Anda di halaman 1dari 13
M. Nurman FAKTOR — FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENDOKUMENTASIAN KEPERAWATAN DI RUANG RAWAT INAP RSUD BANGKINANG M. Nurman Dosen $1 Keperawatan STIKes Tuanku Tambusai Riau x ABSTRAK Documentation contains complete data are real and recorded not only on the level of pain of patients, but also the kind or type, quality and quantity of health services to meet the needs of patients. Nursing care quality and can be achieved if the implementation of nursing care perceived as an honor held by the nurses in demonstrating their right to humane care, safety, and compliance with the standards and ethics of the nursing profession and consists of continuous assessment activities, planning, implementation plans, and evaluation of nursing actions that have been given. This study aims to determine how factors - factors related to nursing documentation IN Space Inpatient Hospital Bangkinang. The shape of this research is descriptive analytic cross-sectional design. The sample in this study are all nurses who served in the inpatient unit, amounting to 44 people with a total sampling sampling techniques. The collection of data through questionnaires. Processing data using univariate and bivariate analysis. The results showed most respondents aged 31-40 years were 19 people (43.2%) and aged 20-30 years as many as 11 people (25%). And age> 40 years as many as 14 people (31.8%), the majority of respondents DIll / SI that 34 people (77.3%) and educated PK / SPK many as 10 people (22.7%), most respondents have a future work 6 ~ 1- year that 21 people (47.7%) and has a service life of 10 years as many as 12 people (27.3%), most respondents knowledgeable enough that 24 people (64.6%), good knowledge of 10 people (22.7%), and respondents who have less knowledge as many as 10 people (22.7 %%). Chi-square test results showed that there was a significant correlation between (age, education, tenure, knowledge) with the nursing documentation in patient wards of hospitals Bangkinang Daftar Bacaan : 19 (2001 - 2013) —_—_—_—_—_—_—_—_—_—_——————————————— Jurnal Keperawatan STIKes Tuanku Tambusai Riau Page 39 ‘M.Nurman PENDAHULUAN Terbukanya pasar bebas bisa mengakibatkan tingginya kompetisi disektor kesehatan, Persaingan antar rumah sakit baik swasta, pemerintah moupun rumah sakit asing akan semakin keras. Untuk merebut pasar yang semakin terbuka bebas, dan tuntutan terhadap pelayanan di rumah sakit, dimana rumah sakit hans memberikan —_pelayanan kepada pasien langsung dapat dilayani secara_cepat, _akurat, bermutu dengan biaya terjangkau. Ams demokrasi_ dan peningkatan supremasi —hukum dengan diberlakukanya Undang — Undang No & tahun 1999 tentang perlindungan konsumen menuntut pengelola rumah —sakit lebih transparan, —berkualitas. dan memperhatikan kepentingan pasien. Dengan semakin —_pesatnya perkembangan layanan Kesehatan persaingan tidak dapat dihindari lagi. Untuk menghadapi persaingan tersebut penyedia layanan kesehatan berusaha memberikan pelayanan yang lebih baik dari pesaingnya (Martini,2007). Upaya peningkatan derajat kesehatan secara optimal menuntut profesi keperawatan mengembangkan mutu pelayanan yang profesional sesuai dengan iuntuian —masyarekat_ di era globalisasi. Keperawatan menj salah satu profesi terdepan bagi tenaga Kesehatan dalam —upaya menjaga mutu tempat pelayanan keschatan baik di masyarakat negeri maupun swasta, Standar asuhan keperawatan merupakan salah satu strategi — mewujudkan —_bentuk perianggung — jawaban—_tenaga keperawatan professional. Dengan demikian, pelayanan keperawatan memegang peranan penting dalam upaya menjage dan-meningkatkan kualitas pelayanan di sarana pelayanan kesehatan. —_Perawat diharapkan dapat memberikan asuhan keperawatan yang bermutu untuk meningkatkan —_kualitas pelayanan kesehatan (Wedati,2003). Menyusun suatu asuthan keperawatan dengan baik, seorang perawat terlebih dahulu perlu memahami tahapan-tahapan dalam proses keperawatan. Tahapan- tahapan ini merupakan —suatu Jandasan bagi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien atau pasiennya. Proses Keperawatan adalah suatu metode yang. sistematis untuk mengkaji respons manusia terhadap masalah- masalah Kesehatan dan_membuat rencana yang bertujuan mengatasi masalah-masalah tersebut, Masalah- masalah Kesehatan dapat berkaitan dengan Klien, keluarga, orang terdekat, dan masyarakat. Proses keperawatan adalch membentu klien dalam mencapai tingkat kesehatan dan kesejahteraan yang maksimal, Proses keperawatan juga menjamin perawatan yang —_berkualitas (Triyana, 2013). Asuhan keperawatan yang bermutu dan dapat dicapai jika pelaksanaan asuhan keperawatan dipersepsikan sebagai —_suatu kehormatan yang dimiliki oleh para perawat dalam —memperlihatkan haknya untuk memberikan asuhan yang manusiawi, aman, serta sestai dengan standar dan etika profesi keperawatan yang berkesinambungan dan terdiri dari kegiatan pengkajian, perencanaan, implementasi rencana, dan evaluasi tindakan Keperawatan yong telah Ss Page 40 Jurnal Keperawatan STIKes Tuanku Tambusai Riau M. Nurman 40 tahun 4 Jumlah 44 Berdasarkan tabel 4.1 di atas, dapat dilihat bahwa yang, terbanyak responden Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Perawat Berdasarkan Faktor Pendidikan Perawat Berdasarkan Faktor Umur BerhubunganPendokumentasian keperawatan di Ruang Rawat yang Inap Persentase 25% 43.2% 31.8% 100% berumur antara 31 - 40 tahun yaitu sebanyak 19 orang (43,2 %). yang Berhubungan dengan Pendokumentasiankeperawatan di Ruang Rawat Inap RSUD Bangkinang No Pendidikan 1, SPK/D3 2 8 Jumtah Berdasarkan tabel 4.2 di atas, dapat dilihat bahwa sebagian besa responden Frekuensi 34 10 44 Perseniase 13% 2% 100% memiliki pendidikan SPK/D3 sebanyak 34 orang (773%). ‘Tabel 43 Distribusi Frekuensi Perawat Berdasarkan Faktor Masa Kerja yang Berhubungan dengan Pendokumentasian keperawatan Inap RSUD Bangkinang No Masa Kerja 1 <$ Tahun 2 6-10Tahun 3 >10Tahan Juma Berdasarkan tabel 4.3. di atas, dilihat dari masa kerja, yang terbanyak responden Frekuensi ji Ruang Rawat Persentase 25% tahun yaitu sebanyak 21 orang (47,7 %). a Jurnal Keperawatan STIKes Tuanku Tambu: Page 44 M. Nurman ‘Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Perawat Berdasarkan Faktor Pengetahuan yang Berhubungan dengan Pendokumentasian keperawatan di Ruang Rawat Inap RSUD Bangkinang No Pengetahuan 1. Baik 2 Cukup 3. Kurang Jamia Berdasarkan tabel 4.4 di atas, 40 yang ‘melakukan pendokumentasian keperawatan lengkap sebanyak 6 orang (13,6%), dan perawat yang berumur > 40 tahun yang. memiliki pendokumentasian —_keperawatan tidak lengkap sebanyak 8 orang (18,2%). Perawat yang berpendidikan SPK/D3 melakukan pendokumentasian —_Keperawatan lengkap sebanyak 20 orang (45,4%), perawat yang berpendidikan SPK/D3 melakukan pendokumentasian keperawatan tidak lengkap sebanyak 14 orang. (31,8%), perawat yang berpendidikan $1 melakukan pendokumentasian _keperawatan lengkap sebnayak 5 orang (11.4%), perawat yang berpendidikan SI Jurnal Keperawatan STIKes Tuanku Tambusai Riau Frekuensi Persentase 10 22.1% 24 546% 10 22.7% 44 100% tentang, pendokumentasian Keperawatan yaitu sebanyak 24 orang (54,6 %). keperawatan ‘melakukan pendokumentasian keperawatan tidak lengkap sebanyak S orang (11,4%). Pendugaan faktor _pendidikan responden terhadap _Kelengkapan pendokumentasian _keperawatan didapatkan OR sebesar 2,091 artinya probabilitas untuk membuat kelengkapan —_pendokumentasian Keperawatan —pada-_——_—perawat berpendidikan SI 2 kali dibandingkan —_perawat_ yang berpendidikan PK. DIIVSPK. Perawat yang memiliki masa kerja < 5 tahun melakukan pendokumentasian _keperawatan lengkap sebanyak 