Anda di halaman 1dari 5

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan
Perhitungan dosis
Berat tikus = 135 gram
Anestesi urethan 25 % 1,2 g /mg
1200 mg

= x mg

1000 gram = 135


X =

135 x 1200
1000

X = 162 mg ~ 0,162 gram


Konsentrasi 25%
25 gram = 0,162
100 ml
X

x ml
= 0,162 x 100
25
= 0,648 ml

Usus I 1 ml air di suntikan setelah 1 jam dan di ukur di dapat 0,01 ml

Usus II 1 ml NaCl fisiologis setelah 1 jam dan di ukur di dapat 0,02 ml

Usus III 1 ml NaCl 3 % setelah 1 jam dan di ukur di dapat 0,01 ml

Usus IV 1 ml MgSO4 15% setelah 1 jam dan di ukur di dapat 0,2 ml

Usus V 1 ml MgSO4 1,7% setelah 1 jam dan di ukur di dapat 0,5 ml

B. Pembahasan
Dari hasil pengamatan kita dapat melihat efek obat yang lebih efektif sebagai
laksansia adalah MgSO4 merupakan laksansia yang tergolong mekanisme kerjanya
laksansia osmotis yaitu mekanismenya di dalam usus berdasarkan penarikan air
(osmosis) dari bahan makanan karena tiga perempat dari dosis oral diserap. Akibatnya
adalah pembesaran volume usus dan meningkatnya peristaltik di usus halus dan usus
besar,di samping melunaknya tinja.

Resorpsi antara 15 30 % dari dosis diserap oleh usus yang dapat mengakibatkan
kadar magnesium dalam darah terlampaui tinggi, khususnya bila fungsi ginjal kurang
baik. oleh karena itu garam inggris ini jangan digunakan untuk waktu yang lama. Mulai
kerjanya setelah 1 3 jam. Boleh digunakan selama kehamilan, obat ini masuk ke
dalam air susu ibu.
Sedanngkan unuk NaCl hanya sebagai zat pembanding anorganik dengan MgSO 4
tapi NaCl bukan obat pencahar.

BAB V KESIMPULAN
Obat Pencahar atau laksansia adalah zat zat yang dapat menstimulsi gerakan peristaltik
usus sebagai refleks dari rangsangan langsung terhadap dinding usus dan dengan demikian
meyebabkan atau mempermudah buang air besar ( defekasi ) dan meredakan sembelit.
Beberapa penyebab sembelit di antaranya :
a. Kurang mengkonsumsi serat dan gizi dan atau kurang minum air
b. Adanya penyakit oganik
c. Sebagai efek samping dari penggunaan obat obat tertentu
d. Ketegangan sarf dan emosi (strees )
e. Kehamilan.
Magnesium

sulfat

merupakan

golongan

obat

laksansia

yang

bekerja

secara

osmotis,walaupun kandungan obat laksansia kebanyakan beredar di pasaran kandungannya zat


ini itu karena magnesium sulfat tidak menimbulkan efek samping yang berbahaya,namun di sisi
lain apabila di konsumsi berlebihan dapat terjadi gangguan ginjal

