Anda di halaman 1dari 17

11 Kerajaan

Terlengkap

Hindu

Budha

Di

Indonesia

1.Kerajaan Kutai
11 Kerajaan Hindu Budha Di Indonesia Terlengkap - Kutai Martadipura adalah
kerajaan bercorak Hindu di Nusantara yang memiliki bukti sejarah tertua. Berdiri sekitar abad ke4. Kerajaan ini terletak di Muara Kaman, Kalimantan Timur, tepatnya di hulu sungai Mahakam
Nama Kutai diberikan oleh para ahli mengambil dari nama tempat ditemukannya prasasti yang
menunjukkan eksistensi kerajaan tersebut. Tidak ada prasasti yang secara jelas menyebutkan
nama kerajaan ini dan memang sangat sedikit informasi yang dapat diperoleh.
Nama-Nama Raja Kutai
Peta Kecamatan Muara Kaman
Maharaja Kudungga, gelar anumerta Dewawarman (pendiri)
Maharaja Asmawarman (anak Kundungga)
Maharaja Mulawarman (anak Aswawarman)
Maharaja Marawijaya Warman
Maharaja Gajayana Warman
Maharaja Tungga Warman
Maharaja Jayanaga Warman
Maharaja Nalasinga Warman
Maharaja Nala Parana Tungga Warman
Maharaja Gadingga Warman Dewa
Maharaja Indra Warman Dewa
Maharaja Sangga Warman Dewa
Maharaja Candrawarman
Maharaja Sri Langka Dewa Warman
Maharaja Guna Parana Dewa Warman
Maharaja Wijaya Warman
Maharaja Sri Aji Dewa Warman
Maharaja Mulia Putera Warman
Maharaja Nala Pandita Warman
Maharaja Indra Paruta Dewa Warman
Maharaja Dharma Setia Warman

2. Kerajaaan Taruma Negara


Tarumanagara atau Kerajaan Taruma adalah sebuah kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah
barat pulau Jawa pada abad ke-4 hingga abad ke-7 M. Taruma merupakan salah satu kerajaan
tertua di Nusantara yang meninggalkan catatan sejarah. Dalam catatan sejarah dan peninggalan
artefak di sekitar lokasi kerajaan, terlihat bahwa pada saat itu Kerajaan Taruma adalah kerajaan
Hindu beraliran Wisnu.
Etimologi dan Toponimi
Kata tarumanagara berasal dari kata taruma dan nagara. Nagara artinya kerajaan atau negara
sedangkan taruma berasal dari kata tarum yang merupakan nama sungai yang membelah Jawa
Barat yaitu Citarum. Pada muara Citarum ditemukan percandian yang luas yaitu Percandian
Batujaya dan Percandian Cibuaya yang diduga merupakan peradaban peninggalan Kerajaan
Taruma.
Prasasti yang ditemukan

1.
Prasasti Kebon Kopi, dibuat sekitar 400 M (H Kern 1917), ditemukan di
perkebunan kopi milik Jonathan Rig, Ciampea, Bogor
2.
Prasasti Tugu, ditemukan di Kampung Batutumbu, Desa Tugu, Kecamatan
Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, sekarang disimpan di museum di Jakarta. Prasasti
tersebut isinya menerangkan penggalian Sungai Candrabaga oleh Rajadirajaguru
dan penggalian Sungai Gomati sepanjang 6112 tombak atau 12 km oleh
Purnawarman pada tahun ke-22 masa pemerintahannya.Penggalian sungai tersebut
merupakan gagasan untuk menghindari bencana alam berupa banjir yang sering
terjadi pada masa pemerintahan Purnawarman, dan kekeringan yang terjadi pada
musim kemarau.
3.
Prasasti Cidanghiyang atau Prasasti Munjul, ditemukan di aliran Sungai
Cidanghiyang yang mengalir di Desa Lebak, Kecamatan Munjul, Kabupaten
Pandeglang, Banten, berisi pujian kepada Raja Purnawarman.
4.
Prasasti Ciaruteun, Ciampea, Bogor
5.
Prasasti Muara Cianten, Ciampea, Bogor
6.
Prasasti Jambu, Nanggung, Bogor
7.
Prasasti Pasir Awi, Citeureup, Bogor
Lahan tempat prasasti itu ditemukan berbentuk bukit rendah berpermukaan datar dan diapit tiga
batang sungai: Cisadane, Cianten dan Ciaruteun. Sampai abad ke-19, tempat itu masih
dilaporkan dengan nama Pasir Muara. Dahulu termasuk bagian tanah swasta Ciampea.
Sekarang termasuk wilayah Kecamatan Cibungbulang.
Kampung Muara tempat prasasti Ciaruteun dan Telapak Gajah ditemukan, dahulu merupakan
sebuah "kota pelabuhan sungai" yang bandarnya terletak di tepi pertemuan Cisadane dengan
Cianten. Sampai abad ke-19 jalur sungai itu masih digunakan untuk angkutan hasil perkebunan
kopi. Sekarang masih digunakan oleh pedagang bambu untuk mengangkut barang
dagangannya ke daerah hilir.
Prasasti pada zaman ini menggunakan aksara Sunda kuno, yang pada awalnya merupakan
perkembangan dari aksara tipe Pallawa Lanjut, yang mengacu pada model aksara Kamboja
dengan beberapa cirinya yang masih melekat. Pada zaman ini, aksara tersebut belum mencapai
taraf modifikasi bentuk khasnya sebagaimana yang digunakan naskah-naskah (lontar) abad ke16.

3. Kerajaamn Kalingga
Kalingga atau Ho-ling (sebutan dari sumber Tiongkok) adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu
yang muncul di Jawa Tengah sekitar abad ke-6 masehi. Letak pusat kerajaan ini belumlah jelas,
kemungkinan berada di suatu tempat antara Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Jepara
sekarang. Sumber sejarah kerajaan ini masih belum jelas dan kabur, kebanyakan diperoleh dari
sumber catatan China, tradisi kisah setempat, dan naskah Carita Parahyangan yang disusun
berabad-abad kemudian pada abad ke-16 menyinggung secara singkat mengenai Ratu Shima
dan kaitannya dengan Kerajaan Galuh. Kalingga telah ada pada abad ke-6 Masehi dan
keberadaannya diketahui dari sumber-sumber Tiongkok. Kerajaan ini pernah diperintah oleh
Ratu Shima, yang dikenal memiliki peraturan barang siapa yang mencuri, akan dipotong
tangannya.
Pengaruh kerajaan kalingga sampai daerah selatan Jawa Tengah, terbukti diketemukannya
prasasti Upit/Yupit yang diperkirakan pada abad 6-7 M. Disebutkan dalam prasasti tersebut pada
wilayah Upit merupakan daerah perdikan yang dianugerahkan oleh Ratu Shima. Daerah
perdikan Upit sekarang menjadi Ngupit. Kampung Ngupit adalah kampung yang berada di Desa
Kahuman/Desa Ngawen, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten. Prasasti Upit/Yupit sekarang
disimpan di kantor purbakala Jateng di Prambanan.
Prasasti yang di temukan :

