespons negatif terhadap peerikasaan nyeri
pada kaki selama evaluaso tujuan untuk mencegah cedera tambahan pada lutut kiri.
Intervensi keperawatan tersebut berhasil dan perawat perioperatif mendemonstrasikan

penerapan proses keperawatan intraoperatif. Contoh tindakan keperawatan independen


ini juga mengilustrasikan bagaimana definisi keperawatan definisi keperawatan
berpengaruh pada fase intraoperatif. Respons potensial pasien terhadap cedera lutut
(utut kiri yang nyeri) telah didiagnosa dan tindakan untuk mencegah cedera telah di
implementasikan. Pasien telah dirawat secara hati hati, berdasarkan intelektual, dan
secara sistematis oleh perawat perioperatif. Pengkajian Pembagian proses
keperawatan menjadi fase fase adalah pemisahan artifisial tindakan yang dalam
praktik sebenarnya tidak dapat dipisahkan. Pemisahan akan mendorong analisis dari
setiap bagian yang lebih mendalam dan memungkinkan pemahaman yang lebih besar
tentang praktik keperawatan. Pengkajian, fase pertama proses keperawatan, dibagi
menjadi 2 bagian, pengumpulan dan pengorganisasian data. Pengumpulan data,
pengumpulan data adalah alat utama dalam pengkajian awal pasien dan merupakan
proses yang kontinu untuk memperoleh informasi yang diperlukan untuk memberikan
asihan keperawatan. Informasi berubah karena data bertambah dan karena perubahan
kondisi pasien. Informasi tentang masalah masalah aktual atau potensial dapat
datang secara langsung dari pasien, anggota keluarga atau teman, rekam medik, atau
dari tenaga kesehatan lain. Data dipertimbangkan baik data subjektif (apa yang
dinyatakan oleh pasien) atau data objektif (apa yang dilihat, didengar, dicium, atau
disentuh oleh perawat). Data dapat diperoleh dengan wawancara, pemeriksaan fisik,
atau, atau dengan membaca laporan(dalam hal ini, hasil laboratorium, foto rontgen,
catatan perkembangan, atau konsultasi). Banyak sumber tersedia untuk pengumpulan
data. Umumnya, pengkajian keperawatan yang komprehensif diperoleh dengan lengkap
saat pasien pertama kali memasuki fasilitas perawatan kesehatan. Riwayat
keperawatan merupaan alat utama asuhan keperawatan individu. Pengkajian awal yang
mendalam ini mencatat informasi psikososial yang penting dalam perencanaan
perawatan, riwayat sebelumnya, alasan untuk dirawat, deskripsi aktivitas hidup sehari
hari, kesukaan pasien, dan pemeriksaan dari kepala ke ujung kaki yang lengkap. Factor
factor yang mempengaruhi penyesuaian kondisi psikososioekonomi pasien terhadapa
sakit, dan juga persepsi dan harapan pasien, juga ditambahkan untuk pengkajian yang
konprehensif. Bila pengkajian konprehensif telah dicatat dalam rekam medic yang
permanen, pengkajian yang terus menerus oleh registered nurse (RN) dimulai.

