Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

KROMATOGRAFI

Disusun oleh :

FAKULTAS FARMASI
STIKES BCM PANGKALAN BUN

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur yang tiada terbatas penulis sampaikan kepada Tuhan Yang
Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga
penulis dapat menyelesaikan penulisan Makalah dengan judul Kromatografi.
Harapan penulis semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan bagi
para pembaca, sehingga penulis dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini agar
kedepannya dapat lebih baik lagi.
Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan Makalah ini. Semoga
Makalah ini dapat menjadi tambahan pengetahuan mengenai kromatografi. Terima kasih
telah membaca, memberi saran dan kritik.

Pangkalan bun,01 Desember 2016

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Kromatografi


2.2 Jenis Jenis Kromatografi
2.3 Kelebihan dan Kekurangan Kromatografi
2.4 Manfaat Kromatografi di Bidang Farmasi

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Kromatografi pertama kali diberikan oleh Michel Tswett, seorang ahli dari
Botani Rusia, yang menggunakan kromatografi untuk memisahkan klorofil dari
pigmen-pigmen lain pada ekstrak tanaman. Kromatografi berasal dari bahasa Yunani
yang terdiri dari dua kata yaitu chromos yang berarti warna dan graphos yang berarti
menulis. Meskipun kromatografi diturunkan dari kata warna dan tulis, warna
senyawa-senyawa tersebut jelas hanya kebetulan saja terjadi dalam proses pemisahan
ini.
Kromatografi merupakan suatu istilah umum yang digunakan untuk
bermacam-macam teknik pemisahan yang didasarkan atas partisi sampel diantara
suatu fasa gerak yang bisa berupa gas maupun cairan dan fasa diam yang juga bisa
berupa cairan maupun padatan. Sedangkan menurut Farmakope Indonesia IV,
kromatografi adalah suatu tekhnik atau prosedur pemisahan zat terlarut oleh suatu
sistem yang terdiri dari 2 fase atau lebih yang salah satu diantarnya bergerak secara
berkesinambungan dalam arah tertentu dan didalamnya, zat zat itu menunjukkan
perbedaan yang disebabkan oleh adanya perbedaan dalam adsobsi, partisi, kelarutan,
tekanan uap, ukuran molekul atau kerapatan muatan ion. Kromatografi menurut
IUPAC adalah suatu metode yang digunakan untuk pemisahan komponen dalam
sample dimana komponen tersebut terdistribusi dalam 2 fase yang salah satunya
diam dan yang lainnya bergerak.
Meskipun dasar kromatografi adalah proses pemisahan, namun banyak
diantara cara ini yang dapat digunakan untuk analisi kuatitatif. Jenis-jenis
kromatografi yang bermanfaat dalam analisi kualitatif dan analisis kuantitatif adalah
kromatografi

kertas,

kromatigrafi

lapis

tipis

(KLT),

kromatografi

kolom,

kromatografi gas, dan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT). Kromatografi kertas
dan KLT pada umunya lebih bermanfaat untuk tujuan indentifikasi, karena lebih
mudah dan sederhana.
Kromatografi kolom memberikan pemilihan fase diam yang lebih luas dan
berguna untuk pemisahan campuran secara kuantitatif. Dalam indutri metode
inibanyak dipakaiuntuk menghilangkan zat-zat yang tidak diinginkandalam hasil,

misalnya pada pemurnian minyak tanah atau minyak goring dan pemurnian
hidroksida yang dihasilkan dari proses elektrolisis.
Teknik pemisahan kromatografi dilakukan untuk mendapatkan pemisahan
campuran diantara dua fase. Fase tersebut adalah fase diam dan fase gerak. Fase diam
dapat berupa zat cair dan zat padat, sedangkan fase gerak dapat berupa zat cair atau
gas.
1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan, di bawah ini
dirumuskan beberapa masalah yang akan dibahas dalam makalah :
1. Apa pengertian kromatografi ?
2. Bagaimana klasifikasi jenis kromatografi ?
3. Bagaimana kelebihan dan kekurangan kromatografi ?
4. Bagaimana manfaat kromatografi pada bidang farmasi ?

