Anda di halaman 1dari 4

Persamaan AAS dan AES

1. Sama-sama merupakan instrument untuk analisis atom


2. Sama-sama berfungsi untuk menentukan kadar unsure logam dalam sampel
3. Sama-sama mengalami atomisasi dan eksitasi elektron
4. Sama-sama menggunakan nebulzer untuk merubah cairan menjadi aerosol
5. Sama-sama menggunakan data penjang gelombang dari cahaya yang dihasilkan oleh atom
Adapun perbedaan AAS dengan ICP-AES adalah:
1. Pada AAS, proses atomisasi dibantu oleh nyala api dengan pembakar dari campuran bahan
bakar dengan oksidan. Sedangkan pada ICP-AES, digunakan plasma untuk atomisasi
2. Pada AAS, yang diukur adalah panjang gelombang cahaya yang dipancarkan oleh atom
karena energi dari keadaan dasar ke keadaan tereksitasi. Sedangkan ICP AES seblaiknya,
yaitu yang diukur adalah panjang gelombang cahaya yang dipancarkan oleh atom karena
energi dari keadaan terkesitasi kembali ke keadan dasar

A. Spektrofotometer Serapan Atom dan spektroskopi emisi atom


1. Pengertian Spektrofotometer Serapan Atom (AAS)
Spektrometri merupakan suatu metode analisis kuantitatif yang pengukurannya berdasarkan
banyaknya radiasi yang dihasilkan atau yang diserap oleh spesi atom atau molekul analit. Salah
satu bagian dari spektrometri ialah Spektrometri Serapan Atom (SSA), merupakan metode
analisis unsur secara kuantitatif yang pengukurannya berdasarkan penyerapan cahaya dengan
panjang gelombang tertentu oleh atom logam dalam keadaan bebas (Skoog et. al., 2000).
Apabila cahaya dengan panjang gelombang tertentu dilewatkan pada suatu sel yang mengandung
atom-atom bebas yang bersangkutan maka sebagian cahaya tersebut akan diserap dan intensitas
penyerapan akan berbanding lurus dengan banyaknya atom bebas logam yang berada dalam sel.
2. Cara Kerja
1.
pertama-tama gas di buka terlebih dahulu, kemudian kompresor, lalu ducting, main unit,
dan komputer secara berurutan.
2.
Di buka program SAA (Spectrum Analyse Specialist), kemudian muncul perintah apakah
ingin mengganti lampu katoda, jika ingin mengganti klik Yes dan jika tidak No.
3.
Dipilih yes untuk masuk ke menu individual command, dimasukkan nomor lampu katoda
yang dipasang ke dalam kotak dialog, kemudian diklik setup, kemudian soket lampu
katoda akan berputar menuju posisi paling atas supaya lampu katoda yang baru dapat
diganti atau ditambahkan dengan mudah.
4.
Dipilih No jika tidak ingin mengganti lampu katoda yang baru.
5.
Pada program SAS 3.0, dipilih menu select element and working mode.Dipilih unsur yang
akan dianalisis dengan mengklik langsung pada symbol unsur yang diinginkan
6.
Jika telah selesai klik ok, kemudian muncul tampilan condition settings. Diatur parameter
yang dianalisis dengan mensetting fuel flow :1,2 ; measurement; concentration ; number
of sample: 2 ; unit concentration : ppm ; number of standard : 3 ; standard list : 1 ppm, 3
ppm, 9 ppm.

7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.

Diklik ok and setup, ditunggu hingga selesai warming up.


Diklik icon bergambar burner/ pembakar, setelah pembakar dan lampu menyala alat siap
digunakan untuk mengukur logam.
Pada menu measurements pilih measure sample.
Dimasukkan blanko, didiamkan hingga garis lurus terbentuk, kemudian dipindahkan ke
standar 1 ppm hingga data keluar.
Dimasukkan blanko untuk meluruskan kurva, diukur dengan tahapan yang sama untuk
standar 3 ppm dan 9 ppm.
Jika data kurang baik akan ada perintah untuk pengukuran ulang, dilakukan pengukuran
blanko, hingga kurva yang dihasilkan turun dan lurus.
. Dimasukkan ke sampel 1 hingga kurva naik dan belok baru dilakukan pengukuran.
Dimasukkan blanko kembali dan dilakukan pengukuran sampel ke 2.
Setelah pengukuran selesai, data dapat diperoleh dengan mengklik icon print atau pada
baris menu dengan mengklik file lalu print.
Apabila pengukuran telah selesai, aspirasikan air deionisasi untuk membilas burner
selama 10 menit, api dan lampu burner dimatikan, program pada komputer dimatikan, lalu
main unit AAS, kemudian kompresor, setelah itu ducting dan terakhir gas.

