Anda di halaman 1dari 17

Seorang dokter muslim adalah seorang muslim itu sendiri.

Sehingga teladan yang paling utama adalah


RasulullahShalallahu Alaihi Wasallam, apapun profesi dan jabatan seorang muslim. Sedangkan akhlak seorang
dokter muslim ialah akhlak seorang muslim yang menjunjung tinggi adab Rasulullahshalallahu Alaihi
Wasallam tersebut sebagai teladan yang sempurna Dan akhlak Beliau disarikan dari Al-Quran itu sendiri
sebagai pedoman hidup seorang muslim.
Sifat sifat Dokter Muslim
Etika/ adab yang harus dimiliki oleh dokter muslim menurut Zuhair Ahmad al-Sibai dan. Muhmmad Ali al-Bar
dalam karyanya Al- Thabib , Adabuhu wa Fiqhuh ( Dokter, Etika dan Fikih Kedokteran ), antara lain
dikemukakan bahwa dokter muslim harus berkeyakinan atas kehormatan profesi, menjernihkan nafsu, lebih
mendalami ilmu yang dikuasainya, menggunakan metode ilmiah dalam berfikir ,kasih sayang, benar dan jujur,
rendah hati, bersahaja, dan mawas diri.
Sifat terhadap Allah Sebagai Pencipta
1. Beriman
Sebab tanpa iman segala amal saleh sebagai dokter dan tenaga para medis akan hilang sia-sia di mata Allah.
Dalilnya Surat Al-Ashri: Demi masa, Sesungguhnya manusia selalu dalam kerugian, Selain mereka yang
beriman, Dan berbuat amal shaleh, Dan nasehat-nasehati dengan kebenaran,Dan naseha-nasehati dengan
kesabaran
2. Tulus-ikhlas karena Allah.
Dalilnya adalah firman Allah swt : Mereka hanya diperintahkan untuk mengabdikan diri kepada Allah dengan
ikhlas, lurus mengerjakan agama, karena Dia. (QS. Al Bayyinah : 5)
Sifat terhadap diri sendiri
1. Berkeyakinan atas Kehormatan Profesi.
Bahwa prodesi kedokteran adalah salah satu profesi yang sangat mulia tetapi tergantung dengan dua syarat ,
yaitu :
1. Dilkaukan dengan sungguh sungguh dan penuh kaikhlasan .
2. Menjaga akhlak mulia dalam perilaku dan tindakan tindakannya sebagai dokter .
Seorang dokter diberi amanah untuk menjaga kesehatan yang merupakan karunia Tuhan yang paling berharga
bagi manusia , sebagaimana dinyatakan dalam hadist Nabi :
Nabi saw bersabda : Mohonlah kepada Allah kesehatan , sebab tidak ada sesuatupun yang dianugerahkan
kepada hamba-Nya yang lebih utama dari kesehatan . ( HR Ahmad al- Turmudzi , dan Ibn Majah ).
Disamping itu dokter selalu menjadi tumpuan pasien , keluarga , masyarakat , bahkan bangsa . Mengingat
kedudukan profesi kedokteran tersebut seharusnya dalam menjalankan profesinya tidak hanya berfikir tentang
materi tetapi lebih kepada pengabdian dan perbaikan umat . Keyakinan akan kehormatan profesi tersebut
merupakan motivasi untuk memelihara akhlak yang baik dalam hubugannya dengan masyarakat .

2. Berusaha Menjernihkan Jiwa


Kejernihan jiwa akan menentukan kualitas perbuatan manusia secara keseluruhan , jika seseorang termasuk
dokter hatinya jernih maka perbuatannya akan selalu positif . Hal ini sejalan dengan penegasan Rasulullah :
Artinya : Ingatlah bahwa tubuh manusia ada segumpal darah yang apabila baik maka seluruh tubuh menjadi baik
, dan apabila buruk maka seluruh tubuh menjadi buruk ,ingatlah atau adalah hati . ( HR Al Bukhari , Muslim ,
Ahmad , al Darimi , dan Ibn Majah ).
3. Lebih Mendalam Ilmu yang Dikuasainya
Dalam hadist Nabi disebutkan bahwa mencari ilmu merupakan kewajiban sepanjang hidup. Sebagimana
diketahui bahwa ilmu pengetahuan itu dari hari kehari selalu mengalami perkembagan . Karena itu , agar setipa
dokter tidak ketinggalan infromasi dan ilmu pengetahuan dan lebih mendalami bidang profesinya , maka dituntut
untuk selalu belajar . dalam ajaran Islam sangat ditekankan dalam mengamalkan segala sesuatu agar dilakukan
secara professional dan penuh ketelitian .
Nabi bersabda : Sesungguhnya Allah menyukai bila seseorang diantara kalian mengerjakan pekerjaannya
dengan teliti .( HR . al- Baihaqi )
4. Menggunakan Metode Ilmiah dalam Berfikir
Bagi dokter muslim diharuskan dalam berfikir menggunakan metode ilmiah sesuai dengan kaidah logika ilmiah
sebagaimana terjabar dalam disiplin ilmu kedokteran modern . Ajaran Islam sangat menekankan agarberfikir
atau merenung terhadap berbagai sebab , tujuannya agar mendapatkan keyakinan yang benar . Diantara
anjuran berfikir dengan metode ilmiah , antara lain tersurat dalam firman Allah :
Artinya : Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi , silih bergantinya malam dan siang , bahtera yang
berlayar dilaut membawa apa yang berguna bagi manusia ,dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air
,lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati ( kering ) nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis
hewan , dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi ; Sungguh ( terdapat ) tanda
tanda ( keesaan dan kebesaran Allah ) bagi kaum yang memikirkan. ( QS. Al Baqarah : 164 )
5. Mawas Diri
Meningat tugas dokter melayani masyarakat dan tanggung jawab menyangkut nyawa dan keselamatan
seseorang. Mereka sering menjadi sasaran tuduhan, itu disebabkan adanya anggapan masyarakat yang
menganggap mereka adalah orang yang paling mengetahui rahasia kehidupan dan kematian. Dengan
senantiasa mawas diri, seorang dokter muslim akan sadar atas segala kekurangannya sehingga di masa
mendatang akan memperbaikinya, juga akan terhindar dari berbagai sifat tercela lain seperti sombong, riya,
angkuh, dan lainnya.
Di sanping sifat-sifat di atas, sesuai dengan tuntunan dalam akhlak islami, khususnya yang berhubungan dengan
profesi kedokteran, dokter muslim harus tulus ikhlas karena Allah SWT, penyantun, peramah, sabar, teliti, tegas,
patuh pada peraturan, penyimpan rahasia, dan bertanggung jawab, dan lain-lain.
6. Ikhlas, penyantun, ramah, sabar, dan tenang.
Dokter muslim juga harus ikhlas dalam menjalankan pekerjaannya, semua dilakukan sebagai ibadah untuk
mencari ridha Allah SWT. Berbuat ikhlas sangat dituntut dalam Islam sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran,
dalam ayat berikut:

