Anda di halaman 1dari 39

KAJIAN PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM

IBNU KHALDUN, MUHAMMAD ABDUH DAN FAZLUR


RAHMAN
MAKALAH
Disusun untuk Memenuhi Tugas
Matakuliah Filsafat Pendidikan Islam
Yang dibina Oleh Prof. Dr. Abdul Haris, M.Ag.

Oleh:
AAN FARDANI UBAIDILLAH

PROGRAM STUDI S3 PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MULTIKULTURAL


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM MALANG
2016
Makalah Filsafat Pendidikan Islam/Aan F/2016 |

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Prof. Dr. H. Abudin Nata, MA pernah mengatakan bahwa diantara
persoalan penting yang dihadapi pendidikan islam saat ini adalah
kenyataan bahwa adanya fakta akan krisis kiblat, dimana pendidikan islam
masih belum menemukan format da bentuknya yang khas sesuai ajaran
islam. Hal ini terjadi karena banyaknya konsep pendidikan yang
ditawarkan para ahli yang belum jelas keislamannya, juga karena belum
banyak pakar yang merancang masalah pendidikan islam secara seksama.
Hal tersebut dapat terjadi sebagai akibat belum banyaknya diperkenalkan
khazanah pemikiran pendidikan yang dikemukakan oleh para filosof
muslim, seperti al-Ghazali, Ibnu Khaldun, Ikhwanussofa, Muhammad
Abduh, Fazlur Rahman, dan lain sebagainya1.
Ungkapan Nata tersebut cukup beralasan mengngat bahwa
gagasan, pemikiran, bahkan ingga tataran praktik pendidikan islam oleh
lembaga-lembaga pendidikan islam itu sendiri masih banyak yang berakar
dari para filosof barat, tokoh-tokoh di luar pemikir islam. Namun demikian,
kejayaan islam dan para ilmuwan yang dihasilkan serta menjadi rujukan
pada masanya namun saat ini seakan terlupa dan hanya sekedar menjadi
hiasan akademis dan jauh dari kata membumi memang bagian dari
dinamika pasang surut praktik pendidikan islam. Teori perkembangan
sejarah menyatakan bahwa hubungan antara masa lalu, sekarang dan
akan datang memiliki siklus yang saling bertautan. Julian Marias
mengatakan bahwa masa sekarang mengandung unsur-unsur masa
lampau, termasuk di dalamnya adalah masa depan. Ibnu Khaldun
menyatakan teori perkembangan sejarah berdasarkan pengamatannya
pada kekuasaan raja-aja Arab sejalan dengan pertumbuhan manusia yang
mengalami masa: kelahiran, pertumbuhan dan kematian. Hal ini sejalan
dengan gagasan Arnold Toynbee yang menyebut bahwa tiap peradaban
senantiasa mengalami tiga fase masa: pertumbuhan (rise), puncak
kejayaan (peak), dan kemunduran (decline)2.
Siklus perkembangan sejarah tersebut, khususnya tatkala mencapai
kematian menurut Ibnu Kaldun atau kemunduran kata Arnold Toynbee,
sejatinya dapat disikapi dengan upaya pembaharuan dan kebangkitan
kembali sebagaimana Renaissance yang terjadi di dunia barat. Berbagai
upaya memajukan umat islam dari masa ke masa yang telah dilakukan
oleh para ilmuwan muslim pendahulu dengan berbagai karya
monumentalnya, baik itu sampai atau tidka pada generasi terkini haruslah
1 Disampaikan dalam pengantar buku Pemikiran Pendidikan Islam; GagasanGagasan Besar Para Ilmuwan Muslim karya Abu Muhammad Iqbal. 2015.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal. V.
2 Prof. Dr. Abd. Rachman Assegaf. 2013. Aliran Pemikiran Pendidikan Islam
Hadrah Keilmuan Tokoh Klasik sampai Modern.Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Hal. X.
Makalah Filsafat Pendidikan Islam/Aan F/2016 |

terus dilakukan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan
menggali khazanah itelektual tokoh muslim yang berkenaan dengan
pendidikan sebagai diskursus, teladan, atau inspirasi untuk membangun
kembali kemajuan pendidikan islam di masa yang akan datang.
Dalam pada itu, sesunggunya teramat banyak sekali ilmuwanilmuwan muslim yang dapat menjadi rujukan, mulai dari masa islam klasik
seperti Al-Qabisi, masa pertengahan yang melahirkan Ibnu Sina, alGhazali, Ibnu Khaldun, hingga modern dengan tokoh-tokohnya seperti
Muhammad Abduh, Muhammad Athiyah al-Abrasyi, dan Fazlur Rahman 3.
Tentu dibutuhkan pengkajian yang mendalam serta komprehensif untuk
mengulasnya. Berkenaan dengan keluasan kajian vis a vis dengan
keterbatasan ulasan yang dapat disajikan melalui tulisan ini, maka pada
kesempatan ini Penulis bermaksud hanya mengangkat tiga tokoh untuk
mewakili dua periode saja, yakni Ibnu Khaldun dari masa pertengahan
serta Muhammad Abduh dan Fazlur Rahman dari periode Modern.
Tujuan Penulisan
Bertolak dari latar belakang yang telah dikemukakan, tulisan ini
bermaksud mengulas pemikiran pendidikan tiga tokoh islam yakni Ibnu
Khaldun, Muhammad Abduh dan Fazlur Rahman.
PEMBAHASAN
Ibnu Khaldun (733H/1332M808 H/1404M) :
Biografi, Karya dan Pemikirannya
A. Biografi Singkat Ibnu Khaldun
Nama lengkap Ibnu Khaldun adalah Abdurrahman Zaid Waliuddin
bin Khaldun, lahir di Tunisia pada tanggal 1 Ramadhan 732 H,
bertepatan dengan tanggal 27 Mei 1332 M dan meninggal dunia pada
tahun 808 H, bertepatan dengan 1404 M di usia 74 tahun. Ibnu
Khaldun dikenal sebagai sosok yang tegas dalam menjalankan tugas,
ahli dalam bidang sosiologi serta bijak dalam menyelesaikan masalah.
Ketokohannya lebih populer sebagai ahli sejarah, sosiologi
(kemasyarakatan), ahli filsafat dan politik. Ibnu Khaldun lahir dengan
nama kecil Abdurrahman, sedangkan Abu Zaid adalah nama panggilan
keluarga, karena dihubungkan Dengan anaknya yang sulung.Waliuddin
adalah kehormatan Dan kebesaran yang dianugerahkan oleh Raja
Mesir sewaktu Ia diangkat menjadi Ketua Pengadilan di Mesir 4. Ia
merupakan putra seorang ahli dalam masyarakat Yaman, yakni alAlamah Abdul Rahman Ibn Khaldun al-Hadrami al-Tunisi. Keluarga
Khaldun hijrah ke Spanyol pada abad ke-8 bersamaan dengan
gelombang penaklukkan islam di semenanjung Andalusia.
3 Ibid. Hal. XI.
4 Nashruddin Thoha.1979. Tokoh-tokoh Pendidikan Islam di Jaman jaya. Jakarta:
Mutiara. Hal.72.
Makalah Filsafat Pendidikan Islam/Aan F/2016 |

Keadaan di semenanjung Andalusia pada masa itu menjadi


alasan keluarga Khaldun untuk merantau pada abad ke-3 Hijriyah,
kemudian ke Asybiliah, lalu ke Tunis pada awal abad ke-7 Hijriyah.
Ayahanda Ibnu Khaldun adalah guru pertama yang mengajarkan dasardasar agaman seperti al-Quran, Fiqih, Hadits, dan Tauhid. Ia juga
merupakan seorang hafizh al-Quran sejak kecil. Setelah beranjak
deawa ia melanjutkan berguru ke ulama termasyhur di Tunis. Ilmu
Bahasa, Adab, dan Fiqih Maliki adalah diantara ilmu yang dipelajari.
Ibnu Khaldun juga menuntut ilmu di Al-Azhar dan di dua sekolah di
Kairo yakni al-Zahiriah dan al-Sultaniah. Diantara guru-gurunya, yang
utama adalah Muhammad ibnu Abdul Muhaimin, serta Abu Abdullah
Ibnu Muhammad Ibnu Ibrahim Al-Abla yang mengajarknnya ilmu
Sosiologi, Politik, dan Pendidikan5.
B. Karya-karya Ibnu Khaldun
Karya penting Ibnu Khaldun dalam sejarah peradaban adalah
Muqaddimah yang menjadi salah satu masterpiece-nya. Isinya berupa
falsafah sejarah yang memuat sistem lengkap tetang ilmu-ilmu sosial
yang didasarkan pada pendekatan yang baru sama sekali bagi karakter
masyarakat dan proses yang menjadikan masyarakat tersebut
berubah. Ibnu Khaldun menyebutnya sebagai Ilm al-Umran atau ilmu
budaya. Tulisannya terdiri dari enam bab, yakni; buku 1 tentang
prinsip-prinsip umum sosiologi, buku 2 dan 3 tentang sosiologi politik,
buku 4 tentang sosiologi kota, buku 5 tentang sosiologi ekonomi, dan
buku 6 tentang sosiologi ilmu pengetahuan.
Karya tersebut memberikan pengaruh terhadap sosiologi dan
sejarah sains yang sangat kuat, terjemahannya dalam bahasa Turki
dijumpai pada masa kekuasaanu Usmani selama abad ke-18 namun
tidak sampai pada tahun 1860, terjemahannya dalam bahasa Perancis
terus menjadi rujukan ilmuwan modern. Hingga sekitar 100 tahun
kemudian, sejarawan Arnold Toynbee menggambarkan bahwa buku
Muqaddimah Ibnu Khaldun sebagai falsafah sejarah yang secara
meyakinkan merupakan karya terbesar dalam bidangnya yang pernah
dibuat oleh pemikiran manusia dimanapun dan kapanpun.
Karya Muqaddimah sejatinya bukanlah karya pertama Ibnu
Khaldun, tepatnya ia adalah karya kedua disamping karya-karya
monumental lainnya. Secara ringkas, beberapa karya tersebut antara
lain: Pertama; Al-Ibar wa Diwan al-Mubtada wa al-Khabar fi Ayyamim
al-Arab wa al-Ajam wa al-Barbar wa Man Asharahum min Dzawi alShulthan al-Akbar (Kitab contoh-contoh dan rekaman mengenai asalusul dan peristiwa hari-hari Arab, Persia, Barbar, dan orang-orang
sezaman dengan mereka yang memiliki kekuatan besar). Kitab ini
sering pula dikenal dengan sebutan Kitab al-Ibar atau Tarikh Ibnu
Khaldun6.

5 Prof. Dr. Abd. Rachman Assegaf. Op. Cit.. Hal. 123-124


6 Toto Suharto. 2003. Epistemologi Sejarah Kritis Ibnu Khaldun. Yogyakarta: Fajar
Pustaka Baru. Hal. 50-51.
Makalah Filsafat Pendidikan Islam/Aan F/2016 |

Kedua; Muqaddimah sebagaimaa tekah penulis jelaskan di muka.


Iqbal menyebut bahwa kitab ini ibarat magnum opus-nya Ibnu
Khaldun7. Ketiga; Al-Tarif, yang semula merupakan lampiran dari Kitab
al-Ibar yang kemudian menjadi karya yang berdiri sendiri. Kitab ini
berisi keutamaan ilmu sejarah, aliran-alirannya, serta identifikasi
kesalahan-kesalahan para penulis sejarah, didalamnya juga membahas
keadaan masyarakat, sifat-sifat penguasa, sultan, mata pencaharian,
imu pengetahuan, pabrik, dan hukum kausalitas8.
Keempat; Syfaal-Sail li Tahdhib al-Masail. Karya ini membahas
mengenai pemisahan antara jalan tasawuf dan jalan syariah serta
menguraikan mengenai jalan tasawuf dan ilmu jiwa. Selain karya-karya
di atas, Ibnu Khaldun juga memberikan ulasan yang indah terhadap alBurdah, meresume karya Ibnu Rusyd dan menguraikan pandangan
terhadap logika dengan cara yang menarik. Al-Muhassal karya Imam
Fakhruddin al-Razi juga dibuat pula ikhtisarnya di samping karyakaryanya di bidang aritmatika.
C. Pokok-Pokok Pikiran Ibnu Khaldun tentang Pendidikan
Ibnu Khaldun adalah seorang sarjana muslim yang selalu
berpikir dan mengembangkan konsep-konsep dan pemikiran untuk
kemajuan pendidikan Islam. Ia berpendapat bahwa pendidikan
berusaha untuk melahirkan masyarakat yang berkebudayaan serta
berusaha untuk melestarikan eksistensi masyarakat selanjutnya,
maka pendidikan akan mengarahkan pada sumber daya manusia
yang berkualitas.
1. Pengertian dan Tujuan Pendidikan Menurut Ibnu Khaldun
Gambaran umum mengenai makna pendidikan dituangkan
Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah;
barangsiapa tidak terdidik oleh orang tuanya maka akan
terdidik oleh zaman, maksudnya barangsiapa tidak
memperoleh tata krama yang dibutuhkan sehubungan
pergaulan bersama melali orang tua mereka yang
mencakup guru-guru dan para sesepuh, dan tidak
mempelajari hal itu dari mereka, maka ia akan
mempelajarinya dengan bantuan alam, dan peristiwaperistiwa yang terjadi sepanjang zaman, zaman akan
mengajarkannya9.
Menurut Ibnu Khaldun, pendidikan adalah suatu proses dimana
manusia secara sadar menangkap, menyerap, dan menghayati
peristiwa-peristiwa alam sepanjang zaman. Meskipun tidak
7 Abu Muhammad Iqbal. 2015. Pemikiran Pendidikan Islam; Gagasan-Gagasan
Besar Para Ilmuwan Muslim. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal. 525.
8 Ibid.
9 Ibnu Khaldun. Muqaddimah. Terjemah oleh Ahmadie Thoha. 1986.
Jakarta:Pustaka Firdaus. Hal. 527.
Makalah Filsafat Pendidikan Islam/Aan F/2016 |

memberikan pengertian pendidikan secara jelas, namun ia


menegaskan bahwa ilmu dan pendidikan tidak lain merupakan
gejala sosial yang menjadi ciri khas jenis insani.
Manusia, lanjut Ibnu Khaldun, tersusun dari tiga unsur
integral: jasmani, rohani dan akal. Ketiga-tiganya berinteraksi
secara utuh dalam kenyataan. Tanpa akal pikiran, manusia secara
esensial ibarat hewan. Artinya manusia itu adalah jenis hewan,
namun Allah swt memberikan pembeda berupa akal pikiran. Pada
mulanya manusia menggunakan akal pemilah (al-Aql alTamyizi/Discerning Intellect), kemudian akal eksperimental (al-Aql
al-Tajribi/Experimental Intellect), dan akhirnya menggunakan akal
kritis (al-Aql al-Nadzari/Speculative Intellect).
Akal Pemilah atau al-Aql al-Tamyizi atau Discerning Intellect,
adalah kemampua atau pemahaman intelektual manusia terhadap
segala sesuatu di alam semesta, dalam tatanan alam atau tatanan
yang berubah-ubah (arbitary order), agar dia dapat mencoba
menyusun dan melakukan seleksi dengan bantuan kekuatannya
sendiri. Bentuk pemikiran semacam ini sering berupa persepsipersepsi. Ibnu Khaldun menyebut tingkatan ini dengan akal tamyiz,
karena akal pada taraf ini membantu manusia memperoleh sesuatu
yang bermanfaat bagi dirinya, memperoleh kehidupannya, dan
menolak (repels) sesuatu yang membahayakan dirinya10.
Akal eksperimental atau al-Aql al-Tajribi atau Experimental
Intellect, yakni kemampuan berpikir yang melengkapi manusia
dengan ide-ide dan perilaku yang dibutuhkan di dalam mengatur
interkasi sesama manusia. Pemikiran semacam itu keanyakan
berupa apersersepsi-apersepsi (tashdiqat, apperceptions), yang
dicapai satu per-satu melalui pengalaman (experience) hingga
benar-benar dirasakan manfaatnya11.
Akal Kritis atau al-Aql al-Nadzari atau Speculative Intellect,
yakni kemampuan berpikir yang melengkapi manusia dengan
pengetahuan hipotetik (hypothetical knowledge) mengenai sesuatu
yang berada di belakang persepsi alat indra (sense of perception)
tanpa tindakan praktis yang menyertainya. Dia terdiri dari persepsi
dan apersepsi (tashawwur dan tashdiq), yang tersusun dalam
tatanan khusus sesuai dengan kondisi-kondisi khusus pula,
sehingga membentuk pengetahuan yang lain dannjenisnya yang
sama, baik bersifat perspektif ataupaun aperspektif. Lalu semua itu
terakumulasi dengan hal-hal lain, kemudian membentuk
pengetahuan yang lain lagi. Akhir dari proses ini adalah supaya
terlengkapi persepsi mengenai wujud sebagaimana adanya,
dengan berbagai generalisasi, diferensi, dan sebab akibat12.
Melalui akal pikiran itulah manusia mampu bertindak secara
teratur dan terencana. Kemampuan manusia untuk berfikir baru
10 Prof. Dr. Abd. Rachman Assegaf. Op. Cit.. Hal. 135.
11 Ibid. Hal 135
12 Ibid. Hal 136.
Makalah Filsafat Pendidikan Islam/Aan F/2016 |