1.3

Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah :
1. Untuk mengetahui arti kromatografi
2. Untuk mengetahui jenis jenis kromatografi
3. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan kromatografi
4. Untuk mengetahui manfaat kromatografi di bidang farmasi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Definisi Kromatografi
Kromatografi adalah cara pemisahan campuran yang didasarkan atas
perbedaan distribusi dari komponen campuran tersebut diantara dua fase,yaitu fase
diam (stationary) dan fase bergerak (mobile). Fase diam dapat berupa zat yaitu zat
cair atau zat padat, sedangkan fase bergerak dapat berupa zat cair atau zat gas.
(Kimia Fisika untuk Paramedis, Estien Yazid,2005).
Selain pengertian kromatografi di atas, di lain sumber kromatografi di
definisikan sebagai suatu metode analitik untuk pemisahan dan pemurnian senyawa
organik dan anorganik. Metode ini berguna untuk fraksionasi campuran kompleks
dan pemisahan untuk senyawa-senyawa yang sejenis. (Konsep Dasar Kimia
Analitik,S.M.Khopkor, 2008).
Dalam teknik kromatografi, sampel yang merupakan campuran dari
berbagai macam komponen ditempatkan dalam situasi dinamis, dalam system yang
terdiri dari fase dian dan fase bergerak. Semua pemisahan pada kromatografi
tergantung pada gerkan relative dari masing-masing komponen di antara dua fase
tersebut. Senyawa atau komponen yang tertahan (terhambat) lebih lemah oleh fase
diam akan bergerak lebih cepat daripada komponen yang tertahan lebih kuat.
Perbedaan gerakan (mobilitas) antara komponen yang satu dengan yang lainnya
disebabkan oleh perbedaan dalam adsorbsi, partisi, kelarutan atau penguapan dia
antara kedua fase. Jika perbedaan-perbadaan ini cukup besar, maka akan terjadi
pemisahn secara sempurna. Oleh karena itu dalam kromatografi, pemilihan terhadap
fase bergerak maupun fase diam perlu dilakukan sedemikian rupa sehingga semua
komponen bisa bergerak dengan kecepatan yang berbeda-beda agar dapat terjadi
pemisahan.
Secara umum dapat dikatakan bahwa kromatografi adalah suatu proses
migrasi diferensial dinamis dalam system dimana komponen-komponen dalam
cuplikan ditahan secara selektif oleh fase diam.
Kromtografi dapat di golongkan dapat digolongkan berdasrkan fase yang
terlibat antar lain;

1) Kromatografi gas-cair, bila fase geraknya berupa gas dan fase diamnya berupa
cairan yang dilapiskan pada padatan pendukung yang inert.
2) Kromatografi gas-padat, bila fase geraknya berupa gas dan fase diamnya berupa
padatan yang dapat menyerap/mengadsorpsi.
3) Kromatografi cai-cair, bila fase gerak dan diamnya berupa cairan, dimana fase
diamnya dilapiskan pada permukaan padatan pendukung yang inert.
4) Kromatografi cair-padat, bila fase geraknya berupa gas sedangkan fase diamnya
berupa padat an yang amorf yang dapat menyerap.
Fase Gerak
Gas

Fase Diam
Padat

Prinsip
Adsorpsi

Cair

Padat

Adsorpsi, Partisi

Cair

Cair

Partisi

Gas

Cair

Partisi

Teknik Kerja
Kromotografi gas-padat
Kromatografi kolom, KLT,
kromatografi kertas
Kromatografi kolom, KLT,
kromatografi kertas
Kromatografi gas-cair

Kromatografi juga dapat didasarkan atas prinsipnya, misalnya kromatografi


partisi

(partition

chromatography)

dan

kromatografi

serapan(adsorption

chromatography). (Kimia Fisika Untuk Paramedis, Estien Yazid, 2005).

2.2

Jenis Jenis Kromatografi


Berdasarkan teknik kerja yang digunakan, kromatografi ada bermacammacam diantaranya adalah kromatografi lapis tipis, kromatografi kertas, kromatografi
kolom dan kromatografi cair-vakum.
1) Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

Suatu teknik yang sederhana yang banyak digunakan, metode ini


menggunakan empeng kaca atau lembaran plastik yang ditutupi penyerap atau
lapisan tipis dan kering. Untuk menotolkan karutan cuplikan pada kempeng
kaca, pada dasarnya menggunakan mikro pipet atau pipa kapiler. Setelah itu,
bagian bawah dari lempeng dicelup dalam larutan pengelusi di dalam wadah
yang tertutup (Soebagio,2002).
Kromatografi lapis tipis merupakan cara pemisahan campuran senyawa
menjadi senyawamurni dan mengetahui kuantitasnya yang menggunakan
kromatografi juga merupakan analisis cepat yang memerlukan bahan sangat
sedikit, baik menyerap maupun merupakan cuplikan KLT dapat digunakan untuk
memisahkan senyawa-senyawa yang sifatnya hidrofilik seperti lipid-lipid dan
hidrokarbon yang sukar dikerjakan dengan kromatografi kertas. KLT juga dapat
digunakan untuk mencari kromatografi kolom, identifikasi senyawa secara
kromatografi dengan sifat kelarutan senyawa yang dianalisis. Bahan lapis tipis
seperti silika gel adalah senyawa yang tidak bereaksi dengan pereaksi-pereaksi
yang lebih reaktif seperti asam sulfat.( Fessenden, 2003).
KLT merupakan contoh dari kromatografi adsorpsi. Fase diam berupa
padatan dan fase geraknya dapat berupa cairan dan gas. Zat terlarut yang
diadsorpsi oleh permukaan partikel padat. Prinsip KLT adalah adsorbsi dan
partisi dimana adsorbsi adalah penyerapan pada pemukaan, sedangkan partisi
adalah penyebaran atau kemampuan suatu zat yang ada dalam larutan untuk
berpisah kedalam pelarut yang digunakan. Kecepatan gerak senyawa-senyawa
ke atas pada lempengan tergantung pada (Soebagil,2002).
Bagaimana kelarutan senyawa dalam pelarut, hal ini bergantung pada
bagaimana besar atraksi antara molekul-molekul senyawa dengan pelarut.
Bagaimana senyawa melekat pada fase diam, misalnya gel silika. Hal ini
tergantung pada bagaimana besar atraksi antara senyawa dengan gel silika.
Kromatografi lapis tipis menggunakan plat tipis yang dilapisi dengan adsorben
seperti silika gel, aluminium oksida (alumina) maupun selulosa. Adsorben
tersebut berperan sebagai fasa diam Fasa gerak yang digunakan dalam KLT
sering disebut dengan eluen. Pemilihan eluen didasarkan pada polaritas senyawa
dan biasanya merupakan campuran beberapa cairan yang berbeda polaritas,
sehingga didapatkan perbandingan tertentu. Eluen KLT dipilih dengan cara trial

