Anda di halaman 1dari 7

MENAPAKI DUNIA PEWAYANGAN

Karya: Nurul Hikmah Nurkhasanah

Bunyi bunyian khas terdengar dari gamelan tua yang menghiasi ruang
depan rumah dengan arsitektur joglo dengan beratapkan genting kebumen
yang terkenal tahan banting. Dari rumah tua itulah dia temukan kembali
serpihan serpihan kenangan masa lalu yang dulu sempat dilewatinya. Ya di
sanggar inilah ia mulai belajar tentang banyak hal.
Dimasukinya rumah yang terkesan ramah itu. Interior rumah bagian
dalam tidak ada yang berubah, masih seperti dulu terdapat gamelan,
gebyok, dan perangkat wayang lainnya. Terlihat pula kostum untuk pentas
tari yang terpajang di almari tepat di pojok ruangan yang berukuran sepuluh
kali lima meter tersebut. Yang berbeda hanya lantainya yang sudah
beralaskan keramik warna krem, sudah tidak lagi tegel.
Alunan alunan gamelan dapat menyihirnya untuk terus menerus
mendengarkan paduan pukulan demi pukulan yang dimainkan seorang tua
renta, pemilik sanggar itu. Langkah demi langkah didekatinya dan tanpa
sadar ia telah duduk disebelah eyang sutedja yang akhirnya menyadari jika
ada seseorang yang menguntitnya dan berhenti membuat pukulan pukulan
pada benda yang terbuat dari tembaga. Eyang sutedja yang berperawakan
tinggi, hidung mancung kulit putih layaknya orang belanda namun mukanya
lebih mirip orang jawa. Ya kudengar, dia memang hasil percampuran darah
belanda dan jawa, karena ibunya dulu diperkosa oleh belanda saat
penjajahan dulu, jadi dia tak mengenal siapa ayahnya. Namun dia sangat
berdedikasi terhadap kesenian jawa agar tetap lestari.
Wah kowe nang, aku krungu kowe wis dadi dalang kondang saiki?.
Wah mboten mbah, tasih dereng jegos ndalang.
Kowe mbangeti andhap asor, aku wingi moco Koran kowe bar ketemu
Pak Presiden.
Alhamdulillah mbah, kulo ngeten niki nggih kerono gusti allah, saking
perantarane didikane panjenengan.
Aku ora rumongso ndidik kowe. Kuwi soko usahamu dewe.

Lima tahun yang lalu Raka meninggalkan tempat itu untuk hijrah ke
semarang mengikuti istrinya. Ya jodohnya yang sekarang menjadi istrinya
adalah temannya saat di sanggar Bangunjiwa. Dinamakan Bangunjiwa
karena terletak di desa wisata Bangunjiwa kecamatan kasihan kabupaten
bantul Yogyakarta. Dia seorang penari jawa yang sangat mahir melenggak
lenggokan tubuhnya dan mahir menciptakan tarian tarian baru.
Sepuluh tahun lalu
Nang kowe tak melu sanggar yo?. Aku pengen kowe dadi dalang.
Yang, aku pengen jadi pilot seperti keinginan ayah
Aku ora setuju kowe dadi pilot, wis kowe kudu dadi dalang. Gelem
pora sesuk tak seret kowe ning gone sanggare tejo.
Meski Raka dari lahir tinggal di Jakarta, Raka cukup tahu bahasa jawa
karena ibunya sering mengajarinya bagaimana berbicara yang baik dan
sopan. Raka akan memulai hidup barunya di jogja tempat kelahiran ibuknya,
tanpa seorang ayah yang bijak. Ya ayahnya meninggal karena serangan
jantung ketika dia tahu bahwa perusahaan yang dibangun kakeknya
bangkrut, karena terjadi korupsi pegawainya dan akhirnya gulung tikar.
Semenjak itu keluarganya tak memiliki apapun lagi, mobil, rumah dan
segala isinya, serta tanah tanah yang dimiliki ayahnya semua telah habis
dipergunakan untuk menutup semua hutang perusahaan. Sedangkan Raka,
ibunya, dan adiknya harus tetap hidup. Akhirnya Raka diminta eyang untuk
tinggal bersamanya dan ibunya tetap tinggal di Jakarta, dirumah kontrakan
kecil bersama adik perempuannya yang masih berusia empat tahun karena
ibunya tetap harus bekerja menjadi seorang bidan disebuah rumah sakit di
Jakarta.
Nak ibu hanya bisa mengantarmu disini, eyang kakung akan
menjemputmu di bandara. Ibu sudah menelfonnya semalam.
Baik, bu
Ini pertama kalinya Raka pergi sendiri ke luar kota, padahal umurnya
masih sepuluh tahun yang seharusnya masih harus dibawah pengawasan
orang tua. Tapi bagaimana lagi ibunya sudah tidak memiliki cukup uang
untuk ongkos mengantarnya.
Ingat nak, kamu nanti yang akan jadi pelindung kami, jaga dirimu. Ibu
sesekali akan datang menjengukmu

