Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam bidang konstruksi sifat material yang dapat terdefleksi
merupakan suatu hal yang sangat membahayakan, karena bila saja hal tersebut
terjadi maka struktur yang dibangun akan mengalami kegagalan.
Oleh karena itu perlu perencanaan yang sangat matang untuk
membangun suatu struktur tertentu. Begitu juga dengan poros turbin pada
pembangkit daya (power plant) pada saat operasi dengan putaran tertentu
poros akan terdefleksi akibat berat rotor atau pun barat dia sendiri. Defleksi
yang paling besar terjadi pada putaran operasi tertentu itulah yang disebut
dengan putaran kritis, yang dapat membuat struktur poros tersebut gagal
sehingga dalam operasi dihindari kecepatan putar yang demikian. Oleh karena
itu perlu pengetahuan yang dalam mengenai putaran kritis ini sehingga
diadakanlah praktikum putaran kritis ini.
1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui karakteristik poros dengan membuat grafik yang
menyatakan hubungan defleksi yang terjadi dengan posisi rotor untuk
berbagai tegangan.
2. Untuk mencari fenomena yang terjadi dengan berputarnya poros pada
tegangan yang telah ditentukan.
3. Mencari putaran kritis yang terjadi dengan berputarnya poros pada variasi
tegangan.
1.3 Manfaat
Setelah praktikum putaran kritis ini mahasiswa diharapkan dapat
mengetahui karakteristik poros dan melihat fenomena yang terjadi pada
putaran yang memberikan defleksi paling besar dan mengetahui besarnya
sehingga bisa dihindari dalam operasi suatu sistem.

BAB II

Laporan Akhir Praktikum Fenomena Dasar Mesin LKM


Putaran Kritis
Putaran Kritis

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Dasar


2.1.1 Teori Gelombang
Gelombang adalah suatu gejala terjadinya perambatan suatu gangguan
(disturbance) melewatisuatu medium dimana setelah gangguan ini lewatkeadaan
medium akan kembali kekeadaan semula seperti sebelum gangguan itu datang.
Gerak gelombang muncul di dalam hampir tiap-tiap cabang fisika,
sepertigelombang air, gelombang bunyi, gelombang cahaya, gelombang radio, dan
gelombang elektromagnetik lainnya. Sebuah perumusan mengenai atom dan
partikel-partikel sub-atomik dinamakan mekanika gelombang. Jelaslah bahwa
sifat-sifat gelombang sangat penting di dalam fisika.
Gelombang terjadi karenaadanya sumber getaran yang bergerak terusmenerus. Medium pada proses perambatan gelombang tidak selalu ikut berpindah
tempat bersama dengan rambatan gelombang. Misalnya bunyi yang merambat
melalui medium udara, maka partikel-partikel udara akan bergerak osilasi (lokal)
saja.
Gelombang berdasarkan medium perambatannya dapat dikategorikanmenjadi
gelombang mekanik dan gelombang elektromagnetik. Gelombang mekanik terdiri
dari partikel-partikel yang bergetar, dalam perambatannya memerlukan medium.
Contohnya gelombang bunyi, gelombang pada air, gelombang tali. Gelombang
elektromagnetik adalah gelombang yang dihasilkan dari perubahan medan magnet
dan medan listrik secara berurutan, arah getar vektor medan listrik dan medan
magnet saling tegak lurus. Perambatan gelombang ini tidak memerlukan medium
dan bergerak mendekati kelajuan cahaya. Contohnya sinar gamma (), sinar X,
sinar ultra violet, cahaya tampak, infra merah, gelombang radar, gelombang TV,
gelombang radio.
Berdasarkan arah getar dan arah rambat, gelombang dibedakan menjadidua
jenis yaitu gelombang transversal dan gelombang longitudinal. Gelombang

Kelompok 25

91

Laporan Akhir Praktikum Fenomena Dasar Mesin LKM


Putaran Kritis
Putaran Kritis

transversal adalah gelombang yang arah rambatannya tegak lurus terhadap


arahgetarnya, contohnya gelombang pada tali , gelombang permukaan air,
gelombangcahaya. Sedangkan gelombang longitudinal adalah gelombang yang
arah merambatnya searah dengan arah getarnya, contohnya gelombang bunyi dan
gelombang pada pegas. Gelombang ini terdiri dari rapatan dan regangan. Rapatan
adalah daerah-daerah dimana kumparan-kumparan mendekat selama sesaat.
Regangan adalah daerah-daerah dimana kumparan-kumparan menjauh selama
sesaat. Rapatan dan regangan berhubungan dengan puncak dan lembah pada
gelombang transversal. Gelombang transversal dan gelombang longitudinal dapat
digambarkan secara grafis pada gambar berikut

Gambar 4.2.1Gelombang Transversal (diambil dari Cutnell & Johnson, 1992)

Gambar 4.2.2Gelombang Longitudinal (diambil dari Stanley Wolfe, 2003)

