Anda di halaman 1dari 18

konsep dasar alergi

KONSEP DASAR ALERGI


Kelainan hipersentivitas (alegi) merupakan keadaan dimana tubuh menghasilkan respon yang
tidak tepat atau yang berlebihan terhadap antigen spesifik.
Fisiologi Reaksi Alergi
Kadar ig Emeninggi pada gangguan alergik dan sebagian infeksi parasit.sel-sel yang
memproduksi ig E terletak dalam mukosa respiratorius dan intestinal.dua atau lebih molekul ig E
akan meningkatkan dirinya dengan alergen memicu sel-sel mast atau basofil untuk melepaskan
histamin,serotinin,kinin,dan faktor neutrofil.
Semua mediator ini menimbulkan reaksi alergi kulit dan asma.
Antigen yang penting dalam reaksi
Hipersentifitas cepat dapat dibagi 2 kelompok :
1. Antigen protein lengkap
2. Substansi dengan berat molekul rendah seperi obat-obatan.
Mediator kimia
Ketika terjadi stimulasi sel mastoleh antigen ,suatu mediator kimia yang kuat akan di lepaskan
dan mediator ini menimbulkan rangkaian kejadian fisiologik yang mangakibatkan berbagai
gejala hipersentivitas yang cepat.
Ada 2 tipe mediator kimia :
1. Mediator primer
2. Mediator skunder
Mediator primer
1. Histamin : kontraksi otot polos bronkus,dilatsi venula kecil dan kontraksi pembuluhdarah yang
besar serta peningkatan sekeresi lambung
2. Faktor pengaktif trombosit : kontaksi otot polos bronkus dan memicu trombositagarterjadi
agregasi.
3. Prostaglandin : bronkokontriksi dan peningkatan permeabelitas vaskuler.
Mediator sekunder
1. Bradikinin : kontriksi otot polos ,peningkatan permeabelitas vaskuler dan stimulasibreseptor
nyeri
2. Serotinin : kontriksi otot polos dan peningkatan permeabelitas vaskuler
3. Heparin : anti koagulan
4. Leukotrien : kontraksi otot polos dan peningkatan permeabelitas vaskuler
Hipersensitivitas
Tife-tife hipersentivitas terbagi 4 macam sebagai berikut :
1. Hipersensitivitas anafilatik (tipe I)
2. Hipersensitivitas sitotoksik (tipe II)
3. Hipersensitivitas kompleks imun (tipe III)
4. Hipersensitifitas tipe lambat (tipe IV)
TES DIAGNOSTIK
1. Hitung darah lengkap 3.Tes provokasi
2. Tes kulit 4.Tes radioalergosorben
Inflamasi dan diminishing imflammatory cell inflow yang akan mengurangi hiverresponsif

bronkus.dalam mengendalikan kongesti nasal dan penurunan produksi mukus ,kortikosteroid


intranasal lebih baikdi bandingkan dengan antuhistamin ,dekongestan,dan kromolin.pengguanaan
kortikosteroid intrnasal yang lama tidak menyebabkan gangguan pertumbuhan karena diberikan
dalam dosis yang sangat kecil.efek samping lokal pada pemberian intranasal pernah di laporkan
yaitu epistaksis ,rasa terbakar dan gatal.
Saat ini kortikosteroidmerupakan pengobatan lini pertama untuk rinitis alergika.mekanismenya
adalah menghambat sekresi sitokin dan infiltrasi sel yang berperan dalam proses inflamasi
seperti eosofil dan netrofil.
Konsep Dasar DERMATITIS
Konsep Dasar
DERMATITIS
Terbagi Atas :
DERMATITIS KONTAK
Sinonim :
Dermatitis venenata, dermatitis industri, dan lain-lain.
Penyebab :
a. Zat iritan misalnya asam atau alkali.
b. Alergen misalnya tumbuh-tumbuhan, kosmetik atau nikel.
Perjalanan Penyakit Dan Gejala Klinis :
Terdapat 2 tipe dermatitis kontak yang disebabkan oleh zat yang berkontak dengan kulit yaitu
dermatitis kontak iritan dan dermatitis kontak alergik.
Dermaitis Kontak Iritan :
Kulit berkontak dengan zat iritan dalam waktu dan konsentrasi cukup, umumnya berbatas relatif
tegas.
Paparan ulang akan menyebabkan proses menjadi kronik dan kulit menebal disebut skin
hardering.
Gejala klinis dipengaruhi keadaan kulit pada waktu kontak antara lain, faktor kelembaban,
paparan dengan air, panas dingin, tekanan atau gesekan. Kulit kering lebih kurang bereaksi.
Dermatitis Kontak Alergik :
Batas tak tegas. Proses yang mendasarinya ialah reaksi hipersensitivitas. Lokalisasi daerah
terpapar, tapi tidak tertutup kemungkinan di daerah lain.
Diagnosis banding :
Dermatitis numularis, dermatitis seboroika, dermatitis atopik.
Pengobatan :
Menghindari penyebab.
Simtomatik
Topikal :
o Apabila basah : kompres PK 1/10.000
o Apabila kering : Kortikosteroid
Pada keadaan berat per oral :
o Antihistamin
o Kortikosteroid
DERMATITIS ATOPIK
Sinonim :
Neurodermatitis disseminata; prurigo diathesique Besnier.