Prasasti Tukmas
Prasasti Tukmas ditemukan di ditemukan di lereng barat Gunung Merapi, tepatnya di Dusun
Dakawu, Desa Lebak, Kecamatan Grabag, Magelang di Jawa Tengah. Prasasti bertuliskan huruf
Pallawa yang berbahasa Sanskerta. Prasasti menyebutkan tentang mata air yang bersih dan
jernih. Sungai yang mengalir dari sumber air tersebut disamakan dengan Sungai Gangga di
India. Pada prasasti itu ada gambar-gambar seperti trisula, kendi, kapak, kelasangka, cakra dan
bunga teratai yang merupakan lambang keeratan hubungan manusia dengan dewa-dewa Hindu.
[5]
Prasasti Sojomerto
Prasasti Sojomerto ditemukan di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa
Tengah. Prasasti ini beraksara Kawi dan berbahasa Melayu Kuna dan berasal dari sekitar abad
ke-7 masehi. Prasasti ini bersifat keagamaan Siwais. Isi prasasti memuat keluarga dari tokoh
utamanya, Dapunta Selendra, yaitu ayahnya bernama Santanu, ibunya bernama Bhadrawati,
sedangkan istrinya bernama Sampula. Prof. Drs. Boechari berpendapat bahwa tokoh yang
bernama Dapunta Selendra adalah cikal-bakal raja-raja keturunan Wangsa Sailendra yang
berkuasa di Kerajaan Mataram Hindu. Kedua temuan prasasti ini menunjukkan bahwa kawasan
pantai utara Jawa Tengah dahulu berkembang kerajaan yang bercorak Hindu Siwais. Catatan ini
menunjukkan kemungkinan adanya hubungan dengan Wangsa Sailendra atau kerajaan Medang
yang berkembang kemudian di Jawa Tengah Selatan.
Prasasti Upit (disimpan di Kantor/Dinas Purbakala Jateng di Prambanan Klaten)
Kampung Ngupit merupakan daerah perdikan, yang dianugerahkan oleh Ratu Shima. Ngupit
terletak di Desa Kahuman/Desa Ngawen, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten. Prasasti
tersebut semula dijadikan alas/bancik padasan tempat untuk wudlu' di Masjid Sogaten, Desa
Ngawen. Dan sejak tahun 1992 sudah disimpan di Kantor Purbakala Jawa tengah di
Prambanan.

4. Kerajaan Mataram Hindu


Kerajaan Medang (atau sering juga disebut Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Mataram
Hindu) adalah nama sebuah kerajaan yang berdiri di Jawa Tengah pada abad ke-8, kemudian
berpindah ke Jawa Timur pada abad ke-10. Para raja kerajaan ini banyak meninggalkan bukti
sejarah berupa prasasti-prasasti yang tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta
membangun banyak candi baik yang bercorak Hindu maupun Buddha. Kerajaan Medang
akhirnya runtuh pada awal abad ke-11.
Awal berdirinya kerajaan
Prasasti Mantyasih tahun 907 atas nama Dyah Balitung menyebutkan dengan jelas bahwa raja
pertama Kerajaan Medang (Rahyang ta rumuhun ri Medang ri Poh Pitu) adalah Rakai Mataram
Sang Ratu Sanjaya. Sanjaya sendiri mengeluarkan prasasti Canggal tahun 732, namun tidak
menyebut dengan jelas apa nama kerajaannya. Ia hanya memberitakan adanya raja lain yang
memerintah pulau Jawa sebelum dirinya, bernama Sanna. Sepeninggal Sanna, negara menjadi
kacau. Sanjaya kemudian tampil menjadi raja, atas dukungan ibunya, yaitu Sannaha, saudara
perempuan Sanna.
Sanna, juga dikenal dengan nama "Sena" atau "Bratasenawa", merupakan raja Kerajaan Galuh
yang ketiga (709 - 716 M).
Bratasenawa alias Sanna atau Sena digulingkan dari tahta Galuh oleh Purbasora (saudara satu
ibu Sanna) dalam tahun 716 M. Sena akhirnya melarikan diri ke Pakuan, meminta perlindungan
pada Raja Tarusbawa. Tarusbawa yang merupakan raja pertama Kerajaan Sunda (setelah
Tarumanegara pecah menjadi Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh) adalah sahabat baik Sanna.
Persahabatan ini pula yang mendorong Tarusbawa mengambil Sanjaya menjadi menantunya.
Sanjaya, anak Sannaha saudara perempuan Sanna, berniat menuntut balas terhadap keluarga
Purbasora.

Untuk itu ia meminta bantuan Tarusbawa (mertuanya yangg merupakan sahabat Sanna).
Hasratnya dilaksanakan setelah menjadi Raja Sunda yang memerintah atas nama isterinya.
Akhirnya Sanjaya menjadi penguasa Kerajaan Sunda, Kerajaan Galuh dan Kerajaan Kalingga
(setelah Ratu Shima mangkat). Dalam tahun 732 M Sanjaya mewarisi tahta Kerajaan Mataram
dari orangtuanya. Sebelum ia meninggalkan kawasan Jawa Barat, ia mengatur pembagian
kekuasaan antara puteranya, Tamperan, dan Resi Guru Demunawan. Sunda dan Galuh menjadi
kekuasaan Tamperan, sedangkan Kerajaan Kuningan dan Galunggung diperintah oleh Resi
Guru Demunawan, putera bungsu Sempakwaja.
Kisah hidup Sanjaya secara panjang lebar terdapat dalam Carita Parahyangan yang baru ditulis
ratusan tahun setelah kematiannya, yaitu sekitar abad ke-16.
Peninggalan sejarah
Selain meninggalkan bukti sejarah berupa prasasti-prasasti yang tersebar di Jawa Tengah dan
Jawa Timur, Kerajaan Medang juga membangun banyak candi, baik itu yang bercorak Hindu
maupun Buddha. Temuan Wonoboyo berupa artifak emas yang ditemukan tahun 1990 di
Wonoboyo, Klaten, Jawa Tengah; menunjukkan kekayaan dan kehalusan seni budaya kerajaan
Medang.
Candi-candi peninggalan Kerajaan Medang antara lain, Candi Kalasan, Candi Plaosan, Candi
Prambanan, Candi Sewu, Candi Mendut, Candi Pawon, Candi Sambisari, Candi Sari, Candi
Kedulan, Candi Morangan, Candi Ijo, Candi Barong, Candi Sojiwan, dan tentu saja yang paling
kolosal adalah Candi Borobudur. Candi megah yang dibangun oleh Sailendrawangsa ini telah
ditetapkan UNESCO (PBB) sebagai salah satu warisan budaya dunia.

5. Kerajaan Sriwijaya
Sriwijaya adalah salah satu kemaharajaan bahari yang pernah berdiri di pulau Sumatera dan
banyak memberi pengaruh di Nusantara dengan daerah kekuasaan berdasarkan peta
membentang dari Kamboja, Thailand Selatan, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa Barat dan
kemungkinan Jawa Tengah.[1][2] Dalam bahasa Sanskerta, sri berarti "bercahaya" atau
"gemilang", dan wijaya berarti "kemenangan" atau "kejayaan",[2] maka nama Sriwijaya
bermakna "kemenangan yang gilang-gemilang". Bukti awal mengenai keberadaan kerajaan ini
berasal dari abad ke-7; seorang pendeta Tiongkok, I Tsing, menulis bahwa ia mengunjungi
Sriwijaya tahun 671 dan tinggal selama 6 bulan.[3][4] Selanjutnya prasasti yang paling tua
mengenai Sriwijaya juga berada pada abad ke-7, yaitu prasasti Kedukan Bukit di Palembang,
bertarikh 682.[5] Kemunduran pengaruh Sriwijaya terhadap daerah bawahannya mulai menyusut
dikarenakan beberapa peperangan[2] di antaranya tahun 1025 serangan Rajendra Chola I dari
Koromandel, selanjutnya tahun 1183 kekuasaan Sriwijaya di bawah kendali kerajaan
Dharmasraya.
Warisan sejarah
Busana gadis penari Gending Sriwijaya yang raya dan keemasan menggambarkan
kegemilangan dan kekayaan Sriwijaya. Meskipun Sriwijaya hanya menyisakan sedikit
peninggalan arkeologi dan keberadaanya sempat terlupakan dari ingatan masyarakat
pendukungnya, penemuan kembali kemaharajaan bahari ini oleh Coeds pada tahun 1920-an
telah membangkitkan kesadaran bahwa suatu bentuk persatuan politik raya, berupa
kemaharajaan yang terdiri atas persekutuan kerajaan-kerajaan bahari, pernah bangkit, tumbuh,
dan berjaya pada masa lalu.
Pada abad ke-14 meskipun pengaruhnya telah memudar, wibawa dan gengsi Sriwijaya masih
digunakan sebagai sumber legitimasi politik. Sang Nila Utama yang mengaku sebagai keturunan
bangsawan Sriwijaya dari Bintan, bersama para pengikut dan tentaranya yang terdiri dari Orang
Laut, telah mendirikan Kerajaan Singapura di Tumasik. Menurut Sejarah Melayu dan catatan
sejarah China yang ditulis Wang Ta Yuan, disebutkan bahwa Kerajaan Siam sempat menyerang