Pengkajian khusus berpusat pada informasi yang diperlukan untuk memberikan


perawatan yang aman sebelum prosedur atau tindakan khusus. Jadi pengkajian oleh
perawat perioperatif diarahkan pada data data yang diperlukan untuk memberikan
perawatan bedah yang aman. Wawancara sebelum pembedahan untuk mengumpulkan
informasi subjektif dapat melalui pertanyaan pertanyaan berikut, seperti disarankan
oleh Klenbeck (1978): Menurut anda apa yang akan dilakukan dokter bedah hari ini?
Pernahkah anda dioperasi sebelumnya? Apakah yang anda lakukan untuk
mempersiapkan operasi anda? Kapan anda terakhir makan? Kapan anda terakhir
minum obat? Apakah anda mempunyai masalah yang harus kami ketahui? Siapakah
yang akan memnemani anda setelah operasi?(katakan pada mereka dimana harus
menunggu) Adakah sesuatu yang anda khawatirkan saat ini? Jawaban terhadap
pertanyaan pertanyaan ini menggambarkan pemahaman pasien tentang peristiwa
operasi, riwayat operasi yang lalu, apakah pasien disiapkan secara tepat untuk operasi,
masalah - masalah yang potensial terjadi, atau kekhawatiran lainnya. Data objektif
dikumpulkan pada fase preoperative oleh perawat dari berbagai sumber, seperti
pemeriksaan fisik pasien dan data dari rekam medic. Data tersebut meliputi hal hal
sebagai berikut : - Penampilan fisik : berat badan, tinggi badan, tanda tanda vital
dasar, tingkat aktivitas. - Gangguan fisik : pendengaran, penglihatan, bicara,
kemampuan motorik, masalah masalah neurosensori, nyeri, keterbatasan posisi
tulang, drainase, disfungsi usus dan kandung kemih. - Kondisi kulit : utuh, pecah
pecah, jaringan parut, kering, lembab, ruam, pucat, kemerahan, memar, ikterik, edema,
ulkus. - Status mental emosional : tingkat kesadaran, respons terhadap panggilan,
tangisan, tremor, kemarahan, banyak bicara, tenang, sedih, gelisah. - Alat alat
terapeutik dan pengukuran yang digunakan : oksigen, transfuse, drain, trakeostomi,
kateter, selang nasogastrik, gips, traksi, kolostomi, laringektomi sebelumnya, pacu
jantung. - Nilai laboratorium : pada kertas, nilai nilai abnormal yang signifikan
diperhatikan. - Legal etik : surat ijin tindakan telah ditanda tangani ? darah tersedia?
Pengkajian kembali pada fase postoperative adalah contoh lain dari pengkajian yang
khusus. Focus pengkajian ini adalah untuk mengevaluasi status fisik pasien seteah
menerima intervensi keperawatan selama operasi. Pengumpulan data sebelum
pengambilan keputusan adalah penting. Bila telah terkumpul, informasi harus divalidasi.

Tindakan yang berdasarkan pada informasi yang tidak akurat adalah tidak aman dan
tidak professional. Organisasi data. Pengorganisasian dan pengolahan informasi
penting untuk membantu pengambilan keputusan yang efisien. Pengorganisasian data
memungkinkan perawat untuk mengintegrasikan pengetahuan tentang pasien dan
kondisi pasien dengan ilmu keperawatan. Karena perawat mengorganisasikan data,
data diinterpretasi, dianalisis, dan diperiksa dalam hubungannya untuk memastikan
apakah asuhan keperawatan berhububgan dengan kebutuhan pasien. Dengan
mengubah dan menyortir data memungkinkan perawat untuk menentukan diagnose
keperawatan yang berhubungan dengan tanggung jawab keperawatan. Organisasi data
memberikan dan pengalaman jembatan antara pengetahuan keperawatan dan pasien.
Tinjauan informasi yang dikumpulkan melalui pengkajian memperlihatkan pola, atau
kelompok informasi yang dapat diatur kedalam pernyataan diagnose. Pertimbangan,
misalnya, observasi perawat bahwa penderita koleksistektomi dengan tinggi 180 cm
dan berat 135kg berbaring di bangku di ruang tunggu. Tinjauan catatannya
menunjukkan suhu pasien ini 37,4 derajat celcius hitung darah putihnya adalah
14.000/mm. empat informasi ini dapat diinterpretasikan untuk menunnjukkan obesitas,
nyeri akut, suhu tubuh agak tinggi, dan respons inflamasi. Bila dilihat secara terpisah,
fakta fakta ini tidak memerlukan perhatian keperawatan intraoperatif. Namun, bila
dikelompokkan bersama, data pengkajian menunjukkan pasien beresiko terhadap
infeksi atau kemungkinan terinfeksi. Diagnosa keperawatan potensial infeksi atau
infeksi actual memerlukan perencanaan dan tindakan perawat intraoperatif.
Kemampuan perawat perioperatif dalam memperkirakan kemungkinan masalah dari
kelompok fakta fakta ini didasarkan pada ilmu keperawatan, dan pengalaman,
kemampuan dalam menganalisis dan mensintesis informasi, dan pengetahuan tentang
proses penyakit infeksi. Bila perawat mengatur pola informasi pengkajian ke dalam
pernyataan masalah kesehatan yang ringkas, diagnosa keperawatan dihasilkan.
Standar Praktik Keperawatan Perioperatif Standar I Pengumpulan data tentang status
kesehatan pasien bersifat sistematik dan kontinu data dapat dilihat kembali dan
dikomunikasikan pada orang yang tepat. Pernyataan interpretif Tahap fundamental
proses keperawatan dimulai oleh perawat kamar operasi setelah pasien menyetujui
intervensi bedah. Pengumpulan data awal dapat dilakukan dalam berbagai situasi,

