Anda di halaman 1dari 50

PT.

PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

1. SISTEM BAHAN BAKAR PLTG.


1.1. Sistem PLTG dan PLTGU
Pusat Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) memiliki dua sistem utama yaitu Sistem PLTG dan
Sistem PLTU.
Kedua sistem utama ini terdiri dari beberapa sub sistem dengan bermacam-macam peralatan
yang satu dengan lainnya membentuk sistem yang saling menunjang sehingga PLTGU tersebut
dapat dioperasikan dengan baik.
Peralatan utama sistem PLTG terdiri dari Turbin Gas, Kompresor dan Alternator yang
dilengkapi dengan peralatan bantu / auxilliaries.
Peralatan bantu pada sistem PLTG terhimpun ke dalam beberapa subsistem diantaranya :

Sistem Bahan Bakar.


Sistem Pelumasan.
Sistem Bleeding dan Pendingin.
Sistem Pencucian Kompresor.
Sistem Udara Instrumen/Kontrol dan Perapat Bantalan.

Peralatan utama sistem PLTU terdiri dari HRSG, Turbin Uap, Kondensor dan Alternator,
dilengkapi oleh peralatan bantu / auxilliaries, yang terhimpun di dalam beberapa subsistem,
diantaranya :

Sistem Uap Utama.


Sistem Air Kondensat.
Sistem Air Pengisi.
Sistem Air Penambah.
Sistem Air Pendingin.
Sistem Udara Instrumen/Kontrol.

1.2. Sistem Bahan Bakar Gas.


Salah satu keuntungan penggunaan Turbin Gas sebagai penggerak mula adalah karena turbin
gas dapat menggunakan berbagai macam bahan bakar baik bahan bakar padat, cair maupun gas.
Batubara serbuk merupakan salah satu contoh penggunaan bahan bakar padat untuk turbin gas.
Akan tetapi penggunaan batubara yang digunakan langsung sebagai bahan bakar turbin gas tidak
dikembangkan lagi karena banyak menimbulkan kesulitan dalam operasi dan pemeliharaannya,
misalnya menimbulkan erosi dan pengotoran pada sudu-sudu turbin, nozzle dan sebagainya.
Oleh karenanya bahan bakar padat tidak akan dibahas lebih lanjut.
Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

Penyaluran Bahan Bakar Gas


Bahan bakar gas yang umum dipakai untuk Turbin Gas adalah natural gas (gas alam), namun
demikian beberapa macam gas lainnya juga dipakai, diantaranya blast furnace gas, coke oven
gas dan bio gas.
Penggunaan bahan bakar gas untuk turbin gas akan lebih menguntungkan dibanding dengan
bahan bakar minyak karena :

Lebih bersih, sehingga periode pemeliharaan menjadi lebih panjang.


Titik nyala rendah, sehingga mengurangi faktor kegagalan start.
Tidak memerlukan tangki penampungan dan pompa, sehingga akan lebih hemat dalam biaya
investasi maupun biaya operasi.

Disamping ada keuntungannya, penggunaan bahan bakar gas juga mempunyai kerugian yaitu :

Kebocoran gas dari instalasi tidak dapat terlihat langsung, sehingga dapat mengundang
bahaya kebakaran.
Hanya dapat diperoleh ditempat-tempat tertentu saja, atau harus disupply dengan memasang
instalasi pipa yang panjangnya sampai ratusan kilometer, atau menggunakan alat transportasi
khusus.

Pada kebanyakan PLTG tidak tersedia tempat penyimpanan bahan bakar gas, karena bahan bakar
gas disupply oleh pemasoknya langsung ke instalasi PLTG dan langsung digunakan oleh turbin
gas.
Untuk mencegah agar kondensat dan kotoran lain tidak terbawa masuk ke dalam instalasi gas
PLTG, maka terlebih dahulu bahan bakar gas tersebut dialirkan melalui Fuel Gas Separator dan
Filter (Gambar 1.1).
Disini kondensat dan kotoran dipisahkan dari gas. Kondensat dan kotoran ditampung didalam
Condensate Tank atau langsung dibuang melalui Cold Stack atau Burning Pit.
Selanjutnya bahan bakar gas yang sudah bersih dialirkan ke instalasi gas PLTG/PLTGU untuk
digunakan didalam proses pembakaran (lihat Gambar 1.2).

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

Gambar 1.1 : Gas Separator

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

Gambar 1.2 : Instalasi Bahan Bakar Gas

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

Main Valve (1) adalah valve utama berupa manual valve untuk memblokir bahan bakar gas yang
akanmasuk ke dalam sistem PLTG apabila tidak digunakan (saat overhaul dan lain-lain).
Agar tekanan gas yang diterima oleh sistem bahan bakar gas selalu stabil/konstan, maka tekanan
gas diatur oleh Pressure Regulator (2) sehingga tekanan bahan bakar mencapai range tertentu
(misalnya 200 s.d. 400 psi). Sedangkan tekanan gas supply dapat mencapai 800 psi. Selanjutnya
gas akan melalui Flow Meter (3) guna mengukur volume gas yang terpakai.
Sistem bahan bakar gas ini dilengkapi Overspeed Trip Valve (4) yang terbuka terus selama turbin
beroperasi dan akan segera menutup jika ada gangguan tertentu.
Starting Valve (5) berfungsi untuk mengatur aliran bahan bakar ke nozzle saat start-up,
sedangkan apabila kondisi operasi sudah melampaui periode start-up, pengaturan bahan bakar
dilakukan oleh Governing Valve atau Throttle Valve (6). Tidak semua turbin gas di;engkapi
Starting Valve karena pada model tertentu pengaturan aliran gas pada saat start-up juga
dilakukan oleh Governing Valve.
Isolation Valve (7) akan terbuka saat turbin start-up dan menutup apabila turbin shut-down.
Header (8) sebagai penampung akhir sebelum bahan bakar gas diterima oleh nozzle, berfungsi
untuk menstabilkan tekanan, sedangkan Nozzle (9) untuk pengabutan / atomizing bahan bakar di
dalam Combustor Liner (Combustor Basket).

Pengolahan Bahan Bakar Gas


Untuk bahan bakar gas praktis tidak ada pengolahan kecuali melalui separator dan filter seperti
yang ditunjukkan pada Gambar 1.1.
Tujuan utama dari filter dan separator untuk membuang kotoran dan kondensat agar tidak
menyebabkan terjadinya penyumbatan pada nozzle.

1.3. Sistem Bahan Bakar Minyak.

Bahan Bakar Minyak.


Bahan bakar minyak dapat dibagi menjadi tiga klas utama yaitu :
Klasifikasi ringan : gasoline, kerosine.
Klasifikasi medium : HSD, IDO.
Klasifikasi berat : minyak mentah, residu
Bahan bakar minyak yang banyak digunakan oleh turbin gas adalah HSD, walaupun minyak
IDO dan residu juga dapat digunakan apabila unit PLTG dilengkapi dengan sarana pengolah
bahan bakar, misalnya dengan memasang pemanas minyak dan centrifuge. Viskositas bahan
bakar memegang peranan yang sangat penting karena mempengaruhi kualitas pengabutan

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

pada nosel bahan bakar yang pada akhirnya mempengaruhi kesempurnaan pembakaran. Oleh
karenanya mungkin diperlukan pemanas untuk mendapatkan viskositas yang sesuai.

Sistem Bahan Bakar Minyak.

Penerimaan bahan bakar minyak dari pemasok dapat dilaksanakan melalui tongkang, mobil
tangki maupun langsung menggunakan pipa,untuk kemudian di site PLTG, bahan bakar
minyak tersebut ditampung didalam bunker/tangki.
Salah satu contoh instalasi penyimpanan dan penyaluran bahan bakar dapat dilihat pada
Gambar 1.3.
Bahan bakar minyak yang ditampung di dalam Tangki Bahan Bakar (1) dialirkan melalui
Filter Kasar 100 mesh (2) untuk menyaring kotoran yang berukuran agak besar.
Selanjutnya bahan bakar akan dihisap oleh Fuel Forwarding Pump atau Booster Pump (3)
yang berfungsi untuk menjamin agar sisi hisap Main Fuel Pump (5) tidak mendapat tekanan
negatif. Tidak semua PLTG memiliki Fuel Forwarding Pump.
Fuel Forwarding Pump adalah pompa sentrifugal tekanan rendah, sedangkan Main Fuel
Pump berupa pompa tekanan tinggi.
Filter yang lebih halus (4) sekitar 200 mesh mencegah agar kotoran halus tidak terbawa
masuk kedalam Main Fuel Pump (5).
Main Fuel Pump (5) umumnya berupa pompa gigi/ulir atau pompa sentrifugal bertingkat
banyak agar tekanan bahan bakar yang dihasilkannya cukup tinggi. Beberapa model PLTG
menggunakan pompa bahan bakar yang diputar oleh poros turbin. Pada model lainnya pompa
diputar oleh motor listrik. Pompa ini mensupply bahan bakar ke Nozzle.
Untuk mendapatkan tekanan bahan bakar yang konstan disisi discharge Main Fuel Pump
dipasang dua katup Pressure Regulator (6 & 7). Kelebihan tekanan akan dikembalikan ke
tangki.
Overspeed Trip Valve (8) adalah katup bahan bakar yang akan menutup apabila turbin
mengalami overspeed atau gangguan lain seperti overheat dan sebagainya. Dalam keadaan
normal atau tidak ada gangguan, katup ini akan terbuka terus.
Untuk mengetahui jumlah bahan bakar yang digunakan, dipasang Flow Meter (9) sesudah
overspeed trip valve.
Governing Valve atau throttle valve (10) berfungsi untuk menaikkan atau menurunkan
putaran turbin gas pada saat start-up dan shut down, serta mengatur beban setelah turbin gas
dibebani.
Ada Turbin Gas yang memiliki katup pengatur bahan bakar khusus untuk periode start up
(dinamakan Starting Valve).

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

Gambar 1.3 : Instalasi Bahan Bakar Minyak (HSD)

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

Nozzle bahan bakar yang memiliki lubang sangat halus perlu dijaga agar tidak dimasuki kotoran
yang akan mengakibatkan penyumbatan. Oleh karena itu bahan bakar minyak terlebih dahulu
dilewatkan melalui Filter yang sangat halus (11).
Isolation Valve (12) berfungsi untuk memblokir bahan bakar selama turbin tidak dioperasikan.
Agar pembagian bahan bakar minyak ke setiap fuel nozzle merata, maka sebelum fuel nozzle
dipasang manifold (13), pembagian bahan bakar harus merata untuk mencegah terjadinya
perbedaan temperatur diantara Combustion Liner. Pada turbin gas tertentu, fungsi Manifold
digantikan oleh Flow Divider.
Pipa dan saluran sesudah isolation valve tidak boleh terisi bahan bakar minyak pada saat turbin
gas tidak beroperasi karena dapat menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan seperti terjadinya
pembakaran didalam manifold. Oleh karena itu semua bahan bakar minyak yang ada di dalam
manifold, dibuang melalui Manifold Drain Valve (14) ketika turbin stop.
Fuel Nozzle (15) sebagai bagian ujung akhir dari saluran bahan bakar minyak berfungsi untuk
mengabutkan (atomisasi) bahan bakar didalam Combustor Liner sehingga diperoleh pembakaran
yang sempurna.
Agar tidak terjadi ledakan saat mulai penyalaan, maka sisa bahan bakar yang ada didalam
Combustion Chamber dibuang melalui Combustor Shell Drain Valve (16). Katup ini terbuka
terus selama turbin gas tidak beroperasi.
Bahan bakar minyak yang di Drain dari Combuster Shell ditampung didalam Drain Tank (17)
untuk selanjutnya dikembalikan ke tangki bahan bakar minyak oleh Transfer Pump (18).