6 orang (13,6%), perawat yang memiliki masa kerja < 5 tahun ‘melakukan pendokumentasian keperawatan tidak lengkap sebanyak 5 orang (11,4%), perawat yang memiliki masa kerja 6 - 10 tahun melakukan pendokumentasian _—keperawatan lengkap sebnayak 5 orang (11.4%), perawat yang memiliki masa kerja 6 = 10 tahun melakukan pendokumentasian keperawatan tidak lengkap sebanyak 16 orang (363%), perawat yang memiliki masa kerja > 10 tahun melakukan pendokumentasian _keperawatan lengkap sebanyak 5 orang (11,4%), dan perawat yang memiliki masa Page 45 M. Nurman kerja > 10 tahun yang memiliki pendckumentasian _keperawatan tidak lengkap sebanyak 7 orang (15,9%). Pendugaan faktor masa kerja responden —_terhadap kelengkapan _pendokumentasian keperawatan didapatkan OR sebesar 2,760 artinya probabilitas untuk membuat kelengkapan pendokumentasian keperawatan pada kelompok masa kerja 6 ~ 10 tahun dan > 10 tahun 3 kali dibandingkan perawat yang memiliki masa kerja < 5 tahun. Perawat yang. berpengetahuan baik melakukan pendokumentasian keperawatan lengkap sebanyak 5 orang (11,4%), perawat yang berpengetahuan baik — melakukan pendokumentasian keperawatan tidak lengkap sebanyak 5 orang (11,4%), perawat yang, berpengetahuan cukup ‘melakukan pendokumentasian keperawatan lengkap sebnayak 6 orang (13,6%), perawat yang berpengetahuan cukup melakukan pendokumeniasian keperawatan tidak lengkap sebanyak 18 orang (40,8%), perawat yang berpengetahuan kurang yang melakukan pendokumentasian Kkeperawatan lengkap sebanyak 5 orang (11.4%), dan perawat yang berpengetahuan —kurang yang memiliki pendokumentasian keperawatan tidak lengkap sebanyak 5 orang (11,4%). Pengugean factor pengetahuan responden terhadap kelengkapan —_pendokumentasian keperawatan didapatkan OR sebesar 0,478 artinya tidak ada probabilitas untuk — membuat —_Kelengkapan pendokumentasian keperawatan pada kelompok berpengetahuan baik dan berpengetahuan kurang. Jurnal Keperawatan STIKes Tuanku Tambusai Riau PEMBAHASAN Dari hasil penelitian telah diperoleh data khusus dari responden yang merupakan keadaan nyata pada responden dalam pendokumentasian keperawatan di Ruang Rawat Inap RSUD Bangkinang. Data tersebut dapat dijadikan acuan dan tolak ukur dalam melakukan pembahasan dan sebagai hasil akhir dapat dilihat sebagai berikut : 1, Faktor Umur Dari hasil penelitian tabel 4.1 menunjukkan bahwa sebagaian besar responden berumur 31 - 40 tahun yaitu 19 orang (43,2 %) dan berumur 21 -30 tahun sebanyak 11 orang (25 %), dan responden yang berumur > 40 tahun sebanyak 14 orang (31,8 %). Setelah dilakukan pengolahan data dengan Uji Chi- Square, maka dapat dilihat dari tabel 4.5 bahwa ada hubungan antara faktor umur dengan pendokumentasian keperawatan di Ruang Rawat Inap_ — RSUD Bangkinang dengan nilai X? hitung > X?table yaitu 10,531 > 5,591 Dari hasil penelitian diatas maka peneliti berasumsi bahwa faktor — umur~—- mempengaruhi pendokumentasian _keperawatan, karena semakin tua umur perawat maka tingkat kematanagan dalam mengambil keputusan semakin baik. Perawat yang memiliki umur yang lebih tua akan lebih bertanggung jawab dalam melakukan tugasnya serta lebih mementingkan aturan — aturan yang berlaku —ditempat kerjanya —serta’_——_pprofeesinya dibandingkan perawat yang memiliki umur muda, Untuk itu pendokumentasian _keperawatan perawat yang memiliki umur 31 — 40 tahun “akan lebih lengkap dibandingkan _pendokumentasian Page 46 M. Nurman Keperawatan yang dibuat oleh perawat yang usia lebih muda, Hasil penelitian diatas sesuai dengan penelitian yang dilakukan olch Martini (2007) menunjukkan adanya hubungan bermakna antara umur perawat dengan pendokumentasian asuhan keperawatan. Menurut Susilo (2010) bahwa usia lanjut umumnya lebih bertanggung jawab dan lebih teliti dibanding dengan usia muda, hal ini terjadi kemungkinan usia yang lebih muda