Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN SPONDYLOLISTHESIS

A. Anatomi dan Fisiologi


1. Anatomi
Vertebra dimulai dari cranium sampai pada apex coccigeus, membentuk
skeleton dari leher, punggung dan bagian utama dari skeleton (tulang
cranium, costa dan sternum). Fungsi vertebra yaitu melindungi medulla
spinalis dan serabut syaraf, menyokong berat badan dan berperan dalam
perubahan posisi tubuh. Vertebra pada orang dewasa terdiri dari 33 vertebra
dengan pembagian 5 regio yaitu 7 cervical, 12 thoracal, 5 lumbal, 5 sacral, 4
coccigeal
2. Fisiologi

B. Definisi

Kata spondylolisthesis berasal dari bahsa Yunani yang terdiri atas kata
spondylo yang berarti tulang belakang (vertebra) dan listhesis yang berarti
bergeser. Maka spondilolistesis adalah suatu pergeseran korpus vertebrae
(biasanya kedepan) terhadap korpus vertebra yang terletak dibawahnya.
Umumnya terjadi pada pertemuan lumbosacral (lumbosacral joints) dimana L5
bergeser (slip) diatas S1, akan tetapi hal tersebut dapat terjadi pula pada tingkat
vertebra yang lebih tinggi (Dennis, 2011)
Spondilolistesis merupakan pergeseran kedepan korpus vertebra

dalam

hubungannya dengan sacrum, atau kadang dihubungan dengan vertebra lain.


Kelainan terjadi akibat hilangnya kontinuitas-pars intervertebralis sehingga
menjadi kurang kuat untuk menahan pergeseran tulang berakang. Dikenali
beberapa tipe yaitu; Spondilolistesis spondilolitik. Degenerative, congenital,
traumatic

dan

patologik.

Biasanya

juga

ditemukan

tanda

spondilisis

(Sjamsuhidajat, 2005)
C. Etiologi dan Klasifikasi
Etiologi spondylolistesis adalah multifaktorial. Predisposisi kongenital tampak
pada spondilolistesis tipe 1 dan 2, dan postur, gravitasi, tekanan rotasional dan
stres/ tekanan konsentrasi tinggi pada sumbu tubuh berperan penting dalam
terjadinya pergeseran tersebut. Terdapat 5 tipe utama spondilolistesis.
1. Tipe I disebut dengan spondilolistesis displastik (kongenital) dan terjadi
akibat kelainan kongenital. Biasanya pada permukaan sacral superior dan
permukaan L5 inferior atau keduanya dengan pergeseran vertebra L5. 4
2. Tipe II, istmhik atau spondilolitik, dimana lesi terletak pada bagian isthmus
atau pars interartikularis, mempunyai angka kepentingan klinis yang
bermakna pada individu di bawah 50 tahun. Jika defeknya pada pars
interartikularis tanpa adanya pergeseran tulang, keadaan ini disebut dengan
spondilolisis. Jika satu vertebra mengalami pergeseran kedepan dari vertebra
yang lain, kelainan ini disebut dengan spondilolistesis. Tipe II dibagi dalam
tiga subkategori :
a. Tipe IIA yang kadang-kadang disebut dengan lytic atau stress
spondilolistesis dan umumnya diakibatkan oleh mikro-fraktur rekuren
yang disebabkan oleh hiperekstensi. Juga disebut dengan stress fraktur pars
interarticularis dan paling sering terjadi pada laki-laki.
b. Tipe IIB umumnya juga terjadi akibat mikro-fraktur pada pars
interartikularis. Meskipun demikian, berlawanan dengan tipe IIA, pars
interartikularis masih tetap intak, akan tetapi meregang dimana fraktur
mengisinya dengan tulang baru. 4

c. Tipe IIC sangat jarang terjadi dan disebabkan oleh fraktur akut pada bagian
pars interartikularis. Pencitraan radioisotop diperlukan dalam menegakkan
diagnosis kelainan ini.

