Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN An. R


DENGAN DIAGNOSA MEDIS KDS (KEJANG DEMAM SEMENTARA)
DI RUANG CEMPAKA RSUD WATES

Oleh :
TRI AYU WIDIYANTI
(2520142516)

AKADEMI KEPERAWATAN NOTOKUSUMO


YOGYAKARTA
2016

LEMBAR PENGESAHAN
Laporan pendahuluan ini dibuat untuk memenuhi tugas Praktik Klinik
Keperawatan (PKK) Anak Semester V

Kamis, 29 Desember 2016

Mahasiswa

Tri Ayu Widiyanti


( 2520142516 )

Mengetahui,

Pembimbing Klinik Rumah Sakit

(
A. Definisi

Pembimbing Klinik Akademik

)
(
LANDASAN TEORI

Kejang demam adalah kejang yang disebabkan kenaikan suhu tubuh


lebih dari 38,4oC tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat atau gangguan
elektrolit akut pada anak berusia di atas 1 bulan tanpa riwayat kejang
sebelumnya (IDAI, 2009).
Kejang

demam

merupakan

gangguan

transien

pada

anak-anak

yangterjadi bersamaan dengan demam (Wong,2008:1260).


Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu
tubuh (rektal lebih dari 38o C) yang disebabkan oleh proses ekstrakranium
(Febry & Marendra, 2010:39).
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan kejang demam adalah
bangkitan kejang yang terjadi karena peningkatan suhu tubuh yaitu 38oC
yang sering di jumpai pada usia anak dibawah lima tahun.
B. Klasifikasi
Kejang demam dibagi menjadi 2 golongan. Terdapat perbedaan kecil
dalam penggolongan tersebut, menyangkut jenis kejang, tingginya demam,
usia penderita, lamanya kejang berlangsung, gambaran rekaman otak, dan
lainnya (Lumbantobing, 2004).
Studi epidemiologi membagi kejang demam menjadi 3 bagian yaitu:
kejang demam sederhana, kejang demam kompleks, dan kejang demam
berulang (Baumann, 2001).
Berikut penjelasannya menurut Soetomenggolo (2010) mengenai
klasifikasi kejang demam :
Kejang demam kompleks ialah kejang demam yang lebih lama dari 15
menit, fokal atau multiple (lebih dari 1 kali kejang per episode demam).
Kejang demam sederhana ialah kejang demam yang bukan kompleks.
Kejang demam berulang adalah kejang demam yang timbul pada lebih
dari satu episode demam. Epilepsi ialah kejang tanpa demam yang terjadi
lebih dari satu kali
C. Etiologi

Etiologi dari kejang demam masih tidak diketahui. Namun pada sebagian
besar anak dipicu oleh tingginya suhu tubuh bukan kecepatan peningkatan
suhu tubuh. Biasanya suhu demam diatas 38,8oC dan terjadi disaat suhu tubuh
naik dan bukan pada saat setelah terjadinya kenaikan suhu tubuh (Dona Wong
L, 2008).
Jenis infeksi yang bersumber di luar susunan saraf pusat yang
menimbulkan demam yang dapat menyebabkan kejang demam. Penyakit
yang paling sering menimbulkan kejang demam adalah infeksi saluran
pernafasan atas, otitis media akut, pneumonia, gastroenteritis akut, bronchitis,
dan infeksi saluran kemih (Soetomenggolo,2000).
Beberapa faktor yang berperan menyebabkan kejang demam antara lain
adalah demam, demam setelah imunisasi DPT dan morbili, efek toksin dari
mikroorganisme, respon alergik atau keadaan imun yang abnormal akibat
infeksi, perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit (Dewanto et al, 2009).
Faktor risiko berulangnya kejang demam adalah (IDAI, 2009)
Riwayat kejang demam dalam keluarga
Usia kurang dari 18 bulan
Temperatur tubuh saat kejang. Makin rendah temperatur saat kejang
makin sering berulang
Lamanya demam.
Adapun faktor risiko terjadinya epilepsi di kemudian hari adalah (IDAI, 2009)