Artinya : Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah SWT dengan memurnikan ketaatan
kepada Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus (QS. Al Bayyinat ; 5)
Dokter muslim juga di tuntut penyantun, ikut merasakan penderitaan orang lain sehingga berkeinginan
menolongnya. Dokter muslim juga di tuntut ramah, bergaul dengan luwes dan menyenangkan. Juga di tuntut
bersikap sabar, tidak emosional dan lekas marah, tenang, penyantun, ramah, sebagaiaman dianjurkan dalam
ayat Al-Quran :
Artinya : Maka disebabkan rahmat dari Allah SWT lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya
kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. (QS.Ali Imran : 159)
Dokter muslim di tuntut memiliki kesabaran dalam menghadapi segala masalah, tidak emosional dan tidak cepat
marah. Sikap sabar sangat dituntut dalam Islam, antara lain disebutkan dalam Al-Quran :
Artinya : Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk
hal-hal yang diutamakan. (QS. Al- Syura : 43)
Dokter muslim juga dituntut bersikap tenang, tidak gugup dalam menghadapi segawat apapun. Nabi
barsabda : Bersikap tenang kamu sekalian (HR al-Thabrani da al-Baihaqi).
Dalam menjalankan profesinya, dokter muslim juga dituntut melakukannya dengan teliti, bersifat hati-hati, cermat
dan rapi.
Nabi bersabda : Sesungguhnya Allah SWT menyukai bila seseorang di antara kalian mengerjakan pekerjannya
dengan teliti (HR. al-Baihaqi)
Sikap tegas, tidak ragu-ragu dalam menentukan sikap juga dituntut kepada dokter muslim. Nabi bersabda : Nabi
bersabda : Jika ada keraguan dalam hatimu, tinggalkanlah itu.(HR.Ahmad).
Banyak peraturan yang mesti ditegakkan oleh dokter muslim, baik yang berhubungan dengan profesi
kedokteran, berbangsa dan bernegara, lebih-lebih dalam beragama.Tunduk patuh pada peraturan sangat
dianjurkan dalam islam, sebagaimana anjuran Nabi : Dari Anas bin Malik, dari Nabi SAW bersabda :
Dengarkanlah dan patuhilah walaupun dijadikan kepala atasmu seorang Habasyi(HR. Bukhari)
Dalam menjalankan pekerjaannya, jika seorang dokter muslim mendapatkan sesuatu yang tidak baik pada
pasiennya maka dituntut agar merahasiakannya. Nabi bersabda : barang siapa menutupi aurat seorang muslim
di dunia maka Allah SWT akan menutupi auratnya di dunia dan akhirat (HR. Ahmad).
Dokter muslim juga mesti bertanggung jawab atas segala resiko dan konsekwensi dari profesinya. Allah SWT
berfirman : Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, smuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya. (QS. al
Isra : 36)
Nabi juga bersabda : Setiap kalian adalah penggembla, dan setiap kalian bertanggung jawab atas gembalanya
itu (HR Bukhari dan Ahmad).
Sifat tehadap pasien
1.Memiliki Rasa Cinta Kasih