and error. Kepolaran eluen sangat berpengaruh terhadap Rf (faktor retensi) yang
diperoleh (Gandjar, 2007).
Derajat retensi pada kromatografi lempeng biasanya dinyatakan sebagai
faktor resensi. Pada fase diam, jika dilihat mekanisme pemisahan, fase diam
dikelompokkan (Gritter,1991).
Nilai Rf sangat karakterisitik untuk senyawa tertentu pada eluen tertentu.
Hal tersebut dapat digunakan untuk mengidentifikasi adanya perbedaan senyawa
dalam sampel. Senyawa yang mempunyai Rf lebih besar berarti mempunyai
kepolaran yang rendah, begitu juga sebaliknya. Hal tersebut dikarenakan fasa
diam bersifat polar. Senyawa yang lebih polar akan tertahan kuat pada fasa
diam, sehingga menghasilkan nilai Rf yang rendah. Rf KLT yang bagus berkisar
antara 0,2 - 0,8. Jika Rf terlalu tinggi, yang harus dilakukan adalah mengurangi
kepolaran eluen, dan sebaliknya (Gandjar, 2007).
2) Kromatografi Kertas

Kromatografi kertas adalah metode pemisahan dengan kerja dua fase


yaitu fase diam dan fase gerak yang hasil kerja kedua fase ini berupa rambatan
warna yang dapat terlihat pada kertas kromatografi dan bercak yang ada untuk
membandingkan antar totolan dari sampel dan totolan dari baku (Triwahyuni
dan Susilawati, 2003: 29).
Kromatografi kertas merupakan bentuk kromatografi yang paling
sederhana, mudah dan murah. Jenis kromatografi ini terutama banyak digunakan
untuk identifikasi kualitatif walaupun untuk analisis kuantitatif juga dapat
dilakukan. Fasa diam dalam kromatografi berupa air yang terikat pada selulosa
kertas sedangkan fasa geraknya berupa pelarut organik nonpolar. Berdasarkan

kedua hal itu kromatografi kertas dapat digolongkan kedalam kromatografi


partisi. Dalam kromatografi kertas fasa gerak merembes kedalam kertas karena
efek kapiler. Rembesan fasa gerak pada kertas karena dapat dilakukan dengan
teknik menaik (ascending) atau dengan teknik menurun (descending).
Pelaksanaan pemisahan dengan metode kromatografi kertas terbagi dalam tiga
tahap yaitu tahap penotolan cuplikan, tahap pengembangan dan tahap
identifikasi atau penampakan noda. Kromatografi kertas sangat berguna untuk
pemisahan zat anorganik, organik dan biokimia dalam jumlah yang sedikit.
Kromatografi kertas terbukti sangat berharga dalam biokimia dimana seringkali
dijumpai sampel kecil dan kompleks. Pada tahap penampakan noda atau
identifikasi. Jika noda sudah berwarna dapat langsung diperiksa dan ditentukan
harga Rfnya. Harga Rf dihitung sebagai jarak yang ditempuh oleh komponen
dibagi dengan jarak yang ditempuh oleh eluen (fasa gerak) (Soebagio, dkk,
2004: 85-86).
Kromatografi kertas yang dilakukan merupakan kromatografi partisi,
yang termasuk dalam kromatografi cair-cair maka yang berperan sebagai fase
diam biasanya adalah air yang membentuk kompleks dengan serat selulosa pada
kertas, sedangakn fase gerak adalah pelarut (Azizahwati, 2007: 21).
Pada pemisahan campuran campuran dalam kolom, solut dicirikan
denagn waktu retensi dan faktor retensi yang berbanding lurus dengan nilai D.
Waktu retansi merupakan lamanya waktu yang dibutuhkan solut untuk melewati
kolom. Pemisahan kromatografi planar ini adalh pada umumnya dihentikan
sebelum semua fase gerak melewati seluruh permukaan fase diam. Solut pada
kedua kromatografi ini dikarakterisasi dengan jarak migrasi solut terhadap jarak
ujung fasa geraknya partisi merupakan proses sorpsi yang analog dengan
ekstraksi pelarut. Fasa diam cair diikatkan pada padatan lapis tipis yang lemban
(inert). Karena fase diam cair diikatkan pada padatan pendukung maka masih
diperdebatkan pakah proses sorpsinya merupakan partisi murni atau partisi yang
modifikasi karena adsorpsi juga mungkin terjadi. Dalam partisi yang sebenarnya
solut akan terdistribusi diantara fase gerak dan fasa diam sesuai dengan
kelarutan relatif diantara keduanya ( Gandjar dan Rohman, 2007: 326-331).
Dalam kromatografi kertas digunakan kertas saring. Biasanya berbentuk
pita selebar 2-5 cm., dari mana lembaran yang panjangnya diperlukan dapat
dengan mudah digunting. Lembaran yang panjang diperlukan dalam teknik