Kelompok 25

92

Laporan Akhir Praktikum Fenomena Dasar Mesin LKM


Putaran Kritis
Putaran Kritis

Besaran-besaran

yang

digunakan

untuk

mendiskripsikan

gelombang

antaralain panjang gelombang () adalah jarak antara dua puncak yang berurutan,
frekuensi () adalah banyaknya gelombang yang melewati suatu titik tiap satuan
waktu, periode (T) adalah waktu yang diperlukan oleh gelombang melewati suatu
titik, amplitudo (A) adalah simpangan maksimum dari titik setimbang,
kecepatangelombang (v) adalah kecepatan dimana puncak gelombang (atau
bagian lain dari gelombang) bergerak. Kecepatan gelombang harus dibedakan dari
kecepatan partikel pada medium itu sendiri. Pada waktu merambat gelombang
membawa energi dari satu tempat ke tempat lain. Saat gelombang merambat
melalui medium maka energi dipindahkan sebagai energi getaran antar partikel
dalam medium tersebut.
2.1.2 Hukum I, II, III Newton
Hukum I Newton :
Sebuah benda akan berada terus dalam keadaan diam atau bergerak lurus
beraturan, kecuali apabila dan hanya bila ada gaya atau kekuatan dari luar yang
bekerja pada benda tersebut. Hukum ini merupakan pernyataan kesetimbangan
(Statis dan Dinamis).
F = 0
Selamatidakadaresultangaya yang bekerja pada sebuah benda maka benda
tersebut akan selalu pada keadaannya, yaitubenda yang diamakan selalu diam dan
benda yang bergerak akan bergerak dengan kecepatankonstan.
Hukum II Newton :
Percepatan pada sebuah benda sebanding dengan resultan gaya yang bekerja
pada benda tersebut.
F ma a F

Kelompok 25

93

Laporan Akhir Praktikum Fenomena Dasar Mesin LKM


Putaran Kritis
Putaran Kritis

Hukum III Newton :


Jika duabenda berinteraksi, gaya yang dilakukan oleh benda pertama pada
bendakedua sama dan berlawanan arah dengan gaya yang dilakukan oleh
bendakedua pada benda pertama.

M1

F21F12

M2

F12 F21

2.1.3 Putaran Kritis dan Grafik


Apabila pada suatu poros yang didukung diantara dua bantalan dipasang disk
maka poros tersebut akan mengalami defleksi statis. Defleksi tersebut disebabkan
oleh berat disk (jika massa poros diabaikan). Defleksi akan bertambah besar
akibat gaya sentrifugal pada saat poros berputar.
Putaran kritis poros adalah putaran yang mengakibatkan terjadinya
defleksi maksimum pada poros. Hal ini mengakibatkan poros berputar sambil
bergetar dengan amplitudo yang besar. Gejala ini disebut whirling shaft.
Terjadinya whirling shaft pada permesinan dapat mengakibatkan:
Timbulnya getaran yang berlebihan, getaran ini kemudian diinduksikan ke
komponen mesin lainnya dan sekelilingnya.

Kerusakan mekanik. Hal ini disebabkan oleh tegangan bending yang besar
pada poros, gesekan antara poros dan rumah, dan beban yang diterima
bearing menjadi berlebih.

Pada akhirnya, semua hal diatas akan memperpendek umur (komponen)


mesin.

Kelompok 25

94

Laporan Akhir Praktikum Fenomena Dasar Mesin LKM


Putaran Kritis
Putaran Kritis

Gambar 4.2.3Grafik Putaran Kritis

Kelompok 25

95

Laporan Akhir Praktikum Fenomena Dasar Mesin LKM


Putaran Kritis
Putaran Kritis

2.1.4 Fenomena Analogi Poros


Adapun beberapa bentuk fenomena analogi yang terjadi pada poros yaitu :
a. Massa Bergetar di Suatu Bidang Horizontal
Gambar 4.2.4 memperlihatkan suatu massa dengan berat W pound yang
diam atas suatu permukaan licin tanpa gesekan dan diikatkan ke rangka
stasioner melalui sebuah pegas. Dalam analisa, massa pegas akan diabaikan.
Massa dipindahkan sejauh x dari posisi keseimbangannya, dan kemudian
dilepaskan. Ingin ditentukan tipe dari gerakan maka dapat menggukan
persamaan-persamaan Newton dan dengan persamaan energi.

Gambar 4.2.4 Massa yang Bergetar di Bidang Horizontal

b. Massa Bergetar di Suatu Bidang Vertikal


Gambar 4.2.5 memperlihatkan massa yang digantung dengan sebuah pegas
vertikal. Bobot menyebabkan pegas melendut sejauh xst. bayangkan massa
ditarik kebawah pada suatu jarak xo dari posisi keimbangannya dan kemudian
dilepaskan dan ingin diketahui geraknya sebagai efek gravitasi. Massa yang
bergetar secara vertikal mempunyai frekuensi yang sama seperti massa yang
bergetar secara horizontal dengan osilasi yang terjadi di sekitar posisi
keseimbangannya.

Kelompok 25

96

Laporan Akhir Praktikum Fenomena Dasar Mesin LKM


Putaran Kritis
Putaran Kritis

Gambar 4.2.5 Massa Bergetar di Bidang Vertikal

c. Olakan Poros
Poros-poros selalu menunjukkan lendutan yang sangat besar pada suatu
kecepatan dari operasi, meskipun poros dapat beputar secara mulus pada
kecepatan-kecepatan yang lebih rendah atau lebih tinggi. Gambar 4.2.5
menunjukkan sebuah poros dengan panjang L cm ditumpu oleh bantalan pada
ujung-ujungnya, sebuah piringan yang dipandang sebagai sebuah massa
terpusat dan beratnya WNewton, aksi giroskop dari massa akan diabaikan, dan
selanjutnya akan diasumsikan poros bergerak melalui sebuah kopling yang
bekerja tanpa menahan lendutan poros. Poros dipandang vertikal sehingga
gravitasi dapat diabaikan, meskipun hasil-hasil yang didapatkan akan sama
apakah poros vertikal atau horizontal.

