Anda di halaman 1dari 12

LUKA TUSUK ABDOMEN

Trauma abdomen didefinisikan sebagai kerusakan terhadap struktur yang terletak diantara
diafragma dan pelvis yang diakibatkan oleh luka tumpul atau yang menusuk.
Luka robek (vulnus laceratum) sering disertai luka lecet (excoriasis), yakni luka atau rusaknya
jaringan kulit luar, akibat benturan dengan benda keras, seperti aspal jalan, bebatuan atau benda kasar
lainnya. Sementara luka tusuk (vulnus functum), yakni luka yang disebabkan benda tajam seperti
pisau, paku dan sebagainya. Biasanya pada luka tusuk, darah tidak keluar (keluar sedikit) kecuali
benda penusuknya dicabut. Luka tusuk sangat berbahaya bila mengenai organ vital seperti paru,
jantung, ginjal maupu abdomen.
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi bentuk luka tusuk, salah satunya adalah reaksi korban
saat ditusuk atau saat pisau keluar, hal tersebut dapat menyebabkan lukanya menjadi tidak begitu
khas. Atau manipulasi yang dilakukan pada saat penusukan juga akan mempengaruhi. Beberapa pola
luka yang dapat ditemukan :
1. Tusukan masuk, yang kemudian dikeluarkan sebagian, dan kemudian ditusukkan kembali
melalui saluran yang berbeda. Pada keadaan tersebut luka tidak sesuai dengan gambaran
biasanya dan lebih dari satu saluran dapat ditemui pada jaringan yang lebih dalam maupun
pada organ.
2. Tusukan masuk kemudian dikeluarkan dengan mengarahkan ke salah satu sudut, sehingga
luka yang terbentuk lebih lebar dan memberikan luka pada permukaan kulit seperti ekor.
3. Tusukan masuk kemuadian saat masih di dalam ditusukkan ke arah lain, sehingga saluran
luka menjadi lebih luas. Luka luar yang terlihat juga lebih luas dibandingkan dengan lebar
senjata yang digunakan.
4. Tusukan masuk yang kemudian dikeluarkan dengan mengggunakan titik terdalam sebagai
landasan, sehingga saluran luka sempit pada titik terdalam dan terlebar pada bagian
superfisial. Sehingga luka luar lebih besar dibandingkan lebar senjata yang digunakan.
5. Tusukan diputar saat masuk, keluar, maupun keduanya. Sudut luka berbentuk ireguler dan
besar.

A. Anatomi
Abdomen depan
Walaupun abdomen sebagian dibatasi oleh toraks bagian bawah, definisi abdomen depan
adalah bidang yang dibatasi dibagian superior oleh garis intermammaria, di inferior dibatasi oleh
kedua ligament inguinale dan simfisis pubis serta di lateral oleh kedua linea aksilaris anterior.

Pinggang
1

Ini merupakan daerah yang berada diantara linea axilaris anterior dan linea axilaris posterior,
dari sela iga ke-6 di atas, ke bawah sampai crista iliaka. Di lokasi ini adanya dinding otot abdomen
yang tebal, berlainan dengan dinding otot pelindung terutama terhadap luka tusuk.
Punggung
Daerah ini berada dibelakang dari linea axilaris posterior, dari ujung bawah scapula sampai
crista iliaka. Seperti halnya daerah flank, disini otot punggung dan otot paraspinal menjadi pelindung
terhadap trauma tajam
Anatomi dalam dari abdomen
Ada tiga region yang berlainan disini yaitu rongga peritoneal, rongga peritoneal dan rongga
pelvis. Rongga pelvis mengadung bagian-bagian dari rongga peritoneal maupun retroperitoneal.
Rongga peritoneal
Rongga peritoneal menjadi 2 bagian, yaitu atas dan bawah. Rongga peritoneal atas dilindungi
oleh bagian bawah dari dinding thoraks yang mencakup diafragma, hepar, lien, gaster, dan kolon
transversum. Bagian ini juga disebut komponen thoracoabdominal dari abdomen. Pada saat diafragma
naik sampai sela iga ke IV pada waktu ekspirasi penuh, setiap terjadi fraktur iga maupun luka tusuk
tembus di bawah garis intermammaria bias mencederai organ dalam abdomen. Rongga peritoneal
bawah berisikan usus halus, bagian colon ascendens dan colon descendens, colon sigmoid, dan pada
wanita, organ reproduksi internal.