kurang berpengalaman, Secara fisiologi —pertumbuhan dan perkembangan — sesorang dapat digambarkan dengan pertambahan umur, peningkatan umur diharapkan terjadi pertambahan kemampuan motorik sesuai dengan tumbuh kembangnya. Akan —_—_tetapi pertumbuhan dan perkembangan seseorang pada titik tertentu akan terjadi Kemunduran akibat faktor degeneratip. Berdasarkan teori. yang dikemukakan oleh Yamin (2003) mengatakan bahwa umur dapat mempengaruhi sescorang berperilaku. Kematangan dalam mengambil keputusan salah satunya X? table yaitu 8,361 > 3,481 Berdasarkan hasil_tersebut diatas, peneliti berpendapat bahwa tingkat —pendidikan——_sangat mempengaruhi —sesorang dalam melakukan tindakan atau pekerjaan begitu juga dengan seorang perawet, Semakin tinggi tingkat pendidikan perawat maka semakin —_baik pelaksanazn —_pendokumentasian keperawatan. Perawat | yang. berpendidikan SPK dengan DIII sudah tentu daik pendokumentasian keperawatan —perawat’ yang berpendidikan DIN, Karena ilmu pengetahuan perawat Dill sudah lebih tinggi setingkat dibandingkat perawat tamatan SPK dan cara pandang perawat III lebih memperdepankan protap keperawatan dalam — pekerjaanya, apalagi jika seorang perawat yang memiliki tingkat pendidikan SI, maka cara berpikimyapun akan lebih Page 47 M. Nurman rasional dibandingkan perawat DIII apalagi perawat SPK. Sehingga perawat ST bertindak sesuai dengan rasional yang sesuai dengan teori yang ada dan yang didapat di institusi pendidikan yang mereka lalui. Jadi dapat disimpulkan bahwa kelengkepan —_pendokumentasian eperawataan dipengeruhi oleh tingkat pendidikan perawat. Untuk itu perawat yang masih_memiliki pendidikan Dill apalagi SPK untuk bisa melanjutkan jenjang pendidikan ketingkat yang lebih tinggi. Hasil penelitian diatas.sesuai dengan penelitian yang dilekukan Rhona Sandra (2012) yang. mengatkan bahwa perawat pelaksana yang bertugas di ruang rawat inap RSUD Pariaman yang meliputi 9 ruang rawat inap dengan jumlah 86 perawat pelaksana sebagai responden dengan uji_ statistic bivariat chi- square. menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara pendidikan dengan pendokumentasian _keperawatan (p=0,004) Hasil penelitian diatas sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Khalimah (2007) yang mengatakan bahwa pendidikan dapat berfungsi sebagai dasar seseorang untuk berperilaku sesuai dengan tingkatan dan jenis pendidikan yang diikutinya. Pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor yang penting dalam tumbuh kembang anak, karena dengan pendidikan yang baik, orang tua dapat menerima segala informasi dari luar terutama tentang cara pengasuhan anak yang bagaimana menjage’ Kesehatan anaknya, pendidikannya dan sebagainya . Tingket pendidikan seseorang dapat dilihat berdasarkan lamanya atau jenis pendidikan yang dialami seseorang. ‘Tingkat pendidikan seseorang berpengaruh dalam —memberikan respon terhadap sesuatu yang datang dari luar, Orang berpendidikan tinggi akan lebih rasional dan kreatif serta terbuka dalam menerima adanya bermacam —usaha_ pembaharvan Gilmer dalam fazer ( 1992 ) mengatakan bahwa makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah seseorang berfikir secara luas, makin tinggi daya inisiatifnya dan makin mudah pula untuk menemukan cara — cara yang efisien guna menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. 