seperti kamar operasi, unit perawatan, atau di rumah atau di klinik. Pengumpulan data
dapat dilengkapi dengan cara yang berbeda, seperti wawancara, melihat rekam medic,
pengkajian, atau konsultasi diantara anggota tim perawatan kesehatan. Hal itu adalah
proses yang progresif dan rapi yang mempunyai kemampuan yang diperlukan untuk
mengumpulkan data yang berhubungan dengan intervensi bedah. Prioritas
pengumpulan data ditentukan oleh masalah perawatan kesehatan atau kebutuhan
pasien. Kriteria 1. Data kesehatan yang dikumpulkan berhubungan dengan intervensi
bedah yang direncanakan dan termasuk, tetapi tidak terbatas pada berikut ini : a.
diagnosis dan terapi medis saat ini. b. status fisik dan respons fisiologis c. status
psikososial pasien d. informs budaya dan spiritual e. pemahaman, persepsi, dan
harapan pasien terhadap prosedur bedah f. respons sebelumnya terhadap sakit,
dirawat dirumah sakit dan pembedahan g. hasil pemeriksaan diagnostic 2. Data
kesehatan dikumpulkan dengan berbagai metode 3. Data kesehatan dilaporkan dan
dicatat Standar II Diagnosa keperawatan berasal dari kata status kesehatan Pertanyaan
interpretif Diagnose keperawatan adalah penilaian perawat kamar operasi yang dibuat
berdasarkan analisis dan interperetasi data tentang masalah, kebutuhan dan status
kesehatan pasien. Diagnose keperawatan adalah pernyataan singkat tentang status
kesehatan dan masalah pasien yang dapat diatasi dengan intervensi keperawatan.
Kriteria 1. Devisiasi status kesehatan saat ini dan masalah yang diidentifikasi 2. Ilmu
pengetahuan saat ini mendukung diagnose keperawatan 3. Diagnose keperawatan
sejalan dengan diagnosis para professioanal kesehatan lainnya 4. Diagnose
keperawatan dicatat dan dikomunikasikan Standar III Rencana asuhan keperawatan
mencakup tujuan yang bersal dari diagnose keperawatan Pernyataan interpretif Tujuan
perawatan dan tujuan yang berasal diagnose keperawatan secara bersama sama
dirumuskan dengan individu, keluarga pasien, dan personil kesehatan lainnya. Tujuan
yang dibuat ini harus dapat dicapai melalui sumber daya manusia dan sumber material
yang tersedia. Tujuan mengarahkan tindakan keperawatan untuk memperbaiki,
mengubah, atau mempertahankan diagnose keperawatan. Area untuk perawat kamar
operasi yang dipertimbangkan bila merumuskan tujuan tujuan untuk individu menjalani
intervensi bedah harus termasuk, tetapi tidak terbatas, berikut ini: - Tidak ada infeksi Pemeliharaan integritas kulit - Tidak adanya efek merugikan karena penggunaan