Rongga pelvis
Rongga pelvis, yang dilindungi oleh tulang- tulang pelvis, sebenarnya merupakan bagian
bawah dari rongga intraperitoneal, sekaligus bagian bawah dari rongga retroperitoneal. Terdapat
didalamnya rectum, vesika urinaria, pembuluh-pembuluh iliaka, dan pada wanita organ reproduksi
internal. Sebagaimana halnya bagian thoracoabdominal, pemeriksaan organ-organ pelvis terhalang
oleh bagian-bagian tulang diatasnya.
Rongga Retroperitoneal
Rongga yang potensial ini adalah rongga yang berada dibelakang dinding peritoneum yang
melapisi abdomen, dan didalamnya terdapat aorta abdominalis, vena cava superior, sebagian besar
dari duodenum, pancreas, ginjal dan ureter serta sebagian posterior dari colon ascendens dan colon
descendens, dan juga bagian rongga pelvis yang retroperitoneal. Cedera pada organ retroperitoneal
sulit dikenali karena daerah ini jauh dari jangkauan pemeriksaan fisik yang biasa, dan juga cedera
disini pada awalnya tidak akan memperilihatkan tanda maupun gejala peritonitis. Disamping itu,
rongga ini tidak termasuk dalam bagian yang diperiksa sampelnya pada diagnostic peritoneal lavage
(DPL).
2

Setiap

area

memiliki

batas-batas

torso

anatomi,

sebagai

berikut:

Thoracoabdominal

Papilla mammae ke kosta ke-12, antara baris aksilaris anterior

Abdomen

Papilla

mammae

Flank

Antara

ipsilateral

Belakang

Di bawah ujung tulang belikat, antara garis aksila posterior

ke

anus,

baris

antara

aksilaris

baris
anterior

aksilaris

anterior

dan

posterior

B. Pengertian Luka Tusuk Abdomen


Luka tusuk merupakan bagian dari trauma tajam yang mana luka tusuk masuk ke dalam
jaringan tubuh dengan luka sayatan yang sering sangat kecil pada kulit, misalnya luka tusuk pisau.
Berat ringannya luka tusuk tergantung dari dua faktor yaitu :
1. Lokasi anatomi injury
2. Kekuatan tusukan, perlu dipertimbangkan panjangnya benda yang digunakan untuk menusuk
dan arah tusukan.
Jika abdomen mengalami luka tusuk, usus yang menempati sebagian besar rongga abdomen akan
sangat rentan untuk mengalami trauma penetrasi. Secara umum organ-organ padat berespon terhadap
trauma dengan perdarahan. Sedangkan organ berongga bila pecah mengeluarkan isinya dalam hal ini
bila usus pecah akan mengeluarkan isinya ke dalam rongga peritoneal sehingga akan mengakibatkan
peradangan atau infeksi.
Trauma abdomen adalah cedera pada abdomen, dapat berupa trauma tumpul dan tembus serta
trauma yang disengaja atau tidak disengaja (Smeltzer, 2001). Trauma perut merupakan luka pada isi
rongga perut dapat terjadi dengan atau tanpa tembusnya dinding perut dimana pada
penanganan/penatalaksanaan lebih bersifat kedaruratan dapat pula dilakukan tindakan laparatomi
(FKUI, 1995).
B. Etiologi dan Klasifikasi
Luka tembak, dianggap tinggi kecepatan proyektil, adalah penyebab yang paling umum
(64%) menembus trauma perut, diikuti oleh luka tusukan (31%) dan luka senapan (5%).
Trauma tembus abdomen mungkin hasil dari kekerasan. Kekerasan dalam rumah tangga melintasi
semua hambatan sosial ekonomi dan merupakan pertimbangan penting dalam evaluasi luka yang
diderita di rumah dan mereka dilaporkan melibatkan keluarga pasien atau orang penting lainnya.
Trauma tembus abdomen dapat terjadi secara iatrogenik. Sebuah komplikasi peritoneal lavage
ditemukan pada cedera usus yang mendasari, kandung kemih, atau pembuluh besar seperti aorta atau
vena cava. Namun, kejadian komplikasi tersebut relatif kecil.
1. Trauma tembus (trauma perut dengan penetrasi kedalam rongga peritonium).Disebabkan
oleh : luka tusuk, luka tembak.
3