dapat
dicapai
setelah
sifat
kebinatangannya
mencapai
kesempurnaan. Dia mencapai kesempurnaan bentuknya melalui
ilmu pengetahuan yang dicari melalui organ tubuhnya sendiri
(pendengaran. Penglihatan, dan akal). Akhirnya menjadi berilmu
(alim) melalui pencarian ilmu pengetahuan13.
Dari segi tujuan pendidikan, Al-Syaibani menganalisis bahwa
setidaknya ada enam tujuan pendidikan menurut Ibnu Khaldun,
yakni: (1) menyiapkan seseorang dari segi keagamaan dengan
memperkuat potensi iman, sebagaimana dengan potensi-potensi
lain, (2) menyiapkan seseorang dari segi akhlak, (3) menyiapkan
seseorang dari segi kemasyarakatan atau sosial, (4) menyiapkan
seseorang dari segi vokasional atau pekerjaan, (5) menyiapkan
seseorang dari segi pemikiran, sebab dengan pemikirannya
seseorang
dapat
mengemban
berbagai
pekerjaan
atau
keterampilan tertentu, dan (6) menyiapkan seseorang dari segi
kesenian14.
Sementara itu, dalam iktisar yang berbeda, Abdul Khalik, dkk
menyebutkan bahwa pandangan Ibnu Khaldun tentang pendidikan
islam berpijak pada konsep dan pendekatan filosofis-empiris guna
mencapai tiga tujuan utama: (1) pengembangan kemahiran (almalakah), (2) penguasaan keterampilan sesuai tuntutan zaman
(link and match), dan (3) pembinaan pemikiran yang baik15.
2. Kurikulum dan Materi Pendidikan Menurut Ibnu Khaldun
Pengertian kurikulum pada masa Ibnu Khaldun sebagaimana
dijelaskan oleh Al-Syaibani masih terbatas pada maklumat dan
pengetahuan yang dikemukakan oleh guru atau sekolah dalam
bentuk mata pelajaran yang terbatas atau dalam bentuk kitab-kitab
tradisional yang dikaji oleh murid dalam tiap tahap pendidikan.
Sedangkan pengertian kurikulum modern, telah mencakup konsep
yang lebih luas yang di dalamnya mencakup empat unsur pokok
yaitu: tujuan pendidikan yang ingin dicapai, pengetahuanpengetahuan,
maklumat-maklumat,
data
kegiatan-kegiatan,
pengalaman-pengalaman dari mana terbentuknya kurikulum itu,
metode pengajaran serta bimbingan kepada murid, ditambah
metode penilaian yang dipergunakan untuk mengukur kurikulum
dan
hasil
proses
pendidikan.
Ibnu
Khaldun
mencoba
membandingkan kurikulum pada pendidikan tingkat rendah yang
terjadi di negara-negara Islam bagian Barat dan Timur. Ia
mengatakan bahwa sistem pendidikan dan pengajaran yang
berlaku di Maghrib sebatas mempelajari al-Quran dari berbagai
segi kandungannya. Lain halnya di Andalusia, tidak membatasi
13 Ibnu Khaldun. Op. Cit. Hal. 533.
14 Omar Muhammad al-Toumy Al-Syaibani. Filsafat Pendidikan Islam, Terjemah
Oleh Hasan Langulung. 1979. Jakarta: Bulan Bintang. Hal. 66.
15Abdul Khalik, dkk. 1999. Pemikiran Pendidikan Islam: Kajian Tokoh Klasik dan
Kontemporer. Yogyakarta:Pustaka Pelajar. Hal. 22.
Makalah Filsafat Pendidikan Islam/Aan F/2016 |

pengajaran anak-anak pada mempelajari al-Quran saja, akan


tetapi dimasukkan juga pelajaran-pelajaran lain seperti syair,
karang mengarang, khat, kaidah-kaidah bahasa Arab dan hafalanhafalan. Demikian pula di Ifrikiya yang mengkombinasikan
pengajaran al-Quran dengan hadits dan kaidah-kaidah dasar ilmu
pengetahuan tertentu16.
Adapun pandangannya mengenai materi pendidikan,
sebagaimana diulas pula dalam Muqaddimah, karena materi adalah
merupakan salah satu komponen operasional pendidikan, maka
dalam hal ini, Ibnu Khaldun telah mengklasifikasikan ilmu
pengetahuan yang banyak dipelajari manusia pada waktu itu
menjadi dua macam yaitu:
a. Ilmu-ilmu Tekstual (Naqliyah)
Ilmu Naqliyah adalah yang bersumber dari al-Quran dan Hadits
yang dalam hal ini peran akal hanyalah menghubungkan
cabang permasalahan dengan cabang utama, karena informasi
ilmu ini berdasarkan kepada otoritas Syariat yang diambil dari
al-Quran dan Hadits. Adapun yang termasuk ke dalam ilmuilmu naqliyah itu antara lain: ilmu tafsir, ilmu qiraat, ilmu hadits,
ilmu ushul fikih, ilmu fikih, ilmu kalam, ilmu bahasa arab, ilmu
tasawwuf, dan ilmu tabir mimpi17.
b. Ilmu-ilmu Filsafat atau Rasional (Aqliyah)
Ilmu ini bersifat alami bagi manusia, yang diperolehnya melalui
kemampuannya untuk berfikir. Ilmu ini dimiliki semua anggota
masyarakat dunia, dan sudah ada sejak mula kehidupan
peradaban umat manusia di dunia. Menurut Ibnu Khaldun ilmuilmu filsafat (aqliyah) ini dibagi menjadi empat macam ilmu
yaitu: (1) Ilmu Logika, (2) Ilmu Fisika, (3) Ilmu Metafisika, (4)
Ilmu Matematika.
Menurut Ibnu Khaldun, kedua bidang ilmu tersebut adalah
pembagian ilmu yang tersebar dalam masyarakat berbudaya
hingga masa ia hidup. Namun demikian, ia berpendapat bahwa
mencampur keduanya dalam satu waktu akan menjadikannya
sukar dipelajari sehingga hal ini tidak disarankan olehnya. Ibnu
Khaldun berpendapat bahwa setelah selesai mengkaji bidang ilmu
yang pertama, barulah peserta didik boleh pindah kepada bidang
ilmu yang kedua untuk memahaminya. Pencampuran berbagai
bidang ilmu dalam satu waktu akan mengakibatkan inefektifitas
pembelajaran bagi seorang anak18.
Dalam soal pengklasifikasian keilmuan yang lain, walaupun
Ibnu Khaldun banyak membicarakan tentang ilmu geografi, sejarah
dan sosiologi, namun ia tidak memasukkan ilmu-ilmu tersebut
kedalam klasifikasi ilmunya. Setelah mengadakan penelitian, maka
16 Ibid. Hal 480, 486, dan 760.
17 Ibnu Khaldun, Mukaddimah, Terjemah Mastur Irham dkk. 2011. Jakarta:
Pustaka al-Kautsar. Hal. xi.
18 Prof. Dr. Abd. Rachman Assegaf. Op. Cit.. Hal. 144.
Makalah Filsafat Pendidikan Islam/Aan F/2016 |

Ibnu Khaldun membagi ilmu berdasarkan kepentingannya bagi


anak didik menjadi empat macam, yang masing-masing bagian
diletakkan berdasarkan kegunaan dan prioritas mempelajarinya.
Empat macam pembagian itu adalah:
1) Ilmu agama (syariat) yang terdiri dari tafsir, hadits, fikih, dan
ilmu kalam.
2) Ilmu aqliyah yang terdiri dari ilmu kalam, (fisika) dan ilmu
ketuhanan (metafisika)
3) Ilmu alat yang membantu mempelajari ilmu agama (syariat),
yang terdiri dari ilmu bahasa Arab, ilmu hitung dan ilmu-ilmu
lain yang membantu pelajaran agama.
4) Ilmu alat yang membantu mempelajari ilmu filsafat, yaitu
logika.
Menurut Ibnu Khaldun, kedua kelompok ilmu yang pertama
itu adalah merupakan ilmu pengetahuan yang dipelajari karena
faidah dari ilmu itu sendiri. Sedangkan kedua ilmu pengetahuan
yang terakhir (ilmu alat) adalah merupakan alat untuk mempelajari
ilmu pengetahuan golongan pertama19.
3. Reformasi Pendidikan Islam Menurut Ibnu Khaldun
Ibnu Khaldun sering dikatakan sebagai tokoh kontroversial
karena memadukan corak pemikiran filsafat yang saling
bertentangan antara al Ghozali dan Ibnu Rusyd. Muhammad
Abdullah Enan mengatakan bahwa Ibnu Khaldun adalah pengikut
Al-Ghozali dalam permusuhannya melawan logika Aristoteles, dan
pengikut Ibnu Rusyd dalam usahanya mempengaruhi massa. Ibnu
Khaldun adalah satu-satunya sarjana muslim waktu itu yang
menyadari arti pentingnya praduga dan katagori dalam pemikiran
untuk
menyelesaikan
perdebatan-perdebatan
intelektual.
Barangkali karena itulah Ibnu Khaldun membangun suatu bentuk
logika baru yang realistik, sebagai upayanya untuk mengganti
logika idealistik Aristoteles yang berpola paternalistik-absolutistikspiritualistik. Sedangkan logika realistik Ibnu Khaldun ini berpola
pikir relatifistik-temporalistik-materialistik20.
Dengan pola pikir semacam itu Ibnu Khaldun mengamati dan
menganalisa gejala-gejala sosial beserta sejarahnya, yang pada
akhirnya tercipta suatu teori kemasyarakatan yang modern. Dalam
kaitannya dengan filsafat pendidikan Islam, Ibnu Khaldun tidak
ingin terjebak pada pemikiran konservatif bahwa pencarian ilmu
pengetahuan tidak semata hasil pengamatan inderawi dan
penalaran dari akal pikiran manusia yang merupakan pemberian
Tuhan, melainkan hal itu akan terwujud dengan mengedepankan
watak kebudayaan (culture oriented) Sebab, akal pikir adalah
sarana manusia memperoleh kehidupan, kooperasi antar sesama
dan berkemasyarakatan yang kohesif.
19 Ibid. Hal.xiii.
20 Imam Machali dan Adhi Setiawan, (Ed). 2010. Antologi Kependidikan Islam.
Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Hal. 123-124.
Makalah Filsafat Pendidikan Islam/Aan F/2016 |

Dalam mereformasi pendidikan, Ibnu Khaldun berusaha


memadukan kedua ilmu tersebut dan mengembangkan metode
pendidikan Islam yang konservatif menuju pragmatis, misalnya
metode indoktrinasi dirubah menjadi diskusi. Dalam hal pola
pembelajaran, Ibnu Khaldun tidak sepakat dengan model
pembalajaran yang bertele-tele (semisal menghafal/hal-hal yang
tidak berguna) melainkan memfokuskan kepada hal-hal yang pokok
saja. Namun demikian ia pun mengkritik pola pembelajaran yang
terlalu ringkas-cepat sehingga mengaburkan materi yang diajarkan.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa Ibnu Khaldun telah
mencoba menghubungkan antara ilmu naqliyah dengan aqliyah
atau ilmu agama dengan filsafat. Juwariyah mengatakan bahwa
ilmu-ilmu tersebut sangat erat dengan proses belajar mengajar
yang banyak bergantung pada para pendidik, bagaimana dan
sejauh mana mereka dapat menggunakan berbagai metode yang
tepat dan baik Reformasi pemikiran pendidikan pada masanya
adalah terkait dengan strategi berinteraksi dengan anak didik yang
militeristik21. Menurut Ibnu Khaldun mengingatkan agar jangan
sampai terjadi salah dalam pembelajaran yang pada gilirannya
dapat berdampak buruk bagi anak didik berupa munculnya
kelainan-kelainan psikologis dan perilaku nakal22.
4. Beberapa Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran Ibnu Khaldun
a. Teori Fitrah
Fitrah berasal dari bahasa Arab yang berarti: sifat yang
disifati dengannya terhadap segala wujud pada awal
kejadiannya, atau dengan kata lain dapat diartikan sebagai
sifat dasar manusia. Ibnu Khaldun memaknai fitrah sebagai
potensi-potensi laten yang akan bertransformasi menjadi aktual
setelah mendapat stimulus (pengaruh luar). Menurutnya,
apabila jiwa berada dalam fitrah yang semula (fitrah al-ula)
siap menerima kebaikan dan kejahatan yang datang dan
melekat padanya. Teori fitrah Ibnu Khaldun didasarkan pada
hadits Nabi Saw yang artinya: setiap anak yang dilahirkan
dalam
keadaan
fitrah,
maka
ibu-bapaknyalah
yang
menjadikannya Yahudi, Nasrani, dan Majusi23.
Berdasarkan kandungan hadits di atas, yang dimaksud
fitrah adalah potensi baik, Ibnu Khaldun beranggapan bahwa
potensi baik tersebut adalah sifat dasar manusia. Pengaruh
yang datang kemudian-lah yang menjadikan manusia menjadi
baik atau menyimpang. Sifat kebaikan dan kejahatan itu
21 Ibid. Hal. 132.
22 Muhammad Jawwad Ridla. Tiga Aliran Utama Teori Pendidikan Islam:
Perspektif Sosiologis-Filosofis. Terjemah oleh Mahmud Arif. 2002. Yogyakarta:
Tiara Wacana. Hal. 190-195.
23 Prof. Dr. Abdurrahman Assegaf. Op. Cit. hal. 133.
Makalah Filsafat Pendidikan Islam/Aan F/2016 |