Penyebab :
a. Gangguan fungsi sel limfosit T dan peningkatan kadar Ig E
b. Blokade reseptor beta adrenergik pada kulit.
Perjalanan Penyakit Dan Gejala Klinis :
Bersifat kronis dengan eksaserbasi akut, dapat terjadi infeksi sekunder. Riwayat stigmata atopik
pada penderita atau keluarganya. Gejala klinis edema, vesikel sampai bula, dapat pula disertai
ekskoriasi. Keadaan kronik terdapat penebalan kulit, likenifikasi dan hyperpigmentasi. Gatal dari
ringan sampai berat, disertai rasa terbakar. Keadaan akut disertai rasa tidak enak badan
Lokalisasi sesuai umur penderita dibagi:
Tipe infantil : muka, terutama kedua pipi (disebut milk eczema), kepala, ekstremitas, badan
dan bokong. Biasanya usia 2 bulan 2 tahun.
muka, tengkuk, lipat siku dan pergelangan tangan. Lesi bersifat sub-akut.Tipe anak-anak :
Lesi bersifat kronis.Tipe dewasa : fosa poplitea, lipat siku dan tengkuk, dahi, daerah yang
terpapar matahari.
Diagnosis Banding :
Dermatitis seboroika, dermatitis herpetiformis dan keratosis folikularis (penyakit Darier)
Pengobatan :
Keadaan ringan diberikan pengobatan topikal.
diberikan kortikosteroid jangka pendek.Sistemik : Antihistamin. Keadaan sangat eksudativ,
Topikal : Keadaan akut dan basah diberi kompres. Kronik salep kortikosteroid. Keadaan
infeksi dikombinasi dengan antibiotika. Bila diduga mengalami infeksi dengan kandidosis dapat
diberikan campuran kortikosteroid dan anti kandida.
Tanda Diagnostik :
o Lokalisasi daerah lipatan flexor ekstremitas.
o Terdapat stigmata atopik
o Gatal
DERMATITIS NUMULARIS
Sinonim :
Dermatitis Diskoid, Neurodermatitis Numularis.
Penyebab :
Tidak pasti. Diduga stress emosi, alkohol dapat memperburuk keadaan.
Perjalanan Penyakit Dan Gejala Klinis :
Kelainan terdiri dari eritema, edema, papel, vesikel, bentuk numuler, dengan diameter bervariasi
5 40 mm. Bersifat membasah (oozing), batas relatif jelas, bila kering membentuk krusta. Gejala
biasanya hebat dan hilang timbul, bila digaruk dapat terjadi fenomena Koebner.
Lokalisasi di ekstremitas atas dan bawah bagian ekstensor, tetapi dapat berlokasi diseluruh
bagian tubuh.
Diagnosis Banding :
Dermatitis atopik, neurodermatitis.
Pengobatan :
Topikal tidak mencukupi, perlu pengobatan sistemik berupa anti histamin.
Lesi basah kompres larutan Permanganas Kalikus 1 : 10.000
Lesi kering : salep kortikosteroid.
Bila ada infeksi sekunder ditambahkan antibiotika sistemik.

Tanda Diagnostik :
Bentuk lesi numuler
Sifat lesi membasah
Gatal
NEURODERMITIS SIRKUMSKRIPTA
Sinonim :
Liken Simpleks Kronis
Penyebab :
Tidak pasti.
Perjalanan Penyakit Dan Gejala Klinis :
Penderita umumnya orang dewasa atau orang tua. Mungkin suatu tempat gatal kemudian digaruk
berulang-ulang, maka akan timbul papel, likenifikasi dan kulit menjadi tebal yang menimbulkan
hyperpigmentasi. Lesi berupa papel besar, gatal disebut prurigo nodularis.
Tempat di tengkuk, di punggung kaki, punggung tangan, lengan bawah dekat siku, tungkai
bawah bagian lateral, perianal, scrotum dan vulva atau di scalp. Prurigo nodularis sering
ditemukan di lengan dan tungkai. Kelainan menipis bila tidak digaruk.
Pengobatan :
Diberitahukan kepada penderita : kelainan kulit menipis dan kemudian menghilang bila tidak
digaruk.
Sistemik : Sedativa atau Antihistaminika untuk mengurangi rasa gatal.
Topikal : Salep Kortikosteroid.
Bila kurang berhasil dibantu dengan cara oklusi (ditutup dengan bahan impermeabel misalnya
bungkus plastik). Kalau belum berhasil juga disuntik dengan kortikosteroid intra lesi, misalnya
triamsinolon.
Prognosis :
Baik, tetapi sering pula residif.
DERMATITIS STATIS
Sinonim :
Dermatitis Hemostatika.
Penyebab :
Gangguan aliran darah pembuluh vena di tungkai. Berupa bendungan di luar pembuluh darah;
misalnya tumor di abdomen sumbatan thrombus di tungkai bawah, atau kerusakan katup vena
setelah thrombophlebitis.
Insidens :
Orang dewasa dan orang tua.
Perjalanan Penyakit Dan Gejala Klinis :
Akibat bendungan, tekanan vena makin meningkat sehingga memanjang dan melebar. Terlihat
berkelok-kelok seperti cacing (varises). Cairan intravaskuler masuk ke jaringan dan terjadilah
edema. Timbul keluhan rasa berat bila lama berdiri dan rasa kesemutan atau seperti ditusuktusuk. Terjadi ekstravasasi eritrosit dan timbul purpura. Bercak-bercak semula tampak merah
berubah menjadi hemosiderin. Akibat garukan menimbulkan erosi, skuama. Bila berlangsung
lama, edema diganti jaringan ikat sehingga kulit teraba kaku, warna kulit lebih hitam.
Komplikasi :
Timbul ulkus, disebut ulkus varikosum atau ulkus venosum.
Diagnosis :
Lokalisasi ditungkai bawah, dimulai di atas maleous internus sampai di bawah lutut. Kelainan

berupa hyperpigmentasi, skuama, erosi, papel, kadang-kadang eksudasi. Batas tidak jelas.
Udema terutama di pergelangan kaki.
Diagnosis Banding :
Dermatitis kontak.
Pengobatan :
Dermatitis akut dikompres dengan larutan Permanganas Kalikus 1/10.000, atau larutan perak
nitrat 0,25 % - 0,5 %.
Obat topikal : Ichtyol 2 % dalam salep zink-oksid.
Bila eksudatif , diberi kortikosteroid dalam jangka pendek (7-10 hari).
Bila ada infeksi sekunder diberi antibiotika.
Prognosis :
Residif..
DERMATITIS SEBOROIKA
Sinonim :
Seborrheic Eczema, Dermatitis Seborrhoides, Seborrhoide.
Penyebab :
Tidak diketahui.
Faktor yang mempengaruhi / memperburuk :
Jenis makanan berlemak
Banyaknya keringat
Stress emosi
Insidens :
Daerah dingin insidennya lebih tinggi. Umumnya bayi dan anak umur 6 10 tahun, serta orang
dewasa umur 18 40 tahun.
Perjalanan Penyakit Dan Gejala Klinis :
Merupakan penyakit kronik, residif, dan gatal. Kelainan berupa skuama kering, basah atau kasar;
krusta kekuningan dengan bentuk dan besar bervariasi.
Tempat kulit kepala, alis, daerah nasolabial belakang telinga, lipatan mammae, presternal, ketiak,
umbilikus, lipat bokong, lipat paha dan skrotum.
Pada kulit kepala terdapat skuama kering dikenal sebagai dandruff dan bila basah disebut
pytiriasis steatoides ; disertai kerontokan rambut.
Lesi dapat menjalar ke dahi, belakang telinga, tengkuk, serta oozing (membasah), dan menjadi
keadaan eksfoliatif generalisata. Pada bayi dapat terjadi eritroderma deskuamativa atau disebut
penyakit Leiner.
Diagnosis Banding :
Psoriasis, Pitiriasis Rosea, Dermatofitosis.
Pengobatan :
: diet rendah lemak.Umum
: antihistamin, pada kasus berat, kortikosteroid.Sistemik
dapat dipakai selenium sulfida.Lokal : preparat sulfur, tar, kortikosteroid. Shampo
Prognosis :
Kronik residif.
ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN DERMATITIS