Rasa cinta kasih adalah cahaya yang timbul dari hati yang terdalam , dia akan dapat menyinari orang lain , alam
semesta dan segala sesuatu . Cahaya itu kemudian memantul kepada dirinya dan limpahan kepadanya
kejernihan , kerelaan dan kemantapan . Ajaran Islam sangat menekankan menyintai sesama ,
2. Keharusan Bersikap Benar dan Jujur
Benar dan jujur bagi seorang dokter yang selalu berkomunikasi dengan masyarakat merupakan keharusan agar
mendapat kepercayaan dari pasien dan masyarakat. Yang di maksud dengan benar dan jujur di sini adalah sifat
yang komprehensif mempunyai banyak makna, termasuk menepati janji dan menunaikan amanah. Al-Quran
sangat menekankan bersikap benar dan jujur, di antaranya terdapat dalam firman Allah SWT :
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah SWT, dan hendaklah kamu bersama orangorang yang benar. (QS. AL-Taubat : 119)
Orang yang tidak amanah dan tidak menepati janji sangat dikecam dalam hadist Nabi : Tidak ada iman bagi
orang yang tidak memelihara amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menunaikan janjinya. (HR.
Ahmad)
3. Berendah hati (Tawadlu)
Setiap orang, terutama orang yang melayani kepentingan umum termasuk dolter dituntut bersifat rendah hati.
Sifat yang sering menyebabkan seseorang dijauhi dalam pergaulan biasanya karena kesombongan dan
keangkuhan. Kesombongan dan keangkuhan biasanya lahir karena ada perasaan, ilmu, atau pengaruhnya.
Ajaran Islam sangan mengecam perbuatan angkuh dan sombong. Allah SWT berfirman :Sesungguhnya Allah
SWT tidak menyukai orang-orang yang sombong. (QS. Al-Nahl : 23 )
Di sisi lain dijelaskan Allah SWT akan mengangkat derajat orang yang merendahkan diri (tawadlu). Nabi
bersabda : Rasulullah SAW bersabda : Barang siapa merendahkan diri karena Allah SWT satu derajat maka
Allah SWT mengangkatnya satu derajat sehingga menjadikannya dalam kelompok iliyyin (surga yang tinggi),
dan barang siapa takabur atas Allah SWT satu derajat, menjadikannya dalam kelompok kaum yang rendah
(neraka) (HR Ahmad).
4.Keadilan dan keseimbangan
Dokter termasuk orang yang paling banyak berurusan dengan masalah manusia dan kemanusiaan. Kehidupan
seseorang, termasuk dokter sangat ditentukan oleh kualitas hubungan dengan masyarakat itu. Ajaran Islam
sangat menekankan berlaku adil dan berkeseimbangan dalam berbagai urusan, tidak berlebihan atau over
acting, dalam gaya hidup, khususnya dalam masalah tarip praktek dan bayaran sehingga mengurangi dan
menodai prinsip-prinsip yang mesti dijunjung tinggi sebagai pelayan masyarakat
Allah SWT berfirman : Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pilihan
agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan)
kamu .(QS. Al Baqarah : 142)

Etika berasal dari bahasa Yunani ethos yang berarti adat, budi pekerti (bahasa
Inggris = ethics). Di sini etika dapat dipahami sebagai ilmu mengenai kesusilaan. Dalam
filsafat pengertian etika adalah telah dan penilaian kelakuan manusia ditinjau dari
kesusilaannya. Kesusilaan yang baik merupakan ukuran kesusilaan yang disusun bagi diri
seseorang atau merupakan kumpulan keharusan, kumpulan kewajiban yang dibutuhkan
oleh masyarakat atau golongan masyarakat tertentu bagi anggota-anggotanya.
Dalam hal ini, diperlukan etika bagi para dokter Muslim. Kadang kesusilaan
didasarkan pada agama, sehingga bilamana yang berkuasa itu agama, maka agama
menjadi guru etika. Dalam melaksanakan etika terkandung unsur-unsur pengorbanan bagi
sesama manusia dan unsur dedikasi atau pengabdian terhadap
sesama manusia.
Sebagai suatu pendidikan profesi, pendidikan kedokteran diharapkan dapat
menghasilkan dokter yang menguasai teori-praktik kedokteran beserta perilaku dan etika
yang mulia. Saat upacara wisuda, semua calon dokter harus mengucapkan sumpah dokter
disaksikan oleh dekan, Direktur Rumah Sakit, Kepala Kantor
Wilayah Departemen Kesehatan, para dosen dan anggota keluarga.
Dalam mengikrarkan sumpah yang didampingi oleh para pemuka agama, calon
dokter berjanji akan mengamalkan Kode Etik Kedokteran. Dengan adanya hal tersebut
diharapkan kelak para calon dokter akan menjadi dokter yang beretika mulia,
bertanggungjawab dan taat pada hukum yang berlaku.
Etika bagi para dokter Muslim
Dalam etika kedokteran Islam, tercantum nilai-nilai Alquran dan Hadits yang
merupakan sumber segala macam etika yang dibutuhkan untuk mencapai hidup bahagia
dunia akhirat.
Etika kedokteran mengatur kehidupan, tingkah laku seorang dokter dalam
mengabdikan dirinya terhadap manusia baik yang sakit maupun yang sehat. Etika
kedokteran islam terkumpul dalam Kode Etik Kedokteran Islam yang bernama Thibbun
Nabawi, yang mengatur hubungan dokter dengan orang sakit dan dokter dengan
rekannya.
Berikut ini dibahas mengenai etika seorang Dokter muslim terhadap sang
Pencipta, terhadap pasien, dan terhadap sejawatnya:

1. Etika Dokter Muslim terhadap sang Pencipta

Seorang dokter muslim haruslah benar-benar menyadari bahwa dirinya adalah


hamba Allah SWT. Dan betapa tidak berarti dirinya beserta ilmunya tanpa diiringi ridha
Allah SAW.
Adapun contoh etika terhadap sang Pencipta disebutkan bahwa:

harus
sebagai
meyakini
khalifah
dirinya
fungsionaris
Allah
dalam
Dokter
muslim
Dokter
meyakini
muslim
dirinya
harus
sebagai
khalifah
dalam
http://dokumen.tips/documents/etika-dokter-muslim-55b347d2eacda.html
http://www.slideshare.net/IIMMUFRONI/dokter-islam-yang-baik