tindakan aman yang berhubungan dengan perubahan posisi, objek asing, dan bahaya
fisik, kimiawi, dan listrik. - Pemeliharaan kesimbangan cairan dan elektrolit Pengetahuan pasien dan keluarga tentang respons fisik dan psikologis terhadap
intervensi bedah. - Partisipasi pasien dan keluarga dalam proses rehabilitasi Kriteria 1.
Tujuan dituliskan dengan jelas sebagai pernyataan hasil hasil 2. Kemampuan fisik dan
pola prilaku pasien saat ini harus selaras dengan hasil yang diharapkan 3. Kriteria yang
dapat diukur untuk menentukan pencapaian tujuan sebagai hasil dari tindakan
keperawatan termasuk dalam pernyataan tujuan 4. Tujuan diprioritaskan 5. Tujuan
dicatat dan dikomunikasikan dengan orang lain 6. Tujuan termasuk perkiraan waktu
untuk pencapaian Standar IV Rencana asuhan keperawatan menentukan tindakan
keperawatan untuk mencapai tujuan Pernyataan interpretif Tujuan asuhan keperawatan
menjadi pedoman untuk tindakan keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan. Prioritas untuk ketentuan asuhan keperawatan dibuat oleh
perawat kamar operasi dengan melekukan kolaborasi dengan keluarga pasien, dan
anggota tim perawatan kesehatan. Rencana perawatan mencerminkan pengkajian,
perioperatif, prioritas untuk untuk tindakan keperawatan, urutan yang logis dari aktivitas
keperawatan untuk mencapai tujuan. Rencana keperawatan dibuat dan
dikomunikasikan kepada pasien, keluarga, personil perawatan kesehatan. Rencana
perawatan mencerminkan pertimbangan hak dan keinginan pasien dan menentukan
aktivitas keperawatan yang dilakukan dalam letode perioperatif. Contoh aktivitas
keperawatan yang dilakukan termasuk, tetapi tidak terbatas, berikut ini: - Pemberian
informasi dan dukungan pendidikan perioperatif secara khusus yang berhubungan
dengan intervensi bedah dan asuhan keperawatan - Identifikasi pasien - Pemerikasaan
tempat operasi - Pemeriksaan ijin operasi dan prosedur dan laporan dari prosedur
diagnostic yang penting - Perubahan posisi sesuai dengan prinsip prinsip fisiologis Penerapan prinsip prinsip aseptic - Memastikan peralatan dan perlengkapan
berfungsi dengan baik - Memberikan tindakan kenyamanan dan perawatan dukungan
kepada individu - Pemantauan lingkungan dan keamanan - Pemantauan fisiologis dan
psikologis - Evaluasi hasil dalam hubungannya dengan aktivitas keperawatan yang
telah diidentifikasi - Mengkomunikasikan informasi intraoperatif kepada keluarga dan
aggota perawatan kesehatan Kriteria 1. Ilmu pengetahuan saat ini mendukung rencana

