Anda di halaman 1dari 20

TUGAS HUKUM BISNIS

Rahasia Dagang dan Penyelesaian Atas


Pelanggarannya

Disusun Oleh :
1. Adora Aline Alfiana

Ak 1 E / 01

2. Aji Winarno

Ak 1 E / 02

3. Arif Yuli Anwar

Ak 1 E / 03

JURUSAN AKUNTANSI
POLITEKNIK NEGERI SEMARANG
TAHUN AKADEMIK 2013/2014

BAB I
LATAR BELAKANG

Sebagai Negara berkembang, Indonesia perlu mengupayakan adanya persaingan yang


tangguh dikalangan dunia usaha. Hal ini sejalan dengan kondisi global di bidang perdagangan
dan investasi. Daya saing yang semacam itu telah lama dikenal dalam sistem Hak Atas
Kekayaan Intelektual (HAKI).
Era globalisasi, inilah yang bisa dibilang menjadi salah satu penyebab palanggaran
Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Globalisasi di samping membawa dampak positif
berupa kemajuan di berbagai sektor, juga membawa beberapa dampak negatif yang cukup
bervariasi. Arus industrialisasi yang semakin tinggi dan arus perdagangan yang dituntut
ketepatan dan kecepatan dalam bertransaksi adalah salah satunya. Dan tentu saja banyak
permasalahan yang timbul di dalamnya. Sebagai contoh adalah dalam hal Industri Musik
(Music Industry) khususnya dalam perdagangan kaset / DVD / VCD terkadang masyarakat
yang posisinya sebagai konsumen lebih memilih harga yang relatif murah ketimbang yang
mahal. Meski tentu saja yang mahal lebih punya kualitas tinggi.
Dewasa ini, kasus pelanggaran hak atas kekayaan inteletual (HAKI) menjadi kasus
yang sering terjadi di sektor Industri di Indonesia. Kasus tersebut terkait dengan domain
HAKI, yakni kasus pelanggaran hak cipta, paten, merek, desain industri, dan Rahasia
Dagang. Padahal sangat diharapkan sektor industri di Indonesia mampu memenuhi bisnis etis
yang sesuai dengan aturan main. Sehingga baik pelaku industri maupun masyarakat dapat
menikmati hasil dari sektor industri tersebut dengan baik dan benar.

BAB II
PEMBATASAN MASALAH
Dari latar belakang tersebut, kami selaku penulis tertarik untuk mengangkat
permasalahan mengenai:
a. Apa itu Rahasia Dagang ?
b. Mengapa sengketa rahasia dagang bisa terjadi?
c. Bagaimanakah perlindungan terhadap Rahasia Dagang dan penyelesaiannya apabila
terjadi pelanggaran Rahasia Dagang ?
d. Apakah peraturan perundang undangan sudah dapat mengakomodasi (memenuhi
kebutuhan) kepentingan pemiliki maupun pengguna rahasia dagang?

BAB III
LANDASAN TEORI
Mengacu pada ketentuan yang terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang
yang menimbang:
a. Bahwa untuk memajukan industri yang mampu bersaing dalam lingkup perdagangan
nasional dan internasional perlu diciptakan iklim yang mendorong kreasi dan inovasi
masyarakat dengan memberikan perlindungan hukum terhadap Rahasia Dagang sebagai
bagian dari Sistem Hak Kekayaan Intelektual.
b. Bahwa Indonesia telah meratifikasi Establishing the World Trade Organization
(Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia) yang mencakup Agreement
an Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights (Persetujuan TRIPs) dengan
Undangundang Nomor 7 Tahun 1994 sehingga perlu diatur ketentuan mengenai Rahasia
Dagang.
c. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b, perlu
dibentuk Undang-undang tentang Rahasia Dagang.
Ketentuan dalam Undang-Undang No. 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang
(UURD), yang menyebutkan bahwa:
1. Rahasia Dagang adalah informasi yang tidak diketahui oleh umum di bidang teknologi
dan/ atau bisnis, mempunyai nilai ekonomi karena berguna dalam kegiatan usaha, dan
dijaga kerahasiaannya oleh pemilik Rahasia Dagang.
2. Hak Rahasia Dagang adalah hak atas Rahasia Dagang yang timbul berdasarkan UndangUndang Rahasia Dagang.