3. Tipe III, merupakan spondilolistesis degenerative, dan terjadi sebagai akibat


degenerasi permukaan sendi vertebra. Perubahan pada permukaan sendi
tersebut akan mengakibatkan pergeseran vertebra ke depan atau ke belakang.
Tipe spondilolistesis ini sering dijumpai pada orang tua. Pada tipe III,
spondilolistesis degenerative pergeseran vertebra tidak melebihi 30 %.
4. Tipe IV, spondilolistesis traumatic, berhubungan dengan fraktur akut pada
elemen posterior (pedikel, lamina atau permukaan/ facet) dibandingkan
dengan fraktur pada bagian pars interartikularis.
5. Tipe V, spondilolistesis patologik, terjadi karena kelemahan struktur tulang
sekunder akibat proses penyakit seperti tumor atau penyakit tulang lainnya.
D. Patofisiologi
Sekitar 5-6% pria dan 2-3% wanita mengalami spondylolisthesis. Pertama sekali
tampak pada individu yang terlibat aktif dengan aktivitas fisik yang berat seperti
angkat besi, senam dan sepak bola. Pria lebih sering menunjukkan gejala
dibandingkan dengan wanita, terutama diakibatkan oleh tingginya aktivitas fisik
pada pria. Meskipun beberapa anak-anak dibawah usia 5 tahun dapat mengalami
spondylolisthesis, sangat jarang anak-anak tersebut didiagnosis dengan
spondylolisthesis. Spondylolisthesis sering terjadi pada anak usia 7-10 tahun.
Peningkatan aktivitas fisik pada masa remaja dan dewasa sepanjang aktivitas
sehari-hari mengakibatkan spondylolisthesis sering dijumpai pada remaja dan
dewasa.
Spondylolisthesis dikelompokkan ke dalam lima tipe utama dimana masingmasing mempunyai patologi yang berbeda. Tipe tersebut antara lain tipe
displastik, isthmik, degeneratif, traumatik, dan patologik. Spondylolisthesis
displatik merupakan kelainan kongenital yang terjadi karena malformasi

lumbosacral joints dengan permukaan persendian yang kecil dan inkompeten.


Spondylolisthesis displastik sangat jarang terjadi, akan tetapi cenderung
berkembang secara progresif, dan sering berhubungan dengan defisit neurologis
berat. Sangat sulit diterapi karena bagian elemen posterior dan prosesus
transversus cenderung berkembang kurang baik, meninggalkan area permukaan
kecil untuk fusi pada bagian posterolateral.
Spondylolisthesis displatik terjadi akibat defek arkus neural pada sacrum bagian
atas atau L5. Pada tipe ini, 95% kasus berhubungan dengan spina bifida occulta.
Terjadi kompresi serabut saraf pada foramen S1, meskipun pergeserannya (slip)
minimal. Spondylolisthesis isthmic merupakan bentuk spondylolisthesis yang
paling sering. Spondylolisthesis isthmic (juga disebut dengan spondylolisthesis
spondilolitik) merupakan kondisi yang paling sering dijumpai dengan angka
prevalensi 5-7%. Fredericson et al menunjukkan bahwa defek spondylolistesis
biasanya didapatkan pada usia 6 - 16 tahun, dan pergeseran tersebut sering
terjadi lebih cepat. Ketika pergeseran terjadi, jarang berkembang progresif,
meskipun suatu penelitian tidak mendapatkan hubungan antara progresifitas
pergeseran dengan terjadinya gangguan diskus intervertebralis pada usia
pertengahan. Telah dianggap bahwa kebanyakan spondylolisthesis isthmik tidak
bergejala, akan tetapi insidensi timbulnya gejala tidak diketahui. Suatu
studi/penelitian jangka panjang yang dilakukan oleh Fredericson et al yang
mempelajari 22 pasien dengan mempelajari perkembangan pergeseran tulang
vertebra pada usia pertengahan, mendapatkan bahwa banyak diantara pasien
tersebut mengalami nyeri punggung, akan tetapi kebanyakan diantaranya tidak
mengalami/tanpa spondylolisthesis isthmik. Secara kasar 90% pergeseran
ishmus merupakan pergeseran tingkat rendah(low grade: kurang dari 50% yang
mengalami pergeseran) dan sekitar 10% bersifat high grade ( lebih dari 50%
yang mengalami pergeseran).
Sistem pembagian/grading untuk spondylolisthesis yang umum dipakai adalah
sistem grading Meyerding untuk menilai beratnya pergeseran. Kategori tersebut
didasarkan pengukuran jarak dari pinggir posterior dari korpus vertebra superior
hingga pinggir posterior korpus vertebra inferior yang terletak berdekatan
dengannya pada foto x ray lateral. Jarak tersebut kemudian dilaporkan sebagai
panjang korpus vertebra superior total:
1. Grade 1 adalah 0-25 %
2. Grade 2 adalah 25-50 %