10

tertanam sedemikian rupa sehingga menjadi malakah, yakni


sifat yang terbentuk dan telah mendarah daging dalam diri
individu. Bila wujud manusia itu ditentukan oleh kebiasaankebiasaan dan apa yang dilakukan sehari-hari, bukan ditentukan
oleh sifat atau watak dasarnya itu. Apa yang biasa dilakukan
sehari-hari menjadi perilaku (khuluqan), sifat bentukan
(malakah), dan kebiasaan (adatan), hal itulah yang selanjutnya
menempati sifat dasar (tabiatan) dan watak asli (jibiliah)24.
b. Teori
Belajar
Malakah
(Kemahiran)
dan
Tadrij
(Pentahapan)
Secara bahasa malakah berarti menjadikan sesuatu untuk
dimiliki atau dikuasai, suatu sifat yang mengakar pada jiwa.
Sedangkan menurut Ibnu Khaldun malakah adalah sifat yang
berakal, segala hasil belajar atau mengerjakan sesuatu
berulang kali, sehingga hasilnya dan bentuk pekerjaan itu
dengan kokoh tertaman dalam jiwa25. Jika ditilik dari konsepsi
tiga unsur integral manusia (jasmani, rohani, dan akal), maka
malakan menurut Ibnu Khaldun adalah bagian dari jasmaniah.
Ia mengatakan bahwa: kemahiran (malakah) semuanya
bersifat jasmaniyah, baik itu kemahira yang ada pada tubuh,
seperti aritmatika yang ada pada otak sebagai kemampuan
manusia untuk berfikir dan sebagainya26.
Malakah dalam proses belajar adalah suatu tingkat
pencapaian (achievement). Konsep malakah dalam belajar
menurut Ibnu Khaldun bukan sekedar al-Fahmu (pemahaman)
dan al-wayu (memori), akan tetapi malakah merupakan suatu
yang dibaca, didengarkan, atau dapat memberikan contoh lain
dari yang dicontohkan, atau dapat menggunakan petunjuk
penerapan pada kasus lain. Sedangkan al-Wayu manurut
Taxonomi Bloom daya simpan berbagai pengetahuan, informasi
dan symbol-simbol27.
Teori malakah Ibnu Khaldun hanya bisa dicapai oleh
peserta didik yang menggunakan berbagai pendekatan.
Malakah dalam pendidikan meliputi aspek kogntif, afektif dan
psikomotori(malakah al-Ilm, malaka al-Iman dan malaka alSinaah). Ada dua cara yang ditawarkan Ibnu khaldun dalam
pencapaian malakah yaitu: Latihan al-Munawarah dan alMunazarah. Metode yang paling mudah dalam pencapaian
malakah adalah dengan latihan. Dengan menggangkat contoh
24 Ibid. Hal. 134.
25 Fuad Baali dan Ali Wardi. 2003. Ibn Khaldun dan Pola Pemikiran Islam. Jakarta:
Pustaka Firdaus. Hal. 123.
26 Ibnu Khaldun. Op.it.Hal. 112.
27 Noeng Muhajir. 1984. Pemahaman Tasonomi. Jakarta: Departement Pendidikan
dan Kebudayaan Republik Indonesia. Hal. 7.
Makalah Filsafat Pendidikan Islam/Aan F/2016 |

11

konktrit tentang latihan dalam debat/diskusi ilmiah yaitu


bagaimana menggungkapakan fikiran dengan jelas dalam
diskusi atau debat ilmiah. Kedua Kontinuitas (ittisal).
Kesinambungan antara materi dalam pelajaran akan mengikat
satu sama lain dan membantu terlaksanakan proses belajar dan
waktu yang relatif singkat.
Secara lughawi, tadrij berasal dari kata tadarraja artinya
naik/maju /meningkat secara berangsur-angsur, sedikit demi
sedikit. Ibnu Khaldun menggunakan kata tadrij bukan hanya
meningkat sedikit demi sedikit tapi juga kualitas. Frans
Rosenthal menerjemahkan tadrij dengan gradual (istilah
Inggris)28. Menurut teori ini belajar yang efektif dilakukan
dengan cara berangsur-angsur, setahap demi setahap dan terus
menerus. Teori ini dibangaun berlandaskan asumsi, bahwa
kemampuan manusia terbatas. Proses belajar harus bertahap
memulai dari mengerti masalah-masalah yang paling sederhana
dan mudah, kemudian meningkat perlahan mengerti dan
menguasai hal-hal yang agak kompleks, kemudian lebih
kompleks, sangat kompleks dan seterusnya. Berdasarkan sifat
jiwa inilah maka pencapaian makalah ketrampilan motorik
tertentu baru akan sempurna melalui latihan tadrij (bertahap)
dan ittisal (berkesinambungan).
Untuk mendukung teori malakah dan tadrij tersebut, Ibnu
Khaldum mengutarakan hukum-hukum yang menyertainya.
Antara lain:
1) pengulangan (takrar/Tikrari) dan kebiasaan (adah). Untuk
setiap
pelajaran
memerluakan
pengulangan
dan
pembiasaan
2) Sebab akibat dan implikasi dalam belajar. Menurut Ibnu
Khaldun. Sebab-sebab itu mengantar sesuatu ciptaan di
dunia ini yang didominasi oleh kebiasaan mengakibatkannya
terwujud. Sebab, akibat dari sebab-sebab tersebut adakah
ciptaan yang baru, yang tentu memiliki sebab-sebab
sebelumnya. Keingintahuan manusia kepada suatu akibat
beranti mendaki seterusnya sampai kepada sebab-sebab
yang agak tinggi, lebih tinggi dan tertinggi. Demikian
seterusnya, hingga sampai kepada pemilik sebab yaitu Allah
SWT29.
c. Teori Pembelajaran Mandiri dan Pembelajaran Audial
Dalam psikologi, Ibnu Khaldun berpendapat bahwa
metode pembelajaran mandiri merupakan salah satu cara yang
penting untuk mendorong peserta didik dapat memperoleh ilmu
pengetahuan yang tidak terbatasi hanya melalui guru saja. Para
28 Frans Rosenthal, dkk. 1945. The Muqaddimah, an Introduction to History. New
Rork: Stratford Inc. Hal. 416.
29 Warul Walidin. 2003. Konstelasi Pemikiran Pedagogik Ibnu Khaldun.
Yogyakarta: Nadiya Fondation. Hal. 123.
Makalah Filsafat Pendidikan Islam/Aan F/2016 |

12

peserta didik dapat memperoleh pengetahuan sendiri melalui


belajar mandiri. Prosesnya disajikan dalam seuah bentuk
pembelajaran secara lisan namun ia menunjukkan penolakan
terhadap metode hafalan, yaki yang hanya menghafal tanpa
memahami isi. Pembelajaran audial melalui diskusi dam
problem solving bagu Ibnu Khaldun adalah metode tambahan
yang baik untuk menjadi pelengkap hafalan. Melaluinya,
peserta didik dapat mengemukakan pendapat masing-masing
melalui pemahaman yang mereka dapatkan sendiri.
d. Metode-Metode Pembelajaran Ibnu Khaldun
Selain beragam teori yang telah penulis kemukakan, Ibnu
Khaldun juga sesungguhnya menawarkan berbagai gagasangagasan yang masih relevan hingga saat ini, khususnya dalam
soal metode pembelajaran. Berpikir adalah bagian penting
sebagai alat utama dari proses pencarian ilmu pengetahuan.
Berpikir adalah aplikasi akal untuk membuat analisa dan sintesa
melalui alat indera (pendengaran, penglihatan, penciuman, dan
perasaan). Bagi Khaldun ini adalah hal yang alamiah dalam
fitrah Peserta Didik sebagai manusia, sebagaimana ia bilang:
Adapun ilmu-ilu aqliyah adalah alamia bagi manusia, karena
manusia adalah makhluk yang berpikir. Dalam pada itu ia
memiliki 3 tingkatan sebagaimana telah penulis ulas pada
bagian
sebelumnya,
yakni
akal
pemilah
(al-Aql
alTamyizi/Discerning Intellect), kemudian akal eksperimental (alAql
al-Tajribi/Experimental
Intellect),
dan
akhirnya
menggunakan
akal
kritis
(al-Aql
al-Nadzari/Speculative
Intellect). Klasifikasi akal Ibnu Khaldun ini seanjutnya
melahirkan 2 kategorisasi ilmu yakni Ilmu Naqliyah (Tekstual)
dan Aqliyah (Kontekstual) sebagaimana telah penulis jelaskan
pula di awal tulisan ini30.
Dari sisi praksis, selain pemahaman terhadap modalitas
akal sebagi alat, berlanjut pada pendapatnya akan perlunya
penguasaan satu bidang dan pentahapan (tadrij) dalam proses
pencarian pengetahuan dan pencapaian kemahiran (malakah),
khaldun menawarkan Proses Pembelajaran Global Tiga Tahap
sebagai langkah teknisnya. Menurut Ibnu Khaldun pengajaran
dipandang suatu skill. Karena itu, ia melakukan reaksi dan
rekonstruksi
terhadap
keformalan
kosong
metodologi
pengajaran pada zamannya. Metode yang lazim dipakai pada
masa itu adalah drill dan hafalan, sehingga lahir budaya
verbalistik. Ini yang kemudian juga amat ditentang oleh Ibnu
Khaldun. Dari realitas yang terjadi ini, memunculkan gagasan
pengajaran secara tiga tahap yaitu: (1) Tahap Penyajian Global
(Sabil al-Ijmal), (2) Tahap Pengembangan (al-Syarh wa alBayan), dan (3) Tahap Penyimpulan (Takhallus). Pada tahap
penyajian global, pertama guru menyajikan kepada subjek didik
30 Abu Muhammad Iqbal. 2015. Pemikiran Pendidikan Islam; Gagasan-Gagasan
Besar Para Ilmuwan Muslim. . Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal. 537.
Makalah Filsafat Pendidikan Islam/Aan F/2016 |

13

hak-hal pokok, problem-problem prinsipil dari setiap materi


pembahasan dalam bab-bab. Keterangan-keterangan juga
diberikan secaa global dengan memperhatikan potensi intelek
dan kesiapan subjek dalam menerima palajaran. Apabila
dengan cara ini seluruh pembahasan pokok dikuasai, maka dia
telah memperoleh satu makala dalam cabang ilmu yang ia
pelajari yang masih bersifat persial.
Tahap kedua adalah Pengembangan (al-Syarh wal Bayan).
Guru menyajikan dan melatih kembali pengetahuan atau
keterampilan dalam pokok bahasan itu kepada anak didik dalam
taraf yang lebih tinggi. Pada tahapan ini guru harus
menjelaskan asfek-asfek yang terjadi kontradiksi di dalamnya.
Disertai dengan ragam pandangan teori yang terdapat pada
mareti tersebut. Tahap terakhir adalah Penyimpulan (takhallus).
Pada tahapan terakhir ini guru secara mendalam menyajikan
pokok bahasan lebih mendalam dan rinci dalam konteks yang
menyeluruh. Semua masalah yang dianggap urgen, sulit serta
belum jelas dituntaskan pada tahapan ini.
Ibnu Khaldun mengemukakan teori penstrukturan
pengajaran tiga tahapan ini merupakan hasil analisis observasi
terhadap metodologi pengajaran yang diterapkan pada masa
itu, pendidikan Islam seharusnya diarahkan pada gambaran
tersebut dalam memberikan pemahaman yang mendalam pada
peserta didik, peserta didik tidak secara langsung disuguhkan
pada topik yang sulit, tetapi pembelajaran itu diarahkan pada
kenyataan umum kemudian pada pembahasan lebih khusus.
Selain pemikiran-pemikiran diatas, khazanah pemikiran
pendidikan Ibnu Khaldun sesungguhnya juga masih amat
banyak. Beberapa metode pembelajaran ala Ibnu Khaldun yang
dapat penulis rangkum dan relevan hingga hari ini antara lain:
(1) Metode Kasih Sayang (Al-Qurb Wa Al-Muyanah), (2) Metode
Peninjauan Kematangan Usia dalam Mengajarkan Al-Quran, (3)
Metode Penyesuaian Fisik dan Psikis Peserta Didik, (4) Metode
Kesesuaian dengan Perkembangan Potensi Peserta Didik, (5)
Metode Penguasaan Satu Bidang, (6) Praktik/Latihan (Tadrib),
(7)
Belajar
Melalui
Pengalaman
(Widya-Wisata/Studi
Lapang/Visitasi/Rihlah), (8) Menggunakan Pendekatan Induktif,
(9) Apersepsi (Mengaitkan Pengetahuan Lama dengan
Pengetahuan Baru) dalam Pembelajaran, (10) Memotivasi
Melalui Hukuman, (11) Role Model dalam Pengajaran Akhlaq,
(12) Menggunakan Alat Bantu Mengajar, dan (13) Metode
Menghindari PeriNgkasan Buku (Ikhtisar At-Turuk).
Muhammad Abduh (1266H/1849M-1323H/1095M):
Biografi, Karya dan Pemikirannya
A. Biografi Ringkas Muhammad Abduh
Muhammad Abduh (bahasa Arab: ; lahir di Delta Nil (kini
wilayah Mesir), 1849 meninggal di Iskandariyah (kini wilayah
Makalah Filsafat Pendidikan Islam/Aan F/2016 |

14

Mesir), 11 Juli 1905 pada umur 55/56 tahun) adalah seorang


pemikir muslim dari Mesir, dan salah satu penggagas gerakan
modernisme Islam. Ia belajar tentang filsafat dan logika di Universitas
Al-Azhar, Kairo, dan juga murid dari Jamaluddin al-Afghani, seorang
filsuf dan pembaru yang mengusung gerakan Pan Islamisme untuk
menentang penjajahan Eropa di negara-negara Asia dan Afrika.
Muhammad Abduh diasingkan dari Mesir selama enam tahun
sejak 1882, karena keterlibatannya dalam Pemberontakan Urabi.
Di Lebanon, Abduh sempat giat dalam mengembangkan sistem
pendidikan Islam. Pada tahun 1884, ia pindah ke Paris, dan bersalam
al-Afghani menerbitkan jurnal Islam The Firmest Bond.
Salah satu karya Abduh yang terkenal adalah buku
berjudul Risalah
at-Tawhid yang
diterbitkan
pada
tahun 1897.
Pemikirannya banyak terinspirasi dari Ibnu Taimiyah, dan pemikirannya
banyak menginspirasi organisasi Islam, salah satunya Muhammadiyah,
karena ia berpendapat, Islam akan maju bila umatnya mau belajar,
tidak hanya ilmu agama, tetapi juga ilmu sains.Muhammad Abduh
adalah seorang pemikir Muslim yang hasil-hasilpemikirannya selalu
dibicarakan dan dirujuk oleh banyak kalangan. Karenanya, masih
banyak pemikiran Muhammad Abduh yang hidup sampai sekarang,
termasuk dalam bidang pendidikan. Selain sebagai ahli tafsir,
Muhammad Abduh dikenal luas sebagai pembaharu, dan salah satu
aspek pembaharuannya adalah dalam bidang pendidikan.
Menurut Nurcholish Madjid, Abduh memiliki pemikiran modern
yang dipengaruhi oleh Ibn Taimiyah dalam berijtihad, dan dipengaruhi
oleh paham Wahabi dalam hal pemurnian akidah. Ia juga dipengaruhi
oleh pemikiran Mutazilah, dipengaruhi oleh filosof rasionalisme Islam
dan juga sosiolog Muslim Ibn Khaldn dalam kajian empirik. Karena
wawasan modernnya, membuat Abduh menjadi tokoh yang
berpengaruh31. Ia juga, mampu menangkap kembali ajaran Islam yang
dinamis dan otentik32. Komentar ini telah menempatkan Abduh sebagai
seorang yang istimewa dalam bidang pemikiran Islam, karena terbukti
warisan ilmiahnya masih dinikmati para ilmuan sampai sekarang ini.
Salah
seorang
guru
Abduh
yang
turut
signifikan
mempengaruhinya adalah al-Afghn. Ia pembaharu yang menyatakan
bahwa Islam tidak bertentangan dengan akal dan ilmu pengetahuan.
Sedangkan orang yang membuktikan pernyataan itu adalah
Muhammad Abduh di Mesir dan Ahmad Khan di India 33. Fazlur Rahman
mengatakan
bahwa
Mu hammad
Abduh
adalah
seorang
31 Nurcholish Madjid. 2000. Islam Doktrin dan Peradaban,cet. 4. Jakarta: Yayasan
Wakaf Paramadina. Hal. 173-174.
32 Nurcholish Madjid. 1997. Kaki Langit dan Peradaban. Jakarta: Yayasan Wakaf
Paramadina. Hal. 22. Lihat juga Nurcholish Madjid. 1997. Bilik-Bilik Pesantren.
Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina. Hal. 53. Dikatakan juga bahwa gerakan
pembaharuan Muhammad Abduh ini diilhami oleh pemikiran Ibn Taimiyah.
Tentang pengaruh pemikiran pendidikan Abduh di Indonesia, baca: Mona
Abaza, Pendidikan Islam dan Pergeseran Orientasi: Studi Kasus Alumni
Universitas al-Azhar (Jakarta: LP3ES, 1999).
Makalah Filsafat Pendidikan Islam/Aan F/2016 |