Adanya gangguan perkembangan neurologis


kejang demam kompleks
riwayat epilepsi dalam keluarga
lamanya demam

D. Patofisiologi
Kejang adalah manifestasi klinis khas yang berlangsung secaran
intermitten dapat berupa gangguan kesadaran, tingkah laku, emosi, motorik,
sensorik, dan atau otonom yang disebabkan oleh lepasnya muatan listrik yang
berlebihan di neuron otak.
Mekanisme dasar terjadinya kejang adalah peningkatan aktifitas listrik
yang berlebihan pada neuron-neuron dan mampu secara berurutan
merangsang sel neuron lain secara bersama-sama melepaskan muatan

listriknya. Hal tersebut diduga disebabkan oleh kemampuan membran sel


sebagai pacemaker neuron untuk melepaskan muatan listrik yang berlebihan,
berkurangnya inhibisi oleh neurotransmitter asam gama amino butirat
(GABA )atau meningkatnya eksitasi sinaptik oleh transmiter asam glutamate
dan aspartat melalui jalur eksitasi yang berulang (Kania, Nia:2007).
E. Pathway

F. Maninfestasi Klinis
1. Suhu tubuh > 380 C
2. Anak sering hilang kesadaran saat kejang
3. Kepala anak seperti terlempar ke atas, bola mata naik ke atas, tungkai
dan lengan mulai kaku, bagian tubuh anak menjadi berguncang.
4. Kulit pucat dan mungkin menjadi biru
(Dewanto, 2009:93)
(Eveline & Nanang, 2010:124)
G. Pemeriksaan Penunjang

1. Ct-scan : untuk mengidentifikasi lesi serebral, misalnya infark,


hematoma, edema serebri dan abses
2. Laboraturium : Darah tepi, lengkap (Hb, Ht, Leukosit, Trombosit)
mengetahui sejak dini apabila ada komplikasi & penyakit kejang demam
(Dewanto, 2009).
H. Penatalaksanaan Medis
Pada tatalaksana kejang demam ada 3 hal yang perlu dikerjakan, yaitu:
1. Pengobatan fase akut
Seringkali kejang berhenti sendiri. Pada waktu pasien sedang kejang
semua pakaian yang ketat dibuka, dan pasien dimiringkan kepalanya
apabila muntah untuk mencegah aspirasi. Jalan napas harus bebas agar
oksigenasi terjamin. Pengisapan lendir dilakukan secra teratur, diberikan
oksiegen, kalau perlu dilakukan intubasi. Awasi keadaan vital sperti
kesadaran, suhu, tekanan darah, pernapasan, dan fungsi jantung. Suhu
tubuh yang tinggi diturunkan dengan kompres air dingin dan pemberian
antipiretik. Diazepam adalah pilihan utama dengan pemberian secara
intravena atau intrarektal (Soetomenggolo, 2000).
2. Mencari dan Mengobati Penyebab
Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menyingkirkan
kemungkinan meningitis, terutama pada pasien kejang demam yang
pertama. Walaupun demikian kebanyakan dokter melakukan pungsi
lumbal hanya pada kasus yang dicurigai meningitis atau apabila kejang
demam berlangsung lama. Pada bayi kecil sering mengalami meningitis
tidak jelas, sehingga pungsi lumbal harus dilakukan pada bayi berumur
kurang dari 6 bulan, dan dianjurkan pada pasien berumur kurang dari 18
bulan. Pemeriksaan laboratorium lain perlu dilakukan utuk mencari
penyebab (Soetomenggolo, 2000).
3. Pengobatan Profilaksis
Kambuhnya kejang demam perlu dicegah, kerena serangan kejang
merupakan pengalaman yang menakutkan dan mencemaskan bagi

keluarga. Bila kejang demam berlangsung lama dan mengakibatkan


kerusakan otak yang menetap (cacat).
Adapun 3 upaya yang dapat dilakukan:
-

Profilaksis intermitten, pada waktu demam.


Profilaksis terus - menerus, dengan obat antikonvulsan tiap hari
Mengatasi segera bila terjadi kejang.

Beberapa hal yang harus dikerjakan bila kembali kejang , hindarilah rasa
panik dan lakukanlah langkah-langkah pertolongan sebagai berikut :
1. Telungkupkan dan palingkan wajah ke samping
2. Ganjal perut dengan bantal agar tidak tersedak
3. Lepaskan seluruh pakaian dan basahi tubuhnya dengan air dingin.
Langkah ini diperlukan untuk membantu menurunkan suhu badanya.
4. Bila anak balita muntah, bersihkan mulutnya dengan jari.
5. Walupun anak telah pulih kondisinya, sebaiknya tetap dibawa ke dokter
agar dapat ditangani lebih lanjut (Widjaja, 2001).