I. PENGKAJIAN.
a. Identitas Pasien.
b. Keluhan Utama.
Biasanya pasien mengeluh gatal, rambut rontok.
c. Riwayat Kesehatan.
1. Riwayat Penyakit Sekarang :
Tanyakan sejak kapan pasien merasakan keluhan seperti yang ada pada keluhan utama dan
tindakan apa saja yang dilakukan pasien untuk menanggulanginya.
2. Riwayat Penyakit Dahulu :
Apakah pasien dulu pernah menderita penyakit seperti ini atau penyakit kulit lainnya.
3. Riwayat Penyakit Keluarga :
Apakah ada keluarga yang pernah menderita penyakit seperti ini atau penyakit kulit lainnya.
4. Riwayat Psikososial :
Apakah pasien merasakan kecemasan yang berlebihan. Apakah sedang mengalami stress yang
berkepanjangan.
5. Riwayat Pemakaian Obat :
Apakah pasien pernah menggunakan obat-obatan yang dipakai pada kulit, atau pernahkah pasien
tidak tahan (alergi) terhadap sesuatu obat.
II. PEMERIKSAAN FISIK.
a. Subjektif :
Gatal
b. Objektif :
Skuama kering, basah atau kasar.
Krusta kekuningan dengan bentuk dan besar bervariasi.
( Yang sering ditemui pada kulit kepala, alis, daerah nasolabial belakang telinga, lipatan
mammae, presternal, ketiak, umbilikus, lipat bokong, lipat paha dan skrotum ).
Kerontokan rambut.
III. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI.
1. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan Inflamasi dermatitis, ditandai dengan :
Adanya skuama kering, basah atau kasar.
Adanya krusta kekuningan dengan bentuk dan besar bervariasi.
Intervensi :
Kaji / catat ukuran dari krusta, bentuk dan warnanya, perhatikan apakah skuama kering, basah
atau kasar.
Anjurkan klien untuk tidak menggaruk daerah yang terasa gatal.
Kolaborasi dalam pemberian pengobatan :
: Antihistamin, Kortikosteroid.Sistemik
: Preparat Sulfur, Tar, Kortikosteroid, Shampo (Selenium Sulfida)Lokal
2. Ansietas berhubungan dengan ancaman integritas biologis aktual atau yang dirasa sekunder
akibat penyakit, ditandai dengan :
(Kemungkinan yang terjadi)

Insomnia
Keletihan dan kelemahan
Gelisah
Anoreksia
Ketakutan
Kurang percaya diri
Merasa dikucilkan
Menangis.
Intervensi :
Kaji tingkat ansietas: ringan, sedang, berat, panik.
Berikan kenyamanan dan ketentraman hati :
Tinggal bersama pasien.
Tekankan bahwa semua orang merasakan cemas dari waktu ke waktu.
Bicara dengan perlahan dan tenang, gunakan kalimat pendek dan sederhana.
Perlihatkan rasa empati.
Singkirkan stimulasi yang berlebihan (ruangan lebih tenang), batasi kontak dengan orang lain
klien atau keluaraga yang juga mengalami cemas.
Anjurkan intervensi yang menurunkan ansietas (misal : teknik relaksasi, imajinasi terbimbing,
terapi aroma).
Identifikasi mekanisme koping yang pernah digunakan untuk mengatasi stress yang lalu.
3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan dalam penampilan sekunder akibat
penyakit, ditandai dengan :
Klien mungkin merasa malu.
Tidak melihat / menyentuh bagian tubuh yang terganggu.
Menyembunyikan bagian tubuh secara berlebihan.
Perubahan dalam keterlibatan sosial.
Intervensi :
Dorong klien untuk mengekspresikan perasaannya.
Dorong klien untuk bertanya mengenai masalah, penanganan, perkembangan dan prognosa
penyakit.
Berikan informasi yang dapat dipercaya dan perkuat informasi yang telah diberikan.
Perjelas berbagai kesalahan konsep individu / klien terhadap penyakit, perawatan dan
pengobatan.
Dorong kunjungan / kontak keluarga, teman sebaya dan orang terdekat.
4. Kurang pengetahuan tentang penyakitnya berhubungan dengan kurangnya sumber informasi,
ditandai dengan :
Pasien sering bertanya / minta informasi, pernyataan salah konsep.
Intervensi :
Jelaskan konsep dasar penyakitnya secara umum.
Jelaskan / ajarkan nama obat-obatan, dosis, waktu dan metode pemberian, tujuan, efek samping
dan toksik.

Anjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang rendah lemak.


