Jelajahi eBook
Kategori
Jelajahi Buku audio
Kategori
Jelajahi Majalah
Kategori
Jelajahi Dokumen
Kategori
PEMBAHASAN
4.1 Pembahasan
Pada kasus ini, seorang wanita usia 56 tahun dengan diagnosis
cholesistitis akut dan cholelithiasis, status ASA I dan mallampati II, dilakukan
tindakan cholecystectomy melalui general anestesi dengan pemasangan
endotracheal tube. Status American Society of Anasthesiologist (ASA I)
menunjukkan bahwa pasien normal, sehat fisik dan mental. Sedangkan
mallampati II menunjukkan bahwa pada pasien tampak palatum molle,
palatum durum dan uvula yang mengindikasikan bahwa tidak terdapat
kesulitan intubasi. Berdasarkan teori, mallampati kelas I dan II dihubungkan
dengan kemudahan dalam intubasi, sedangkan kelas III dan IV dikaitkan
dengan tingkat kesulitan intubasi, bahkan kelas IV mempunyai rasio
kegagalan melebihi 10%.
Pemilihan jenis anestesi umum (general anestesi) pada pasien ini sudah
tepat, karena tindakan cholecystectomy memerlukan waktu yang cukup lama.
Cholecystectomy pada pasien ini dilakukan dalam waktu kurang dari 24 jam
sejak pasien MRS (melalui IGD) yang menunjukkan bahwa kasus ini butuh
penanganan segera (cyto). Hal ini sesuai dengan teori yang membahas
mengenai indikasi dari cholecystectomy urgensi yaitu salah satunya adalah
cholesistitis akut. Anestesi umum adalah menghilangkan rasa sakit seluruh
tubuh secara sentral disertai hilangnya kesadaran yang bersifat reversibel.
Anestesi umum ialah suatu keadaan yang ditandai dengan hilangnya persepsi
terhadap semua sensasi akibat induksi obat. Obat anestesi umum terdiri atas
golongan senyawa kimia yang heterogen, yang mendepresi SSP secara
reversibel dengan spektrum yang hamper sama dan dapat dikontrol. Obat
anestesi umum dapat diberikan secara inhalasi, intravena, intramuscular, dan
intrarektal, tetapi yang banyak digunakan adalah secara inhalasi dan intravena.
Obat anestesi umum yang diberikan secara inhalasi (gas dan cairan yang
mudah menguap) yang terpenting di antaranya adalah N2O, halotan, enfluran,
35
36
37