15

pembaharu dalam bidang pendidikan di Universitas al-Azhar 34. Setelah


ia mengajar di Universitas al-Azhar, pelajaran filsafat diajarkan
kembali.
Pengajaran
filsafat
ini merupakan modernisasi yang
dilakukan oleh Afghn dan Abduh 35. Al-Afghn adalah pembaharu
yang menyatakan bahwa Islam tidak bertentangan dengan akal dan
ilmu pengetahuan6. Lebih lanjut Fazlur Rahman mengatakan, Ia
adalah seorang teolog berpengalaman pada garis-garis tradisional,
yang merasa yakin bahwa sains dan Islam tidak mungkin
bertentangan, dan ia menyatakan bahwa agama dan pekerjaan ilmiah
bekerja pada level yang berbeda. Karena itu, ia menyuguhkan ajaran
dasar Islam dalam batasan-batasan yang bisa diterima oleh pikiran
modern.
B. Karya-Karya Muhammad Abduh
Sebenarnya, Abduh tidak terlampau tertarik untuk menuangkan
pemikirannya ke dalam buku. Ia lebih memilih metode pidato dalam
menyampaikan ide dan pandangannya. Menurutnya, pemikiran yang
disampaikan lewat ucapan jauh lebih menyentuh hari sanubari
pendengar daripada menyampaikan lewat tulisan. Namun demikian, ia
juga tercatat cukup produktif menghasilkan karya-karya yang menjadi
buah pemikirannya. Al-Waridah adalah karya pertama Muhammad
Abduh yang berisi ilmu kalam atau ilmu tauhid dengan metode dan
pendekatan tasawuf. Selanjutnya ia menulis beberapa tafsr al-Quran,
Buku dan artikel-artikel yang cukup termasyhur sebagai berikut36:
1. Risalah fi Wahdati al-Wujud, karya ini tidak sempat terbit, namun ia
menjadi karya kedua Abduh sebagaimana ia ceritakan pada Rasyid
Ridha. Namun karya ini bukan merupakan karya Abdul Karim al-Jilli
dan semisalnya yang mendekati madzhab hulul.
2. Tarikh Ismail Basya,
3. Falsafatul al-Ijtimaiyyah wa at-Tarikh,
4. Risalah Al-Aridat, ditulis tahun 1873 M,
5. Hasyiah-Syarah Aqaidi Al-Jalali Ad-Dawwani li-Al-Adudiyah yang
ditulis tahun 1875 M. Karya ini ditulis Muhammad Abduh ketika
berumur 26 tahun. Isinya tentang aliran-aliran filsafat, ilmu kalam
33 Ibid. Hal. 318.
34 Fazlur Rahman. 1984. Islam. terj. Ahsin Muhammad. Bandung: Pustaka
Pelajar. Hal. 280. Lihat juga, Abdul Majid Abdussalam al-Muhtasib. 1997. Tafsir
al-Quran Kontemporer: Visi dan Paradigma, terj. Moh. Magfur Wachid. Bangil:
Al-Izzah. Hal. 4., Dikatakan bahwa menurut Abbas al-Aqqad bahwa Muhammad
Abduh adalah Abqariu al-Ishlahwa al-Talm (orang yang genius dalam bidang
pembaharuan dan pendidikan). Dengan kata lain, Abduh adalah seorang ahli
pembaharuan Islam dan ahli dalam bidang pendidikan.
35 Ibid. Hal. 176.
36 Penulis rangkum dari Abu Muhammad Iqbal. Op. Cit. Hal.134-135 dan M.
Quraish Shihab,. 1994. Studi Kritis Tafsir Al-Manar. Bandung: Pustaka Hidayah.
Hal. 11-15.
Makalah Filsafat Pendidikan Islam/Aan F/2016 |

16

(teologi) dan tasawuf. Serta berisikan kritikan pendapat-pendapat


yang salah,
6. Syarah Nahjul-Balaghah, karya ini berisikan komentar menyangkut
kumpulan pidato dan upacara Imam Ali bin Abi Thalib,
7. Syarah Maqamat BadiAl-Zaman Al-Hamdani, karya ini berisikan
tentang bahasa dan sastra arab (maqamat),
8. Syarah al-Bashari al-Hamdani al-Nashiriyyah fi al-Manthiq, sebuah
kitab mantik dengan pendekatan logika yang tinggi,
9. Nizamu al-Tarbiyah wa al-Talim bi Mishr, buku ini dikenal sebagai
buku pendidikan terbaik karya Muhammad Abduh, yakni sebuah
buku berisikan tentang pendidikan dengan metode praktis yang
dilaksanakan di Mesir,
10.
Risalah Al-Tauhid, karya ini berisikan tentang sistem teologi,
buku inilah yang diajarkan Muhammad Abduk kepada Rasyid Ridha
di Universitas Al-Azhar,
11.
Taqriru al-Mahakim al-Syariyyah, sebuah buku tematik yang
sangat khusus, namun memiliki kegunaan cukup luas, tidak saja
berguna bagi hakim namun juga semua kelompok pecinta ilmu,
budaya, lebih-lebih bagi pelajar fiqih,
12.
Al-Islam
13.
Tafsir Surah al-Asr, Kairo ditulis tahun 1903, yang
dipublikasikan di majalah Al-Manar atas permintaan muridnya,
14.
Tafsir Juz Amma, al-Matbaah al-Amriyya, Kairo ditulis tahun
1904
15.
Menerjemahkan kitab karangan Jamaluddin Al-Afghani yaitu
Ar-Raddu Ala Al-Dahriyyin dari bahasa Persia. Karya ini berisikan
bantahan terhadap orang yang tidak memercayai wujud Tuhan.
16.
TafsirAl-Manar, karya ini berorientasi pada sastra-budaya
dan kemasyarakatan.
17.
Tafsir al-Manaar sebanyak 12 Jilid, ditulis tahun 1927,
18.
Tafsir al-Quran al-Hakim al-Mustahir bi Tafsir al-Manar
sebanyak 12 jilid dengan index, ditulis di Kairo pada tahun 19541961,
19.
Al-Islam Din al-Ilm wa al-Madaniyyat, yang ditulis di Kairo pada
tahun 1964, berisikan tentang semangat kaum muslimin. Buku ini
sejatinya kumpulan makalah-makalah dari majalah al-Manar yang
diedit dan diterbitkan oleh Rasyid Ridha.
C. Pokok-Pokok Pikiran Muhammad Abduh tentang Pendidikan
Muhammad Abduh menyatakan bahwa sistem pendidikan
haruslah fungsional dan bersifat universal tanpa terdikotomikan oleh
jenis kelamin haruslah diperjuangkan, diperuntukkan bagi semua tanpa
terbedakan oleh status sosial-ekonomi. Kesetaraan hak untuk
mendapatkan pendidikan bagi kaum laki-laki dan wanita khususnya,
menurut Abduh haruslah dinafikan agar para wanita tidak tinggal
dalam kebodohan. Ini adalah penyakit umum yang menjadikan tradisi
intelektual menghilang. Keterbelakangan umat islam pada masa-masa
itu dari Barat, menurut Abduh juga terjadi karena ketidaktahuan umat
muslim akan ajaran yang dianutnya oleh karena kesalahan metode
Makalah Filsafat Pendidikan Islam/Aan F/2016 |

17

mempelajarinya. Solusinya haruslah melalui pembangunan sistem


pendidikan yang tepat.
Dasar pendidikan haruslah terdiri atas membaca, menulis,
berhitung dan agama. Isi dan lama pendidikan haruslah beragam,
sesuai dengan tujuan dan profesi yang dikehendaki pelajar. Dalam
pemikiran pendidikan Muhammad Abduh, siswa sekolah menengah
haruslah mereka yang ingin mempelajari syariat, milliter, kedokteran,
atau ingin bekerja pada pemerintah, kurikulumnya meliputi Pengantar
Pengetahuan, Seni Logika, Prinsip Penalaran, Teks tentang Dalil
Rasional, serta Teks Sejarah yang meliputi berbagai penaklukan dan
penyebaran Islam. 37
Latar belakang lahirnya ide-ide pendidikan Muhammad Abduh
disebabkan oleh faktor situasi sosial keagaman dan situasi pendidikan
yang ada pada saat itu. Karena Muhammad Abduh beranggapan
bahwa kejumudan
pemikiran telah merasuki berbagai bidang
kehidupan seperti bahasa, syariah, akidah, dan sistem masyarakat.
Menurutnya salah satu penyebab hal ini terjadi adalah karena faham
dari akidah jabariah. Ajarannya jabariyah memiliki kecenderungan
untuk bersikap sikap fasif dan kepercayaan kepada kasih sayang
Tuhan, sehingga terjadinya penyimpangan dan mempermudah
manusia melanggar perintah Tuhan.
Dualisme sistem pendidikan yang diwariskan oleh Muhammad Ali
pada abad-19 dimana sekolah-sekolah modern yang mengajarkan
pengetahuan umum tanpa menyertakan agama berada di sisi yang
berbeda dengan sekolah agama yang tidak mengajarkan pengetahuan
umum, adalah salah satu sasaran kritik dari Muhammad Abduh.
Akibatnya sistem ini mewariskan dua tipe pendidikan pada abad ke
duapuluh yaitu: Tipe pertama adalah sekolah-sekolah agama dengan
al-Azhar sebagai lembaga pendidikan yang tertinggi. Sedangkan tipe
kedua adalah sekolah-sekolah modern, baik yang dibangun
oleh
pemerintah Mesir, maupun yang didirikan oleh bangsa asing. Kedua
tipe sekolah tersebut tidak mempunyai hubungan antara satu dengan
lainnya, masing-masing berdiri sendiri dalam memenuhi kebutuhan
dan mencapai tujuan pendidikannya.
Ilmu-ilmu Barat tidak dibenarkan di sekolah-sekolah agama.
Dengan demikian pendidikan agama kala itu tidak mementingkan
perkembangan intelektual, padahal Islam mengajarkan untuk
mengembangkan aspek jiwa tersebut sejaar dengan perkembangan
aspek jiwa yang lain. Dari itulah agaknya pemikiran yang statis tetap
mendominasi corak pemikiran guru dan murid pada saat itu, bukan
hanya dalam tingkat awal dan menengah, tetapi juga dalam kalangan
al-Azhar sendiri.38
Dampak negatif dari dualisme ini mendorong Abduh untuk
mengadakan Selain terjadinya kasus-kasus yang demikian, dualisme
37. Suwito. 2008. Sejarah Sosial Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana. Hal. 174-175.
38 .Arbiyah Lubis, Pemikiran Muhammadiyah dan Muhammad Abduh : Suatu Studi
Perbandingan, (Jakarta, PT.Bulan Bintang, 1993) h.194 - 195, Lihat juga Samsul Nizar,
Sejarah Pendidikan Islam, h.248

Makalah Filsafat Pendidikan Islam/Aan F/2016 |

18

pendidikan yang demikian melahirkan dua kelas sosial dengan spirit


yang berbeda. Tipe sekolah yang pertama memproduksi para ulama
serta tokoh masyarakat yang enggan menerima perubahan dan
cenderung untuk mempertahankan tradisi. Tipe sekolah yang kedua
melahirkan kelas elite generasi muda, hasil pendidikan yang mulai
pada abad ke sembilanbelas. Dengan ilmu-ilmu Barat yang mereka
peroleh mereka dapat menerima ide-ide yang datang dari Barat.
Muhammad Abduh melihat segi-segi negative dari kedua bentuk
pemikiran yang demikian. Ia memandang bahwa pemikiran yang
pertama
tidak dapat dipertahankan lagi. Usaha-usaha untuk
mepertahankan pemikiran yang demikian hanya akan menyebabkan
umat Islam tertinggal jauh, terdesak oleh arus kehidupan dan
pemikiran modern. Sedangkan pemikiran kedua ia melihat bahaya
yang mengancam sendi-sendi agama dan moral yang akan
tergoyahkan oleh pemikiran modern yang mereka serap. Dari itulah
Muhammad Abduh melihat pentingnya mengadakan perbaikan di dua
institusi tersebut, sehingga jurang yang terbuka lebar dapat
dipersempit.
Latar belakang inilah yang akhirnya melahirkan pemikiran
Muhammad Abduh dalam bidang pemikiran pendidikan formal
dan nonformal, dengan bertujuan untuk menghapus dualisme
pendidikan. Dalam bidang pendidikan formal Muhammad Abduh
mengarahkan pemikirannya kepada empat hal, yaitu tujuan, kurikulum,
metode pengajaran, dan pemberian pendidikan terhadap wanita.
Arbiyah Lubis memaparkan ke empat hal itu dengan jelas dalam
bukunya Pemikiran Muhammadiyah dan Muhammad Abduh : Suatu
Studi Perbandingan, sebagai berikut :
1. Tujuan Pendidikan
Muhammad Abduh merumuskan tujuan pendidikan, yaitu :Tujuan
pendidikan ialah mendidik akal dan jiwa dan menyampaikannya kepada batas-batas
kemungkinan seseorang mencapai kebahagian hidup dunia dan akhirat. Dari
rumusan tujuan pendidikan yang demikian dapat dipahami, bahwa tujuan pendidikan
yang ingin dicapai Muhammad Abduh adalah tujuan yang luas, mencakup aspek akal
(kognitif) dan aspek spiritual (afektif). Dengan tujuan yang demikian pula ia
mengingkan terbentuknya pribadi yang mempunyai struktur jiwa yang seimbang,
yang tidak hanya menekankan perkembangan akal, tetapi juga perkembangan
spiritual. Tujuan Muhammad Abduh yang demikian jelas bertentangan dengan tujuan
pendidikan saat itu yang hanya mementingkan salah satu aspek dan mengabaikan
aspek yang lainnya.
Pusat perhatian Muhammad Abduh dalam pendidikan dan pengajaran, yang
ternyata juga merupakan tujuan hidupnya. Muhammad Abduh menuliskan bahwa
tujuan hidupnya adalah :
a. Membebaskan pemikiran dari belenggu taklid dan memahami ajaran agama
sesuai dengan jalan yang ditempuh ulama zaman klasik (salaf), yaitu zaman
sebelum timbulnya perbedaan paham, yang kembali kepada sumber-sumber
utama, yaitu Al-Quran dan Al-Hadist.