kerajaan Singapura pada kurun tahun 1330 hingga 1340. Serangan Siam ini berhasil dipukul
mundur. Akan tetapi serangan Majapahit pada penghujung abad ke-14 telah meruntuhkan
kerajaan ini. Akibatnya rajanya yang terakhir, Parameswara, terpaksa melarikan diri ke
Semenanjung Melayu. Parameswara kemudiannya mendirikan Kesultanan Melaka pada tahun
1402.[59] Kesultanan Melayu Melaka akhirnya menggantikan kedudukan Sriwijaya sebagai
kuasa politik Melayu utama di kawasan.
Warisan terpenting Sriwijaya mungkin adalah bahasanya. Selama berabad-abad, kekuatan
ekononomi dan keperkasaan militernya telah berperan besar atas tersebarluasnya penggunaan
Bahasa Melayu Kuno di Nusantara, setidaknya di kawasan pesisir. Bahasa ini menjadi bahasa
kerja atau bahasa yang berfungsi sebagai penghubung (lingua franca) yang digunakan di
berbagai bandar dan pasar di kawasan Nusantara.[65] Tersebar luasnya Bahasa Melayu Kuno
ini mungkin yang telah membuka dan memuluskan jalan bagi Bahasa Melayu sebagai bahasa
nasional Malaysia, dan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu Indonesia modern.
Adapun Bahasa Melayu Kuno masih tetap digunakan sampai pada abad ke-14 M.
Di samping Majapahit, kaum nasionalis Indonesia juga mengagungkan Sriwijaya sebagai
sumber kebanggaan dan bukti kejayaan masa lampau Indonesia.[67] Kegemilangan Sriwijaya
telah menjadi sumber kebanggaan nasional dan identitas daerah, khususnya bagi penduduk
kota Palembang, Sumatera Selatan. Keluhuran Sriwijaya telah menjadi inspirasi seni budaya,
seperti lagu dan tarian tradisional Gending Sriwijaya. Hal yang sama juga berlaku bagi
masyarakat selatan Thailand yang menciptakan kembali tarian Sevichai yang berdasarkan pada
keanggunan seni budaya Sriwijaya.
Di Indonesia, nama Sriwijaya telah digunakan dan diabadikan sebagai nama jalan di berbagai
kota, dan nama ini juga digunakan oleh Universitas Sriwijaya yang didirikan tahun 1960 di
Palembang. Demikian pula Kodam II Sriwijaya (unit komando militer), PT Pupuk Sriwijaya
(Perusahaan Pupuk di Sumatera Selatan), Sriwijaya Post (Surat kabar harian di Palembang),
Sriwijaya TV, Sriwijaya Air (maskapai penerbangan), Stadion Gelora Sriwijaya, dan Sriwijaya
Football Club (Klab sepak bola Palembang). Semuanya dinamakan demikian untuk
menghormati, memuliakan, dan merayakan kemaharajaan Sriwijaya yang gemilang. Pada
tanggal 11 November 2011 digelar upacara pembukaan SEA Games 2011 di Stadion Gelora
Sriwijaya, Palembang. Upacara pembukaan ini menampilkan tarian kolosal yang bertajuk
"Srivijaya the Golden Peninsula" menampilkan tarian tradisional Palembang dan juga replika
ukuran sebenarnya perahu Sriwijaya untuk menggambarkan kejayaan kemaharajaan bahari ini

6.Kerajaan Medang
Letak Geografis
Kerajaan Medang Kamulan didirikan oleh Mpu Sindok setelah memindahkan pusat
pemerintahannya dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Letak Medang Kamulan berdsarakan
prasasti terletak di muara Sungai Brantas, dengan ibu kotanya bernama Watan Mas.
A. Prasasti
Prasasti-prasasti yang menerangkan Kerajaan Medang Kamulan adalah sebagai berikut :
Prasasti Mpu Sindok dari Desa Tangeran (daerah Jombang, Jawa Timur) tahun 933 M yang
menyatakan bahwa Raja Mpu Sindok memerintah bersama permaisurinya Sri Wardhani Pu Kbin,
Prasasti Mpu Sindok dari daerah Bangil yang menyatakan bahwa Raja Mpu Sindok
memerintahkan pembuatan satu candi sebagai tempat pendarmaan ayahnya dari permaisurinya
(Rakyan Bawang).
Prasasti Mpu Sindok dari Lor (dekat Nganjuk) tahun 939 M yang menyatakan bahwa Raja Mpu
Sindok memerintahkan pembuatan candi yang bernama Jayamrata dan Jayastambho (tugu
kemenangan) di Desa Anyok Lodang.
Prasasti Calcuta, prasasti dari Raja Airlangga yang menyebutkan silsilah keturunan dari Mpu
Sindok.

Kehidupan politik
Sejak berdiri dan berkembangnya terdapat beberapa raja yang memerintah Kerajaan Medang
Kamulan. Raja-raja tersebut sebagai berikut :
1. Raja Mpu Sindok
Mpu Sindok adalah raja pertama Kerajaan Medang Kamulan yang bergelar Sri Maharaja Rakai
Hino Sri Isyana Wikrama Dharmatunggadewa. Ia memerintah selama dua puluh tahun dengan
adil dan bijaksana. Untuk kemakmuran rakyatnya, ie membangun bendungan atau tanggul untuk
pengairan. Dalam memerintah ia dibantu oleh permaisurinya yaitu Sri Wardhani Pu Kbin.
2. Dharmawangsa Teguh
Dharmawangsa Teguh adalah cucu Mpu Sindok, yang terkenal sebagai seorang raja yang
memiliki pandangan politik yang tajam. Pada tahun 1003 M Dharmawangsa Teguh mengirimkan
tentaranya untuk merebut pusat perdagangan di Selat Malaka dari tangan Kerajaan Sriwijaya.
Serangan tersebut mengalami kegagalan, bahkan Sriwijaya melalui Kerajaan Wurawari berhasil
melakukan serangan balik. Serangan dari Kerajaan Wurawari tersebut mengakibatkan
hancurnya Kerajaan Medang Kamulan (1016 M). Peristiwa tersebut disebut Pralaya Medang dan
Dharmawangsa Teguh gugur.
3. Airlangga
Airlangga adalah putra Raja Udayana dan Mahendradatta (saudara perempuan Dharmawangsa
Teguh). Airlangga menikah dengan putri Dharmawangsa Teguh. Pada upacara pernikahan
tersebut Kerajaan Medang Kamulan diserang Kerajaan Wurawari, yang mengakibatkan
hancurnya Medang Kamulan.
Airlangga berhasil melarikan diri ke hutan bersama pengikutnya yang setia yang bernama
Narotama. Setelah merasa kuat Airlangga kembali ke Kerajaan Medang Kamulan dan berhasil
menjadi penguasa pada tahun 1019 M dengan gelar Rakai Halu Sri Lakeswara Dharmawangsa
Airlangga Teguh Ananta Wirakramatunggadewa.
Airlangga berusaha memulihkan kewibawaan Kerajaan Mudang Kamulan dan berhasil
menaklukkan raja-raja yang sebelumnya menjadi vasal pada masa pemerintahan
Dharmawangsa Teguh.
Airlangga berhasil memindahkan pusat pemerintahan dai Medang Kamulan ke Kahuripan. Untuk
memperbaiki kesejahteraan rakyatnya, Airlangga melakukan tindakan-tindakan sebagai berikut :
a) Memperbaiki pelabuhan Hujung Galuh yang letaknya di muara Sungai Brantas.
b) Membangun Waduk Waringin Sapta untuk mencegah banjir.
c) Membangun jalan yang menghubungkan daerah pesisir dengan pusat kerajaan.
Kerajaan Medang Kamulan mencapai puncak kejayaan dan kemakmuran pada masa
pemerintahan Raja Airlangga. Pengalaman hidup dan keberhasilan Airlangga dikisahkan dalam
Kitab Arjunawiwaha yang ditulis oleh Mpu Kanwa.
Setelah Kerajaan mencapai kesejahteraan Airlangga memasuki masa kependetyaan. Kemudian
tahta diserahkan kepada putri yang lahir dari permaisuri, namun putri Airlangga tersebut lebih
memilih menjadi seorang pertapa dengan gelar Ratu Giri Putri. Akhirnya tahta kerajaan
diserahkan kepada kedua orang putra yang terlahir dari selir Airlangga