Flow Divider

Flow Divider adalah suatu peralatan mekanis yang berguna untuk mengatur serta membagi rata
aliran bahan bakar minyak yang akan dibakar oleh setiap fuel nozzle. Pada dasarnya, flow divider
adalah pompa-pompa yang dipasang pada satu poros. Setiap pompa melayani satu fuel nozzle.
Pompa-pompa ini ada yang diputar oleh motor listrik, tapi ada juga yang diputar oleh bahan
bakar minyak.
Satu contoh flow divider yang diputar oleh bahan bakar minyak seperti pada Gambar 4. Sistem
Flow Divider seperti pada Gambar 4 ini dinamakan Universal Flow Divider System.
Flow Divider diputar oleh Hydraulic Motor, yang merupakan setengah bagian dari transmisi
hydrostatic, dan yang setengah bagian lainnya berupa Hydraulic Control Pump. Besarnya Stroke
dari Hydraulic Control Pump akan berarti besarnya aliran dari Hydraulic Control Pump tersebut
yang menuju Hydraulic Motor. Besarnya Stroke ini diatur oleh atau merupakan respon dari VCO.
Dengan adanya perubahan flow dari Hydraulic Control Pump, berarti kecepatan putaran
Hydraulic Motor akan berubah pula dan selanjutnya mengubah besarnya aliran bahan bakar
menuju nozzle

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

Gambar 1.4 : Flow Divider.

Pada turbin gas yang dapat menggunakan dua jenis bahan bakar, misalnya HSD dan Residu, akan
terpasang satu unit instalasi HSD lengkap, dan satu unit instalasi residu yang dilengkapi pemanas
residu serta katup transfer bahan bakar.
Katup transfer bahan bakar berfungsi untuk memilih / memindahkan pemakaian bahan bakar baik
manual maupun auto dari HSD ke residu dan sebaliknya.
Residu perlu dipanaskan untuk memperoleh viskositas yang sesuai agar terjadi pengabutan yang
baik dan pembakaran yang sempurna, dengan menggunakan uap sebagai media pemanasnya.
Suhu residu diatur secara automatis dengan membuka dan menutup katup uap pemanas.

Pengolahan Bahan Bakar Minyak

Untuk mendapatkan bahan bakar minyak yang berkualitas baik, beberapa unit PLTG dilengkapi
dengan Fuel Oil Treatment Plant.
Peralatan utama pada Fuel Oil Treatment Plant adalah Filter, Magnetic Filter, Heater dan
Centrifuges. Filter berfungsi untuk menyaring kotoran yang agak kasar. Magnetic Filter untuk
menangkap kotoran logam magnetic. Heater berguna menurunkan viscositas minyak apabila
diperlukan. Centrifuges dapat memisahkan air maupun kotoran dari minyak. Apabila diperlukan,
kedalam bahan bakar minyak dapat ditambahkan Fuel Oil Additive agar kualitas bahan bakar
Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

minyak menjadi lebih baik lagi. Bahan bakar minyak yang sudah diolah akan ditampung disatu
tangki penampungan atau dikembalikan/disirkulasikan kedalam tangki semula.
Sistem pemanas pada instalasi residu juga merupakan pengolahan bahan bakar untuk
memperoleh viscositas yang sesuai untuk pengabutan / pembakaran.
1.4. Sistem Udara Pembakaran.
Sistem udara pembakaran adalah sistem yang utamanya menyediakan udara untuk pembakaran,
tapi juga berfungsi mencatu udara untuk keperluan lainnya.
Sistem ini terdiri dari :




Inlet Air System.


Compressor Air System.
Sweep Air System / Atomizing Air System.
Inlet Air System

Komponen utama dari Inlet Air System adalah Filter Udara Masuk (Inlet Filter), Silencer dan
Inlet Guide Vanes.
Disisi masuk Kompresor Utama terpasang saringan udara yang berfungsi untuk mencegah
terbawanya kotoran dari udara luar ke udara dalam kompresor dan turbin. Saringan udara
atau filter ini dapat berupa filter yang dapat berputar atau berganti secara otomatis (Roll-Omatic Filter) maupun filter yang dapat membersihkan diri secara otomatis (Self Cleaning
Filter).
Filter yang dapat berputar secara otomatis tidak memiliki fasilitas pembersih, dan apabila
filter sudah menjadi kotor maka filter yang sudah kotor akan digulung dan diganti secara
otomatis dengan filter yang masih bersih. Self Cleaning Filter umumnya berupa cartridge
yang jumlahnya ratusan buah.
Pembersihan filter ini terlaksana secara otomatis apabila perbedaan tekanan udara antara
sebelum dan sesudah filter mencapai besar tertentu, misalnya 3 inch WG. Setelah melalui
filter, udara akan masuk ke silencer yang berfungsi sebagai peredam suara, kemudian masuk
ke Inlet Guide Vanes yang terpasang didalam Inlet Casing sebelum sudu pertama kompresor.
Inlet Guide Vanes ini ada yang fixed (tetap pada posisinya / tidak dapat diatur), dan ada juga
yang dapat diatur (Variable Inlet Guide Vanes).
Penggunaan Variable Inlet Guide Vanes bersama-sama dengan Bleed Valve bertujuan untuk
menghindarkan terjadinya surge pada saat turbin start-up dan shut-down.
Pada saat beban rendah Variable Inlet Guide Vanes berfungsi untuk mengurangi jumlah
udara pembakaran sehingga losses / kerugian panas yang terbuang ke cerobong dapat
dikurangi.
Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

10

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

Compressor Air System

Kompresor Utama yang bertingkat banyak (16 tingkat atau lebih) akan menghasilkan udara
bertekanan tinggi yang bisa mencapai 7 - 14 bar / 435 oC. Udara di dalam kompresor
mengalir secara aksial pada celah-celah sudu tetap dan sudu gerak (fixed blades dan moving
blades) yang makin ke belakang celahnya semakin kecil.
Pada moving blades terjadi peningkatan kecepatan dan tekanan udara, sedangkan pada fixed
blades terjadi peningkatan tekanan udara.
Udara berkecepatan tinggi ini akan masuk ke Combustion Chamber dan kecepatannya
berkurang dengan drastis sehingga Energi Kinetik udara berkecepatan tinggi tadi diubah
menjadi Tekanan Statis. Tekanan udara diperlukan untuk mengatasi hambatan pada saluran
udara/gas hasil pembakaran.

Sistem Udara Atomizing ( Atomizing Air System )

Untuk menghasilkan proses pembakaran yang sempurna, maka bahan bakar harus
diatomisasikan dulu.
Atomisasi bahan bakar didalam turbin gas dilaksanakan oleh nozzle bahan bakar dengan
bantuan udara
Atomisasi dengan udara dilaksanakan dengan memberikan udara atomisasi (Atomizing Air),
seperti yang diperlihatkan pada Gambar 1.5.
Pada periode start-up, udara atomisasi diambil dari tangki udara atomisasi yang dilengkapi
dengan kompresor torak, atau dapat juga diambil dari tangki udara instrumen yang juga
dilengkapi kompresor torak.
Sedangkan apabila tekanan udara dari kompresor utama sudah cukup tinggi, maka udara
atomisasi atau sweeping diambil dari kompresor utama.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

11

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

Gambar 1.5 : Sistem Udara Atomizing

1.5. Pengaruh zat-zat yang terkandung di dalam bahan bakar.


Selain mengandung unsur-unsur yang menghasilkan panas pada proses pembakaran, di dalam
bahan bakar juga terdapat unsur-unsur yang merugikan, diantaranya logam yang larut di dalam
minyak, logam yang larut di dalam air yang ada di dalam minyak, atau unsur logam yang ada di
dalam gas.
Logam yang larut di dalam minyak adalah Sodium (Na), Vanasdium (V), Potassium (K), Lead
(Pb), Zink (Zn) dan Magnesium (Mg), sedangkan logam yang larut di dalam air berupa Sodium
(Na0), Potassium (K) dan Calcium (Ca). Disamping itu terdapat pulaunsur abu/ash.
Unsur-unsur kimia yang tidak diinginkan berada di dalam bahan bakar gas diantaranya Sodium
(Na), Vanadium (V), Potassium (K), Lead (Pb) dan Calcium (Ca).
Pengaruh unsur-unsur kimia tersebut terhadap Turbin Gas adalah akan menimbulkan korosi serta
pengotoran.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

12

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

Vanadium dapat membentuk senyawa V2O5 yang mencair pada temperatur 690 C dan
menyebabkan korosi temperatur tinggi, sehingga kadar Vanadium dibatasi sampai maksimum 0,5
ppm. Untuk mengurangi pengaruh Vanadium dapat ditambahkan unsur Mg dengan perbandingan
Mg : V = 3 : 1, yang bertujuan untuk menaikkan temperatur pencairan senyawa Vanadium
sehingga lebih tinggi dari temperatur kerja turbin gas, serta untuk memudahkan terlepasnya kerak
apabila turbin dimatikan.
Sodium dan Potassium, bersama Vanadium dapat membentuk senyawa yang mencair pada
temperatur 560 C bahkan bersama Sulfur dapat mencair pada temperatur kerja turbin sekitar 650
C, yang akan menyebabkan korosi. Kadar Sodium dan Potassium dibatasi maksimum 1 ppm.
Calcium tidak menyebabkan korosi tapi dapat memmbentuk kerak yang sangat keras dan sulit
dibersihkan. Kadar Calcium dibatasi maksimum 1 ppm.
Lead dapat menimbulkan korosi dan mengurangi efektifitas Magnesium terhadap Vanadium.
Kadar Lead dibatasi maksimum 0,2 ppm.
Sulfur menyebabkan korosi pada temperatur rendah, misalnya pada stack, serta meningkatkan
korosi akibat Sodium dan Potassium. Sebaiknya unsur Sulfur dibatasi maksimum 2 % berat, atau
apabila digunakan bahan bakar dengan kadar Sulfur tinggi maka temperatur gas bekas yang
keluar dari cerobong harus lebih tinggi ahar tidak terjadi korosi, dengan resiko efisiensi turbin
berkurang.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

13

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

2. SISTEM PELUMASAN PLTG.


2.1. Prinsip Dasar Pelumasan.
Dua benda yang permukaannya saling kontak antara satu dengan lainnya akan menimbulkan
gesekan. Gesekan adalah gaya yang cenderung menghambat atau melawan gerakan. Apabila
gesekan dapat mengakibatkan kedua benda tersebut tidak dapat bergerak relatif satu terhadap
lainnya maka jenis gesekannya dinamakan Gesekan Statik, contohnya gesekan yang terjadi
antara mur dengan baut. Sedangkan apabila kedua benda masih dapat bergerak relatif satu
terhadap lainnya dinamakan Gesekan Dinamik atau Gesekan Kinetik, seperti gesekan antara
poros dengan bantalan. Gesekan dinamik akan menimbulkan keausan material.
Keausan material dapat dikurangi dengan mengurangi besarnya gaya akibat gesekan yaitu
dengan cara menghindarkan terjadinya kontak langsung antara dua permukaan benda yang
bergesekan. Salah satu cara untuk menghindarkan kontak langsung diantara dua benda yang
bergesekan adalah dengan menyisipkan minyak pelumas diantara kedua benda tersebut. Cara
ini dinamakan melumasi atau memberi pelumasan.
Prinsip pelumasan dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu:

Pelumasan Batas.

