Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

MIOMA UTERI

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 6

PROGRAM PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
TAHUN 2016

A. KONSEP DASAR MIOMA UTERI


1. PENGERTIAN

Mioma uteri adalah tumor yang paling umum pada traktus genitalis
(Derek Llewellyn-Jones, 2007). Mioma uteri adalah neoplasma jinak
yang beasal dari otot uterus. Dikenal juga dengan istilah
fibromatosa, leimioma atau fibroid (Sarwono, 2006). Mioma uteri

merupakan salah satu tumor jinak yang tumbuh pada miometrium. Dengan
adanya pertumbuhan mioma ini mengakibatkan terganggunya fungsi dari
uterus, diantaranya resiko abortus, perdarahan pada proses persalinan dan juga
dapat menyebabkan infertilitas (Prawirohardjo, Sarwono 2008).
2. ETIOLOGI/ PREDISPOSISI
Sampai saat ini belum diketahui penyebab pasti mioma uteri dan diduga
merupakan penyakit multifaktorial. Dipercayai bahwa mioma merupakan
sebuah tumor monoklonal yang dihasilkan dari mutasi somatik dari sebuah sel
neoplastik tunggal. Sel-sel tumor mempunyai abnormalitas kromosom,
khususnya pada kromosom lengan. Faktor-faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan tumor, di samping faktor predisposisi genetik adalah estrogen,
progesteron dan human growth hormone.
a. Estrogen.
Mioma uteri dijumpai setelah menarche. Seringkali terdapat pertumbuhan
tumor yang cepat selama kehamilan dan terapi estrogen eksogen. Mioma
uteri akan mengecil pada saat menopause dan pengangkatan ovarium.
Adanya hubungan dengan kelainan lainnya yang tergantung estrogen
sepertiendometriosis (50%), perubahan fibrosistik dari payudara (14,8%),
adenomyosis (16,5%) dan hiperplasia endometrium (9,3%). Mioma uteri
banyak ditemukan bersamaan dengan anovulasi ovarium dan wanita dengan
sterilitas. 17B hidroxydesidrogenase: enzim ini mengubah estradiol (sebuah
estrogen kuat) menjadi estron (estrogen lemah). Aktivitas enzim ini
berkurang pada jaringan miomatous, yang juga mempunyai jumlah reseptor
estrogen yang lebih banyak daripada miometrium normal.
b. Progesteron
Progesteron merupakan antagonis natural dari estrogen. Progesteron
menghambat pertumbuhan tumor dengan dua cara yaitu: mengaktifkan 17B

hidroxydesidrogenase dan menurunkan jumlah reseptor estrogen pada


tumor.
c. Hormon pertumbuhan
Level hormon pertumbuhan menurun selama kehamilan, tetapi hormon yang
mempunyai struktur dan aktivitas biologik serupa yaitu HPL, terlihat pada
periode ini, memberi kesan bahwa pertumbuhan yang cepat dari leiomioma
selama kehamilan mingkin merupakan hasil dari aksi sinergistik antara HPL
dan Estrogen.

Dalam Jeffcoates Principles of Gynecology, ada beberapa faktor yang diduga


kuat sebagai faktor predisposisi terjadinya mioma uteri, yaitu
a. Umur
Mioma uteri jarang terjadi pada usia kurang dari 20 tahun, ditemukan
sekitar 10% pada wanita berusia lebih dari 40 tahun. Tumor ini paling sering
memberikan gejala klinis antara 35-45 tahun.
b.

Paritas
Lebih sering terjadi pada nullipara atau pada wanita yang relatif infertil,
tetapi sampai saat ini belum diketahui apakah infertilitas menyebabkan
mioma uteri atau sebaliknya mioma uteri yang menyebabkan infertilitas,
atau apakah kedua keadaan ini saling mempengaruhi.
c.

Faktor ras dan genetik


Pada wanita ras tertentu, khususnya wanita berkulit hitam, angka kejadian
mioma uteri tinggi. Terlepas dari faktor ras, kejadian tumor ini tinggi pada
wanita dengan riwayat keluarga ada yang menderita mioma.

d.

