Anda di halaman 1dari 8

BAB II

LANDASAN TEORI
II.1 Dasar Teori
Titik anilin/Aniline Point (AP) didefinisikan sebagai suhu terendah dimana volume
anilin dan sampel yang sama menjadi benar-benar terlarut. Titik anilin merupakan
parameter yang berhubungan dengan jenis hidrokarbon dalam fraksi minyak bumi. Titik
anilin berguna dalam perhitungan panas pembakaran, indeks kadar hidrogen diesel dan
minyak bakar. Untuk produk non-BBM seperti pelarut titik anilin biasanya ditentukan
untuk mengukur efektivitas mereka (Albahri, Riazi, & Alqattan, 2002).
Titik anilin didefinisikan sebagai suhu di mana volume sama anilin (C6H5NH2) dan
minyak diesel benar-benar larut. Nilai ini memberikan indikasi kandungan aromatik
minyak solar, karena anilin merupakan senyawa aromatik yang terlarut pada pemanasan
oleh aromatik dalam minyak diesel. Semakin besar titik anilin, semakin rendah aromatik
dalam minyak diesel. Sebuah titik anilin yang lebih tinggi juga menunjukkan proporsi
yang lebih tinggi dari parafin (Afifah, 2011).
Indeks diesel berhubungan langsung dengan titik anilin sebagai: DIESEL INDEX
= ((ANILINE POINT(DEG F))(API GRAVITY))/100. Sebuah titik anilin yang lebih
tinggi (dan karena itu kandungan aromatik rendah) dalam minyak diesel diinginkan, untuk
mencegah autosulutan dalam mesin diesel. Dalam kasus-kasus dimana kandungan
aromatik dalam minyak yang sangat tinggi, dalam kasus seperti "Campuran Anilina Point"
perlu saya diukur untuk menentukan isi perkiraan aromatik dalam minyak (Chawla,
Shashi. 2011. Aniline Point. )
Titik anilin (AP) adalah karakteristik lain dari fraksi minyak bumi yang
menunjukkan tingkat Aromatisitas campuran hidrokarbon. Titik anilin didefinisikan
sebagai suhu terendah dimana volume anilin yang sama dan sampel menjadi benar-benar
larut. Sebagai jumlah aromatik di titik luka fraksi minyak bumi meningkat anilin. Oleh
karena itu, titik anilin merupakan parameter yang sangat terkait dengan jenis hidrokarbon
dalam fraksi minyak bumi. titik anilina adalah parameter yang berguna dalam perhitungan
panas pembakaran indeks diesel dan kandungan hidrogen bahan bakar minyak bumi.
Untuk produk non-BBM seperti titik anilin pelarut biasanya ditentukan untuk mengukur
efektivitas mereka. Linden menggunakan metode karakterisasi Watson dan Nelson untuk
mengembangkan korelasi sederhana untuk memprediksi titik anilin titik didih dan gravitasi
API [4]. Namun, korelasi ini awalnya dikembangkan berdasarkan sampel hanya 37
(Albahri, A.T. 2002. Octane Number and Aniline Point of Petroleum Fuels. Kuwait.
Chemical Engineering Department.)
Untuk meningkatkan CN dapat dilakukan dengan cara menambahkan aditif
pada bahan bakar solar. Reformulasi minyak solar dengan semua bioaditif menyebabkan
penurunan titik anilin relatif terhadap minyak solar murni. Hal ini disebabkan oleh
senyawa aromatis yang terkandung dalam bioaditif. Kadar aromatis dalam minyak solar
yang tinggi menyebabkan minyak solar akan mudah larut dalam anilin dalam suhu yang
relatif rendah. Kerugian dari rendahnya titik anilin adalah dapat menurunkan kualitas self
II-1