3. Grade 3 adalah 50-75 %


4. Grade 4 adalah 75-100 %
5. Spondiloptosis lebih dari 100 %

Faktor biomekanik sangat penting perannya dalam perkembangan spondilolisis


menjadi spondilolistesis. Tekanan / kekuatan gravitasional dan postural akan
menyebabkan tekanan yang besar pada pars interartikularis. Lordosis lumbal dan
tekanan rotasional dipercaya berperan penting dalam perkembangan defek litik
pada pars interartikularis dan kelemahan pars interartikularis pada pasien muda.
Terdapat hubungan antara tingginya aktivitas selama masa kanak-kanak dengan
timbulnya defek pada pars interartikularis.
Pada Tipe degenerative, instabilitas intersegmental terjadi akibat penyakit
diskus degenerative atau facet arthropaty. Proses tersebut dikenal dengan
spondilosis. Pergeseran tersebut terjadi akibat spondilosis progresif pada 3
kompleks persendian tersebut. Umumnya terjadi pada L4-5, dan wanita usia tua

yang umumnya terkena. Cabang saraf L5 biasanya terkena akibat stenosis


resesus lateralis sebagai akibat hipertrofi ligament atau permukaan sendi.
Pada Tipe traumatic, banyak bagian arkus neural yang terkena / mengalami
fraktur, sehingga menyebabkan subluksasi vertebra yang tidak stabil.
Spondilolistesis patologis terjadi akibat penyakit yang mengenai tulang, atau
berasal dari metastasis atau penyakit metabolic tulang, yang menyebabkan
mineralisasi abnormal, remodeling abnormal serta penipisan bagian posterior
sehingga menyebabkan pergeseran (slippage). Kelainan ini dilaporkan terjadi
pada penyakit Pagets, tuberculosis tulang, Giant cell Tumor dan metastasis
tumor.
E. Manifestasi Klinis
Gambaran klinis spondilolistesis sangat bervariasi dan bergantung pada tipe
pergeseran dan usia pasien. Selama masa awal kehidupan, gambaran klinisnya
berupa low back pain yang biasanya menyebar ke paha bagian dalam dan
bokong, terutama selama aktivitas tinggi. Gejala jarang berhubungan dengan
derajat pergeseran (slippage), meskipun sangat berkaitan dengan instabilitas
segmental yang terjadi. Tanda neurologis berhubungan dengan derajat
pergeseran dan mengenai system sensoris, motoric dan perubahan reflex akibat
dari pergeseran serabut saraf. Progresifitas listesis pada individu dewasa muda
biasanya terjadi bilateral dan berhubungan dengan gambaran klinis/fisik berupa :
1. Terbatasnya pergerakan tulang belakang
2. Tidak dapat memfleksikan panggul dengan lutut yang berekstensi penuh
3. Hiperlordosis lumbal dan thorakolumbal
4. Hiperkifosis lumbosacral junction
5. Kesulitan berjalan
6. Pemendekan badan jika terjadi pergeseran komplit (spondiloptosis)
Pasien dengan spondilolistesis degenerative biasanya pada orang tua dan muncul
dengan nyeri tulang belakang (back pain), radikulopati, klaudikasio neurogenic
atau gabungan beberapa gejala tersebut. Pergeseran tersebut paling sering terjadi
pada L4-5 dan jarang terjadi L3-4. Gejala radikuler sering terjadi akibat stenosis
resesus lateralis dan hipertrofi ligamen atau herniasi diskus. Cabang akar saraf
L5 sering terkena dan menyebabkan kelemahan otot ekstensor halluces longus.
Penyebab gejala klaudikasio neurogenic selama pergerakan adalah bersifat
multifactorial. Nyeri berkurang ketika pasien memfleksikan tulang belakang

