Anda di halaman 1dari 4

BAB IV

ANALISA KASUS
TB paru adalah infeksi kronik pada paru yang disebabkan oleh basil
Mycobacterium tuberculosis, ditandai dengan pembentukan granuloma dan
adanya reaksi hipersensitifitas tipe lambat. Sumber penularan umumnya adalah
penderita Tb yang dahaknya mengandung Basil Tahan Asam(BTA).
Diagnosis tuberkulosis paru dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis,
pemeriksaan fisik, foto toraks, pemeriksaan sputum BTA dan laboratorium
penunjang. Gejala klinis pada penderita Tb paru dibagi menjadi gejala sistemik
dan gejala respiratorik. Gejala sistemik berupa demam, badan terasa lemah,
kehilangan nafsu makan dan penurunan berat badan. Gejala respiratorik berupa
batuk, sesak napas dan rasa nyeri dada. Batuk biasanya lebih dari 3 minggu,
kering sampai produktif dengan sputum mukoid atau purulen.
Pada pasien ini, ditemukan gejala klinis berupa batuk sejak 2 bulan yang
lalu, batuk berdahak, dahak berwarna putih, os mengaku sering berkeringat waktu
malam hari, nafsu makan os menurun dan berat badan os juga menurun. Os juga
mengaku sering demam tetapi tidak terlalu tinggi.
Diagnosis berdasarkan pemeriksaan fisik sangat tergantung pada luas dan
kelainan struktural paru. Pemeriksaan fisik dapat normal pada lesi minimal,
kelainan umumnya terletak pada daerah apikal/posterior lobus atas dan daerah
apikal lobus bawah. Kelainan yang dapat ditemukan antara lain berupa bentuk
dada yang tidak simetris, pergerakan paru yang tertinggal, peningkatan stem
fremitus,

redup

pada

perkusi,

suara

napas

bronkial/amforik/

vesikuler

melemah,/ronkhi basah ataupun tanda-tanda penarikan paru, diafragma dan


mediastinum. Pada pemeriksaan fisik Tn.S tidak ditemukan adanya kelainan
pulmo.
Dari pemeriksaan foto toraks standar pada TB paru yaitu foto toraks PA
dan lateral ditemukan gambaran lesi yang menyokong ke arah TB paru aktif
biasanya berupa infiltrat nodular berbagai ukuran di lobus atas paru, kavitas
(terutama lebih dari satu), bercak milier ataupun adanya efusi pleura unilateral.

51

Gambaran lesi tidak aktif biasanya berupa fibrotik, atelektasis, kalsifikasi,


penebalan pleura, penarikan hilus dan deviasi trakea. Berdasarkan luas lesi pada
paru, ATS (American Thoracic Society) membaginya atas lesi minimal, lesi sedang
dan lesi luas.
Pada foto toraks pasien ini didapatkan terdapat infiltrat pada apex kedua
lapangan paru.
Hepatoma merupakan tumor ganas primer di hati yang berasal dari sel
parenkim atau epitel saluran empedu. Yang pertama (dikenal sebagai karsinoma
hepatoseluler) merupakan 80-90% keganasan hati primer, yang terakhir disebut
sebagai kolangiokarsinoma.
Manifestasi klinis dari hepatoma dibagi menjadi hepatoma subklinis atau
stadium dini adalah pasien yang tanpa gejala dan tanda fisik hepatoma yang jelas,
biasanya ditemukan melalui pemeriksaan AFP dan teknik pencitraan. Hepatoma
fase klinis atau stadium sedang, lanjut, manifestasi utama yang sering ditemukan
adalah:
1. Nyeri abdomen kanan atas, hepatoma stadium sedang dan lanjut sering
datang berobat karena kembung dan tak nyaman atau nyeri samar di
abdomen kanan atas. Nyeri umumnya bersifat tumpul atau menusuk
intermitten atau terus-menerus, sebagian merasa area hati terbebat
kencang, disebabkan tumor tumbuh dengan cepat hingga menambah
regangan pada kapsul hati. Jika nyeri abdomen bertambah hebat atau
timbul akut abdomen harus pikirkan rupture hepatoma.
2. Massa abdomen atas, hepatoma lobus kanan dapat menyebabkan batas atas
hati bergeser ke atas, pada pemeriksaan fisik ditemukan hepatomegali di
bawah arcus costa tapi tanpa nodul, hepatoma segmen inferior lobus kanan
sering dapat langsung teraba massa di bawah arcus costa kanan. Hepatoma
lobus kiri tampil sebagai massa di bawah processus xiphoideus atau massa
di bawah arcus costa kiri.
3. Perut membesar disebabkan karena asites.
4. Anoreksia, timbul karena fungsi hati terganggu, tumor mendesak saluran
gastrointestinal.
5. Penurunan berat badan secara tiba-tiba.