Adalah pelumasan dimana permukaan kedua benda yang bergesekan dipisahkan oleh lapisan
pelumas yang sangat tipis sehingga pada beberapa lokasi masih terjadi gesekan diantara kedua
benda tersebut. Lihat Gambar 2.1A.

Pelumasan Film.

Dengan memberikan lapisan minyak pelumas yang lebih tebal (berupa film) diantara kedua
benda yang bergesekan, tidak lagi terjadi gesekan diantara kedua benda tersebut. Prinsip
pelumasan yang baik adalah pelumasan film.

Fungsi utama minyak pelumas adalah untuk pelumasan, sedangkan fungsi lain yang tak kalah
pentingnya adalah untuk pendingin, perapat, mengurangi korosi, peredam kejut dan kontrol.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

14

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

Gambar 2.1: Pelumasan Batas (A) dan Pelumasan Film (B)

Sebagai Pendingin.

Gesekan akan menimbulkan panas yang apabila berlebihan dapat menimbulkan kerusakan
material. Minyak pelumas akan menyerap panas tersebut untuk dibawa dan dibuang di sistem
pendingin minyak pelumas atau ke udara luar.

Sebagai Perapat.

Pelumas dapat difungsikan sebagai perapat, misalnya untuk mencegah bocornya hydrogen dari
poros alternator ke udara luar.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

15

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

Untuk mengurangi korosi.

Pelumas dapat mengurangi laju korosi karena membentuk lapisan pelindung pada permukaan
logam sehingga kontak langsung antara zat penyebab korosi dengan permukaan logam dapat
dihindari atau dikurangi.

Sebagai Peredam Kejut.

Beban kejut dapat terjadi pada komponen mesin, diantaranya pada roda gigi. Lapisan minyak
pelumas akan memperkecil benturan diantara permukaan roda gigi yang saling bersinggungan,
sehingga dapat meredam getaran dan noise.

2.2 Jenis Pelumas.


Sesuai wujudnya, pelumas dapat dibedakan menjadi Pelumas Cair (Minyak Pelumas), Pelumas
Semi Padat dan Pelumas Padat.

 Pelumas Cair (Minyak Pelumas).


Jenis Pelumas Cair umumnya terbuat dari minyak mineral yang merupakan produk sampingan
dari penyulingan minyak bumi, atau ada juga yang dibuat dari bahan sintetis.
Di pasaran banyak tersedia berbagai merek minyak pelumas. Untuk mengetahui minyak pelumas
mana yang cocok digunakan, perlu diketahui karakteristik minyak pelumas tersebut yang
merupakan gambaran dari sifat-sifat minyak pelumas.
Diantara sifat-sifat minyak pelumas yang penting diketahui adalah:
Viskositas (Viscosity) atau kekentalan merupakan suatu ukuran yang menyatakan besarnya
tahanan cairan terhadap aliran, atau kemampuan cairan untuk mengalir. Viskositas akan
tergantung dari temperatur. Apabila temperaturnya naik, maka viskositasnya turun. SAE
membedakan viskositas minyak pelumas dengan angka. Angka SAE yang lebih tinggi
menunjukkan kekentalan yang lebih tinggi juga (lebih kental).
Indek Viskositas (Viscosity Index) merupakan ukuran dari laju perubahan kekentalan minyak
pelumas terhadap perubahan temperatur. Indek Viskositas dinyatakan dengan angka 0 sampai
angka 100. Angka yang lebih kecil berarti minyak pelumas tersebut akan lebih cepat perubahan
viskositasnya apabila temperaturnya berubah.

Titik Tuang (Pour Point) adalah temperatur tertinggi dimana minyak pelumas mulai membeku
apabila temperaturnya diturunkan. Minyak pelumas yang digunakan pada temperatur rendah
harus memiliki Titik Tuang yang rendah.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

16

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

Titik Nyala (Flash Point), adalah temperatur terendah dimana uap minyak pelumas akan
terbakar apabila diberi sumber panas. Pembakaran berhenti apabila sumber panasnya
dihilangkan. Minyak pelumas harus memiliki Titik Tuang yang rendah.

Titik Bakar (Fire Point), adalah temperatur terendah dimana uap minyak pelumas akan terbakar
dengan sendirinya dan terus terbakar walaupun tidak diberi sumber panas dari luar.
2.3. Aditif Minyak Pelumas.
Aditif atau bahan tambahan yang dicampurkan kedalam minyak pelumas bertujuan untuk
memperbaiki sifat pelumas tersebut. Aditif yang banyak digunakan diantaranya adalah:
Pour Point Depressants.
Bertujuan untuk menurunkan titik tuang.
Oxidation Inhibitor.
Adalah zat anti oksidasi agar minyak pelumas tidak membentuk asam yang akan mengakibatkan
korosi dan meningkatkan kekentalannya.
Viscosity Index Improver.
Digunakan untuk memperbaiki indek viskositas.
Antifoam Agent.
Adalah zat aditif yang dapat memecah gelembung udara yang timbul pada minyak pelumas,
terutama pada sistim sirkulasinya.
Rust and Corrosion Inhibitor.
Untuk mengurangi timbulnya karat dan korosi dan karat.
Extreme Pressure Additive.
Berguna untuk meningkatkan kemampuan minyak pelumas dalam menahan desakan, sehingga
lapisan minyak pelumas tidak mudah terdesak meninggalkan permukaan yang perlu
mendapatkan pelumasan.
Detergent
Adalah sebagai aditif pembersih yang dapat mencegah atau mengurangi terbentuknya
kotoran/kerak pada bagian yang dilumasi serta membuang kotoran yang sudah terbentuk.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

17

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

Emulsifying Agent.
Berguna untuk membungkus/menyelubungi partikel air yang ada di dalam minyak pelumas, agar
kontak antara partikel air dengan permukaan material yang dilumasi terhindarkan (mencegah
korosi).
Emulsion Breaker.
Untuk mempercepat terpisahnya partikel air dari minyak pelumas sehingga dapat lebih mudah
untuk membuang partikel air tersebut, misalnya pada proses pemurnian minyak pelumas/
centrifuges.
2.4. Pemurnian Minyak Pelumas.
Pada sistem pelumasan selalu terbuka kemungkinan tercemarnya pelumas oleh kontaminasi
sehingga kondisi minyak pelumas menjadi menurun. Agar kondisinya tetap baik sehingga masa
pakainya menjadi panjang maka minyak pelumas harus mendapat perawatan yang baik. Diantara
metode perawatan untuk pemurnian minyak pelumas yang sering dilakukan adalah:.

Penggantian sebagian minyak pelumas secara periodik.

Cara ini dilakukan dengan mengambil sebagian minyak pelumas (+/- 10 %) dari dalam sistem
pelumasan lalu menggantinya dengan yang baru. Cara ini efisien untuk mesin-mesin kecil yang
menggunakan volume pelumas sedikit, tapi akan menjadi boros untuk sistem yang besar. Cara ini
juga tidak efektif untuk minyak pelumas yang sudah teroksidasi.

Filtrasi.

Metoda ini dilakukan dengan cara mengeluarkan seluruh minyak pelumas dari dalam sistem
pelumasan untuk selanjutnya sistem diisi minyak pelumas baru atau minyak pelumas lama yang
sudah diproses dengan menggunakan filter. Kerugian cara ini adalah mesin harus dimatikan
ketika dilakukan penggantian minyak pelumas.

Oil Conditioning.

Oil Conditioning menggunakan Oil Conditioner yang berupa instalasi pemulih kondisi minyak
pelumas. Instalasi ini dapat terpasang secara tetap dan merupakan bagian dari sistem pelumasan,
atau instalasi mobile (dapat dipindah).
Perlengkapan yang ada di dalam instalasi Oil Conditioner diantaranya Pompa sirkulasi, Mesh
Filter, Magnetic Filter, Heater, Gas Extractor dan Centrifuges.
Instalasi Oil Conditioner hihubungkan dengan tangki minyak pelumas pada sistem pelumasan.
Secara kontinyu, sebagian kecil minyak pelumas disirkulasikan melalui
instalasi Oil
Conditioner. Minyak pelumas yang sudah bersih langsung dikembalikan ke tangki, atau disimpan
di dalam tangki cadangan. Bila level minyak pelumas di dalam tangki turun, maka ditambahkan
minyak pelumas baru atau minyak pelumas yang sudah dibersihkan.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

18

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

2.5. Sistem Pelumasan.


Lihat Gambar 2.2.
Sistem pelumasan diperlukan untuk mensupply minyak pelumas yang bersih dengan tekanan
dan suhu tertentu kedalam bantalan turbin, bantalan alternator, bantalan kompresor, bantalan
Load Gear, sistem kontrol, sistem pengaman dan lain-lainnya.

Starting Packages (misalnya Starting Diesel beserta perlengkapannya) ada yang mempunyai
sistem pelumasan tersendiri dan ada juga yang mempunyai sistem pelumasan yang menjadi
satu dengan Sistem Pelumasan Utama.
Peralatan Sistem Pelumasan Utama biasanya dipasang pada Engine Bedplate dan terdiri dari:

Lube Oil Reservoir, adalah tangki yang dapat menampung sejumlah besar minyak
pelumas ( 5 - 15 m3 ).
Reservoir ini harus cukup besar agar minyak pelumas dapat diam / berhenti sesaat
didalam tanki untuk mengendapkan kotoran-kotoran dan membuang gasnya.
Suhu minyak pelumas selalu di monitor dan dijaga agar tetap pada batas-batas yang
ditetapkan agar proses pelumasan dapat berjalan dengan baik.
Suhu minyak pelumasan di dalam Reservoir juga tidak boleh terlalu rendah karena akan
menghambat pemompaan. Bila suhunya terlalu rendah maka secara otomatis alat
pemanas yang dipasang didalam tangki akan bekerja.