Kelompok 25

97

Laporan Akhir Praktikum Fenomena Dasar Mesin LKM


Putaran Kritis
Putaran Kritis

Gambar 4.2.6 Olakan Poros

Apabila titik berat dari massa ada di sunbu puntir, maka tidak akan ada
ketakseimbangan macam apapun yang dapat menyebabkan poros berputar di
suatu sumbu lain diluar sumbu poros. Namun dalam prakteknya, kondisi
semacam itu tidak dapat dicapai, dan titik berat piringan ada di suatu jarak e
yang boleh dikatakan kecil, dari pusat geometrik piringan. Dengan titik berat
yang di luar sumbu putar atau sumbu bantalan, terdapat suatu gaya inersia
yang mengakibatkan poros melendut, dimana lendutan pusat poros dinyatakan
dengan r, seperti pada gambar di atas.
Pusat geometri dari piringan, O adalah sama dengan pusat poros pada
piringan. Ketika poros berputar, titik tinggi T akan berputar terhadap sumbu
bantalan,S. Gaya inersia piringan diseimbangkan oleh apa yang dapat disebut
Kelompok 25

98

Laporan Akhir Praktikum Fenomena Dasar Mesin LKM


Putaran Kritis
Putaran Kritis

dengan gaya pegas dari poros ketika poros berputar. Gaya inersia, untuk
sebuah massa yang berputar terhadap satu pusat tetap, adalah :
W
r e 2
g

..(4.2.1)
Gaya pegas dari poros dapat dinyatakan dengan kr, dimana k adalah laju
pegas poros, yakni gaya yang diperlukan per cm lendutan poros pada piringan.
Dengan menyamakan jumlah gaya-gaya pada gambar dengan nol, dengan
termasuk gaya inersia, maka didapatkan :
W
r e 2 kr 0
g

...(4.2.2)
Dengan menata kembali suku-sukunya :

W 2

r
g

W
e
k 2
g
...(4.2.3)
Kecepatan berbahaya dari operasi suatu poros tertentu dinyatakan dengan
kecepatan putaran kritis atau kecepatan olakan, yakni kecepatan dimana
perbandingan r/e adalah tak hingga.Operasi pada suatu kecepatan yang
mendekati kecepatan kritis juga tak dikehendaki karena besarnya perpindahan
pusat piringan dari sumbu putar. Kecepatan kritis dapat diperoleh untuk
kondisi dimana persamaan diatas sama dengan nol :

Kelompok 25

99

Laporan Akhir Praktikum Fenomena Dasar Mesin LKM


Putaran Kritis
Putaran Kritis

W 2
0 or (kg / W ) 0.5
g

...(4.2.4)
Konstanta k dapat dinyatakan dalam bermacam cara, misalnya seperti
konstanta yang diperoleh dari persamaan lendutan sebuah poros dengan
tumpuan sederhana dibawah aksi suatu beban P :

Pab 2
L a2 b2
6 LEI

...(4.2.5)

Perbandingan P/r mendefinisikan laju pegas k menjadi :

P
6 PLEI

2
r
ab( L a 2 b 2 )
...(4.2.6)

Khusus untuk poros yang sedang dibahas ini, kecepatan kritis dapat
dinyatakan dengan :

6 PLEI
g
. rad / det
2
2
2
ab ( L a b ) W

...(4.2.7)
Sebuah metode alternatif adalah dengan menulis laju pegas k dalam sukusuku suatu beban spesifik dan lendutan spesifik, beban yang sama dengan
berat piringan, yaitu P=W. lendutan resultan akan berupa lendutan statik dari
poros horizontal, di bawah aksi beban piringan, lendutan statik tersebut
dinamakan xst.
Jadi,

Kelompok 25

100

Laporan Akhir Praktikum Fenomena Dasar Mesin LKM


Putaran Kritis
Putaran Kritis

P W

r
x st
.....(4.2.8)

Atau
W g
(kg / W )

x st W
1
2

1
2

( g / x st ) rad / det

.....(4.2.9)

d. Efek Gesekan Terhadap Kecepatan Kritis


Meskipun persamaan teoritik yang diturunkan sebelumnya menunjukkan
suatu putaran dengan jari-jari yang besarnya tak hingga pada kecepatan kritis,
namun kondisi semacam ini secara praktek tidak mungkin. Menurut hasil-hasil
yang diperoleh dari persmaan teoritik, poros yang berputar pada putaran kritis
tentu saja akan patah atau terdistorsi. Tetapi, kita tahu bahwa poros-poros yang
berjalan pada kecepatan kritis tidak perlu patah, dan mungkin berjalan dengan
sangat kasar tetapi tanpa distorsi permanen.

