Anda di halaman 1dari 5

NAMA

NIM

: LISTYA NINDITA
: 2015271115
KASUS RUMAH SAKIT SUMBER WARAS

Kompasiana.com
JAKARTA - Direktur Utama RS Sumber Waras, Abraham Tejanegara membeberkan
kronologi penjualan lahan Yayasan Kesehatan Sumber Waras yang sedang diselidiki KPK.
Awalnya, pihak RS Sumber Waras melihat informasi di televisi yang menyebutkan bahwa
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) membeli lahan Sumber Waras senilai
Rp1,7 triliun. "Kami pada dasarnya tidak pernah menawarkan lahan RS Sumber Waras
kepada

Pemprov

DKI,"

kata

Abraham

kepada

wartawan,

Sabtu

(16/4/2016).

Abraham melanjutkan, pihaknya saat itu tengah terikat hubungan jual beli dengan PT Ciputra
Karya Utama (CKU). Dalam jual beli tersebut, PT CKU mengatakan akan menggunakan
lahan

tersebut

untuk

digunakan

sebagai

Wisma

Susun.

Akhirnya perjanjian jual beli dengan PT CKU dibatalkan, lantaran PT CKU tidak dapat
memenuhi perjanjian yang telah disetujui. "Ketika itu, Pemprov DKI Jakarta juga tidak
menyetujui

adanya

pembangunan

Wisma

Susun,"

tambahnya.

Ia pun mengaku telah membicarakan masalah ini dengan Ahok. Pada waktu pertemuan
tersebut, Ahok mengatakan bahwa pada dasarnya dan tidak mungkin perizinan itu diubah
karena sampai saat ini DKI masih kekurangan rumah sakit. Saat hendak melakukan
peremajaan lingkungan, pihak RS Sumber Waras berkeinginan menjual lahan tersebut ke
Pemprov DK. "Disitulah Pak Ahok bilang, kenapa lahan tersebut enggak dijual saja ke
Pemprov DKI tetapi dengan satu syarat dijual dengan harga NJOP," jelasnya.
Akhirnya lahan tersebut dijual kepada Pemprov DKI. Saat itu, selain melakukan pembelian
dengan harga NJOP, pihak RS Sumber Waras pun meminta harga beli bangunan senilai Rp25
miliar, namun Pemprov DKI tidak menyetujui hal tersebut.
"Pada 17 Desember 2014 terjadi penandatanganan akta pelepasan hak dari RS Sumber Waras
ke Pemprov DKI. Di dalam akta tersebut, harga tanah sesuai NJOP yang menganut pada PBB
tahun 2014, yaitu Rp20,7 juta. Kedua, bangunan senilai Rp25 miliar," urainya.
Setelah negosiasi, akhirnya kedua belah pihak setuju, jika RS Sumber Waras bersedia
menjual lahan tersebut dan membatalkan harga pembelian bangunan. Kemudian, Pemprov
DKI pun

membeli

lahan

seluas

36.410 meter

persegi

itu

pada

akhir

2014.

"Jumlah tepatnya Rp 755.689.550.000, kita terima di rekening kita yang di Bank DKI,
ditransfer," tuturnya. Sementara itu untuk lahan yang dijual kepada Pemprov DKI ini
merupakan wilayah lahan sayap kiri yang dimiliki RS Sumber Waras. Sedangkan, bagian
sayap

kanan

RS

Sumber

Waras

memiliki

luas

sekitar

3,3

hektare.

Sekadar informasi, dalam sertifikat hak guna bangunan, lahan tersebut atas nama Yayasan
Kesehatan Sumber Waras. Abraham menjelaskan lahan seluas 69.888 yang terdiri dari dua
bidang tanah itu hanya memiliki satu lembar PBB. Pihaknya mengaku tidak mengerti terkait
hal tersebut karena bukan dirinya yang mengatur. "Yang mengatur hal itu dari pemerintah.
Kita tidak tahu kenapa jadi satu, itu sudah berjalan sejak 1970, tidak pernah berubah,"
tutupnya.
Metro.sindonews.com

Ini Kronologi Pembelian Lahan RS Sumber Waras Versi BPK RI


Jakarta - Pemprov DKI batal membangun rumah sakit jantung dan kanker di atas sebagian
lahan seluas 3 hektar yang dibelinya dari RS Sumber Waras. BPK RI dalam laporan
pemeriksaan

keuangan

menemukan

sejumlah

kejanggalan.

BPK pun merekomendasi Pemprov untuk membatalkannya karena berpotensi menimbulkan


kerugian sebesar Rp 191 miliar. Atas sejumlah temuan, DPRD DKI pun membentuk tim
pansus

untuk

melakukan

investigasi

lebih

dalam.