52

6. Demam, timbul karena nekrosis tumor, disertai infeksi dan metabolit


tumor, jika tanpa bukti infeksi disebut demam kanker, umumnya tidak
disertai menggigil.
7. Ikterus, kulit dan sklera tampak kuning, umumnya karena gangguan fungsi

hati, juga dapat karena sumbatan kanker di saluran empedu atau tumor
mendesak saluran empedu hingga timbul ikterus obstruktif.
8. Lainnya, perdarahan saluran cerna, diare, nyeri bahu belakang kanan,

edema kedua tungkai bawah, kulit gatal dan lainnya. Manifestasi sirosis
hati yang lain seperti splenomegali, palmar eritema, lingua hepatik, spider
nevi, venadilatasi dinding abdomen, dll. Pada stadium akhir hepatoma
sering tombul metastasis paru, tulang, dan banyak organ lain.
Pada anamnesis pasien ini ditemukan gambaran klinis berupa 1 bulan
SMRS os mengaku nyeri perut kanan atas, nyeri terasa menusuk kadang tumpul
dan dirasakan menjalar kebelakang. 1 hari SMRS os mengaku muntah darah,
darah berwarna hitam, muntah tersebut seperti gumpalan. Muntah terjadi
sebanyak 10x @1/2-1 gelas belimbing. Os juga mengaku BAB berwarna hitam
sebanyak 2x. Os juga mengeluh nyeri pada ulu hati, badan lemas, aktivitas
menurun (kegiatan sehari hari hanya tidur dan duduk). Os juga mengaku perutnya
sedikit kembung dan mudah terasa penuh jika diisi makan. Nafsu makan os
menurun. Os juga mengaku berat badannya semakin menurun sebelum sakit berat
badan os 50 kg sedangkan saat sakit berat badan os 40 kg.
Pada pemeriksaan fisik pasien ini ditemukan perut kembung, shifting
dullness (+). Pada pemeriksaan Ultrasonografi ditemukan gambaran hepatoma.
Penatalaksanaan pada pasien hepatoma masih belum memuaskan, banyak
kasus didasari oleh sirosis hati. Pasien sirosis hati mempunyai toleransi yang
buruk pada operasi segmentektomi pada hepatoma. Selain operasi masih ada
banyak cara misalnya transplantasi hati, kemoterapi, emboli intra arteri, injeksi
tumor dengan etanol agar terjadi nekrosis tumor, tetapi hasil tindakan tersebut
masih belum memuaskan dan angka harapan hidup 5 tahun masih sangat rendah.
Penatalaksanaan kasus TB paru dengan hepatoma adalah bila ada
kecurigaan gangguan fungsi hati, dianjurkan pemeriksaan faal hati sebelum

53

pengobatan TBC. Kalau SGOT dan SGPT meningkat lebih dari 3 kali OAT harus
dihentikan. Kalau peningkatannya kurang dari 3 kali, pengobatan dapat diteruskan
dengan pengawasan ketat. Penderita dengan kelainan hati, Pirasinamid (Z) tidak
boleh digunakan. Panduan obat yang dapat dianjurkan adalah 2RHES/6RH atau
2HES/10HE.
Dari hasil anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang,
pasien ini kami diagnosa sebagai Hepatoma+ TB paru.

54