Anda di halaman 1dari 3

I.

PENDAHULUAN

Ikan betutu (Oxyeleotris marmorata) merupakan


salah satu jenis ikan yang pada masa lalu tidak disukai
orang.sehingga apabila ditemukan/tertangkap akan
dibuang begitu saja. Namun saat ini ikan betutu
mempunyai nilai ekonomis cukup tinggi dan sebagai
salah satu komoditas ekspor.
Ikan betutu sangat
digemari masyarakat
kalangan menengah atas
sehingga dijadikan menu favorit di restoran-restoran
ternama di Singapura, Taiwan, Cina, Malaysia, dan
Indonesia.
Habitat betutu adalah perairan tawar hingga
payau yang perairannya tenang dan dangkal seperti
sungai, danau, rawa, waduk dan genangan air lainnya
yang dasarnya berlumpur dan terdapat tanaman air.
Ikan betutu dikenal dengan berbagai sebutan di berbagai
daerah dan negara: ada yang menyebut dengan nama
ketutu, gabus malas, bakut, gloso, bloso, boso, boboso,
bodobodo, bakutut, ikan malas, ikan bodoh, ikan hantu,
sun hock (Cina), marble goby atau marble sleeper
(Inggris),. Penyebaran ikan betutu meliputi Asia
Tenggara yaitu Filipina, Laos, Thailand, Vietnam, Brunei
Darussalam, Kamboja, Semenanjung Malaya, dan
Indonesia: (Sumatera, Kalimantan dan Jawa), hingga
kepulauan Fiji di Pasifik.
Permintaan akan ikan betutu cenderung terus
meningkat, baik untuk kebutuhan pasar domestik
maupun ekspor, maka budidaya ikan betutu banyak
dilirik dan diminati masyarakat kususnya pembudidaya
ikan.
Namun demikian proses pembesaran yang
berlangsung lama, tingkat kematian cukup tinggi dan
benih yang masih mengandalkan hasil tangkapan di
alam merupakan kendala dan tantangan yang harus
dijawab antara lain dengan melakukan upaya untuk
memproduksi benih ikan secara masal melalui
pembenihan ikan betutu. Lingkungan yang cocok untuk
pembenihan ikan betutu adalah suhu 24,5 - 29C,
oksigen terlarut 4,4 6,29 ppm dan pH 6,75 7.
Menutuy Lie Sieuw Foey (1968) secara sistematik
ikan betutu digolongkan kedalam :
: Animalia
Kingdom
: Chordata
Filum
: Pisces
Super kelas
: Perciformes
Ordo
: Gobioidea
Sub-ordo
: Family
Family

:
:

Genus
Species

Oxyeleotris
Oxyeleotris marmorata. Blkr

Oxyeleotris marmorata.

Ikan betutu dijumpai dalam beberapa spesies,


yaitu Oxyeleotris marmorata, Oxyeleotris sinelatus,
Oxyeleotris
heterodon,
Oxyeleotris
fembriatus,
Oxyeleotris urophthalmus, dan Oxyeleotris ereuntris.
II.

PERSIAPAN INDUK

Ciri induk betutu yang baik adalah :


1. Betina
Badannya berwana lebih gelap dengan bercak
hitam lebih banyak dan terlihat lebih jelas.
Alat kelamin (Papila urogenital) berbentuk tonjolan
agak
besar
memanjang
dan
ujungnya
membundar, warnanya kemerahan pada saat
menjelang memijah.
Perutnya gendut dan terasa lembek bila diraba
Pada umur yang sama ukurannya lebih kecil
dibandingkan yang jantan .
2. Jantan
Badannya berwana lebih terang dan bercak
hitam lebih sedikit.
Alat kelamin (papila orogenital) berbentuk
segitiga, pipih, dan kecil.
Perutnya ramping, jika bagian depannya ditekan
akan jeluar sperma berwarna putih susu.
Pada umur yang sama ukurannya lebih besar
dari pada betina
Dalam kondisi sehat dan organ tubuhnya
lengkap
Induk ikan betutu yang akan dipijah sebaiknya
berukuran 800 1.500 gram/ekor, karena terdapat
korelasi positif antara bobot induk dengan jumlah telur
yang dihasilkan. Induk dengan kisaran bobot tersebut
diatas dapat menghasilkan telur sebanyak 5.000
30.000 butir. Jumlah telur sangat bervariasi tergantung
kondisi induk dan tingkat kematangan gonad. Namun