A. Lingkup Rahasia Dagang


a. Subjek Rahasia Dagang adalah pemilik rahasia dagang. Pemilik rahasia dagang
memiliki hak untuk :
1. Menggunakan sendiri Rahasia Dagang yang dimilikinya
2. Memberi lisensi kepada pihak lain atau melarang pihak lain untuk menggunakan
Rahasia Dagang atau mengungkapkan Rahasia Dagang itu kepada pihak ketiga
untuk kepentingan yang bersifat komersial.
b. Obyek ruang lingkup Rahasia Dagang.
Menurut undang-undang No. 30 Tahun 2000 Pasal 2, obyek ruang lingkup
Rahasia Dagang meliputi metode produksi, metode pengolahan, metode penjualan
atau informasi lain di bidang tekhnologi dan/atau bisnis yang memiliki nilai
ekonomi dan tidak diketahui oleh masyarakat umum.

Misalnya Coca-cola menggunakan rahasia dagang yaitu informasi teknik


senyawa untuk melindungi formulanya, bukan paten. Hal ini untuk menghindari
adanya batas waktu. Jika formula dilindungi hak paten maka akan berakhir paling
lama 20 tahun. Pada saat ini usia Coca Cola sudah lebih dari 100 tahun, hak ini
karena formulanya dilindungi dengan rahasia dagang. Metode produksi misalnya
teknologi pemrosesan anggur, formula ramuan rokok. Di bidang lain, misalnya
informasi non teknik. Data mengenai pelanggan, data analisis, administasi keuangan,
dll.
c. Lama perlindungan
Beberapa alasan atau keuntungan penerapan Rahasia Dagang dibandingkan
Paten adalah karya intelektual tidak memenuhi persyaratan paten, masa
perlindungan yang tidak terbatas, proses perlindungan tidak serumit dan semahal
paten, lingkup dan perlindungan geografis lebih luas. Namun, tanpa batas waktu ini
mempunyai syarat yaitu sebagaimana tercantum dalam Pasal 3 yaitu bahwa rahasia
dagang dilindungi bila informasi tersebut masih bersifat rahasia, mempunyai nilai
ekonomi, dan dijaga kerahasiaannya melalui upaya semestinya.

B. Prosedur Perlindungan
Untuk mendapat perlindungan Rahasia Dagang tidak perlu diajukan pendaftaran
(berlangsung secara otomatis), karena undang-undang secara langsung melindungi
Rahasia Dagang tersebut apabila informasi tersebut bersifat rahasia, bernilai ekonomis dan
dijaga kerahasiaannya, kecuali untuk lisensi Rahasia Dagang yang diberikan. Lisensi
Rahasia Dagang harus dicatatkan ke Ditjen. HKI - DepkumHAM.

C. Pengalihan Hak dan Lisensi


Hak atas Rahasia Dagang seperti hak atas kekayaan intelektual yang lain,
merupakan benda bergerak tidak berwujud oleh karenanya dapat beralih atau dialihkan
dengan :
a. Pewarisan
b. Hibah
c. Perjanjian Tertulis atau
d. Sebab-sebab lain yang dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan.
Pengalihan Hak Rahasia Dagang wajib didaftarkan pada Direktorat Jenderal Hak
Kekayaan Intelektual.
Lisensi adalah izin yang diberikan oleh pemegang Hak Rahasia Dagang kepada
pihak lain melalui suatu perjanjian berdasarkan pada pembelian hak (izin) untuk
menikmati manfaat ekonomi dari suatu rahasia dagang yang diberi perlindungan dalam
jangka waktu tertentu dan syarat tertentu. Perjanjian pemberian lisensi/izin pada pihak lain

untuk mempergunakan Rahasia Dagang atau mengungkapkan Rahasia Dagang itu untuk
kepentingan yang bersifat komersial harus dibuat secara tertulis dan didaftarkan atau
dicatatkan pada Direktorat Jenderal HKI.
Perjanjian lisensi dilarang memuat ketentuan yang dapat merugikan perekonomian
di Indonesia atau yang mengakibatkan persaingan usaha tidak sehat sebagaimana diatur
dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Perjanjian lisensi menimbulkan
kewajiban bagi si penerima lisensi untuk menjaga kerahasiaannya.

