Anda di halaman 1dari 13

TUGAS KEGAGALAN KONSTRUKSI

KEGAGALAN KONSTRUKSI PADA BANGUNAN AIR


MATA KULIAH
METODE PELAKSANAAN DAN KEGAGALAN KONSTRUKSI

Oleh :
Arizona Mahakam
NIM. 1341320095

Program Studi D-IV Manajemen Rekayasa Konstruksi


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2016

1. KEGAGALAN KONSTRUKSI DRAINASE

Banjir dalam kasus ini adalah disebabkan oleh kesalahan system dan
konstruksi drainase. Pembuatan saluran drainase yang salah dan tidak teratur akan
memperbesar peluang banjir.
Saluran drainse dikatakan bermasalah ketika tidak mampu mengakomodir
debit ketika banjir. Banyak factor yang menyebabkan konstruksi drainase tidak
memenuhi criteria aman. Pertumbuhan kota dan perkembangan industry
menimbulkan dampak yang cukup besar pada siklus hidrologi sehingga
berpengaruh besar terhadap system drainasi. Sebagai contoh ada perkembangan
beberapa kawasan hunian yang disinyalir sebagai penyebab banjir dan genangan
di lingkungan sekitarnya. Hal ini disebabkan karena perkembangan urbanisasi,
menyebabkan perubahan tata guna lahan, sedangkan siklus hidrologi sangat
dipengaruhi oleh tata guna lahan. Oleh karena itu setiap perkembangan kota atau
wilayah harus diikuti dengan perbaikan system drainase, tidak cukup hanya pada
lokasi yang dikembangkan, melainkan harus meliputi daerah sekitarnya juga.

Jaringan drainase perkotaan meliputi seluruh alur air, baik alur alam
maupun alur buatan yang hulunya terletak di kota dan bermuara di sungai yang
melewati kota tersebut
Analisis hidrologi diperlukan untuk perencanan drainase maupun jembatan
yang melintas ungai atau saluran. Perencanaan fasilitas transportasi bukan satusatunya kegiatan yang harus mempertimbangkan kelancaran air akibat hujan.
Setiap kegiatan yang melibatkan lahan sebagai objek, seperti perumhan,
perkantoran,

dan

industri

harus

mempertimbangkan

aliran

air

hujan.

Pengembangan lahan biasanya diikuti penambahan lapisan kedap air yang


berakibat pada peningkatan laju dan volume aliran permukaan.
Pada beberapa lokasi pengembangan lahan, dimana penambahan lapisan
kedap air besar, pembangunan kolam penahan mungkin diperlukan untuk
mengontrol kenaikan aliran permukaan. Besarnya beban aliran yang diterima oleh
sungai-sungai pada musim penghujan menyebabkan sering terjadinya banjir
akibat luapan air sungai. Banjir juga umumnya disebabkan oleh kurangnya daerah
resapan air dan daerah retensi, seperti rawa dan tambak yang direklamasi menjadi
kawasan pemukiman dan industri. Selama ini disetiap musim hujan selalu timbul
masalah banjir yang meresahkan masyarakat di sepanjang saluran drainase.
Pemanfaatan tanggul dan bantaran sungai oleh masyarakat setempat menjadi
daerah hunian dengan membangun rumah-rumah permanen/semi permanen
berdampak terjadinya hambatan aliran dan berkurangnya kapasitas tampung
saluran drainase itu sendiri. Berdasarkan kondisi tersebut diatas, maka dipandang
perlu untuk melakukan suatu perencanaan normalisasi sungai yang berdasarkan
pada prinsip partisipatif dengan kesepakatan dari pihak yang terkait sehingga
pengendalian daya rusak air yang terjadi dapat dilaksanakan bersama.
Untuk mengatur permasalahan infrastruktur tersebut, diperlukan system
drainase yang berwawasan lingkungan, dengan prinsip dasar mengendalikan
kelebihan air permukaan sehingga dapat dialirkan secara terkendali dan lebih
banyak memiliki kesempatan untuk meresap ke dalam tanah. Hal ini dimaksudkan