Pada percobaan kali ini ingin mengetahui efek obat laksatif yang diberikan pada hewan
coba tikus secara injeksi terhadap ususnya. Sebelum dilakukan pembedahan, tikus terlebih
dahulu dipingsankan dengan disuntikan urethane (secara intraperitonial) sebanyak 0,7 ml.
Setelah itu dilakukan pembedahan. Aquades yang diberikan ke dalam usus termasuk larutan
hipotonis, yang merupakan keadaan dimana konsentrasi dalam larutan rendah (banyak air).
Ketika larutan hipotonis (aquades) dimasukkan ke dalam lumen usus, maka aquades tersebut
akan diabsorpsi ke luar usus hingga tercapai suatu keseimbangan konsentrasi di dalam maupun
diluar usus. Dari data yang kita peroleh, konsentrasi akhir aquadest berkurang dari 0,8 ml
menjadi 0.1 ml, mungkin dikarenakan ruang ususnya terlalu kecil untuk menampung sebanyak
1ml, sehingga volume akhirnya antara konsentrasi di dalam maupun luar usus tidak tercapai
keseimbangan.
Natrium klorida (NaCl) fisiologis dan MgSO4 1,7% termasuk larutan isotonis. Isotonis
merupakan keadaan dimana konsentrasi larutan dan air dalam keadaan seimbang. NaCl fisiologis
yang diberikan ke dalam lumen usus tidak menimbulkan absorpsi maupun penarikan air ke
dalam lumen karena konsentrasi di luar dan di dalam sudah seimbang. Oleh karena itu, volume
akhir larutan tidak terjadi perubahan yang berarti dari volume awal. Namun pada percobaan ini
volume awal NaCl fisiologis yang asalnya 0,8 ml turun drastis menjadi 0,3 ml. Begitu pula
dengan MgSO4 1,7% hasil volume akhirnya tidak diperoleh data, mungkin hal ini terjadi karena
saat penyuntikan jarum suntiknya kena mengenai dinding usus, sehingga terjadi pembocoran.
Larutan hipertonis pada praktikum ini adalah NaCl 3%. Apabila larutan hipertonis berada
pada lumen usus dalam jumlah tertentu maka cairan akan bergerak dari epitel usus ke lumen
usus. Pergerakan cairan ini akan membuat feses yang padat akan menjadi encer sehingga
defekasi menjadi mudah. Hasil pengamatan menunjukkan ada perubahan volume setelah larutan
hipertonis tersebut dimasukkan ke lumen usus. Larutan NaCl mengalami perubahan volume 0,8
ml menjadi 0,5 ml. Hal ini disebabkan karena epitel ususnya telah mengalami kerusakan, dan
kemungkinan dikhawatirkan ikatan pada sekat cairannya tidak erat, yang akan menyebabkan
cairan tersebut masuk ke sekat lain.
MgSO4 15% juga merupakan larutan hipertonis, zat ini merupakan obat laksansia garam
yang terdiri dari kation yang tidak bisa diserap (Magnesium) dan anion yang tidak bisa diserap

pula (Sulfat) yang bekerja membentuk massa, juga menghasilkan stimulus pada aktivitas
peristaltik sehingga bekerja cepat untuk mendorong garam tersebut. Tetapi meskipun begitu
konsentrasi cairan obat ini bisa mengiritasi perut dan menstimulus terjadinya muntah. Obat ini
bekerja sangat cepat, biasanya selama tiga sampai empat jam dan yang perlu diingat adalah
karena begitu banyaknya cairan yang hilang melalui usus, akan mengakibatkan terjadinya
dehidrasi. Dari data yang diperoleh, MgSO4 15% ini menunjukan hasil volume akhirnya tidak
seperti yang diharapkan harus naik, tetapi zat ini menunjukan nilai volume akhir yang tidak
terlalu menurun drastis, yaitu dari konsentrasi 0,8 ml menjadi 0,7 ml, mungkin dikarenakan saat
penyuntikan jarum suntiknya kena mengenai dinding usus, sehingga terjadi pembocoran yang
mengakibatkan sebagian cairan keluar. Meski demikian, MgSO 4 15% ini dapat dikatakan paling
efektif sebagai obat laksansia bila dibandingkan dengan zat lain.

BAB V
KESIMPULAN

Aquadest yang diinjeksikan ke dalam usus merupakan larutan hipotonis.

Natrium klorida (NaCl) fisiologis dan MgSO4 1,7% merupakan larutan isotonis.

NaCl 3% merupakan larutan hipertonis

MgSO4 15% merupakan laksansia garam, dimana pada teorinya, volume larutan
seharusnya bertambah, tetapi pada prakteknya tidak, mungkin dikarenakan saat
penyuntikan jarum suntiknya kena mengenai dinding usus, sehingga terjadi
pembocoran yang mengakibatkan sebagian cairan keluar.

Anda mungkin juga menyukai