Anda di halaman 1dari 11

PAPER TUGAS TEKNIK PEMBORAN 2

Kelompok : Arizal Zahid Islam(113140025)


Andres Septria
(113140028)
Markus Edison K (113140030)
Dimas Helmy
(113140031)
OPTIMASI PEMBORAN DAN UPAYA MENGATASI STUCK PIPE PADA
PEMBORAN TRAYEK 8-1/2 DI SUMUR X LAPANGAN Y PT.PERTAMINA
EP
Department of Petroleum Engineering, UPN Veteran Yogyakarta
Copyright 2016, Society of Petroleum Engineers Inc.
This paper was prepared for drilling course, The Indonesian, 29 Desember 2016
The paper was selected for presentation by a team research following review of information contained in an abstract submitted by the author(s), contents of paper, as presented, have not been reviewed by the
Society of Petroleum Engineering and are subject to correction by the author(s). The material, as presented, does not necessarily reflect any position of the Society of Petroleum Engineers, its officers, or members.
Papers presented at PE meeting are subject to publication review by Editorial Committees of the Society of Petroleum Engineers. Electronic reproduction, distribution, or strorage of any part of this paper to
commercial purposes without the written consent of the Society of Petroleum Engineers is prohibited. Permission to reproduce in print restricted to an abstract of not more than 300 words; illustrations may not be
copied. The abstract must contain conspicious knowledgement of where and by whom the paper was presented. Write Librarian, SPE, P.O. fax 833836, Richardson, TX 75083-3836, U.S.A., fax 01-972-952-9435.

ABSTRAK
Operasi pemboran yang dilakukan tidak
selalu berjalan dengan lancar, ada kalanya
timbul masalah yang dapat menghambat
jalannya operasi pemboran tersebut. Salah satu
hambatan itu adalah terjepitnya rangkaian
pemboran. Hambatan operasi pemboran pada
sumur X lapangan Y Pertamina EP
menyebabkan waktu operasi menjadi lebih lama
dari yang direncanakan, serta meningkatnya
biaya pemboran sampai dua kali lipat dari biaya
yang dianggarkan.
Hambatan pemboran berupa rangkaian
terjepit oleh diidentifikasi terjadi pada trayek 81/2 ini diidentifikasikan merupakan differential
pipe sticking ataupun key seating setelah
dilakukan analisa terhadap beberapa parameter
seperti aspek lumpur, aspek litologi batuan,
aspek geometri lubang bor, aspek rangkaian
pipa bor.
Dari hasil analisa dan evaluasi
hambatan pemboran tersebut, maka perlu
dilakukan metode-metode untuk mengatasi
jepitan tersebut serta pencegahan terjadinya
jepitan. Metode yang dilakukan pada evaluasi
ini dilakukan metode Regang Lepas, Spotting
Fluids, Back Off serta hasil akhir dari
kesimpulan ini merupakan perbandingan antara

metode atau upaya yang telah dilakukan oleh


Pertamina dengan hasil analisa dan evaluasi
yang telah dilakukan terhadap problem pipa
terjepit pada trayek trayek 8-1/2 di sumur X
lapangan Y Pertamina EP ini.
I. PENDAHULUAN
1.1. Tinjauan Lapangan
Prospek sumur X terletak 15 km
sebelah Timur kota Pamanukan, tepatnya di
daerah Sukra , 5 km sebelah Barat Daya sumur
penemu minyak dan gas sebelumnya.
Secara regional prospek sumur X berada
di sub Cekungan Cipunegara (Cipunegara Low),
Cekungan Jawa Barat Utara. Sub cekungan
tersebut terletak antara trend tinggian Bojong
Raong Pamanukan dan trend tinggian
Kandanghaur-Gantar. Prospek sumur X terletak
di bagian tengah dari Cipunegara Low.
Sumur X merupakan sumur deliniasi
dengan jenis directional (J-type) dengan KOP di
1250 m. Tujuan dilakukannya pemboran di
sumur X yang merupakan pemboran deliniasi
tersebut dengan obyektif terutama pada lapisan
batu gamping BRF dan lapisan batu
pasir/konglomerat Pre TAF adalah untuk
membuktikan sumberdaya minyak dan gas yang

diperkirakan akan mencapai kedalaman akhir


3671 mMD/3531 mTVD (3500 mbpl).