dengan duduk. Hal tersebut mengurangi tekanan pada cabang akar saraf,
sehingga mengurangi nyeri yang timbul.
F. Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis ditegakan dengan gambaran klinis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
radiologis.
1. Gambaran Klinis
Nyeri punggung (back pain) pada regio yang terkena merupakan gejala khas.
Umunya nyeri yang timbul berhubungan dengan aktivitas. Aktivitas membuat
nyeri makin bertambah buruk dan istirahat akan dapat menguranginya.
Spasme otot dan kekakuan dalam pergerakan tulang belakang merupakan ciri
yang spesifik. Gejala neurologis seperti nyeri pada bokong dan otot hamstring
tidak sering terjadi kecuali jika terdapatnya bukti subluksasi vertebra.
Keadaan umum pasien biasanya baik dan masalah tulang belakang umumnya
tidak berhubungan dengan penyakit atau kondisi lainnya.
2. Pemeriksaan Fisik
Postur pasien biasanya normal, bilamana subluksasio yang terjadi bersifat
ringan. Dengan subluksasio berat, terdapat gangguan bentuk postur.
Pergerakan tulang belakang berkurang karena nyeri dan terdapatnya spasme
otot. Penyangga badan kadang-kadang memberikan rasa nyeri pada pasien,
dan

nyeri

umumnya

terletak

pada

bagian

dimana

terdapatnya

pergeseran/keretakan, kadang nyeri tampak pada beberapa segmen distal dari


level/tingkat dimana lesi mulai timbul.
Ketika pasien dalam posisi telungkup (prone) di atas meja pemeriksaan,
perasaan tidak nyaman atau nyeri dapat diidentifikasi ketika palpasi dilakukan
secara langsung diatas defek pada tulang belakang. Nyeri dan kekakuan otot
adalah hal yang sering dijumpai. Pada banyak pasien, lokalisasi nyeri
disekitar defek dapat sangat mudah diketahui bila pasien diletakkan pada
posisi lateral dan meletakkan kaki mereka keatas seperti posisi fetus. Defek
dapat diketahui pada posisi tersebut.
Pemeriksaan neurologis terhadap pasien dengan spondilolistesis biasanya
negative. Fungsi berkemih dan defekasi biasanya normal, terkecuali pada
pasien dengan sindrom cauda equine yang berhubungan dengan lesi derajat
tinggi.
3. Pemeriksaan Radiologis
Foto polos vertebra merupakan modalitas pemeriksaan awal dalam diagnosis
spondilosis atau spondilolistesis. X ray pada pasien dengan spondilolistesis
harus dilakukan pada posisi tegak/berdiri. Film posisi AP, Lateral dan oblique
adalah modalitas standard dan posisi lateral persendian lumbosacral akan
melengkapkan pemeriksaan radiologis. Posisi lateral pada lumbosacral joints,

membuat pasien berada dalam posisi fetal, membantu dalam mengidentifikasi


defek pada pars interartikularis, karena defek lebih terbuka pad aposisi
tersebut dibandingkan bila pasien berada dalam posisi berdiri. Pada beberapa
kasus tertentu studi pencitraan seperti bone scan atau CT scan dibutuhkan
untuk menegakkan diagnosis. Pasien dengan defek pada pars interartikularis
sangat mudah terlihat dengan CT scan. Bone scan (SPECT scan) bermanfaat
dalam diagnosis awal reaksi stress/tekanan pada defek pars interartikularis
yang tidak terlihat baik dengan foto polos. Scan positif menunjukkan bahwa
proses penyembuhan tulang telah dimulai, akan tetapi tidak mengindikasikan
bahwa penyembuhan yang definitive akan terjadi. CT scan dapat
menggambarkan abnormalitas pada tulang dengan baik, akan tetapi MRI
sekarang lebih sering digunakan karena selain dapat mengidentifikasi tulang
juga dapat mengidentifikasi jaringan lunak (diskus, kanal dan anatomi serabut
saraf ) lebih baik dibandingkan dengan foto polos.