agar konservasi air tanah dapat berlangsung dengan baik dan dimensi struktur
bangunan sarana drainase dapat lebih efisien. Untuk dapat memadukan berbagai
tingkat kepentingan, maka perlu diupayakan adanya koordinasi antara instansi
atau lembaga yang terkait dengan masyarakat.
Peran serta masyarakat dilakukan dengan pendekatan partisipasif dengan
melibatkan seluruh masyarakat yang ada dalam pembangunan system drainase. Di
samping itu peraturan yang menjangkau perilaku masyarakat harus berjalan
dengan baik dan konsekuen, serta meningkatkan kesadaran masyarakat untuk
memelihara sistem drainase, meningkatkan rasa memiliki dan eningkatkan sifat
peduli terhadap lingkungan. Untuk itu mulai sekarang segala kebijakan publik
harus elibatkan masyarakat baik itu yang berupa pembangunan fisik maupun non
fisik, sejak awal unculnya ide pembangunan infrastruktur sampai dengan
pengoperasiannya.

Menjaga kelestarian saluran drainasi dari pendangkalan dan sampah

Suatu drainasi dikategorikan gagal ketika :


Tidak dapat mengeringkan/melimpaskan air secara cepat, sehingga
menimbulkan luapan dan genangan yang berlebihan (banjir) saat debit banjir.
Dengan banjir itu akan menimbulkan kerusakan-kerusakan dan menghambat
kegiatan masyarakat.
1. Kesalahan akibat kerusakan lingkungan
Perubahan tata guna lahan yang mengarah pada industrialisasi dan
penambahan pemukiman dengan system beton.Di sisi lain lahan hijau sebagai
lahan penampungan air tanah semakin berkurang. Ini tentunya akan
mengurangi debit resapan. Sehingga debit limpasan akan semakin besar. Dan
apabila tidak dibarengi perbaikan saluran drainasi tentunya perbuhan tata guna
lahan ini bisa menjadi penyebab besar banjir.
2. Kesalahan system drainase
Drainase yang baik adalah drainase yang membentuk system dimana
terdapat hirarki fungsi drainase. Sehingga saluran drainase akan terbagi
menjadi system tersier, system sekunder, system primer. Dengan pembagian
saluran ini tentunya akan berpengaruh pada dimensi saluran yang mana dari
pemukiman kea rah hilir dimensinya akan membesar.
Drainase bisa jadi salah ketika kumpulan saluran tersier berkumpul
pada saluran yang dimensinya hampir sama dengan saluran tersier. Sehingga
sangat berpotensi tidak dapat menampung aliran.
3. Kesalahan Perancangan
Dalam perancangan drainase suatu kota, diperlukan banyak pertimbangan
dan kajian yang mendalam. Secara singkat hal hal yang perlu diperhatikan
dalam perancangan adalah :
Debit rencana, dalam menentukan debit rencana memerlukan kajian yang
panjang meliputi aspek hidrologi, tata ruang, luas wilayah. Kesalahan

menentukan debit rencana sangat fatal karena kita tidak dapat memperkirakan
debit banjir.
Kesalahan yang mungkin terjadi :
1. Kesalahan penggunaan informasi Intensitas Hujan. Penggunaan data
hujan yang lama atau bukan yang terbaru akan menyebabkan
kesalahan data, terlebih saat ini cuaca dan musim sudah berubah.
2. Ketidak tahuan perubahan tataguna lahan baik yang di hulu maupun di
hilir, perubahan tataguna lahan seperti pemukiman contohnya akan
mengakibatkan perubahan infiltrasi. Ketika suatu lahan dipenuhi oleh
bangunan maka , maka air limpasan akan semakin besar dikarenakan
semakin minimnya ruang infiltrasi. Ini sangat penting dalam hitungan
dalam menentukan koefisien limpasan. Kesalahan menentukan
koefisien limpasan cukup fatal juga dalam perencanaan drainase.
3. Tidak jelasnya luas lahan rencana drainase, dalam hal ini perlu dikaji
catchment area yang akan masuk pada saluran drainasi. Semakin luas
lahan layanan drainasi makan debit di bagian hilir akan semakin besar.
Sehingga diperlukan perencanaan yang cermat.
4. Kesalahan informasi sebaran hujan.
5. Dalam menentukan debit rencana nilainya kurang atau sama dengan
debit limpasan
Menentukan dimensi saluran, dalam hal ini diperlukan perencanaan
dimensi atau ukuran yang tepat agar debit banjir dapat tertampung.
Kesalahan yang mungkin terjadi :
1. Kesalahan menetukan kecepatan rencana, Bila terlalu cepat dapat
menggerus dan merusak bangunan drainasi. Demikian juga terlalu lambat
akan menyebabkan sedimentasi dan pendanggkalan, ini sangat berbahaya
karena nantinya tinggi air bisa saja melebihi freeboard.
2. Kecepatan rencana ketika tidak hujan (aliran kecil) dengan ketinggian
berenang minimal 10 cm di bawah 0.6 m/detik. Ini berpotensi terjadinya