Formasi Baturaja
Terdapat pada kedalaman 2309-2563
mbpl. Litologinya adalah dominan batu
gamping dengan sisipan tipis serpih.

Formasi Cibulakan Atas


Terdapat pada kedalaman 1057-2308
mbpl. Litologinya adalah selang-seling
serpih, batu lanau, batu pasir, dan batu
gamping.

Formasi Parigi
Terdapat pada kedalaman 944-1056
mbpl. Litologi batuannya adalah dominan
batu gamping dengan sisipan tipis serpih.

Formasi Cisubuh
Terdapat pada kedalaman 0-943 mbpl.
Litologi batuannya adalah dominan batu
lempung dengan sisipan gravel, batu
pasir, dan batuan lanau. Dominan serpih
dengan sisipan batu pasir, batu lanau dan
batu gamping.

1.2. Geologi dan Stratigrai


Tatanan tektonik Cekungan Jawa Barat
Utara saat ini adalah sebagai cekungan belakang
busur, tetapi rifting yang terjadi pada cekungan
ini kala Eosen tidak terjadi dalam tatanan
tektonik yang berbeda. Dari bukti geologi yang
terlihat bahwa daerah ini diinterpretasikan
terbentuk sebagai cekungan pull-apart sebagai
akibat interaksi sistem sesar geser manganan
(dextral). Bukti ini juga didukung oleh
kenyataan
observasi
bahwa
arah
dari
regangannya yaitu hampir Utara - Selatan yang
secara umum tegak lurus zona subduksi dan
selain itu juga melibatkan kerak benua yang
cukup tebal (Hamilton, 1979).
Deformasi
selanjutnya
akan
mengaktifkan sesar-sesar tua dimana di beberapa
lokasi ditandai dengan perkembangan struktur
inversi. Walaupun bukti inversi agak jarang
dijumpai di Cekungan Jawa Barat Utara. Pada
umumnya pada struktur rifting yang berarah
Utara-Selatan seringkali dijumpai berupa
positive atau negative flower structures yang
umumnya diinterpretasi sebagai akibat aktifitas
sesar geser.
Secara umum stratigrafi lapangan Y
meliputi :
Formasi Jatibarang
Terdapat pada kedalaman 3111-3167
mbpl. Litologinya adalah selang-seling
tuff dan konglomerat.

Formasi Talang Akar


Terdapat pada kedalaman 2564-3110
mbpl. Litologinya adalah selang-seling
serpih , batu pasir, batu gamping, batu
lanau, sisipan batubara.

II. MAKSUD DAN TUJUAN


Maksud dari Penelitian ini adalah
mengevaluasi permasalahan pipa terjepit yang
terjadi di sumur X lapangan Y PT.Pertamina
EP.
Dan juga diketahui tujuan dari penelitian
ini adalah untuk mengatasi permasalahan pipa
terjepit tersebut sehingga diharapkan dapat
mengurangi
atau
mencegah
terjadinya
permasalahan pipa terjepit pada pengeboran
selanjutnya
III. DASAR TEORI
3.1. Pipe Sticking
Pipe Sticking adalah kondisi dimana pipa
tidak dapat digerakkan di dalam lubang (tidak

bisa diputar dan diangkat) dan adakalanya bisa


diputar tapi tidak bisa diangkat. Akibat dari
terjepitnya
pipa
pemboran
ini
adalah
terhambatnya
operasi
pemboran
dan
meningkatnya biaya tambahan untuk mengatasi
pipa terjepit dan sewa rig yang harus
ditanggung.
Jenis-jenis pipa terjepit ini secara garis
besar adalah :
Differential pipe sticking
Mechanical sticking
Key seat.
3.1.1. Differential Pipe Sticking
Pipa terjepit jenis ini terjadi karena
adanya perbedaan tekanan hidrostatis lumpur
dengan tekanan formasi yang cukup besar.
Tekanan hidrostatis lumpur menekan rangkaian
pipa ke salah satu sisi dari dinding lubang bor.
Differential pipe sticking ini sering terjadi pada
lubang miring. Lubang yang miring akan
menyebabkan rangkaian pipa bor cenderung
menempel ke dinding lubang bor dan rangkaian
akan terbenam sebagian ke dalam mud cake.
Jenis jepitan ini sering terjadi pada saat lumpur
tidak bersirkulasi dan saat rangkaian diam.
Jenis jepitan ini (differential pipe
sticking) terjadi hanya sepanjang daerah yang
porous dan permeabel, seperti batu pasir dan
batu gamping dan tahanan geseknya adalah
merupakan fungsi dari ketebalan filter cake (mud
cake). Gaya yang menjepit pipa (F) dapat
dihitung dengan menggunakan persamaan
sebagai berikut ini :
F