Kelompok 25

101

Laporan Akhir Praktikum Fenomena Dasar Mesin LKM


Putaran Kritis
Putaran Kritis

Gambar 4.2.7 Perbandingan Efek Gesekan Terhadap Kecepatan Putar

Dari analisa didapatkan hubungan perbandingan maksimum dari r/e tidak tak
hingga apabila gesekan diperhitungkan. Tetapi terdapat satu daerah pada suatu
kecepatan yang tidak jauhdari kecepatan yang dihitung dengan tanpa gesekan.
Juga, harga r/e pada kecepatan-kecepatan yang agak jauh dari kecepatan olakan
tidak terlalu banyak berbeda dengan atau tanpa gesekan. Dalam praktek, biasanya
gesekan diabaikan dan kecepatan olakan dihitung dengan tanpa gesekan, dengan
kesalahan yang sangat kecil. Kecepatan olakan atau kecepatan kritis terjadi ketika
sebuah poros mempunyai jari-jari lendutan yang secara teori besarnya tak hingga,
dengan mengabaikan gesekan.

Gambar 4.2.8Nilai r/e

Kelompok 25

102

Laporan Akhir Praktikum Fenomena Dasar Mesin LKM


Putaran Kritis
Putaran Kritis

Poros dapat terdefleksi dintaranya disebabkan oleh massa dari poros


tersebut. Untuk menentukan seberapa besar defleksi yang diakibatkannya, dapat
ditentukan dari penurunan rumus di bawah ini :
d2y
dx 2

2
dy

1
dx

1 y
2

1 d2y

p dx 2
d2y M

dx 2 EI

M E.I .

d2y
dx 2

...(4.2.10)

Dimana :
y

: Lendutan di suatu titik sepanjang sumbu balok

: Elastisitas

: Momen lentur

: Momen Inersia

Sedangkan defleksi yang terjadi pada poros akibat massa rotor yaitu :

2.1.5

P . a .b
L2 a 2 b 2
6. E . I . L

Poros, Kopling, Bearing


Poros

Kelompok 25

103

Laporan Akhir Praktikum Fenomena Dasar Mesin LKM


Putaran Kritis
Putaran Kritis

Poros adalah suatu bagian stasioner yang beputar, biasanya berpenampang


bulat dimana terpasang elemen-elemen seperti roda gigi (gear), pulley, flywheel,
engkol, sprocket dan elemen pemindah lainnya.Poros bisa menerima beban
lenturan, beban tarikan, beban tekan atau beban puntiran yang bekerja sendirisendiri atau berupa gabungan satu dengan lainnya. Berikut gambar dari sebuah
poros dapat dilihat pada gambar 4.2.9 dibawah ini :

Gambar 4.2.9 Poros

Adapun pembagian poros antara lain :


1. Berdasarkan pembebanannya
A. Poros transmisi (transmission shafts)
Poros transmisi lebih dikenal dengan sebutan shaft. Shaft akan
mengalami beban puntir berulang, beban lentur berganti ataupun keduaduanya. Pada shaft, daya dapat ditransmisikan melalui gear, belt pulley,
sprocket rantai, dll.
B. Gandar
Poros gandar merupakan poros yang dipasang diantara roda-roda
kereta barang.Poros gandar tidak menerima beban puntir dan hanya
mendapat beban lentur.
C. Poros spindle

Kelompok 25

104

Laporan Akhir Praktikum Fenomena Dasar Mesin LKM


Putaran Kritis
Putaran Kritis

Poros spindle merupakan poros transmisi yang relatip pendek,


misalnya pada poros utama mesin perkakas dimana beban utamanya berupa
beban puntiran. Selain beban puntiran, poros spindle juga menerima beban
lentur (axial load). Poros spindle dapat digunakan secara efektip apabila
deformasi yang terjadi pada poros tersebut kecil.
2. Berdasar bentuknya
A. Poros lurus

Gambar 4.2.10Poros lurus

B. Poros engkol sebagai penggerak utama pada silinder mesin

Gambar 4.2.11Poros engkol

Ditinjau

dari

segi

besarnya

transmisi

daya

yang

mampu

ditransmisikan, poros merupakan elemen mesin yang cocok untuk


Kelompok 25

105

Laporan Akhir Praktikum Fenomena Dasar Mesin LKM


Putaran Kritis
Putaran Kritis

mentransmisikan daya yang kecil hal ini dimaksudkan agar terdapat


kebebasan bagi perubahan arah (arah momen putar).

Kopling
Kopling berfungsi sebagai sambungan 2(dua)buah poros atausebagai

sambunganporosdengan elemen mesin yang denganterus menerusatau


kadang-kadang harusikut berputar denganporostersebut. Berikut gambar
kopling dapat dilihat pada gambar 2.9 dibawah ini :

Gambar 4.2.1.12Kopling

Macam macam prinsip kopling


1. Jika harus dibuat suatu sambungan mati : kopling kaku.
2. Jika kopling harus membolehkan gerakan poros yang satu terhadap poros
yang lain dalam arah memanjang sebagai akibat perubahan temperatur,
dalam arah radial akibat ketidak telitian ketika memasang dan sebagainya :
kopling fleksibel.
3. Jika dapat mengurangi tumbukan lewat akumulasi kerja dan lewat
pengubahan kerja menjadi kalor : kopling elastik
4. Apabila sambungan dapat dibuat bekerja kalau sedang berhenti, tetapi
dapat dilepaskan selama sedang bergerak.
5. Apabila sambungan sembarang waktu selama sedang bergerak harus dapat
dihubungkan dan dilepaskan.