Selanjutnya Kerajaan Medang Kamulan terbagi menjadi dua, yaitu Kerajaan Jenggala dan
Kerajaan Kediri (Panjalu). Maksud Airlangga membagi kerajaan tersebut menjadi dua adalah
untuk mencegah terjadinya perang saudara. Kerajaan dibagi menjadi dua bagian dengan batas
Gunung Kawi atas bantuan Mpu Barada, Jenggala dengan ibu kotanya Kahuripan dan Panjalu
dengan ibu kotanya Daha (Kediri)Baca juga artikel sejarah yang berkaitan dengan Raja
Airlangga di : Raja-raja Mataram setelah Dyah Balitung
Keadaan Masyarakat
Dalam bidang ekonomi, pemindahan pusat kekuasaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur memiliki
arti yang sangat strategis. Tujuan Mpu Sindok mendirikan pusat kerajaan di tepi Sungai Brantas
adalah agar daerah tersebut menjadi pusat pelayaran dan perdagangan di Jawa Timur.
Aktivitas pelayaran dan perdagangan pada masa pemerintahan Dharmawangsa Teguh tidak
hanya berlangsung di Jawa Timur, tetapi berkembang di luar Jawa Timur. Sedangkan pada mas
pemerintahan Airlangga kegiatan perekonomian mulai dibangun kembali.
Dalam Prasasti Klagen, menerangkan bahwa Raja Airlangga memerintahkan pembuatan tanggul
di tepi Sungai Brantas yang tujuannya agar kapal dapat berlayar menyusuri Sungai Brantas
sampai ke pusat pemerintahan.

7. Kerajaan Kahuripan
Kahuripan adalah nama yang lazim dipakai untuk sebuah kerajaan di Jawa Timur yang didirikan
oleh Airlangga pada tahun 1009. Kerajaan ini dibangun sebagai kelanjutan Kerajaan Medang
yang runtuh tahun 1006.
Kahuripan sebagai ibu kota Janggala
Pada akhir pemerintahannya, Airlangga berhadapan dengan masalah persaingan perebutan
takhta antara kedua putranya. Calon raja yang sebenarnya, yaitu Sanggramawijaya Tunggadewi,
memilih menjadi pertapa dari pada naik takhta.
Pada akhir November 1042, Airlangga terpaksa membagi kerajaannya menjadi dua, yaitu bagian
barat bernama Kadiri beribu kota di Daha, diserahkan kepada Sri Samarawijaya, serta bagian
timur bernama Janggala beribu kota di Kahuripan, diserahkan kepada Mapanji Garasakan.
Setelah turun takhta, Airlangga menjalani hidup sebagai pertapa sampai meninggal sekitar tahun
1049.
Kahuripan dalam sejarah Majapahit
Nama Kahuripan muncul kembali dalam catatan sejarah Kerajaan Majapahit yang berdiri tahun
1293. Raden Wijaya sang pendiri kerajaan tampaknya memperhatikan adanya dua kerajaan
yang dahulu diciptakan oleh Airlangga.
Dua kerajaan tersebut adalah Kadiri alias Daha, dan Janggala alias Kahuripan atau Jiwana.
Keduanya oleh Raden Wijaya dijadikan sebagai daerah bawahan yang paling utama. Daha di
barat, Kahuripan di timur, sedangkan Majapahit sebagai pusat.Pararaton mencatat beberapa
nama yang pernah menjabat sebagai Bhatara i Kahuripan, atau disingkat Bhre Kahuripan. Yang
pertama ialah Tribhuwana Tunggadewi putri Raden Wijaya. Setelah tahun 1319,
pemerintahannya dibantu oleh Gajah Mada yang diangkat sebagai patih Kahuripan, karena
berjasa menumpas pemberontakan Ra Kuti.
Hayam Wuruk sewaktu menjabat yuwaraja juga berkedudukan sebagai raja Kahuripan bergelar
Jiwanarajyapratistha. Setelah naik takhta Majapahit, gelar Bhre Kahuripan kembali dijabat

ibunya, yaitu Tribhuwana Tunggadewi.Sepeninggal Tribhuwana Tunggadewi yang menjabat Bhre


Kahuripan adalah cucunya, yang bernama Surawardhani. Lalu digantikan putranya, yaitu
Ratnapangkaja.
Sepeninggal Ratnapangkaja, gelar Bhre Kahuripan disandang oleh keponakan istrinya (Suhita)
yang bernama Rajasawardhana. Ketika Rajasawardhana menjadi raja Majapahit, gelar Bhre
Kahuripan diwarisi putra sulungnya, yang bernama Samarawijaya.

8. Kerajaan Kediri
Kerajaan Kadiri atau Kediri atau Panjalu, adalah sebuah kerajaan yang terdapat di Jawa Timur
antara tahun 1042-1222. Kerajaan ini berpusat di kota Daha, yang terletak di sekitar Kota Kediri
sekarang.
Latar belakang
Sesungguhnya kota Daha sudah ada sebelum Kerajaan Kadiri berdiri. Daha merupakan
singkatan dari Dahanapura, yang berarti kota api. Nama ini terdapat dalam prasasti Pamwatan
yang dikeluarkan Airlangga tahun 1042. Hal ini sesuai dengan berita dalam Serat Calon Arang
bahwa, saat akhir pemerintahan Airlangga, pusat kerajaan sudah tidak lagi berada di Kahuripan,
melainkan pindah ke Daha.
Pada akhir November 1042, Airlangga terpaksa membelah wilayah kerajaannya karena kedua
putranya bersaing memperebutkan takhta. Putra yang bernama Sri Samarawijaya mendapatkan
kerajaan barat bernama Panjalu yang berpusat di kota baru, yaitu Daha. Sedangkan putra yang
bernama Mapanji Garasakan mendapatkan kerajaan timur bernama Janggala yang berpusat di
kota lama, yaitu Kahuripan.
Menurut Nagarakretagama, sebelum dibelah menjadi dua, nama kerajaan yang dipimpin
Airlangga sudah bernama Panjalu, yang berpusat di Daha. Jadi, Kerajaan Janggala lahir sebagai
pecahan dari Panjalu. Adapun Kahuripan adalah nama kota lama yang sudah ditinggalkan
Airlangga dan kemudian menjadi ibu kota Janggala.
Pada mulanya, nama Panjalu atau Pangjalu memang lebih sering dipakai dari pada nama Kadiri.
Hal ini dapat dijumpai dalam prasasti-prasasti yang diterbitkan oleh raja-raja Kadiri. Bahkan,
nama Panjalu juga dikenal sebagai Pu-chia-lung dalam kronik Cina berjudul Ling wai tai ta
(1178).
Nama "Kediri" atau "Kadiri" sendiri berasal dari kata Khadri yang berasal dari bahasa Sansekerta
yang berarti pohon pac atau mengkudu (Morinda citrifolia). Batang kulit kayu pohon ini
menghasilkan zat perwarna ungu kecokelatan yang digunakan dalam pembuatan batik,
sementara buahnya dipercaya memiliki khasiat pengobatan tradisional.
Karya sastra yang telah ditulis
Seni sastra mendapat banyak perhatian pada zaman Kerajaan Panjalu-Kadiri. Pada tahun 1157
Kakawin Bharatayuddha ditulis oleh Mpu Sedah dan diselesaikan Mpu Panuluh. Kitab ini
bersumber dari Mahabharata yang berisi kemenangan Pandawa atas Korawa, sebagai kiasan
kemenangan Sri Jayabhaya atas Janggala.
Selain itu, Mpu Panuluh juga menulis Kakawin Hariwangsa dan Ghatotkachasraya. Terdapat
pula pujangga zaman pemerintahan Sri Kameswara bernama Mpu Dharmaja yang menulis
Kakawin Smaradahana. Kemudian pada zaman pemerintahan Kertajaya terdapat pujangga
bernama Mpu Monaguna yang menulis Sumanasantaka dan Mpu Triguna yang menulis
Kresnayana.