= DP Ac Cf (3.1)
Dimana :

F
DP
Ac

=
=
=

gaya menjepit pipa, lbs


tekanan differential ( Ph Pf), psi
luas bidang kontak, in2

Cf

koefisien gesek, tak berdimensi

Agar dapat dibebaskan maka harus


dilakukan gaya yang lebih besar dari pada nilai F
tersebut di atas, akan tetapi harus diingat bahwa
gaya tersebut tidak boleh lebih besar daripada
tensile strength pipa karena dapat menyebabkan
rangkaian menjadi putus.
Sebagai tanda telah terjadi differential pipe
sticking adalah sebagai berikut :
1. Rangkaian tidak bisa digerakkan (baik
diputar maupun diangkat)
2. Tekanan pemompaan lumpur normal
(sirkulasi masih bisa dilakukan)
Dengan mengamati persamaan (3-1) besarnya
gaya (F) yang menjepit pipa dapat dikurangi
dengan cara :
a) Mengurangi
perbedaan
tekanan
(overbalance pressure).
b) Mengurangi daerah kontak (Ac) dengan
mengurangi ketebalan mud cake dan
mengurangi koefisien gesek (Cf)..
c) Karena luas daerah kontak dan faktor
gesekan berbanding lurus dengan waktu,
semakin jarang (sedikit) rangkaian bor
dalam keadaan statis (diam) akan
semakin
mengurangi
kemungkinan
terjadinya differential pipe sticking.
d) Minyak dan walnut hulls dapat
digunakan untuk mengurangi faktor
gesekan (Cf) pada saat membor formasi
yang potensial mengalami differential
sticking.
3.1.2. Mechanical Sticking
dapat disebabkan oleh beberapa hal
seperti tersebut :
1. Undergauge Hole, jepitan jenis ini terjadi
disebabkan karena pemakaian bit yang
sudah terlalu aus dan tidak cepat diganti
yang akan menyebabkan ukuran lubang
bor lebih kecil dari seharusnya, sehingga

2.

3.

4.

5.

bila bit yang baru dimasukkan akan


terjepit di daerah undergauge tersebut.
Adanya Junk, jepitan jenis ini terjadi
karena adanya bagian-bagian kecil (junk)
dari peralatan
bawah permukaan
(downhole equipment) yang jatuh atau
benda-benda kecil dari lantai pemboran
yang jatuh dan akan menyebabkan drill
string terjepit pada saat ditarik ke atas
(pulled out).
Adanya Collapsed Casing, jepitan jenis
ini terjadi bila gaya yang ditimbulkan
oleh formasi melebihi collapsed strength
dari casing. Hal ini disebabkan oleh
kesalahan pada desain casing atau
terjadinya
Sudut kemiringan lubang bor yang relatif
tinggi sehingga menyebabkan batuan
yang ditembus tidak bisa menahan beban
batuan di atasnya dan runtuh.
Pemboran dilakukan di sekitar daerah
patahan (fault zone), dimana pada daerah
ini serpih dan gamping dapat rekah
secara alami dan jatuh pada lubang bor,
terutama lubang miring sehingga akan
mengakibatkan terjepitnya pipa.

3.1.3. Pipa Terjepit Karena Adanya Key Seat


Pipa terjepit jenis ini disebabkan oleh
adanya dog leg (lubang bor yang membelok
secara mendadak atau terjadi perubahan sudut
kemiringan lubang dan sudut arah lubang secara
mendadak) dan formasi yang ditembus relatif
lunak. Sebagai tanda terjadinya pipa terjepit jenis
ini adalah sebagai berikut :
1. Rangkaian tidak bisa diangkat dan atau
dicabut
2. Tekanan pemompaan lumpur normal
3. Rangkaian bisa diputar
4. Naiknya drag
5. Suara rotary table bertambah keras

IV.