demikian betutu sudah mulai dewasa atau dapat


mencapai matang gonad pada umur 1 tahun dengan
berat 150 gram,
Bobot induk betina dan jantan
sebaiknya seragam.
III. PEMATANGAN GONAD
Wadah untuk pematangan gonad induk betutu
sebaiknya kolam tanah berukuran
200 m,
tergantung ketersediaan lahan. Kolam berbentuk persegi
panjang dengan letak pintu pemasukan dan
pembuangan berseberangan secara diagonal. agar
kolam bisa memperoleh air dari saluran langsung dan
pembuangannya lancar. Debit air kolam minimal 25
liter/menit. Pergantian air yang kontinyu akan
berpengaruh positif terhadap proses pemijahan.
Ikan betutu juga dapat dipijahkan dalam kolam
semen/beton berukuran 2 x 1 x 1 m untuk satu pasang
induk. Untuk beberapa pasang induk dapat digunakan
kolam beton ukuran 4 x 2 x I m.
Untuk kolam tanah terlebih dahulu dilakukan
pengelolaan pengeringan kolam, perbaikan pematang
dan pintu air, pengapuran dan pemupukan kolam. Dosis
pupuk kandang sebanyak 0,5 kg/m dan kapur (CaO
atau CaCO3) sebanyak 0,2 kg/m. selamjutnya kolam
diari secara bertahap hingga ketinggian air 40 cm.
Setelah 2 - 3 hari berikutnya induk betutu dapat
dilepas/ditebar sebanyak 1 - 2 ekor/m2 dengan
perbandingan antara jantan dan berina 1 : 1 atau 1 : 2.
Selama masa pemeliharaan induk betutu diberi
pakan berupa ikan hidup atau ikan rucah. Ikan rucah
sebaiknya diberikan pada sore menjelang malam hari
sebab betutu lebih akatif dan agresif pada malam hari.
Ikan rucah diberikan sebanyak 3 5% dari berat induk
Apabila induk betutu telah matang kelamin yang
ditandai bagian perut induk betina membesar dan lunak
serta papila urogenital berwarna kemerahan. Untuk
induk jantan yang matang kelamin papila urogenital
berwarna merah dan jika bagian perut diurut kearah
papila urogenital akan keluar sperma.
IV.

PEMIJAHAN

Pemijahan induk ikan betutu dapat dilakukan


secara alami atau dengan stimulan hormon.
a. Pemijahan alami
Pemijahan
alami
dapat
dilakukan
tanpa
memberikan rangsangan hormon terhadap induk ikan
dan dapat langsung dilakukan di kolam pematangan
gonad.
Apabila pasangan induk sudah terlihat

matang kelamin upaya yang perlu dilakukan hanya


meciptakan kondisi lingkungan optimal sehingga
memungkinkan terjadinya pemijahan, diantaranya
dengan menyediakan sarang tempat bertelur dan
mengatur pergantian air kolam. Sarang/subtrat dapat
dibuat dari potongan pipa paralon berukuran 4 6
inchi sepanjang
30 - 40 cm yang dibelah
dan kemudian diikat kembali guna memudahkan
untuk mengecek keberadaan telur. Sarang juga dapat
dibuat dari bahan asbes dengan bentuk segitiga,
panjangnya 30 cm yang dirakit dengan kawat dan
diberi pelampung untuk mempermudah mengetahui
keberadaannya.
b. Kawin suntik
Tujuan kawin suntik yaitu untuk mendapatkan
produksi telur dalam jumlah lebih banyak, yang
memungkinkan benih ikan diproduksi secara masal
dan terjadwal.
Hormon yang digunakan untuk
menstimulasi pemijahan ikan betutu adalah
ovaprim. Hormon disuntikan ketubuh ikan secara
intra muscular pada bagian dorsal dekat sirip
punggung. Penyuntikan dilakukan 2 kali dosis yang
dianjurkan 0,5 ml/kg bobot induk ukan denga selang
waktu penyuntikan pertama dan kedua berkisar 10
12 jam. Waktu ovulasi induk-induk antara 36 60
jam.
V.
PENETASAN TELUR
Pemijahan ikan betutu biasanya terjadi pada
malam hari, tetapi tidak jarang pada siang. Ikan ini akan
kawin di dalam sarang pemijahan dan telur yang
dihasilkan akan disemprotkan/ditempelkan menyebar
rapi di bagian dalam sarang.
Telur ikan betutu
bentuknya lonjong, transparan. berukuran sangat kecil,
kira-kira hanya bergaris tengah 0,83 mm.
Penetasan telur dapat dilakukan dalam akuarium.
kolam/bak semen, bak fiberglass atau hapa. Akuarium
sebaiknya berkapasias 60 liter air sehingga dapat
menampung 2-3 lempeng sarang, sedangkan Hapa
berukuran 100 x 75 x 60 cm dengan mata jaring 500
mikron (0,5 mm) dapat menampung sebanyak 30.000
ekor /m2 atau 30 ekor/liter air. Hapa di letakan/dipasang
dalam kolam yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Agar telur-telur mendapatkan oksigen secara
merata, setiap wadah inkubasi perlu diberi aerasi yang
kuat. Apabila telur sudah menetas, aerasi diperkecil
sampai pada batas yang diperkirakan tidak mengganggu
kehidupan larva. Inkubasi telur-telur pada suhu 26-28C
dengan derajat keasaman air (pH) sekitar 7. Telur betutu