9. Kerajaan Singasari
Kerajaan Singhasari atau sering pula ditulis Singasari atau Singosari, adalah sebuah kerajaan di
Jawa Timur yang didirikan oleh Ken Arok pada tahun 1222. Lokasi kerajaan ini sekarang
diperkirakan berada di daerah Singosari, Malang.
Awal berdiri
Menurut Pararaton, Tumapel semula hanya sebuah daerah bawahan Kerajaan Kadiri. Yang
menjabat sebagai akuwu (setara camat) Tumapel saat itu adalah Tunggul Ametung. Ia mati
dibunuh dengan cara tipu muslihat oleh pengawalnya sendiri yang bernama Ken Arok, yang
kemudian menjadi akuwu baru. Ken Arok juga yang mengawini istri Tunggul Ametung yang
bernama Ken Dedes. Ken Arok kemudian berniat melepaskan Tumapel dari kekuasaan Kerajaan
Kadiri.
Pada tahun 1254 terjadi perseteruan antara Kertajaya raja Kerajaan Kadiri melawan kaum
brahmana. Para brahmana lalu menggabungkan diri dengan Ken Arok yang mengangkat dirinya
menjadi raja pertama Tumapel bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi. Perang melawan
Kerajaan Kadiri meletus di desa Ganter yang dimenangkan oleh pihak Tumapel.
Nagarakretagama juga menyebut tahun yang sama untuk pendirian Kerajaan Tumapel, namun
tidak menyebutkan adanya nama Ken Arok. Dalam naskah itu, pendiri kerajaan Tumapel
bernama Ranggah Rajasa Sang Girinathaputra yang berhasil mengalahkan Kertajaya raja
Kerajaan Kadiri.
Prasasti Mula Malurung atas nama Kertanagara tahun 1255, menyebutkan kalau pendiri
Kerajaan Tumapel adalah Bhatara Siwa. Mungkin nama ini adalah gelar anumerta dari Ranggah
Rajasa, karena dalam Nagarakretagama arwah pendiri kerajaan Tumapel tersebut dipuja
sebagai Siwa. Selain itu, Pararaton juga menyebutkan bahwa, sebelum maju perang melawan
Kerajaan Kadiri, Ken Arok lebih dulu menggunakan julukan Bhatara Siwa.
Prasasti Mula Malurung
Mandala Amoghapa dari masa Singhasari (abad ke-13), perunggu, 22.5 x 14 cm. Koleksi
Museum fr Indische Kunst, Berlin-Dahlem, Jerman.
Penemuan prasasti Mula Malurung memberikan pandangan lain yang berbeda dengan versi
Pararaton yang selama ini dikenal mengenai sejarah Tumapel.
Kerajaan Tumapel disebutkan didirikan oleh Rajasa yang dijuluki "Bhatara Siwa", setelah
menaklukkan Kerajaan Kadiri. Sepeninggalnya, kerajaan terpecah menjadi dua, Tumapel
dipimpin Anusapati sedangkan Kerajaan Kadiri dipimpin Bhatara Parameswara (alias Mahisa
Wonga Teleng). Parameswara digantikan oleh Guningbhaya, kemudian Tohjaya. Sementara itu,
Anusapati digantikan oleh Seminingrat yang bergelar Wisnuwardhana. Prasasti Mula Malurung
juga menyebutkan bahwa sepeninggal Tohjaya, Kerajaan Tumapel dan Kerajaan Kadiri
dipersatukan kembali oleh Seminingrat. Kerajaan Kadiri kemudian menjadi kerajaan bawahan
yang dipimpin oleh putranya, yaitu Kertanagara

10. Kerajaan Majapahit


Majapahit adalah sebuah kerajaan yang berpusat di Jawa Timur, Indonesia, yang pernah berdiri
dari sekitar tahun 1293 hingga 1500 M. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya menjadi
kemaharajaan raya yang menguasai wilayah yang luas di Nusantara pada masa kekuasaan
Hayam Wuruk, yang berkuasa dari tahun 1350 hingga 1389.
Kerajaan Majapahit adalah kerajaan Hindu-Buddha terakhir yang menguasai Nusantara dan
dianggap sebagai salah satu dari negara terbesar dalam sejarah Indonesia. Menurut

Negarakertagama, kekuasaannya terbentang di Jawa, Sumatra, Semenanjung Malaya,


Kalimantan, hingga Indonesia timur, meskipun wilayah kekuasaannya masih diperdebatkan.

Historiografi
Hanya terdapat sedikit bukti fisik dari sisa-sisa Kerajaan Majapahit,dan sejarahnya tidak
jelas.Sumber utama yang digunakan oleh para sejarawan adalah Pararaton ('Kitab Raja-raja')
dalam bahasa Kawi dan Nagarakretagama dalam bahasa Jawa Kuno.Pararaton terutama
menceritakan Ken Arok (pendiri Kerajaan Singhasari) namun juga memuat beberapa bagian
pendek mengenai terbentuknya Majapahit. Sementara itu, Nagarakertagama merupakan puisi
Jawa Kuno yang ditulis pada masa keemasan Majapahit di bawah pemerintahan Hayam Wuruk.
Kakawin Nagarakretagama pada tahun 2008 diakui sebagai bagian dalam Daftar Ingatan Dunia
(Memory of the World Programme) oleh UNESCO. Setelah masa itu, hal yang terjadi tidaklah
jelas.[9] Selain itu, terdapat beberapa prasasti dalam bahasa Jawa Kuno maupun catatan
sejarah dari Tiongkok dan negara-negara lain.
Keakuratan semua naskah berbahasa Jawa tersebut dipertentangkan. Tidak dapat disangkal
bahwa sumber-sumber itu memuat unsur non-historis dan mitos. Beberapa sarjana seperti C.C.
Berg menganggap semua naskah tersebut bukan catatan masa lalu, tetapi memiliki arti
supernatural dalam hal dapat mengetahui masa depan.[10] Namun, banyak pula sarjana yang
beranggapan bahwa garis besar sumber-sumber tersebut dapat diterima karena sejalan dengan
catatan sejarah dari Tiongkok, khususnya daftar penguasa dan keadaan kerajaan yang tampak
cukup pasti.Tahun 2010 sekelompok pengusaha Jepang dipimpin Takajo Yoshiaki membiayai
pembuatan kapal Majapahit atau Spirit Majapahit yang akan berlayar ke Asia.
Menurut Takajo, hal ini dilakukan untuk mengenang kerjasama Majapahit dan Kerajaan Jepang
melawan Kerajaan China (Mongol) dalam perang di Samudera Pasifik. Menurut Guru Besar
Arkeologi Asia Tenggara National University of Singapore John N. Miksic jangkauan kekuasaan
Majapahit meliputi Sumatera dan Singapura bahkan Thailand yang dibuktikan dengan pengaruh
kebudayaan, corak bangunan, candi, patung dan seni. Bahkan ada perguruan silat bernama Kali
Majapahit yang berasal dari Filipina dengan anggotanya dari Asia dan Amerika. Silat Kali
Majapahit ini mengklaim berakar dari Kerajaan Majapahit kuno yang disebut menguasai Filipina,
Singapura, Malaysia dan Selatan Thailand.
Sejarah Berdirinya Majapahit
Sebelum berdirinya Majapahit, Singhasari telah menjadi kerajaan paling kuat di Jawa. Hal ini
menjadi perhatian Kubilai Khan, penguasa Dinasti Yuan di Tiongkok. Ia mengirim utusan yang
bernama Meng Chike Singhasari yang menuntut upeti. Kertanagara, penguasa kerajaan
Singhasari yang terakhir menolak untuk membayar upeti dan mempermalukan utusan tersebut
dengan merusak wajahnya dan memotong telinganya. Kubilai Khan marah dan lalu
memberangkatkan ekspedisi besar ke Jawa tahun 1293.
Ketika itu, Jayakatwang, adipati Kediri, sudah menggulingkan dan membunuh Kertanegara. Atas
saran Aria Wiraraja, Jayakatwang memberikan pengampunan kepada Raden Wijaya, menantu
Kertanegara, yang datang menyerahkan diri. Kemudian, Wiraraja mengirim utusan ke Daha,
yang membawa surat berisi pernyataan, Raden Wijaya menyerah dan ingin mengabdi kepada
Jayakatwang.Jawaban dari surat di atas disambut dengan senang hati. Raden Wijaya kemudian
diberi hutan Tarik. Ia membuka hutan itu dan membangun desa baru. Desa itu dinamai
Majapahit, yang namanya diambil dari buah maja, dan rasa "pahit" dari buah tersebut. Ketika
pasukan Mongol tiba, Wijaya bersekutu dengan pasukan Mongol untuk bertempur melawan
Jayakatwang. Setelah berhasil menjatuhkan Jayakatwang, Raden Wijaya berbalik menyerang
sekutu Mongolnya sehingga memaksa mereka menarik pulang kembali pasukannya secara
kalang-kabut karena mereka berada di negeri asing. Saat itu juga merupakan kesempatan