D. Pendaftaran Permohonan Rahasia Dagang


Hak kepemilikan rahasia dagang tidak perlu melalui prosedur pendaftaran, kecuali
pengalihan haknya.

BAB IV
PEMBAHASAN
A. Pengertian Rahasia Dagang
Menurut Undang-Undang No. 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang
(UURD), khususnya pasal 1 ayat 1 menyatakan bahwa Rahasia Dagang adalah
informasi yang tidak diketahui oleh umum di bidang teknologi dan/ atau bisnis,
mempunyai nilai ekonomi karena berguna dalam kegiatan usaha, dan dijaga
kerahasiaannya oleh pemilik Rahasia Dagang. Sedangkan yang dimaksud dengan
hak Rahasia Dagang adalah hak atas Rahasia Dagang yang timbul berdasarkan
Undang-Undang Rahasia Dagang.
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat dilihat bahwa Rahasia Dagang
adalah sebuah informasi yang sangat berharga untuk perusahaan, karenannya harus
dijaga kerahasiaannya. Keberhargaan informasi ini timbul karena informasi tersebut
dapat mendatangkan keuntungan ekonomis kepada perusahaan.

B. Perlindungan Hukum Terhadap Rahasia Dagang dan Penyelesaiannya


Kebutuhan akan perlindungan hukum terhadap Rahasia Dagang sesuai pula
dengan salah satu ketentuan dalam Agreement on Trade Related Aspects of
Intellectual Property Rights (Persetujuan TRIPs) yang merupakan lampiran dari
Agreement Establishing the World Trade Organization on Trade Organization
(Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia), sebagaimana telah
diratifikasi oleh Indonesia dengan UU No. 7 Tahun 1994. Adanya perlindungan
tersebut akan mendorong lahirnya temuan atau invensi baru yang meskipun
diperlakukan secara rahasia, tetap mendapat perlindungan hukum, baik dalam rangka
kepemilikan, penguasaan, maupun pemanfaatan oleh penemunya. Untuk mengelola
administrasi Rahasia Dagang, pada saat ini pemerintah menunjuk Departemen
Kehakiman dan Hak Asasi Manusia, Direktorat Jenderal Hak Atas Kekayaan
Intelektual untuk melakukan pelayanan di bidang Hak Atas Kekayaan Intelektual.
Perlindungan atas rahasia dagang diatur dalam Undang-undang Nomor 30
Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang (UURD) dan mulai berlaku sejak tanggal 20
Desember 2000. Undang-Undang Rahasia Dagang No. 30 Tahun 2000 memberikan
lingkup perlindungan Rahasia Dagang yaitu meliputi metode produksi, metode
pengolahan, metode penjualan, atau informasi lain di bidang teknologi dan/atau
bisnis yang memiliki nilai ekonomi dan tidak diketahui oleh masyarakat umum.

Suatu Rahasia Dagang akan mendapatkan perlindungan apabila informasi


tersebut bersifat :
Bersifat rahasia, maksudnya bahwa informasi tersebut hanya diketahui oleh

pihak tertentu atau tidak diketahui secara umum oleh masyarakat.


Mempunyai nilai ekonomi, maksudnya bahwa sifat kerahasiaan informasi
tersebut dapat digunakan untuk menjalankan kegiatan usaha yang bersifat

komersial atau dapat meningkatkan keuntungan secara ekonomi.


Informasi dianggap dijaga kerahasiaannya apabila pemilik atau para pihak
yang menguasainya telah melakukan langkah-langkah yang layak dan patut.