tidak menetas serentak, melainkan berangsur-angsur


selama 2-4 hari. Persentasi tetasnya mencapai 80-90%.
VI.
PEMELIHARAAN LARVA
Dalam pemeliharaan larva, perlu diperhatikan
media pemeliharaan, kepadatan tebar larva, dan
pasokan pakan alami. Umur satu bulan pertama
merupakan masa paling kritis dalam kehidupan benih
betutu. Selain kondisinya masih sangat lemah, juga
makanan yang dibutuhkannya seringkali kurang
tersedia. Makanan larva yang dapat diberikan adalah
Moina sp., fitoplankton, dan rotifer atau naupli artemia
untuk larva berumur berumur 4 minggu. Memasuki bulan
ke dua, benih-benih tersebut sudah rakus menyantap
kutu air (Daphnia sp.), cacing rambut, atau daging ikan
yang dicincang agak halus. Pemelihara larva dilakukan
sejak telur menetas hingga benih (juvenil) berukuran 1
-2 cm/ekor dengan masa pemeliharaan 2 bulan.
VII. PENDEDERAN
Persiapan
kolam
pendederan
dilakukan
sebagaimanan persiapan kolam pematangan gonad.
Pendederan dilakukan selama 4 bulan dan akan
dihasilkan benih betutu berukuran rata-rata 10 cm/ekor
atau 30-50 gram/ekor dengan tingkat kehidupan dapat
mencapai 100%. Selama masa pemeliharaan benih ikan
dapat diberi pakan berupa cacing rambut, ikan rucah
halus dan sesekali diberikan pelet.
Apabila
menghendaki ukuran benih betutu yang lebih besar
diperlukan masa pemeliharaan yang lebih lama. Ikan
betutu yang telah mencapai bobot 50 gram sudah dapat
diberi makan ikan rucah (trash fish) sehingga
pertumbuhannya dapat lebih di pacu. Pertumbuhan
benih betutu paling cepat terjadi bila sudah mencapai
berat 75 gram/ekor, yakni pada saat ikan rucah menjadi
menu utamanya. Agar masa pemeliharaan pada usaha
oembesaran ikan betutu tidak terlalu lama, disarankan
untuk menggunakan benih minimal ukuran 100
gram/ekor
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012. Cara Pembenihan Ikan Betutu.
http://sragenonline21.blogspot.co.id/2012/09/carapembenihan-ikan-betutu_27.html. Diakses, Senin, 19
Oktober 2015
Anonim. 2013. Cara Budidaya Ikan Gabus Malas Terbaik.
http://budidayaikangabusku.blogspot.co.id/2013/01/cara
-budidaya-ikan-gabus-malas-terbaik.htm. Diakses,
Jum'at, 16 Oktober 2015

Fahrur Razi, SST. 2014. Teknik Budidaya Ikan Betutu


(Oxyeleotris marmorata). Pusat Penyuluhan Kelautan
dan Perikanan Program Pengembangan SDM KP
Kementrian Kelautan dan Perikanan
Hartanto, A.D. 2009. Pembenihan Ikan Betutu.
http://alfalenbani.blogspot.co.id/2009/01/pembenihanikan-betutu.html. Diakses, Kamis 15 Oktober 2015.