2. Trauma tumpul (trauma perut tanpa penetrasi kedalam rongga peritonium).Disebabkan oleh :
pukulan, benturan, ledakan, deselerasi, kompresi atau sabuk pengaman (set-belt) (FKUI,
1995).
C. Patofisiologi
Patofisiologi yang terjadi berhubungan dengan terjadinya trauma abdomen adalah :
1. Terjadi perpindahan cairan berhubungan dengan kerusakan pada jaringan, kehilangan darah
dan shock.
2. Perubahan metabolic dimediasi oleh CNS dan system makroendokrin, mikroendokrin.
3. Terjadi masalah koagulasi atau pembekuan dihubungkan dengan perdarahan massif dan
transfuse multiple
4. Inflamasi, infeksi dan pembentukan formasi disebabkan oleh sekresi saluran pencernaan dan
bakteri ke peritoneum
5. Perubahan nutrisi dan elektrolit yang terjadi karena akibat kerusakan integritas rongga saluran
pencernaan.
Limpa :
Merupakan organ yang paling sering terkena kerusakan yang diakibatkan oleh trauma tumpul. Sering
terjadi hemoragi atau perdarahan masif yang berasal dari limpa yang ruptur sehingga semua upaya
dilakukan untuk memperbaiki kerusakan di limpa.
Liver :
Karena ukuran dan letaknya, hati merupakan organ yang paling sering terkena kerusakan yang
diakibatkan oleh luka tembus dan sering kali kerusakan disebabkan oleh trauma tumpul. Hal utama
yang dilakukan apabila terjadi perlukaan dihati yaitu mengontrol perdarahan dan mendrainase cairan
empedu.
Esofagus bawah dan lambung :
Kadang-kadang perlukaan esofagus bawah disebabkan oleh luka tembus. Karena lambung fleksibel
dan letaknya yang mudah berpindah, sehingga perlukaan jarang disebabkan oleh trauma tumpul tapi
sering disebabkan oleh luka tembus langsung.

Pankreas dan duodenum :

Walaupun trauma pada pankreas dan duodenum jarang terjadi. Tetapi trauma pada abdomen yang
menyebabkan tingkat kematian yang tinggi disebkan oleh perlukaan di pankreas dan duodenum, hal
ini disebabkan karena letaknya yang sulit terdeteksi apabila terjadi kerusakan.
D. Mekanisme Trauma
Trauma Tajam
Luka tusuk ataupun luka tembak ( kecepatan rendah) akan mengakibatkan kerusakan jaringan
karena laserasi ataupun terpotong, luka tembak dengan kecepatan tinggi akan menyebabkan transfer
energy kinetic yang lebih besar terhadap organ viscera, dengan adanya efek tambahan berupa
temporary cavitation, dan bisa pecah menjadi fragmen yang mengakibatkan kerusakan lainnya.
Luka tusuk tersering mengenai hepar (40%), usus halus (30%), diafragma (20%) dan colon
(15%). Luka tembak mengakibatkan kerusakan yang lebih besar, yang ditentukan oleh jauhnya
perjalanan peluru, dan berapa besar energi kinetiknya maupun kemungkinan pantulan peluru oleh
organ tulang, maupun efek pecahan tulangnya. Luka tembak paling sering mengenai usus halus
(50%), colon (40%), hepar (30%), dan pembuluh darah abdominal (25%).
Teori-teori tradisional mengharuskan seluruh kasus luka tembak dengan kecurigaan trauma
intra-abdominal,

memerlukan

tindakan

laparotomi

eksplorasi.