G. Penatalaksanaan
Terapi pada spondilolistesis dapat dilakukan dengan dua cara yaitu operative dan
non operative. Pemilihan terapi pada pasien tergantung dari usia pasien, tipe
subluksasi dan gejala yang dialami oleh pasien. Tujuan dari terapi adalah
menghilangkan nyeri yang dirasakan pasien dan memperkuat serta stabilisasi
vertebra. Prinsip terapi pada spondilolistesis adalah apabila spondilolistesis yang
ringan tanpa gejala, tidak diperlukan terapi tertentu. Apabila muncul gejala yang
masih ringan, terapinya biasanya diberikan latihan agar tidak terjadi kekakuan
vertebra dan penggunaan brace untuk stabilisasi vertebra. Namun, jika gejala
yang timbul berat dan lebih penting lagi apabila sampai mengganggu aktivitas
pasien, maka operasi menjadi pilihan terbaik.

1. Konservatif (Non operatif)


Terapi konservatif terdiri dari istirahat (rest), penyangga eksternal ke bagian
vertebra yang terkena defek, terapi medikamentosa dan fisioterapi. Penyangga
eksternal biasanya menggunakan brace.
a. Modifikasi gaya hidup
Sangatlah penting untuk mengedukasi pasien dengan spondilolistesis
mengenai kondisi mereka dan bagaimana untuk meminimalisasi gejala
yang dialami serta mencegah terjadinya progresi dari subluksasi tersebut.
Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
1) Mengurangi atau tidak melakukan aktifitas yang menyebabkan nyeri
2) Bed rest selama episode nyeri akut
3) Menjaga berat badan agar tidak overweight
4) Membatasi gerakan lumbar
b. Penyangga eksternal (bracing)
Brace merupakan hal yang penting dalam terapi konservatif. Tujuan penggunaan
brace adalah untuk stabilisasi vertebra, mencegah terjadinya progresifitas dari
subluksasi yang telah terjadi. Dalam beberapa kasus brace juga terbukti
mengurangi nyeri dan spasme otot.
c. Terapi medikamentosa
Medikasi diberikan untuk mengurangi rasa nyeri, proses inflamasi dan spasme
otot. Analgesik digunakan untuk mengurangi nyeri, muscle relaxants digunakan
untuk mengurangi spasme otot serta NSAID atau steroid untuk mengurangi
proses inflamasi.

d. Fisioterapi
Fisioterapi menggunakan variasi modalitas seperti ultrasound, stimulasi elektrik,
pemijatan dan termal terapi untuk membantu mengurangi spasme otot. Latihan
stabilitas vertebra juga bisa dilakukan untuk membantu meningkatkan
fleksibilitas. Perlu diingat bahwa latihan ini apabila dilakukan pada fase akut
dapat semakin merusak bagian yang sedang mengalami inflamasi.

1) Ultrasound
Ultrasound adalah sebuah cara yang sangat efektif untuk menstimulasi
penyembuhan jaringan. Gelombang suara dapat meningkatkan sirkulasi
ke area yang mengalami kerusakan, dan membantu merilekskan otot
sekitarnya. Cara ini sangat mendatangkan keuntungan bagi pasien
dengan spondilolistesis yang telah menyebabkan iritasi pada jaringan
disekitarnya.
2) Terapi termal hangat
Terapi termal hangat berguna untuk meningkatkan sirkulasi dan
merilekskan jaringan otot sekitar.
3) Kompres es