kromatogarfi lapis tipis (TLC) yang lebih modern, menggunakan lembaran tipis
aluminium oksida, gel silika, selulosa atau sesuatu bahan lain yang didukung
oleh suatu lembaran logam atau suatu polimer lapisan kromatografi dapat
disiapkan dalam laboratorium dari adsorben yang tersedia dipasarn. Dalam
kromatografi lapisan tipis maupun kertas sedikit bahan (katakan larutan air yang
mengandung campuran kertas) ditaruh pada daerah terbatas didekat ujung
selembar kertas saring. Atau lapis tipis dan suatu pelarut dibiarkan berdifusi dari
ujung kertas atau lapis. Dan suatu pelarut dibiarkan berdifusi pada kondisi yang
sesuai setelah beberapa waktu (1-30) jam. Campuran akan dijumpai telah
berpindah dari daerah penotolan dan telah terpisah seluruhnya atau sebagian
menjadi komponen- komponennya sebagai zona yang jelas. Telah digunakn
sejumlah besar reagensia organik dan anorganik. Kriterias dalam memilih
reagensia untuk kromatografi kertas berbeda dengan kriteria yang biasa dipakai
untuk memilih reagewnsia uji bercak ( Svehla, 1985: 534- 539).
Teknik kromatografi kertas yaitu proses pengeluaran asam mineral dari
kertas disebut desalting. Larutan ditempatkan pada kertas dengan menggunakan
mikropipet pada jarak 2 3 cm dari salah satu ujung kertas dalam bentuk coretan
garis horizontal. Setelah kertas dikeringkan, diletakkan diruang yang sudah
dijenuhkan dengan air atau dengan pelarut yang sesuai. Penjenuhan dapat
dilakukan 24 jam sebelum analisis. Descending adalah salah satu teknik di mana
cairan dibiarkan bergerak menuruni kertas akibat gravitasi. Pada teknik
ascending, pelarut bergerak ke atas dengan gaya kapiler. Nilai Rf harus sama
baik pada descending maupun ascending. Sedangkan yang ketiga dikenal
sebagai cara radial atau kromatografi kertas sirkuler. Kondisi-kondisi berikut
harus diperhatikan untuk memperoleh nilai Rf yang reprodusibel. Temperatur
harus dikendalikan dalam variasi tidak boleh lebih dari 0,5oC. Kertas harus
didiamkan dahulu paling tidak 24 jam dengan atmosfer pelarutnya, agar
mencapai kesetimbangan sebelum pengaliran pelarutnya pada kertas. Dilakukan
beberapa pengerjaan yang parallel, Rfnya tidak boleh berbeda lebih dari 0,02
(Khopkar, 2008, hal: 163).
Suatu atomiser umumnya digunakan sebagai reagent penyemprot bila
batas permukaan pelarut dan zat terlarut dalam kertas ingin dibuat dapat dilihat.
Atomiser yang halus lebih disukai. Gas-gas juga dapat digunakan sebagai
penanda bercak, untuk karbohidrat notasi Rg digunakan untuk menggantikan Rf.