Tekankan pentingnya personal hygiene.
http://stikesmbbaksos.blogspot.com/2010/04/konsep-dasar-dermatitis.html
DERMATITIS
Dermatitis adalah suatu peradangan menahun pada lapisan atas kulit yang menyebabkan rasa
gatal. Pada umumnya Dermatitis juga disertai dengan tanda-tanda seperti terbentuknya bintik
yang berisi cairan (bening atau nanah) dan bersisik.
Penyebab
Dermatitis dibagi menjadi 3 bagian besar: Dermatitis Atopik/Eksim: ditemukan pada orang yang
menderita alergi atau asma. Atau memiliki riwayat keluarga yang mengalami alergi atau asma.
Dermatitis Kontak: Dermatitis karena kontak dengan bahan yang bersifat iritan atau alergen,
yaitu tanaman, zat kimia atau bahan pakaian.
Faktor Risiko
Seringkali terjadi pada penderita rinitis alergika atau penderita asma dan pada orang-orang yang
anggota keluarganya ada yang menderita rinitis alergika atau asma. Berbagai keadaan yang bisa
memperburuk dermatitis atopik :
Stres emosional.
Perubahan suhu atau kelembaban udara.
Infeksi kulit oleh bakteri.
Kontak dengan bahan pakaian yang bersifat iritan (terutama wol).
Pada beberapa anak-anak, alergi makanan bisa memicu terjadinya dermatitis .
Gejala dan Tanda
Dermatitis Atopik: Bisa terjadi pada bayi yang disebut eksim susu. Timbul disekitar pipi dan
bibir. Sedang pada anak dapat dijumpai didaerah lipatan siku . Dermatitis Kontak: Pada bayi
yang menggunakan popok sekali pakai bisa terkena dermatitis kontak karena popok terlalu
lembab dan kontak langsung dengan air kemih berjam-jam sehingga timbul gejala kemerahan
pada lipatan paha dan pantat. Dermatitis Numularis Gejala pada kulit tampak bulat seperti uang
logam, kemerahan, bengkak dan berisi cairan dan penderita merasa sangat gatal
Komplikasi
Dapat terjadi komplikasi yaitu infeksi bakteri. Gejalanya berupa bintik-bintik yang
mengeluarkan nanah. Pembengkakan kelenjar getah bening sehingga penderita mengalami
demam dan lesu.
Pencegahan
1. Hindari kontak dengan iritan atau alergen 2. Jika gatal, jangan menggaruk karena dapat terjadi
luka, radang dan bernanah 3. Hindari stres dan menjalankan pola hidup yang sehat 4. Jaga
kebersihan diri dan lingkungan.
Penatalaksanaan
Krim atau salep kortikosteroid bisa mengurangi ruam dan mengendalikan rasa gatal. Krim
kortikosteroid yang dioleskan pada daerah yang luas atau dipakai dalam jangka panjang bisa
menyebabkan masalah kesehatan yang serius, karena obat ini diserap ke dalam aliran darah.
Mengoleskan jeli minyak atau minyak sayur bisa membantu menjaga kehalusan dan kelembaban
kulit.
Pada beberapa penderita, ruam semakin memburuk setelah mereka mandi, bahkan sabun dan air
menyebabkan kulit menjadi kering dan penggosokan dengan handuk bisa menyebabkan iritasi.
Karena itu dianjurkan untuk lebih jarang mandi, tidak terlau kuat mengusap-usap kulit dengan
handuk dan mengoleskan minyak atau pelumas yang tidak berbau (misalnya krim pelembab

kulit).
Antihistamin (difenhidramin, hidroksizin) bisa mengendalikan rasa gatal, terutama dengan efek
sedatifnya. Obat ini menyebabkan kantuk, jadi sebaiknya diminum menjelang tidur malam hari.
Kuku jari tangan sebaiknya tetap pendek untuk mengurangi kerusakan kulit akibat garukan dan
mengurangi kemungkinan terjadinya infeksi.
Penderita sebaiknya belajar mengenali tanda-tanda dari infeksi kulit pada dermatitis atopik (yaitu
kulit bertambah merah, pembengkakan, terdapat gurat-gurat merah dan demam). Jika terjadi
infeksi, berikan antibiotik.
http://www.kalbe.co.id/medical/detail-of-disease/?mn=med&tipe=dod
Dermatitis Kontak DEFINISI
Dermatitis Kontak adalah peradangan yang disebabkan oleh kontak dengan suatu zat tertentu;
ruamnya terbatas pada daerah tertentu dan seringkali memiliki batas yang tegas.
PENYEBAB
Zat-zat tertentu dapat menyebabkan peradangan kulit melalui 2 cara, yaitu iritasi (dermatitis
kontak iritan) atau reaksi alergi (dermatitis kontak alergika).

Sabun yang sangat lembut, deterjen dan logam-logam tertentu bisa mengiritasi kulit setelah
beberapa kali digunakan.
Kadang pemaparan berulang bisa menyebabkan kekeringan dan iritasi kulit.
Dalam waktu beberapa menit, iritan kuat (misalnya asam, alkali dan beberapa pelarut organik)
bisa menyebabkan perubahan kulit.
Pada reaksi alergi, pemaparan pertama pada zat tertentu tidak menimbulkan suatu reaksi, tetapi
pemaparan berikutnya bisa menyebabkan gatal-gatal dan dermatitis dalam waktu 4-24 jam.
Seseorang bisa saja sudah biasa menggunakan suatu zat selama bertahun-tahun tanpa masalah,
lalu secara tiba-tiba mengalami reaksi alergi. Bahkan salep, krim dan losyen yang digunakan
untuk mengobati dermatitispun bisa menyebabkan reaksi alergi.
Sekitar 10% wanita mengalami alergi terhadap nikel.
Dermatitis juga bisa terjadi akibat berbagai bahan yang ditemukan di tempat bekerja (dermatitis
okupasional).
Jika dermatitis terjadi setelah menyentuh zat tertentu lalu terkena sinar matahari, maka
keadaannya disebut dermatitis kontak fotoalergika atau dermatitis kontak fototoksik.
Zat-zat tersebut antara lain tabir surya, losyen setelah bercukur, parfum tertentu, antibiotik dan
minyak.
Penyebab dari dermatitis kontak alergika:
Kosmetik : cat kuku, penghapus cat kuku, deodoran, pelembab, losyen sehabis bercukur,
parfum, tabir surya
Senyawa kimia (dalam perhiasan) : nikel
Tanaman : racun ivy (tanaman merambat), racun pohon ek, sejenis rumput liar, primros
Obat-obat yang terkandung dalam krim kulit : antibiotik (penisilin, sulfonamid, neomisin),

antihistamin (difenhidramin, prometazin), anestesi (benzokain), antiseptik (timerosal)


Zat kimia yang digunakan dalam pengolahan pakaian.
GEJALA
Efek dari dermatitis kontak bervariasi, mulai dari kemerahan yang ringan dan hanya berlangsung
sekejap sampai kepada pembengkakan hebat dan lepuhan kulit.
Ruam seringkali terdiri dari lepuhan kecil yang terasa gatal (vesikel).
Pada awalnya ruam hanya terbatas di daerah yang kontak langsung dengan alergen (zat penyebab
terjadinya reaksi alergi), tetapi selanjutnya ruam bisa menyebar.
Ruam bisa sangat kecil (misalnya sebesar lubang anting-anting) atau bisa menutupi area tubuh
yang luas (misalnya dermatitis karena pemakaian losyen badan).
Jika zat penyebab ruam tidak lagi digunakan, biasanya dalam beberapa hari kemerahan akan
menghilang.
Lepuhan akan pecah dan mengeluarkan cairan serta membentuk keropeng lalu mengering.
Sisa-sisa sisik, gatal-gatal dan penebalan kulit yang bersifat sementara, bisa berlangsung selama
beberapa hari atau minggu.

DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejala dan adanya riwayat kontak dengan bahan iritan
atau alergen.
Jika diduga suatu dermatitis kontak, bisa dilakukan tes patch.
Suatu plester kecil yang mengandung zat-zat yang biasanya menyebabkan dermatitis
ditempelkan pada kulit pendeita selama 2 hari untuk melihat apakah terbentuk suatu ruam
dibawah salah satu plester tersebut.
Pemeriksaan lain yang digunakan untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab lainnya adalah
biopsi atau pembiakan luka di kulit.
PENGOBATAN
Pengobatan dilakukan dengan cara menghilangkan atau menghindari zat-zat penyebab terjadinya
dermatitis kontak.
Untuk mencegah infeksi dan menghindari iritasi, daerah yang terkena harus dibersihkan secara
teratur dengan air dan sabun yang lembut. Lepuhan tidak boleh dipecahkan. Verban kering juga
bisa mencegah terjadinya infeksi.
Krim atau salep corticosteroid biasanya bisa meringankan gejala-gejala dermatitis kontak yang
ringan.
Tablet corticosteroid kadang digunakan pada kasus yang berat.
Pada keadaan tertentu pemberian antihistamin bisa meringankan gatal-gatal.
http://boneweb.blogspot.com/2009/05/dermatitis-kontak-definisi-dermatitis.html

ASUHAN KEPERAWATAN SINDROM STEVENS JHONSEN


TINJAUAN TEORI
A. Pengertian
Sindrom Stevens Johnson merupakan sindrom yang mengenai kulit, selaput lendir di oritisium
dan mata dengan keadaan umum bervariasi dari ringan sampai berat, kelainan pada kulit berupa
eritema, vesikel / bula dapat disertai purpura.
B. Etilogi
Penyebab yang pasti belum diketahui, ada angapan bahwa sindrom ini merupakan eritema
multiforme yang berat dan disebut eritema multifome mayor. Salah satu penyebabnya ialah alergi
obat secara sistemik. Obat-obatan yang disangka sebagai penyebabnya antara lain : penisilin dan
semisintetiknya, streptomisin, sulfonamida, tetrasiklin, antipiretik/analgetik, (misal : derivate
salisil / pirazolon, metamizol, metapiron, dan parasetamol) klorpromasin, karbamasepin, kinin
antipirin, tegretol, dan jamu. Selain itu dapat juga disebabkan infeksi (bakteri,virus, jamur,
parasit) neoplasma, pasca vaksinasi, radiasi dan makanan.
C. Patofisiologi
Patogenesisnya belum jelas, disangka disebabkan oleh reaksi alergi tipe III dan IV. Reaksi tipe
III terjadi akibat terbentuknya kompleks antigen-antibody yang membentuk mikro presitipasi
sehingga terjadi aktivasi neutrofil yang kemudian melepaskan lysozim dan menyebabkan
kerusakan jaringan dan organ sasaran (target organ). Reaksi tipe IV terjadi akibat lysozim T yang
tersensitisasi berkontrak kembali dengan antigen yang sama kemudian lysozim dilepaskan
sehingga terjadi reaksi radang.
D. Tanda dan Gejala
Sindrom ini jarang dijumpai pada usia kurang dari 3 tahun. Keadaan umumnya bervariasi dari
ringan sampai berat. Pada yang berat kesadarannya menurun, penderita dapat berespons sampai
koma. Mulainya dari penyakit akut dapat disertai gejala prodromal berupa demam tinggi,
malaise, nyeri kepala, batuk, pilek, dan nyeri tenggorokan.
Pada sindrom ini terlihat adanya trias kelainan berupa :
Kelainan kulit
Kelainan selaput lendir di orifisium
Kelainan mata
1. Kelainan Kulit
Kelainan kulit terdiri atas eritema, papul, vesikel, dan bula. Vesikel dan bula kemudian memecah
sehingga terjadi erosi yang luas. Dapat juga disertai purpura.
2. Kelainan Selaput lender di orifisium
Kelainan di selaput lendir yang sering ialah pada mukosa mulut, kemudian genital, sedangkan
dilubang hidung dan anus jarang ditemukan.
Kelainan berupa vesikal dan bula yang cepat memecah hingga menjadi erosi dan ekskoriasi serta
krusta kehitaman. Juga dapat terbentuk pescudo membran. Di bibir yang sering tampak adalah
krusta berwarna hitam yang tebal.
Kelainan di mukosa dapat juga terdapat di faring, traktus respiratorius bagian atas dan
esophagus. Stomatitis ini dapat menyeababkan penderita sukar/tidak dapat menelan. Adanya
pseudo membran di faring dapat menimbulkan keluhan sukar bernafas.
3. Kelainan Mata
Kelainan mata yang sering ialah konjungtivitis, perdarahan, simblefarop, ulkus kornea, iritis dan
iridosiklitis.
E. Pemeriksaan Penunjang

Laboratorium : Biasanya dijumpai leukositosis atau eosinofilia. Bila disangka penyebabnya