tersebut 2. Sumber daya manusia dan sumber material tersedia untuk


mengimplementasikan rencana tersebut 3. Rencana perawatan tertulis dan
dikomunikasikan kepada pasien, keluarga, dan anggota tim perawatan kesehatan 4.
Rencana keperawatan menguraikan hal berikut: a. Tindakan keperawatan yang
diperlukan untuk mencapai tujuan b. Prioritas tindakan keperawatan c. Urutan tindakan
keperawatan yang logis d. Bagaimana tindakan keperawatan dilakukan e. Kapan
tindakakn keperawatan dilakukan f. Siapa yang melakukan tindakan keperawatan
Standar V Rencana untuk asuhan keperawatan tersebut diimplementasikan Pernyataan
interpretif Tindakan keperawatan harus konsisten dengan rencana keperawatana dan
memberikan kentinuitas asuhan keperawatan dalam metode perioperatif, intraoperatif,
postoperatif. Tindakan keperawatan dilakukan dengan aman, terampil, efisien, dan
efektif. Prinsip prinsip ilmiah memberikan dasar untuk tindakan keperawatan. Semua
perawatan yang diberikan mencerminkan hak dan keinginan pasien dan keluarga.
Intervensi keperawatan dan hasil didokumentasikan dengan catatan tertulis yang
permanen, dengan laporan lisan atau tertulis kepada rumah sakit. Kriteria 1. Tindakan
keperawatan yang diuraikan dalam rencana keperawatan dilakukan dan
didokumentasikan dengan alat berikut ini : a. Catatan tertulis b. Observasi praktik
keperawatan c. Konfirmasi dengan individu atau orang terdekat 2. Tindakan
keperawatan dan hasil pada pasien dikomunikasikan dengan orang lain Standar VI
Rencana untuk asuhan keperawatan tersebut dievaluasi Pernyataan interpretif Evaluasi
adala proses dimana perawat kamar operasi biasa menentukan tingkat pencapaian
tujuan. Evaluasi bersifat kontinu dan berdasarkan pada observasi parawat dan respons
Pasien terhadap intervensi keperawatan. Perawat kamar operasi meninjau setiap tujuan
yang dirumuskan untuk menentukan hasil perawatan pasien. Hasil tindakan
keperawatan kemudian dibandingkan dengan tujuan yang yang diharapkan untuk
menentukan tingkat pencapaian tujuan pasien, keluarga, dan personil kesehatan
mempunyai kontribusi pada evaluasi pencapaian tujuan. Data yang dikumpulkan dari
sumber sumber ini mencerminkan hasil tindakan keperawatan. Kriteria 1. Tingkat
pencapaian tujuan dikomunikasikan oleh perawat kamar operasi kepada pasien, orang
terdekat, dan personil kesehatan. 2. Hasil tindakan keperawatan didokumentasikan
dengan catatan tertulis, observasi praktik keperawatan, dan konfirmasi dengan pasien

atau keluarga. Standar VII Pengkajian ulang pasien, pertimbangan ulang diagnosa
keperawatan, menyusun kembali tujuan, dan modifikasi dan implementasi rencana
asuhan keperawatan adalah sebuah proses yang berksinambungan. Pernyataan
interpretif Pengkajian kembali memungkinkan perawat kamar operasi untuk memeriksa
proses keseluruhan secara kritis dan mana asal intervensi keperawatan yang telah
direncanakan dan lakukan. Implementasi proses keperawatan memberikan umpan balik
pada perawat yang mempermudah meninjau praktik professional individu. Tahap
tahap proses keperawatan dilakukan secara serempak dan berulang. Data baru dan
tingkat pencapaian tujuan dikaji dan digunakan untuk mempertimbangkan kembali
diagnosa keperawatan tujuan pasien. Kriteria 1. Tinjauan atau revisi rencana
keperawatan didokumentasikan dengan catatan tertulis, observasi respons pasien, dan
persepsi pasien atau keluarga. 2. Status rencana keperawatan dikomunikasikan kepada
orang yang tepat. DIAGNOSA 1. Potensial infeksi yang berhubungan dengan terpajan
kuman pathogen 2. Potensial hipotermia berhubungan dengan lingkungan yang dingin
3. Potensial kekurangan atau kelebihan cairan dan elektrolit yang berhubungan dengan
kehilangan darah dan penggantian intravena. 4. Potensial kerusakan integritas kulit
atau jaringan yang berhubungan dengan posisi operasi 5. Potensial cedera oleh benda
benda asing yang tertinggal yang berhubungan dengan membuka rongga tubuh. 6.
Potensial cedera termal (luka bakar) yang berhubungan dengan penggunaan bedah
listrik, laser, atau peralatan listrik lainnya. 7. Potensial cedera neuromuscular yang
berhubungan dengan posisi operasi 8. Potensial cedera karena jatuh atau trauma uang
berhubungan dengan obat obatan anastesia yang mempengaruhi kesadaran 9.
Cemas, takut atau nyeri yang berhubungan dengan status sadar selama anastesia local
atau regional 10. Gangguan komunikasi verbal yang berhubungan dengan penurunan
pendengaran 95% yang dimanifestasikan dengan kebutuhan insyarat dan ketidak
mampuan mengikuti instruksi verbal. PERENCANAAN Fase perencanaan meliputi
memprioritaskan masalah kesehatan dan diagnose keperawatan yang telah
diidentifikasi, menentukan tujuan dan hasil pasien yang diharapkan, menentukan
tindakan keperawatan untuk mencapai tujuan dan menuliskan rencana itu sendiri.
Membuat prioritas. Perbaikan hierarki kebutuhan Maslow (1970) oleh Kalish(1983)
menjadi kelangsungan hidup, stimulasi, rasa aman, mencintai dan memiliki, harga diri,