METODOLOGI

Metodologi yang digunakan dalam


evaluasi ini dapat dijelaskan dalam flow chart
(4.1) pada lampiran. Langkah pertama adalah
menganalisa jenis pipe sticking apa yang terjadi
pada kasus ini terdapat 3 jenis pipe sticking pada
umumnya yaitu:
Differential pipe sticking
Mechanical sticking
Key seat.
Selanjutnya dilakukan analisa penyebab dari
problem pipa terjepit tersebut sejumlah 4 analisa
yaitu :
Aspek Lumpur
Aspek Litologi Batuan
Aspek Geometri Lubang Bor
Aspek Rangkaian Pipa Bor
Langkah berikutnya adalah penganggulangan
dengan beberapa metode, pada penelitian ini
terdapat 3 metode penanggulangan yaitu :
Regang Lepas
Spotting Fluids
Back Off
Pada akhirnya kita akan mendapatkan hasil
apabila berhasil dapat dilanjutkan operasi
pemborannya dan apabila tidak berhasil maka
dilakukan analisa dan evaluasi ulang.

V. ANALISA DAN PERHITUNGAN


5.1. Profil Sumur X Lapangan Y
Sumur X pada Lapangan Y adalah
merupakan sumur deliniasi dengan jenis
directional (J-type). Sumur ini merupakan sumur
eksplorasi yang bertujuan untuk membuktikan
sumberdaya minyak dan gas yang diperkirakan

akan mencapai kedalaman


mMD/3531 mTVD (3500 mbpl).

akhir

3671

Data perencanaan sumur ini adalah sebagai


berikut :
1. Klasifikasi Sumur
= Deliniasi
2. Jenis Sumur
= Directional ( Jtype )
3. KOP
= 1250 m
4. HD Target (TD)/Azimuth = 800m/ 9
5. EOC /inklinasi/BUR
=1451.62
mD/20.16/3
6. Elevasi /GL
= 21.50 meter
diatas permukaan laut
7. Tinggi Lantai Bor
= 9.17 m dari GL
8. Target Lapisan
= Baturaja, Talang
Akar, Jatibarang
9. Rencana TD
= 3671 mMD/
3531 mTVD
5.2. Pemboran Trayek Lubang 81/2
Masuk rangkaian PDC 81/2 dilengkapi
MM dan MWD untuk jajak puncak semen.
Menguji tekanan casing 95/8 dengan tekanan
1000 psi/ 5 menit. Melakukan Leak Off Test
menggunakan
pompa
cementing
unit.
Melanjutkan bor formasi sampai 3671
mMD/3531 mTVD. Lalu masuk rangkaian liner
7 dan dilanjutkan dengan operasi penyemenan.
Pada trayek inilah terjadi permasalahan pipa
terjepit. Dengan data pemboran sebagai berikut :

Bottom Hole Assembly


: Bit 8 /2 +
3
Bit Sub + MM + F/S + 1 DC 6 /4+ 81/2 STB
+ 1 DC 63/4 + 6 HWDP 5 + D Jar 61/2 " +
12 HWDP 5
Hidrolika
: WOB = 10 25 Klbs /
GPM = 500 / RPM = 90-100 / Tek = 3466 psi
Lumpur
: SG = 1.20-1.53 /
Viscositas = 45-50 / FL = <5 / pH = 9-9.5 /
Solid % = 12 -17% / Sand % = 0,25 % / PV =
16-25 / YP = 20-30

5.3. Data Pemboran Saat Terjadinya


Terjepit
1. Data Teknik :
- Kedalaman stuck pada trayek 8 1/2 "
3555 mMD / 3424 mTVD
- Casing 30
40 m
- Casing 20
310 m
- Casing 13 3/8"
850 m
- Casing 9 5/8"
1474 m

Pipa

:
:
:
:
:

2. Data Lumpur Pada Saat Terjadinya Pipa


Terjepit
- SG = 1.53 ; Viscositas = 57 cp ; FL = 3 ;
pH = 10 ; % Solid = 24 ; % Sand = 0,1 %
; Gel = 10/25 ; PV = 57 ; YP = 33 ; MBT
= 10
- Sirkulasi normal dan cutting relatif bersih
tidak terdapat sloughing shale
3. Parameter Pemboran
- WOB = 33 klbs ; RPM = 60 ; GPM =
460 ; Tek = 1000 psi ; ROP = 60 menit /
meter
- Kenaikan torsi dan drag
- Suara rotary bertambah keras
4. Litologi yang Ditembus
- Lapisan yang ditembus adalah formasi
Talang Akar dan Jatibarang
5.4. Upaya-Upaya Pembebasan Pipa Terjepit
Dengan mengetahui bahwa keadaan
sirkulasi lumpur pemboran saat itu normal, maka
upaya awal yang langsung dilakukan setelah
pipa mengalami jepitan yaitu dengan mencoba
regang lepas rangkaian ( jar up & jar down ).