Raka disitu hanya diam menahan air mata yang akhirnya mampu
melawan tembok pertahanan kelopak matanya. Terlihat air mata yang keluar
dari sudut matanya dan akhirnya menetes tepat diatas pundak sebelah
kanan ibunya. Raka merasa sangat sedih ketika harus meninggalkan ibunya
dan adik perempuannya.
Di dalam pesawat Raka masih menangis, hingga menarik orang
disebelahnya untuk berusaha menenangkannya.
Setelah beberapa jam perjalanan sampailah Raka di bandara
adisutjipto, eyang telah membawa pamphlet yang bertuliskan Rakadewa
supaya Raka dapat langsung melihatnya.
Seketika Raka memeluk beliau sambil bercucuran air mata, dengan
nafas tersengal sengal setelah turun dari pesawat.
Wis rausah nangis

Keesokan harinya
Yang nggak mau, aku nggak mau. Raka berusaha mencegah tarikan
eyang kakung sambil menangis, meski sekuat apapun Raka melepaskan
cengkraman tangannya, sama sekali itu takkan merubahnya.
Eyang kakung memang sosok yang tegas, dia tidak ingin siapapun
melawan perintahnya, kepribadiannya kaku, namun yang kusukai dari dirinya
dia sosok pekerja tangguh, bahkan hingga umurnya yang menginjak kepala
enam, dia masih giat bekerja.
Niki sinten pak
Iki putuku sing soko Jakarta, pokoe aku titip nek ora manut karepmu
piye meh mbok apakke. Aku pengen deknen dadi dalang.
Nggih pak.
Dalam batin eyang mungkin mengatakan jika dia tak sanggup
menyekolahkan Raka jika dia ingin menjadi pilot. Ada uang untuk makan
itupun sudah sangat bersyukur.
Disitu eyang Sutedja menjelaskan semua wayang dan perwatakan
wayang tersebut dan nama alat alat seperti kelir, debog, blencong, kotak,
cempala dan lainnya. Raka tidak sendiri dalam menerima pelajaran eyang

tedja, dia disitu bersama delapan anak laki laki lainnya yang ingin belajar
dari Eyang Tedja. Tapi Raka sama sekali tidak tertarik dengan semua hal
tentang wayang, namun perhatiannya malah beralih pada seorang penari
cilik Purnawati yang sangat luwes dalam menarikan tari bondan payung
bersama empat temannya yang lain. Mereka dilatih oleh seorang penari
handal bernama Bu Sudarmi yang tak lain adalah ibu dari Purnawati, cucu
eyang tedja.
Terpaksa eyang harus mengeluarkan jurus pusakanya sandal jepit
untuk membangunkan Raka, yang sedang asik mengalihkan perhatiannya
mengamati penari penari kecil, dengan melemparkan sandal tepat diatas
kepala raka.
Aduuh.
Ka, ndelok opo?.
hm..ehm enggak yang.
Enam penari kecil yang sedang menari tersebut hanya tertawa melihat
tingkah raka yang konyol dan berakhir pada lemparan sandal.
Raka memang sangat susah diatur untuk belajar menjadi dalang,
bahkan belum muncul sama sekali ketertarikan Raka terhadap seni
tradisional ini. Bahkan dia sering pergi meninggalkan sanggar tanpa
sepengetahuan eyang yang sering berujung pada kemarahan eyang kakung,
dan sering pula dia mendapat pukulan dari eyang kakung.
Tapi sama sekali hal ini tidak pernah membuat dia jera. Untuk kesekian
kali dia tertidur, dan memunculkan niat untuk pergi dari sanggar, akhirnya
eyang Tedja berfikir untuk menghukum raka dengan menalikan raka pada
sebuah pohon palem di depan sanggar, tepat menghadap sinar matahari
hingga dia menyadari kesalahannya.
Sepulang dari sanggar Raka terlihat lesu dan segera memasuki rumah,
dan mengunci pintu kamarnya. Disitu dia menangis merasakan rindu yang
teramat dalam kepada ibu, ayah, dan adik perempuannya.
Yang, aku kangen ibu, aku pengen ke Jakarta
Kowe ora mesakke aku ning kene dewe?. Sesuk nek preinan sekolah
ibumu meh mrene, sabaro sithik.

