Anda di halaman 1dari 6

KEJANG DEMAM

SOP

No.
Dokumen
No. Revisi
Tanggal
Terbit
Tanggal
Berlaku
Halaman

: 445/11319.c/UPT
:0
: 21 Oktober 2015
: 21 Oktober 2015
: 1 dari 3 halaman
dr. Sonny
Budiman

UPT
PUSKESMAS
CIGOMBONG
1. PENGERTIAN

NIP.
1979102920100110
07

Definisi:
Kejang Demam (KD) adalah bangkitan kejang yang terjadi pada
kenaikan suhu tubuh (suhu rektal > 38 C) akibat dari suatu
o

proses ekstra kranial. Kejang berhubungan dengan demam,


tetapi tidak terbukti adanya infeksi intrakranial atau penyebab
lain.

Klasifikasi:
1. Kejang Demam Sederhana (KDS)
1. Kejang generalisata
2. Durasi: < 15 menit
3. Kejang tidak disebabkan oleh adanya meningitis,
encephalitis, atau penyakit yang berhubungan dengan
gangguan di otak
4. Kejang tidak berulang dalam 24 jam.
2. Kejang Demam Kompleks
1. Kejang fokal
2. Durasi: > 15 menit
3. Dapat terjadi kejang berulang dalam 24 jam.
Diagnosis Banding
a. Meningitis
b. Ensefalitis
c. Epilepsi
d. Gangguan metabolik, seperti: gangguan elektrolit.
Komplikasi
a. Kerusakan sel otak
b. Risiko kejang atipikal apabila kejang demam sering
berulang

2. TUJUAN

Memberikan kemudahan dan sebagai acuan bagi praktisi


kesehatan (Puskesmas) dalam penangan/ penatalaksanaan

3. KEBIJAKAN

pertama Kejang Demam


Surat Keputusan Kepala

4. REFERENSI

10838.b/pkmcgb/2015 tentang Pelayanan Klinis


Permenkes RI No 5/2014,ttg Panduan praktik klinik bagi

5. PROSEDUR

Puskesmas

No.

445/

SK-

dokter
1. Petugas menyiapkan alat stetoskop, tensimeter,
timbangan dewasa, timbangan bayi
2. Petugas mencuci tangan
3. Pasien dipanggil berdasar nomer urut pasien
4. Perawat/ bidan melakukan pemeriksaan TTB dan
pengkajian awal klinis sesuai SOP
5. Pasien masuk ke ruang pemeriksaan dokter
6. Pemeriksa melakukan anamnesis
Keluhan
Keluhan utama adalah kejang. Anamnesis dimulai dari
riwayat perjalanan penyakit sampai terjadinya kejang,
kemudian mencari kemungkinan adanya faktor pencetus
atau penyebab kejang. Umumnya kejang demam pada
anak dan berlangsung pada permulaan demam akut,
berupa serangan kejang klonik umum atau tonik klonik,
singkat dan tidak ada tanda-tanda neurologi post iktal.
Penting untuk ditanyakan riwayat kejang sebelumnya,
kondisi medis yang berhubungan, obat-obatan, trauma,
gejala infeksi, keluhan neurologis, nyeri atau cedera
akibat kejang.
Faktor risiko
a. Demam
1. Demam yang berperan pada KD, akibat:
Infeksi saluran pernafasan
Infeksi saluran pencernaan
Infeksi saluran air seni
Roseola infantum
Paska imunisasi
2. Derajat demam:
75% dari anak dengan demam 390C
25% dari anak dengan demam > 400C
b. Usia

1. Umumnya terjadi pada usia 6 bulan 6 tahun


2. Puncak tertinggi pada usia 17 23 bulan
3. Kejang demam sebelum 5 6 bulan mungkin
disebabkan oleh infeksi SSP
4.

Kejang

demam

diatas

umur

tahun,

perlu

dipertimbangkan febrile seizure plus (FS+).