Primary Lube Oil Pump atau Main Lube Oil Pump (Pompa Minyak Pelumas Utama),
berfungsi sebagai pompa minyak pelumas utama dan diputar langsung oleh poros turbin
gas, atau diputar oleh motor listrik AC.
Untuk Primary Lube Oli Pump yang diputar oleh motor listrik, penempatan pompa
adalah didalam reservoir minyak pelumas, sedangkan motor listriknya berada diatas
tutup reservoir.
Pompa ini harus mampu mensupply kebutuhan minyak pelumas dalam keadaan operasi
normal. Sebagai contoh, kapasitas Primary Lube Oil Pump sebesar 2.800 liter per menit
dengan tekanan 6 bar.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

19

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

Secondary Lube Oil Pump atau Auxilliary Lube Oil Pump atau Back-up Lube Oil
Pump, ditempatkan didalam reservoir minyak pelumas dengan motor listrik AC sebagai
penggeraknya dipasang diatas tutup reservoir. Kapasitas dan tekanannya sama dengan
Primary Lube Oil Pump.
Untuk turbin gas yang Primary Lube Oil Pump-nya diputar langsung oleh poros turbin
gas, maka Secondary Lube Oil Pump akan bekerja ketika putaran turbin masih rendah
(saat start-up dan shut-down) dimana tekanan minyak pelumas dari Primary Lube Oil
Pump belum mencukupi. Bila putaran turbin cukup tinggi, maka secara otomatis
Secondary Lube Oil Pump akan stop
Pada turbin gas yang Primary Lube Oil Pump diputar oleh motor listrik, maka
Secondary Lube Oil Pump berfungsi sebagai cadangan.

Secondary Lube Oil Pump juga akan bekerja secara otomatis bila tekanan minyak
pelumas turun oleh karena suatu sebab.

Emergency Lube Oil Pump, pemasangan pompa ini sama seperti pemasangan
Secondary Lube Oil Pump.
Emergency Lube Oil Pump diputar oleh motor listrik DC dan bekerja bila tegangan
listrik AC hilang dan atau tekanan minyak pelumas turun mencapai batas yang
ditetapkan.
Baik kapasitas maupun tekanan minyak pelumas dari Emergency Lube Oil Pump lebih
rendah dibanding dari Primary Lube Oil Pump, maka hasil pemompaannya akan
langsung dialirkan kedalam bantalan-bantalan tanpa melalui Lube Oil Cooler.
Emergency Lube Oil Pump pada umumnya hanya digunakan apabila turbin tidak
dibebani serta putarannya sangat rendah (diputar turning gear/Ratchet).

Lube Oil Cooler, atau Pendingin Minyak Pelumas, biasanya terdiri dari dua unit, salah
satunya beroperasi dan yang lainnya stand-by, dan menggunakan media pendingin
udara atau air.
Lube Oil Cooler dengan media pendingin air akan lebih kecil dimensinya sehingga
sedikit memakan tempat dibandingkan dengan yang menggunakan media pendingin
udara.
Lube Oil Cooler berfungsi untuk mendinginkan minyak pelumas yang sudah ditampung
didalam reservoir dan akan dialirkan kembali ke bantalan-bantalan.
Untuk Lube Oil Cooler yang menggunakan media pendingin udara, setiap unit cooler
memiliki dua buah kipas (fan) dengan kapasitas 2 x 50%, sehingga lebih hemat dalam
pemakaian listrik pada saat suhu minyak lumas tidak terlalu tinggi.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

20

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

Vapor Extractor, adalah sejenis exhaust fan yang berfungsi untuk mengeluarkan gasgas yang ada didalam reservoir minyak pelumas, dan membuat sedikit vakum di
reservoir.
Kondisi vakum ini akan berguna untuk membantu mencegah kebocoran minyak
pelumas dari celah labirin pada ujung bantalan, dan mempercepat penguapan gas-gas
yang terkandung didalam minyak pelumas.

Detektor Suhu, Detektor Tekanan dan Detektor Level, untuk memonitor agar suhu,
tekanan maupun level sesuai dengan yang ditetapkan.
Disamping detektor-detektor tersebut dilengkapi juga dengan signal alarm dan peralatan
trip.
Salah satu contoh batas-batas suhu dan tekanan minyak pelumas adalah sebagai berikut
:

Suhu minyak pelumas di dalam reservoir ;

Minimum

Suhu minyak pelumas masuk bantalan

Suhu minyak pelumas keluar bantalan

Tekanan minyak pelumas masuk bantalan

: 27 oC.

Normal
Maksimum
Maksimum

: 45 - 65 oC.
: 70 oC.
: 90 oC

Normal
Minimum

: 1,5 bar.
: 1,0 bar (alarm)
0,8 bar (trip)

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

21

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

Gambar 2.2 : Sistem Pelumasan

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

22

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

Gambar 2.3 : Contoh lain Sistem Pelumasan

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

23

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

Kontrol Hidrolik
Beberapa unit PLTG menggunakan kontrol hidrolik (Hydraulic Controller) untuk
mengatur beban turbin gas.
Salah satu contoh Kontrol Hidrolik adalah seperti pada Gambar 2.4.
Sistem ini memanfaatkan sistem minyak pelumas atau menggunakan minyak pelumas
sebagai minyak hidrolik, baik untuk mengontrol pembukaan katup bahan bakar (Fuel
Control Valve) maupun untuk mentrip turbin apabila terjadi overspeed (Overspeed Trip
Solenoid Valve).

Gambar 2.4 : Sistem Kontrol Hidrolik


Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

24

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

3. SISTEM BLEEDING DAN PENDINGIN PLTG.


3.1. Sistem Bleeding dan Pendingin Turbine Blades

Compressor Bleed Air System


Rumah kompresor (Compressor Casing) pada Kompresor Utama (Kompresor Aksial)
memiliki satu atau beberapa saluran pembuangan udara yang disebut Bleeding.
Bleeding ini difungsikan saat kompresor start-up atau shut-down untuk membuang sebagian
udara dari kompresor pada waktu putaran kompresor masih rendah. Pembuangan udara
tersebut perlu dilakukan untuk menghindari terjadinya surge didalam kompresor tersebut.

Turbine Cooling Air System


Akibat terjadinya proses pembakaran didalam Combustor Basket (Combustor Liner) yang
selanjutnya gas panas hasil pembakaran dialirkan masuk ke dalam turbin gas, maka turbine
blades, diaphragm dan lain-lain yang dilalui gas panas akan mendapat pemanasan dengan
temperatur tinggi.
Untuk mencegah agar tidak terjadi overheating (panas berlebihan) pada bagian turbin gas
yang dilalui oleh gas panas tersebut maka haruslah ada media pendingin.
Media pendingin yang digunakan adalah udara bertekanan yang diambil dari kompresor
utama.
Salah satu contoh sistem pendingin turbine blades adalah seperti pada Gambar 3.1 dan
Gambar 3.2, sebagai berikut:
Semua moving blades (rotor blades) memperoleh udara pendingin dari sisi discharge
kompresor dengan terlebih dahulu dilewatkan melalui Turbine Rotor Air Cooler yang
didinginkan oleh udara luar atau oleh air.
Fixed Blades atau Diaphragm tingkat pertama akan mendapatkan suhu dan tekanan yang
paling tinggi, oleh karenanya diberikan udara pendingin dari kompresor utama tingkat
terakhir yang bertekanan paling tinggi, kemudian udara tersebut didinginkan terlebih dahulu
sebelum dipakai sebagai pendingin, atau menggunakan udara pendingin yang sama seperti
untuk moving blades.
Untuk diaphragm tingkat kedua, diambil udara pendingin dari kompresor utama tingkat ke
tujuh, sedangkan untuk pendingin diaphragm tingkat ketiga diambil dari kompresor utama
tingkat ketigabelas.
Pendinginan moving blades dan diaphragm dilakukan dengan mengalirkan udara ke dalam
rongga yang ada di dalam moving blades dan diaphragm, kemudian udara tersebut keluar dari
permukaan blades dan melapisi permukaan blades tersebut sehingga tidak terjadi kontak
langsung antara material blades dengan gas panas. Lihat gambar 3.3

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

25

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

Gambar 3.1 : Sistem Pendingin Turbine Blades

Gambar 3.2 : Supply Udara Pendingin Rotor Turbin

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

26

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

Gambar 3.3 : Lubang / Rongga pada Turbine Blades dan Diaphragm

3.2. Sistem Pendingin Pelumas.


Sistem Pendingin Pelumas merupakan bagian dari Sistem Pelumasan seperti pada Gambar
2.2 dan Gambar 2.3.
Pada umumnya sistem ini memiliki dua pendingin yang bekerja bergantian (2 X 100 %)
atau bekerja serempak (2 X 50 %) menggunakan media pendingin udara atau air.
Pengaturan temperatur minyak pelumas dilakukan dengan mengatur aliran air pendingin
atau mengoperasikan/tidak mengoperasikan fan, dikombinasikan dengan mengatur/membypass aliran minyak pelumas yang melewati pendingin tersebut.
Temperatur minyak pelumas perlu diatur agar viskositas minyak pelumas sesuai dengan
kebutuhannya.
Air yang digunakan untuk pendingin minyak pelumas diperoleh dari Sistem Pendingin
Bantu.
3.3. Sistem Pendingin Alternator.
Beberapa Alternator PLTG didinginkan oleh udara yang disirkulasikan secara tertutup.
Udara pendingin ini didinginkan lagi oleh udara luar atau oleh air. Dengan cara ini
kelembaban udara luar tidak masuk ke dalam alternator.
Pendinginan yang lebih efektif dan lebih efisien adalah menggunakan gas hidrogen yang
disirkulasikan secara tertutup, kemudian hidrogen didinginkan lagi oleh air yang diperoleh
dari Sistem Pendingin Bantu. Gas hidrogen diperoleh dari Hydrogen Plant atau disupply
secara botolan, sedangkan air pendinginnya diperoleh dari Sistem Pendingin Bantu.
Walaupun gas hidrogen memiliki sifat pendinginan yang lebih baik dibanding udara,
penggunaannya harus extra hati-hati karena apabila hidrogen bercampur dengan udara pada
konsentrasi tertentu akan menimbulkan ledakan.
Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

27

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

4. SISTEM PENCUCI KOMPRESOR.


Fungsi:
Sistem pencuci kompresor diperlukan untuk membersihkan sudu-sudu kompresor utama dari
kotoran-kotoran berupa debu, garam, hidrocarbon dan sebagainya terutama yang menempel pada
sudu-sudu kompresor beberapa tingkat disisi masuknya.
Kotoran ini akan menurunkan kemampuan kompresor sehingga volume dan tekanan udara yang
dipasok kedalam turbin gas berkurang dan akhirnya menaikkan temperatur gas disisi masuk dan
disisi keluar turbin gas serta menurunkan kemampuan turbin.
Selain akibat adanya kotoran/deposit pada celah laluan udara maupun gas panas, turunnya
kemampuan turbin dapat pula disebabkan oleh:
- Keausan sealing dan ujung sudu.
- Kekasaran permukaan sudu.
- Distorsi
- Kerusakan komponen.
Turunnya kemampuan turbin yang dapat dikoreksi oleh pencucian kompresor adalah yang
diakibatkan oleh adanya kotoran/deposit pada celah laluan udara. Deposit akan meningkatkan
gesekan atau friction loss. Perlu diingat bahwa hasil dari pencucian kompresor tidak akan tampak
nyata apabila pengaruh lain seperti tersebut diatas lebih dominan. Pada umumnya penurunan
kemampuan sebesar 2-3 % adalah normal diakibatkan oleh keausan setelah turbin - kompresor
beroperasi selama 5 tahun. Tentu saja kondisi seperti ini hanya dapat diatasi dengan
melaksanakan overhaul.
Dianjurkan untuk melakukan pencucian kompresor secara berkala agar kemampuan
turbin/kompresor dapat selalu terjaga.
Posedur Pencucian:
Salah satu contoh prosedur pencucian adalah seperti yang diuraikan dibawah ini. Tentu saja
setiap PLTG memiliki prosedur yang berbeda, untuk itu dalam melaksanakan pencucian
kompresor agar mengikuti petunjuk pabrik yang bersangkutan.
Pencucian kompresor dapat dilakukan dengan dua metoda yaitu On Line Cleaning dan Off Line
Cleaning.
Apabila tekanan udara keluar kompresor tidak mengalami kenaikan setelah dilakukan pencucian,
perlu dilaksanakan pemeriksaan kondisi mekanis kompresor tersebut karena mungkin ada
kerusakan.
On Line Cleaning.
On Line Cleaning dilakukan dengan menggunakan air kondensat/air demineral menggunakan
pompa. Lamanya pencucian dianjurkan sebagai berikut:
Untuk PLTG yang terpasang dilokasi perumahan dengan udara lingkungan yang bersih, lakukan
pencucian selama lima menit setiap dua hari.
Untuk PLTG yang terpasang dilokasi industri, lakukan pencucian selama lima menit setiap hari.
Volume aliran air sebanyak 13 - 15 gallon permenit dengan total pemakaian 50 gallon.
Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

28

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

Off Line Cleaning.