terakhir mereka untuk menangkap angin muson agar dapat pulang, atau mereka terpaksa harus
menunggu enam bulan lagi di pulau yang asing.
Tanggal pasti yang digunakan sebagai tanggal kelahiran kerajaan Majapahit adalah hari
penobatan Raden Wijaya sebagai raja, yaitu tanggal 15 bulan Kartika tahun 1215 saka yang
bertepatan dengan tanggal 10 November 1293. Ia dinobatkan dengan nama resmi Kertarajasa
Jayawardhana. Kerajaan ini menghadapi masalah. Beberapa orang terpercaya Kertarajasa,
termasuk Ranggalawe, Sora, dan Nambi memberontak melawannya, meskipun pemberontakan
tersebut tidak berhasil. Pemberontakan Ranggalawe ini didukung oleh Panji Mahajaya, Ra Arya
Sidi, Ra Jaran Waha, Ra Lintang, Ra Tosan, Ra Gelatik, dan Ra Tati. Semua ini tersebut
disebutkan dalam Pararaton. Slamet Muljana menduga bahwa mahapatih Halayudha lah yang
melakukan konspirasi untuk menjatuhkan semua orang tepercaya raja, agar ia dapat mencapai
posisi tertinggi dalam pemerintahan. Namun setelah kematian pemberontak terakhir (Kuti),
Halayudha ditangkap dan dipenjara, dan lalu dihukum mati. Wijaya meninggal dunia pada tahun
1309.
Putra dan penerus Wijaya adalah Jayanegara. Pararaton menyebutnya Kala Gemet, yang berarti
"penjahat lemah". Kira-kira pada suatu waktu dalam kurun pemerintahan Jayanegara, seorang
pendeta Italia, Odorico da Pordenone mengunjungi keraton Majapahit di Jawa. Pada tahun
1328, Jayanegara dibunuh oleh tabibnya, Tanca. Ibu tirinya yaitu Gayatri Rajapatni seharusnya
menggantikannya, akan tetapi Rajapatni memilih mengundurkan diri dari istana dan menjadi
bhiksuni. Rajapatni menunjuk anak perempuannya Tribhuwana Wijayatunggadewi untuk menjadi
ratu Majapahit. Pada tahun 1336, Tribhuwana menunjuk Gajah Mada sebagai Mahapatih, pada
saat pelantikannya Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa yang menunjukkan rencananya
untuk melebarkan kekuasaan Majapahit dan membangun sebuah kemaharajaan. Selama
kekuasaan Tribhuwana, kerajaan Majapahit berkembang menjadi lebih besar dan terkenal di
kepulauan Nusantara. Tribhuwana berkuasa di Majapahit sampai kematian ibunya pada tahun
1350. Ia diteruskan oleh putranya, Hayam Wuruk.

11. Kerajaan Pajajaran


Pakuan Pajajaran atau Pakuan (Pakwan) atau Pajajaran adalah ibu kota Kerajaan Sunda Galuh
yang pernah berdiri pada tahun 1030-1579 M di Tatar Pasundan, wilayah barat pulau Jawa.
Lokasinya berada di wilayah Bogor, Jawa Barat sekarang. Pada masa lalu, di Asia Tenggara ada
kebiasaan menyebut nama kerajaan dengan nama ibu kotanya sehingga Kerajaan Sunda Galuh
sering disebut sebagai Kerajaan Pajajaraan.
Lokasi Pajajaran pada abad ke-15 dan abad ke-16 dapat dilihat pada peta Portugis yang
menunjukkan lokasinya di wilayah Bogor, Jawa Barat.[1] Sumber utama sejarah yang
mengandung informasi mengenai kehidupan sehari-hari di Pajajaran dari abad ke 15 sampai
awal abad ke 16 dapat ditemukan dalam naskah kuno Bujangga Manik. Nama-nama tempat,
kebudayaan, dan kebiasaan-kebiasaan masa itu digambarkan terperinci dalam naskah kuno
tersebut. Refrensi : Wikipedia

Asal Usul dan Persebaran Nenek Moyang Bangsa Indonesia -Apabila kita
cermati, banyaknya suku bangsa di Indonesia berdampak pada munculnya
keberagaman bahasa daerah, dan kebudayaan yang berlaku dalam
kehidupan sehari-hari. Ada lebih dari 500 suku bangsa Indonesia, dan ini
sungguh merupakan kekayaan bangsa yang tidak dimiliki oleh negara lain.
Namun demikian kekayaan ini akan menjadi masalah jika kita tidak pandai
mengelola perbedaan yang ada. Tentu ini berkaitan pula dengan asal mula
kedatangan suku bangsa dan kapan mereka datang.

Oleh karena itu penting untuk mengetahui bagaimana proses dan dinamika
nenek moyang Indonesia sehingga terbentuk keragaman budaya seperti
yang kita ketahui sekarang ini agar kita bisa saling menghargai dan
menghormati setiap perbedaan yang ada.
Menurut Sarasin bersaudara, penduduk asli Kepulauan Indonesia adalah
ras berkulit gelap dan bertubuh kecil. Mereka mulanya tinggal di Asia
bagian tenggara. Ketika zaman es mencair dan air laut naik hingga
terbentuk Laut Cina Selatan dan Laut Jawa, sehingga memisahkan
pegunungan vulkanik Kepulauan Indonesia dari daratan utama. Beberapa
penduduk asli Kepulauan Indonesia tersisa dan menetap di daerah-daerah
pedalaman, sedangkan daerah pantai dihuni oleh penduduk pendatang.
Penduduk asli itu disebut sebagai suku bangsa Vedda oleh Sarasin. Ras
yang masuk dalam kelompok ini adalah suku bangsa Hieng di Kamboja,
Miaotse, Yao-Jen di Cina, dan Senoi di Semenanjung Malaya.
Beberapa suku bangsa seperti Kubu, Lubu, Talang Mamak yang tinggal di
Sumatra dan Toala di Sulawesi merupakan penduduk tertua di Kepulauan
Indonesia. Mereka mempunyai hubungan erat dengan nenek moyang
Melanesia masa kini dan orang Vedda yang saat ini masih terdapat di
Afrika, Asia Selatan, dan Oceania. Vedda itulah manusia pertama yang
datang ke pulau-pulau yang sudah berpenghuni. Mereka membawa
budaya perkakas batu. Kedua ras Melanesia dan Vedda hidup dalam
budaya mesolitik.
Pendatang berikutnya membawa budaya baru yaitu budaya neolitik. Para
pendatang baru itu jumlahnya jauh lebih banyak daripada penduduk asli.
Mereka datang dalam dua tahap. Mereka itu oleh Sarasin disebut sebagai
Proto Melayu dan Deutro Melayu. Kedatangan mereka terpisah
diperkirakan lebih dari 2.000 tahun yang lalu.
1. Proto Melayu
Proto Melayu diyakini sebagai nenek moyang orang Melayu Polinesia yang
tersebar dari Madagaskar sampai pulau-pulau paling timur di Pasifik.
Mereka diperkirakan datang dari Cina bagian selatan. Ras Melayu ini
mempunyai ciri-ciri rambut lurus, kulit kuning kecoklatan-coklatan, dan
bermata sipit. Dari Cina bagian selatan (Yunan) mereka bermigrasi ke
Indocina dan Siam, kemudian ke Kepulauan Indonesia. Mereka itu mulamula menempati pantai-pantai Sumatera Utara, Kalimantan Barat, dan
Sulawesi Barat.
Ras Proto Melayu membawa peradaban batu di Kepulauan Indonesia.
Ketika datang para imigran baru, yaitu Deutero Melayu (Ras Melayu
Muda). Mereka berpindah masuk ke pedalaman dan mencari tempat baru
ke hutan-hutan sebagai tempat huniannya. Ras Proto Melayu itu pun
kemudian mendesak keberadaan penduduk asli. Kehidupan di dalam
hutan-hutan menjadikan mereka terisolasi dari dunia luar, sehingga
memudarkan peradaban mereka. Penduduk asli dan ras proto melayu itu