penumpukan sampah dan lumpur. Dan berbahaya karena dapat


menyumbat saluran.
3. Slope rencana yang salah, dimana dilapangan ternyata kemiringannya
terlalu landai, ini sangat berpengaruh pada kecepatan aliran sebenarnya di
lapangan. Kemiringan yang landai dapat membuat kecepatan aliran
menjadi rendah.
Kesalahan kebijakan pemerintah mengenai konsep drainase.
Banjir akan selalu berpeluang terjadi dikarenakan konsep drainase yang
diterapkan pemerintah masih konvensional. Saat ini dimana laju perubahan
tata guna lahan yang semakin pesat diperlukan upaya ekologis untuk
menanggulangi laju limpasan yang sangat besar. Saat ini ditengah krisis air
ketika musim kemarau, diperlukan upaya agar konsep membuang air secepatcepatnya diganti dengan konsep tampungan air sementara dan juga lahanlahan penyerapan air.

Drainase menyatu dengan aliran limbah


Kesalahan konstruksi, kesalahan ini bisa terjadi ketika saluran drainasi
dalam pengerjaannya tidak sesuai dengan perencanaan. Karena kesalahan
pengerjaan bisa saja menyebabkan daya tampung debit yang kecil. Atau dalam
kasus lain umur saluran drainasi yang pendek dimana saluran rentan kerusakan,
dengan kerusakan saluran tentunya berimbas pada layanan aliran. Kemungkinan
ini terjadi akibat kenakalan kontaktor.
Kesalahan akibat kurangnya perawatan dan penjagaan sungai
Di perkotaan kasus pemukiman liar marak terjadi dimana-mana tak
terkecuali di bantaran sungai. Proses urbanisasi pemukiman liar ini menyebabkan
peningkatan aktifitas di pinggir sungai, dan lambat laun pemukiman semakin
menjorok ke sungai dan yang terjadi adalah penyempitan penampang aliran
sungai. Saat debit banjir datang keadaan ini berpeluang menyebabkan luapan
banjir.

Upaya-upaya penanngulangan banjir pada saluran drainasi


1.
2.
3.
4.

Memperbaiki kebijakan tata guna lahan baik di daerah hulu maupun hilir.
Menjaga kelestarian sungai dari sampah-sampah dan pendangkalan.
Membuat tanggul-tanggul yang tinggi dan aman di pinggir sungai.
Sosialiasi biopori dan konsep bio retention oleh pemerintah agar debit

limpasan berkurang karena infiltrasi.


5. Mengkaji ulang data curah hujan, kemiringan saluran dan debit rencana.
6. Ketika banjir telah terjadi upaya yang bisa dilakukan adalah memperbesar
dimensi saluran yang mana rawan terjadi banjir.
7. Memodifikasi system drainasi mulai dari saluran tersier, sekunder dan
primer.
8. Menjaga kualitas material pembuatan saluran drainase.
9. Normalisasi(pelurusan) sungai di daerah hilir untuk mempercepat
pembuangan air ke laut.
10. Menjaga kondisi meander sungai di daerah bagian tengah, agar limpasan
yang terjadi dapat tertahan lebih lama sebelum masuk daerah hilir (debit
puncak semakin lama dan debitnya lebih kecil)
11. Pembuatan bangunan air waduk pada suatu aliran sungai.
12. Membangun tendon-tandon air pada saluran primer.
13. Penertiban pedagang kaki lima agar tidak merusak saluran dengan cara
menutup. Yang mana hal ini sulit untuk mendeteksi sumbatan-sumbatan
saluran.
14. Membangun system banjir kanal di daerah hilir , dan system polder di
daerah pesisir.