Dalam ranah HAKI pada dasarnya perlindungannya berintikan pengakuan


terhadap hak atas kekayaan dan hak untuk menikmati kekayaan itu dalam waktu
tertentu. Artinya selama waktu tertentu pemilik atau pemegang hak atas HAKI dapat
mengijinkan atau melarang untuk mengetahui atau menyebarluaskan informasi
Rahasia Dagang.
Pelanggaran Rahasia Dagang terjadi apabila seseorang dengan sengaja
mengungkapkan Rahasia Dagang, mengingkari kesepakatan atau mengingkari
kewajiban tertulis atau tidak tertulis untuk menjaga Rahasia Dagang yang
bersangkutan. Untuk mengatasi adanya pelanggaran tersebut maka amat diperlukan
perlindungan hukum bagi pemilik dan atau pemegang HAKI yang bersangkutan.
Apabila seseorang merasa pihak lain telah melanggar hak Rahasia Dagang yang
dimilikinya, maka ia sebagai pemegang hak Rahasia Dagang atau pihak lain sebagai
penerima lisensi dapat menggugat siapapun yang dengan sengaja dan tanpa hak
Rahasia Dagang. Seseorang dianggap melanggar Rahasia Dagang pihak lain apabila
ia memperoleh atau menguasai Rahasia Dagang tersebut dengan cara yang
bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan Rahasia Dagang pihak
lain atau melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 atau Pasal 14
dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling
banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).
Sebagai contoh, menurut pasal 4 UURD pemilik hak Rahasia Dagang memiliki
hak untuk menggunakan sendiri Rahasia Dagang yang dimilikinya, memberikan
lisensi atau melarang pihak lain untuk menggunakan Rahasia Dagang atau
mengungkapkan Rahasia Dagang itu kepada pihak ketiga untuk kepentingan yang
bersifat komersial. Terhadap pasal tersebut, gugatan yang kita ajukan dapat berupa
gugatan ganti rugi dan / atau penghentian semua perbuatan. Dan berbeda dengan

gugatan HAKI lainnya, gugatan mengenai perkara Rahasia Dagang diajukan ke


Pengadilan Negeri.
Berkaitan dengan hal di atas, harus ditentukan pula kapan sebenarnya suatu
perbuatan dikatakan telah melanggar Rahasia Dagang milik orang atau pihak lain.
Seseorang dianggap melanggar Rahasia Dagang pihak lain apabila ia memperoleh
atau menguasai Rahasia Dagang tersebut dengan cara yang bertentangan dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Disamping itu juga ada perbuatan yang tidak dianggap pelanggaran Rahasia
Dagang yakni apabila :
Tindakan pengungkapan Rahasia Dagang atau penggunaan Rahasia Dagang
tersebut didasarkan pada kepentingan pertahanan dan keamanan, kesehatan

atau keselamatan masyarakat


Tindakan rekayasa ulang atas produk yang dihasilkan dari penggunaan
Rahasia Dagang milik orang lain yang dilakukan semata-mata untuk
kepentingan pengembangan lebih lanjut produk yang bersangkutan.
Yang dimaksud dengan rekayasa ulang (reverse engineering) dalam hal ini
adalah suatu tindakan analisis dan evaluasi untuk mengetahui informasi
tentang suatu teknologi yang sudah ada.
Disamping dapat melakukan upaya gugatan melalui pengadilan, pemilik

Rahasia Dagang atau pihak yang merasa dirugikan dapat menempuh upaya lain yakni
melalui penyelesaian sengketa melalui Arbitrase atau Alternatif Penyelesaian
Sengketa (Pasal 12 UU No. 30 Tahun 2000). Arbitrase adalah cara penyelesaian
sengketa perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada suatu perjanjian
arbitrase antara para pihak yang bersengketa.

C. Apakah peraturan perundang undangan sudah dapat mengakomodasi


kepentingan pemiliki maupun pengguna rahasia dagang?
Dalam beberapa hal, ketentuan dalam perundang undangan memang telah
cukup mengakomodasi, seperti contohnya pasal mengenai pemidanaan. Akan tetapi
beberapa ketentuan lain tampak dibuat secara kurang jelas sehingga membingungkan
masyarakat. Salah satunya adalah Ketentuan tentang pengecualian terhadap
pelanggaran rahasia dagang tersebut seharusnya juga dilengkapi dengan ketentuan
yang secara tegas mengatur tentang pengungkapan rahasia dagang oleh seseorang di
depan sidang pengadilan atas perintah hakim. Atas perintah hakim, seseorang yang
mengungkapkan rahasia dagang di depan sidang pengadilan seharusnya juga
ditetapkan sebagai suatu kekecualian sehingga yang bersangkutan tidak dianggap

telah melakukan pelanggaran rahasia dagang. Ketentuan Pasal 18 tentang


dimungkinkannya sidang pengadilan berkaitan dengan rahasia dagang bersifat
tertutup (atas permintaan para pihak yang bersengketa) juga tidak secara tegas
maupun tersirat bermaksud mengatur pengecualian di atas.