Fungsi ovarium

Diperkirakan ada korelasi antara hormon estrogen dengan pertumbuhan


mioma, dimana mioma uteri muncul setelah menarche, berkembang setelah
kehamilan dan mengalami regresi setelah menopause. Pemberian agonis
GnRH dalam waktu lama sehingga terjadi hipoestrogenik dapat mengurangi
ukuran mioma. Efek estrogen pada pertumbuhan mioma mungkin
berhubungan dengan respon mediasi oleh estrogen terhadap reseptor dan
faktor pertumbuhan lain. Terdapat bukti peningkatan produksi reseptor
progesteron, faktor pertumbuhan epidermal dan insulin-like growth factor
yang distimulasi oleh estrogen. Anderson dkk, telah mendemonstrasikan
munculnya gen yang distimulasi oleh estrogen lebih banyak pada mioma
daripada miometrium normal dan mungkin penting pada perkembangan
mioma. Namun bukti-bukti masih kurang meyakinkan karena tumor ini
tidak mengalami regresi yang bermakna setelah menopause sebagaimana
yang disangka. Lebih daripada itu tumor ini kadang-kadang berkembang
setelah menopause bahkan setelah ooforektomi bilateral pada usia dini.

3. MANIFESTASI KLINIK
Gejala klinik terjadi hanya pada sekitar 35%-50% dari pasien yang terkena.
Adapun gejala klinik yang dapat timbul pada mioma uteri:
a. Perdarahan abnormal. Bentuk perdarahan yang ditemukan berupa menoragi,
metroragi, dan hipermenorrhea. Perdarahan abnormal ini dapat dijelaskan
oleh karena bertambahnya area permukaan dari endometrium yang
menyebabkan gangguan kontraksi otot rahim, distorsi dan kongesti dari
pembuluh darah di sekitarnya dan ulserasi dari lapisan endometrium.
b. Penekanan rahim yang membesar:
1) Terasa berat diabdomen bagian bawah
2) Gejala traktus urinarius: frekuensi urine, retensi urin, obstruksi ureter,
dan hidronefrosis
3) Gejala intestinal: konstipasi dan obstruksi intestinal
4) Terasa nyeri karena tertekannya saraf
c.
1)
2)
3)

Nyeri dapat disebabkan oleh:


Penekanan saraf
Torsi bertangkai
Submukosa mioma terlahir

4) Infeksi pada mioma


d. Infertilitas, akibat penekanan saluran tuba oleh mioma yang berlokasi di
kornu. Perdarahan kontinyu pada pasien dengan mioma submukosa dapat
menghalangi implantasi. Terdapat peningkatan insiden aborsi dan kelahiran
e.

premature pada pasien dengan mioma intramural dan submukosa.


Kongesti vena, disebabkan oleh kompresi tumor yang menyebabkan

edema ektremitas bawah, hemoroid, nyeri dan dyspereunia.


f.
Gangguan pertumbuhan dan perkembangan kehamilan
Abortus spontan

4. PATOFISIOLOGI
Mioma uteri terjadi karena adanya sel-sel yang belum matang dan pengaruh
estrogen yang menyebabkan sub mukosa yang ditandai dengan pecahnya
pembuluh darah dan intranurel, sehingga terjadi kontraksi otot uterus yang
menyebabkan perdarahan pervagina lama dan banyak. Dengan adanya
perdarahan pervagina lama dan banyak akan terjadi resiko tinggi kekurangan
volume cairan dan gangguan peredaran darah ditandai dengan adanya nekrosa
dan perlengketan sehingga timbul rasa nyeri.
Penatalaksanaan pada mioma uteri adalah operasi jika informasi tidak
adekuat, kurang support dari keluarga dan kurangnya pengetahuan dapat
mengakibatkan cemas.
Pada post operasi akan terjadi terputusnya integritas jaringan kulit dan robekan
pada jaringan saraf perifer sehingga terjadi nyeri akut. Terputusnya integritas
kulit mempengaruhi proses epitalisasi dan pembatasan aktivitas, maka akan
terjadi perubahan pola aktivitas. Kerusakan jaringan juga mengakibatkan
terpaparnya agen infeksius yang mempengaruhi resiko tinggi infeksi.
Pada pasien post operasi akan terpengaruh obat anestesi yang
mengakibatkan depresi pusat pernapasan dan penurunan kesadaran sehingga
pola nafas tidak efektif.