Beberapa hari ini eyang sering batuk batuk, tapi Raka tak tahu hal apa
yang membuat eyang seperti itu, tapi hari ini Raka melihat sedikit bercak
darah pada sapu tangan eyang. Raka meminta untuk eyang supaya pergi ke
dokter, tapi apa daya, eyang yang hanya bekerja di sawah tak memiliki
cukup uang untuk berobat ke dokter. Ada uang hanya ketika panen datang,
itupun hasilnya tak tentu, terkadang hasilnya tak sesuai harapan.
Yang ayo mending kita kedokter sekarang
Ora usah nang duwite ora ono nggo mbayar mantri, aku orapopo.
Ya di desa eyang kakung di Bangunjiwa masih belum ada dokter, hanya
bidan dan mantri yang bertugas sebagai pelayan kesehatan.
Raka mengambil inisiatif untuk meminjam uang kapada kakek sutedja
untuk membayar obat dan periksa mantri, tapi eyang tedja tak memberikan
uang secara gratis, dia meminta agar raka mengembalikan uangnya dari
mendalang.
Ternyata dari pemeriksaan mantri, eyang kakung mengidap TBC yang
sudah agak parah, namun apadaya keadaanlah yang membuatnya semakin
parah.
Nang, mbah kakungmu loro opo?
TBC yang, saya tak punya cukup uang untuk membiayai eyang
kakung untuk berobat ke rumah sakit, tapi tak mungkin Raka bilang ke ibu di
Jakarta, ibu pasti panik, padahal raka sendiri tahu ibu masih dalam masa
sulit. Cerita raka sambil sedikit menitikkan air mata.
Wis ngene wae nang, aku gelem mbayar rumah sakit mbahmu ning
kowe kudu iso dadi dalang. Duit soko kui mau iso mbok ngganti utangmu
karo aku piye?.
Raka terdiam untuk waktu yang cukup lama, berusaha berpikir keras
mencerna perkataan eyang Sutedja, untuk memilih langkah selanjutnya.
Nang rungokno aku, kowe kudu gelem ndalang, elingo nang pak mu
wis ora ono, opo kowe ora mesakke ibu karo eyang kakungmu?.
Tetesan air mata dari sudut mata raka terlihat makin membanjiri
pipinya yang putih dan sehalus bengkoang yang terkelupas kulit luarnya.
Akhirnya dia menyanggupi syarat eyang Tedja untuk menjadi dalang.

Iya yang, iya Raka mau. Ucap raka sembari mencium tangan eyang
tedja.
Tiga bulan berlalu, manusia hanya mampu berusaha dan Tuhanlah
yang menentukan, Tuhan merenggut nyawa Eyang kakung ketika kondisinya
agak membaik, tapi apadaya begini keadaannya. Ibunya Raka berencana
untuk membawa Raka bersama dirinya ke Jakarta setelah pemakaman Eyang
nanti, tapi dia menolak dan lebih memilih untuk hidup mandiri di Jogja,
mewujudkan keinginan Eyang.
Seiring berjalannya waktu, Raka mengerti dengan keadaan, memang
keadaan yang memaksanya untuk mejadi dalang. Tapi, semakin lama Raka
mulai menikmati dunia dalang. Memang awalnya sebuah keterpaksaan tapi
akhirnya menjadi suatu berkah tersendiri. Di umurnya yang ke tujuh belas
dia telah sanggup untuk menjadi dalang muda yang cakap dalam
menyampaikan cerita ceritanya, dibawah asuhan eyang Tedja dan telah
mampu menghasilkan uang sendiri untuk sekolah.
Telah beberapa kota ia sambangi untuk bermain wayang. Wayang,
gamelan, kelir, blencong telah menjadi bagian hidupnya yang mengalir
seperti harmoni kehidupan. Raka berjanji pada dirinya untuk terus berusaha
meneruskan perjuangan eyang tedja untuk melestarikan seni wayang pada
anak cucunya kelak.
Suatu hari ibu Raka datang ke Jogja untuk melihat raka, walaupun
memang ibunya tidak dapat sering bersamanya, tetapi ibunya selalu
menjenguk Raka ke Jogja ketika idul fitri, idul adha, liburan sekolah dan ulang
tahun Raka.
Ibunya sangat bangga bahkan terharu ketika mengetahui anaknya
berusaha keras untuk mencari uang sendiri, walaupun ibunya juga
memberikan uang untuk Raka sekolah.
Lima tahun kemudian
Raka mampu menamatkan sekolahnya hingga dia tamat S1 jurusan
dalang di ISI Yogyakarta dengan uang hasil jerih payahnya sendiri menjadi
dalang muda. Kemudian dia dijodohkan dengan purnawati, cucu eyang
Sutedja yang pernah diidolakannya dulu. Dan memilih hijrah ke semarang
mengikuti tempat kerja istrinya, disana mereka bersama sama mendirikan
sanggar tari dan dalang seperti eyang tedja, namun dengan intensitas yang
lebih besar. Raka tak mengurus sanggarnya sendiri, dia dibantu sepuluh

karyawannya untuk mengurus sanggar, karena istrinya sibuk menjadi dosen


tari, dan dia sendiri lebih menyibukkan diri menjalani profesi dalangnya.