Off Line Cleaning dikakukan dengan menggunakan air kondensat atau air kondensat yang
dicampur detergen yang tersedia di tangki penampungan. Air untuk pencucuian ini tidak selalu
harus dicampur detergen. Detergen yang digunakan sesuai dengan yang direkomendasikan,
berupa cairan yang larut di dalam air, mampu membersihkan grease/minyak dari permukaan
logam, tidak mengotori dan tidak menyebabkan kerusakan. Konsentrasinya sekitar 20 %, atau
satu bagian detregen dilarutkan ke dalam empat bagian air.
Prosedur pencuciannya sebagai berikut:
1. Periksa temperatur turbin/kompresor. Temperatur bagian turbin/kompresor tidak boleh
ada yang lebih dari 150 C.
2. Tangki air pencuci diisi air dicampur detergen (bila perlu) sebanyak 50 gallon.
3. Jalankan pompa pencuci dan sirkulasikan air pencuci tersebut sehingga larutan

tercampur

dengan homogen.
4. Jalankan/putar turbin gas/kompresor pada posisi SPIN START DEVICE HOLD. Putaran
sekitar 900 RPM.
5. Sesudah turbin/kompresor berputar (spin) selama 2 menit, alirkan air pencuci ke dalam
kompresor. Volume aliran air 23 - 25 gpm.
6. Sesudah dua menit, hentikan aliran air pencuci, dan stop turbin/kompresor.
7. Putar turbin/kompresor menggunakan turning gear selama 20 menit untuk periode
pengeringan.
8. Tangki air pencuci diisi air tanpa detergen sebanyak 50 gallon.
9. Jalankan pompa pencuci.
10. Jalankan/putar turbin gas/kompresor pada posisi SPIN START DEVICE HOLD.
11. Sesudah turbin/kompresor berputar (spin) selama 2 menit, alirkan air pencuci ke dalam
kompresor. Volume aliran air 23 - 25 gpm.
12. Sesudah air pencuci mendekati habis, stop pompanya.
13. Turbin/kompresor di SPIN terus selama 10 - 20 menit untuk periode pengeringan.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

29

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

5. SISTEM UDARA INSTRUMEN/KONTROL DAN PERAPAT BANTALAN PLTG.


5.1. Sistem Udara Instrument / Kontrol.
Sistem udara instrument/kontrol memperoleh catu udara dari Instrument Air Compressor
berupa kompresor torak. Lihat Gambar 5.1.
Udara yang dikompresikan mengandung air (kelembaban). Untuk mencegah agar air dari udara
ini tidak masuk kedalam peralatan instrumen/kontrol, maka udara tersebut dilewatkan melalui
pengering udara (drier) kemudian disimpan didalam Instrumen Air Receiver (Tank) sebagai
cadangan dan digunakan diantaranya untuk mengontrol:










HP / LP Bleed Valve.
Inlet Guide Vanes
Fuel Oil System Control Valve
Safety Trip System
Lube Oil Temperature Control
Overspeed Trip System
Purge Air Valve
Atomizing Air Isolation Valve
dan lain-lain.

Gambar 5.1 : Sistem Udara Instrumen/Kontrol.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

30

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

5.2. Sistem Udara Perapat Bantalan.


Sistem Udara Perapat Bantalan (Bearing Seal Air System) terutama berfungsi untuk
mencegah bocornya minyak pelumas dari ujung bantalan (celah antara rumah bantalan
dengan poros). Udara perapat diperoleh dari kompresor utama yang diambil dari saluran
bleeding. Udara ini terlebih dahulu didinginkan sebelum digunakan sebagai udara perapat.

6. SISTEM SIKLUS PLTU


Sistem PLTU merupakan bagian kedua dari sistem PLTGU, diantaranya terdiri dari :

HRSG.
Sistem Uap.
Sistem Air Kondensat.
Sistem Air Pengisi.
Sistem Drain.
Sistem Air Pendingin.
Sistem Minyak Pelumas Turbin.

HRSG akan dibahas tersendiri sehingga tidak dibahas didalam topik ini.
Dua macam sistem siklus PLTU pada PLTGU yang banyak ditrapkan adalah seperti pada
Gambar 6.1 atau Gambar 6.3 dan Gambar 6.2 atau Gambar 6.4.
Pada Gambar 6.1 (Gambar 6.3) sistem memiliki deaerator khusus, sedangkan pada Gambar 6.2
(Gambar 6.4) deaeratornya digabungkan dengan drum tekanan rendah (LP Drum).
Berbagai pabrik pembuat PLTGU mendesain kapasitas, tekanan dan temperatur kerja yang
berbeda-beda disesuaikan dengan kebutuhannya. Demikian juga konfigurasinya ada yang
memiliki konfigurasi 1-1-1 (satu turbin gas, satu HRSG, satu turbin uap), 2-2-1 (dua turbin gas,
dua HRSG, satu turbin uap) atau konfigurasi 3-3-1 (tiga turbin gas, tiga HRSG, satu turbin uap).
Satu contoh parameter operasi PLTGU dengan konfigurasi 2-2-1 sebagai berikut :


Tekanan Uap pada Sistem Uap Tekanan Rendah

: 7 bar abs.

Temperatur Uap pada Sistem Uap Tekanan Rendah

: 197 oC.

Aliran Uap pada Sistem Uap Tekanan Rendah

: 2 x 12 kg/s

Tekanan Uap pada Sistem Uap Tekanan Tinggi

: 85 bar abs.

Temperatur Uap pada Sistem Uap Tekanan Tinggi

: 527 oC.

Aliran Uap pada Sistem Uap Tekanan Tinggi

: 2 x 61 kg/s

Kapasitas Turbin-Generator (PLTU)

: 156 MW

Kapasitas Turbin-Generator (PLTU + PLTG)

: 420 MW

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

31

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

Gambar 6.1 : Siklus PLTU pada PLTGU dengan Deaerator Khusus.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

32

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

Gambar 6.2 : Siklus PLTU Pada PLTGU tanpa Deaerator Khusus.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

33

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

Gambar 6.3. Satu Blok PLTGU 2-2-1.

Gambar 6.4. Satu Blok PLTGU 3-3-1.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

34

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

6.1. Sistem Uap Utama.


Sistem Uap Utama (Main Steam System) menghubungkan HRSG dengan Turbin Uap. Sistem
ini terbagi dua yaitu LP Main Steam System ( Sistem Uap Utama Tekanan Rendah ) dan HP
Main Steam System ( Sistem Uap Utama Tekanan Tinggi ).
Lebih lanjut, sistem uap utama ini berfungsi untuk


Memasok turbin dengan uap tekanan tinggi maupun tekan rendah yang dihasilkan oleh
HRSG.
Membuang kelebihan produksi uap dari HRSG ke Condenser (misalnya ketika turbin
trip).
Memasok Deaerator / Feed Water Tank dan Auxilliary Steam System dengan uap tekanan
rendah selama unit beroperasi, apabila tersedia Deaerator terpisah.

Sistem Uap Utama Tekanan Rendah ( LP Main Steam System )


Lihat Gambar 6.3 dan Gambar 6.4.
Uap tekanan rendah yang diproduksi oleh LP Evaporator ( Evaporator Tekanan Rendah )
dialirkan melalui Superheater (ada HRSG yang tidak memiliki LP Superheater) menuju LP
Turbine (Turbin Tekanan Rendah). Uap tekanan rendah dari semua HRSG pada satu Blok
terlebih dahulu digabung pada sebuah header untuk selanjutnya masuk ke LP Turbine melalui
stop valve. Tersedia juga saluran by pass yang akan memby-pass uap langsung ke Condenser
apabila perlu.
Setelah Main Stop Valve ada satu saluran pengambilan uap untuk sampling/memeriksa
kualitas uap, dan saluran drain serta venting untuk keperluan pengeringan dan pembuangan
uap dari dalam pipa.
Selanjutnya uap mengalir melalui non return valve dan flow meter, dan kemudian aliran uap
bercabang tiga yaitu menuju LP Turbine, Deaerator dan Condensor (by-pass).
Main Stop Valve berguna untuk memblokir salah satu HRSG apabila tidak dapat
dioperasikan karena sesuatu sebab.
Uap yang menuju Deaerator adalah Support Steam digunakan untuk membuang gas-gas yang
ada didalam air sekaligus sebagai pemanas.
Deaerator dipasok uap dari beberapa HRSG dalam satu Blok melalui Pressure Balance Line
dan Non Return Valve (Gambar 6.3). Tekanan uap didalam Deaerator dikontrol secara
otomatis.
Pada pipa uap sebelum turbin terpasang Steam Strainer untuk menyaring kotoran-kotoran
untuk menghindari terjadinya kerusakan pada turbin. Strainer ini juga berfungsi sebagai titik
pertemuan antara dua atau lebih pasokan uap yang datang dari semua HRSG dalam satu Blok
sehingga tekanan dan temperatur uap menjadi sama.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

35

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

Sistem Uap Utama Tekanan Tinggi ( HP Main Steam System )