5. PATHWAYS

6. PENATALAKSANAAN
Penanganan yang dapat dilakukan ada dua macam yaitu penanganan secara
konservatif dan penangana secara operatif.
a. Penanganan konservatif sebagai berikut:
1) Observasi dengan pemeriksaan pelvis secara periodik setiap 3-6 bulan.
2) Bila anemia, Hb < 8 g% transfusi PRC.

3) Pemberian zat besi.


4) Penggunaan agonis GnRH leuprolid asetat 3,75 mg IM pada hari 1-3
menstruasi setiap minggu sebanyak tiga kali. Obat ini mengakibatkan
pengerutan tumor dan menghilangkan gejala. Obat ini menekan sekresi
gonadotropin dan menciptakan keadaan hipoestrogenik yang serupa yang
ditemukan pada periode post menopause. Efek maksimum dalam
mengurangi ukuran tumor diobservasi dalam 12 minggu. Terapi agonis
GnRH ini dapat pula diberikan sebelum pembedahan, karena
memberikan beberapa keuntungan: mengurangi hilangnya darah selama
pembedahan, dan dapat mengurangi kebutuhan akan transfusi darah.
Namun obat ini menimbulkan kahilangan masa tulang meningkat dan
osteoporosis pada wanita tersebut.
Catatan :

Baru-baru ini, progestin dan antiprogestin dilaporkan

mempunyai efek terapeutik. Kehadiran tumor dapat ditekan atau


diperlambat dengan pemberian progestin dan levonorgestrol intrauterin.
b. Penanganan operatif, bila:
1) Ukuran tumor lebih besar dari ukuran uterus 12-14 minggu.
2) Pertumbuhan tumor cepat
3) Mioma subserosa bertangkai dan torsi
4) Bila dapat menjadi penyulit pada kehamilan berikutnya
5) Hipermenorea pada mioma submukosa
6) Penekanan pada organ sekitarnya
Jenis operasi yang dilakukan dapat berupa:
a. Enukleasi mioma
Dilakukan pada penderita infertile atau yang masih mengingikan anak
atau mempertahanlan uterus demi kelangsungan fertilitas.
b. Histerektomi
Dilakukan bila pasien tidak menginginkan anak lagi, dan pada penderita
yang memiliki leiomioma yang simtomatik atau yang sudah bergejala.
c. Miomektomi
Miomektomi adalah pengambilan mioma saja tanpa pengangkatan uterus.
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN FOKUS
Pengkajian keperawatan secara teoritis
a. Pola pemeliharaan kesehatan
Mengkonsumsi makanan yang mengandung pengawet.
b. Pola nutrisi dan metabolik

Mual, muntah, suhu tubuh meningkat terutama daerah abdomen.


c. Pola eliminasi:
1) Retensi urine
2) Konstipasi
d. Pola aktivitas dan latihan
Pusing, lemah
e. Pola persepsi sensorik dan kognitif
Adanya nyeri pada daerah abdomen.
f. Pola persepsi diri dan konsep diri
Gangguan body image
g. Pola mekanisme copping dan toleransi terhadap stres
Cemas, ada reaksi penolakan terhadap prognosis
h. Pola reproduksi seksual
1) Kebiasaan berganti pasangan
2) Menorrhagi
3) Metrorragi
Pemeriksaan penunjang
a. USG : untuk menentukan jenis tumor, lokasi mioma, ketebalan
endometrium dan keadaan adnexa dalam rongga pelvis. Mioma juga
dapat dideteksi dengan CT Scan ataupun MRI, tetapi kedua pemeriksaan
itu lebih mahal dan tidak memvisualisasi uterus sebaik USG. Untungnya,
leiomiosarkoma sangat jarang karena USG tidak dapat membedakannya
dengan mioma dan konfirmasinya membutuhkan diagnosa jaringan.
b. Dalam sebagian besar kasus, mioma mudah dikenali karena pola gunanya
pada beberapa bidang tidak hanya menyerupai terapi juga bergabung
dengan uterus, lebih lanjut uterus membesar dan berbentuk tidak teratur.
c. Foto BNO/IVP pemeriksaan ini penting untuk menilai massa di rongga
pelvis serta menilai fungsi ginjal dan perjalanan ureter.
d. Histerografi dan histereskopi untuk menilai pasien mioma submukosa
disertai dengan infertilitas.
e. Laparaskopi untuk mengevaluasi massa pada pelvis.
f. Laporatorium, darah lengkap, urine lengkap gula darah, tes fungsi hati,
ureum, kreatinin darah.
g. Tes kehamilan.
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Pre Op
1) Nyeri berhubungan dengan nekrosa dan perlengketan
2) Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan
dan muntah