Setelah penandaan bercak batas permukaan, selanjutnya dapat dilakukan analisis


kolorimetri atau spektroskopi reflektansi bila sampel berupa logam. Materi yang
terdapat di dalam kertas dapat ditentukan secara langsung dengan pelarutan.
Kromatografi kertas selain untuk pemisahan dan analisis kuantitatif, juga sangat
bermanfaat untuk identifikasi. Hal ini dapat dilakukan misalkan dengan
membuat grafik antara Rm terhadap jumlah kation dalam suatu deret homolog,
maka memungkinkan untuk mengidentifikasi suatu anggota deret homolog
(Khopkar, 2008, hal: 163).
Susunan serat kertas membentuk medium berpori yang bertindak sebagai
tempat untuk mengalirnya fase gerak. Berbagai macam kertas yang secara
komersial tersedia adalah whatman 1, 2, 31 dan 3 MM, kertas asam asetil, kertas
kieselgurh, kertas silikon dan kertas penukar ion juga digunakan. Tersedia juga
kertas selulosa murni, kertas selulosa yang dimodifikasi dan kertas serat kaca.
Zat-zat hidrofobik dapat dipisahkan pada kedua jenis kertas terakhir ini. Kertas
asam asetil atau kertas silikon dapat digunakan untuk zat-zat hidrofobik,
sedangkan untuk reagent yang korosif, kertas serat kaca dapat digunakan. Untuk
memilih kertas, yang menjadi pertimbangan adalah tingkat dan kesempurnaan
pemisahan, difusivitas pembentukan spot, efek tailing dan pembentukan komet
serta laju pergerakan pelarut terutama untuk teknik descending (Khopkar, 2008,
hal: 161 162).
3) Kromatografi Kolom

Kromatografi kolom adalah kromatografi yang menggunakan kolom


sebagai alat untuk memisahkan komponen-komponen dalam campuran. Alat
tersebut berupa pipa gelas yang dilengkapi suatu kran dibagian bawah kolom
untuk mengendalikan aliran zat cair, ukuran kolom tergantung dari

banyaknya zat yang akan dipindahkan. Secara umum perbandingan panjang dan
diameter kolom sekitar 8:1 sedangkan daya penyerapnya adlah 25-30 kali berat
bahan yang akan dipisahkan. Teknik banyak digunakan dalam pemisahan
senyawa-senyawa organic dan konstituen-konstituen yang sukar menguap
sedangkan untuk pemisahan jenis logam-logam atau senyawa anorganik jarang
dipakai (Yazid, 2005, hal: 98).
Dalam proses kromatografi selalu terdapat salah satu kecenderungan
molekul-molekul komponen untuk melarut dalam cairan, melekat pada
permukaan padatan halus, bereaksi secara kimia dan terekslusi pada pori-pori
fasa diam. Komponen yang dipisahkan harus larut dalam fasa gerak dan harus
mempunyai kemampuan untuk berinteraksi dengan fasa diam dengan cara
melarut di dalamnya, teradsorpsi atau bereaksi secara kimia. Pemisahan terjadi
berdasarkan perbedaan migrasi zat-zat yang menyusun suatu sampel. Hasil
pemisahan dapat digunakan untuk keperluan analisis kualitatif, analisis
kuantitatif dan pemurnian suatu senyawa. Dalam beberapa hal metode
pemisahan kromatografi mempunyai kemiripan dengan metode pemisahan
ekstraksi. Kedua metode ini sama-sama menggunakan dua fasa, dimana fasa satu
bergerak terhadap fasa lainnya, kesetimbangan solut selalu terjadi di antara
kedua fasa ( Alimin dkk, 2007, hal: 74-75).
Pemisahan kromatografi kolom adsorpsi didasarkan pada adsorpsi
komponen-komponen

campuran

dengan

afinitas

berbeda-beda

terhadap

permukaan fase diam. Kromatografi kolom terabsorpsi termasuk pada cara


pemisahan cair padat, substrat padat bertindak sebagai fasa diam yang sifafnya
tidak larut dalam fasa cair, fasa bergeraknya adalah cairan atau pelarut yang
mengalir membawa komponen campuran sepanjang kolom. Pemisahan
bergantung pada kesetimbangan yang terbentuk pada bidang antar muka diantara
butiran-butiran adsorben dan fase bergerak serta kelarutan relatif komponen pada
fasa bergeraknya. Antara molekul-molekul komponen dan pelarut terjadi
kompetisi untuk teradsorpsi pada permukaan adsorben sehingga menimbulkan
proses dinamis. Keduanya secara bergantian tertahan beberapa saat di
permukaan adsorben dan masuk kembali pada fasa bergerak (Yazid, 2005, hal:
100).
Pada saat teradsorpsi komponen dipaksa untuk berpindah oleh aliran fasa
bergerak yang ditambahkan secara kontinu, akibatnya hanya komponen yang