BAB V
KESIMPULAN
Rahasia Dagang adalah informasi yang tidak diketahui oleh umum di bidang teknologi
dan/ atau bisnis, mempunyai nilai ekonomi karena berguna dalam kegiatan usaha, dan dijaga
kerahasiaannya oleh pemilik Rahasia Dagang.
Dalam ranah HAKI pada dasarnya perlindungannya berintikan pengakuan terhadap hak
atas kekayaan dan hak untuk menikmati kekayaan itu dalam waktu tertentu. Artinya selama
waktu tertentu pemilik atau pemegang hak atas HAKI dapat mengijinkan atau melarang
untuk mengetahui atau menyebarluaskan informasi (Rahasia Dagang).
Apabila seseorang merasa pihak lain telah melanggar hak Rahasia Dagang yang
dimilikinya, maka ia sebagai pemegang hak Rahasia Dagang atau pihak lain sebagai
penerima lisensi dapat menggugat siapapun yang dengan sengaja dan tanpa hak Rahasia
Dagang maka kita dapat mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri. Gugatan yang kita
ajukan dapat berupa gugatan ganti rugi dan / atau penghentian semua perbuatan. Disamping
itu juga dapat ditempuh upaya lain yakni melalui penyelesaian sengketa melalui Arbitrase
atau Alternatif Penyelesaian Sengketa.

CONTOH KASUS

Kasus 1 :
Sengketa rahasia dagang yang terjadi antara PT. General Food Industries dengan kedua
mantan karyawannya yang berawal dari kedua mantan karyawannya yang berpindah tempat
kerja di perusahaan saingan PT. GFI. Kedua karyawan tersebut menciptakan suatu produk
yang sama dengan apa yang dilakukannya ditempatnya bekerja terdahulu. Setelah
mengatahui hal tersebut maka PT General Food mengajukan gugatan terhadap kedua
karyawan tersebut dan juga PT. GFI.

Analisa Kasus :
Rahasia dagang adalah salah satu cabang dari hukum Hak Kekayaan Intelektual.
Hukum rahasia dagang mempunyai peranan yang sangat penting karena setiap pelaku usaha
pasti tidak ingin rahasia dari kegiatan usahanya terbongkar, terutama dari pesaing bisnisnya,
dan yang dilindungi oleh hukum rahasia dagang adalah suatu rahasia dalam dunia usaha yang
bernilai ekonomi dan tidak diketahui oleh umum. Rahasia dagang diatur dalam UndangUndang No.30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang. Dalam suatu kegiatan usaha pasti ada
hal-hal yang dapat menimbulkan sengketa. Salah satu sengketa bisa terjadi akibat
pelanggaran rahasia dagang.
Jaksa penuntut umum menuntut kedua karyawan tersebut dengan pelanggaran rahasia
dagang dan hakim telah memvonis kedua karyawan tersebut dengan hukuman pidana dua
bulan penjara. Kedua terpidana tersebut di anggap telah melanggar pasal 17 Undang-Undang
No.30 Tahun 2000 Tentang Rahasia Dagang, yaitu bahwa tanpa hak telah menggunakan
rahasia dagang pihak lain. Secara fakta, penulis melihat bahwa kedua terpidana tersebut
tidak melanggar rahasia dagang, karena PT. GFI tidak secara jelas menyatakan hal apa
sajakah yang menjadi rahasia dalam perusahaan. Sehingga menurut penulis berkesimpulan
bahwa apa yang dituduhkan bukanlah suatu rahasia sehingga sudah seharusnya kedua
terpidana tersebut mengajukan banding.