I. Komplikasi
1. Kerusakan sel otak
2. Penurunan IQ pada kejang demam yang berlangsung lama lebih dari 15
menit dan bersifat unilateral.
3. Kelumpuhan (Dewanto, 2009).
J. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian keperawatan pada anak dengan kejang demam, selain
identitas pasien, berfokus pada riwayat kesehatan anak, pemeriksaan fisik,
dan pemeriksaan penunjang. Perawat perlu mengetahui riwayat kesehatan
anak terutama yang berkaitan dengan kejadian prenatal, perinatal, dan
nenonatal (Wong, 2004). Adanya infeksi virus menjadi penyebab utama yang
sering dialami anak dengan kejang demam (Ricci dan Kyle, 2009). Demam
tinggi dapat menandakan anak sedang terinfeksi namun dibutuhkan
pemeriksaan laboratorium darah untuk memastikannya. Kadar leukosit yang
tinggi (>17500 sel/L) menunjukkan bahwa tubuh anak terkena infeksi.
Penurunan kadar Hb dan eritrosit perlu menjadi perhatian perawat. Kadar Hb
di bawah rentang normal (11-16 g/dl) menunjukkan adanya masalah dalam
pemenuhan kebutuhan O2 pada anak yang dapat memperburuk kejang anak.
Pemeriksaan diagnostik seperti pungsi lumbal, CT Scan, atau MRI,
diperlukan untuk memastikan tidak ada infeksi yang berasal dari sistem saraf
pusat. Perawat kemudian mengidentifikasi data hasil pengkajian untuk
menentukan masalah yang muncul dan menegakkan diagnosa keperawatan
pada anak dengan kejang demam.
Perawat menegakkan diagnosa keperawatan berdasarkan keadaan klinis
anak secara aktual untuk merencanakan asuhan keperawatan yang tepat,
sesuai dengan kebutuhan pasien. Beberapa diagnosa keperawatan utama yang
dapat ditegakkan pada anak dengan kejang demam antara lain risiko infeksi,
ketidakefektifan termoregulasi, risiko tinggi cedera, dan perubahan proses
keluarga (Ricci dan Kyle, 2009; Wong, 2004). Intervensi-intervensi
keperawatan diutamakan untuk meminimalkan risiko infeksi dan mencegah
kenaikan suhu tubuh yang ekstrim pada anak.

K. Diagnosa Keperawatan
1. Hipertermi berhubungan

dengan

proses

infeksi

atau

inflamasi

(Carpenito,2000, hal 21 ).
2. Resiko terjadi kerusakan sel otak berhubungan dengan kejang
(Ngastiyah,1997: hal 236 ).
3. Resiko trauma atau penghentian pernafasan atau penghentian pernafasan
berhubungan dengan kesulitan keseimbangan perubahan kesadaran
(Doenges, 1999).
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi mengenai
proses penyakitnya (Doenges, 1999).
5. Kecemasan berhubungan dengan dampak haspitalisasi yang baru
(Ngastiah, 1997: Hal 236).

L. Rencana dan Tindakan Keperawatan


M. N

N. DIAGNOSA

O
KEPERAWATAN
R. 1 S. Hipertermi
.

berhubungan
proses

O. TUJUAN
T. Setelah

dengan

infeksi

atau

inflamasi

keperawatan

dialkukan
selama

P. INTERVENSI

Q. RASIONAL

tindakan Kaji tanda dan gejala adanya Untuk mengidentifikasi pola


jam

peningkatan suhu

tubuh

dan

demam pasien
Untuk acuan

mengetahui
penyebabnya
Monitor TTV, suhu, tiap jam sekali.
kesadaran umum pasien
normal ( 36,537,50C ) parenteral,
Anjurkan pasien banyak minum 2 Menurunkan suhu tubuh
klien bebas dari demam dengan
2,5 liter/24 jam
mengakibatkan penguapan
kriteria hasil:
Monitor intake dan output.
tubuh meningkat sehingga
Anjurkan untuk memakai pakaian
U. Suhu tubuh normal, klien tidak
perlu diimbangi dengan
tipis dan menyerap keringat
demam, pasien tampaknyaman
asupan cairan yang banyak.
W.
V.
untuk mengetahui ketidak
X.
seimbangan tubuh.
Untuk pemakaian baju tipis
diharapkan suhu tubuh dalam batas

untuk

pemberian

obatantipiretik

untuk

menurunkansuhu

tubuh

dengan

solusi

cara

koloborasi dokter dengan


obat antipiretik
Z. 2 AA.