Makalah Filsafat Pendidikan Islam/Aan F/2016 |

19

b. Memperbaiki bahasa Arab yang dipakai, baik oleh instans pemerintahan maupun
surat-surat kabar dan masyarakat pada umumnya, dalam surat menyurat
mereka39.
Pendidikan akal ditujukan sebagai alat untuk menanamkan kebiasaan berfikir
dan dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk. Dengan menanamkan
kebiasaan berfikir, Muhammad Abduh berharap kebekuan intelektual yang melanda
kaum muslimin saat itu dapat dicairkan dan dengan pendidikan spiritual diharapkan
dapat melahirkan generasi yang tidak hanya mampu berfikir kritis, juga memiliki
akhalk mulia dan jiwa yang bersih. Dengan demikian kedua aspek, akal spiritual,
menjadi sasaran utama pendidikan Muhammad abduh. Ia berkeyakinan bila kedua
aspek tersebut dididik dan dikembangkan, dalam arti akal dicerdaskan dan jiwa
dididik dengan akhlak agama, maka umat Islam akan dapat berpacu dengan barat
dalam menemukan ilmu pengetahuan baru dan dapat mengibangi mereka dalam
kebudayaan40.
Penyelarasan antara satu dengan laiinya adalah salah satu
ciri lain pemikiran Abduh, sebagaimana ia sandingkan antara
tujuan akhir pendidikan bersama dengan tujuan institusional 41.
Pokok pikirannya tentang tujuan institusional pendidikan
didasarkannya pada tujuan pendirian sekolah. Oleh Abduh, jenjang
pendidikan ia bagi kepada tiga tingkatan yakni: Tingkat Dasar
(Mubtadiin), Tingkat Menengah (Taqabat al-Wusta), dan Tingkat
Tinggi (Taqabat al-Ulya). Pembagian ini disesuaikan dengan tiga
klasifikasi kelompok pekerjaan yang nantinya akan digeluti, yakni;
(1) kelompok para tukang, pedagang, petani dan serupa dengan
mereka, (2) para pejabat yang mengatur urusan negara, mengelola
kemaslahatan masyarakat serta memeliharanya, seperti panglima
angkatan bersenjata, pengadilan beserta pegawainya dari berbagai
golongan, dan (3) golongan para ulama, pemimpin masyarakat,
dan ahli pendidikan seperti guru dan lainnya42.
2. Kurikulum Pendidikan
Sejalan
dengan
tujuan
pendidikan,
kurikulum
oleh
Muhammad Abduh disusun berdasarkan tigkatan dan relevansi
dengan pekerjaan yang akan digeluti. Tujuan tersebut adalah titik
sentral dalam pengembangan materi ajar untuk mencapai tujuan
39 Harun Nasution. 1987. Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mutazilah. Jakarta:UIPress. Hal. 24.

40 Lihat Arbiyah Lubis, Pemikiran Muhammadiyah dan Muhammad Abduh: Suatu Studi
Perbandingan, h.420

41 Tujuan institusional adalah tujuan yang ingin dicapai suatu sekolah atau
madrasah secara keseluruh, artinya apabila seseorang telah menamatkan mata
pelajarannya atau telah lulus dari ujian akhir sekolah tersebut, ia dapat dianggap
telah mencapai tujuan-tujuan yang dibebankan kepadanya. Lihat, Depratemen
Agama Republik Indonesia. 1984. Pengembangan Kurikulum untuk Siswa
Pendidikan Guru Agama Negeri. Hal. 11.
42 Abu Muhammad Iqbal. Op. Cit. Hal 148.
Makalah Filsafat Pendidikan Islam/Aan F/2016 |

20

pendidikan yang berimbang antara akal dan jiwa guna mencapai


kebahagiaan dunia dan akhirat.
a. Tingkat Sekolah Dasar
1) Membaca
2) Menulis
3) Berhitung sampai dengan tingkat tertentu
4) Pelajaran agama dengan bahan-bahan : akidah menurut versi Ahl al-Sunnah,
serta fikih dan akhlaq yang berkaitan dengan hal dan hara, perbuatanperbuatan bidah serta bahayanya dalam masyarakat. Pelajaran akhlak
mencakup perbuatan dan sifat-sifat yang baik dan buruk.
5) Sejarah, yang mencakup sejarah Nabi dan para sahabat, akhlak mereka yang
mulia, serta jasa mereka terhadap agama. Diperkenalkan juga sebab-sebab
Islam dapat berkuasa dalam waktu yang relative singkat, sejarah Nabi dan
sahabat ditambah dengan uraian-uraian tentang Khalifah Usmaniah, yang
kesemuanya diberikan dengan secara ringkas.
b. Tingkat Menengah
1) Manthiq atau logika, Dasar-dasar penalaran (usul an-Nadzari), dan Ilmu
debat atau diskusi (adab al-Jadal). Dalam konsep Abduh, ketiganya tidak
terpisahkan, namun manthiq berperan sebagai dasarnya. Muhammad Abduh
tidak menyebutkan secara pasti tujuan ketiganya, namun menurut Thaib abd.
Muin, tujuan pelajaran logika adalah untuk melatih akal dengan bermacammacam latihan dan pembahasan berbagai masalah dengan berbagai macam
metode berfikir43.
2) Akidah yang dikemukan dengan pembuktian akal dan dalil-dalil yang pasti.
Pada tingkat ini pelajaran yang diberikan belum menjangkau perbedaan
pendapat. Di samping itu dijelaskan fungsi aqidah dalam kehidupan.
3) Fikih dan akhlak. Pada tingkat ini pelajaran fikih dan akhlak hanya
memperluas bahan yang diberikan pada tingkat dasar. Pelajaran lebih
ditekakan pada sebab, kegunaan dan pengaruh, terutama dalam mmasalah
akhlak. Misalnya kegunaan berakhlak baik dan pengaruhnya dalam
kehidupan bermasyarakat. Pelajaran fikih lebih ditekankan pada hukumhukum agama dan kegunaannya dalam kehidupan bermasyarakat. Semua
pelajaran tersebut diberikan dengan landasan dalil-dalil yang shahih dan
praktek dari masa al-salaf al-shahih dengan landasan dalil-dalil yang shahih
dan praktek dari masa al-salaf al-shahih.
4) Sejarah Islam, yang menyangkut dengan sejarah Nabi, sahabat dan
penaklukan-penaklukan yang terjadi dalam beberapa abad sampai pada
penaklukan pada masa kerajaan Usmaniah. Semua penaklukan tersebut,
menurut Muhammad Abduh, dipandang dari aspek agama, sekiranya pun
motif politik dikemukakan juga, tetapi motif politik dibelakang motif agama.
Murid-murid di sekolah menengah ini dipersiapkan untuk menduduki jabatan
tertentu dalam pemerintahan. Dari itu mereka harus memiliki pengetahuan yang
demikian.
c. Tingkat Atas
Pelajaran agama ditingkat ini adalah untuk golongan mereka yang akan menjadi
pendidik yang disebutnya sebagai golongan yang arif (urafa al-ummat).
Pelajaran yang diberikan kepada mereka mencakup:
43 Thaib Tahir Abb Muin. 1966. Ilmu Manthiq. Bandung:Pinda Grafika. Hal. 19.
Makalah Filsafat Pendidikan Islam/Aan F/2016 |

21

1)
2)
3)
4)

Tafsir
Hadits
Bahasa Arab dengan segala cabangnya
Akhlak dengan pembahasan yang terinci sebagai yang diuraikan oleh alGhazali dalam kitab Ihya Ulum al-Din.
5) Ushul fikih
6) Sejarah yang termasuk di dalamnya sejarah Nabi dan sahabat yang diuraikan
secara terinci. Sejarah peralihan penguasa-penguasa islam, sejarah kerajaan
Usmaniah dan sejarah jatuhnya kerajaan-kerajaan islam ke tangan penguasa
lain dengan menerangkan sebab-sebabnya.
7) Retorika dan dasar-dasar berdiskusi
8) Ilmu kalam. Pada tingkat ini ilmu kalam diberikan dengan menerangkan
aliran-aliran yang terdapat dalam ilmu kalam dengan menjelaskan dalil-dalil
yang menopang pendapat setiap aliran. Pada tingkat ini pelajaran ilmu kalam
tidak ditujukan untuk memperteguh akidah, tetapi untuk memperluas
cakrawala pemikiran.
Ketiga paket kurikulum di atas merupakan gambaran umum dari kurikulum pelajaran
agama yang diberikan dalam setiap tingkat. Dalam hal ini Muhammad Abduh tidak
memasukkan ilmu-ilmu Barat ke dalam kurikulum yang direncanakannya.
Menurutnya ilmu-ilmu tersebut, seperti ilmu pasti, ilmu bahasa, ilmu sosial dan
sebagainya dipelajari bersama-sama dengan ilmu-ilmu dalam kurikulum yang
dikemukakan di atas. Ia tidak merincinya, karena masing-masing sekolah ataupun
jurusan mempunyai pandangan yang sendiri tentang ilmu apa yang lebih
ditekankannya untuk dipelajari pada jurusan atau sekolah tertentu. Dengan demikian
dalam bidang pendidikan formal Muhammad Abduh menekankan pemberian
pengetahuan yang pokok, yaitu, akidah, fikih, sejarah islam, akhlak, dan bahasa.
3. Metode Pengajaran
Dalam bidang metode pengajaran ia pun membawa cara baru dalam dunia
pendidikan saat itu. Ia mengeritik degan tajam penerapan metode hafalan tanpa
pengertian yang umumnya dipraktekkan di sekolah-sekolah saat itu. Terutama
sekolah-sekolah agama. Ia tidak menjelaskan dalam tulisan-tulisannya metode apa
yang sebaiknya diterapkan, tetapi apa yang dipraktekkannya ketika ia mengajar di alAzhar tampaklah bahwa ia menerapkan metode diskusi untuk memberikan
pengertian yang mendalam kepada murid.
Muhammad Abduh mengubah cara memperoleh ilmu dari metode hafalan
dengan metode rational dan pemahaman. Siswa disamping menghafal sesuatu juga
harus memahami tentang materi yang dihafalnya. Ia juga mnghidupkan kembali
metode munazharah dalam memahami pengetahuan dan menjauhkan metode taklid
buta teahadap para ulama. Ia juga mengembangkan kebebasan ilmiah dikalangan
mahasiswa al-Azhar. Ia juga menjadikan bahasa Arab yang selama ini hanya
merupakan ilmu yang tidak berkembang menjadi ilmu yang berkembang yang dapat
diperg unakan untuk menterjemahkan teks-teks pengetahuan modern kedalam bahasa
Arab.44
Said Ismail Ali dalam bukunya Pelopor Pendidikan Islam Paling
Berpengaruh, menambahkan : Bagaimana metode pengajaran yag dominan
digunakan di al-Azhar saat itu tidak menjelaskan dan membentangkan persoalan
sebagaimana mestinya. Kerancuan dan keambiguan selalu menyertai materi pelajaran
44 Ramayulis & Samsul Nizar, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam Mengenal Tokoh
Pendidikan Islam di Dunia Islam dan Indonesia, (Jakarta:Quantum teaching, 2005), h. 48
Makalah Filsafat Pendidikan Islam/Aan F/2016 |

22

yang disampaikan. Anak-anak didik tidak menemukan jalan lain di hadapannya


kecuali menghafal tanpa dibarengi dengan pemahaman dan kesabaran. Akhirnya,
terjadi keterputusan antara pengetahuan dan perilaku. Di sini Abduh merasakan akan
urgensitas metode pengajaran. Berangkat dari sini, Abduh menekankan metode
pengajaran kepada para tenaga guru pendidik di al- Azhar. Yang seharusnya lebih
diperhatikan adalah Bagaimana cara kita mengetahui? dan bukan Apa yang
akan kita ketahui? Pasalnya, melatih anak didik tentang cara memperoleh ilmu
pengetahuan bisa menuntun mereka pada perangkat utama dalam mendapatkan ilmu
pengetahuan. Jadi ketika mereka merasa memerlukan satu pengetahuan tertentu
maka mereka bisa mencari dan memperolehnya sendiri. 45
Selain itu Abduh juga membuat sebuah metode yang sistematis dalam
menafsirkan al-Quran yang didasarkan pada lima prinsip, yaitu:
a. Menyesuaikan peristiwa-peristiwa yang ada pada masanya dengan nash-nash alQuran.
b. Menjadikan al-Quran sebagai sebuah kesatuan.
c. Menjadikan surat sebagai dasar untuk memahami ayat.
d. Menyederhanakan bahasa dalam penafsiran
e. Tidak melalaikan peristiwa-peristiwa sejarah untuk menafsirkan ayat-ayat pada
waktu itu. 46
Kemudian dalam bidang pendidikan nonformal, Muhammad Abduh
menyebutkan sebagai Islah (usaha perbaikan). Dalam penyelengaraan pendidikan ini
ia melihat perlunya campur tangan pemerintah, terutama dalam mempersiapkan para
pendakwah. Muhammad Abduh menekankan mereka dari golongan yang terdidik
yang telah mendapat pendidikan dengan kurikulum pendidikan tingkat atas . Tugas
mereka terutama adalah : (1) Menyampaikan kewajiban dan pentingnya belajar, (2)
Mendidik mererka dengan memberikan pelajaran tentang apa yang mereka lupakan
atau belum mereka ketahui, dan (3) Meniupkan ke dalam jiwa mereka cinta pada
Negara, tanah air dan pemimpin.
Harapan Muhammad Abduh untuk menghapus dualisme pendidikan, dengan
alasan semua ilmu pada hakikatnya adalah satu, terutama di universitas al-Azhar.
Belum sepenuhnya berhasil, akan tetapi beberapa hal sudah terjadi perubahan,
terkhusus masuknya pelajaran umum pada kurikulum al-Azhar seperti matematika,
aljabar, ilmu ukur dan geografi.
Reformasi pemikiran pendidikan oleh Muhammad Abduh, tidak hanya
berlangsung di Mesir saja, tapi pada saat ia diasingkan di Beirut yang masih berada
di bawah kekuasaan Turki Ustmani. Muhammad Abduh memberikan konsepsi untuk
reformasi pendidikan di Turki Ustmani, yaitu akidah yang shahih dan sama di dalam
akal umat, dan pendidikan yang bisa memudahkan yang sulit dan menjelaskan yang
susah.
4. Pendidikan Wanita
Menurutnya wanita haruslah mendapat pendidikan yang sama dengan lelaki.
Mereka, lelaki dan wanita, mendapat hak yang sama dari Allah. Hal ini berdasarkan
firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah ayat 228, yaitu : Dan para wanita
45 Said Ismail, Pelopor Pendidikan Islam Paling Berpengaruh, (Jakarta, Pustka Al-Kautsar,
2010) , h. 164
46 Lihat Harun Nasution, Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mutazilah, h. 65.