Lihat Gambar 6.3.
Uap panas lanjut tekanan tinggi (Superheated Steam) setelah memperoleh pengaturan
temperatur pada Desuperheater dialirkan langsung menuju header yang juga menampung uap
dari HRSG yang lain. Dari header, melalui Stop Valve uap dialirkan masuk ke HP Turbine.
Pada HP Main Steam System juga tersedia by-pass untuk membuang uap langsung ke
Condenser apabila diperlukan. Instalasi HRSG seperti contoh pada Gambar 6.3 memiliki
Spray Desuperheater hanya pada HRSG-2 saja. Desuperheater ini mengontrol temperatur uap
yang akan masuk ke dalam HP Turbine. Sebelum uap masuk ke Main Steam Shut-off Valve
tersedia saluran bypass untuk membuang uap ke Condenser apabila diperlukan, juga
disediakan saluran uap pemanas untuk menjaga agar pipa bypass tetap panas sehingga tidak
terjadi Thermal Shock apabila suatu saat katup bypass terbuka. Main Steam Shut-off Valve
dilengkapi dengan bypass valve yang berukuran kecil untuk mempermudah pengoperasian
(membuka valve) saat start-up. Setelah Main Steam Shut-off Valve tersedia Steam Strainer
yang fungsinya selain untuk menyaring kotoran juga untuk menyamakan tekanan dan
temperatur uap.
6.2. Sistem Air Kondensat ( Condensate System )
Ada dua macam sistem kondensat yang akan diuraikan disini yaitu sistem air kondensat yang
tidak memiliki deaerator khusus dan sistem air kondensat yang memiliki deaerator khusus.
Sistem Air Kondensat tanpa Deaerator Khusus.
Lihat Gambar 6.4.
Pada prinsipnya sistem air kondensat berfungsi untuk mengalirkan air hasil kondensasi di
Condenser menuju Deaerator / Feed Water Tank. Air kondensat dari Hotwell / Condenser
dipompakan oleh CEP (Condensate Extraction Pump) menuju LP Drum melalui LP Economizer.
Disini LP Drum berfungsi juga sebagai Deaerator untuk membuang gas-gas yang ada didalam air
kondensat.
Sistem Air Kondensate dengan Deaerator Khusus.
Lihat Gambar 6.3
Sistem ini berfungsi untuk mengeluarkan air kondensat dari Condenser dan menyalurkannya ke
Deaerator/Feed Water Tank melalui Condensate Preheater, memanasi Condensate sebelum
masuk ke Deaerator dan mengontrol temperatur kondensate sebelum masuk ke dalam
Condensate Preheater.
Kondensate Utama :
Uap yang sudah dikondensasikan di kondenser bersama dengan kondensat dari Drain dan air
penambah (Make-up Water) dikumpulkan didalam Hotwell untuk dipompakan oleh Condensate
Extraction Pump menuju Deaeator / Feed water Tank. Terlebih dahulu kondensat ini dipanasi di
Condensate Preheater (didalam HRSG). Apabila operasi PLTGU menggunakan bahan bakar
minyak sebelum masuk ke dalam Condensate Preheater dilakukan pemanasan awal pada External
Preheater untuk mencegah kemungkinan terjadinya korosi pada Condensate Preheater.
Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

36

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

Sumber panas untuk External Preheater adalah air panas dari Outlet HP Economizer. Pipa dari
tiga buah pompa kondensat (Condensate Extraction Pump, 3 x 50% ) digabungkan pada sebuah
header. Pompa-pompa ini dilengkapi dengan saluran minimum flow yang mengembalikan air
yang dipompakan menuju kondenser untuk mencegah terjadinya kerusakan apabila tidak ada
aliran didalam Condensate System.
Air kondensat juga digunakan untuk mendinginkan uap perapat pada Gland Steam Condenser,
sambil memanasi air kondensatnya. Besarnya aliran air kondensat yang masuk kedalam
Condensate Preheater dikontrol oleh Control Valves. Titik pengukuran temperatur tersedia
sebelum dan sesudah Condensate Preheater dan juga ada katup bypass yang dipasang paralel
dengan Condensate Preheater sehingga temperatur kondensat keluar Condensate Preheater dapat
dijaga.
Mengontrol temperatur kondensat masuk Condensate Preheater.
Lihat Gambar 6.3. Temperatur kondensat masuk Condensate Preheater harus dijaga agar tidak
berada dibawah titik pengembunan flue gas agar tidak terjadi korosi. Selama Turbin Gas
beroperasi menggunakan bahan bakar gas, External Preheater tidak diaktifkan. Untuk menjaga
agar temperatur air kondensat yang masuk kedalam Condensate Preheater tetap tinggi (
60 oC ), diberikan campuran air dari Feed Water Tank yang dipompakan oleh Condensate
Circulating Pump ( 2 x 100% ). Apabila temperatur kondensat yang akan masuk Condensate
Preheater belum mencapai temperatur yang dikehendaki walaupun sudah diberi tambahan dari
Condensate Circulating Pump, maka sebagian air kondensat dibypass tidak melalui Condensate
Preheater. Ketika Turbin Gas beroperasi menggunakan bahan bakar minyak, Condensate
Circulating Pump dan External Preheater dioperasikan. Air kondensat yang datang dari
kondenser dipanasi didalam External Preheater menggunakan air dari HP Ecomonizer.
Temperatur air kondensat yang akan masuk Condensate Preheater harus diatas temperatur
kondensasi flue gas. Apabila temperatur yang diinginkan belum tercapai juga Condesate
Circulating Pump dan Bypass kondensat dioperasikan.
Mengontrol temperatur kondensat masuk Deaerator.
Temperatur kondensat masuk Deaerator diatur sedikit dibawah temperatur feedwater tank (
perbedaannya 7 oC ). Apabila perbedaannya kurang dari yang ditentukan, akan dialirkan air
yang lebih dingin dari by-pass kondensat.
Condensate Circulating System.
Sisi discharge Condensate Circulating Pump digabungkan dalam satu header. Pompa ini
dilengkapi dengan minimum flow yang airnya dikembalikan ke Deaerator / Feed Water Tank.
Pompa Kondensate. ( Condensate Extraction Pump )
Pompa kondensat digunakan untuk mengeluarkan air hasil pengembunan uap di Condenser dapat
terdiri dari dua pompa ( 2 x 100% ) atau tiga pompa ( 3 x 50% ). Untuk mencegah kerusakan
akibat aliran terlalu sedikit, pompa ini dilengkapi dengan saluran minimum flow, dengan
mengembalikan air ke Condenser.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

37

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

6.3. Sistem Air Pengisi ( Feed Water System)


Lihat Gambar 6.4. LP Drum berfungsi juga sebagai Deaerator dan Feed Water Tank. Air dari LP
Drum oleh HP Transfer Pump (identik dengan Feed Water Pump) melalui Economizer menuju
HP Drum. System seperti ini lebih sederhana dibandingkan dengan system yang memiliki
Deaerator / Feed Water Tank terpisah, akan tetapi memerlukan kontrol yang lebih baik dan lebih
rumit. Gambar 6.9. memperlihatkan sistem air pengisi yang memilih Deaerator/Feed Water
Tank terpisah. Sistem ini terdiri dari Deaerator/Feed Water Tank, HP Feed Water Pump System,
HP Feed Water Piping System, Desuperheating Spray System, LP Feed Water Pump System
dan LP Feed Water Piping System.
Deaerator / Feed Water Tank.
Deaerator menampung air kondensat dari Condensate Extraction Pump yang telah dipanasi di
External Preheater dan Condensate Preheater. Fungsi utama dari Deaerator adalah membuang
kandungan gas yang ada didalam air kondensat sambil memanasinya. Air yang sudah dipanasi
ditampung didalam Feed Water Tank yang berada dibawahnya. Uap pemanas untuk Deaerator
diambil dari LP Main Steam Piping. Selama start-up, uap pemanas diambil dari Auxilliary
Steam Piping. Deaerator dilengkapi dengan safety valve untuk mencegah overpressure.
HP Feed Water Pump System.
Feed Water Pump terdiri dari dua grup yaitu LP Feed Water Pump dan HP Feed Water Pump.
Setiap grup terdiri dari dua pompa atau tiga pompa yang berupa multistage pump. HP dan LP
Feed Water Pump beroperasi pada tekanan yang lebih tinggi dari tekanan didalam HP dan LP
Drum. Disisi hisap pompa dipasang safety valve untuk mencegah tekanan lebih pada pompa
yang tidak beroperasi akibat membaliknya aliran air dari saluran minimum flow pada saat terjadi
kegagalan operasi. Pompa-pompa ini dilengkapi dengan saluran minimum flow.
HP Feed Water Piping System.
Feed Water disalurkan dari Feed Water Tank ke Feed Water Pump melalui pipa terpisah yang
dilengkapi dengan saringan. Discharge dari semua Feed Water Pump disatukan didalam sebuah
header. Dari header ini feed water HP Drum HRSG melalui Control Valve dan flow meter. Ada
unit yang memiliki satu Control Valve, ada juga yang memiliki dua Control Valve dimana satu
Control Valve bekerja untuk range 0 - 30% beban dan Control Valve lainnya bekerja pada range
30 - 100% beban.
Desuperheating Spray System.
Dari Feed Water Piping System dicabangkan satu saluran pemipaan untuk Desuperheater yang
berguna untuk mengontrol temperatur uap yang akan masuk ke HP Turbine.
LP Feed Water Pump System.
Pompa ini juga terdiri dari dua atau tiga unit, memompakan air dari Feed Water Tank menuju
LP Boiler Drum melalui flow meter dan Control Valve. Pompa dilengkapi dengan saringan,
minimum flow line, katup-katup serta peralatan instrumentasi.
LP Feed Water Piping System.
Air yang dipompakan dari LP Feed Water Pump, langsung menuju LP Boiler Drum tanpa ada
pemanasan lagi. Kebutuhan atau besarnya aliran air dikontrol oleh Control Valve.
Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