Resiko

terjadi

AB.

Setelah

dialkukan

Y.
tindakan Letakkan klien pada posisi miring, Meningkatkan aliran darah

kerusakan

sel

berhubungan

otak

keperawatan

dengan

selama

diharapkan

kejang

jam

menghilangkan

kerusakan selotak dan tidak terjadi


komplikasi dengan kriteria hasil:
AC.

Kerusakansel

otak

tidak

terjadi,komplikasi

tidak

terjadi,

tidak ada tanda-tanda kejang


AD.

permukaan

datar,

miringkan

agar tidak terjadi cidera

kepala selama kejang


kepala atau komplikasi lain
Longgarkan pakaian pada daerah Untuk menfasilitasi usaha
leher atau dada dan abdomen
bernafas atau ekspansi dada.
Masukkan spatel ke lidah atau jalan Masuknya
diawal
untuk
nafas buatan dan gulungan benda

membuka rahang, alat ini

lunak sesuai dengan indikasi


Bantu melakukan intubasi jika ada

dapat mencegah tergigitnya

indikasi.
AE.

lidah
Mencegah munculnya apnea
yang berkepanjangan pada
fase posiktal membutuhkan
ventilator mekanik

AG.
3.

AH.

Resiko

atau

trauma

penghentian

pernafasan

atau

penghentian

dialkukan

keperawatan

tindakan Kaji

selama

jam

diharapkan anak selalu aman


AJ. dan terbebas dari injury, komplikasi

pernafasan
berhubungan

AI. Setelah

atau
dengan

kesulitan
keseimbangan
perubahan kesadaran

cedera

dicegah,serangan

kejangterkontrol

dengan

kriteria

TTV

dalam

normal,kesadaran

normal

pasien

AF.
berbagai Berbagai obat dan stimulasi

stimulasi yang menajadi pencetus


kejang
Pertahankan bantalan lunak pada
penghalang tempat tidur yang
terpasang dengan posisi tempat
tidur rendah
Kebutuhan

hasil:
AK.

bersama

lain

seperti:kurang

tidur

atau istirahat, panas yang


tinggi lebih dari 380C dapat
meningkatkan aktifitas otak
yang selanjutnya meningkat

berikan

resiko terjadinya kejang


Mengurangi
trauma
saat

perlindungan pada kepala


klien Lakukan penilaian neurologis

kejang ( sering atau umum)

batas

untuk

membaik, serangan kejang dapat


terkonmtrol,

tidak

terjadi

/tanda-tanda vital setelah kejang


Masukkan jalan nafas buatan yang
terbuat

komplikasi cedera

di tempat tidur
plastik/biarkan Penggunaan tutup

dari

pasien menggigit benda lunak

AL.teratasi

AN.

AM.

terjadi selama pasien berada

dapat

memberikan

perlindungan
terhadap

kepala,
tambahan

seseorang

yang

kejang

terus

mengalami

menerus/kejang berat.
Mencatat keadaan pariktal
dan waktu penyembuhan
pada keadan normal.
Menurunkan resiko terjadinya
trauma mulut tetapi tidak
boleh karena kerusakkan
pada gigi dan jaringan lunak
dapat terjadi
AP. 4 AQ.
.

Kurang

AR.

pengetahuan
berhubungan
kurang
mengenai

Setelah
keperawatan

dengan
informasi
proses

diharapkan

dialkukan
selama
dan

jam

patofisiologi

atau

AO.
mengenai Kesempatan
prognosis

dan

perlunya

mengetahui tentang penyakit, teori

pengobatan

atau

penanganan

dan

dalam jangka waktu yang tepat

perawatannya

keluarga

kembali

penyakit

cara

klien

tindakan Jelaskan

dengan

untuk

mengklasifikasi
persepsi

dan

kesalahan
keadaan

penyakit yang ada sebagai


persepsi

dan

keadaan

penyakitnya

kriteria hasil:
AS. Keluarga mendemonstrasikan cara
merawat

anaknya

khususnya

dirumah

dan indikasi
Berikan petunjuk yang jelaspada

penyakit yang ada dalam

minum obat bersamaan dengan

lambung, mual atau muntah


Pengetahuan
mengenai

cara hidup yang normal.


klien dan keluarganya untuk Dapat menurunkan iritasi
waktu

AT.

makan

jika

penggunaan obat
memungkinkan.
Mengindikasi kebutuhan akan
Berikan informasi pada keluarga
perubahan dalam dosis atau
tentang indikasi obat dan
obat pilihan yang lain.
pentingnya untuk klien dan
AV.
keluarga dalam memberi tahu
tentang perawatan dan pemberian
obat
Diskusikan
keluaraga

pada

klien

mengenai

dan
efek

samping secara khusus


AW.
5.