BAB 2 LANDASAN
TEORI
ignition yang mengindikasikan penundaan penyalaan semakin bertambah dan cenderung
menurunkan bilangan setana bahan bakar. Selain itu kandungan aromatis yang lebih tinggi
cenderung menyebabkan terbantuknya endapan pada injektor bahan bakar dan komponen
lainnya (Sudrajad A, 2005).
II.1.2 Bahan Bakar
Bahan bakar adalah suatu materi apapun yang bisa diubah menjadi energi. Biasanya
bahan bakar mengandung energi panas yang dapat dilepaskan dan dimanipulasi.
Kebanyakan bahan bakar digunakan manusia melalui proses pembakaran (reaksi redoks)
dimana bahan bakar tersebut akan melepaskan panas setelah direaksikan dengan oksigen di
udara. Proses lain untuk melepaskan energi dari bahan bakar adalah melalui reaksi
eksotermal dan reaksi nuklir. Hidrokarbon (termasuk di dalamnya bensin dan solar) sejauh
ini merupakan jenis bahan bakar yang paling sering digunakan manusia. Bahan bakar
lainnya yang bisa dipakai adalah logam radioaktif.
Bahan bakar berdasarkan materinya pada umumnya dibedakan berdasarkan
aplikasinya yaitu:
a) Bahan bakar padat
Bahan bakar padat merupakan bahan bakar berbentuk padat, dan
kebanyakan menjadi sumber energi panas. Misalnya kayu dan batubara. Energi
panas yang dihasilkan bisa digunakan untuk memanaskan air menjadi uap untuk
menggerakkan peralatan dan menyediakan energi.
b) Bahan bakar gas
Bahan bakar gas ada dua jenis, yakni Compressed Natural Gas (CNG) dan
Liquid Petroleum Gas (LPG, CNG pada dasarnya terdiri dari metana sedangkan
LPG adalah campuran dari propana, butana dan bahan kimia lainnya. LPG yang
digunakan untuk kompor rumah tangga, sama bahannya dengan Bahan Bakar Gas
yang biasa digunakan untuk sebagian kendaraan bermotor.
c) Bahan bakar cair
Bahan bakar yang berbentuk cair, paling populer adalah bahan bakar
minyak atau BBM. Selain bisa digunakan untuk memanaskan air menjadi uap,
bahan bakar cair biasa digunakan kendaraan bermotor. Karena bahan bakar cair
seperti Bensin bisa dibakar dalam karburator dan menjalankan mesin (Wikipedia
Indonesia, 2013).
II.1.3 Premium
Sebagai contoh premium mempuyai mempunyai Research Octane Number (RON)
sebesar 88 dan pertamax mempuyai Research Octane Number (RON) sebesar 92. Bensin
premium adalah bensin yang telah diberi TEL (tetra ethyl lead) dan bernilai oktan 88.
Premium adalah bahan bakar minyak jenis distilat berwarna kekuningan yang jernih.
Bensin premium mempuyai sifat anti ketukan yang baik dan dapat dipakai pada mesin
dengan batas kompresi hingga 9,0 : 1 pada semua jenis dan kondisi, namun tidak baik jika
digunakan pada motor bensin dengan kompresi tinggi karena dapat menyebabkan
knocking. Knocking dapat dikurangi dengan menambahkan zat additive, seperti TEL (tetra
ethyl lead, Pb(C2H5)4), MTBE(methyl tertiarybutyl,ether, C5H11O), atau etanol dalam
Laboratorium Teknik
Pembakaran
Program Studi D3 Teknik Kimia
Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh

II - 2

BAB 2 LANDASAN
TEORI
bahan bakar tersebut. Bensin premium produk Pertamina memiliki kandungan maksimum
sulfur (S) 0,05%, timbal (Pb) 0,013% (jenis tanpa timbal) dan Pb 0,3% (jenis dengan
timbal), oksigen (O) 2,72%, pewarna 0,13 gr/100 L, tekanan uap 62 kPa, titik didih 215 C,
serta massa jenis (suhu 15C) 715 780 kg/m3.
Metode berikut, untuk digunakan sebagai sesuatu yang dapat digunakan, mencakup
sebagai berikut:
9.1.1 Metode Uji A, dijelaskan secara rinci dalam Lampiran A1, yang jelas berlaku untuk
sampel atau untuk contoh warna tidak lebih gelap dari ASTM warna No 6,5
sebagaimana ditentukan oleh Uji Metode D 1500, memiliki titik didih awal di atas
anilin yang diharapkan.