3) Cemas berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses atau


tindakan operasi
Post Op
1) Nyeri akut berhubungan dengan robekan pada jaringan perifer
2) Perubahan pola aktifitas berhungan dengan pembatasan aktifitas setelah
operasi
3) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma pada kulit atau
tindakan invasive
3. FOKUS INTERVENSI
N

Tujuan & KH

Intervensi

Rasional

o
D
x
1

Setelah dilakukan

1. Observasi adanya nyeri

tindakan
keperawatan selama

dan tingkat nyeri.


2. Catat munculnya rasa

1 x 24 jam nyeri
berkurang atau
hilang.
KH :
a) Nyeri

1. Memudahkan tindakan
keperawatan
2. Perhatikan hal-hal yang

cemas/takut dan

tidak dikethui (mis. Hasil

hubungkan dengan

biopsi) dan/atau persiapan

lingkungan dan

inadekuat dapat

persiapkan untuk

memperburuk persepsi

prosedur

pasienakan rasa sakit.

terkontrol /
hilang
b) Skala nyeri 0-3
c) Klien terlihat

3. Meningkatkan persepsi
3. Ajarkan dan catat tipe
nyeri serta tindakah

rileks

klien terhadap nyeri yang


dialaminya.

untuk mengatasi nyeri


4. Meningkatkan
4. Ajarkan teknik relaksasi
5. Anjurkan untuk
menggunakan kompres
hangat
6.

Kolaborasi pemberian
analgesik

kenyamanan klien
5. Membantu mengurangi
nyeri dan meningkatkan
kenyamanan klien
6. Mengurangi nyeri

Setelah dilakukan

1. Awasi tanda vital,

1. Indikasi keadekuatan

tindakan

pengisian kapiler, status

volume sirkulasi.

keperawatan selama

membran mukosa,

Hipotensi ortostatik

3x24 jam resiko

turgor kulit.

dapat terjadi dengan

kekurangan volume

resiko jatuh/vedera

cairan tubuh tidak

segera setelah perubahan

terjadi.

2. Awasi jumlah dan tipe

KH :

masukan cairan. Ukur

a) Keseimbangan
cairan adekuat
b) Turgor kulit baik

posisi
2. Pasien tidak

haluaran urine dengan

mengkonsumsi cairan

akurat

sama sekali
mengakibatkan dehidrasi
atau mengganti cairan
untuk masukan kalori

3. Identifikasi rencana
untuk
meningkatkan/mempert
ahankan keseimbangan
cairan optimal mis
jadwal masukan cairan

yang berdampak pada


keseimbangan elektrolit.
3. Melibatkan pasien dalam
rencana untuk
memperbaiki
ketidakseimbangan
memperbaiki

4.

Kaji hasil test fungsi


elektrolit (kolaborasi)

kesempatan untuk
berhasil.
4. Perpindahan cairan
elektrolit, penurunan
fungsi ginjal dapat
meluas mempengaruhi

5.