AX.

Kecemasan

berhubungan
dampak
yang baru

AY. Setelah
dengan

haspitalisasi

dialkukan

keperawatan

jam

dapat istirahat dengan tenang

diharapkan kecemasan pada anak

anak kooperatif dan tidak rewel

berkurang

selama

AU.
tindakan Anak kooperatif dan tidak rewel Anak kooperatif dan tidak

atau

hilang

dengan

kriteria hasil:
AZ.Anak kooperatif dan tidak rewel

dapat istirahat dengan tenang


Berikan terapi bermain sesuai usia
Ciptakan suasana yang aman dan
nyaman.

rewel dapat istirahat dengan


tenang
Diharapkan

anak

bisa

kooperatif dan anak tidak


rewel
Diharapkan klien tidak rewel

dapat istirahat dengan tenang


BA.

BB.

dan ingin pulang


Diharapkan
klien

dapat

istirahat dengan tenang


BC..

BD.

BE.

DAFTAR PUSTAKA

BF.IDAI. 2009. Pedoman Pelayanan Medi hal: 253. Jakarta: IDAI.


BG. Donna L. Wong...[et.al]. (2008). Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Wong.
Alih bahasa : Agus Sutarna, Neti. Juniarti, H.Y. Kuncoro. Editor edisi
bahasa Indonesia : Egi Komara Yudha....[et al.]. Edisi 6. Jakarta : EGC
BH. Febri, Ayu bulan dan Marendra, Zulfito. 2008. Buku Pintar Menu
Bayi.Jakarta Selatan: PT. Wahyu Media. Cetakan II
BI.

Lumbantobing, SM. 2004. Neurogeriatri. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. p.


111-122

BJ.

Soetomenggolo TS. Kejang Demam. Dalam : Soetomenggolo TS, Ismael S,


penyunting. Buku Ajar Neurologi Anak. Edisi ke-1. Jakarta: BP IDAI;
1999.h.244-51

BK. Dewanto, G., Suwono, W.J., Riyanto B., Turana Y. 2009. Panduan Praktis
Diagnosis Dan Tata Laksana Penyakit Saraf. Jakarta:EGC.
BL. Kania Nia. 2007. Penatalaksanaan Demam pada Anak. Available at
:http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2010/02/penatalaksanaandem
ampadaanak.pdf[Akses 27 Desember 2016].
BM.
BN.

BO.

LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN

BP.PADA PASIEN An. R DENGAN DIAGNOSA MEDIS


BQ.

KDS (KEJANG DEMAM SEMENTARA)

BR.

DI RUANG CEMPAKA RSUD WATES


BS.
BT.
BU.

BV.
BW.
BX.
BY.
BZ.

Oleh

TRI AYU WIDIYANTI


CA.

(2520142516)
CB.
CC.
CD.
CE.

CF.AKADEMI KEPERAWATAN NOTOKUSUMO


CG.

YOGYAKARTA
CH.

2016

CI. LEMBAR PENGESAHAN


CJ.
CK.

Laporan Asuhan keperawatan ini dibuat untuk memenuhi tugas

Praktik Klinik Keperawatan (PKK) Anak Semester V


CL.
CM.
CN.
CO.
CP.Kamis, 29 Desember 2016
CQ.
CR.
CS.
CT.
CU.

Mahasiswa
CV.
CW.
CX.

CY.

Tri Ayu Widiyanti

CZ.

( 2520142516 )
DA.
DB.
DC.

DD.

Mengetahui,
DE.

DF.Pembimbing Klinik Rumah Sakit


DG.
DH.
DI.
DJ.
DK.
(
)

DL.

Klinik Akademik
DM.
DN.
DO.
DP.
DQ.
(
)

DR.

Pembimbing