Gambar II.1.1 Aniline Point Apparatus


9.1.2 Metode Uji B, dijelaskan secara rinci dalam Lampiran A2, berlaku untuk sampel
berwarna terang, sampel sedikit gelap, dan sampel yang sangat gelap. Sangat cocok
untuk sampel yang terlalu gelap untuk diuji oleh Metode Uji A

Laboratorium Teknik
Pembakaran
Program Studi D3 Teknik Kimia
Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh

II - 3

BAB 2 LANDASAN
TEORI

Gambar II.1.2 Details of Aniline Point and Assembly of Thin-Film Apparatus


9.1.3 Metode Uji C, diuraikan secara rinci dalam lampiran A3, yang jelas berlaku untuk
sampel atau untuk sampel warna tidak lebih gelap dari ASTM warna No 6,5
sebagaimana ditentukan oleh Metode Uji D 1500, memiliki titik didih awal yang
cukup rendah untuk memberikan pembacaan titik anilin yang salah dengan Metode
Uji A, misalnya, bensin penerbangan.

Laboratorium Teknik
Pembakaran
Program Studi D3 Teknik Kimia
Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh

II - 4

BAB 2 LANDASAN
TEORI

Gambar II.1.3 Apparatus for Volatile Samples


9.1.4 Metode Uji D, dijelaskan secara rinci dalam Lampiran A4, berlaku dengan tipe
sampel yang sama pada metode uji C. Metode ini sangat berguna hanya ketika
sejumlah kuantitas (jumlah) terbatas dari sampel tersedia.
9.1.5 Metode Uji E berlaku saat menggunakan peralatan otomatis sesuai dengan petunjuk
pada Lampiran A5
Ketelitian dari metode uji yang diperoleh pengujian statistik hasil uji antar laboratorium
adalah sebagai berikut:
Pengulangan - perbedaan antara hasil tes yang berurutan (dua suhu rata-rata yang diperoleh
dalam serangkaian pengamatan seperti yang dijelaskan dalam bagian 11 yang diperoleh
operator yang sama dengan peralatan yang sama pula di bawah operasi kondisi konstan
pada bahan uji yang serupa, akan dalam jangka panjang, dalam operasi normal dan operasi
metode uji yang benar, melebihi nilai-nilai yang mengikuti hanya dalam satu keadaan
dalam dua puluh keadaan:

A > Tidak ditentukan dari uji kerja sama baru-baru ini, namun perbandingan dengan
mereka diberikan dalam versi 1953 yang dipercaya untuk diaplikasikan.
Kemampuan untuk menghasilkan - Perbedaan antara dua tunggal dan hasil independen
yang diperoleh oleh operator yang berbeda, bekerja di laboratorium yang berbeda pada
material uji yang serupa akan memakan waktu yang lama, dalam operasi normal dan
Laboratorium Teknik
Pembakaran
Program Studi D3 Teknik Kimia
Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh

II - 5

BAB 2 LANDASAN
TEORI
metode uji yang benar, melebihi nilai-nilai yang mengikuti hanya dalam satu keadaan di
dua puluh keadaan.

A >Tidak ditentukan dari uji kerja sama baru-baru ini, namun perbandingan dengan
mereka diberikan dalam versi 1953 yang dipercaya untuk diaplikasikan.
Asumsi - Pernyataan asumsi sekarang sedang dikembangkan oleh subkomite. Ketepatan uji
ini tidak diperoleh sesuai dengan Komite D02 Laporan Penelitian RR: D02-1007, secara
Manual pada data ketelitian menunjukkan untuk Metode ASTM pada Produk Minyak dan
Pelumas.

Laboratorium Teknik
Pembakaran
Program Studi D3 Teknik Kimia
Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh

II - 6

BAB 2 LANDASAN
TEORI

Laboratorium Teknik
Pembakaran
Program Studi D3 Teknik Kimia
Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh

II - 7

BAB 2 LANDASAN
TEORI
(Script MT bold, font size 12)

Laboratorium Teknik
Pembakaran
Program Studi D3 Teknik Kimia
Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh

II - 8