Kasus 2 :

Hitachi Digugat Soal Rahasia Dagang


Bisnis Indonesia, Suwantin Oemar, 21 Oktober 2008

JAKARTA: PT Basuki Pratama Engineering mengajukan gugatan ganti rugi melalui


Pengadilan Negeri Bekasi terhadap PT Hitachi Constructuin Machinery Indonesia sekitar
Rp127 miliar, karena diduga melanggar rahasia dagang.
Selain PT Hitachi Construction Machinery Indonesia HCMI, pihak lain yang
dijadikan sebagai tergugat dalam kasus itu adalah Shuji Sohma, dalam kapasitas sebagai
mantan Dirut PT HCMI. Tergugat lainnya adalah Gunawan Setiadi Martono tergugat III,
Calvin Jonathan Barus tergugat IV, Faozan tergugat V,Yoshapat Widiastanto tergugat VI,
Agus Riyanto tergugat VII, Aries Sasangka Adi tergugat VIII, Muhammad Syukri tergugat
IX, dan Roland Pakpahan tergugat X.
Insan Budi Maulana, kuasa hukum PT Basuki Pratama Engineering BPE, mengatakan
sidang lanjutan dijadwalkan pada 28 November dengan agenda penetapan hakim mediasi.
Menurut Insan, gugatan itu dilakukan sehubungan dengan pelanggaran rahasia dagang
penggunaan metode produksi dan atau metode penjualan mesin boiler secara tanpa hak.
PT BPE bergerak dalam bidang produksi mesin-mesin industri, dengan produksi awal
mesin pengering kayu.
Penggugat, katanya, adalah pemilik dan pemegang hak atas rahasia dagang metode
produksi dan metode penjualan mesin boiler di Indonesia "Metode proses produksi itu
sifatnya rahasia perusahaan," katanya.
Dia menjelaskan bahwa tergugat IV sampai dengan tergugat X adalah bekas karyawan
PT BPE, tetapi ternyata sejak para tergugat tidak bekerja lagi di perusahaan, mereka telah
bekerja di perusahaan tergugat PT HCMI.
Tergugat, katanya, sekitar tiga sampai dengan lima tahun lalu mulai memproduksi
mesin boiler dan menggunakan metode produksi dan metode penjualan milik penggugat yang
selama ini menjadi rahasia dagang PT BPE.

PT BPE, menurutnya, sangat keberatan dengan tindakan tergugat I baik secara


sendiri-sendiri

maupun

secara

bersama-sama

memproduksi

mesin

boiler

dengan

menggunakan metode produksi dan metode penjualan mesin boiler penggugat secara tanpa
izin dan tanpa hak
"Para tergugat wajib membayar ganti rugi immateriil dan materiil sekitar Rp127
miliar atas pelanggaran rahasia dagang mesin boiler".
Sebelumnya, PT BPE juga menggugat PT HCMI melalui Pengadilan Niaga Jakarta
Pusat dalam kasus pelanggaran desain industri mesin boiler. Gugatan PT BPE itu dikabulkan
oleh majelis hakim Namun, PT HCMI diketahui mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung
atas putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.
Sementara itu, kuasa hukum PT HCMI, Otto Hasibuan, mengatakan pengajuan
gugatan pelanggaran rahasia dagang oleh PT BPE terhadap mantan-mantan karyawannya dan
PT HCMI pada prinsipnya sama dengan pengaduan ataupun gugatan BPE sebelumnya.
Gugatan itu, menurut Otto Hasibuan, dalam pernyataannya yang diterima Bisnis,
dilandasi oleh tuduhan BPE terhadap mantan karyawannya bahwa mereka telah mencuri
rahasia dagang berupa metode produksi dan metode penjualan mesin boiler.
Padahal, ujarnya, mantan karyawan BPE yang memilih untuk pindah kerja hanya
bermaksud untuk mencari dan mendapatkan penghidupan yang layak dan ketenteraman
dalam bekerja, dan sama sekali tidak melakukan pelanggaran rahasia dagang ataupun
peraturan perusahaan BPE.
Bahkan, menurutnya, karyawan itu telah banyak memberikan kontribusi terhadap
BPE dalam mendesain mesin boiler.
Dia menjelaskan konstitusi dan hukum Indonesia, khususnya UU No 13 Tahun 2003
tentang Ketenagakerjaan, telah memberikan jaminan dan perlindungan terhadap hak-hak
asasi pekerja, termasuk hak untuk pindah kerja.
HCMI optimistis gugatan BPE tersebut tidak berdasar "HCMI percaya majelis hakim
akan bersikap objektif, sehingga gugatan BPE tersebut akan ditolak," ujarnya.