Namun upaya awal ini tidak berhasil walaupun


sudah dicoba beberapa kali untuk work on pipe.
Selanjutnya dilakukan upaya-upaya pembebasan
yaitu sebagai berikut :
1.
Melakukan perendaman (spotting fluids)
dengan larutan sebagai berikut :

Merendam dengan larutan


Black Magic sebanyak 40 bbl selama 8
jam, kemudian dilakukan jarring up 46
kali (tarikan 100 klbs), namun belum
berhasil

Merendam lagi dengan larutan


Black Magic sebanyak 50 bbl selama 12
jam, kemudian dilakukan jarring up 108
kali (tarikan 50 klbs), belum berhasil juga
2.
Akhirnya setelah dilakukan spotting
fluids yang tidak membuahkan hasil juga,
maka
diputuskan
untuk
melakukan
Mechanical Back Off. Langkahnya adalah
sebagai berikut :

Memperkuat ikatan drill


string (rangkaian) pada beban 350 klbs
dan putar ke kanan 8x

Sebelum
dilakukan
mechanical back off, maka perlu
diketahui pada titik kedalaman berapa
pipa terjepit, maka pihak Pertamina
memakai jasa PT Shlumberger untuk
melakukan FPIT (Free Point Indicator
Tools) dan Back Off. Adapun hasil
pengukuran FPIT adalah seperti terlihat
pada Tabel V-4.
Tabel V- 4
Hasil Pengukuran FPIT
No
1
2
3
4
5

Depth
(metres)
2295
2620
2643
2649
2658

Tension
(%)
97
54
35
33
30

Free Point
(%)
97
44
11
10
7.2

6
7
8
9
10
11

2669
2678
2685
2696
2704
2733

25
24
20
19
10
3.4

5.9
5.5
4.7
3.2
2.6
0

Catatan hasil pengukuran FPIT :


Mencoba tembak primacord pada 2691 m
dan indikasi gagal. Dilanjutkan tembak
primacord kembali pada 2682 m, dan
belum ada perubahan
Menembak primacord pada 2673 m dan
indikasi back off sukses.
Selanjutnya akan dibahas mengenai
mekanisme jepitan yang terjadi dan upaya-upaya
pembebasan pipa yang dilakukan pada pemboran
sumur X lapangan Y, selain hal di atas juga akan
dibahas kemungkinan-kemungkinan mekanisme
jenis jepitan sesuai dengan jenis mekanisme
jepitan yang telah disebutkan pada bab
sebelumnya mengenai teori-teori dasar pipa
terjepit serta sebab-sebab kegagalan upayaupaya pembebasan pipa tersebut.
5.5. Mekanisme Terjepitnya Pipa
5.5.1. Aspek Lumpur Pemboran
Telah diketahui dari data bahwa
terjadinya pipa terjepit saat pemboran mencapai
trayek 8, dimana sifat-sifat lumpur pemboran
sampai sesaat sebelum terjadinya jepitan masih
sesuai dengan program pemboran yang ada. Pada
saat pemboran menembus formasi pada
kedalaman 3555mMD/3424mTVD
dimana
merupakan kedalaman titik jepit digunakan SG
lumpur 1,53. Besarnya tekanan hidrostatik
lumpur pemboran pada kedalaman titik jepit
dapat dihitung berdasarkan perhitungan dibawah
ini :