2. KEGAGALAN KONSTRUKSI BENDUNGAN


Bendungan di Dubai

Lokasi bendungan tersebut di Dubai


dekat perkotaan
Jenis kerusakan bendungan :
1. Pergeseran struktur diding penahan.
Dari kejadian tersebut dapat dilihat bahwa dinding yang menjadi bangunan
pokok pada bendungan tersebut jebol.
2. Kebocoran pada dasar tanah akibat paiping.
Kebocoran

air

tersebut

juga

merupakan

jenis

kerusakan

yang

mengakibatkan dinding penahan air jebol.


Penyebab kerusakan :
1. Besarnya tekanan air
Daya tekan air lebih besar dari penahan dinding, sehingga dinding
penahan air tidak mampu menahan tekanan air, akibatnya dinding penahan air
jebol, beruntung saja tidak ada korban jiwa.
2. Penggalian tanah ( memperdalam lokasi proyek )
Pada foto di atas bangunan diperdalam, dengan menambah kedalaman
tanah, dengan memperdalam lokasi proyek maka akan mengurangi kekuatan
dinding penahan.

3. Dimensi dinding.

Pada bendungan tersebut terlihat bahwa dinding penahan air tidak


sesuai dengan daya tekan air. Maksudnya tinggi dinding penahan air dan tebal
tidak serasi.
4. Kemiringan dinding
Dari foto bendungan tersebut dinding penahan air terlihat agak tegak
sehingga kekuatan dinding tidak bisa maksimal, berbeda dengan dinding
penahan air dibuat miring, kekuatannya akan besar dari pada tegak.
Sebelum jebolnya dinding penahan air, bangunan tersebut memperlihatkan
tanda-tanda akan terjadi kerusakan yang fatal pada dinding yaitu terjadi kebocoran
air pada dinding bawah. Dengan tanda-tanda tersebut para pekerja langsung bisa
menyelamatkan diri. Hanya alat berat yang tertinggal di bawah proyek
pembangunan bendungan.
Bendungan St. Francis

Bendungan ini berada di Los Angeles, California. Tahun musibah adalah


1928. Bencana bendungan ini termasuk terbesar kedua yang pernah tercatat dalam
sejarah Kalifornia ketika 12 milyar galon air membentuk gelombang setinggi 125
kaki membunuh 600 manusia. Hampir seluar 2 mil dengan kecepatan 5 mil
perjam membawa segalanya dari mayat dan serpihan bangunan yang diterjangnya
sejauh 54 mil hingga ke samudera pasifik. Bencana itu dipicu dari retakan pada
struktural tambahan guna meningkatkan kapasitas air. Dan hal itu diabaikan oleh

para insinyur. Akibatnya bebatuan di bawah bendungan menjadi tidak stabil


sehingga membuat bendungan pecah. Pada pagi hari sebelum bencana terjadi, ada
laporan tentang kebocoran baru yang mengindikasikan air yang menggerus
pondasi bendungan, akan tetapi Departemen Air dan Listrik menganggap
bendungan aman-aman saja.
Bendungan South Fork

Bendungan ini berada di Johnstown. Pada tahun 1889 Bendungan South


Fork menumpahkan 20 juta ton air ke kota Johnstown dan menewaskan 2200
orang. Meskipun pengadilan memutuskan bahwa itu adalah murni bencana,
penduduk kota Johnstown tetap menganggap kurangnya perawatan terhadap
bendungan oleh pemiliknya. Lobang kebocoran yang ada pada bendungan hanya
ditambal dengan jerami dan lumpur. Selain itu ternyata pemilik bendungan
terdahulu mengambil dan menjual tiga pipa besi cor yang berfungsi mengatur
keluarnya air.