mempunyai afinitas lebih besar terhadap adsorben akan secara selektif tertahan.
Komponen afinitas paling kecil akan bergerak lebih cepat mengikuti aliran
pelarut. Pada kromatografi adsorpsi, besarnya koefisien distribusi sama dengan
konsentrasi zat terlarut pada fasa teradsorpsi dibagi konsentrasinya pada fasa
larutan. Ketergantungan jumlah zat terlarut yang teradsorpsi terhadap
konsentrasi zat terlarut dalam larutan dinyatakan dengan isoterm adsorpsi
Langmuir (Yazid, 2005, hal: 100).
Metode pemisahan kromatografi kolom ini memerlukan bahan kimia
yang cukup banyak sebagai fasa diam dan fasa bergerak bergantung pada ukuran
kolom gelas. Untuk melakukan pemisahan campuran dengan metode
kromatografi kolom diperlukan waktu yangcukup lama, bias berjam-jam hanya
untuk memisahkan satu campuran. Selain itu, hasil pemisahan kurang jelas
artinya kadang-kadang sukar mendapatkan pemisahan secara sempurna karena
pita komponen yang satu bertumpang tindih dengan komponen lainnya. Masalah
waktu yang lama disebabkan laju alir fasa gerak hanya dipengaruhi oleh gaya
gravitasi bumi, ukuran diameter partikel yang cukup besar membuat luas
permukaan fasa diam relative kecil sehingga tempat untuk berinteraksi antara
komponen-komponen dengan fasa diam menjadi terbatas. Apabila ukuran
diameter partikel diperkecil supaya luas permukaan fasa diam bertambah
menyebabkan semakin lambatnya aliran fasa gerak atau fasa gerak tidak
mengalir sama sekali. Selain itu fasa diam yang sudah terpakai tidak dapat
digunakan lagi untuk pemisahan campuran yang lain karena sukar meregenerasi
fasa diam (Hendayana, 2006, hal: 2-3).
Untuk memisahkan campuran, kolom yang telah dipilih sesuai campuran
diisi dengan bahan penyerap seperti alumina dalam keadaan kering atau dibuat
seperti bubur dengan pelarut. Pengisian dilakukan dengan bantuan batang
pengaduk untuk memanfaatkan adsorben dan gelas wool pada dasar kolom.
Pengisian harus dilakukan secara hat-hati dan sepadat mungkin agar rata
sehingga terhindar dari gelembung-gelembung udara, untuk membantu
homogenitas biasanya kolom setelah diisi divibrasi diketok-ketok. Sejumlah
cuplikan yang dilarutkan dalam sedikit pelarut, dituangkan melalui sebelah atas
kolom dan dibiarkan mengalir ke dalam adsorben. Komponen-komponen dalam
campuran diadsorpsi dari larutan secara kuantitatif oleh bahan penyerap berupa
pita sempit pada permukaan atas kolom. Dengan penambahan pelarut secara

terus-menerus, masing-masing komponen akan bergerak turun melalui kolom


dan pada bagian atas kolom akan terjadi kesetimbangan baru antara bahan
penyerap, komponen campuran dan eluen. Kesetimbangan dikatakan tetap
apabila suatu komponen yang satu dengan yang lainnya bergerak ke bagian
bawah kolom dengan waktu atau kecepatan berbeda-beda sehingga terjadi
pemisahan (Yazid, 2005, hal: 200-2001).
4) Kromatografi Cair-Vakum
Kromatografi Cair Vakum (KCV) merupakan salah satu metode
fraksinasi yaitu dengan memisahkan crude extract menjadi fraksi-fraksinya yang
lebih sederhana. Pemisahan tersebut memanfaatkan kolom yang berisi fasa diam
dan aliran fasa geraknya dibantu dengan pompa vakum. Fasa diam yang
digunakan dapat berupa silika gel atau alumunium oksida (Ghisalberti, 2008).
Kromatografi kolom cair dapat dilakukan pada tekanan atmosfer atau
pada tekanan lebih besar dari atmosfer dengan menggunakan bantuan tekanan
luar misalnya gas nitrogen. Untuk keberhasilan praktikan di dalam bekerja
dengan menggunakan kromatografi kolom vakum cair, oleh karena itu syarat
utama adalah mengetahui gambaran pemisahan cuplikan pada kromatografi lapis
tipis (Harris, 1982).
Kromatografi vakum cair dilakukan untuk memisahkan golongan
senyawa metabolit sekunder secara kasar dengan menggunakan silika gel
sebagai absorben dan berbagai perbandingan pelarut n-heksana : etil asetat :
metanol (elusi gradien) dan menggunakan pompa vakum untuk memudahkan
penarikan eluen (Helfman, 1983).
Cara kerja kromatografi cair vakum yaitu kolom kromatografi dikemas
kering (biasanya dengan penjerap mutu KLT 10-40 m) dalam keadaan vakum
agar diperoleh kerapatan kemasan maksimum. Vakum dihentikan, pelarut yang
kepolarannya rendah dituangkan ke permukaan penjerap lalu divakumkan lagi.
Kolom dipisah sampai kering dan sekarang siap dipakai (Hostettman, 1986).
Fasa diam yang digunakan dikemas dalam kolom yang digunakan dalam
KCV. Proses penyiapan fasa diam dalam kolom terbagi menjadi dua macam :

Cara Basah
Preparasi fasa diam dengan cara basah dilakukan dengan
melarutkan fasa diam dalam fase gerak yang akan digunakan. Campuran
kemudian dimasukkan ke dalam kolom dan dibuat merata. Fase gerak

dibiarkan mengalir hingga terbentuk lapisan fase diam yang tetap dan rata,
kemudian aliran dihentikan.