3. Faktor Masa Kerj Dari hasil penelitian tabel 4.3 menunjukkan bahwa paling banyak responden memiliki masa kerja 6 — 10 tahun yaitu 21 orang (47,7 %) responden yang memiliki masa kerja <5 tahun sebanyak 1] orang (25 %), dan yang memiliki masa kerja > 10 tahun sebanyak 12 orang (27,3 %) Dan setelah dilakukan pengolahan data dengan Uji Chi-Square, maka dapat dilihat dari abel 4.9 bahwa ada hubungan antara faktor masa kerja dengan pendokumentasian keperawatan di Ruang Rawat Inap RSUD Bangkinang dengan nilai X? hitung > X? table yaitu 18,862 > 5,591. Dari hasil penelitian dan teori yang dikemukakan oleh beberapa para ahli, maka peneliti berasumsi bahwa — fektor —masa_—_kerja berhubungan dengan pendokumentasian _keperawatan, Semakin lama masa kerja maka semakin baik prilaku perawat dalam melaksanankan tugasnya sebagai perawat termasuk dalam melaksanakan _ pendokumentasian keperawatan ———— Page 48 Jurnal Keperawatan STIKes Tuanku Tambusai Riau. M, Nurman Hasil penelitian diatas sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Rhona Sandra (2012) yang. ‘mengatkan bahwa perawat pelaksana yang bertugas di ruang rawat inap RSUD Pariaman yang meliputi 9 ruang rawat inap dengan jumlah 86 perawat pelaksana sebagai responden dengan uji statistic bivariat chi- square menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara masa kerja dengan pendokumentasian —_Keperawatan (p=0,002) Hasil penelitian diatas sesuai dengan teori yang dikemukakan olch Eni (2005) menyatekan bahwa seseorang akan meneapai kepuasan tertentu bila sudsh — mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, Semakin lama karyawan bekerja mereka cenderung lebih terpuaskan dengan pekerjaan mereka ‘Para karyawan yang telatip baru cenderung kurang terpuaskan karena berbagai pengharapan yang lebih tinggi. Semakin lama_masa_kerja bidan maka semakin banyak pengalaman yang dimiliki dalam memberikan ‘pelayanan dibanding dengan bidan yang baru. 4, Faktor Pengetah Dari hasil penelitian tabel 4.4 menunjukkan —bahwa —mayoritas responden berpengetahuan cukup yaitu sebanyak 24 orang (54,6 %), bberpengetshuan baik scbanyak 10 orang, (22,7 9%), dan responden yang, memiliki pengetahuan —_kurang, sebanyak 10 orang (22,7%). Dan setelah dilakukan pengolahan data dengan Uji Chi-Square, maka dapat dilihat dari tabel 4.11 bahwa ada hubungan antara fektor pengetahuan dengan pendokumentasian keperawatan di Ruang Rawat Inap RSUD Bangkinang dengan nilai X? hitung > X® table yaitu 32,133 > 5,591 Dari hasil penelitian dan tori yang, dikemukakan oleh beberapa i, maka peneliti berasumsi faktor —_pengetahuan mempengaruhi pendokumentasian Keperawatan, Untuk meningkatkan pelaksanzan praktek pendokumentasian asuhan keperawatan pengetahuan perawat perlu ditingkatkan, beban kerja perawat yang merupakan kegiatan tidak langsung perlu dievaluasi Kembali, monitoring dan evaluasi perlu dilaksanakan secara rutin dan ferus menerus serfa_dilakukan Pencatatan dan pelaporan, perlu diterbitkan prosedur tetap penulisan dokumentasi asuhan keperawatan. Hasil penelitian diatas sesuai dengan peneiitian yang dilakukan oleh Martini (2007) menunjukkan adanya hubungan bermakna antara pengetahuan ——perawat dengan pendokument asuhan keperawatan yaita menunjukan pengetahuan perawat 52% yang ‘mempunyai pengetahuan baik pvalue 0,0001. Format tersedia 61% p value 0,001. Standar asuhan keperawatan tersedian 59% p value 0,001 serta hasil pendokumentasian asuhan keperawatan —penkajian 4 diagnosa 29,6%, _perencanaan keperawatan 29,8%, tindakan 57,8%, evaluasi 534%, catatan asuhan keperawatan 69%. Hasil penelitian diatas sesuai dengan teori yang dikemukakan olch Notoatmodjo (2007) menyatakan bahwa —pengetahuan — merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan _—_seseorang. Perilaku yang dilakukan dengan berdasarkan pada pengetahuan akan berahan lebih lama dan kemungkinan menjadi perilaku yang eo Jurnal Keperawatan STIKes Tuanku Tambusai Riau Page 49 M. Nurman melekat —-—pada_——seseorang Gibandingkan jika tidak berdasarkan pengetahuan, Pengetahuan merupakan hasil dari tahu sescorang melakukan pengideraan terhadap suatu objek tertentu, Pengetahuan adalah kumpulan informasi yang dipahami, diperoleh ari proses belajar selama hidup dan dapat digunakan sewaktu.