Beberapa

penulis

telah

mendeskripsikan pendekatan yang lebih tidak agresif untuk beberapa kasus pasien dengan trauma
tajam abdomen, termasuk luka tembak kecepatan rendah. Penatalaksanaan non-operatif pada pasien
dengan luka tembak dengan penetrasi peritoneum masih bersifat kontroversial. Pasien yang
menunjukkan tanda hipotensi walaupun telah mendapat resusitasi cairan kristaloid membutuhkan
laparotomi eksplorasi segera, antibiotika, dan booster tetanus. Bagi pasien dengan hemodinamik
stabil, setelah invasi intraperitoneal sudah dipastikan tidak terjadi, penatalaksanaan konservatif
terhadap luka superfisial abdomen dapat dilaksanakan. Untuk semua kasus luka tembak abdomen,
segera minta bantuan konsultasi bagian bedah.3
Beberapa institusi telah membuat kebijakan akan dilakukannya laparotomi untuk luka tembak
abdominal berdasarkan tingginya insidensi trauma organ pada kasus luka tembak. Satu-satunya
pengecualian kebijakan ini adalah pada pasien stabil dengan jalur peluru yang tidak jelas, keraguan
akan penetrasi peritoneal, atau luka pada regio torakoabdominal sehingga penilaian selanjutnya
diperlukan untuk mengetahui apakan trauma tersebut hanya murni thorax. Pada kasus ini, laparoskopi
sebaiknya dilakukan pada pasien yang telah dipersiapkan untuk laparotomi dengan pengalaman dalam
menilai luka tembak. 3
Pasien dengan luka tusuk membutuhkan resusitasi, booster tetanus, dan antibiotika jika terjadi
kecurigaan terlibatnya intraperitoneal. Seorang ahli bedah sebaiknya melakukan seluruh prosedur ini
untuk semua luka terutama luka superfisial dengan staf dan pencahayaan yang adekuat. DPL, CTscan, dan laparoskopi dapat digunakan. Bila keterlibatan peritoneal telah dipastikan tidak terjadi,
pasien dapat dipulangkan dengan instruksi luka lokal. Bila peritoneum telah terlibat, berdasarkan teori
5

tradisional, harus membutuhkan laparotomi eksplorasi. Beberapa ahli bedah mulai meneliti beberapa
pasien tanpa tanda pasti trauma intraperitoneal pada pemeriksaan fisik atau identifikasi dengan
menggunakan radiologi, dapat diberikan penatalaksanaan yang hampir sama seperti pada luka tembak
kecepatan rendah.
Pada kasus penetrasi peritoneal, laparatomi merupakan suatu keharusan, maka dari itu pada
kasus penetrasi peritoneal harus dilakukan laparoskopi atau eksplorasi luka pada ruang operasi.
E. Tanda dan Gejala
1. Trauma tembus (trauma perut dengan penetrasi kedalam rongga peritonium) :

Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ

Respon stres simpatis

Perdarahan dan pembekuan darah

Kontaminasi bakteri

Kematian sel

2. Trauma tumpul (trauma perut tanpa penetrasi kedalam rongga peritonium).

Kehilangan darah.

Memar/jejas pada dinding perut.

Kerusakan organ-organ

Nyeri tekan, nyeri ketok, nyeri lepas dan kekakuan (rigidity) dinding perut.

Iritasi cairan usus (FKUI, 1995).

F. Pemeriksaan diagnostik
l. Foto thoraks
Untuk melihat adanya trauma pada thorax.
2. Pemeriksaan darah rutin
Pemeriksaan Hb diperlukan untuk base-line data bila terjadi perdarahan terus menerus.
Demikian pula dengan pemeriksaan hematokrit. Pemeriksaan leukosit yang melebihi 20.000/mm
tanpa terdapatnya infeksi menunjukkan adanya perdarahan cukup banyak kemungkinan ruptura
lienalis. Serum amilase yang meninggi menunjukkan kemungkinan adanya trauma pankreas atau
perforasi usus halus. Kenaikan transaminase menunjukkan kemungkinan trauma pads hepar.
3. Plain abdomen foto tegak

Memperlihatkan udara bebas dalam rongga peritoneum, udara bebas retroperineal dekat
duodenum, corpus alineum dan perubahan gambaran usus
4. Pemeriksaan urine rutin
Menunjukkan adanya trauma pada saluran kemih bila dijumpai hematuri. Urine yang jernih belum
dapat menyingkirkan adanya trauma pada saluran urogenital.
5. IVP (Intravenous Pyelogram
Dimintakan bila ada persangkaan trauma pada ginjal.
6. Diagnostic Peritoneal Lavage (DPL)
Dapat membantu menemukan adanya darah atau cairan usus dalam rongga perut. Hasilnya
dapat amat membantu. Tetapi DPL ini hanya alat diagnostik. Bila ada keraguan, kerjakan laparatomi
(gold standard).
Indikasi untuk melakukan DPL sbb.:
Nyeri Abdomen yang tidak bisa diterangkan sebabnya
Trauma pada bagian bawah dari dada
Hipotensi, hematokrit turun tanpa alasan yang jelas
Pasien cedera abdominal dengan gangguan kesadaran (obat,alkohol, cedera otak)
Pasien cedera abdominal dan cedera medula spinalis (sumsum tulang belakang)
Patah tulang pelvis
Kontra indikasi relatif melakukan DPL sbb.:
Hamil
Pernah operasi abdominal
Operator tidak berpengalaman
Bila hasilnya tidak akan merubah penata-laksanaan