Analisa Kasus :
Dalam kasus tersebut PT BPE secara jelas menyatakan hal apa sajakah yang menjadi
rahasia

dalam

perusahaan

yang

dianggap

telah

dilanggar

oleh

HCMI.

PT

BPE berasumsi bahwa mantan karyawannya yang sekarang bekerja pada HCMI lah yang
telah mencuri metode produksi dan metode penjualan mesin boiler. Adanya fakta tersebut,
semakin memperkuat gugatan yang dikeluarkan oleh PT BPE. Apabila HCMI terbukti
melanggar rahasia dagang PT BPE, maka konsekuensi hukuman harus diterima HCMI, baik
berupa denda materiil dan immateriil.

Kasus 3 :
B. V. Wavin dan Pipe Liners Incorparated (1992), yang mana B. V. Wavin akan
memperoleh rahasia dagang U Liners System dari Pipe Liners Inc dengan perjanjian bahwa
selama 4 tahun kedua belah pihak tidak diperkenankan menyebarluaskan penemuan yang
bersifat komersial tersebut. Selanjutnya jika B.V. Wavin mengembangkan penemuan baru
yang sifatnya komersial dan akan menguntungkan kedua belah pihak karena penemuan
tersebut dipasarkan secara komersial, maka B. V. Wavin bersedia membayar ganti rugi kepada
Pipe Liners Inc.
Ternyata kemudian Pipe Liners Inc. tidak menepati janjinya dan digugat oleh B.V.
Wavin. Akan tetapi pengadilan akhirnya menolak ganti rugi yang diajukan B. V. Wavin
dengan pertimbangan perjanjian rahasia dagang antara B. V. Wavin dan Pipe Liners Inc. tidak
sah karena tidak terdaftar pada komisi EEG, Komisi Kerjasama Dagang antara negara-negara
Eropa.
Analisa Kasus :
Terlepas dari pendaftaran yang tidak dilakukan, apabila perjanjian mereka dianggap
sah maka pihak Pipe Liners Inc wajib memberikan ganti rugi karena melakukan wanprestasi.
Selain pembayaran ganti rugi dianggap sebagai sarana hukum untuk mendapatkan
keadilan dan hak-haknya kembali maka masih ada lagi upaya lain, misalnya dengan perintah
pengadilan yang melarang atau menghentikan penggunaan informasi yang diperoleh secara
tidak sah itu.

DAFTAR PUSTAKA

http://sigitbudhiarto.blogspot.com/2013/05/rahasia-dagang-dan-penyelesaian-atas.html
http://119.252.161.174/pelanggaran-dan-sanksi-6/
http://119.252.161.174/dasar-perlindungan-rahasia-dagang/
http://119.252.161.174/rahasia-dagang/
http://achielmuezza.blogspot.com/2013/05/rahasia-dagang-danontoh-kasusnya.html
http://mabuk-hukum.blogspot.com/2013/10/rahasia-dagang.html
http://tentanghki.blogspot.com/2008/10/hitachi-digugat-soal-rahasia-dagang_24.html
http://119.252.161.174/lisensi-rahasia-dagang/
http://119.252.161.174/pengalihan/
http://119.252.161.174/lingkup-rahasia-dagang/
http://119.252.161.174/subjek-pemegang-hak-atas-rahasia-dagang/
http://119.252.161.174/hak-pemilik-pemegang-rahasia-dagang/
http://asirevi.blogspot.com/2011/01/v-behaviorurldefaultvml-o.html
http://farahfitriani.wordpress.com/2011/10/30/rahasia-dagang-dan-analisis-kasus/
http://119.252.161.174/pengertian-rahasia-dagang/

LAMPIRAN
STUDI KASUS
Fakta Hukum
Who:
Dalam kasus ini yang menjadi terdakwa adalah Danar Dono, karyawan PT Kota
Minyak Automation yang dituntut oleh PT Kota Minyak Automation.
What:
Yang menjadi permasalahan dalam kasus ini adalah pembocoran rahasia dagang PT
Kota Minyak Automation yang dilakukan oleh Danar Dono. Danar Dono membocorkan
rahasia perusahaan tempatnya bekerja kepada saingan perusahaannya.
Why:

Maret 2007, Danar Dono yang bekerja di PT Kota Minyak Automation membuat
design, gambar, dokumentasi, kalkulasi harga untuk penyusunan proposal tender
pengadaan barang berupa cerobong api di PT. Medco E&P Indonesia.