Berikan/awasi
hiperalimentasi IV

penyembuhan
pasien/prognosis dan
memerlukan intervensi
tambahan.
5. Tindakan darurat untuk

memperbaiki
ketidakseimbangan
cairan/elektrolit
3

Setelah dilakukan
tindakan

pemahaman pasien

1. Untuk mengetahui
seberapa jauh

keperawatan selama

peningkatan pengetahuan

3x24 jam

pasien

kecemasan pasien
berkurang.
KH :
a) Pasien

2. Gunakan sumber
sumber bahanpengajaran
sesuai keadaan
3. Pengajaran pra operasi

melaporkan

secara individu tentang

kecemasan

pembatasan dan

menurun
b) Pasien paham
terhadap proses
penyakit dan
tindakan operasi
4

1. Kaji ulang tingkat

Setelah diberikan

2. Untuk mengetahui
sumbert teori yang valid
3. Memberikan gambaan
pada pasien tentang
penyakit dan tindakannya

prosedur pra operasi


4. Informasi kepada pasien
keluarga atau orang
terdekat tentang rencana
prosedur tindakan
1. Catat umur dan berat

4. Meminimalkan tingkat
kecemasan keluarga
1. Pendekatan pada

asuhan keperawatan

pasien, masalah

manajemen rasa sakit

selama 3x24 jam

medis/psikologis yang

berdasarkan kepada

nyeri dapat

muncul kembali,

faktor-faktor variasi

terkontrol atau

sensitivitas idiosinkratik

multiple.

hilang

analgetik dan proses

KH :

intra operasi (lokasi,

a) Ekspresi wajah

ukuran, zat-zat anestesi)

pasien rileks
b) Skala nyeri 1 3
c) Klien

yang digunakan.
2. Evaluasi rasa sakit

mengungkapkan

secara reguler (mis

penurunan nyeri

setiap 2 jam x 12) catat


karakteristik, lokasi dan

2. Sediakan informasi
mengenai
kebutuhan/efektivitas
intervensi.

intensitas.

3. Dapat mengindikasikan
rasa sakit akut dan

3. Kaji tanda-tanda vital,

ketidaknyamanan

perhatikan takikardi,
hipetensi dan
peningkatan
pernapasan, bahkan jika
pasien menyangkal
adanya rasa sakit
4.
4. Kaji penyebab

Pahami penyebab
ketidaknyamanan

ketidaknyamanan yang
mungkin selain dari
prosedur operasi.
5. Berikan informasi
mengenai sifat
ketidaknyamanan,
sesuai kebutuhan.

5. Ketidaknyamanan
mungkin
disebabkan/diperburuk
dengan penekanan pada
kateter indwelling yang
tidak tetap, selang NG,
jarum parenteral.

6. Observasi efek
analgesik

6. Respirasi mungkin
menurun pada pemberian
narkotik, dan mungkin
menimbulkan efek-efek
sinergistik dengn zat-zat

7. Lakukan reposisi sesuai

anestesi.
petunjuk, misalnya semi 7. Mungkin mengurangi
fowler, miring

rasa sakit dan


meningkatkan sirkulasi.
Posisi semi fowler dapat
mengurangi tegangan otot
abdominal dan otot
punggung artritis,

8. Dorong menggunakan

sedangkan miring

teknik relaksasi,

mengurangi tekanan

misalnya latihan napas

dorsal.

dalam, bimbingan
imajinasi, visualisasi.
9. Berikan perawatan oral
reguler

8.

Lepaskan tegangan otot;


tingkatkan perasaan
kontrol yang mungkin
dapat meningkatkan
kemampuan koping.

9. Mengurangi ketidak
nyamanan yang
10. Berikan obat-obatan
analgesik sesuai
petunjuk

dihubungkan dengan
membran mukosa yang
kering pada zat-zat
anestesi, restriksi oral.
10. Analgesik IV akan
dengan segera mencapai
pusat rasa sakit,
menimbulkan
penghilangan yang lebih
efektif dengan dosis kecil.