infeksi dapat dilakukan kultur darah.
Histopatologi : Kelainan berupa infiltrat sel mononuklear, oedema dan ekstravasasi sel darah
merah, degenerasi lapisan basalis. Nekrosis sel epidermal dan spongiosis dan edema intrasel di
epidermis.
Imunologi : Dijumpai deposis IgM dan C3 di pembuluh darah dermal superficial serta terdapat
komplek imun yang mengandung IgG, IgM, IgA.
F. Kompikasi
Komplikasi yang tersering ialah bronkopneumonia, kehilangan cairan / darah, gangguan
keseimbangan elektrolit dan syok. Pada mata dapat terjadi kebutaan karena gangguan lakrimal.
G. Penatalaksanaan
Pada sindrom Stevens Johnson pengangannya harus tepat dan cepat. Penggunaan obat
kostikosteroid merupakan tindakan life-saving. Biasanya digunakan Deksamethason secara
intravena, dengan dosis permulaan 4-6 X 5 mg sehari. Pada umumnya masa kritis dapat diatasi
dalam beberapa hari dengan perubahan keadaan umum membaik, tidak timbul lesi baru,
sedangkan lesi lama mengalami involusi.
Dampak dari terapi kortikosteroid dosis tinggi adalah berkurangnya imunitas, karena itu bila
perlu diberikan antibiotic untuk mengatasi infeksi. Pilihan antibiotic hendaknya yang jarang
menyebabkan alergi, berspekrum luas dan bersifat bakterisidal. Untuk mengurangi efek samping
kortikosteroid diberikan diet yang miskin garam dan tinggi protein.
Hal lain yang perlu diperhatikan ialah mengatur kseimbangan cairan, elektrolit dan nutrisi. Bila
perlu dapat diberikan infuse berupa Dekstrose 5% dan larutan Darrow.
Tetapi topical tidak sepenting terapi sistemik untuk lesi di mulut dapat diberikan kenalog in
orabase. Untuk lesi di kulit pada tempat yang erosif dapat diberikan sofratul atau betadin.
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
a. Data Subyktif
Klien mengeluh demam tinggi, malaise, nyeri kepala, batuk, pilek, dan nyeri tenggorokan / sulit
menelan.
b. Data Obyektif
Kulit eritema, papul, vesikel, bula yang mudah pecah sehingga terjadi erosi yang luas, sering
didapatkan purpura.
Krusta hitam dan tebal pada bibir atau selaput lendir, stomatitis dan pseudomembran di faring
Konjungtiva, perdarahan sembefalon ulkus kornea, iritis dan iridosiklitis.
c. Data Penunjang
Laboratorium : leukositosis atau esosinefilia
Histopatologi : infiltrat sel mononuklear, oedema dan ekstravasasi sel darah merah, degenerasi
lapisan basalis, nekrosis sel epidermal, spongiosis dan edema intrasel di epidermis.
Imunologi : deposis IgM dan C3 serta terdapat komplek imun yang mengandung IgG, IgM,
IgA.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman, demam, nyeri kepala, tenggorokan s.d adaya bula
2. Gangguan pemenuhan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh s.d sulit menelan
3. Gangguan integritas kulit s.d bula yang mudah pecah
4. Kurang pengetahuan tentang proses penyakit s.d kurang informasi
5. Potensial terjadi infeksi sekunder s.d efek samping terpasangnya infus dan terapis steroid

C. Rencana
No Diagnosa
Keperawatan Perencanaan Keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil Rencana Tindakan
1. Gangguan rasa nyaman, demam, nyeri kepala, tenggorokan s.d adaya bula Tujuan :
Klien merasa nyaman dalam waktu 2 x 24 jam
Kriteria hasil :
Nyeri berkurang / hilang
Ekpresi muka rileks Berikan kompres dingin
Berikan pakaian yang tipis dari bahan yang menyerap
Hindarkan lesi kulit dari manipulasi dan tekanan
Usahakan pasien bias istirahat 7-8 jam sehari.
Monitor balance cairan
Monitor suhu dan nadi tiap 2 jam
2. Gangguan pemenuhan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh s.d sulit menelan Tujuan :
Kebutuhan nutrisi terpenuhi selama perawatan
Kriteria hasil :
Tidak ada tanda-tanda dehidrasi
Diet yang disediakan habis
Hasil elektrolit serum dalam batas normal Kaji kemampuan klien untuk menelan
Berikan diet cair
Jelaskan pada klien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi bagi kesembuhan klien
Monitoring balance cairan
Kaji adanya tanda-tanda dehidrasi dan gangguan elekrolit
K/P kolaborasi untuk pemasangan NGT
3. Gangguan integritas kulit s.d bula yang mudah pecah Tujuan :
Kerusakan integritas kulit menunjukan perbaikan dalam waktu 7-10 hari
Kriteria hasil :
Tidak ada lesi baru
Lesi lama mengalami involusi
Tidak ada lesi yang infekted Kaji tingkat lesi
Hindarkan lesi dari manipulasi dan tekanan
Berikan diet TKTP
Jaga linen dan pakaian tetap kering dan bersih
Berikan terapi topical sesuai dengan program
4. Kurang pengetahuan tentang proses penyakit s.d kurang informasi Tujuan :
Pengetahuan klien/keluarga akan meningkat setelah diberikan penyuluhan kesehatan
Kriteria hasil :
Klien/keluarga mengerti tentang penyakitnya
Klien/keluarga kooperatif dalam perawatan /pengobatan Kaji tingkat pengetahuan klien/
keluarga tentang penyakitnya
Jeslakan proses penyakit dengan bahasa yang sederhana
Jelaskan tentang prosedur perawatan dan pengobatan
Berikan catatan obat-obat yang harus dihindari oleh klien
5. Potensial terjadi infeksi sekunder s.d efek samping terpasangnya infus dan terapis steroid
Tujuan :