Kelompok 25

106

Laporan Akhir Praktikum Fenomena Dasar Mesin LKM


Putaran Kritis
Putaran Kritis

Syarat syarat kopling


1. Kopling harus ringan dan ringkas.
2. Pemasangan yang mudah dan cepat.
3. Aman pada putaran tinggi getaran dan tumbukan kecil.
4. Tidak ada atau sedikit mungkin bagian yang menonjol (menjorok)
5. Dapat mencegah pembebanan lebih.
6. Terdapat sedikit kemungkinan gerakan aksial pada poros jika sekiranya
terjadi pemuaian karena panas dan lain-lain.

Kelompok 25

107

Laporan Akhir Praktikum Fenomena Dasar Mesin LKM


Putaran Kritis
Putaran Kritis

Gambar 4.2.13Jenis-Jenis Kopling

Klasifikasi Kopling, diantaranya :

Kopling Tetap

Kopling Kaku

Kelompok 25

108

Laporan Akhir Praktikum Fenomena Dasar Mesin LKM


Putaran Kritis
Putaran Kritis

Kopling bus

Kopling flens kaku

Kopling flens tempa

Kopling luwes

kopling flens luwes

kopling karet ban

kopling karet bintang

kopling gigi

kopling rantai

Kopling universal

kopling universal hook

kopling universal kecepatan tetap

Kopling fluida

Dengan penyimpanan minyak

Kopling kembar

Kopling Tak Tetap

Kopling cakar

Kopling Plat

Kopling kerucut

Kopling friwil

Bearing
Bearing merupakan suatu elemen mesin yang berfungsi mengurangi

gesekan antara dua atau lebih part yang saling berkontak.Berdasarkan geraknya,
bearing dapat dibagi menjadi dua yakni bantalan luncur (sliding contact bearing)
dan bantalan gelinding (rolling contact bearing).Untuk kondisi kerja, bantalan
luncur biasanya digunakan pada sistem yang memiliki beban yang relatif besar
dan bantalan gelinding digunakan pada sistem dengan beban yang relatif
kecil.Pada bantalan gelinding terjadi gesekan antara elemen yang bergelinding/

Kelompok 25

109

Laporan Akhir Praktikum Fenomena Dasar Mesin LKM


Putaran Kritis
Putaran Kritis

berputar dengan elemen yang diam melalui elemen gelinding seperti bola, rol
maupun rol bulat.Pembagian jenis bantalan ini berdasarkan elemen gelindingnya.

Gambar 4.2.14Bearing

Jenis-jenis bantalan gelinding :


1. Ball bearing, menggunakan bola sebagai elemen gelindingya. Ball bearing
dapat digunakan pada beban radial dan axial. Untuk beban yang ringan, ball
lebih memberikan gesekan yang rendah daripada roller. Ball bearing dapat
dipakai saat kedudukan bearing tidak sesumbu (misaligned). Biasanya
ditemukan pada velg sepeda motor, gear box kendaraan, dinamo, dan lain-lain.
2. Cylindrical roller bearing, menggunakan silinder yang panjangnya sedikit
lebih besar daripada diameter. Roller bearing ini dapat digunakan pada beban
dengan kapasitas yang lebih besar dibandingkan ball bearing, namun
memberikan gesekan yang besar pada beban yang tegak lurus. Tidak dapat
digunakan

untuk

kedudukan

bearing

yang

tidak

sesumbu,

karena

dikhawatirkan akan cepat gagal dibanding ball bearing. Biasanya digunakan


pada kendaraan alat berat, traktor dan lain-lain.
3. Needle bearing, merupakan roller bearing yang menggunakan silinder tipis
dan panjang seperti jarum sebagai elemen gelindingnya. Tidak cocok untuk
menahan beban dengan kapasitas yang besar karena silindernya yang tipis

Kelompok 25

110

Laporan Akhir Praktikum Fenomena Dasar Mesin LKM


Putaran Kritis
Putaran Kritis

seperti jarum tidak mampu menahan. Biasanya digunakan untuk transmisi


dengan putaran yang cepat, seperti pada gearbox.
4. Tapered roller bearing, menggunakan conical roller (diameter ujung yang satu
berbeda dengan ujung yang lainnya) yang ditempatkan pada conical race-nya
(jalur bearing tersebut). Kebanyakan roller bearing hanya mampu menahan
beban radial ataupun axial saja, tapi tapering rollerbearing mampu menahan
keduanya dan biasanya dapat membawa beban yang lebih besar karena kontak
areanya yang luas. Tapered roller bearing ini biasanya lebih mahal
dibandingkan ball bearing, ini disebabkan proses manufakturnya yang rumit.
Penerapan dari bearing ini dapat ditempatkan pada roda depan mobil.
5. Spherical roller bearing, menggunakan roller yang tebal di tengah dan tipis di
ujungnya dengan jalurnya yang dibentuk sedemikian rupa. Spherical roller
bearing ini juga dapat disesuaikan untuk beban yang tidak sesumbu.
Bagaimanapun roller bearing ini sulit untuk dibuat dan juga membutuhkan
biaya yang mahal, serta memiliki gesekan yang lebih besar dibanding ball
bearing.