7. Ultrasonografi dan CT Scan


Sebagai pemeriksaan tambahan pada penderita yang belum dioperasi dan disangsikan adanya
trauma pada hepar dan retroperitoneum.
Pemeriksaan khusus
A) Abdominal paracentesis
Merupakan pemeriksaan tambahan yang sangat berguna untuk menentukan adanya perdarahan dalam
rongga peritoneum. Lebih dari 100.000 eritrosit/mm dalam larutan NaCl yang keluar dari rongga
peritoneum setelah dimasukkan 100200 ml larutan NaCl 0.9% selama 5 menit, merupakan indikasi
untuk laparotomi.
B) Pemeriksaan laparoskopi
Dilaksanakan bila ada akut abdomen untuk mengetahui langsung sumber penyebabnya.
C) Bila dijumpai perdarahan dari anus perlu dilakukan rekto-sigmoidoskopi.

G. Penatalaksanaan
Manajemen
PEDOMAN:
Pengelolaan trauma ganda yang berat memerlukan kejelasan dalam menetapkan prioritas.
Tujuannya adalah segera mengenali cedera yang mengancam jiwa dengan Survey
Primer, seperti :
Obstruksi jalan nafas
Cedera dada dengan kesukaran bernafas
Perdarahan berat eksternal dan internal
Cedera abdomen
Jika ditemukan lebih dari satu orang korban maka pengelolaan dilakukan berdasar prioritas (triage)
Hal ini tergantung pada pengalaman penolong dan fasilitas yang ada.Survei ABCDE (Airway,
Breathing, Circulation, Disability, Exposure) ini disebut survei primer yang harus selesai dilakukan
dalam 2 - 5 menit. Terapi dikerjakan serentak jika korban mengalami ancaman jiwa akibat banyak
sistem yang cedera :
Airway
Menilai jalan nafas bebas. Apakah pasien dapat bicara dan bernafas dengan bebas ?
Jika ada obstruksi maka lakukan :
Chin lift / jaw thrust (lidah itu bertaut pada rahang bawah)
Suction / hisap (jika alat tersedia)
8

Guedel airway / nasopharyngeal airway


Intubasi trakhea dengan leher di tahan (imobilisasi) pada posisi netral
Breathing
Menilai pernafasan cukup. Sementara itu nilai ulang apakah jalan nafas bebas.
Jika pernafasan tidak memadai maka lakukan :
Dekompresi rongga pleura (pneumotoraks)
Tutuplah jika ada luka robek pada dinding dada
Pernafasan buatan
Berikan oksigen jika ada. Penilaian ulang ABC harus dilakukan lagi jika kondisi pasien tidak stabil.
Sirkulasi
Menilai sirkulasi / peredaran darah. Sementara itu nilai ulang apakah jalan nafas bebas
dan pernafasan cukup. Jika sirkulasi tidak memadai maka lakukan :
Hentikan perdarahan eksternal
Segera pasang dua jalur infus dengan jarum besar (14 - 16 G)
Berikan infus cairan
Disability
Menilai kesadaran dengan cepat, apakah pasien sadar, hanya respons terhadap nyeri atau
sama sekali tidak sadar. Tidak dianjurkan mengukur Glasgow Coma Scale
AWAKE

=A

RESPONS BICARA (verbal) = V


RESPONS NYERI = P
TAK ADA RESPONS = U
Cara ini cukup jelas dan cepat.
Eksposure
Lepaskan baju dan penutup tubuh pasien agar dapat dicari semua cedera yang mungkin
ada. Jika ada kecurigaan cedera leher atau tulang belakang, maka imobilisasi in-line harus
dikerjakan.
Penatalaksanaan trauma tajam abdomen :
1.

Ikuti

ABC,

dan

resusitasi

pasien

sesuai

dengan

temuan

dari

survei

primer.

2. Menilai perut mencari entri luka, perdarahan dan peritoneum temuan. Cedera dada dapat dikaitkan
dengan menembus perut cedera, karena itu, pastikan tanda dan gejala yang jelas dipahami.
a. Tentukan apakah ada gejala atau tanda-tanda sugestif langsung kebutuhan untuk intervensi bedah.
i.
ii.
iii.

Herniated isi perut.