— waktu sebagai alat penyesuaian diri baik terhadap iri sendiri_ maupun lingkungannya, Penelitian Rogers 1994 terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan dan kesadaran akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari pengetahvan dan kesadaran, Sebelum seseorang mengadopsi perilaku ia harus tahu terlebih dahulu apa arti dan manfaat perilaku tersebut bagi dirinya atau bagi organisesi Pengetahuan sangat erat hubunganya dengan perilaku——_ppraktek pendokumentasian asuhan keperawatan maka perawat harus punya —pengetahuan —- mengenai pendokumentasian asuhan keperawatan agar dalam memberikan pelayanan ada _—_kesinambungen. Pengetahuan dasar yang —harus dimiliki perawat —antara_—_ ain pengertian pendokumentasian, sumber data pendokumentasian, arti pentingnya _pendokumentasian, tujuanpendokentasian, — manfaat pendokumentasian, KESIMPULAN Dari hasil penelitian dan pembahasan —pada_—_—bab-bab sebelumnya tentang hubungan faktor = factor yang berhubungan dengan pendokumentasian keperawatan di Ruang Rawat Inap_—- RSUD Bangkinang dapat disimpulkan sebagai berikut : 1, Adanya — hubungan yang signifikan antara faktor umur dengan Pendokumentasian keperawatan. 2. Adanya —hubungan yang signifikan antara—_‘faktor pendidikan dengan pendokumentasian keperawatan. 3. Adanya — hubungan yang signifikan antara faktor masa kerja dengan pendokumentasian keperawatan. 4. Adanye — hubungan yang signifikan antara—_faktor pengetahuan dengan pendokumentasian keperawatan, DAFTAR PUSTAKA Budiarto, E. (2002). Biostatisitk Untuk ~~ Kedokteran Dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta : EGC. Dermawan, Deden. (2012). Proses Keperawatan Penerapan Konsep dan Kerangka Kerja. ‘Yogyakarta : Gosyen Publising. Departemen Kesehatan RI. (2010). Rencana Strategi Kementerian Kesehatan Tahun 2010 — 2014. Dari Rihttp// www depkes go. Diakses Tanggal 01 Juni 2013. Depkes, RI. (2002). Rumah Sakit. Dari http lew. depkes.go.id. Diakses pada tanggal 0S Mei 2013 Diyanto. (2007). Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Pelaksanaan Pendokumentasian Keperawatan. Jurnal. Cee ae eee ear ee Jurnal Keperawatan STIKes Tuanku Tambusai Riau Page 50 M. Nurman Herdiansyah. (2011). Analisis Faktor — Faktor Pendokumentasian Keperawatan. Tesis Hidayat, A.A. (2007). Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisa Data. Jakarta : Salemba Medika. (2003). Pengantar konsep = Dasar —Asuhan Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika, (2001). Dokumentasi proses. Asuhan keperawatan, Jakarta : EGC Iyer, Patricia, = W. (2004), Dokumentasi _Keperawatan. Jakarta : EGC. Kamus Besar Bahasa Indonesia. (2010). Machfoedz, dkk. (2005), Meiode Penelitian Untuk Mahasiswa Institusi Kesehatan Keperawatan Dan Kebidanar. Youyakarta : Fitramaya, (2010). Tim Prilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta, Nursalam, (2003). Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Pedoman Skripsi, Tesis dan Instrument Penelitian Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika, (2008). Proses dan Dokumentasi Keperawatan Konsep dan Praktik. Jakarta: Salemba Medika. (2001). Pendekaran Praktis — Metodologi —_‘Riset Keperawatan. Jakarta: Sagung Seto, Rosyidah, Citra E.L, (2010). Analisis Kepatuhan — Perawat_— Pada Standar Asuhan_ Keperawatan Di Unit Rawat Inap Kelas II RSU PKU Muhammadiyah Bantul . Yogyakarta ; Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan, Martini. (2007). Hubungan = Triyana, Yani F. (2013). ‘Teknik Karakteristik Perawat, Sikap, Prosedur Keperawatan. Beban Kerja, Ketersediaan Yogyakarta D-Medika Fasilitas Dengan (Anggota IKAPI). Pendokumentasian ——Asuhan Keperawatan di Rawat Inap — Wedati, Sri . (2003), Kumpulan BPRSUD Kota Salatiga. Tesis. Makalah Manajemen Keperawatan. Yogyakarta Notoadmojo, S. (2005). Metodelogi UGM. Penelitian Kesehatan, Jakarta : Rineka Cipta. Jarnal Keperawatan STIKes Tuanku Tambusai Riau Page 5