http://hamzah-harun.blogspot.co.id/2012/01/islam-dan-etika-kedokteran.html

Seorang dokter diberi amanah untuk menjaga kesehatan pasien, serta menjaga rahasia
dan kehormatan mereka. Jika dia mengetahui betapa tingginya kedudukan dan
kemuliaan profesinya, maka dia pasti berusaha melakukan sesuatu yang sejalan
dengan profesi dan kedudukannya tersebut. Dia akan berusaha mendapatkan semua
sifat yang baik yang sesuai dengan kedudukannya yang tinggi yang telah Allah
karuniakan untuknya. Dia juga wajib untuk menjaga kehormatan dirinya dengan
meninggalkan semua sikap jelek yang tidak sesuai dengan profesinya seperti berdusta,
menyelisihi janji, sombong, mengaku mengetahui apa yang tidak dia ketahui, serta
mengambil harta dengan cara yang tidak benar.
Jika Islam mengajarkan pemeluknya untuk berakhlak yang mulia serta untuk melakukan
pekerjaan apapun dengan baik, maka hal ini lebih ditekankan lagi bagi mereka yang
berasal dari profesi medis. Oleh karena itu dokter muslim harus berusaha untuk memiliki
akhlak-akhlak yang terpuji sebagai berikut :
1). Ikhlas
Perkara paling penting yang wajib dimiliki oleh seorang dokter muslim adalah sifat
ikhlas. Ikhlas kepada Allah dengan melaksanakan peribadatan hanya kepad-Nya.
Allah Azza wa Jalla berfirman,



Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah
kepada-Ku (Adz Dzariyat:56)
Dari Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa
sallam bersabda,


Setiap amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai
niatnya (Muttafaqun alaih)
Maka wajib bagi dokter muslim untuk ikhlas dalam beramal dan melaksanakan tugasnya
karena Allah dan senantiasa ingat bahwa Allah selalu mengawasinya. Keikhlasan akan
memotivasi seorang dokter untuk mendapatkan balasan pahala sebelum dia
mendapatkan keuntungan duniawi. Dengan adanya rasa ikhlas pula , seorang dokter
dapat bekerja di luar jam reguler tanpa balas jasa ketika kondisi darurat maupun dalam
kondisi perang dan bencana.
2). Takwa
Di antara hal yang paling penting yang harus dimiliki seorang dokter muslim adalah
ketakwaan. Takwa menjadikan dirinya melakukan seluruh pekerjaan dengan baik, serta
tidak kehilangan semangat ketika banyak orang datang meminta bantuannya. Bahkan
tetap memelihara kehormatan, dan menjaga kemuliaan sesama kaum muslimin. Di
antaranya, seorang dokter muslim tidak diperkenankan melihat wanita kecuali dalam
kondisi darurat yang dibutuhkan, sebagai bentuk pengamalan terhadap perintah Allah
dalam Al Quran,


Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan
pandanganya (An Nur:30)
Termasuk takwa kepada Allah adalah adanya rasa takut kepada-Nya. Hendaknya
menghindari untuk berada dalam situasi sendirian dengan lawan jenis. Jika memang
dibutuhkan, maka hendaknya menghadirkan orang ketiga, atau duduk di tempat yang
terbuka yang dilihat banyak manusia. Diriwayatkan dari Umar bin Khatthab,
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Tidaklah seorang laki-laki berduaan
bersama dengan seorang perempuan, kecuali yang ketiga adalah syetan (H.R.
Tirmidzi, shahih).
3). Akhlak yang Baik

Setiap orang yang bertugas memberikan pelayanan kepada orang lain harus memiliki
akhlak yang bagus, terlebih lagi bagi para dokter. Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu
anhuma , Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
Sesungguhnya yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya
(Muttafaqun alaih).
Manusia akan menjauhi orang yang memikili sikap kasar dan sombong, dan akan
mencintai orang yang lemah lembut dan rendah hati. Diriwayatkan dari sahabat Ibnu
Masud radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaiahi wa sallam bersabda,

Tidak akan masuk surga seseorang yang dalam hatinya terdapat kesombongan
meskipun hanya seberat biji sawi (H.R Muslim 91).
Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallambersabda,

Cukuplah seseorang dikatakan berbuatkejelekan jika ia menghina dan merendahkan
saudaranya sesama muslim (H.R. Muslim 2564)
Dokter muslim selayaknya bersikap tawadhu terhadap rekan-rekan kerjanya, baik
sesama dokter maupun rekan kerja yang lain. Dia juga harus menghargai peran rekan
kerja yang lain dalam mengobatai pasien dan merawat mereka. Dan dia harus
membangun hubungan atas dasar saling percaya, dan bekerja sama dalam memberikan
pelayanan kepada pasien.
4). Jujur
Jujur merupakan salah satu sifat seorang mukmin. Allah Taala berfirman,



Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kalian
bersama orang-orang yang jujur (At Taubah:119).
Kejujuran tidak hanya dalam perkataan saja, namun juga dalam niat dan perbuatan.
Seorang dokter muslim harus jujur dalam menunaikan tuganya, serta jujur dalam

memberikan pengobatan dan menasehati pasiennya, juga dalam penelitian ilmiah yang
dia lakukan, serta dalam segala sesuatu. Dan tidak pantas bagi orang yang merupakan
teladan bagi orang lain yang memiliki sifat kebaikan dan hikmah, melakukan hal-hal
yang mengarah kepada perbuatan tidak jujur. Tidak diragukan lagi bahwa dokter muslim
akan menjadi rujukan bagi orang yang memerlukan bantuan, dan orang tersebut
mempercayai perkataan dan perbuatan dari dokter. Maka hendaknya seorang dokter
berusaha jujur sehingga sesuai dengan perasangka baik yang dimiliki oleh orang-orang
yang datang kepadanya.
5). Amanah
Dokter diberi amanah terhadap kehidupan dan kehormatan seseorang, sehingga dia
harus menunaikan amanah tersebut dengan cara yang benar. Allah Taala berfiman
menggambarkan sifat orang-orang yang beriman,


Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janjinya (Al
Mukminun:8).
Diriwayatkan dari sahabat Anas radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallambersabda,