Makalah Filsafat Pendidikan Islam/Aan F/2016 |

23

mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya dengan cara yang


maruf 478, Dan Firman Allah Swt dalam QS. Al-Ahzab ayat 35, yang
artinya :Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan
perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya,
laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki
dan perempuan yang khusyu, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki
dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara
kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah
telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. 29
Dalam pandangan Muhammad Abduh ayat-ayat tersebut mensejajarkan lelaki
dan wanita dalam hal memndapatkan keampunan dan pahala yang diberikan Allah
atas perbuatan yang sama, baik dalam hal yag bersifat keduniaan, maupun dalam hal
agama. Dari sini ia bertolak bahwa wanita berrhak mendapatkan pendidikan seperti
hak yang didapatkan lelaki. wanita katanya, harus dilepaskan dari rantai
kebodohan , dan yang demikian hanya mungkin dengan memberi mereka
pendidikan.48
Fazlur Rahman (21 September 1919 26 Juli 1988):
Biografi, Karya dan Pemikirannya
A. Biografi Ringkas Fazlur Rahman
Fazlur Rahman Malik (Urdu: ( ) 21 September
1919 26 Juli 1988) adalah seorang pemikir Islam. Tahman lahir di
Hazara, Kemaharajaan Britania (kini Pakistan). Ia mempelajari bahasa
Arab di Universitas Punjab, dan menempuh pendidikan di Universitas
Oxford di mana ia menulis disertasi mengenai Ibnu Sina. Setelah itu,
Rahman memulai kariernya sebagai pengajar. Fazlur Rahman di
besarkan dalam madzhab Hanafi. Madzhab Hanafi merupakan
madzhab yang didasari al-Quran dan Sunnah, akan tetapi cara
berfikirnya lebih rasional. Dengan demikian tidak dapat di pungkiri
bahwa Fazlur Rahman juga rasional di dalam berfikirnya, meskipun ia
mendasarkan pemikirannya pada al-Quran dan sunnah.
Fazlur Rahman dilahirkan dari keluarga miskin yang taat pada
agama. Ketika hendak mencapai usia 10 tahun ia sudah hafal al-Quran
walaupun ia dibesarkan dalam keluarga yang mempunyai pemikiran
tradisional akan tetapi ia tidak seperti pemikir tradisional yang
menolak pemikiran modern, bahkan Ayahnya berkeyakinan bahwa
Islam harus memandang modernitas sebagai tantangan dan
kesempurnaan49. (Rahman, Gelombang Perubahan Dalam Islam PT Raja
Grafindo persada, 2001: 1-2).
47Kementrian Urusan Agama Islam, Al-Quran Dan Terjemahan , (Arab Saudi, Mujamma
Al-Malik Fahd Li Thibaat Al-Mush-haf, 1990) h. 55 &. 673

48 Lihat Arbiyah Lubis, Pemikiran Muhammadiyah dan Muhammad Abduh : Suatu Studi
Perbandingan, h.156-159

49 Erikson Damanik. Pemikiran Pendidikan Islam Fazur Rahman. Dalam


http://soddis.blogspot.co.id/2015/12/ pemikiran-pendidikan-islam-fazlurrahman.html . tanpa halaman.
Makalah Filsafat Pendidikan Islam/Aan F/2016 |

24

Ayahnya Maulana Shihabudin adalah alumni dari sekolah


menengah terkemuka di India, Darul Ulum Deoband . Meskipun Fazlur
Rahman tidak belajar di Darul Ulum, namun ia menguasai kurikulum
Dares Nijami yang di tawarkan di lembaga tersebut dalam kajian privat
dengan Ayahnya, ini melengkapi latar belakangnya dalam memahami
Islam tradisional dengan perhatian khusus pada Fikih, Ilmu Kalam,
Hadits, Tafsir, Mantiq, dan Filsafat. Setelah mempelajari ilmu-ilmu dasar
ini, ia melanjutkan ke Punjab University di Lahore dimana ia lulus
dengan penghargaan untuk bahasa Arabnya dan di sana juga ia
mendapatkan gelar MA-nya. Pada tahun 1946 ia pergi ke Oxford
dengan mempersiapkan disertasi dengan Psikologi Ibnu Sina di bawah
pengawasan professor Simon Van Den Berg. Disertasi itu merupakan
terjemah kritikan dan kritikan pada bagian dari kitab An-Najt, milik
filosof muslim kenamaan abad ke-7, setelah di Oxford ia mengajar
bahasa Persia dan Filsafat Islam di Durham University Kanada dari
tahun 1950-1958. Ia meninggalkan Inggris untuk menjadi Associate
Professor pada kajian Islam di Institute Of Islamic Studies Mc. Gill
University Kanada di Montreal. (Rahman, Gelombang Perubahan Dalam
Islam PT Raja Grafindo persada, 2001: 44). Dimana dia menjabat
sebagai Associate Professor Of Philosophy.
Pada awal tahun 60 an Fazlur Rahman kembali ke Pakistan. Dan
pada bulan Agustus 1946 Fazlur Rahman di tunjuk sebagai Direktur
Riset Islam, setelah sebelumnya menjabat sebagai staf lembaga
tersebut. Selain menjabat sebagai Direktur Lembaga Riset Islam, pada
tahun 1964 ia di tunjuk sebagai anggota dewan penasehat Ideologi
Pemerintah Pakistan. Namun usaha Fazlur Rahman sebagai seorang
pemikir modern di tentang keras oleh para ulama tradisionalfundamentalis. Puncak dari segala kontroversialnya memuncak ketika
2 bab karya momumentalnya, Islam (1966) di tentang keras karena
pernyataan Fazlur Rahman dalam buku tesebut Bahwa Al-Quran itu
secara keseluruhan adalah kalam Allah dan dalam pengertian biasa
juga seluruhnya merupakan perkataan Muhammad sehingga Fazlur
Rahman di anggap orang yang memungkiri Al-Quran kemudian pada 5
September 1986 ia mengundurkan diri dari jabatan Direktur lembaga
Riset Islam yang langsung di kabulkan oleh Ayyub Khan.
Tidak kurang dari 18 tahun lamanya Fazlur Rahman menetap di
Chicago dan mengkomunikasikan gagasan-gagasannya baik lewat lisan
maupun tulisan sampai akhir tahun memanggilnya pulang pada tahun
26 Juli 1988 jauh sebelum ia sudah terkena penyakit diabetes yang
kronis dan serangan jantung sehingga ia harus di operasi. Operasi ini
berhasil
setidaknya
untuk
beberapa
minggu
hingga
ajal
menjemputnya. Kepergian beliau merupakan suatu kehilangan bagi
dunia Intelektual Islam pada umumnya.
B. Karya-Karya Fazlur Rahman
Karya orisinal pertama Fazlur Rahman yang berbentuk buku
adalah Prophecy in Islam: Philosophy and Orthodoxy, yang diterbitkan
oleh George Allen and Unwire Ltd., London pada tahun 1958.
Dalam buku ini, ia membandingkan antara pandangan kaum filosof dan
ahli kalam atau teolog ortodoks mengenai konsep kenabian dan
Makalah Filsafat Pendidikan Islam/Aan F/2016 |

25

wahyu. Kemudian, karya Fazlur Rahman bersifat historis adalah


bukunya yang berjudul Islamic Methodology in History, yang pada
mulanya ditulis dalam bentuk artikel-artikel yang dipublikasikan
dalam jurnal Islamic Studies, mulai bulan Maret 1962 sampai juni 1963,
ketika ia di Pakistan. Karya ini bertujuan untuk memperlihatkan evolusi
historis terhadap aplikasi prinsip-prinsip dasar pemikiran Islam yang
empat: Alquran, Sunnah, ijtihad, dan ijma', yang menjadi kerangka
bagi semua pemikiran Islam, selain untuk menunjukkan peran aktual
keempat unsur tersebut dalam perkembangan Islam50.
Buku Fazlur Rahman yang lain adalah Islam. Buku ini diterbitkan
pertama kali tahun 1966 oleh Holt, Rinehart dan Winson. Pada tahun
1968, kembali diterbitkan pada edisi The Anchor Book tanpa ada
perubahan. Kemudian pada tahun 1979 terbit edisi kedua yang diberi
tambahan epilog. Lewat karya itu, ia berusaha menjadikan Islam
sebagai agama yang 'hidup' melalui pembedaan antara yang normatif
dan historis51. Dalam buku ini, Fazlur Rahman menyajikan
perkembangan Islam selama empat belas abad perjalanan sejarahnya.
la mengawali bahasannya dari sejarah Nabi Muhammad, kemudian
dilanjutkan tentang Alquran, sunnah, hukum, teologi, filsafat, sufisme,
sekte-sekte, pendidikan, serta gerakan pembaharuan, dan kemudian
diakhiri dengan analisis kritis terhadap warisan Islam.
Setelah menulis tentang Ibn Sina pada awal kehidupan
intelektualnya, Fazlur Rahman kemudian melahirkan karya berjudul
The Philosophy of Mulla Shadra. Melalui buku yang diterbitkan pertama
kali oleh State University of New York Press pada tahun 1975 itu, dia
memperkenalkan secara kritis dan analitis dari pemikiran religiofilosofis Mulla Shadra52 (w. 1460 M), salah satu tokoh filsafat Islam.
Sebagai seorang intelektual Muslim, Fazlur Rahman berupaya tanpa
henti untuk mencari metode yang tepat dalam menangkap arti Alquran
secara utuh dan sistematis, yang melahirkan karyanya berjudul Major
Themes of the Qur'an,yang edisi pertama diterbitkan pada tahun 1980
oleh Bibliotheca Islamica, Minneapolia, Chicago. Dalam setup wacana
intelektual Fazlur Rahman, Alquran selalu dijadikan sebagai sumber
rujukan utama. Wacana ini kembali digaungkannya dalam karya Islam
and Modernity. Transformation of an Intellectual Tradition, yang
diterbitkan pertama kali oleh the University of Chicago Press, 198253.
Fazlur Rahman kemudian mengangkat masalah kesehatan dan
pengobatan dalam perspektif Islam melalui karyanya Health and
50 Fazlur Rahman. 1994. Islamic Methodology in History. Delhi: Adam Publisher &
Distributor. Hal. V. Lihat juga Abd Ala, Neo-Modernisme, Hal. 47.

51 Lihat Ahmad Syafii Marif, dalam Kata Pengantar untuk buku Fazlur Rahman, Islam.
1987. terj. Senoaji Saleh. Jakarta: Bumi Aksara. Hal. viii.

52 Namanya adalah Shadr al-Din as-Syirazi, lebih dikenal dengan Mulla Shadra. Mengenai
pemikirannya lihat Fazlur Rahman, The Philosophy of Mulla Shadra. 1976. Albany, New
York: State University of New York Press. Hal. 67.

53 Abd. Ala. 2003. Dari Neomodernisme ke Islam Liberal: jejak Fazlur Rahman dalam
Wacana Islam Indonesia Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina. Hal. 33.
Makalah Filsafat Pendidikan Islam/Aan F/2016 |

26

Medicine in the Islamic Tradition: Change and Identity, yang diterbitkan


pertama kali oleh Crossroad, New York, tahun 1987,[32] sebagai karya
terakhir, dan lanjutan dari nilai yang terdapat pada karya-karya
sebelumnya. Dalam buku ini ia menunjukkan sikap dan pandangan
positif Islam dalam menangani masalah-masalah dasar ke-hidupan
umat manusia. Fokus perhatiannya diletakkan pada bidang kesehatan,
pemeliharaan dan pengobatan.
Selain karya yang berbentuk buku di atas, masih banyak lagi
karya Fazlur Rahman yang lain berupa artikel-artikel yang diterbitkan
dalam berbagai jurnal ilmiah. Tidak diragukan lagi, bahwa Fazlur
Rahman telah memberikan kontri-busi yang cukup berharga bagi
pengembangan wacana keislaman modern. Bila ditelusuri lebih lanjut,
minimal ada lima aspek yang ditinggalkannya terhadap kajian Islam,
khususnya di Amerika Serikat.
Pertama, Fazlur Rahman mampu menggabungkan antara
tradisionalisme Islam Sunni, modernisme Islam dan skolastisisme
Barat. Kedua, dalam mencari kebenaran, Fazlur Rahman melakukan
inovasi secara berani dan apresiatif di antara sikap Islam dan sikap
Barat. Ketiga, ia mengenalkan metodologi pengkajian Islam yang
bersifat interdisipliner. Keempat, dengan sikapnya yang gentle, spirit
dan intelektulitasnya yang tajam, menjadikan Fazlur Rahman dan
pemikiran-nya diterima secara luas dalam pengkajian Islam di
Amerika Serikat. Kelima, dia telah meninggal-kan warisan pemikiran
kepada muridnya yang tersebar di berbagaiuniversitas dan perguruan
tinggi Amerika Serikat dan Kanada. Melalui murid-muridnya, gagasangagasan yang pernah dikemukakan Fazlur Rahman terus berkembang
sampai saat ini54. Dengan lima varian yang ditinggalkannya itu, Fazlur
Rahman menjadi salah satu tokoh yang cukup berpengaruh di dunia
Islam dan Barat. Disamping itu, beberapa artikel populer yang pernah
ditulisnya antara lain:
1. Some Islamic Issues In the Ayyub Khan Era.
2. Islamic Challenges and Opportunist.
3. Forwards Reformulating The Methodology of Islamic Law : Syaikh
Yamani on Public Interest in Islamic Low.
4. Islam Legacy and Contemporary Challenges
5. Islam in The Contemporary World
6. Root of Islamic Neo Fundamentalism.
7. Change and The Muslim World.
8. The Impact of Modernity on Islam.
9. Islamic Modernism Its Scope, Method and Alternative.
10.
Divines Revelation and The Prophet.
11.
Interpreting the Quran.
12.
The Quranic Concept of God, the Universe and Man.
13.
Some Key Ethical Concept of the Quran .( Fatah Rosihan
Affandi; 2002: 34)
54 Donald L. Denry. Fazlur Rahman (1919-1988): A Live and Riview, dalam
Earle H. Waugh & Fedrick M. Denry (ed). 1998. The Shaping of an Amarican
Islamic Discourse: Memorial to Fazlur Rahman. Georgia: Scholars Press. Hal. 4043.
Makalah Filsafat Pendidikan Islam/Aan F/2016 |

27

C. Pokok-Pokok Pikiran Fazlur Rahman tentang Pendidikan


Fazlr Rahman cukup populer dengan sumbangsih pemikirannya
yang dikenal dengan pembaharuan pendidikan islam. Gagasannya
diengaruhi oleh merosotnya perkembangan ilmu pengetahuan dalam
dunia Islam mulai abad 12 M sampai sekarang, maka dari itu dengan
semangat rovolusionernya, Rahman mencoba membongkar akar dari
permasalahan yang sedang menyelimuti umat Islam saat ini, dengan
merekontruksi satagnasi-stagnasi yang membatasi ruang gerak
pengembangan ilmu pengetahuan. Faktualisasi inilah yang menurut
Rahman perlu adanya neomoderinisme dan demokratisasi dalam dunia
Islam untuk pengembangan pembaharuan dalam dunia pendidikan
Islam.
Penyimpangan pendidikan tradisional di pakistan sebagai akibat
ketiadaan ruang dialog dengan pendidikan modern oleh para alumni
pendidikan klasik yang kuat dari sisi teologi namun tertinggal dari
peradaban ilmu pengetahuan yang moderen adalah salah satu sasaran
kritik Fazlur Rahman. Menurutnya, pendidikan klasik semacam itu tidak
akan mampu membantu mengembangkan pertumbuhan kesadaran
beragama.
Islam
juga
pada
saat
itu
tudak
bersentuhan
dengan skill, misalkan teknologi nuklir dapat diperoleh dari Erofa dan
Amerika, tetapi pemikiran Islam yang murni tidak dapat diperoleh
orang-orang Pakistan dari Negara Barat maupun negara Muslim 55. Ia
menginginkan kaum Muslim untuk mengembangkan perdamaian
dunia, sebagaimana pada bulan mei telah di adakan konferensi Islam
di
Tasykent
yang
menginginkan
kontribusi
besar
dalam
mengembangkan perdamaian dunia. Ia menginginkan umat Muslim
agar tidak bersifat defensif yang berlebihan karena takut terhadap
gagasan Barat terhadap perkembangan pengetahuan yang akan
mengancam standar moral tradisional Islam. Ia ingin menggabungkan
antara mata pelajaran baru dengan mata pelajaran lama, supaya
ramuan yang dihasilkan dari campuran ini akan sehat dan bermanfaat,
yakni bersifat kondusif terhadap manfaat teknologi peradaban modern,
sekaligus dapat membuang racun yang telah terbukti merusak
jaringan moral masyarakat Barat .
1. Pendidikan Sebagai Alternatif Pembaharuan
Fazlur Rahman, melalui sikapnya yang kritis terhadap data
historis, dengan cermat mampu meberikan penilaian-penilaian
yang cukup berharga terhadap perkembangan pendidikan islamsejak zaman klasik hingga moderen. Ia menjadikannya pelajaran
berharga untuk memberikan gagasan-gagasan baru agar
pendidikan islam dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Rahman
mecatat tiga permasalahan dasar pendidikan islam dewasa ini: (1)
bahwa pendidikan di dunia islam hari ini sejatinya merupakan
kelanjutan dari pendidikan zaman kolonialis, (2) pendidikan pada
lembaga-lembaga keagamaan tradisional, apabila tidak disesuaikan
55 Sutrisno. 2006. Fazlur Rahman : Kajian terhadap Metode, Epistimologi dan Sistem
Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal. 126-127.