Tanpa diketahui oleh PT Kota Minyak Automation, Danar Dono juga mengerjakan
proposal yang sama untuk perusahaan saingan yaitu PT Envico dengan tujuan
memenangkan tender dari PT. Medco E&P Indonesia yang sedang diikuti oleh PT
Kota Minyak Automation. PT Envico meminta Danar Dono untuk mengerjakan
proposal tersebut karena Danar Dono telah mengatakan bahwa ia telah keluar dari PT
Kota Minyak Automation. Atas keperluan ini PT Envico membayar 200 juta rupiah
pada Danar Dono.

Danar Dono kemudian dengan sengaja membuatkan proposal penawaran PT Kota


Minyak Automation dengan harga yang lebih tinggi dengan jumlah penawaran
sebesar $ 128.404,00 sedangkan untuk proposal penawaran PT Envico lebih rendah
dengan jumlah penawaran sebesar $ 121.331,00 dan sengaja membuat PT Kota
Minyak Automation tidak memiliki software untuk perhitungan ground level
concentraton sehingga tidak lolos secara tekhnikal sehingga setelah tender dibuka
oleh PT Medco E&P Indonesia perwakilan PT Kota Minyak Automation kalah dan PT
Envico menjadi pemenang tender.

Perbuatan Danar Dono lalu diketahui oleh PT Kota Minyak Automation berdasarkan
file computer terdakwa, dimana terdapat Purchase Order dari PT Metalindo Perkasa
Mandiri yang ditujukan PT Envico atas nama Danar Dono.

Karena ini PT Kota Minyak Automation mengalami kerugian, kemudian lalu


menuntut Danar Dono di PN Jakarta Utara. Hakim PN Jakarta Utara memutuskan
bahwa Danar Dono telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan
tindak pidana dengan sengaja tanpa hak mengingkari kesepakatan untuk menjaga
rahasia dagang, melakukan perbuatan sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 13
dan pasal 14 sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 17 ayat (1) UU RI
No. 30 tahun 2000 tentang Rahasia Dagang, juga diatur dan diancam pidana sesuai
pasal 323 ayat (1) KUHP, dan menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana
penjara selama satu tahun.

Danar Dono lalu mengajukan banding terhadap putusan ini. Pengadilan Tinggi Jakarta
kemudian memutuskan sama dengan PN Jakarta Utara dan menambah kurun waktu
pidana penjara Danar Dono menjadi 1 tahun 2 bulan.

Danar Dono yang masih merasa tidak puas kemudian mengajukan kasasi ke
Mahkamah Agung
.

When :
Kasus ini terjadi tahun 2007, dan dibawa ke Mahkamah Agung tahun 2009.
Where :
Kasus ini terjadi di Jakarta.
Masalah Hukum
1. Apakah kasasi yang diajukan Danar Dono memiliki alasan yang cukup agar bisa
diadili oleh Mahkamah Agung?
2. Apakah yang dibocorkan oleh Danar Dono termasuk dalam ranah rahasia dagang?
3. Apakah Danar Dono memang terikat agar tidak bisa membocorkan rahasia
perusahaannya?
Putusan Hakim

Hakim Mahkamah Agung menolak permohonan kasasi dari Danar Dono, kemudian
membebankan pemohon kasasi untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi.
Pertimbangan Hakim
Alasan pemohon kasasi tidak dapat dibenarkan, judex facti tidak salah menerapkan
hukum yaitu dalam menerapkan dakwaan yang telah terbukti, di mana seharusnya tedakwa
melindungi kepentingan perusahaan tempatnya bekerja yang telah memberi gaji dan
mengikat perjanjian kerja dengan terdakwa, terdakwa mengungkapkan informasi pada pihak
lain yaitu kepada PT Envico sehingga perusahaan PT Kota Minyak Automation tidak dapat
memenangkan tender pengadaan cerobong api dan mengalami kerugian. Putusan judex facti
tidak bertentangan dengan hukum dan atau undang undang, sehingga harus ditolak.