c. Gen
1. Risiko meningkat 2 3x bila saudara kejang demam
2. Risiko meningkat 5% bila orang tua menderita kejang
demam
7. Pemeriksa melakukan pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dimulai dengan tanda-tanda vital,
mencari tanda-tanda trauma akut kepala, dan adanya
kelainan sistemik, terpapar zat toksik, infeksi, atau
adanya kelainan neurologis fokal.
Bila terjadi penurunan kesadaran diperlukan pemeriksaan
lanjutan untuk mencari faktor penyebab.
8. Pemeriksa melakukan pemeriksaan penunjang bila
diperlukan
Untuk

menentukan

faktor

penyebab

dan

komplikasi

kejang pada anak, diperlukan beberapa pemeriksaan


penunjang antara lain, yaitu:
a.

Laboratorium

darah,

seperti:

kadar

gula

darah,

elektrolit, dan hitung jenis. Pemeriksaan ini dianjurkan


pada pasien dengan kejang pertama.
b. Pemeriksaan urin direkomendasikan pada pasien yang
tidak memiliki kecurigaan fokus infeksi.
9. Pemeriksa melakukan penatalaksanaan pasien
Penatalaksanaan
a. Keluarga pasien diberikan informasi selengkapnya
mengenai kejang demam dan prognosisnya.
b. Pemberian farmakoterapi untuk mengatasi kejangnya
adalah dengan: Diazepam per rektal (0,5mg/kg) atau
lorazepam (0,1 mg/kg) harus segera diberikan jika
akses intravena tidak dapat dibangun dengan mudah.
Konseling dan Edukasi
Konseling dan edukasi dilakukan untuk membantu pihak

keluarga mengatasi pengalaman menegangkan akibat


kejang demam dengan memberikan informasi mengenai:
a. Prognosis dari kejang demam.
b. Tidak ada peningkatan risiko keterlambatan sekolah
atau kesulitan intelektual akibat kejang demam.
c.

Kejang

demam

kurang

dari

30

menit

tidak

mengakibatkan kerusakan otak.


d. Risiko kekambuhan penyakit yang sama di masa depan.
e. Rendahnya risiko terkena epilepsi dan kurangnya
manfaat menggunakan terapi obat antiepilepsi dalam
mengubah risiko itu.
10. Petugas melakukan rujukan pasien sesuai dengan
indikasi
a. Apabila kejang tidak membaik setelah diberikan obat
antikonvulsi.
b. Apabila kejang demam sering berulang disarankan
6. DOKUMEN

EEG.
rekam medis

TERKAIT
informed concent
7. UNIT TERKAIT BP, UGD, laboratorium, dan rawat inap

KEJANG DEMAM
No Dokumen
No Revisi
DAFTA
R TILIK

Tanggal
Terbit
Tanggal
Berlaku
Halaman

1 halaman
dr. Sonny
Budiman

UPT PUSKESMAS
CIGOMBONG

NO

NIP.
19791029201001100
7

KEGIATAN

YA

TIDAK

1.

Apakah petugas menyiapkan alat stetoskop,


tensimeter, timbangan dewasa, timbangan bayi?

2.

Apakah petugas mencuci tangan?

3.

Apakah pasien dipanggil berdasar nomor urut


pasien?

4.

Apakah perawat/ bidan melakukan pemeriksaan


TTB & pengkajian awal klinis sesuai SOP?

5.

Apakah pasien masuk ke ruang pemeriksaan


dokter?

6.

Petugas melakukan anamnesis kepada pasien


mengenai keluhan dan faktor resiko penyakit?

TIDAK
BERLAKU

7.

Apakah petugas melakukan pemeriksaan fisik


kepada pasien?

8.

Apakah
petugas
melakukan
penunjang apabila diperlukan?

9.

Apakah petugas menegakkan diagnosis penyakit


pasien?

10.

Apakah petugas melakukan penatalaksanaan


kepada pasien sesuai dengan SOP?

11.

Apakah petugas melakukan rujukan sesuai dengan


indikasi?

pemeriksaan

Jumlah
Compliance rate ( CR )

Bogor,
Observer tindakan

................................

Anda mungkin juga menyukai