Cara kering
Preparasi fasa diam dengan cara kering dilakukan dengan cara
memasukkan fase diam yang digunakan ke dalam kolom kromatografi.
Fase diam tersebut selanjutnya dibasahi dengan pelarut yang akan
digunakan. (Sarker et al., 2006).
Preparasi sampel saat akan dielusi dengan KCV juga memiliki berbagai

metode seperti preparasi fasa diam. Metode tersebut yaitu cara basah dan cara
kering (Canell, 1998).
Preparasi sampel cara basah dilakukan dengan melarutkan sampel dalam
pelarut yang akan digunakan sebagai fasa gerak dalam KCV. Larutan
dimasukkan dalam kolom kromatografi yang telah terisi fasa diam. Bagian atas
dari sampel ditutupi kembali dengan fasa diam yang sama. Sedangkan cara
kering dilakukan dengan mencampurkan sampel dengan sebagian kecil fase
diam yang akan digunakan hingga terbentuk serbuk. Campuran tersebut
diletakkan dalam kolom yang telah terisi dengan fasa diam dan ditutup kembali
dengan fase diam yang sama (Sarker et al., 2006).
2.3

Kelebihan dan Kekurangan Kromatografi

1) Kromatografi Lapis Tipis (KLT)


Kelebihan KLT :

KLT lebih banyak digunakan untuk tujuan analisis.

Hanya membutuhkan sedikit pelarut.

Identifikasi pemisahan komponen dapat dilakukan dengan pereaksi warna,


fluoresensi, atau dengan radiasi menggunakan sinar ultraviolet.

Dapat dilakukan elusi secara mekanik (ascending), menurun (descending),


atau dengan cara elusi 2 dimensi.

Preparasi sample yang mudah

Ketepatan penentuan kadar akan lebih baik karena komponen yang akan
ditentukan merupakan bercak yang tidak bergerak.

Biaya yang dibutuhkan terjangkau.

Jumlah perlengkapan sedikit.

Dapat untuk memisahkan senyawa hidrofobik (lipid dan hidrokarbon) yang


dengan metode kertas tidak bisa (Gandjar dan Rohman, 2007).

Kekurangan KLT :

Butuh ketekunan dan kesabaran yang ekstra untuk mendapatkan bercak/noda yang
diharapkan.

Butuh sistem trial and eror untuk menentukan sistem eluen yang cocok.

Memerlukan waktu yang cukup lama jika dilakukan secara tidak tekun

2) Kromatografi Kertas
Kelebihan Kromatografi Kertas :

Tidak diperlukan peralatan yang teliti dan mahal.

Dapat diperoleh hasil yang baik walaupun dengan peralatan dan materiyang
sederhana.

Senyawa yang terpisah dapat dideteksi pada kertas dan diidentifikasi.

Kekurangan Kromatografi Kertas :


Banyaknya

permasalahan

yang

menyangkut

cara

pemasukan

fasa gerak, perambatan fasa gerak dan penggumpalan.

Membutuhkan waktu lama karena panjang kertas bisa hingga 50 cc.

Keterbatasan parameter senyawa yang di uji.

3) Kromatografi Kolom
Kelebihan Kromatografi Kolom :

Dapat digunakan untuk analisis dan aplikasi preparative. Digunakan untuk


menentukan jumlah komponen campuran. Digunakan untuk memisahkan dan
purifikasi substansi.
Kekurangan Kromatografi Kolom :

Pemisahan lambat
Penjerapan linarut yang tidak bolak-balik
Tidak dapat dipakai jika partikel terlalu kecil.
4) Kromatografi Cair-Vakum
Kelebihan KCV :

Konsumsi fase gerak KCV hanya 80% atau lebih kecil dibanding dengan kolom
konvensional karena pada kolom mikrobor kecepatan alir fase gerak lebih lambat
(10-100l/menit).

Adanya aliran fase gerak lebih lambat membuat kolom mikrobor lebih ideal jika
digabung dengan spectrometer massa.

Sensitivitas kolom mikrobor ditingkatkan karena solute lebih pekat karenanya jenis
kolom ini sangat bermanfaat jika jumlah sampel terbatas missal sampel klinis.
Kerugian KCV :

2.4

Membutuhkan waktu yang cukup lama.

Sampel yang dapat digunakan terbatas.