38

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

6.4. Sistem Air Penambah ( Make-up Water System )


Secara teoritis, fluida kerja didalam siklus HRSG-Turbin PLTGU akan terus bersikulasi tanpa
terjadi pengurangan massa fluida kerja sehingga tidak memerlukan penambahan dari luar siklus.
Tetapi pada prakteknya, banyak terjadi kehilangan massa fluida kerja antara lain disebabkan
oleh adanya kebocoran-kebocoran didalam sistem. Akibatnya diperlukan tambahan fluida kerja
sejumlah tertentu dari luar siklus secara kontinyu. Sistem air penambah berfungsi untuk
memenuhi kebutuhan akan tambahan fluida kerja tersebut. Mengingat bahwa kualitas air
penambah harus sama baiknya dengan kualitas air yang telah berada dalam siklus, maka sistem
air penambah dilengkapi dengan unit pengolah air (demineralizer plant) yang berfungsi untuk
mengolah air sumber (raw water) menjadi air penambah (make-up water), atau ada juga yang
dilengkapi Desalination Plant. Raw water untuk PLTGU dapat berasal dari berbagai sumber
seperti air PAM (city water), air tanah (well water), air sungai atau air laut yang telah diolah
melalui Desalination Plant. Desalination Plant adalah unit untuk mengolah air laut melalui
proses penguapan air laut. Uap air ini kemudian dikondensasikan dan akhirnya didapat air
dengan kualifikasi yang memadai sebagai Raw Water. Gambar 6.5 merupakan contoh sistem air
penambah dengan raw water yang berasal dari air tanah (well water). Pada gambar terlihat
bahwa air tanah dihisap oleh pompa (Well Pump) dan dialirkan ke Aerator yang berfungsi
membuang gas-gas terlarut untuk selanjutnya dialirkan ke Clarifier Reactor. Komponen ini akan
menyaring partikel-partikel padat yang terlarut maupun kotoran-kotoran lainnya. Dari sini air
selanjutnya dialirkan ke tangki penampung (clearwell storage). Pada tahapan ini juga
diinjeksikan bahan-bahan kimia baik untuk mempercepat proses pemurnian maupun untuk
mengurangi potensi penyebab korosi. Dari tangki penampung air dipompakan ke saringan dan
sebagian lagi ke saluran Backwash serta Resirkulasi. Saluran Backwash berfungsi untuk
membersihkan clarifier reactor dari partikel-partikel padat yang menyumbat. Filter berfungsi
sebagai saringan akhir untuk menyaring partikel-partikel yang masih terlarut dalam air.
Umumnya filter tersebut berupa karbon, gravel atau pasir. Filter juga dilengkapi saluran
backwash. Lewat dari filter, air kemudian masuk ke tangki raw water (Service Water/ Treated
Water Storage Tank). Dari tangki ini, air kemudian dialirkan ke Demineralizer yaitu unit
pengolah air dengan metode penukar ion (Ion Exchanger). Keluar dari demineralizer plant,
kualitas air telah menjadi air penambah (Make-up Water) yang ditampung dalam tangki air
penambah (Make-up Water / Demineralizer Water Storage Tank) dan siap untuk dimasukkan ke
dalam siklus bila diperlukan. Air penambah umumnya masuk kedalam siklus melalui Hotwell.
Aliran air penambah yang masuk ke Hotwell diatur oleh katup air penambah (make-up valve).
Pembukaan katup dikendalikan oleh Level Transmitter (LT) yang menggunakan parameter
Level Hotwell sebagai set point, karena variasi level hotwell merepresentasikan kebutuhan air
penambah. Bila level hotwell turun menjadi lebih rendah dari semestinya, maka katup air
penambah akan membuka sehingga air penambah dari tangki air penambah (Make-up /
Conendsate Water Tank) akan mengalir kedalam hotwell oleh tarikan vacum, atau
menggunakan pompa. Hal yang perlu diperhatikan oleh operator adalah bahwa jangan biarkan
level tangki air penambah terlalu rendah. Kalau sampai hal ini terjadi, maka hisapan vakum
akan menimbulkan pusaran air (vortex) dalam tangki air penambah sehingga memungkinkan
udara dari tangki akan terhisap kedalam hotwell. Hal ini dapat mengakibatkan turunnya vacum
dan bahkan mungkin dapat mengakibatkan unit trip.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

39

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

7. SISTEM PENDINGIN PLTU.


7.1. Sistem Air Pendingin Utama
Sistem air pendingin utama merupakan sistem yang menyediakan dan memasok air pendingin
yang diperlukan untuk mengkondensasikan uap bekas didalam Condenser dan memasok
kebutuhan untuk Sistem Air Pendingin Bantu. Air pendingin utama (Circulating Water)
merupakan media pendingin untuk menyerap panas laten uap bekas dari turbin yang mengalir
kedalam kondensor. Tanpa aliran air pendingin utama yang cukup, vakum kondensor akan
rendah dan mengakibatkan efisiensi dan kemampuan turbin turun atau bahkan sampai trip.
Sistem air pendingin utama yang lazim diterapkan di PLTGU adalah sistem terbuka. Sistem
tertutup dipilih apabila cadangan air pendingin sangat kurang.
Sistem Air Pedingin Utama Siklus Terbuka
Dalam sistem terbuka, air pendingin dipasok secara kontinyu dari sumber yang mencukupi
seperti sungai, danau atau laut yang dipompakan ke kondensor untuk akhirnya dibuang kembali
ke asalnya.

Gambar 7.1 : Sistem Air Pendingin Utama Siklus Terbuka

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

40

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

Gambar 7.1 merupakan ilustrasi dari sistem pendingin utama siklus terbuka beserta komponenkomponen utamanya yang meliputi :
Saringan Apung ( Floating Dam ) :
Fungsinya adalah untuk mencegah terbawanya sampah-sampah dan benda-benda yang
mengapung diatas permukaan air terutama yang berukuran besar. Fungsi lainnya adalah untuk
menghambat aliran air dibagian permukaan yang relatif lebih hangat dan membiarkan air yang
lebih dingin dari daerah yang lebih dalam untuk mengalir.
Bar Screen ( Trash Rack ) :
Merupakan saringan kasar yang berfungsi untuk menyaring benda-benda berukuran sedang.
Biasanya terbuat dari batang logam pipih yang dirangkai sehingga membentuk semacam terali
besi.
Saringan Putar ( Traveling Screen ) :
Berfungsi untuk menyaring semua benda sampai yang berukuran relatif kecil. Dipasang vertikal
pada sisi masuk kanal pompa air pendingin utama (CWP) dimana sebagian besar segmen
saringan berada dibawah permukaan air. Sedang sebagian lagi diatas permukaan air. Konstruksi
saringan adalah berupa kawat baja berbentuk segmen-segmen persegi panjang yang dikaitkan
pada rantai-rantai di kedua sisinya. Rantai-rantai tersebut kemudian dikalungkan melingkari
roda-roda gigi yang ditempatkan diantara 2 poros. Salah satu poros dihubungkan ke penggerak
berupa motor listrik. Dalam keadaan terpasang, rangkaian segmen-segmen kasa baja tersebut
akan membentuk suatu pita raksasa / layar (screen) dan bila motor diputar, maka layar ini akan
bergerak mengelilingi roda gigi. Sampah-sampah dalam air pendingin akan tersangkut pada
saringan dan karena saringan bergerak, maka sampah-sampah yang menempel juga akan terbawa
ke atas permukaan. Pada bagian saringan yang berada di atas permukaan air dipasang nosel-nosel
penyemprot (sprayer) yang menggunakan media air bertekanan. Manakala sampah-sampah yang
tersangkut mencapai posisi nosel, maka semprotan air dari nosel akan merontokkan sampahsampah tersebut dan jatuh ke saluran khusus untuk menampung sampah-sampah tersebut.
Dengan cara ini maka setelah melewati posisi nosel, saringan akan bersih kembali. Pada
beberapa konstruksi juga disediakan penyemprot ikan (Fish Spray) yang posisinya berada
dibawah nosel utama. Fish spray berfungsi untuk menyemprot ikan-ikan kecil yang tersangkut di
saringan dengan air bertekanan rendah. Akibat semprotan ini ikan-ikan akan terlepas dari
saringan dan masuk ke saluran yang khusus disediakan untuk selanjutnya dikembalikan ke air.
Pompa penyemprot saringan putar (Screen Wash Pump) :
Merupakan pemasok air bertekanan yang dialirkan ke nosel penyemprot guna membersihkan
saringan putar. Air yang digunakan adalah juga air pendingin utama. Pompa ini dapat
dioperasikan secara manual ataupun otomatis. Dalam posisi otomatis, pompa akan start secara
otomatis bila perbedaan tekanan air yang melintasi saringan putar tinggi. Perbedaan tekanan yang
tinggi mengindikasikan bahwa saringan sudah mulai tersumbat sampah. Apabila perbedaan
tekanan sudah normal kembali, maka pompa akan stop secara otomatis.
Penginjeksi Chlor ( Chlorinator ) :
Berfungsi untuk menginjeksi chlor kedalam air pendingin yang tujuannya untuk membunuh atau
sekurangnya mencegah berkembang-biaknya jasad-jasad renik (micro organisme) yang hidup
dalam air pendingin agar tidak menimbulkan gangguan dalam sistem air pendingin utama.
Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

41

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

Sumber pasokan chlor dapat berupa tabung-tabung gas chlor ataupun unit penghasil chlor
(Chlorination Plant). Metode penginjeksian chlor ada beberapa macam, diantaranya metode
penginjeksian kontinyu atau metode shock therapy. Pada metode shock therapy, penginjeksian
tidak dilakukan secara kontinyu melainkan secara periodik. Selang waktu antar periodenya dapat
diatur secara otomatis dengan bantuan timer. Hal yang penting diperhatikan adalah konsentrasi
chlor yang diinjeksikan harus tepat. Bila dosisnya kurang, maka efeknya terhadap micro
organisme akan berkurang. Sedang bila dosisnya terlalu besar, dapat mempengaruhi lingkungan
terutama didaerah outfall.
Pompa pendingin utama ( CWP ) :
Berfungsi untuk mengalirkan air pendingin utama ke condenser/kondensor dan pada beberapa
sistem juga memasok air ke System Air pendingin Bantu. Umumnya bertipe mixed flow dengan
posisi vertikal. Pada beberapa konstruksi pompa dilengkapi dengan saluran air lincir dan
sekaligus juga berfungsi sebagai perapat yang dialirkan ke perapat poros pompa (Gland Seal).
Sebelum pompa dijalankan, pasokan air ini harus diaktifkan terlebih dahulu. Selain itu, beberapa
pompa juga dilengkapi dengan sistem pelumasan sirkulasi yang salah satu komponennya adalah
pendingin pelumas (Oil Cooler). Pasokan air untuk oil cooler ini juga harus diaktifkan sebelum
pompa dijalankan. Perlu diingat bahwa pelumasan memegang peranan penting mengingat pada
pompa vertikal, seluruh berat pompa beserta beban lain berupa gaya-gaya aksial yang timbul
praktis haru ditanggung hanya oleh satu bantalan. Pada sisi tekan pompa dipasang penghubung
fleksibel (expansion joint) untuk meredam getaran. Pada saluran tekan pompa umumnya
dipasang katup kupu-kupu (buterfly) dengan maksud agar dapat menutup dengan cepat
mengingat diameter pipa saluran yang sangat besar. Katup ini umumnya digerakkan oleh motor
listrik. Pembukaan dan penutupan katup ini berlangsung secara otomatis. Katup akan membuka
otomatis beberapa saat setelah pompa start dan akan menutup secara otomatis pula bila pompa
distop.
Condenser :
Fungsi utama condenser adalah untuk mengkondensasikan uap bekas dari turbin menjadi air
kondensat untuk dapat disirkulasikan kembali. Hal ini dilaksanakan melalui proses pengembunan
oleh air pendingin yang mengalir dibagian dalam pipa-pipa Condenser. Salah satu tipe Condenser
yang akan dibahas sebagai contoh tipikal adalah tipe single pass, single shell, double inlet &
outlet, surface condenser, devided water boxes seperti terlihat pada Gambar 7.2. Konstruksinya
merupakan sekumpulan pipa-pipa pendingin dimana uap bekas berada dibagian luar pipa (disebut
sisi uap), sedang air pendingin mengalir dibagian dalam pipa (disebut sisi air). Akibat
pendinginan ini,uap bekas disisi uap akan terkondensasi dan ditampung dalam penampung
dibagian bawah condenser yang disebut hotwell. Proses kondensasi ini mengakibatkan sisi uap
condenser (termasuk hotwell) berada dalam kondisi vacum. Bila aliran air pendingin berkurang
misalnya akibat pipa-pipa condenser tersumbat kotoran, vacum akan turun dan pada kondisi yang
ekstrim dapat mengakibatkan unit trip karena vakum terlalu rendah. Karenanya, air pendingin
utama merupakan unsur yang cukup vital. Untuk meningkatkan keandalan condenser, katup air
pendingin sisi masuk dan sisi keluar condenser biasanya digerakkan oleh motor dimana
konfigurasikatup-katup tersebut dapat diatur sedemikian rupa sehingga selain posisi normal
operasi, juga memungkinkan condenser diposisikan Out of Service atau diposisikan Back
Washing. Posisi Out of Service adalah posisi me-non-aktifkan salah satu shell condenser
dengan menutup aliran air pendingin untuk shell tersebut sehingga shell dapat dibersihkan dalam
kondisi unit beroperasi.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

42

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

Tetapi karena hanya satu shell yang beroperasi, maka dalam kondisi out of service, biasanya unit
hanya boleh beroperasi 50% beban. Setelah pembersihan selesai, condenser dapat dinormalkan
kembali.