Kronologi negosiasi versi BPK RI yang dibacakan oleh salah satu anggota tim pansus dari
Fraksi PKS, Dite Abimanyu dalam rapat antara tim pansus dengan pihak eksekutif.
"14 Oktober 2014 terjadi perjanjian yang sifatnya sudah terikat di mana dia tidak boleh
mengalihkan ke pihak lain. Kita nggak masuk sana, Plt (Pelaksana tugas Gubernur DKI
Jakarta Basuki T Purnama kala itu) melakukan pembicaraan dengan Dirut RS," ujar Dite di
Gedung

DPRD

DKI,

Jl

Kebon

Sirih,

Jakarta

Pusat,

Selasa

(11/8/2015).

Berikut kronologi selengkapnya:


1. Tanggal 6 Juni 2014 - Plt Gubernur Ahok berminat membeli sebagian lahan seluas 3,6
hektar milik RS Sumber Waras untuk dijadikan rumah sakit jantung dan kanker.
2. Tanggal 16 Juni 2014 - Pihak RS Sumber Waras menyatakan lahan tersebut tidak dijual
karena sudah terikat kontrak atau kerjasama dengan PT Ciputra Karya Utama.
3. Tanggal 27 Juni 2014 - Pihak RS Sumber Waras mengirim surat kepada Pemprov DKI
yang menyatakan ketersediannya menjual lahan tersebut dengan harga NJOP senilai Rp 20
juta sekian seperti yang berlaku di Jalan Kiai Tapa, walaupun letak tanah tersebut menghadap
Jalan Tomang Utara, Jakarta Barat.
4. Tanggal 7 Juli 2014 - Pihak RS Sumber Waras kembali mengirim surat kepada Pemprov
DKI.
5. Tanggal 8 Juli 2014 - Plt Gubernur Ahok mendisposisikan surat tersebut ke Kepala Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI yang kala itu masih dijabat oleh Andi

Baso untuk menyiapkan anggaran senilai Rp 20 juta, tanpa proses negosiasi.


6. Tanggal 14 November 2014 - Dinas Kesehatan DKI mengeluarkan hasil kajian terhadap
lahan RS Sumber Waras layak dibeli dengan memenuhi sejumlah syarat, seperti tanah yang
dibeli harus siap pakai, bebas banjir, memiliki akses jalan besar, jangkauannya luas dan luas
lahan minimal 2.500 meter persegi. Namun BPK menilai lahan tersebut tidak memenuhi 5
syarat yang dikeluarkan Dinkes DKI, di mana tidak siap bangun karena banyak bangunan di
situ, daerah banjir dan tidak ada jalan besar.
7. Tanggal 10 Desember 2014 - Pemprov DKI secara resmi telah menunjuk lokasi pembelian
lahan.
8. Tanggal 11 Desember 2014 - Pihak Yayasan Kesehatan Sumber Waras membatalkan
perjanjian dengan PT Ciputra Karya Utama.
9. Tanggal 15 Desember 2014 - Bendahara Umum Pemprov DKI mentransfer dana sejumlah
Rp 800 miliar ke Dinas Kesehatan DKI.
10. Tanggal 30 Desember 2014 - Dinas Kesehatan DKI membayar dengan cek kepada RS
Sumber Waras.
11. Tanggal 31 Desember 2014 - Cek pembayaran tersebut dicairkan oleh RS Sumber Waras.
Setelah dibacakan kronologi dari sebuah lembaran kertas, seorang perwakilan SKPD Dinas
Kesehatan DKI menyebut pihaknya telah melakukan negosiasi dengan RS Sumber Waras
sebelum membeli.
"Kami melakukan nego, Dinkes tidak akan bayar pajak dan tidak mau ngurus sertifikat (balik
nama). Jadi Rp 20 juta itu sama seperti hasil nego dan sudah bersih," terangnya.
Wagub DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat pun menegaskan kembali pihaknya sudah melalui
proses negosiasi. Selain itu juga mengikuti pembelian dengan harga NJOP, bukan appraisel
yang lebih rendah. Melalui negosiasi itu, Pemprov pun tidak dibebani dengan surat-surat atau
urusan balik nama.

"Sehingga Pemprov hanya membayar bersih luas tanah dikalikan nilai NJOP, masalah pajak
dan sebagainya merupakan tanggung jawab pemilik. Negonya di situ tidak mau bayar
bangunan,

akta

balik

nama

bersih,"

kata

Djarot.

(aws/dra)
Newsdetik.com

Lesson Learn
Seharusnya pihak yang berada diatas atau para pejabat tidak usah sering berselisih paham dan
juga pada saat menyampaikan harus dijaga etikanya, karena etika atau attitude seorang publik
figur akan menjadi contoh bagi masyarakat, karena kita secara tidak sengaja akan meneladani
atau mengikuti perilaku atasan atau pimpinan kita. Semoga dalam penyelesaiannya kasus ini
dapat diselesaikan dengan baik.