Manfaat Kromatografi di Bidang Farmasi


1) Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
Kromatografi lapis tipis sangat memberikan banyak manfaat di berbagai
penelitian. Terlebih lagi dunia kerja di bidang farmasi sangat luas, tidak hanya
obat-obatan, makanan, minuman, serta kosmetik pun menjadi tanggung jawab
seorang farmasis. Sebagai contoh dalam pengujian kandungan Rhodamin-B
dalam sediaan kosmetika lipstick, uji kandungan bahan kimia obat dalam
sediaan jamu, uji pemanis dalam makanan, dan lain sebagainya.
Pengujian tersebut dilakukan karena penambahan bahan kimia dalam
sediaan tradisional seperti itulah yang bertentangan dengan Peraturan Menteri
Kesehatan RI No.246/Menkes/V/1990 yang menyatakan bahwa industri obat
tradisional dilarang memproduksi segala jenis obat tradisional yang mengandung
bahan kimia obat dan melanggar Undang-Undang Kesehatan No. 23 Tahun 1992
serta Undang-Undang No. 8 Tahun 1999, tentang perlindungan konsumen.
Sebab penambahan dengan dosis maupun cara yang tidak benar dapat
memberikan dampak yang merugikan bagi konsumen, maka dari itu Balai
Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) hingga saat ini masih terus menguji
makanan, obat, serta kosmetik yang beredar dipasaran.
2) Kromatografi Kolom
Dalam bidang bioteknologi, kromatografi mempunyai peranan yang sangat
besar. Misalnya dalam penentuan, baik kualitatif maupun kuantitatif, senyawa
dalam protein. Protein sering dipilih karena ia sering menjadi obyek molekul
yang harus dipurified (dimurnikan) terutama untuk keperluan dalam bio-farmasi.
Kromatografi juga bisa diaplikasikan dalam pemisahan molekul-molekul penting
seperti asam nukleat, karbohidrat, lemak, vitamin dan molekul penting lainnya.

Dengan data-data yang didapatkan dengan menggunakan kromatografi ini,


selanjutnya sebuah produk obat-obatan dapat ditingkatkan mutunya, dapat
dipakai sebagai data awal untuk menghasilkan jenis obat baru, atau dapat pula
dipakai untuk mengontrol kondisi obat tersebut sehingga bisa bertahan lama.
Dalam bidang clinical (klinik), teknik ini sangat bermanfaat terutama
dalam menginvestigasi fluida badan seperti air liur. Dari air liur seorang pasien,
dokter dapat mengetahui jenis penyakit yang sedang diderita pasien tersebut.
Seorang perokok dapat diketahui apakah dia termasuk perokok berat atau ringan
hanya dengan mengetahui konsentrasi CN- (sianida) dari sampel air liurnya.
Demikian halnya air kencing, darah dan fluida badan lainnya bisa memberikan
data yang akurat dan cepat sehingga keberadaan suatu penyakit dalam tubuh
manusia dapat dideteksi secara dini dan cepat. Sekarang ini, deteksi senyawa
oksalat dalam air kencing menjadi sangat penting terutama bagi pasien kidney
stones (batu ginjal). Banyak metode analisis seperti spektrofotometri,
manganometri, atau lainnya, akan tetapi semuanya membutuhkan kerja ekstra
dan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan hasil analisis dibandingkan
dengan teknik kromatografi.

BAB III
PENUTUP
3.1

Kesimpulan

1. Kromatografi adalah cara pemisahan campuran yang didasarkan atas perbedaan


distribusi dari komponen campuran tersebut diantara dua fase,yaitu fase diam
(stationary) dan fase bergerak (mobile). Fase diam dapat berupa zat yaitu zat cair atau
zat padat, sedangkan fase bergerak dapat berupa zat cair atau zat gas.
2. Berdasarkan teknik kerja yang digunakan, jenis kromatografi diantaranya adalah
kromatografi lapis tipis, kromatografi kertas, kromatografi kolom dan
kromatografi cair-vakum.
3.2

Saran
Penulis menyadari dalam penyusunan dan pembuatan makalah ini masih
banyak kekurangan, maka dari pada itu kritik dan saran sangat penulis harapkan
untuk mencapai kesempurnaan makalah ini agar nisa menjadi lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA
Azizahwati,dkk. 2007. Analisis Zat Warna Sintetik Terlarang untuk Makanan yang
Beredar di Pasaran. Jurnal Ilmu kefarmasian. Vol. IV, NO.1. Jakarta.
Fessenden R.J dan J.S Fessenden. 2003. Dasar - Dasar Kimia Organik. Jakarta, Erlangga.
Gandjar, Ibnu Gholib dan Abdul Rohman. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Gritter, R, J., 1991, Pengantar Kromatografi Edisi II, Institut Teknologi Bandung,
Bandung
Harborne, J.B. 1987. Metode Fitokimia. ITB : Bandung.
Harris, et.al. 1982. An Introduction To Chemical Analysis, Savders College Publishing
Philadelpia : Holt-Savders Japan.
Heftmann, E. 1983. Steroids Dalam Kromatografi, Fundamentals and Aplication,
Amsterdam.
Hostettmenn, K, dkk. 1986. Cara Kromatografi Preparatif. ITB: Bandung.
Khopkar, S. M. 2008. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: Universitas Indonesia.
Sarker,SD., Latif,Z and Gray .Al.2006. Natural Product Isolation. Humana Press inc .
Totowa New jersey.
Soebagio., 2002, Kimia Analitik, Universitas Negeri Makassar Fakultas MIPA, Makassar.
Svehla.1985. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro. Jakarta: PT
Kalman Media Pusaka.
Yazid, Estien. 2005. Kimia Fisika untuk Paramedis. Yogyakarta: Andi.