Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN ANALISIS DATA EPIDEMIOLOGI

ANALISIS EPIDEMIOLOGI DENGAN MENGGUNAKAN SATSCAN


(BERNOULLI MODEL, PURELY SPATIAL)
a. Tujuan
1. Mahasiswa dapat mengolah program satscan
2. Mahasiswa dapat melakukan pemetaan menggunakan QGis
3. Mahasiswa mampu menganalisis pola persebaran penyakit kasus kontrol berdasarkan
analisis satscan
b. Alat bahan
1. Komputer
2. Software satscan
3. Software QGis
c. Metode
Data yang akan dianalisis adalah data pola persebaran penyakit di Provinsi DI
Yogyakarta. Analisis akan dilakukan menggunakan analisis Bernoulli model. Analisis ini
untuk mendapatkan pola persebaran penyakit pada kelompok kasus dan kontrol di
wilayah DI Yogyakarta. Data akan dianalisis berdasarkan tempat. Waktu yang digunakan
dalam pemataan adalah periode 1 Januari 2001 hingga 31 Desember 2001. Pola
persebaran kasus kontrol digambarkan dalam bentuk pemetaan menggunakan analisis
Software QGis.
d. Hasil
1. Analisis satscan
SUMMARY OF DATA
Study period.......................: 2001/1/1 to 2001/12/31
Number of locations................: 70
Total population...................: 76
Total number of cases..............: 43
Percent cases in area..............: 56.6

CLUSTERS DETECTED
1) Location IDs included.: 49, 50, 48, 53
Overlap with clusters.: No Overlap
Coordinates / radius..: (7.926565 S, 110.279014 E) / 3.09 km
Gini Cluster..........: No

Population............: 4
Number of cases.......: 4
Expected cases........: 2.26
Observed / expected...: 1.77
Relative risk.........: 1.85
Percent cases in area.: 100.0
Log likelihood ratio..: 2.363073
P-value...............: 0.93
2. Analisis Qgis
Persebaran penyakit berdasarkan kelompok kasus dan kontrol terdapat banyak di
daerah Kabupaten Bantul. Kelompok kasus ditunjukkan dengan warna coklat, dan
kelompok kontrol ditunjukkan dengan warna ungu.

Gambar 1. Pemetaan persebaraan penyakit kasus kontrol


e. Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis satscan dengan model bernoulli ditemukan 1 klaster
pemetaan penyakit dalam periode 2001. Total populasi adalah sebanyak 76 orang.
Banyaknya sampel kasus penyakit yang ditemukan adalah sebanyak 43 orang (56,6%).
Klaster terdeteksi pada radius 3,09 km. Klaster ini menunjukkan banyaknya kasus yang

tersebar di wilayah ini. Lokasi ini berada di wilayah Bantul, khususnya Kecamatan
Pandak (koordinat= 7.926565 S, 110.279014 E).
Pemetaan persebaran penyakit pada kelompok kasus dan kontrol dapat dilihat
pada di atas (gambar 1). Dari gambar tersebut diketahui bahwa penyakit banyak tersebar
di wilayah Kabupaten Bantul khususnya Kecamatan Pandak. Selain di Kecamatan
Pandak, kasus penyakit juga tersebar di wilayah Kabupaten Bantul lainnya, seperti
Pundong, Bambang Lipuro, Sedayu, Kasihan, Sewon, Pleret, Imogiri, Kretek, dan di
perbatasan dengan Kulon Progo (Sentolo, Galur), serta di Kota Yogyakarta (Umbulharjo).
Penentuan jumlah kelompok kontrol didasarkan pada banyaknya jumlah kontrol, dengan
karakteristik yang sama seperti lokasi kasus berada.

Gambar 2. Klaster persebaran penyakit


Berdasarkan gambar 2 diketahui adanyanya klaster. Klaster tersebut berada pada
radius 3,09 km dengan koordinat= 7.926565 S, 110.279014 E. Klaster tersebut
menunjukkan adanya 4 kasus yang terdeteksi namun dengan nilai p value yang tidak
bermakna (p value= 0,93). Klaster tersebut berada di daerah Kabupaten Pandak.
Kemungkinan ini merupakan kasus terbanyak yang terdeteksi.
Analisis model Bernoulli memberikan informasi tentang persebaran penyakit pada
kelompok kasus dan kontrol. Hal ini memudahkan peneliti untuk menemukannya pada

lokasi-lokasi tertentu terutama kelompok kasus penyakit. Dalam studi epidemiologi


terdapat disain untuk menganalisis hubungan sebab akibat terjadinya suatu penyakit.
Disain tersebut ialah disain case control (retrospektif), yaitu disain yang membuktikan
hubungan sebab akibat dengan cara membandingkan antara kelompok kasus (sakit)
dengan kelompok kontrol (tidak sakit). Secara retrospektif maksudnya ialah peneliti
menemukan kelompok kasus yang sakit lalu ditelusuri ke belakang untuk ditemukannya
ada atau tidaknya paparan, lalu dibandingkan dengan kelompok kontrol (Susilani dan
Wibowo, 2015).
Fungsi pemetaan memberikan tiga kontribusi utama yaitu; 1) Dengan
menggunakan peta diharapkan muncul gambaran deskriptif mengenai distribusi serta
penyebaran penyakit. Peta yang akurat dalam bentuk sekuens diharapkan dapat
menjawab pertanyaan apa yang terjadi dan mengapa. 2) Keberadaan peta diharapkan
dapat memberikan aspek prediktif penyebaran penyakit menular. 3) Model interaktif, jika
pada tahap dua, pola prediksi hanya sebatas ramalan penyakit, tetapi jika menggunakan
pendekatan interaktif, kita dapat menentukan intervensi serta dampaknya bagi masa
depan.(Ditjen Peternakan Deperteman Pertanian, 2009 dalam Mau dkk, 2011).
Dengan demikian berdasarkan analisis pemetaan di atas maka diketahui bahwa
sebaran kelompok kasus berada di wilayah Kabupaten Bantul. Kasus terbanyak
ditemukan di daerah Kecamatan Pandak dengan radius 3,09 km letak koordinat 7.926565
S dan 110.279014 E.

f. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan maka ditarik kesimpulan yaitu sebagai berikut:
1. Total populasi adalah sebanyak 76 orang. Banyaknya sampel kasus penyakit yang
ditemukan adalah sebanyak 43 orang.
2. Kasus penyakit tersebar di Kabupaten Bantul. Kasus terbanyak berada di daerah
Kecamatan Pandak.
g. Daftar pustaka
Mau, F., Desato Y. dan Yuliadi B., 2011, Pemetaan Daerah Penyebaran Kasus Rabies
dengan Metode GIS (Geographical Informasion System) Di Kabupaten Sikka
Provinsi Nusa Tenggara Timur, Jurnal Vektora III, Vol. 1, Halaman: 12-21

Susilani, A. T. dan Wibowo T. A., 2015, Dasar-Dasar Metodologi Penelitian untuk


Mahasiswa Kesehatan, Graha Cendekia, Yogyakarta

Anda mungkin juga menyukai