Kompres es biasanya digunakan pada 72 jam inisal dari terjadinya injuri


untuk mengurangi inflamasi dan menghilangkan nyeri.
4) TENS
Transcutaneous electrical nerve stimulation membantu menghilangkan
nyeri. Biasanya digunakan terutama untuk nyeri yang teradiasi.
Angka keberhasilan terapi non-operatif sangat besar, terutama pada pasien
muda. Pada pasien yang lebih tua dengan pergeseran ringan (low grade slip)
yang diakibatkan oleh degenerasi diskus, traksi dapat digunakan dengan
beberapa tingkat keberhasilan. Salah satu tantangan adalah dalam terapi
pasien dengan nyeri punggung hebat dan menunjukkan gambaran radiografi
abnormal. Pasien tersebut mungkin memiliki penyakit degenerative pada
diskus atau bahkan pergeseran ringan (low grade slip, <25%), dan biasanya
nyeri yang terjadi tidak sesuai dengan pemeriksaan fisik dan gambaran
radiografi. Nyeri punggung merupakan masalah kesehatan utama dan
penyebab disabilitas yang paling sering. Adalah sangat penting untuk
mempertimbangkan factor tingkah laku dan psikososial yang berperan dalam
timbulnya disabilitas pada pasien tersebut.
2. Terapi Pembedahan
Terapi pembedahan hanya direkomendasikan bagi pasien yang sangat
simtomatis yang tidak berespon dengan perawatan non-bedah dan dimana
gejalanya menyebabkan suatu disabilitas. Tujuan terapi adalah untuk
dekompesi elemen neural dan immobilisasi segmen yang tidak stabil.
Umumnya dilakukan dengan eliminasi pergerakan sepanjang permukaan
sendi (facet joints) dan diskus intervertebralis melalui arthrodesis (fusi).
Indikasi intervensi bedah (fusi) pada pasien dewasa adalah :
a. Tanda neurologis - radikulopaty (yang tidak berespon dengan terapi
konservatif).
b. Klaudikasio neurogenik.
c. Pergeseran berat ( High grade slip >50 %)
d. Pergeseran tipe I dan tipe II, dengan bukti adanya instabilitas, progresifitas
listesis, dan kurang berespon dengan terapi konservatif.
e. Spondilolistesis traumatic.
f. Spondilolistesis iatrogenic.
g. Listesis tipe III (degenerative) dengan instabilitas berat dan nyeri hebat.
h. Deformitas postural dan abnormalitas gaya berjalan (gait).
H. Komplikasi
Progresifitas dari pergeseran dengan peningkatan tekanan ataupun penarikan
pada saraf spinal, bisa menyebabkan komplikasi. Pada pasien yang
membutuhkan

penanganan

dengan

pembedahanuntuk

menstabilkan

spondilolistesis, dapat terjadi komplikasi seperti nerve root injury (<1%),

kebocoran LCS (2-10 %), kegagalan melakukan fusi (5-25 %), infeksi dan
perdarahan dari prosedur pembedahan (1-5 %). Pada pasien yang perokok,
kemungkinan untuk terjadinya kegagalan pada saat fusi ialah (>50%). Pasien
yang berusia lebih muda memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menderita
spondilolistesis isthmic atau kongenital yang lebih progresif. Radiografi serial
dengan posisi lateral harus dilakukan setiap 6 bulan untuk mengetahui
perkembangan pasien ini.
I. Prognosis
Pasien dengan fraktur akut dan pergeseran tulang yang minimal kemungkinan
akan kembali normal apabila fraktur tersebut membaik. Pasien dengan
perubahan vertebra yang progresif dan degenerative kemungkinan akan
mengalami

gejala

yang

sifatnya

intermiten.