Tunaikanlah amanah pada orang yang memberikan amanah kepadamu dan janganlah
mengkhianati orang yang mengkhianatimu (H.R. Tirmidzi, shahih)
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang berkhianat terhadap orang yag
mengkhianati kita, maka bagaimana lagi terhadap orang yang mempercayakan jiwa dan
kehormatannya kepada kita?
Termasuk bagian dari amanah adalah menasehati orang yang berkonsultasi kepada
Anda, berlaku jujur kepada orang-orang yang mempercayai Anda, dan melakukan yang
terbaik dalam pekerjaan Anda.
Termasuk bagian dari amanah adalah memberikan obat yang paling bagus efektiftasnya
dan paling sedikit efek sampingnya. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, Para
dokter telah sepakat bahwa jika dimungkinkan untuk mengobati penyakit dengan

pemberian makanan terterntu maka tidak perlu menggantinya dengan pemberian obat.
Jika dimungkinkan dengan pemberian obat yang sederhana dan aman, maka tidak
boleh menggantinya dengan obat yang memiliki efek samping lebih berat
6). Paham Ilmu Agama
Seorang dokter muslim harus memamahi ilmu agama, khusunya yang terkait dengan
hal-hal yang berhubungan dengan profesinya. Dari Muawiyah radhiyallahu anhu,
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,



Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan memahamkan
baginya ilmu agama (Muttafaqun alaihi)
Seorang dokter muslim harus memepelajari ilmu gama yang akan membantunya untuk
menunaikan tugasnya mengobati orang sakit. Dia harus memahami hukum
tentang thaharah (bersuci) , hukum tentang perkara-perkara yang najis, serta
bagaiaman cara menghilangkan najis, hukum menyentuh alat kelamin, hukum
menjamak sholat jika ada kebutuhan, dan hukum-hukum syariat yang lainnya yang
berkaitan dengan tugasnya.
Termasuk hal-hal yang harus dipahami dokter muslim bahwa dilarang memberikan
pengobatan dengan sesuatu yang tidak dibolehkan dalam Islam, seperti dengan bendabenda najis dan khamr(minuman yang memabukkan).
7). Bersikap Adil dan Pertengahan
Bersikap adil merupakan salah satu pokok ajaran agama Islam. Tidak terlalu bersikap
meremehkan, namun juga tidak boleh berlebih-lebihan. Allah Taala berfirman,


Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan
pertengahan (Al Baqarah:143).
Seorang dokter harus bersikap adil dalam bermuamalah dengan pasiennya.
Kebanyakan pasien mempercayakan urusan mereka dan menaruh kepercayaaan
kepada para dokter agar memberikan pelayanan kesehatan untuk mereka. Maka tidak

boleh mengkhianati kepercayaan tersebut dan tidak menunaikan hak mereka. Baik itu
terkait dengan pemberian pelayanan pengobatan, atau terkait biaya keuangan yang
mungkin memberatkan pasien dan keluarganya. Tidak selayakanya seorang dokter
membeda-bedakan dalam memberikan pelayanan, atau mendahulukan dan
mengakhirkan pemeriksaan pasien tanpa indikasi yang tepat, kecuali untuk kasus
darurat yang harus didahulukan. Dia harus memberikan pelayanan kepada seluruh
pasien dengan pelayanan yang sama tanpa membedakan-bedakan mereka karena
status sosialnya.
Ini sebagian akhlak teladan yangh hendaknya dimiliki oleh setiap dokter muslim.
Etika bagi para dokter Muslim

Dalam etika kedokteran islam tercantum nilai-nilai bahwa Quran dan Hadits adalah sumber segala
macam etika yang dibutuhkan untuk mencapai hidup bahagia dunia akhirat. Etika kedokteran
mengatur kehidupan, tingkah laku seorang dokter dalam mengabdikan dirinya terhadap manusia
baik yang sakit maupun yang sehat. Etika kedokteran islam terkumpul dalam Kode Etik Kedokteran
Islam yang bernama Thibbun Nabawi, yang mengatur hubungan dokter dengan orang sakit dan
dokter dengan rekannya. Berikut ini dibahas mengenai etika seorang Dokter muslim terhadap Khalik,
terhadap pasien, dan terhadap sejawatnya:

1. Etika Dokter Muslim terhadap Khalik:


Seorang Dokter Muslim haruslah benar-benar menyadari bahwa dirinya adalah hamba Allah semata.
Dan betapa tidak berarti dirinya beserta ilmunya tanpa ijin Allah SAW.

Mengenai etika terhadap Khalik disebutkan bahwa:


Dokter muslim harus meyakini dirinya sebagai khalifah fungsionaris Allah dalam bidang kesehatan
dan kedokteran.
Melaksanakan profesinya karena Allah dan buah Allah.
Hanya melakukan pengobatan, penyembuhan adalah Allah.
Melaksanakan profesinya dengan iman supaya jangan merugi.

2. Etika Dokter Muslim terhadap pasien:


Hubungan antara dokter dengan pasien adalah hubungan antar manusia dan manusia. Dalam
hubungan ini mungkin timbul pertentangan antara dokter dan pasien, karena masing-masing
mempunyai nilai yang berbeda. Masalah semacam ini
akan dihadapi oleh Dokter yang bekerja di lingkungan dengan suatu sistem yang berbeda dengan
kebudayaan profesinya.