2.1.6 Hal-hal yang diperhatikan dalam merancang poros


1. Kekuatan poros
Poros transmisi akan menerima beban puntir (twisting moment), beban
lentur (bending moment) ataupun gabungan antara beban puntir dan lentur.Dalam
perancangan poros perlu memperhatikan beberapa faktor, misalnya : kelelahan,
tumbukan dan pengaruh konsentrasi tegangan bila menggunakan poros bertangga
ataupun penggunaan alur pasak pada poros tersebut. Poros yang dirancang
tersebut harus cukup aman untuk menahan beban-beban tersebut.
2. Kekakuan poros
Meskipun sebuah poros mempunyai kekuatan yang cukup aman dalam
menahan pembebanan tetapi adanya lenturan atau defleksi yang terlalu besar akan

Kelompok 25

111

Laporan Akhir Praktikum Fenomena Dasar Mesin LKM


Putaran Kritis
Putaran Kritis

mengakibatkan ketidaktelitian (pada mesin perkakas), getaran mesin (vibration)


dan suara (noise).Oleh karena itu disamping memperhatikan kekuatan poros,
kekakuan poros juga harus diperhatikan dan disesuaikan dengan jenis mesin yang
akan ditransmisikan dayanya dengan poros tersebut.
3. Putaran kritis
Bila putaran mesin dinaikan maka akan menimbulkan getaran (vibration)
pada mesin tersebut. Batas antara putaran mesin yang mempunyai jumlah putaran
normal dengan putaran mesin yang menimbulkan getaran yang tinggi disebut
putaran kritis.Hal ini dapat terjadi pada turbin, motor bakar, motor listrik,
dll.Selain itu, timbulnya getaran yang tinggi dapat mengakibatkan kerusakan pada
poros dan bagian-bagian lainnya. Jadi dalam perancangan poros perlu
mempertimbangkan putaran kerja dari poros tersebut agar lebih rendah dari
putaran kritisnya,
4. Korosi
Apabila terjadi kontak langsung antara poros dengan fluida korosif maka
dapat mengakibatkan korosi pada poros tersebut, misalnya propeller shaft pada
pompa air.Oleh karena itu pemilihan bahan-bahan poros (plastik) dari bahan yang
tahan korosi perlu mendapat prioritas utama.
5. Material poros
Poros yang biasa digunakan untuk putaran tinggi dan beban yang berat
pada umumnya dibuat dari baja paduan (alloy steel) dengan proses pengerasan
kulit (case hardening) sehingga tahan terhadap keausan. Beberapa diantaranya
adalah baja khrom nikel, baja khrom nikel molebdenum, baja khrom, baja khrom
molibden, dll.Sekalipun demikian, baja paduan khusus tidak selalu dianjurkan jika
alasannya hanya karena putaran tinggi dan pembebanan yang berat saja. Dengan
demikian perlu dipertimbangkan dalam pemilihan jenis proses heat treatment
yang tepat sehingga akan diperoleh kekuatan yang sesuai.

Kelompok 25

112

Laporan Akhir Praktikum Fenomena Dasar Mesin LKM


Putaran Kritis
Putaran Kritis

2.1.7 Hal-hal yang mempengaruhi putaran kritis


Adapun hal hal yang mempengaruhi putaran kritis diantaranya adalah :
1. Kecepatan putaran poros
Jika kecepatan putaran poros memiliki frekuensi putaran sama dengan
frekuensi pribadi dari putaran poros tersebut, maka akan terjadi putaran kritis
pada poros yang berputar tersebut yang akan menyebabkan terdefleksinya
poros tersebut.
2. Penggunaan kopling
Pemilihan kopling yang digunakan untuk mentransmisikan putaran dari
motor ke poros akan mempengaruhi terjadinya putaran kritis pada poros
tersebut. Karena jika terjadi kesalahan dalam pemilihan kopling yang akan
digunakan maka resiko untuk terjadinya putaran kritis pada poros tersebut
akan semakin besar.
3. Panjang poros yang digunakan
Panjang poros yang digunakan pada suatu mekanisme akan mempengaruhi
terjadinya putaran kritis pada poros tersebut, yang mana jika poros semakin
panjang maka posisi bantalan untuk menopang poros tersebut akan memiliki
jarak yang besar sehingga poros akan lebih mudah mengalami lendutan pada
saat berputar dan menyebabkan terjadinya putaran kritis.
4. Massa rotor
Massa rotor akan mempengaruhi putaran keritis yang terjadi karena rotor
merupakan beban dari poros yang berputar, semakin besar beban poros maka
semakn besar pula defleksi yang terjadi pada poros dan sebaliknya semakin
kecil beban pada rotor maka semakin kecil defleksi yang terjadi pada poros,
karna defleksi lah yang menyebabkan terjadinya putaran keritis.
2.1.8 Cara mengatasi putaran kritis
Adapun cara mengatasi putaran kritis adalah :

Kelompok 25

113

Laporan Akhir Praktikum Fenomena Dasar Mesin LKM


Putaran Kritis
Putaran Kritis

Menambah atau mengurangi kecepatan motor agar frekuensi putaran poros


tidak sama dengan frekuensi pribadi putaran poros

Penambahan kopling pada poros yang berputar

Memperpendek poros yang digunakan

2.1.9 Turunan rumus putaran kritis

0
a

b
Gambar 4.2.15 Putaran Kritis

k=

w 2
w =0
g

r=

Pab 2 2 2
(L a b )
6 LEI

P
6 PLEI
k= =
r b( L2 a2b2)

wn=

w=

Kelompok 25

6 P LE I
g
.
2
2
2
a b(L a b ) w

2 n
60

6 P LE I
g

2
2
2
a b ( L a b ) w
60
n=

114

Laporan Akhir Praktikum Fenomena Dasar Mesin LKM


Putaran Kritis
Putaran Kritis

n=

60 k
.
2 m

2.1.10 Aplikasi putan kritis


a. Poros Gardan
Poros gardan dibuat sedemikian rupa agar dapat memindahkan tenaga putar
dari transmisi ke diferensial (gardan) dengan lembut tanpa dipengaruhi
perubahan-perubahan

sudut(naik-turun)

diferencial

akibat

ketidakrataan

permukaan jalan dan besarnya beban. Bagian poros gardan yang menyerap
perubahan-perubahan sudut tersebut.