Resiko

untuk

terjadinya

spondilolistesis degenerative meningkat seiring dengan bertambahnya usia, dan


pergeseran vertebra yang progresif terjadi pada 30% pasien. Bila pergeseran
vertebra semakin progresif, foramen neural akan semakin dekat dan
menyebabkan penekanan pada saraf (nerve compression) atau sciatica hal ini
akan membutuhkan pembedahan dekompresi.
J. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri (biologi, kimia, fisik, psikologis),
kerusakan jaringan.
2. Hambatan Mobilitas Fisik Berhubungan dengan Kerusakan Muskuloskletal
3. Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan dan pertahanan
primer yang tidak adekuat (kerusakan kulit, trauma jaringan)

K. Intervensi Keperawatan
No
.
1.

Perencanaan

Diagnosa Keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil (NOC)


Nyeri akut berhubungan dengan agen Setelah dilakukan tindakan keperawatan,
cidera fisik

Pasien tidak mengalami nyeri, dengan


kriteria hasil:
1. Mampu mengontrol nyeri (tahu prnyebab
nyeri, mampu menggunakan tekhnik
nonfarmakologi untuk mencari nyeri,
mencari bantuan)
2. Melaporkan bahwa

nyeri

berkurang

dengan menggunakan manajemen nyeri


3. Mampu
mengenali
nyeri
(skala,
intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
4. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri
berkurang
5. Tanda vital dalam rentang normal
6. Tidak mengalami gangguan tidur

NIC
Pain Management
1. Lakukan
pengkajian

nyeri

secara

komperhensif termasuk lokasi, karakteristik,


durasi,

frekuensi,

presipitasi
2. Observasi

kualitas

reaksi

dan

faktor

nonverbal

dari

ketidaknyamanan
3. Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan
menemukan dukungan
4. Kontrol
lingkungan

yang

dapat

mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan,


pencahayaan dan kebisingan
5. Kurangi faktor presipitasi nyeri
6. Kaji tipe dan sumber nyeri

untuk

menentukan intervensi
7. Ajarkan tentang teknik non farmakologi:
napas dalam, relaksasi, distraksi, kompres
hangat/dingin
8. Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
9. Monitoring vital sign sebelum dan sesudah

pemberian analgesik pertama kali


Analgetic Administration
1.
Tentukan lokasi, karakteristik,
kualitas,

2.

Hambatan

Mobilitas

Berhubungan

dengan

Muskuloskletal

Fisik Setelah dilakukan tindakan keperaw atan


Gangguan gangguan mobilitas fisik teratasi dengan
kriteria hasil:
1. Klien meningkat dalam aktivitas fisik
2. Mengerti tujuan dari peningkatan
mobilitas
3. Memverbalisasikan perasaan dalam
meningkatkan kekuatan dan kemampuan
berpindah
4. Memperagakan penggunaan alat Bantu
untuk mobilisasi

dan

derajat

nyeri

sebelum

2.

pemberian obat
Cek intruksi dokter tentang jenis

3.
4.

obat, dosis, frekuensi


Cek riwayat alergi
Monitor tanda-tanda vital sebelum

dan sesudah pemberian obat


1. Kaji kemampuan pasien dalam mobilisasi
2. Latih pasien dalam pemenuhan kebutuhan
ADLs secara mandiri sesuai kemampuan
3. Dampingi dan Bantu pasien saat mobilisasi
dan bantu penuhi kebutuhan ADLs ps.
4. Berikan alat Bantu jika klien memerlukan.
5. Ajarkan pasien bagaimana merubah posisi
dan berikan bantuan jika diperlukan
6. Bantu pasien makan dan minum (menyuapi,
mendekatkan

alat-alat

dan

makanan/minuman)
7. Pertahankan kesehatan dan kebersihan mulut
pasien
8. Bantu pasien mamakai pakaiannya

9. Libatkan

keluarga

dan

ajarkan

cara

memakaikan pakaian pada pasien


10. Memandikan pasien
11. Libatkan
keluarga
untuk
membantu
memandikan pasien
12. Lakukan perawatan mata, rambut, kaki,
mulut, kuku dan perineum
13. Bantu pasien bak/bab
14. Lakukan perawatan inkontinensia usus
15. Manajemen nutrisi
16. Libatkan keluarga dalam perawatan
3.