dan aktualisasi diri merupakan kerangka yang sangat bermanfaat untuk


memprioritaskan masalah masalah pasien atau diagnosa keperawatan. Kalish
mengidentifikasi kebutuhan manusia akan makanan, air, udara, suhu yang dapat diatur,
eliminasi, istirahat, dan terhindar dari nyeri sebagai kebutuhan kelangsungan hidup. Bila
kebutuhan kebutuhan ini dibandingkan dengan diagnose keperawatan perioperatif
umum, diagnose akan tampak dari contoh contoh berikut yang sangat cocok dengan
diskripsi kelangsungan hidup. Kebutuhan Diagnosa Makanan dan air Kekurangan
cairan dan elektrolit yang berhubungan dengan status puasa, atau potensial
kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan kehilangan darah dan
penggantian intravena. Udara Potensial aspirasi yang berhubungan dengan keadaan
semikoma selama pemulihan anesthesia umum Suhu Hipotermia yang berhubungan
dengan paparan lingkungan yang dingin. Nyeri Perubahan kenyamanan yang
berhububgan dengan status sadar selama anastesia regional atau local atau yang
berhubungan dengan posisi bedah Penekanan utama keperawatan perioperatif adalah
rasa aman pasien melalui pencegahan cedera yang berhubungan dengan terbakar,
posisi, benda asing, atau perdarahan. Kebutuhan akan rasa aman ini, bagaimanapun
juga, akan menjadi prioritas kedua setelah kebutuhan kelangsungan hidup dasar
seseorang seperti yang telah dijelaskan di atas. Hasil pasien yang diharapkan.karena
lamanya waktu pengalaman pembedahan dibatasi kurang dari satu hari, perawat
perioperatif umumnya menggabungkan tujuan jangka panjang dan tujuan jangka
pendek menjadi kesatuan tunggal yang dinamakan hasil yang diharapkan. Agar efektif,
hasil harus dapat diobservasi, dapat diukur, dapat dicapai, dan berfokus pada respons
dari pada tindakan tindakan perawat. Tujuan dari mengkhususkan hasil adalah untuk
menetukan tindakan dan intervensi keperawatan apa yang diprediksi untuk
dilaksanakan. standar hasil pasien untuk keperawatan perioperatif(AORN, 1989) telah
dipublikasikan oleh organisasi spesialis professional dan direkomendasikan untuk
penggunaan intraoperatif. Intervensi keperawatan yang direncanakan. Komponen
etiologi dari diagnose keperawatan memberikan arah untuk memilih intervensi. Sebagai
contoh, pada diagnose potensial cedera oleh benda asing berhubungan dengan kavum
tubuh terbuka, usaha usaha perawat meliputi menjaga hitungan jarum, benda
benda tajam, spons, instrument dengan akurat ketika pasien menjalani pembedahan.