B. Spektroskopi emisi atom atau Atomic Emission Spectroscopy (AES)


1. Pengertian
Spektroskopi emisi atom atau Atomic Emission Spectroscopy (AES) adalah suatu alat yang dapat
digunakan untuk analisa logam secara kualitatif maupun kuantitatif yang didasarkan pada
pemancaran atau emisi sinar dengan panjang gelombang yang karakteristik untuk unsur yang
dianalisa. Sumber dari pengeksitasi dari Atomic Emission Spectroscopy bisa didapat dari nyala
api gas atau Busur listrik. Sumber eksitasi dari nyala gas biasanya disebut ICP (Inductively
Couple Plasma) sedangkan sumber eksitasi dari busur listrik biasa disebut ARC atau
SPARK, sedangkan alat detector sinarnya adalah Tabung Penggandaan Foton atau Photo
Multiplier Tube (PMT). AES digunakan untuk unsur golongan alkali karena unsur-unsur
golongan alkali elektronnya mudah tereksitasi, sedangkan unsur-unsur golongan lain
membutuhkan panas lebih tinggi untuk dapat tereksitasi elektronnya sehingga tidak dapat
menggunakan AES. Eksitasi adalah proses perpindahan elektron ke tingkat energi yang lebih
tinggi dengan menyerap sejumlah energi tertentu dari luar. Bedanya dengan AAS, AES tidak
menggunakan sumber sinar. Perhatikan perbedaan antara SSA dan AES berikut:

2. Prinsip Kerja
Spektroskopi emisi atom merupakan spektroskopi yang didasarkan pada cahaya yang
dipancarkan ketika elektron turun dari level energi tinggi ke energi yang lebih rendah. Jika ada
energi dari luar yang mengganggu atom, misalnya dari sumber eksitasinya (arc, spark, dan

plasma) yang dihasilkan tegangan tinggi atau laser pulsa berdaya tinggi, maka elektron dalam
atom akan naik dari ground state ke level energi eksitasi dikarenakan absorbsi dari energi yang
mengganggu. Elektron kemudian turun kembali ke level ground state dengan memancarkan
cahaya yang disebut sebagai foton. Cahaya yang dipancarkan tersebut memiliki karateristik
khusus sesuai dengan atomnya. Salah satunya pada panjang gelombangnya.
Prinsip dasar dari analisa Atomic Emission Spectrometer (AES) ini yaitu : Apabila atom
suatu unsur ditempatkan dalam suatu sumber energi kalor (sumber pengeksitasi), maka elektron
di orbital paling luar atom tersebut yang tadinya dalam keadaan dasar atau ground state akan
tereksitasi ke tingkat-tingkat energi elektron yang lebih tinggi. Eksitasi adalah proses
perpindahan elektron ke tingkat energi yang lebih tinggi dengan menyerap sejumlah energi
tertentu dari luar. Karena keadaan tereksitasi itu merupakan keadaan yang sangat tidak stabil
maka elektron yang tereksitasi itu secepatnya akan kembali ke tingkat energi semula yaitu ke
keadaan dasarnya (ground state). Pada waktu atom yang tereksitasi itu kembali ke tingkat energi
lebih rendah yang semula, maka kelebihan energi yang dimilikinya sewaktu masih dalam
keadaan tereksitasi akan dibuang keluar berupa emisi sinar dengan panjang gelombang yang
karakteristik bagi unsur yang bersangkutan.
3. Cara Kerja Alat
Sampel dapat berupa zat padat, cair, ataupun gas. Sebelumnya, sampel harus dikonversi
menjadi atom bebas biasanya melalui sumber eksitasi suhu tinggi. Sampel cair dikonversi dalam
bentuk nebulasi dan dibawa ke sumber eksitasi oleh gas yang mengalir. Sampel padat dapat
dikonversi melalui ablasi laser sehingga dapat dirubah dari sampel solid menjadi aliran gas. Zat
padat juga dapat langsung menguap oleh percikan antara elektroda.
Salah satu energi yang bisa digunakan untuk mengeksitasi atom adalah dengan
menembakkan laser pulsa berdaya tinggi (energi ~20 mJ) ke permukaan material.
Berikut ini skematik spektroskopi emisi atom menggunakan laser daya tinggi:
Jika sebuah laser pulsa (CO2 laser) ditembakkan ke permukaan sebuah material, maka
permukaan material akan terablasi dan atom serta molekul keluar dengan menghasilkan sebuah
cahaya plasma yang mempunyai temperatur tinggi sebesar 10000 K. Karena temperatur yang
tinggi, atom yang ada di dalam plasma tersebut tereksitasi. Dengan menggunakan fiber optik
(digunakan untuk mengirimkan cahaya ke spektrometer) dan spektrometer (digunakan untuk
mendispersi cahaya seperti cara kerja prisma) akan dperoleh spektrum hubungan panjang
gelombang dan intensitas. Panjang gelombang ini merupakan atom-atom yang teridentifikasi dari
material yang ditembak. Dengan menggunakan teknik ini, mampu mengetahui atom yang
terkandung dalam material dalam waktu yang sangat cepat yaitu kurang dari 1 menit. Dengan
karakteristik khusus yang dimiliki oleh atom, yaitu setiap atom mempunyai panjang gelombang
yang berbeda satu sama lain, maka kita dapat mengetahui kandungan semua atom dalam semua
material baik gas, padat, serbuk, dan cair.
4. Kelebihan dan Kekurangan AES
Kelebihan AES:

1.
Dapat menangani berbagai pelarut, baik organik dan anorganik di alam.
2.
Dapat disesuaikan untuk menangani padatan, lumpur, cair, atau gas.
3.
Dapat mendeteksi unsur non-logam (misalnya: P, S, halogen)
4.
Murah dalam pembelian dan pemeliharaan
5.
Mudah dioperasikan
Kekurangan AES:
1.
Tidak dapat mengidentifikasi keadaan oksidasi unsur/ senyawa dalam matriks aslinya.
2.
Energi kalor yang dihasilkan nya relatif rendah sehingga perlu adanya kombinasi gas.