pun kemudian melebur. Mereka itu kemudian menjadi suku bangsa Batak,
Dayak, Toraja, Alas, dan Gayo.
Kehidupan mereka yang terisolasi itu menyebabkan ras Proto Melayu
sedikit mendapat pengaruh dari kebudayaan Hindu maupun Islam
dikemudian hari. Para ras Proto Melayu itu kelak mendapat pengaruh
Kristen sejak mereka mengenal para penginjil yang masuk ke wilayah
mereka untuk memperkenalkan agama Kristen dan peradaban baru dalam
kehidupan mereka. Persebaran suku bangsa Dayak hingga ke Filipina
Selatan, Serawak, dan Malaka menunjukkan rute perpindahan mereka dari
Kepulauan Indonesia. Sementara suku bangsa Batak yang mengambil rute
ke barat menyusuri pantai-pantai Burma dan Malaka Barat. Beberapa
kesamaan bahasa yang digunakan oleh suku bangsa Karen di Burma
banyak mengandung kemiripan dengan bahasa Batak.

2. Deutero Melayu
Deutero Melayu merupakan ras yang datang dari Indocina bagian utara.
Mereka membawa budaya baru berupa perkakas dan senjata besi di
Kepulauan Indonesia, atau Kebudayaan Dongson. Mereka seringkali
disebut juga dengan orang-orang Dongson. Peradaban mereka lebih tinggi
daripada rasa Proto Melayu. Mereka dapat membuat perkakas dari
perunggu. Peradaban mereka ditandai dengan keahlian mengerjakan
logam dengan sempurna. Perpindahan mereka ke Kepulauan Indonesia
dapat dilihat dari rute persebaran alat-alat yang mereka tinggalkan di
beberapa kepulauan di Indonesia, yaitu berupa kapak persegi panjang.
Peradaban ini dapat dijumpai di Malaka, Sumatera, Kalimantan, Filipina,
Sulawesi, Jawa, dan Nusa Tenggara Timur.
Dalam bidang pengolahan tanah mereka mempunyai kemampuan untuk
membuat irigasi pada tanah-tanah pertanian yang berhasil mereka
ciptakan, dengan membabat hutan terlebih dahulu. Ras Deutero Melayu
juga mempunyai peradaban pelayaran lebih maju dari pendahulunya
karena petualangan mereka sebagai pelaut dibantu dengan penguasaan
mereka terhadap ilmu perbintangan. Perpindahan ras Deutero Melayu juga

menggunakan jalur pelayaran laut. Sebagian dari ras Deutero Melayu ada
yang mencapai Kepulauan Jepang, bahkan kelak ada yang hingga sampai
Madagaskar.
Kedatangan ras Deutero Melayu di Kepulauan Indonesia makin lama
semakin banyak. Mereka pun kemudian berpindah mencari tempat baru ke
hutan-hutan sebagai tempat hunian baru. Pada akhirnya Proto dan Deutero
Melayu membaur dan selanjutnya menjadi penduduk di Kepulauan
Indonesia. Pada masa selanjutnya mereka sulit untuk dibedakan. Proto
Melayu meliputi penduduk di Gayo dan Alas di Sumatra bagian utara, serta
Toraja di Sulawesi. Sementara itu, semua penduduk di Kepulauan
Indonesia, kecuali penduduk Papua dan yang tinggal di sekitar pulau-pulau
Papua, adalah ras Deutero Melayu.
3. Melanesoid
Ras lain yang juga terdapat di Kepulauan Indonesia adalah ras
Melanesoid. Mereka tersebar di lautan Pasifik di pulau-pulau yang letaknya
sebelah Timur Irian dan benua Australia. Di Kepulauan Indonesia mereka
tinggal di Papua. Bersama dengan Papua-Nugini dan Bismarck, Solomon,
New Caledonia dan Fiji, mereka tergolong rumpun Melanesoid. Menurut
Daldjoeni suku bangsa Melanesoid sekitar 70% menetap di Papua,
sedangkan 30% lagi tinggal di beberapa kepulauan di sekitar Papua dan
Papua-Nugini.
Pada mulanya kedatangan Bangsa Melanesoid di Papua berawal saat
zaman es terakhir, yaitu tahun 70.000 SM. Pada saat itu Kepulauan
Indonesia belum berpenghuni. Ketika suhu turun hingga mencapai
kedinginan maksimal, air laut menjadi beku. Permukaan laut menjadi lebih
rendah 100 m dibandingkan permukaan saat ini. Pada saat itulah muncul
pulau-pulau baru. Adanya pulau-pulau itu memudahkan mahkluk hidup
berpindah dari Asia menuju kawasan Oseania.
Bangsa Melanesoid melakukan perpindahan ke timur hingga ke Papua,
selanjutnya ke Benua Australia, yang sebelumnya merupakan satu
kepulauan yang terhubungan dengan Papua. Bangsa Melanesoid saat itu
hingga mencapai 100 ribu jiwa meliputi wilayah Papua dan Australia.
Peradaban bangsa Melanesoid dikenal dengan paleotikum.
Pada saat masa es berakhir dan air laut mulai naik lagi pada tahun 5000
S.M, kepulauan Papua dan Benua Australia terpisah seperti yang dapat
kita lihat saat ini. Pada saat itu jumlah penduduk mencapai 0,25 juta dan
pada tahun 500 S.M. mencapai 0,5 jiwa.
Asal mula bangsa Melanesia, yaitu Proto Melanesia merupakan penduduk
pribumi di Jawa. Mereka adalah manusia Wajak yang tersebar ke timur dan
menduduki Papua, sebelum zaman es berakhir dan sebelum kenaikan
permukaan laut yang terjadi pada saat itu. Di Papua manusia Wajak hidup
berkelompok-kelompok kecil di sepanjang muara-muara sungai. Mereka
hidup dengan menangkap ikan di sungai dan meramu tumbuh-tumbuhan
serta akar-akaran, serta berburu di hutan belukar. Tempat tinggal mereka