Sekali intervensi diuraikan, perencanaan sebaiknya didokumentasikan dalam sebuah


format tertulis yang dapat diterima oleh fasilitas perawatan kesehatan, dengan minimal
tiga judul seperti berikut: Diagnosa keperawatan Intervensi Hasil yang diharapkan
Potensial infeksi yang berhubungan dengan prosedur invasif Implementasikan dan
pertahankan prinsip prinsip asepsis Tentukan klasifikasi luka Kaji faktor faktor
penunjang Ikuti kebijakan rumah sakit dan prosedur untuk persiapan ruangan Pasien
bebas dari tanda dan gejala infeksi Salinan dari rencana keperawatan yang telah
ditanda tangani kemudian dimasukkan ke rekam medic pasien. Rencana tertulis
dengan jelas menunjukkan pemikiran ke depan dan analisis kebutuhan pasien.
IMPLEMENTASI Menyiapkan, melakukan tindakan, dan mendokumentasikan adalah
kata-kata tindakan dari fase implementasi pada proses keperawatan. Perawat
menggunakan pendidikan, pengalaman sebelumnya, dan keterampilan teknik yang
kompleks untuk mengaktivasi sebuah rencana perawatan. Fase implementasi
disimpulkan bila intervensi keperawatan dan respons pasien terhadap intervensi
keperawatan dan respons pasien terhadap intervensi didokumentasikan. Praktik yang
direkomendasikan untuk Dokumentasi dari AORN (AORN, 1989) menganjurkan catatan
kamar operasi pasien sebaiknya : 1. Mencerminkan pengkajian dan perencanaan serta
mengidentifikasi hasil pasien. 2. Menggambarakan perawatan intraoperatif dan hasilnya
3. Memperlihatkan evaluasi perawatan dan hasilnya Dokumentasi intraoperatif meliputi
data subjektif dan objektif tentang pasien, perlengkapan dan peralatan yang diberikan,
penghitungan yang dilakukan, obat obat yang diberikan oleh perawat dan ahli bedah,
masukan dan keluaran cairan, dan tindakan pengamanan yang diimplementasikan.
Rekaman tertulis menjadi bukti pemberian asuhan keperawatan professional,
memberikan acuan legal untuk rangkaian kejadian ketika kejadian tersebut terjadi
dikamar operasi, dan mendorong akuntabilitas melalui perbandingan audit dengan
standar perawatan. EVALUASI Evaluasi melengkapi rangkaian proses keperawatan. Ini
meliputi pengkajian kembali pasien dan merumuskan penilaian tentang kemajuan
pasien kearah tujuan. Evaluasi adalah sebuah perbadingan dari hasil actual dengan
hasil yang diharapkan. Dokumentasi hasil keperawatan tidak boleh menggunakan kata
kata yang samar, istilah taksa seperti buruk,agak,baik,. Arti istilah ini bervariasi
untuk masing masing individu dan dapat menyebabkan kekeliruan interpretasi dari

pengkajian kembali. Jika para perawat menilai atau mengukur keberhasilan mereka,
mereka harus mengevaluasi respons pasien terhadap intervensi keperawatan secara
objektif dan teratur. Evaluasi perawatan intraoperatif setelah operasi dapat dimulai
dengan penutupan luka insisi dan diakhiri dengan telepon atau surat tindak lanjut dalam
2 3 minggu. Proses mengevaluasi perawatan mempunyai hubungan yang sederhana
dan langsung dengan kejelasan dan sifat rencana asuhan keperawatan yang
konprehensif. Jika rencana asuhan keperawatan jelas, dengan pernyataan diagnosa
keperawatan, intervensi dan tindakan, dan hasil, kemudian rencana ini menjadi dasar
untuk evaluasi. Evaluasi sulit untuk dilaksanakan atau mengukur bagaimana hasil yang
positif atau berhasil tanpa mengetahui maksud dari asuhan keperawatan. Proses
evaluasi seharusnya juga memungkinkan keperawatan menyadari tentang data
tambahan untuk merencanakan atau menyesuaikan asuhan keperawatan berikutnya.
Pedoman spesifik untuk evaluasi umumnya berasal dari fasilitas perawatan kesehatan.
Evaluasi dapat bersifat formal atau informal. Didasarkan pada observasi, ditentukan
dari data yang dikumpulkan dengan retrospeksi, objektif atau subjektif atau keduanya.
Today Deal $50 Off : https://goo.gl/efW8Ef