Tidak terjadi infeksi sekunder selama dalam perawatan


Kriteria hasi :
Tidak ada tanda infeksi Hindari lesi kulit dari kontaminasi
Dresing infus dan lesi tiap hari
Kaji tanda tanda infeksi lokal maupun sistemik
Ganti infus set dan abocatin tiap 3 hari
Kolaborasi untuk pemeriksaan Ro thorax dan labortorium
http://hidayat2.wordpress.com/2009/05/16/askep-sindrom-stevens-jhonsen/
BAB I
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG
Steven johnson merupakan syndrom kelainan kulit pada selaput lendir orifisium mata gebital.
Prediksi : nulut, mata, kulit, ginjal, dan anus. Steven johnson tersebut disebabkan oleh beberapa
mikroorganisme virus dll.
Syndrom ini jarang dijumpai pada usia 3 tahun, kebawah kemudian umurnya bervariasi dari
ringan sampai berat. Pada yang berat kesadarannya menurun, penderita dapat soporous sampai
koma, mulainya penyakit akut dapat disertai gejala prodiomal berupa demam tinggi, melaise,
nyeri kepala, batuk, pilek dan nyeri tenggorokan.
Syndrom steven johnson ditemukan oleh dua dokter anak Amerika. A. M. steven dan S.C
johnson, 1992 syndrom steven johnson yang bisa disingkat SJS merupakan reaksi alergi yang
hebat terhadap obat-obatan.
Angka kejadian syndrom steven johnson sebenarnya tidak tinggi hanya sekitar 1-14 per 1 juta
penduduk. Syndrom steven johnson dapat timbul sebagai gatal-gatal hebat pada mulanya, diikuti
dengan bengkakdan kemerahan pada kulit. Setelah beberapa waktu, bila obat yang menyebabkan
tidak dihentikan, serta dapat timbul demam, sariawan padamulut, mata, anus, dan kemaluan serta
dapat terjadi luka-luka seperti koreng pada kulit. Namun pada keadaan-keadaan kelainan simtem
imom seperti HIV dan AIDS serta lapus angka kejadiannya dapat meningkat secara tajam.
Dari data diatas penulis tertarik mengangkat kasus syndrom steven johnson karena syndrom
steven johnson sangat berabahaya bahkan dapat menyebabkan kematian. Syndrom tidak
menyerang anak dibawah 3 tahun, dan penyebab syndrom steven johnson sendiri sangat
bervariasi ada yang dari obat-obatan dan dari alergi yang hebat, dan ciri-ciri penyakit steven
johnson sendiri gatal-gatal pada kulit dan badan kemerah-merahan dan syndrom ini bervariasi
ada yang berat dan ada yang ringan.
( Support, Edisi November 2008 )
B.TUJUAN
1.Tujuan Umum
Untuk memberikan pengalaman nyata tentang Asuhan Keperawatan dengan Kasus Syndrom
Steven Johnson
2.Tujuan Khusus
Secara khusus '' Asuhan Keperawatan Klien dengan Syndrom Steven Johnson '', ini disusun
supaya :
a.Perawat dapat mengetahui tentang pengertian, penyebab, klasifikasi, tanda dan gejala,
patofisiologi, pathway, pemeriksaan penunjang, penatalaksanaa, serta komplikasi dari syndrom
steven johnson.

b.Perawat dapat memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan syndrom steven johnson.
c.Perawat dapat memberikan pendidikan kesehatan tentang syndrom steven johnson pada
klien.BAB II
TINJAUAN TEORI
A.Konsep Dasar
1.Pengertian
a.Syndrom Steven Johnson adalah Syndrom yang mengenai kulit, selaput lendir orifisium dan
mata dengan keadaan umum bervariasi dari ringan sampai berat. Kelainan pada kulit berupa
eritema, vesikel / bula dapat disertai purpura.
( Djuanda, 1993 : 107 )
b.Syndrom Steven Johnson adalah penyakit kulit akut dan berat yang terdiri dari eropsi kulit,
kelainan mukosa dan konjungtivitis
( Junadi, 1982 : 480 )
c.Syndrom Steven Johnson adalah syndrom kelainan kulit berupa eritema, vesikel / bula, dapat
disertai purpura yang dapat mengenai kulit, selaput lendir yang oritisium dan dengan keadaan
omom bervariasi dan baik sampai buruk.
( Mansjoer, A, 2000 : 136 )
d.Jadi syndrom steven johnson adalah suatu syndrom berupa kelainan kulit pada selaput lendir
oritisium mata genital.
2.Etiologi
Penyebab belum diketahui dengan pasti, namun beberapa faktor yang dapat dianggap sebagai
penyebab, adalah :
a.Alergi obat secara sistemik ( misalnya penisilin, analgetik, anti- peuritik ).
Penisilline dan semisintetiknya
Sterptomecine
sulfonamida
Tetrasiklin
Anti piretik / analgetik ( dentat, salisil / perazolon, metamizol, metampiron, dan paracetamol ).
Kloepromazin
Karbamazepin
Kirin antipirin
Tegretol
b.Inspeksi mikroorganisme ( bakteri, virus, jamur, dan parasit ).
c.Neoplasma dan faktor endoktrin.
d.Faktor fisik ( sinar matahari, radiasi, sinar x ).
e.Makanan.

3.Manifestasi Klinis
Syndrom ini jarang dijumpai pada usia 8 tahun kebawah. Keadaan umumnya bervariasi dari
ringan sampai berat.
Pada syndrom ini terlihat adanya trias kelainan, berupa :

a.Kelainan kulit.
Kelainan kulit terdiri dari eritema, vesikeldan bula. Vesikel dan bulakemudian memecah
sehingga terjadi erosi yang luas. Disamping itu juga dapat terjadi purpura, pada bentuk yang
berat kelainannya generalisata.
b.Kelainan selaput lendir
Kelaianan selaput lendir yang tersering ialah pada mukosa mulut ( 100 % ) kemudian disusul
oleh kelainan alat dilubang genetol ( 50 % ), sedangkan dilubang hidung dan anus jarang
( masing-masing 8 % dan 4 % ).
c.Kelainan mata.
Kelainan mata merupakan 80 % diantara semua kasus yang tersering telah konjungtivitis
kataralis. Selain itu juga dapat berupa konjungtivitis parulen, peradarahan, alkus korena, iritis
dan iridosiklitis. Disamping trias kelainan tersebut dapat pula dapat pula terdapat kelainan lain,
misalnya : notritis, dan onikolisis
( http://informasikesehatan40.blogspot.com )
4.Patofisiologi
Patogenesisnya belum jelas, disangka disebabkan oleh reaksi hipersensitif tipe III dan IV. Reaksi
tipe III dan IV. Reaksi tipe III terjadi akibat terbentuknya komplek antigen antibody yang mikro
presitipasi sehingga terjadi aktifitas sistem komlemen.
Akibatnya terjadi akumulasi neutrofil yang kemudian melepaskan leozim dan menyebab
kerusakan jaringan pada organ sasaran ( target- organ ). Reaksi hipersensitifitas tipe IV terjadi
akibat limfosit T yang tersintesisasi berkontak kembali dengan antigen yang sama kemudian
limtokin dilepaskan sebagai reaksi radang.
Reaksi hipersensitif tipe III
Hal ini terjadi sewaktu komplek antigen antibody yang bersikulasi dalam darah mengendap
didalam pembuluh darah atau jaringan sebelah bitir.
Antibiotik tidak ditujukan kepada jaringan tersebut, tetapi terperangkap dalam jaringan
kapilernya. Pada beberapa kasus antigen asing dapat melekat ke jaringan menyebabkan
terbentuknya komplek antigen antibodi ditempat tersebut. Reaksi tipe ini mengaktifkan
komplemen dan degranulasi sel mast sehingga terjadi kerusakan jaringan atau kapiler ditempat
terjadinya reaksi tersebut. Neutrofil tertarik ke daerah tersebut dan mulai memtagositosis sel-sel
yang rusak sehingga terjadi pelepasan enzim-enzim sel, serta penimbunan sisa sel. Hal ini
menyebabkan siklus peradangan berlanjut.
Reaksi hipersensitif tipe IV
Pada reaksi ini diperantarai oleh sel T, terjadi pengaktifan sel T. Penghasil limfokin atau
sitotoksik atau suatu antigen sehingga terjadi penghancuran sel-sel yang bersangkutan. Reaksi
yang diperantarai oleh sel ini bersifat lambat ( delayed ) memerlukan waktu 14 jam sampai 27
jam untuk terbentuknya.
http://syukronaffdoc.blogspot.com/2009/04/stevens-johnson-syndrome.html
intubasi nasogastrik adalah proses medis yang melibatkan penyisipan sebuah tabung plastik
(tabung nasogastrik, NG tube) melalui hidung , melewati tenggorokan , dan turun ke dalam perut
.
Stomach tube (Levin type), 18 Fr 48 in (121 cm) Lambung tabung (Levin jenis), 18 Fr 48 in
(121 cm)