berupa perkampungan-perkampungan yang terbuat dari bahanbahan yang


ringan. Rumah-rumah itu sebenarnya hanya berupa kemah atau tadah
angin, yang sering didirikan menempel pada dinding gua yang besar.
Kemah-kemah dan tadah angin itu hanya digunakan sebagai tempat untuk
tidur dan berlindung, sedangkan aktifitas lainnya dilakukan di luar rumah.
Bangsa Proto Melanesoid terus terdesak oleh bangsa Melayu. Mereka
yang belum sempat mencapai kepulauan Papua melakukan percampuran
dengan ras baru itu. Percampuran bangsa Melayu dengan Melanesoid
menghasilkan keturunan Melanesoid-Melayu, saat ini mereka merupakan
penduduk Nusa Tenggara Timur dan Maluku.
4. Negrito dan Weddid
Sebelum kedatangan kelompok-kelompok Melayu tua dan muda, negeri
kita sudah terlebih dulu kemasukkan orang-orang Negrito dan Weddid.
Sebutan Negrito diberikan oleh orang-orang Spanyol karena yang mereka
jumpai itu berkulit hitam mirip dengan jenis-jenis Negro. Sejauh mana
kelompok Negrito itu bertalian darah dengan jenis-jenis Negro yang
terdapat di Afrika serta kepulauan Melanesia (Pasifik), demikian pula
bagaimana sejarah perpindahan mereka, belum banyak diketahui dengan
pasti.
Kelompok Weddid terdiri atas orang-orang dengan kepala mesocephal dan
letak mata yang dalam sehingga nampak seperti berang; kulit mereka
coklat tua dan tinggi rata-rata lelakinya 155 cm. Weddid artinya jenis
Wedda yaitu bangsa yang terdapat di pulau Ceylon (Srilanka). Persebaran
orang-orang Weddid di Nusantara cukup luas, misalnya di Palembang dan
Jambi (Kubu), di Siak (Sakai) dan di Sulawesi pojok tenggara (Toala, Tokea
dan Tomuna).
Periode migrasi itu berlangsung berabad-abad, kemungkinan mereka
berasal dalam satu kelompok ras yang sama dan dengan budaya yang
sama pula. Mereka itulah nenek moyang orang Indonesia saat ini.
Sekitar 170 bahasa yang digunakan di Kepulauan Indonesia adalah
bahasa Austronesia
(Melayu-Polinesia).
Bahasa
itu
kemudian
dikelompokkan menjadi dua oleh Sarasin, yaitu Bahasa Aceh dan bahasabahasa di pedalaman Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Kelompok
kedua adalah bahasa Batak, Melayu standar, Jawa, dan Bali. Kelompok
bahasa kedua itu mempunyai hubungan dengan bahasa Malagi di
Madagaskar dan Tagalog di Luzon. Persebaran geografis kedua bahasa itu
menunjukkan bahwa penggunanya adalah pelaut-pelaut pada masa dahulu
yang sudah mempunyai peradaban lebih maju. Di samping bahasa-bahasa
itu, juga terdapat bahasa Halmahera Utara dan Papua yang digunakan di
pedalaman Papua dan bagian utara Pulau Halmahera.
Dan berikut beberapa teori dari beberapa pakar tentang nenek moyang
Bangsa Indonesia.
1.
Willem
Smith
Dia melihat asal-usul bangsa Indonesia melalui penggunaan bahasa oleh

orang-orang Indonesia. Willem Smith membagi bangsa-bangsa di Asia atas


dasar bahasa yang dipakai, yakni bangsa yang berbahasa Togon, bangsa
yang berbahasa Jerman dan bangsa yang berbahasa Austria. Lalu bahasa
Austria dibagi dua, yaitu bangsa yang berbahasa Austro Asia dan bangsa
yang berbahasa Austronesia. Bangsa-bangsa yang berbahasa Austronesia
ini
mendiami
wilayah
Indonesia,
Melanesia
dan
Polinesia.
2.
Hogen
Menyatakan bahwa bangsa yang mendiami daerah pesisir Melayu berasal
dari Sumatera. Bangsa Melayu ini kemudian bercampur dengan bangsa
Mongol yang disebut bangsa Proto Melayu (Melayu Tua) dan Deutro
Melayu (Melayu Muda). Bangsa Proto Melayu kemudian menyebar di
sekitar wilayah Indonesia pada tahun 3.000 hingga 1.500 SM, sedangkan
bangsa Deutro Melayu datang ke Indonesia sekitar tahun 1.500 hingga 500
SM.
3.
Drs.
Moh.
Ali
Drs. Moh. Ali menyatakan bahwa bangsa Indonesia berasal dari daerah
Yunan, Cina. Pendapat ini dipengaruhi oleh pendapat Mens yang
berpendapat bahwa bangsa Indonesia berasal dari daerah Mongol yang
terdesak oleh bangsa-bangsa lebih kuat sehingga mereka pindah ke
selatan, termasuk ke Indonesia. Ali mengemukakan bahwa leluhur orang
Indonesia berasal dari hulu-hulu sungai besar yang terletak di daratan Asia
dan mereka berdatangan secara bergelombang. Gelombang pertama
berlangsung dari 3.000 hingga 1.500 SM (Proto Melayu) dan gelombang
kedua terjadi pada 1.500 hingga 500 SM (Deutro Melayu). Ciri-ciri
gelombang pertama adalah kebudayaan Neolitikum dengan jenis perahu
bercadik-satu, sedangkan gelombang kedua menggunakan perahu
bercadik-dua.
4.
Prof.
Dr.
Krom
Menguraikan bahwa masyarakat awal Indonesia berasal dari Cina Tengah
karena di daerah Cina Tengah banyak terdapat sumber sungai besar.
Mereka menyebar ke kawasan Indonesia sekitar 2.000 SM sampai 1.500
SM.
5.
Mayundar
Berpendapat bahwa bangsa-bangsa yang berbahasa Austronesia berasal
dari India, lalu menyebar ke wilayah Indochina terus ke daerah Indonesia
dan Pasifik. Teori Mayundar ini didukung oleh penelitiannya bahwa bahasa
Austronesia merupakan bahasa Muda di India bagian timur.
6.
Prof.
Dr.
H.
Kern
Ilmuwan asal Belanda ini menyatakan bahwa bangsa Indonesia berasal
dari Asia. Kern berpendapat bahwa bahasa - bahasa yang digunakan di

kepulauan Indonesia, Polinesia, Melanesia dan Mikronesia memiliki akar


bahasa yang sama, yakni bahasa Austronesia. Kern menyimpulkan bahwa
bangsa Indonesia berawal dari satu daerah dan menggunakan bahasa
Campa. Menurutnya, nenek-moyang bangsa Indonesia menggunakan
perahu-perahu bercadik menuju kepulauan Indonesia. Pendapat Kern ini
didukung oleh adanya persamaan nama dan bahasa yang dipergunakan di
daerah Campa dengan di Indonesia, misalnya kata kampong yang
banyak digunakan sebagai kata tempat disana. Selain nama geografis,
iIstilah-istilah binatang dan alat perang pun banyak kesamaannya. Tetapi
pendapat ini disangkal oleh K. Himly dan P.W. Schmidt berdasarkan
perbendaharaan bahasa Campa.
7.
Dr.
Brandes
Berpendapat bahwa suku-suku yang bermukim di kepulauan Indonesia
memiliki persamaan dengan bangsa-bangsa yang bermukim di daerahdaerah yang membentang dari sebelah utara Pulau Formosa di Taiwan,
sebelah barat Pulau Madagaskar dansebelah timur hingga ke tepi pantai
bata Amerika. Brandes melakukan penelitian ini berdasarkan perbandingan
bahasa.
8.
Prof.
Mohammad
Yamin
Menurut pandangan Prof. Mohammad Yamin, orang Indonesia adalah asli
berasal dari wilayah Indonesia sendiri. Ia bahkan meyakini bahwa ada
sebagian bangsa atau suku di luar negeri yang berasal dari Indonesia.
Yamin menyatakan bahwa temuan fosil dan artefak lebih banyak dan
lengkap di Indonesia daripada daerah lain di Asia, misalnya temuan fosil
Homo atau Pithecanthropus Soloensis dan Wajakensis yang tak ditemukan
di daerah Asia lain termasuk Indochina (Asia Tenggara).

Sumber http://www.jatikom.com/2016/09/asal-usul-dan-persebaran-nenekmoyang.html#ixzz4QkmI5nfj
Follow us: jatikom on Facebook