Makalah Filsafat Pendidikan Islam/Aan F/2016 |

28

secara tepat, akan menemui kehancuranya atau minimal


mengalami kemunduran, dan (3) pendidikan moderen, dalam arti
yang berkaitan dengan profesiona-profesional teknologi telah
mengambil posisi prestise yang dulu dimiliki pendidikan tradisional.
Ketiganya menyebabkan timbulnya disintegrasi yang pada tahap
lebih lanjut berimplikasi pada ketidaksanggupan pendidikan islam
dalam menigkatkan standar intelektualitas umat56.
Usaha apapun yang telah dilakukan nyatanya belum dapat
menyelesaikan permasalahan yang ada. muaranya kembali pada
penguatan intelektualitas umat muslim melalui peningkatan
standar keilmuan sekaligus komitmen yang tinggi terhadap islam.
Problematika yang pokok menurutny, adalah berkenaan dengan
oenyediaan tenaga pengajar yang memadai dan kurikulum yang
terintegrasi secara bersama-sama. Menurut Rahman, konsepsi alQuran mengenai ilmu pengetahuan menjadi bagian dari modal
rekonstruksi yang sistematis terhadap ilmu-ilmu islam. Artinya
bahwa pendidikan islam adalah pendidikan yang berdasarkan pada
nilai-nilai islam yang sebenarnya, yang muncul dari penafisran alQuran yag sistematis dan komprehensif, sehingga persoalanpersoalan lain yang menjadi masalah umat dapat terselesaikan
sekaligus57. Bagi Rahman, pendidikan adalah titik tolak untuk
melakukan pembaharuan. Ia mengatakan bahwa pembaharuan
pendidikan adalah satu-satunya pendekatan untuk suatu
penyelesaian jangka panjang atas problema-problema yang diamali
masyarakat islam saat ini...58.
2. Pembaharuan Pendidikan Islam Fazlur Rahman
a. Tujuan Pendidikan Islam
Paradigma Normatif Fazlur Rahman dalam pengembangan
pendidikan islam adalah memposisikan Al-Quran sebagai
sumber konsep pendidikan. Dengan mendasarkan pada alQuran, tujuan pendidikan menurut Fazlur Rahman adalah untuk
mengembangkan manusia sedemikian rupa sehingga semua
pengetahuan yang diperolehnya akan menjadi organ pada
keseluruhan pribadi yang kreatif, yang memungkin manusia
untuk memanfaatkan sumber-sumber alam untuk kebaikan
umat manusia dan untuk menciptakan keadilan, kemajuan, dan
keteraturan dunia59.

56 Uraian secara kritis yang menggambarkan keadaan demikian ini, secara jelas dapat
ditemukan dalam uraian panjangnya dalam Fazlur Rahman.1995. Islam and Modernity,
Transformation of an Intellectual Traditions Cet II. Terj. Ahsin Muhammad. Bandung:
Pustaka. Hal. 84.

57 Abu Muhammad Iqbal. Op.Cit. Hal. 608.


58 Fazlur Rahman. Islam. Op.Cit. Hal. 384.
59 Loc. Cit. Hal. 171.
Makalah Filsafat Pendidikan Islam/Aan F/2016 |

29

Dewasa ini pendidikan Islam sedang dihadapkan dengan


tantangan yang jauh lebih berat dari masa permulaan
penyebaran islam. Tantangan tersebut berupa timbulnya
aspirasi dan idealisme umat manusia yang serba multi interest
dan berdimensi nilai ganda dengan tuntutan hidup yang
multi komplek pula. Ditambah lagi dengan beban psikologis
umat islam dalam menghadapi barat. Dalam kondisi kepanikan
spiritual itu,strategi pendidikan Islam yang dikembangkan
diseluruh dunia Islam secara universal bersifat mekanis.
Akibatnya munculah golongan yang menolak segala apa yang
berbau Barat,bahkan adapula yang mengharamkan pengambil
alihan ilmu dan teknologinya.Sehingga apabila kondisi ini terus
berlanjut akan dapat menyebabkan kemunduran umat Islam60.
Menurut Rahman, ada beberapa hal yang harus
dilakukan61; Pertama, tujuan pendidikanIslam yang bersifat
desentif dan cenderung berorientasi hanya kepada kehidupan
akhirat tersebut harus segera diubah.Tujuan pendidikan islam
harus berorientasi kepada klehidupan dunia dan akhirat
sekaligus serta bersumber pada AL-Quran. Kedua, beban
psikologis umat Islam dalam menghadapi Barat harus segera
dihilangkan.Untuk menghilangkan beban psikologis umat Islam
tersebut,Rahman menganjurkan supaya dilakukan kajian Islam
yang menyeluruh secara historis dan sistimatis mengenai
perkembangan disiplin-disiplin ilmu Islam seperti teologi,
hukum, etika, hadis ilmu-ilmu sosial, dan filsafat, dengan
berpegang kepada AL-Quran sebagai penilai.
Ketiga,
sikap negatif umat Islam terhadap ilmu pengetahuan juga
harus dirubah.
Sebab
menurut Rahman,
ilmu pengetahuan tidak ada yang salah, yang salah adalah
penggunanya.
b. Sistem Pendidikan Islam
Fazlur Rahman berpendapat, bahwa kita tidak bisa lepas
dari system pendidikan Barat karena umat Islam juga ingin
belajar dengan dunia Barat, tetapi system pendidikan Barat
telah mendehumanisme dan membekukan jiwa manusia 62. Dari
sini dapat kita asumsikan bahwa Rahman mencoba
mengintegrasikan antara ilmu sekuler (modern) dan ilmu-ilmu
agama. Namun yang saat ini menjadi pombardir penghalangnya
adalah karena sering terjadinya dikotomi dalam dunia
pendidikan Islam.
60 Anjar Nugroho S.Ag. Pembaharuan Pendidikan Islam : Studi terhadapa pemikiran
Fazlur Rahman, dalam Abdullah Qiso. 2013. Filsafat dan Pemikiran Pendidikan Fazlur
Rahman. 2013. http://abdullahqiso.blogspot.co.id/2013/11/filsafat-dan-pemikiranpendidikan.html. Tanpa halaman.

61 Ibid.
62 Prof. Dr. Abd. Rahman Assegaf. Op.Cit. Hal. 132.
Makalah Filsafat Pendidikan Islam/Aan F/2016 |

30

Dari penjelasan di atas dapat di tarik kesimpulan,


menurut Rahman dunia pendidikan Islam harus memberi ruang
bagi ilmu-ilmu sekuler (modern), atau dalam arti kata luas harus
adanya integrasi antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu
sekuler/sains. Dengan pola integrasi ini maka tidak akan lagi
terjadi dikotomi dalam dunia pendidikan Islam. Jadi, hendaknya
dalam silabus-silabus pembelajaran harus dicantumkan ilmuilmu di luar agama, seperti sosiologi, antropologi, biologi dan
sebagainya.
Zaman
selalu
mengalami
perkembangan,
sudah
semestinya pendidikan Islam harus merespons dan dituntut
pula untuk berkembang secara dinamis dalam mewujudkan
manusia yang kritis dan kreatif sehingga mampu mandiri dalam
menyesuaikan diri dalam lingkungan sekitar. Oleh karena itu
perlunya di terapkan konsep pendidikan demokratis yang selalu
membuka ruang kebebasan dan perubahan yang bersifat positif
dan dinamis di berbagai lembaga pendidikan agar dapat
memenuhi tuntutan tersebut di atas63.
c. Demokratiasi dan Metode Pendidikan ala Fazlur Rahman
Fazlur Rahman menyebutkan bahwa metode pendidikan
Islamberkaitan erat dengan teknis pengajaran yang melibatkan
komunikasi murid dan guru. Fazlur Rahman menambahkan
bahwa murid melewati kelas demi kelas dengan menyelesaikan
satu mata pelajaran dan memulai lagi satu mata pelajaran lain
yang lebih tinggi64.
Sistem ini menurut Fazlur Rahman tidak memberikan
banyak waktu untuk setiap mata pelajaran. Tetapi ini juga
bukanlah satusatunya metode yang dipakai, seringkali seorang
murid dengan suatu ringkasan dalam sebuah mata pelajaran,
dan di kelas selanjutnya, ia mempelajari pelajaran yang sama
dengan detail-detail yang lebih terperinci dan disertai
komentarkomentar. Sedangkan Fazlur Rahman menegaskan
bahwa tugas guru adalah mengajarkan komentarkomentar
orang lain, disamping teks aslinya dan biasanya tanpa
menyertakan komentarnya sendiri dalam pelajaran tersebut.
Metode yang seperti ini masih tergolong sebagai metode yang
konvensional yang tentunya tidak akan memberikan ruang
gerak yang cukup luas bagi murid. Selain itu pula cara Islam
mendidik tetap berpegang pada garis pendewasaan anak didik,
sebagaimana Rasulullah mendidik umatnya. Fazlur Rahman
menyinggung metode pendidikan di beberapa model lembaga
pendidikan. Misalnya dia menengok halaqah, zawiyah,
madrasah dan juga perguruan tinggi65.

63 Ibid. Hal. 220.


64 Khotimah. 2014. Pemikiran Fazlur Rahman tentang Pendidikan Islam. Jurnal
Ushuluddin Vol. XXII No. 2, Juli 2014. Hal. 239-253.
Makalah Filsafat Pendidikan Islam/Aan F/2016 |

31

Cara untuk mendewasakan peserta didik tidak hanya


difokuskan pada seorang guru saja. Tetapi murid juga
hendaknya berperan aktif dalam forum-forum pendidikan. Maka
ketika seorang guru hanya memberikan syarah (penjelasan)
kitab ketika mengajarkan materi tafsir, bagi Fazlur Rahman
dianggap kurang begitu mendewasakan Islam. Dan dengan ini
pula, nampak bahwa Islam belum mampu mengembangkan
model paedagogy. Nilai dari tujuan pendidikan Islam juga tidak
akan tercapai kalau dalam melakukan metode pendidikan Islam
saja, seorang pendidik salah metodenya.
Model pendidikan yang ditawarkan oleh Fazlur rahman
disebut juga dengan demokratisasi dalam pendidikan Islam, dan
ini merupakan salah satu gagasan revolusioner dalam
pendidikan Islam. Dengan menghargai yang dibawa oleh
peserta didik. Penerapan demokratisasi pendidikan yang
ditawarkan oleh Fazlur Rahman dimaksudkan untuk memberi
kebebasan
kepada
para
anak
didik
untuk
dapat
mengembangkan kreatifitasnya dalam pendidikan kearah yang
positif
dalam
pengembangan
kognitif,
afektif
dan
66
psikomotoriknya .
Fazlur Rahman menilai mata pelajaran yang menjadi
kurikulum pendidikan Islam membutuhkan ekonstruksi, terlebih
ketika ia melihat kondisi pendidikan tradisional yang masih
terlalu harmonis (baca: kaku) dengan tatanannya sendiri. Belum
lagi mereka masih terlalu menutup diri dengan lingkungan
sekitarnya. Sehingga yang terjadi adalah kemandegan
pengetahuan. Selain itu, intelektualisme Islam juga cenderung
macet. Kecenderungan model inilah yang menjadikan Fazlur
Rahman
mengkritisi
kurikulum
pendidikan
Islam.
Ia
mengatakan:
Dengan menyempitnya lapangan ilmu pengetahuan
umum melalui tiadanya pemikiran umum dan
sainssains kealaman, maka kurikulum dengan
sendirinya
menjadi
terbatas
pada
ilmu-ilmu
keagamaan murni dengan gramatika dan kesusastraan
sebagai alat-alatnya yang memang diperlukan. Mata
pelajaran keagamaan yang murni ada empat buah:
hadits (tradisi), fiqh atau hukum termasuk ushul fiqh
(prinsipprinsip hukum), kalam (teologi) dan tafsir
(eksegesis al-Quran). Di banyak madrasah milik sayap
kanan ahlul hadits, bahkan teologi dicurigai, dan
dengan sendirinya mata pelajarannya hanya ada tiga
buah. Di sekolah-sekolah khusus tertentu, bukubuku
tentang sufi ditambahkan. Jumlah total buku-buku
yang dipelajari biasanya sangat sedikit. Sungguh,
sarjanasarjana besar tertentu Barat dan pemikir65 Ibid.
66 Ibid.
Makalah Filsafat Pendidikan Islam/Aan F/2016 |

32

pemikir orisinal yang muncul dari waktu ke waktu


adalah istimewa dalam dirinya sendiri dan tidak
banyak menimba ilmu mereka dari kurikulum yang
resmi67.
Hadits, fiqh, kalam dan tafsir yang menjadi sentral materi
kurikulum tidak mampu memberikan jawaban yang utuh
tentang Islam kalau hanya diajarkan dengan buku-buku
komentar (hasyiyah) saja. Keterbatasan kurikulum seharusnya
ditata dan ditambahkan dengan materi ajar yang lain. Sehingga
ada perpaduan antara pemikiran keagamaan dan sains umum,
misalnya dengan tambahan gramatika, kesusastraan dan
lainnya.
d. Pandangan tentang Anak Didik
Dalam proses trasnpormasi ilmu pengetahuan dalam
pendidikan, peserta didik menjadi obyek dari pendidikan itu
sendiri, namun bukan karena dia menjadi obyek maka tidak
diberikan
kebebasan
dalam
mengakpresikan
dan
mengembangkan kreativitas mereka, akan tetapi dengan
mengsinergikan antara peserta didik dan tujuan pendidikan,
maka peserta didik harus diberikan keluasan ruang dan waktu
untuk mengeksplorasikan semua imajinasi kreatif mereka untuk
pengembangan pribadi mereka. Kemerdekaan (kebebasan)
adalah hak dasar bagi setiap manusia yang ada di dunia ini.
Dengan kebebasan manusia dapat keratif dan dapat
mengetahui tujuan yang di anggapnya baik. Namun, dalam
mengimplementasikan kemerdekaan tentunya tidak melanggar
kebebasan orang lain68.
e. Pandangan tentang Pendidik
Era kontemporer ini dirasakan sangat minimnya pendidik,
namun bukan tenaga pendidiknya yang kurang, lebih dari itu
problema yang kita hadapi sekarang minimnya guru yang
professional dan mempunyai klasifikasi kemampuan yang
memadai. Dalam mengatasi kelangkaan tenaga pendidik seperti
itu, Rahman menawarkan beberapa gagasan69, yaitu :
1) Merekrut dan mempersiapkan anak didik yang memiliki
bakat-bakat terbaik dan mempunyai komitmen yang tinggi
terhadap lapangan agama (Islam). Anak didik seperti ini
harus dibina dan diberikan insentif yang memadai untuk
membantu memnuhi keperluannya dalam peningkatan karir
intelektual mereka.
2) Mengangkat lulusan madrasah yang relatif cerdas atau
menunjuk sarjana-sarjana modern yang telah memperoleh
67 Ibid.
68 Ibid. Hal. 225
69 Anjar Nugroho. Op. Cit.
Makalah Filsafat Pendidikan Islam/Aan F/2016 |

33

gelar doktor di universitas-universitas Barat dan telah


berada di lembaga-lembaga keilmuan tinggi sebagai guru
besar-guru besar bidang studi bahasa Arab, bahasa Persi,
dan sejarah Islam.
3) Mengangkat beberapa lulusan madrasah yang memiliki
pengetahuan bahasa Inggris dan mencoba melatih mereka
dalam teknik riset modern dan sebaliknya menarik para
lulusan universitas bidang filsafat dan ilmu-ilmu sosial dan
memberi mereka pelajaran bahasa Arab dan disiplin-disiplin
Islam klasik seperti Hadis, dan yurisprudensi Islam.
4) Menggiatkan para pendidik untuk melahirkan karya-karya
keislaman secara kreatif dan memiliki tujuan. Di samping
menlulis karya-karya tentang sejarah, filsafat, seni, juga
harus mengkonsentrasikannya kembali kepada pemikiran
Islam
f. Sarana Pendidikan
Mutu lembaga pendidikan tidak dapat terlepas dari faktor
kelayakan sarana dan pra-sarana yang ada di dalamnya. Hal ini
juga menjadi perhatian tokoh-tokoh pendidikan islam dari
zaman ke zaman, termasuk Fazlur Rahman. Dalam
penelusurannya, hal ini nampak jelas, misalnya zaman
pertengahan, meskipun pada mas itu dapat dikatakan masa
kegelapan bagi perkembangan dunia islam, namun dalam
usaha pengembangan sarana dan prasarana pendidikan
amatlah menakjubkan. Sekolah-sekolah milik pribadi maupun
sekolah umum banyak didirikan untuk halaqoh-halaqoh ilmu
keislaman. Perpustakaan-Perpustakaan besar didirikan, seperti
Perpustakaan Istana al-Hakim dari Dinasti Fatimiyah di Mesir
yang memiliki 40 ruangan penuh berisi buku70.
Rahman juga mencatat bahwa di zaman pertengahan itu
pula
didirikan
madrasah-madrasah
besar
pada
masa
pemerintahan Bani Saljuk di Baghdad dan Persia oleh seorang
Wazir yang besar dan bijaksana dari Alp Arslan dan Maiksyah
dari Bani Saljuk71. Namun demikian, sekalipun mencapai
perkembangan yang cukup pesat, beberapa negara Islam yang
dikunjungi Fazlur Rahman menunjukkan keadaan yang belum
memadai, terutama dari segi perpustakaannya. Ketersediaan
buku-buku masih minim, khususnya yang berbahasa Arab dan
Inggris, dan sektor ini menjadi rekomendasi yang perlu
dibenahi72.