Untuk melaksanakan tugasnya dengan baik, tidak jarang dokter harus berjuang lebih dulu melawan
tradisi yang telah tertanam
dengan kuat. Dalam hal ini, seorang Dokter Muslim tidak mungkin memaksakan kebudayaan profesi
yang selama ini dianutnya.
Mengenai etika kedokteran terhadap orang sakit antara lain disebutkan bahwa seorang Dokter
Muslim wajib:

Memperlihatkan jenis penyakit, sebab musabab timbulnya penyakit, kekuatan tubuh orang sakit,
keadaan resam tubuh yang tidak sewajarnya, umur si sakit dan obat yang cocok dengan musim itu,
negeri si sakit dan keadaan buminya, iklim di mana
ia sakit, daya penyembuhan obat itu.
Di samping itu dokter harus memperhatikan mengenai tujuan pengobatan, obat yang dapat
melawan penyakit itu, cara yang mudah dalam mengobati penyakit.
Selanjutnya seorang dokter hendaknya membuat campuran obat yang sempurna, mempunyai
pengalaman mengenai penyakit jiwa dan pengobatannya, berlaku lemah lembut, menggunakan cara
keagamaan dan sugesti, tahu tugasnya.

3. Etika Dokter Muslim terhadap Sejawatnya:


Para Dokter di seluruh dunia mempunyai kewajiban yang sama. Mereka adalah kawan-kaawn
seperjuangan yang merupakan kesatuan aksi dibaawh panji perikemanusiaan untuk memerangi
penyakit, yang merupakan salah satu pengganggu keselamatan dan kebahagiaan umat manusia.
Penemuan dan pengalaman baru dijadikan milik bersama. Panggilan suci yang menjiwai hidup dan
perbuatan telah mempersatukan mereka menempatkan para Dokter pada suatu kedudukan yang
terhormat dalam masyarakat. Hal-hal tersebut menimbulkan rasa persaudaraan dan kesediaan
tolong-menolong yang senantiasa perlu dipertahankan dan dikembangkan.

Mengenai etika yang bagi Dokter Muslim kepada Sejawatnya yaitu :


Dokter yang baru menetap di suatu tempat, wajib mengunjungi teman sejawatnya yang telah berada
di situ. Jika di kota yang terdapat banyak praktik dokter, cukup dengan memberitahukan tentang
pembukaan praktiknya kepada teman sejawat yang berdekatan.
Setiap Dokter menjadi anggota IDI setia dan aktif. Dengan menghadiri pertemuan-pertemuan yang
diadakan.
Setiap Dokter mengunjungi pertemuan klinik bila ada kesempatan. Sehingga dapat dengan mudah
mengikuti perkembangan ilmu teknologi kedokteran.

Sifat-sifat penting lain yang harus dimiliki oleh seorang Dokter Muslim ialah :
Adanya belas kasihan dan cinta kasih terhadap sesama manusia, perasaan sosial yang ditunjukkan
kepada masyarakat.

Harus berbudi luhur, dapat dipercaya oleh pasien, dan memupuk keyakinan profesional.
Seorang dokter harus dapat dengan tenang melakukan pekerjaannya dan harus mempunyai
kepercayaan kepada diri sendiri.
Bersikap mandiri dan orisinal karena pengetahuan yang diwarisi secara turun temurun dari bukubuku masih jauh memadai.
Ia harus mempunyai kepribadian yang kuat, sehingga dapat melakukan pekerjaanya di dalam
keadaan yang serba sulit. Dan tentunya tidak menyimpang dari ketentuan-ketentuan agama.
Seorang dokter muslim dilarang membeda-bedakan antara pasien kaya dan pasien miskin.
Seorang dokter harus hidup seimbang, tidak berlebih-lebihan, tidak membuang waktu serta energi
dengan menikmati kesenangan dan kenikmatan.
Sebagian besar waktunya harus dicurahkan kepada pasien,
Seorang dokter muslim harus lebih banyak mendengar dan lebih sedikit bicara,
Seorang dokter muslim tidak boleh berkecil hati dan harus merasa bangga akan profesinya karena
semua agama menghormati profesi dokter.

Istilah Arab untuk menyebut dokter adalah hakim, salah satu nama Allah yang berarti orang yang
memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan.

Kasus yang menyangkut etika dokter muslim dalam praktek.


Kesalehan seorang dokter ditekankan oleh kalangan pengobatan Yunani, sebagaimana seorang
dokter dianggap sebagai penjaga tubuh dan jiwa. Ihwal etika medis dalam islam, seperti halnya etika
secara umum, terdapat dua pengaruh langsung, yaitu dari bangsa Yunani dan Iran.

Banyak kasus-kasus yang dipertentangkan. Seperti misalnya:

Bolehkah seorang dokter meminta bayaran? Jika ya, seberapa besar? Hal tersebut merupakan
masalah yang terus diperdebatkan dalam islam. Masalah ini tampaknya merupakan bagian dari
masalah yang lebih besar: Bolehkah seorang guru, terutama guru agama, menerima bayaran.
Bahkan dewasa ini sebagian kalangan tetap mengharamkan meminta bayaran dalam pengajaran Al
Quran dan penyebarluasan ilmu keagamaan. Menurut sebuah hadits Nabi, diperbolehkan membayar
seorang dokter untuk pelayanan medisnya. Al-Dzahabi mengisahkan suatu hari sekelompok sahabat
Muslim tiba di sebuah suku tertentu, yang memperlakukan mereka dengan ramah. Tiba-tiba salah
satu anggota suku tersebut digigit ular dan para pengembara itu dimintai tolong untuk
menyembuhkan. Kemudian orang yang tergigit tersebut sembuh dan suku membayar sejumlah
seratus ekor kambing. Sebuah transaksi yang dibolehkan oleh Rasulullah. Dari sinilah legalitas
untuk meminta bayaran atas perawatan itu bermula. Namun banyak kalangan yang tidak setuju
untuk mencari nafkah dari orang sakit.