Gambar 4.2.16 Poros Gardan

b. Poros Sepeda Motor

Gambar 4.2.17 Poros Sepeda Motor

c. Poros Turbin

Kelompok 25

115

Laporan Akhir Praktikum Fenomena Dasar Mesin LKM


Putaran Kritis
Putaran Kritis

Gambar 4.2.18 Turbin

d. Poros Baling-Baling Kapal

Gambar 4.2.19 Baling-Baling Kapal

e. Poros Baling-Baling Helikopter

Kelompok 25

116

Laporan Akhir Praktikum Fenomena Dasar Mesin LKM


Putaran Kritis
Putaran Kritis

Gambar 4.2.20 Helikopter

2.2 Teori Dasar Alat Uji


Kelompok 25

117

Laporan Akhir Praktikum Fenomena Dasar Mesin LKM


Putaran Kritis
Putaran Kritis

Alat ukur yang digunakan pada praktikum ini adalah :


a. Tachometer
Tachometer merupakan alat yang dapat digunakan untuk mengukur
kecepatan sudut dari massa yang berputar. Pada percobaanini yang
diukuradalah kecepatan putaran dari putaran poros untuk mengukur berapa
kecepatan putaran poros disaat terjadi putaran kritis.Achometer yang
digunakan adalah tachometer digital dengan satuanputaran adalah RPM.

Gambar 4.2.21Tachometer digital

b. Mistar
Digunakan untuk mengukur jarak agar memvariasikan posisi massa poros.

Gambar 4.2.22Mistar

c. Slide regulator
Digunakan untuk mengatur frekuensi putaran dari motor danporos.
Dengan memfariasikan frekuensi dariputaran dengan mengunakan slide
regulator kita dapat mencarikondisi dimana kecepatan putar suatu poros
sudah mencapai kondisi putaran kritis.

Kelompok 25

118

Laporan Akhir Praktikum Fenomena Dasar Mesin LKM


Putaran Kritis
Putaran Kritis

Gambar 4.2.23Slide regulator

Kelompok 25

119

Laporan Akhir Praktikum Fenomena Dasar Mesin LKM


Putaran Kritis
Putaran Kritis

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Perangkat Percobaan
1

Gambar 4.3.1 Skema alat putaran kritis

Keterangan gambar:
1

Motor

4 Rotor

Kopling

5 Poros

Bantalan

6 Slide Regulator

3.2 ProsedurPercobaan
1. Periksa semua peralatan seperti pengatur putaran rotor, motor, bantalan
dan peralatan lain dalam keadaan baik.
2. Posisikan letak rotor.
3. Hidupkan motor dan atur tegangan dengan slide regulator.
4. Hitung putaran (rpm) rotor.
5. Ulangi kembali percobaan diatas untuk posisi rotor yang berbeda.
3.3 Asumsi-asumsi
1. Percepatan gravitasi 9.81m/s2
2. Tumpuan poros engsel dan roll

Kelompok 25

120

Laporan Akhir Praktikum Fenomena Dasar Mesin LKM


Putaran Kritis
Putaran Kritis

3. Gesekan pada bantalan diabaikan.


4. Batang bersifat homogen.

BAB IV
PENGOLAHAN DATA

4.1 Tabel Data


Tabel Data percobaan putaran kritis
NO

L (mm)

1000

1000

1000

m (kg)
1,9
1,9
1,9
1,9
1,9
1,9
1,9
1,9
1,9

a (mm)
300
300
300
430
430
430
560
560
560

b (mm)
560
560
560
430
430
430
300
300
300

Ne (rpm)
920,2
1218
1333
1187
1269
1276
1219
1178
1162

Padang, 25 November 2011

(Fadjri Agus Saputra)

Kelompok 25

121

Laporan Akhir Praktikum Fenomena Dasar Mesin LKM


Putaran Kritis
Putaran Kritis

4.2 ContohPerhitungan
Data yang diambil data ke 7
m = 1.9 kg
d = 12 mm
E = 190000 Mpa
l = 860 mm
a = 560 mm
b = 300 mm
P=mxg
= 1,9 kg x 9,81 m/s2
= 18, 639 N

I=

d 4
64

3.14 12 mm

64

= 1017.36 mm

P . a .b
6 . E . I . .L

18,693 N x 560 mm x300 mm


6 x190000 MPa x 1017,4 mm 4 x 860 mm

Kelompok 25

122

Laporan Akhir Praktikum Fenomena Dasar Mesin LKM


Putaran Kritis
Putaran Kritis

1,055 mm

K eq

K eq

18.639 N
1,055 mm

K eq 17,670 N / mm

nteo

60
2

k
m

nteo

17670 N / m
60
2 x 3.14
1,9 kg

nteo 921,36 rpm

4.3 TabelHasil Perhitungan Puataran Kritis

Kelompok 25

123

Laporan Akhir Praktikum Fenomena Dasar Mesin LKM


Putaran Kritis
Putaran Kritis

4.4 Grafik
1. Grafik posisi rotor versus nputaran

Posisi rotor Vs Putaran Kritis Perc. (Nperc.)