Setelah diberikan
tindakan

1. Pantau aktivitas yang


dapat dilakukan pasien

keperawatan
selama3x24 jam

2. Tingkatkan tirah baring


atau duduk. Berikan

melakukan aktivitas

lingkungan yang

sesuai

tenang. Batasi

kemampuannya

pengunjung sesuai

KH :

keperluan.

mencapai
peingkatan

tingkat kelemahan
pasien

klien dapat

a) Klien dapat

1. Untuk mengetahui

3. Ubah posisi dengan


sering. Berikan

2. Meningkatkan ketenagan
dan istirahat.
Menyediakan energi
yang digunakan untuk
penyembuhan.
3. Meningkatkan fungsi
pernapasan dan

toleransi
aktivitas
b) Klien dapat

perawatan kulit yang

meminimalkan tekanan

baik.

pada area tertentu untuk


menurunkan risiko

memenuhi
peawatan diri
sendiri
c) Klien dapat
berpartisipasi

kerusakan jaringan.
4. Lakukan tugas dengan
cepat sesuai dengan
toleransi.
5. Tingkatkan aktivitas

4. Memungkinkan periode
istirahat tanpa gangguan.

pada aktivitas

sesuai toleransi, Bantu

5. Tirah baring lama dapat

yang diinginkan

melakukan latihan

menurunkan

rentang gerak sendi

kemampuan. Ini dapat

pasif/aktif.

terjadi karena
keterbatasan aktivitas
yang mengganggu

6. Bantu pasien dalam

periode istirahat.

pemenuhan kebutuhan
sehari - hari

6. Untuk membantu dalam


pemenuhan kebutuhan

Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan selama

1. Monitor luka operasi


2. Lakukan perawatan luka
sesuai prinsip

3x24 jam resiko


infeksi dapat
terkontrol atau tidak
terjadi
KH :
a) Suhu tubuh
dalam batas
normal 36 37C
b) Tidak ada tanda

3. Pertahankan cuci tangan


sebelum dan sesudah
tindakan
4. Monitor TTV
5. Kolaborasi pemberian
antibiotik sesuai indikasi

pasien.
1. Untuk mengetahui
keadaan luka pada pasien
2. Membantu dalam
mencegah infeksi
3. Untuk menghindari
terjadinya penularan
penyakit
4. Untuk mengetahui
keadaan umum pasien.
Peningkatan suhu tubuh
sebagai tanda adanya
infeksi

tanda infeksi
5. Mencegah terjadinya
infeksi

DAFTAR PUSTAKA

Callahan MD MPP, Tamara L. 2005. Benign Disorders of the Upper Genital


Tract in Blueprints Obstetrics & Gynecology. Boston : Blackwell
Publishing,
Crum MD, Christopher P & Kenneth R. Lee MD. 2003. Tumors of the
Myometrium in Diagnostic Gynecologic and Obstetric Pathology. Boston
: Elsevier Saunders
Djuwantono T. 2004. Terapi GnRH Agonis Sebelum Histerektomi atau
Miomektomi. Farmacia. Vol III NO. 12. Juli 2004. Jakarta
Hanifa, W. (1999). Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
Hart MD FRCS FRCOG, David McKay. 2000. Fibroids in Gynaecology
Illustrated. London : Churchill Livingstone.
Joedosapoetro MS. 2003. Ilmu Kandungan. Wiknjosastro H, Saifudin AB,
Rachimhadi T. Editor. Edisi Ke-2. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka

Manuaba IBG. 2003. Penuntun Kepaniteraan Klinik Obstetric dan Ginekologi.


Edisi 2. Jakarta : EGC
Moore JG. 2001. Essensial obstetri dan ginekologi. Edisi 2. Jakarta : Hipokrates
Panay

BSc

MRCOG

MFFP,

Nick

et

al.

2004. Fibroids in Obstetrics

and Gynaecology. London : Mosby


Prawirahardjo, S. (2008). Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
Parker WH. 2007. Etiology, Symptomatology and Diagnosis of Uterine Myomas.
Volume 87. Department of Obstetrics and gynecology UCLA School of
Medicine. California : American Society for Reproductive Medicine
Rayburn WF. 2001. Obstetri dan Ginekologi. Alih Bahasa: H. TMA Chalik.
Jakata. Widya Medika,
Sarjadi. (2009). Patologi Ginekologi Hipokrates. Semarang: FK Undip.