Bolehkah seorang dokter Muslim melakukan transplantasi organ?


Seringkali terdapat kasus mengensi organ tubuh seorang pasien yang tidak dapat berfungsi dengan
baik lagi. Tidak ada cara untuk mengobatinya kecuali dengan transplantasi organ (seperti mata,
jantung dan lain sebagainya) dari orang yang telah meninggal. Hingga kini pendapat agama
menentang keras praktik ini. Terdapat suatu hukum klasik yang menyebutkan bahwa Kebutuhan
manusia hidup menjadi prioritas dibandingkan manusia mati. Tetapi ketika seorang ulama
terkemuka ditanya mengenai persoalan tersebut, Beliau menjawab negatif. Namun sikap masyarakat
secara umum positif terhadap masalah transplantasi organ tubuh, meskipun ada ketidaksetujuan
dari kaum ulama.

Bolehkah seorang dokter Muslim melakukan pengembangan bayi tabung?


Pengembangan bayi tabung tidak dilarang dalam islam asalkan penyatuan terjadi antara gen suami
dan istri. Kekhawatiran bahwa proses ini mencampuri kehendak Allah sama sekali tidak berdasar.
Prosesnya sama dengan pembenihan bibit tanaman dalam suatu kondisi yang terkendali, kemudian
dipindahkan ketempat yang tepat ketika bibit tersebut telah cukup kuat untuk tumbuh di tempat itu.
Yang dikhawatirkan bukanlah bahwa orang mencoba menyaingi Allah dengan melakukan hal
tersebut, melainkan jika orang mencoba bersaing dengan setan dan menyimpangkan sifat manusia.
Islam tidak mengizinkan penyatuan gen antara laki-laki dan perempuan yang bukan suami istri
karena itu merupakan perzinaan.

Bolehkah seorang Dokter Muslim mekakukan tindakan euthanasia?


Euthanasia merupakan suatu masalah yang banyak menarik perhatian dan banyak dibicarakan
orang. Euthanasia (dari bahasa Yunani, eu = baik, thanatos = mati) secara etimologi berarti mati
yang baik atau mati yang tenang. Kemudian pengertian euthanasia berkembang, karena adanya
perbedaan titik pandang dalam menjelaskan mati yang baik. Akibatnya timbul berbagai definisi
mengenai euthanasia. Euthanasia banyak dilakukan sejak jaman dahulu kala dan banyak
memperoleh dukungan tokoh-tokoh besar dalam sejarah. Tetapi dalam agama terdapat beberapa
pendapat yang tidak membenarkan hal tersebut. Berdasar bahwa Allah-lah yang menentukan kapan
seseorang harus mati.

Etika pasien terhadap dokter

Menurut pendapat Abu Bakar Al-Razi, bahwa baik pasien maupun dokter harus memenuhi etika.
Beliau menganjurkan pasien agar
mengikuti dangan ketat perintah dokter,
Menghormati dokter, dan
Menganggap dokter sebagai sahabat terbaiknya.

Pasien harus berhubungan langsung dengan dokter dan


Tidak boleh merahasiakan penyakit yang diderita.
Dan tentu akan lebih baik jika orang meminta nasehat dokter tentang cara menjaga kesehatan
sebelum membutuhkan pengobatan. Bahwa pencegahan lebih baik daripada pengobatan merupakan
sebuah prinsip yang dianjurkan oleh semua dokter, termasuk para dokter Muslim.

Sifat etika kedokteran Islam

Pakar Andrologi Prof. dr. Muhammad Kamil Tadjudin, Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan (FKIK) UIN Jakarta, mengatakan, etika kedokteran dalam Islam mempunyai sifat yang
tetap. Berbeda dengan etika kedokteran sekuler yang cenderung berubah-ubah.

Etika kedokteran Islami, menurut Beliau, mempunyai perbedaan secara mendasar dengan etika
kedokteran sekuler. Etika kedokteran Islami diturunkan dari tradisi dan kepercayaan agama,
sehingga bentuknya akan tetap untuk selamanya. Sebaliknya etika kedokteran sekuler dirumuskan
oleh masyarakat yang sikapnya berubah-ubah. Contohnya adalah sikap tentang aborsi yang berkisar
antara sikap melarang semua bentuk aborsi sampai diperbolehkannya aborsi atas permintaan,
paparnya. Demikian pula halnya sikap terhadap gay dan euthanasia, yang juga berkisar dari
pelarangan penuh sampai diperbolehkan dengan indikasi tertentu.

Beliau juga mengatakan, antara etika kedokteran Islami dan kedokteran sekuler memiliki perbedaan
mendasar, misalnya etika tentang pemberian nasihat moral terhadap seorang pasien. Sebagai contoh,
jika ada seorang pasien yang mengadakan chek up pada seorang dokter Muslim dan dia mendapat
keterangan bahwa orang itu sering minum alkohol, maka, walaupun orang itu sehat, wajib bagi
dokter Muslim memberi nasihat untuk tidak minum alkohol. Sementara dalam etika kedokteran
sekuler, nasihat moral itu mungkin tidak dilakukan, meskipun alkohol menimbulkan bahaya, baik
bagi diri maupun masyarakat sekitar. Contoh nasihat moral lainnya adalah tentang pencegahan
penyakit kelamin terhadap para lelaki hidung belang.

Menurut Tadjudin, seorang dokter sekuler mungkin akan menganjurkan penggunaan kondom,
sedangkan seorang dokter Muslim akan menasihatkan abstinensi.