Perhitungan :
Tekanan hidrostatis (Ph) :
Ph
=
0,052 mud TVD
Ph
=
0,052 (1,53 8,33)
(3424 3,281)
Ph
=
7443,3 psi
Tekanan formasi berdasarkan referensi
sumur di sekitarnya adalah 5774,68 psi pada
kedalaman 3000 m. Sedangkan tekanan formasi
pada titik jepit pada kedalaman 3424 m adalah :
Pf = 5774,68 psi + {(5774,68 psi / 3000
m) x (3424 m 3000 m)
Pf = 5774,68 psi + 816,15
Pf = 6590,8 psi
Selisih tekanan (DP) adalah sebesar :
DP = Ph Pf
DP = 7443,3 6590,8
DP = 852,5 psi
5.5.2. Aspek Litologi Batuan
Pemboran pada sumur X pada kedalaman
saat pipa terjepit, formasi yang ditembus adalah
termasuk dalam formasi Talang Akar dan
Jatibarang yaitu dengan lapisan batuan yang
ditembus berupa perselingan batu pasir, batu
lanau dan batu gamping.
5.5.3. Aspek Geometri Lubang Bor
Sumur X dan Y merupakan pemboran
sumur berarah. Dari survey terlihat bahwa pada
setiap interval kedalaman yang dihitung sampai
kedalaman terjadiya jepitan pipa didapatkan
harga-harga dogleg yang melebihi dogleg
severity-nya (3/100 ft), harga dogleg ini adalah
hal yang tidak diinginkan karena dengan harga
dogleg ini melebihi harga dogleg severity-nya
maka terjadi pembelokan arah lubang bor yang
lebih besar dari arah pembelokan lubang bor
yang telah direncanakan. (Perhitungan dapat
dilihat pada lampiran B).
5.5.4. Aspek Rangkaian Pemboran

Pada sumur X ini memiliki rangkaian


pemboran (drillstring) yang mempunyai
diameter lebih besar (seperti Non Magnetic Drill
Collar dan HWDP) akan bersandar dan
menempel pada dinding lubang pemboran
tepatnya dalam mudcake.
Hal lain yang juga sangat berpengaruh
terhadap kemungkinan terjadinya pipa terjepit
yaitu penempatan stabilizer, ditambah bahwa
sumur berarah ini mempunyai sudut kemiringan
yang relatif kecil, sehingga ada kemungkinan
bahwa stabilizer juga terjadi kontak dengan
dinding lubang bor (rebah).
Dan hal lain yang dapat memperkuat
kemungkinan mekanisme jepitan pada operasi
pemboran sumur X ini adalah naiknya trend
beban drag dan torsi yang cenderung bertambah
besar secara tiba-tiba.
5.5.5. Identifikasi Besarnya Gaya yang
Menjepit Rangkaian Pipa Pemboran
Diketahui data yang diperoleh pada saat operasi
pemboran adalah :
DP (Diff.Pressure)
= 852,5 psi
h
= 119,04 m =
4686,6 in = 396,8 ft
MC
= 1 mm = 0,03 in
Friction Factor
= 0,1
W (berat rangkaian) =145 ton (290000
lbs)
SF(Safety Factor)
= 0,05
Maka gaya (F) yang menekan pipa adalah :
F = DP x (h x t) x Friction Factor
F = 852,5 x (4686,6 in x 0,03) x 0,1
F = 11985,97 lbs
F = 5,44 ton
Sedangkan gaya yang diperlukan Hook untuk
melepaskan jepitan adalah :
H= (W+F) x (1+SF)

H= (290000 + 11985 ,97) x ( 1+ 0,05)


H= 317085,2685 lbs
H= 143,82 ton
5.6. Upaya Pembebasan Pipa
5.6.1. Tarikan dan Regang Lepas
Upaya awal yang dilakukan sesaat
setelah terjadinya jepitan yaitu dengan tarik dan
regang lepas dengan tarikan 120 ton, dalam hal
ini belum berhasil. Kurang berhasilnya tarikan
bisa disebabkan karena kurang terpenuhinya
tarikan yang diberikan, sebab dengan asumsi
bahwa mekanisme awal terjadinya jepitan pipa
adalah differential pipe sticking maka untuk
menghitung tarikan
pengangkatan pipa
maksimum dapat digunakan persamaan (3-2) dan
persamaan (3-3). (Perhitungan pada Lampiran
C).
5.6.2. Perendaman (Spotting Fluids)
Dengan keterangan bahwa pipa terjepit
pada kedalaman 3555 mMD / 3424 mTVD dan
dari perhitungan spotting fluids maka dibutuhkan
volume larutan perendaman setelah ditambah
dengan excess, yaitu 3,03 m3 atau sekitar 19,05
bbl (perhitungan seperti terlihat pada Lampiran
A).
Dalam kasus ini perendaman yang
digunakan adalah :
1. Larutan Black Magic 40 bbl selama 8 jam
kemudian tarikan 50 ton.
2. Larutan Black Magic 50 bbl selama 12
jam kemudian tarikan 25 ton.
5.6.3. Mechanical Back Off
Setelah usaha-usaha untuk membebaskan
pipa terjepit tersebut di atas tidak berhasil maka
diupayakan untuk melepas pipa sedalam
mungkin, maka dilakukan back off.
Sebelum melakukan back off, dilakukan
terlebih dahulu pengukuran FPIT dan akhirnya
indikasi back off sukses pada kedalaman 2673 m

dengan tension 158 ton dan putar ke kanan 8 kali


putaran

VI.