1400
1200
1000
800
Percobaan
1.4.7
Nperc. (rpm)
600

Percobaan 2.5.8

Percobaan 3.6.9

400
200
0
300

430

560

Posisi rotor

Kelompok 25

124

Laporan Akhir Praktikum Fenomena Dasar Mesin LKM


Putaran Kritis
Putaran Kritis

2. Grafik posisi rotor versus n teori


Posisi rotor Vs Putaran Kritis Teori (Nteo)
940
920
900
880
860
Percobaan 1.4.7
N teori (rpm)
840

Percobaan 2.5.8

Percobaan 3.6.9

820
800
780
250

300

350

400

450

500

550

600

Posisi rotor

3. Grafik posisi rotor versus defleksi

Kelompok 25

125

Laporan Akhir Praktikum Fenomena Dasar Mesin LKM


Putaran Kritis
Putaran Kritis

Posisi rotor Vs Defleksi


1.4
1.2
1
0.8
1,4,7
DefleksiPercobaan
0.6

Percobaan 2,5,8

Percobaan 3,6,9

0.4
0.2
0
250

300

350

400

450

500

550

600

Posisi Rotor

Kelompok 25

126

Laporan Akhir Praktikum Fenomena Dasar Mesin LKM


Putaran Kritis
Putaran Kritis

4.5Analisa
Setelah melaksanakan percobaan putaran kritis ini, dapat dilihat fenomena
yang terjadi apabila sebuah benda berputar dan mengalami putaran kritis, dimana
pada putaran kritis ini akan tyerjadi defleksi maksimum. Ada dua cara untuk
menghilangkan putaran kritis ini, yaitu dengan menaikkan atau menurunkan
kecepatan. Apabila benda berputar di atas putaran kritisnya maka benda tersebut
akan aman, dan apabila berputar di bawah putarn kritisnya akan tetap aman juga.
Putaran kritis ini ditandai dengan defleksi yang paling besar yang
didindikasikan oleh getran yang paling besar dari struktur ketika berputar.
Dari garfik hasil percobaan dapat dilihat hubungan antar posisi rotor VS n
percobaan berbeda dengan grafik posisi rotor VS n teori. Seharusnya grafik ini
mempunyai bentuk yang sama, atau setidaknya berbeda sedikit. Akan tetapi grafik
posisi rotor VS n percobaan yang kami dapat tidak sesuai dengan yang
seharusnya. Hal ini mungkin disebabkan karena kekurangtelitian selama
percobaan, seperti dalm menggunakan tachometer.
Dari garafik posisi rotor VS n teori dapat dilihat posisi titik 1 dan 3diperoleh
putaran maksimum. Putaran yang paling besar karena paling dekat dengan posisi
motor dan tumpuan. Sedangkan pada posisi titik dua dapat kita lihat bahwa utnuk
mencapai putaran kritis putarannya tidak terlalu besar, dimana dengan putaran
kecil dibanding dua titik lainnya. Putaran kritis dari mesin dapat diperoleh karena
jarak makin jauh dari motor dan tumpuan.
Drai grafik posisi rotor VS defleksi dapat dilihat bahwa defleksi maksimum
terjaadi pada pengujian dititk dua, dimana rotor diletakkan tepat ditengah-tengah
poros. Hal tersebut sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa hubungan posisi
rotor terhadap defleksi adalah berbanding lurus, dimana semakin jauh posisi rotor
dari tumpuan maka defleksi yang dihasilkan juga akan semakin besar pula.
Diaman pada pengujian di posisi dua ini rotor tepat berada ditengah-tengah,
dengan kata lain posisi rotor berada pada nilai yang bbesar atau jauh dari tumpuan
sehingga pada posisi dua ini defleksi yang terjadi paling besar dari dua titik lain.

Kelompok 25

127

Laporan Akhir Praktikum Fenomena Dasar Mesin LKM


Putaran Kritis
Putaran Kritis

Kelompok 25

128

Laporan Akhir Praktikum Fenomena Dasar Mesin LKM


Putaran Kritis
Putaran Kritis

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Setelah melakukan percobaan tentang putaran kritis ini dan dilakukan
perhitungan, dapat diambil bebarapa kesimpulan diantaranya;

Putaran kritis dipengaruhi oleh posisi rotor terhadap


tumpuannya dimana semakin jauh rotor dari tumpuan maka
kemungkinan terjadinya putaran kritis pun semakin besar.

Kecepatan putaran kritis terjadi paling cepat pada posisi


defleksi terbesar.

Dari grafik posisi rotor vs defleksi dapat diketahui


karakteristik poros, dimana defleksi terbesar terjadi pada tengahtengah tumpuan.

5.2 Saran
Kepada praktikan selanjutnya kami harapkan lebih teliti dalam
menggunakan alat ukur pada praktikum ini seperti tachometer, sehingga fluktuasi
putaran pada tiap-tiap pengujian dapat dikurangi sehingga hasil yang didapatkan
mendekati teori yang sebenarnya.

Kelompok 25

129

Anda mungkin juga menyukai