Kasus yang sama juga terjadi terhadap isu-isu kontemporer kedokteran, seperti reproduksi
berbantuan atau pembuahan telur di luar rahim melalui fertilisasi (bayi tabung). Dalam kasus ini,
menurut Tadjudin, dalam pandangan etika kedokteran Islam hal itu dibolehkan jika dilakukan
dengan sel kelamin (sperma dan telur) yang berasal dari suami-istri yang sah. Tapi jika penggunaan
sperma atau telur itu bukan berasal dari suami-istri yang sah tidak dapat dibenarkan, termasuk

penggunaan rahim yang lain dari wanita yang mempunyai telur untuk membesarkan blastosis,
jelasnya.

Alasan tidak boleh rahim wanita lain yang mempunyai telur untuk membesarkan blastosis, jelas
Tadjudin, karena akan timbul masalah keturunan, yakni siapa ibu sebenarnya (dari anak hasil
pembuahan itu). Padahal, al-Qur'an surat al-Furqan ayat 5 menyebutkan: Dan Dia yang
menciptakan manusia dari air, lalu Dia menjadikannya mempunyai keturunan dan mushaharah dan
Tuhanmu senantiasa Maha Kuasa.

Selain tidak jelasnya masalah keturunan tadi, tambah Ketua Badan Akreditasi Nasional Perguruan
Tinggi (BAN-PT) itu, juga timbul masalah baru, apakah memasukkan sperma atau blastosis asing ke
dalam rahim seorang wanita tidak merupakan tindakan yang dapat digolongkan zina?. Meski
demikian, Tadjudin tidak menampik bila sementara kalangan yang berpendapat bahwa menanamkan
blastosis yang berasal dari sperma dan telur sepasang suami-istri ke perempuan lain adalah analog
dengan menyusui anak orang lain atau bagi perempuan penerima blastosis itu analog dengan ibu
susu.

Kode etik islam bidang kedokteran

Kode etik islam untuk bidang kedokteran akan segera diberlakukan. Hal ini telah dibahas melalui
Konferensi ke-8 Organisasi Ilmu Kedokteran Islam, yang berlangsung di Kairo, Mesir. Konferensi ini
ditutup dengan disetujuinya draft pedoman etika ilmu kedokteran internasional pertama yang
berbasis pada perspektif Islam.

Draft yang berjudul 'Kode etik Islam bidang kedokteran dan kesehatan' tersebut, materinya akan
disempurnakan, diedit dan akan diterbitkan oleh Organisasi Ilmu Kedokteran Islam (IOMS). Ide
untuk menerbitkan kode etik Islam di bidang kedokteran ini muncul sejak tahun 1981, ketika IOMS
berinisiatif untuk mengadaptasi dokumen tentang etika kedokteran Islam hasil dari konferensi di
Kuwait. Dokumen itu antara lain menyebutkan, 'Manusia harus diperlakukan seperti apa yang
digariskan Tuhan di mana Dia menetapkan bahwa umatnya sebagai khalifahnya di bumi.'

Konferensi yang dimulai tanggal 11 Desember 2004, diselenggarakan oleh IOMS bekerjasama dengan
Organisasi Kebudayaan, Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan Islam (ISESCO), Dewan Organisasi
Internasional Ilmu Kedokteran (CIOMS), Ajman University Network dan Organisasi Kebudayaan, Ilmu
Pengetahuan dan Pendidikan PBB (UNESCO). Konferensi itu dihadiri oleh tokoh-tokoh Islam
terkemuka seperi Sheikh Yusuf Al-Qaradawi dan Haytham Al-Khayat.

Dalam acara penutupan, para peserta konferensi telah menyepakati 14 rekomendasi untuk

mengembangkan dan memungkinkan kode etik Islam bidang kedokteran itu diberlakukan. Menterimenteri pendidikan, rektor di sekolah-sekolah kedokteran di negara Arab dan negara Islam diminta
untuk mulai memasukkan dan mengenalkan kode etik dalam kurikulum pendidikannya.

Usulan lainnya yang muncul adalah mensosialisasikan kode etik yang baru ini melalui situs-situs
milik lembaga kedokteran dan kesehatan. Kode etik islam bidang kedokteran ini bukan hanya untuk
kalangan kedokteran profesional, tapi juga untuk keluarga dan masyarakat pada umumnya, seperti
diungkapkan oleh Dr. Mu'men S. Hadidi, Kepala Institut Nasional Kedokteran Forensik dari Yordania.

Setelah konferensi ini, kantor WHO wilayah Mediterania Timur akan bekerja sama dengan menterimenteri kesehatan di wilayah itu akan membentuk komite ad hoc yang akan menindaklanjuti
penyusunan kode etik tersebut. Sebelumnya, IOMS akan merancang sebuah workshop untuk
menggali masukan bagaimana kode etik ini nantinya akan bermanfaat dan menyebarluaskannya ke
seluruh kalangan profesional di dunia kesehatan.

Dalam pidatonya, Ketua IOMS, Dr. Abd Al-Rahman El-Awady mengusulkan adanya penggalangan
dana dari kalangan Muslim untuk membiayai riset-riset di bidang kesehatan di negara-negara Islam.
Sementara itu, Kepala Ajman University Network, Dr. Saed Salman, mengusulkan
diselenggarakannya konferensi yang membahas masalah etika yang berkaitan dengan industri
farmasi dan riset tentang obat-obatan.

Konferensi ke-8 IOMS juga membahas tentang hubungan antara dokter dan pasiennya termasuk soal
praktek kedokteran, kewajiban dan tanggung jawabnya, serta masalah riset di bidang biomedis yang
melibatkan bagian tubuh manusia. Para dokter dan ilmuwan dalam konferensi itu juga membahas
isu-isu sensitif seperti soal bayi tabung, euthanasia dan rekayasa jenis kelamin bayi.