DISKUSI

Salah satu masalah dalam operasi


pemboran adalah pipa terjepit (stuck pipe), yang
maksudnya adalah pipa tidak dapat digerakkan
di dalam dan adakalanya dapat diputar namun
tidak dapat diangkat. Untuk menganalisa
kemungkinan jenis jepitan yang terjadi akan
digunakan beberapa aspek, yaitu :
1. Aspek Lumpur Pemboran
Berdasarkan keterangan dan perhitungan
ditambah dengan kenyataan bahwa pada saat
pipa mulai terjepit yaitu sirkulasi lancar
(normal), perbedaan tekanan melebihi batas yang
telah
direkomendasikan
kemungkinan
mekanisme awal jepitan yang terjadi adalah
differential
pipe
sticking.
Kemungkinan
terjadinya mechanical sticking kecil mengingat
sirkulasi masih bisa dilakukan dan normal.
2. Aspek Litologi Batuan
Adanya
kemungkinan
terdapatnya
patahan maka dapat diindikasikan bahwa daerah
patahan tersebut setelah ditembus oleh mata bor
dapat rekah secara alami dan hasil dari rekahan
akan jatuh ke dalam lubang pemboran dan
kemudian menjadi penyumbat bagi pipa.
Sedangkan untuk litologi batuan yang ditembus
berupa serpih calcareous sand (batu pasir)
setelah ditembus akan sangat peka untuk
terjadinya runtuh . Dari keterangan di atas maka
kemungkinan mekanisme jepitan yang terjadi
berdasarkan litologi batuan adalah differential
pipe sticking dan mechanical sticking.
3. Aspek Geometri Lubang Bor
Sumur X Lapangan Y merupakan
pemboran sumur berarah. Dari survey terlihat
bahwa pada setiap interval kedalaman yang

dihitung sampai kedalaman terjadiya jepitan pipa


didapatkan harga-harga dogleg yang melebihi
dogleg severity-nya (3/100 ft), harga dogleg ini
adalah hal yang tidak diinginkan karena dengan
harga dogleg ini melebihi harga dogleg severitynya maka terjadi pembelokan arah lubang bor
yang lebih besar dari arah pembelokan lubang
bor yang telah direncanakan. Tinjauan kasus pipa
terjepit dari aspek geometri lubang pemboran
yang dikarenakan adanya key seat yaitu
pembelokan arah secara mendadak terjadi.
4. Aspek Rangkaian Pemboran
Pada sumur X Lapangan Y ini memiliki
rangkaian
pemboran
(drillstring)
yang
mempunyai diameter lebih besar (seperti Non
Magnetic Drill Collar dan HWDP) akan
bersandar dan menempel pada dinding lubang
pemboran tepatnya dalam mudcake.
Hal lain yang juga sangat berpengaruh
terhadap kemungkinan terjadinya pipa terjepit
yaitu penempatan stabilizer, ditambah bahwa
sumur berarah ini mempunyai sudut kemiringan
yang relatif kecil, sehingga ada kemungkinan
bahwa stabilizer juga terjadi kontak dengan
dinding lubang bor (rebah).
Dan hal lain yang dapat memperkuat
kemungkinan mekanisme jepitan pada operasi
pemboran sumur X ini adalah naiknya trend
beban drag dan torsi yang cenderung bertambah
besar secara tiba-tiba.
Dari aspek rangkaian pemboran sendiri
kemungkinan mekanisme jepitan yang terjadi
adalah differential pipe sticking
Berdasarkan pada keempat aspek yang
telah disebutkan di atas dapat diambil
kesimpulan bahwa telah terjadi differential pipe
sticking dan keyseat, dengan alasan yang
memperkuat adalah sebagai berikut :
1. Pada saat awal terjadinya jepitan sirkulasi
normal dan berjalan dengan baik.