Besar pendarahan dari luka.
Jelas tanda-tanda peritoneal

iv.
v.

hemoperitoneum.
Tanda-tanda ketidakstabilan hemodinamik yang terkait dengan perut cedera.
Tanda iskemia ekstremitas bawah sugestif vaskular cedera dengan nyeri atau bukti lain.

konsisten

dengan

kental

berongga

cedera

atau

vi.

Semua luka tembak intraperitoneal penetrasi atau cedera organ retroperitoneal.

b. Jika tanda-tanda di atas hadir, kemudian mengambil pasien untuk pembedahan segera untuk
laparotomi eksplorasi.
c. Untuk luka tusuk, jika tidak ada tanda-tanda di atas hadir, menentukan lokasi luka dan
mengklasifikasikan sebagai:
i. Anterior.
ii. Thoracoabdominal.
iii.Posterior atau panggul.
d. Jika luka tusuk adalah anterior :
i. Menentukan apakah luka memasuki rongga peritoneum oleh visual menjelajahi luka. Hal
ini dilakukan dengan infiltrasi anestesi lokal, kemudian prepping dan mengalungkan luka.
Luka

diperpanjang

jika

perlu

untuk

memungkinkan

visual

pemeriksaan luka untuk menentukan kedalaman. Liberal penggunaan retraktor dan asisten
akan memfasilitasi luka eksplorasi.
ii. Jika luka tidak menembus fasia anterior, maka luka dapat debridement, irigasi dan tertutup.
Pasien mungkin akan habis jika tidak ada luka lain ada.
iii. Jika luka tidak menembus fasia anterior, laparotomi harus dipertimbangkan. Jika pasien
tidak memiliki bukti iritasi peritoneal, maka Diagnostik Peritoneal lavage (DPL) harus
dilakukan. Sebelum DPL, kateter Foley dan tabung NG harus ditempatkan. Laparotomi
ditunjukkan dengan gross hematuria atau darah dari tabung NG. Ambang batas untuk
sebuah DPL dalam situasi adalah RBC 5000/mm. Cairan lavaged dari kateter Foley,
tabung NG atau tabung dada juga mengamanatkan eksplorasi. Semua pasien dengan
penetrasi
tidak

peritoneum

diambil

untuk

operasi

harus

diakui

yang
selama

24

jam

observasi

e. Jika luka thoracoabdominal


i. Mendapatkan sinar-X dada dengan spidol untuk menentukan luka adanya cedera dada dan
untuk menentukan hubungan masuk luka pada diafragma.
ii. Jika luka mungkin bisa menembus diafragma, pertimbangkan DPL dengan ambang batas
untuk jumlah RBC 5000/mm.
f. Jika luka posterior atau panggul :
i. Masukkan kateter Foley untuk menentukan adanya hematuria.
ii. Mendapatkan tiga kontras CT scan untuk menentukan cedera dengan organ retroperitoneal.
Sebaliknya tiga berarti kontras diberikan IV, melalui mulut atau dengan tabung NG, dan
rektum per. Pertimbangan dapat diberikan untuk menempatkan kontras-direndam spons ke
dalam

luka

untuk

membantu

pelokalan

cedera.

g. Untuk luka panggul yang mungkin telah dilalui rektum:


10

i. Lakukan

anoskopi

adanya cacat mukosa.


ii. Pertimbangkan
washout

dan
pengalihan,

sigmoidoskopi
drainase

untuk
dan

rektal

menentukan
jika

cedera

ditemukan.

11

BAB III
Kesimpulan
Luka tusuk merupakan bagian dari trauma tajam yang mana luka tusuk masuk ke dalam
jaringan tubuh dengan luka sayatan yang sering sangat kecil pada kulit, misalnya luka tusuk pisau.
Tanda dan gejala luka tusuk abdomen terdiri dari dua yaitu adanya Trauma tembus (trauma
perut dengan penetrasi kedalam rongga peritonium) :Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ,
respon stres simpatis, Perdarahan dan pembekuan darah,Kontaminasi bakteri danKematian sel.
Kemudian adanya Trauma tumpul (trauma perut tanpa penetrasi kedalam rongga peritonium) berupa
Kehilangan darah, memar/jejas pada dinding perut, Kerusakan organ-organ, nyeri tekan, nyeri ketok,
nyeri lepas dan kekakuan (rigidity) dinding perut dan Iritasi cairan usus .
Adapun pengkajian yang terpenting untuk asuhan kegawat daruratan adalah Airway : Muntah
darah; Breathing: Nafas tersengal-sengal dan Circulation :Pendarahan,syok.

12