Contents Isi
[hide]
1 Uses 1 Penggunaan
2 Contraindications 2 Kontraindikasi
3 Complications 3 Komplikasi
4 See also 4 Lihat juga
5 References 5 Referensi
Uses Menggunakan
A nasogastric tube is used for feeding and administering drugs and other oral agents such as
activated charcoal. Sebuah tabung nasogastrik digunakan untuk makan dan memberikan obatobatan dan agen oral lainnya seperti arang aktif. For drugs and for minimal quantities of liquid, a
syringe is used for injection into the tube. Untuk obat-obatan dan untuk jumlah minimal cair,
jarum suntik yang digunakan untuk injeksi ke dalam tabung. For continuous feeding, a gravity
based system is employed, with the solution placed higher than the patient's stomach. Untuk
makan terus menerus, suatu sistem berbasis gravitasi digunakan, dengan solusi yang ditempatkan
lebih tinggi dari perut pasien. If accrued supervision is required for the feeding, the tube is often
connected to an electronic pump which can control and measure the patient's intake and signal
any interruption in the feeding. Jika pengawasan yang masih harus dibayar diperlukan untuk
memberi makan, tabung seringkali dihubungkan ke pompa elektronik yang dapat mengontrol dan
mengukur asupan pasien dan sinyal setiap gangguan dalam makan.
Nasogastric aspiration (suction) is the process of draining the stomach's contents via the tube.
aspirasi nasogastrik (suction) adalah proses pengeringan isi perut melalui tabung. Nasogastric
aspiration is mainly used to remove gastric secretions and swallowed air in patients with
gastrointestinal obstructions. Nasogastrik aspirasi terutama digunakan untuk menghilangkan
sekresi lambung dan udara menelan pada pasien dengan penghalang gastrointestinal. Nasogastric
aspiration can also be used in poisoning situations when a potentially toxic liquid has been
ingested, for preparation before surgery under anesthesia, and to extract samples of gastric liquid
for analysis. Aspirasi nasogastrik juga bisa digunakan dalam situasi keracunan bila cairan yang
berbahaya telah tertelan, untuk persiapan sebelum pembedahan dengan anestesi, dan untuk
mengambil sampel cairan lambung untuk analisis.
If the tube is to be used for continuous drainage, it is usually appended to a collector bag placed
below the level of the patient's stomach; gravity empties the stomach's contents. Jika tabung akan
digunakan untuk drainase terus menerus, biasanya ditambahkan ke kantong kolektor ditempatkan
di bawah tingkat perut pasien; gravitasi mengosongkan isi perut. It can also be appended to a
suction system, however this method is often restricted to emergency situations, as the constant
suction can easily damage the stomach's lining. Hal ini juga dapat ditambahkan ke sistem hisap,
namun metode ini sering dibatasi untuk situasi darurat, sebagai isap konstan dapat dengan mudah
merusak lapisan perut.
Suction drainage is used for patients who have undergone a pneumonectomy in order to prevent
anesthesia-related vomiting and possible aspiration of any stomach contents. Suction drainase
digunakan untuk pasien yang telah mengalami pneumonectomy dalam rangka untuk mencegah
muntah anestesi-terkait dan mungkin aspirasi dari setiap isi perut. Such aspiration would
represent a serious risk of complications to patients recovering from this surgery. aspirasi seperti
itu akan merupakan risiko serius komplikasi untuk pasien pulih dari operasi ini.
Contraindications Kontraindikasi

The use of nasogastric intubation is contraindicated in patients with base of skull fractures,
severe facial fractures especially to the nose and obstructed esophagus , esophageal varices,
and/or obstructed airway. Penggunaan intubasi nasogastrik merupakan kontraindikasi pada
pasien dengan dasar patah tulang tengkorak, patah tulang wajah yang parah terutama untuk
hidung dan menghalangi kerongkongan , varises kerongkongan, dan / atau saluran udara
terhambat.
The use of an NG tube is also contraindicated in patients who have had gastric bypass surgery.
Penggunaan tabung NG juga kontraindikasi pada pasien yang telah menjalani operasi bypass
lambung.
Complications Komplikasi
Minor complications include nose bleeds , sinusitis, and a sore throat. komplikasi ringan
termasuk pendarahan hidung , sinusitis, dan sakit tenggorokan.
Sometimes more significant complications occur including erosion of the nose where the tube is
anchored, esophageal perforation, pulmonary aspiration, a collapsed lung, or intracranial
placement of the tube. Kadang-kadang lebih komplikasi signifikan terjadi termasuk erosi dari
hidung dimana tabung berlabuh, perforasi kerongkongan, aspirasi paru, paru-paru runtuh, atau
penempatan intrakranial tabung. http://translate.google.co.id/translate?
hl=id&sl=en&u=http://en.wikipedia.org/wiki/Stevens%25E2%2580%2593Johnson_syndrome
JAWABAN.
DERMATITIS HUMAROID .ALERGI SUSU PADA BAYI KARENA BAYI MEMILIKI
KULIT TIPIS.
UTRIKARIA KARENA KALIGATA DIMANA SAJA.TANGAN DAN KAKI KARENA
MUDAH DI SERANG.