2. Besarnya overbalance pressure sudah


melebihi batas yang direkomendasikan.
3. Rangkaian pemboran pada saat terjadinya
jepitan berada dalam keadaan berputar
dan setelah itu tidak dapat digerakkan
baik diputar maupun diangkat.
4. Jarak antar stabilizer pada rangkaian
cenderung kontak (bersentuhan) dengan
lubang yang akan mengakibatkan pipa
terjepit.
5. Jenis batuan yang ditembus yaitu daerah
porous dan permeable, yaitu ditandai
dengan serpih calcareous sand (batu
pasir) dan limestone (batu gamping).
6. Harga dogleg yang melebihi harga
dogleg severity-nya
Berbagai upaya telah dilakukan dalam
mengatasi masalah pipa terjepit ini seperti yang
telah dijelaskan dalam bab sebelumnya tentang
upaya penanggulangan. Upaya-upaya yang
dilakukan seperti halnya sirkulasi dan tarikan
(jarring up), perendaman (spotting fluids)
dengan larutan Black Magic masih belum dapat
untuk mengatasi pipa terjepit ini. Namun
akhirnya usaha dengan Back Off (mechanical
back off) dapat mengatasi masalah pipa terjepit
ini.
VII. KESIMPULAN
Setelah melakukan evaluasi terhadap
problem pipa terjepit pada Sumur X Lapangan
Y, penulis mengambil kesimpulan sebagai
berikut :
1.
Perbedaan
tekanan
(overbalance
pressure) pada sumur ini sudah melebihi
batas aman yang direkomendasikan antara
100-200 psi yaitu : 852,5 psi sehingga
mengindikasikan jepitan jenis differential
pipe sticking.
2.
Karena harga dogleg ( ) melebihi harga
dogleg severity ( ) maka ada indikasi

terjadinya keyseat. Perbandingan harga


dogleg ( )dengan harga dogleg severity ( )
adalah sebagai berikut :

Interval
(mTVD)
1250
2340
2340
2594
2594
3141
3141
3198
3198
3531

dogleg (
)
- 50,04

dogleg
severity (
)
1,39

- 14,59

1,74

- 9,52

0,5

- 2,52

1,34

- 9,84

0,27

3.

Usaha pertama, tarikan regang lepas yang


dibutuhkan Hook untuk melepas jepitan
sebesar 143,82 ton sedangkan tarikan yang
dilakukan di lapangan hanya 120 ton
sehingga belum bias melepas jepitan. Tarikan
maksimum yang direkomendasikan adalah
sebesar 178,15 ton.
4.
Usaha kedua,Volume Spotting Fluids
dengan Black Magic yang dibutuhkan
sebanyak 19,05 bbl.
5.
Langkah penanggulangan terakhir adalah
Back Off. Indikasi back off sukses pada
kedalaman 2673 m dan dapat melepaskan
jepitan dengan tension 158 ton dan putar ke
kanan 8 kali putaran.

DAFTAR PUSTAKA

Adam, N.J., Drilling Engineering A


Complete Well Planning Aproach, Penn
Well Publishing, Tulsa, Oklahoma, 1985.
Bourgoyne, Adam T, Chenevert, Martin
E, Milheim,Keith K, Young F.S.,

Applied Drilling Engineering , SPE


Printing, Richardson, Texas, 1991.
Kemp, Gore, Oil Well Fishing Operation
: Tools and Techniques, Gulf Publishing
Company Book Division, HoustonLondon-Paris-Tokyo, (tanpa tahun).
Law, Roger, Stuck Pipe Prevention : Rig
Site Handbook, 1993.
Preston L, Moore, Drilling Practices
Manual, The Petroleum Publishing Co.,
Tulsa, 1974.
Rabia,
H.,
Oil
Well
Drilling
Enginnering, Principles and Practice,
University of Newcastle, Newcastle,
1985.
Randy Smith Drilling School, Stuck
Pipe Prevetion, Houston, 1995.
Rudi Rubiandini, R.S., Dr., Ing., Ir.,
Dikta Kuliah Teknik dan Alat
Pemboran,
HMTM
Patra,
ITB,
Bandung, Jawa Barat, 1995.
........................, Drilling Data Hand
Book, Institute Francais du Petrole,
Paris, 1978.
........................., Daily Drilling Report
Sumur X Lapangan Y, Pertamina EP
Jakarta, 2009.
........................., Final Drilling Report
Sumur X Lapangan Y, Pertamina EP
Jakarta, 2009.

LAMPIRAN
Flow Chart 4.1. Metodologi