Gambar 7.2 : Single Pass Condenser

Sedangkan posisi backwashing artinya membalik aliran air pendingin pada salah satu shell.
Backwashing dilakukan bila pipa-pipa condenser tersumbat oleh kotoran. Dengan cara membalik
arah aliran pada salah satu shell, maka kotoran-kotoran yang menyumbat mulut pipa akan rontok
sehingga pipa-pipa bersih kembali.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

43

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

Sistem pembuang udara sisi air Condenser (Priming System) :


Fungsi utama sistem priming adalah untuk membuang udara dari air pendingin utama agar air
pendingin dapat mengisi seluruh permukaan condenser sehingga proses pendinginan efektif.
Saluran pembuang udara sisi air pendingin terletak pada bagian atas water box sisi inlet dan sisi
outlet condenser.
Ada 2 macam sistem priming yang banyak dipakai yaitu sistem priming tertutup dan sistem
priming terbuka. Ilustrasi sistem priming tertutup terlihat seperti pada Gambar 7.3A.
Pada sistem ini, pembuangan udara dilakukan melalui saluran dan katup venting di bagian atas
water box hanya dengan mengandalkan tekanan air pendingin. Sedangkan pada sistem terbuka
Gambar 7.3B udara dikeluarkan dari water box melalui saluran yang sama tetapi dengan bantuan
perangkat vacum seperti vacum pump.

Gambar 7.3 : Sistem Priming

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

44

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

Taproge :
Taproge adalah sistem pembersih pipa condenser sisi air pendingin dengan menggunakan sarana
pembersih berupa bola-bola karet yang disebut bola Taproge dengan cara mensirkulasikan bolabola tersebut bersama air pendingin seperti terlihat pada Gambar 7.4.

Gambar 7.4 : Taproge

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

45

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

Bila pipa air pendingin kotor dan tidak teratasi oleh backwashing, maka sistem Taproge dapat
dioperasikan. Untuk keperluan ini, pada saluran air pendingin keluar dipasang semacam saringan
berengsel yang terdiri dari dua bagian seperti layaknya sepasang daun pintu teralis. Perangkat ini
disebut Catcher yang berfungsi untuk menangkap bola-bola Taproge agar tidak ikut terbuang ke
outfall.
Sebelum mengoperasikan sistem Taproge, catcher harus dalam posisi tertutup (catch position).
Bila menggunakan bola-bola Taproge baru, bola-bola taproge sebaiknya terlebih dahulu
direndam dalam air dan diremas-remas guna menghilangkan udara dari dalam bola. Bola
kemudian dimasukkan pada penampung (ball collector) yang dilengkapi dengan tingkat
berlubang-lubang.
Bila tingkap tertutup, maka hanya air yang dapat mengalir melalui lubang-lubang tersebut
sementara bola-bola taproge tertahan didalam collector. Bila tingkap dibuka, maka air dan bolabola taproge dapat mengalir. Setelah bola taproge dimasukkan ke collector dengan tingkat masih
posisi tertutup, jalankan pompa sirkulasi (Taproge Pump), kemudian buka tingkap pada collector
dan bola-bola taproge akan mengalir bersama air ke sisi masuk (inlet) condenser.
Untuk selanjutnya masuk ke pipa-pipa pendingin dan akhirnya keluar sambil membawa kotorankotoran dari pipa condenser. Ketika sampai outlet, bola-bola taproge akan tertahan pada catcher
dan akan diarahkan kembali ke collector. Sirkulasi ini terus dilakukan sampai selang waktu
tertentu. Bila dirasa sudah cukup, tutup tingkap pada collector, dan biarkan sistem tetap
beroperasi beberapa saat guna memberi waktu bagi bola-bola taproge untuk terkumpul
seluruhnya didalam collector. Bila dipandang cukup, matikan pompa dan catcher dapat dibuka
kembali.

Sistem Air Pendingin Utama Siklus Tertutup


Secara prinsip, sistem air pendingin utama siklus tertutup menggunakan media air pendingin
yang sama secara berulang dalam sirkulasi tertutup guna memasok condenser seperti terlihat
pada Gambar 7.5. Air pendingin dipompakan ke condenser oleh pompa air pendingin utama
(CWP) untuk mengkondensasikan uap bekas dengan cara menyerap panas laten dari uap bekas
tersebut.
Akibat proses di condenser, temperatur air pendingin keluar condenser akan mengalami
kenaikkan. Karena air akan disirkulasikan kembali ke condenser, maka air pendingin ini harus
didinginkan terlebih dahulu.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

46

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

Gambar 7.5 : Sistem Air Pendingin Siklus Tertutup

Proses pendinginan air pendingin dilaksanakan di Menara Pendingin (Cooling Tower). Didalam
menara pendingin, air pendingin didinginkan oleh udara sehingga temperaturnya kembali turun
dan siap disirkulasikan kembali kedalam condenser.

7.2. Sistem Air Pendingin Bantu (Auxilliary Cooling Water System)


Sistem air pendingin bantu merupakan pemasok kebutuhan air pendingin untuk alat-alat bantu
PLTGU seperti :
-

Hydrogen Cooler (untuk generator berpendingin hidrogen).


Steam Turbine Lube Oil Cooler.
Gas Turbine Lube Oil Cooler.
Instrument & Service Air Compressor
Pompa air pengisi ( Feed Water Pump )

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

47

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

Siklusnya merupakan siklus tertutup menggunakan air demineral. Air pendingin bantu
didinginkan oleh Air Pendingin Utama.
Contoh Sistem Air Pendingin Bantu seperti pada Gambar 7.6.

Gambar 7.6. : Sistem Air Pendingin Bantu

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

48

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

Adapun komponen dalam sistem air pendingin bantu adalah :


Tangki Air Pendingin Bantu ( Head Tank ).
Merupakan sarana penampung air pendingin bantu yang diisi air demineral yang pada umumnya
diletakkan pada elevasi yang cukup tinggi dari permukaan tanah dengan maksud untuk
memberikan tekanan hisap positif pada pompa air pendingin bantu. Untuk mengantisipasi
kebocoran-kebocoran dalam sistem, maka disediakan sistem kontrol otomatis untuk menjaga
agar level tangki tetap konstan.
Guna memenuhi kebutuhan tersebut, pada tangki disediakan saluran untuk menambah air yang
berasal dari percabangan sisi tekan pompa air condensate. Pada saluran ini dipasang katup
pengatur (control valve) yang dikendalikan oleh level tangki (LT). Bila level tangki turun dari
semestinya, katup pengisian ini akan membuka sehingga air dari sisi tekan pompa condensate
akan mengalir mengisi tangki.
Pompa Air Pendingin Bantu ( Auxilliary Cooling Water Pump ).
Pompa ini berfungsi untuk mensirkulasikan air pendingin bantu. Biasanya disediakan dua buah,
yang satunya untuk normal operasi sedang satunya untuk cadangan (stand-by).
Masing-masing pompa dilengkapi dengan saringan (strainer) pada sisi hisapnya. Kondisi
saringan dapat diidentifikasikan dari perbedaan tekanan melintasi saringan. Bila perbedaan
tekanan tinggi, berarti saringan dalam kondisi kotor dan perlu segera dibersihkan.
Sisi tekan masing-masing pompa dilengkapi katup satu arah (check valve) untuk mencegah aliran
balik apabila pompa sedang dalam keadaan stop. Ketika pompa dimatikan, operator harus
memastikan bahwa katup satu arah (check valve) ini menutup dengan baik. Kedua pompa juga
dilengkapi dengan Pressure Switch yang dipasang pada saluran tekan air pendingin bantu.
Pressure Switch ini berfungsi untuk memberikan sinyal start otomatis terhadap pompa. Bila
tekanan saluran tekan air pendingin utama turun hingga batas tertentu, maka Pressure Switch
akan memerintahkan pompa yang standby untuk start secara otomatis.
Penukar Panas Air Pendingin Bantu ( Auxilliary Cooling Waterheat Exchanger ).
Merupakan penukar panas tipe permukaan (surface type) yang berfungsi untuk mendnginkan air
pendingin bantu dengan air pendingin utama sebagai media pendinginnya. Pada penukar panas
ini, air pendingin bantu mengalir diluar pipa-pipa pendingin, sedangkan media pendingin
mengalir didalam pipa-pipa pendingin.
Pada sisi masuk dan sisi keluar penukar panas baik untuk sisi air pendingin bantu maupun untuk
sisi media pendingin dilengkapi dengan temperatur indikator. Operator harus memperhatikan
temperatur-temperatur indikator ini. Bila temperatur air pendingin bantu keluar heat exchanger
tinggi, berarti ada yang kurang beres.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

49

PT. PLN (PERSERO)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SISTEM PLTG DAN PLTGU

Bila ternyata hal ini disebabkan oleh tersumbatnya saluran-saluran media pendingin, lakukan
back-washing terhadap penukar panas atau bila perlu lakukan pembersihan.

7.3. Sistem Pendingin Minyak Pelumas.


Pendingin minyak pelumas pada sistem PLTU menggunakan air pendingin ynag diambil dari
Sistem Pendingin Bantu, atau ada kalanya diambil dari air pendingin utama. Sistem Pendingin
Minyak Pelumas ini juga merupakan bagian dari Sistem Pelumasan turbin uap.
8. SISTEM UDARA INSTRUMEN/KONTROL PLTU.
Sistem udara
instrument/kontrol PLTU pada prinsipnya sama dengan Sistem udara
Instrumen/Kontrol PLTG yaitu menggunaka kompresor torak sebagai sumber pasokan
udaranya.
Udara yang dikompresikan juga dilewatkan melalui pengering udara (drier) kemudian disimpan
didalam Instrumen Air Receiver (Tank) sebagai cadangan dan digunakan diantaranya untuk
mengontrol operasi katup-katup, damper dan sebagainya.:
9. SISTEM UAP BANTU
Sistem uap bantu terutama diperlukan untuk memproduksi air demineral sebagai air penambah
(Make-up Water) yang akan digunaan oleh HRSG.
Utamanya uap untuk memproduksi air demineral ini diambil dari HRSG apabila HRSG tersebut
sudah dapat memproduksi uap sendiri. Akan tetapi pada saat mulai dioperasikan perlu adanya
sumber uap dari luar.
Uap ini diperoleh dari boiler kecil yang menggunakan bahan bakar yang mudah terbakar seperti
HSD atau gas, dikenal dengan nama Package Boiler.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

50

Anda mungkin juga menyukai