70 Fazlur Rahman. Islam. Dalam Abu Muhammad Iqbal. Op. Cit. Hal. 624.
71 Fazlur Rahman. Islam. Op. Cit. Hal. 267.. Uraian cukup luas terhadap sejarah
berdirinya madrasah dan perpustakaan ini dapat disimak pula dalam Ziauddin
Sardar (ed). Ilm and the Revival Knowledge Cet I. 2000. Terjemah Agung
Prihartono. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal. 160-178.
Makalah Filsafat Pendidikan Islam/Aan F/2016 |

34

PENUTUP
Simpulan
Ibnu Khaldun (733H/1332M-808H-1404M) yang bernama lengkap
Abdurrahman Zaid Waliuddin ibnu Muhammad ibnu al-Husain ibnu
Muhammad ibnu Ibrahim ibnu Abdirrahman ibnu Khaldun al-Khadlrami alTunisi kemudian termashur dengan nama Ibnu Khaldun (733-808 M/
1332-1406), yang selanjutnya dikenal sebagai salah satu sejarawan dan
filosof paling berpengaruh dalam islam, telah membawa pemikiran horizon
baru dalam pemikiran pendidikan Islam. Menurut beberapa ahli, proses
pemikirannya mengalami percampuran yang unik, yaitu dipengaruhi oleh
dua tokoh yang saling bertolak belakang, Al-Ghozali (penentang
Aristoteles) dan Ibnu Rusyd (pengikut Aristoteles). Ibnu Khaldun adalah
pengikut Al-Ghozali dalam permusuhannya melawan logika Aristoteles,
dan pengikut Ibnu Rusyd dalam usahanya mempengaruhi massa. Hal
itulah yang membawa Ibnu Khaldun membangun suatu bentuk logika baru
yang realistik, guna menggantikan logika idealistik Aristoteles yang
berpola
paternalistik-absolutistik-spiritualistik
menjadi
relatifistiktemporalistik-materialistik. Ia terkenal sebagai ilmuwan besar karena
karyanya Muqaddimah. Dalam karyanya itu, Ibnu Khaldun menyatakan
bahwa ilmu pendidikan bukanlah suatu aktivitas yang semata-mata
bersifat pemikiran dan perenungan, akan tetapi merupakan gejala
konklusif yang lahir dari terbentuknya masyarakat dan perkembangannya
dalam tahapan kebudayaan. Pendidikan menurutnya mempunyai
pengertian yang cukup luas, bukan hanya merupakan proses belajar
mengajar yang dibatasi oleh empat dinding, melainkan suatu proses di
mana manusia secara sadar menangkap, menyerap, dan menghayati
peristiwa-peristiwa alam sepanjang zaman.
Muhammad Abduh (1266H/1849M-1323H/1905M) adalah seorang
pembaharu, yang terlahir dari sejarah panjang perjalanan pendidikan yang
ia peroleh dan membentuk kepribadian tersendiri, sehingga ia bukan
hanya mampu merasakan kekurangan pendidikan, akan tetapi melakukan
usaha penuh untuk melakukan pembaharuan. Muhammad Abduh berguru
kepada Jamaluddin al- Afghani, seorang yang dikenal dalam dunia Islam
sebagai mujahid dan mujaddid, ia juga ulama yang alim. Muhammad
Abduh mengagumi ilmu dan cara berfikir Jamaluddin yang modern,
sehingga ia belajar padanya, bahkan saat pengasingannya di Beirut,
Jamaluddin mengundang Muhammad Abduh untuk bersamanya berjuang
di Perancis, menyebarkan semangat perjuangan dan pembaharuan
melalui penerbitan majalah. Walaupun pada akhirnya penerbitan itu
ditutup oleh Pemerintah Perancis karena dianggap berbahaya. Dan sikap
berani Muhammad Abduh untuk lebih konsentrasi pada pembaharuan
pendidikan, membuatnya namanya dikenal sampai saat ini. Pembaharuan
pendidikan yang dilakukannya meliputi tujuan pendidikan yang
berorientasi pada pembentukan kepribadian, moral agama, yang
72 Fazlur Rahman. Recommendation og the Improvement of IAIN Curriculum and
Isntruction Submitted to the Minister of Religious Affair, His Excellence, Munawir
Sjadzali, MA, dalam Muhammad Wahyu Nafis (Ed.). 1995. Kontekstualisasi
Ajaran Islam 70 Tahun Prof. Dr. Munzwir Sjadzali, MA. Jakarta: Paramadina. Cet. I.
Hal. 522.

dengannya diharapkan mampu menumbuhkan sikap politik, sikap sosial,


jiwa gotong royong, dan semangat ekonomis. Selanjutnya di dalam
sekolah agama harus diajarkan pengetahuan
modern, dengan
menggunakan metode pengajaran yang membuat murid tidak sekedar
ingat tetapi juga memahami apa yang diajarkan dan tentu saja
pembelajaran berlangsung dengan mempergunakan bahasa yang mudah
dimengerti, di samping itu dengan pengelolaan wakaf, Muhammad Abduh
mampu menggaji guru dengan gaji dan layak. Kemudian khusus untuk alAzhar, perubahan ditemukan dengan adanya peraturan yang
memperpanjang masa belajar dan memperpendek masa libur. Dengan
reformasi yang telah dilakukan Muhammad Abduh, Fazlur Rahman
menggelarnya dengan sebutan Reformer al-Azhar Terbesar .
Fazlur Rahman (1919M-1988M) merupakan salah satu intelektual
muslim yang hidup pada era abad 20-an, dia berkebangsaan asli Palestina
dan lahir disana, namun karena ada beberapa permasalahan internal
dengan ulam-ulama tradisional di Pelestina ia pergi ke Amerika Serikat dan
menjadi guru besar di Chicago. Awal penjajakan intelektualitasya, di mulai
dengan menyelesaikan S1 dan S2 dalam bidang bahasa Arab pada
Universitas Punjab, dan kemudian dilanjutkan dengan menyelesaikan
program S3 nya di Oxford University, Inggris dalam bidang fislafat.
Setelah itu ia terus mengembangkan disiplin ilmu pengetahuannya dan
menjadi dosen di beberapa perguruan tinggi di Kanada dan Inggris serta
mengisi tulisan-tulisan dalam jurnal-jurnal ilmiah dan juga mengisi di
beberapa seminar-seminar yang di adakan di beberapa negara. Puncak
dari perkembangan intelektualitasnya adalah ketika ia hijrah dan menetap
di Chicago, dia menjadi dosen tetap disanana, dan dikukuhkan sebagai
guru besar Universitas Chicago dalam bidang Pemikiran Islam. Disini ia
mendapat kebebasan untuk mengeksplorasikan semua imajinasi
kreatifnya. Disinilah ia mulai menulis karya-karya fenomenalnya di
beberapa jurnal dan buku yang hingga saat ini masih tersebar luas di
seluruh tokoh buka yang ada di dunia ini. Menurutnya dalam dunia Islam
sendiri terdapat banyak hal yang hingga saat ini masih perluh adanya
rekontruksi dan pembaharuan, misalnya dalam bidang pendidikan, Moral
dan religiusitas keagamaan, pola pengembangan ilmu pengetahuan, sosial
bermasyarakat, dan intraksi dengan dunia Barat. Dalam dunia pendidikan
Islam sendiri masih banyak yang perluh di rekontruksi dan perbaikan,
karena fenaomena saat ini, menunjukkan pada siklus dimana umat Muslim
mengalami kemerosotan dan ketertinggalan dari dunia Barat. Tentunya
dunia pendidikan memainkan peran yang sangat vital dalam
pembentukan dan memprodact generasi-genarasi muslim yang
mempunyai intelektualitas yang tinggi, dan mampu memberikan araharah baru bagi umat Islam untuk kembali kepada dunia keemasan Islam
masa silam

DAFTAR RUJUKAN
Al-Muhtasib, Abdul
Majid
Abdussalam . 1997. Tafsir
al-Quran
Kontemporer: Visi dan Paradigma, terj. Moh. Magfur Wachid.
Bangil: Al-Izzah.
Assegaf, Abd. Rachman., Prof. Dr. 2013. Aliran Pemikiran Pendidikan
Islam Hadrah Keilmuan Tokoh Klasik sampai Modern. Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada.
Al-Syaibani, Omar Muhammad al-Toumy. 1979. Filsafat Pendidikan Islam,
Terjemah Oleh Hasan Langulung. Jakarta: Bulan Bintang.
Ala, Abd.. 2003. Dari Neomodernisme ke Islam Liberal: jejak Fazlur
Rahman dalam Wacana Islam Indonesia. Jakarta: Yayasan Wakaf
Paramadina.

Baali, Fuad., dan Wardi, Ali. 2003. Ibn Khaldun dan Pola Pemikiran Islam.
Jakarta: Pustaka Firdaus.
Donald L. Denry. Fazlur Rahman (1919-1988): A Live and Riview, dalam
Earle H. Waugh & Fedrick M. Denry (ed). 1998. The Shaping of an
Amarican Islamic Discourse: Memorial to Fazlur Rahman. Georgia:
Scholars Press.
Erikson Damanik. Pemikiran Pendidikan Islam Fazur Rahman. Dalam
http://soddis.blogspot.co.id/2015/12/pemikiran-pendidikan-islamfazlur-Rahman.html. tanpa halaman.
Iqbal, Abu Muhammad. 2015. Pemikiran Pendidikan Islam; GagasanGagasan Besar Para Ilmuwan Muslim . Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ismail, Said. 2010. Pelopor Pendidikan Islam Paling Berpengaruh. Jakarta,
Pustka Al-Kautsar.
Khaldun, Ibnu. 1986. Muqaddimah. Terjemah oleh Ahmadie Thoha.
Jakarta:Pustaka Firdaus.
Khaldun, Ibnu. 2011. Mukaddimah, Terjemah Mastur Irham dkk. Jakarta:
Pustaka al-Kautsar.
Khalik, Abdul., dkk. 1999. Pemikiran Pendidikan Islam: Kajian Tokoh Klasik
dan Kontemporer. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.
Khotimah. 2014. Pemikiran Fazlur Rahman tentang Pendidikan Islam.
Jurnal Ushuluddin Vol. XXII No. 2, Juli 2014. Hal. 239-253.
Lubis, Arbiyah. 1993. Pemikiran Muhammadiyah dan Muhammad Abduh:
Suatu Studi Perbandingan. Jakarta, PT.Bulan Bintang.
Machali, Imam., dan Setiawan, Adhi. (Ed). 2010. Antologi Kependidikan
Islam. Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.
Madjid, Nurcholish. 2000. Islam Doktrin dan Peradaban, cet. 4. Jakarta:
Yayasan Wakaf Paramadina.
Madjid, Nurcholish. 1997b. Kaki Langit dan Peradaban. Jakarta: Yayasan
Wakaf Paramadina.
Madjid, Nurcholish. 1997a. Bilik-Bilik Pesantren. Jakarta: Yayasan Wakaf
Paramadina.
Muhajir, Noeng. 1984. Pemahaman Tasonomi. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Muin, Thaib Tahir Abd.. 1966. Ilmu Manthiq. Bandung:Pinda Grafika.

Nafis, Muhammad Wahyu. (Ed.). 1995. Kontekstualisasi Ajaran Islam 70


Tahun Prof. Dr. Munzwir Sjadzali, Cet. I. MA. Jakarta: Paramadina.
Nasution, Harun. 1987. Muhammad
Mutazilah. Jakarta:UI-Press.

Abduh

dan

Teologi

Rasional

Nugroho., Anjar. S.Ag. Pembaharuan Pendidikan Islam : Studi terhadapa


pemikiran Fazlur Rahman, dalam Abdullah Qiso. 2013. Filsafat dan
Pemikiran
Pendidikan
Fazlur
Rahman.
2013.
http://abdullahqiso.blogspot.co.id/2013/11/filsafat-dan-pemikiranpendidikan.html. Tanpa halaman.
Rahman, Fazlur. 1984. Islam. terj. Ahsin Muhammad. Bandung: Pustaka.
Rahman, Fazlur .1994. Islamic Methodology in History. Delhi: Adam
Publisher & Distributor.
Ramayulis & Samsul Nizar. 2005. Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam
Mengenal Tokoh Pendidikan Islam di Dunia Islam dan Indonesia.
Jakarta:Quantum teaching.
Ridla, Muhammad Jawwad. 2002. Tiga Aliran Utama Teori Pendidikan
Islam: Perspektif Sosiologis-Filosofis. Terjemah oleh Mahmud Arif.
Yogyakarta: Tiara Wacana.
Rosenthal, Frans. dkk. 1945. The Muqaddimah, an Introduction to History.
New Rork: Stratford Inc.
Shihab, M. Quraish. 1994. Studi Kritis Tafsir Al-Manar. Bandung: Pustaka
Hidayah.
Suharto, Toto. 2003. Epistemologi
Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru.

Sejarah

Kritis

Ibnu

Khaldun.

Sutrisno. 2006. Fazlur Rahman : Kajian terhadap Metode, Epistimologi


dan Sistem Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suwito. 2008. Sejarah Sosial Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana.
Thoha, Nashruddin.1979. Tokoh-tokoh Pendidikan Islam di Jaman Jaya.
Jakarta: Mutiara.
Walidin, Warul. 2003. Konstelasi Pemikiran Pedagogik Ibnu Khaldun.
Yogyakarta: Nadiya Fondation.

Anda mungkin juga menyukai