Anda di halaman 1dari 9

KEMAMPUAN PENALARAN DAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA

DITINJAU DARI PERSPEKTIF GENDER

Refit Erdiana
Prodi Pendidikan Matematika, FKIP
Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)
Email: refit_erdiana@yahoo.com

ABSTRAK
Mata pelajaran matematika perlu diberikan karena untuk membekali siswa dengan kemampuan
berfikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif serta kemampuan bekerjasama. Kemampuan
tersebut diperlukan agar siswa dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan
memanfaatkan informasi pada kehidupan nyata. Kemampuan penalaran berperan penting dalam
memahami matematika. Bernalar secara matematis merupakan suatu kebiasaan berpikir, dan
layaknya suatu kebiasaan, maka penalaran semestinya menjadi bagian yang konsisten dalam
setiap pengalaman-pengalaman matematis siswa. Komunikasi matematis juga berperan penting
pada proses pembelajaran matematika. Melalui komunikasi ide bisa menjadi objek yang
dihasilkan dari sebuah refleksi, diskusi, dan pengembangan ide.
Selain kedua kemampuan tersebut, aspek gender dalam pembelajaran matematika menjadi
perhatian kalangan pendidik. Perbedaan gender bukan hanya berakibat pada perbedaan
kemampuan dalam matematika,tetapi juga cara memperoleh pengetahuan matematika. Banyak
pendapat yang mengatakan bahwa perempuan lebih unggul dalam kemampuan vebal
(komunikasi) daripada laki-laki. Sedangkan laki-laki lebih unggul dalam kemampuan spatial
(penalaran) daripada perempuan. Namun, disisi lain juga banyak penelitian yang menjelaskan
bahwa kemampuan siswa perempuan juga tidak kalah dengan kemampuan siswa laki-laki. Bahkan
ada juga penelitian yang menjelaskan bahwa gender tidak berpengaruh signifikan terhadap
kemampuan siswa dalam belajar matematika. Penulisan artikel ini bertujuan untuk menganalisis
beberapa hasil penelitian tentang perbedaan gender dalam pembelajaran matematika.
Kata kunci: kemampuan penalaran, kemampuan komunikasi matematis, gender
PENDAHULUAN
Berkembangnya zaman pada era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 saat ini,
Indonesia tentu harus mengikuti standar internasional tersebut. Supaya dapat tetap survive di era
MEA ini, maka dibutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Bidang pendidikan
memegang peranan penting untuk menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas.
Pembelajaran matematika merupakan salah satu bagian dari pendidikan. Mata pelajaran
matematika perlu diberikan karena untuk membekali siswa dengan kemampuan berfikir logis,

analitis, sistematis, kritis dan kreatif serta kemampuan bekerjasama. Kemampuan tersebut
diperlukan agar siswa dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan
informasi pada kehidupan nyata sehingga dalam hal ini secara tidak langsung pembelajaran
matematika berperan strategis dalam upaya peningkatan SDM.
Pembelajaran matematika di sekolah bukan hanya bertujuan agar siswa sekedar memahami
materi yang diajarkan tetapi juga bertujuan untuk mengembangkan kemampuan matematika yang
lain. Kemampuan matematik berdasarkan jenisnya, dapat diklasifikasikan dalam lima kompetensi
utama yaitu: pemahaman matematik (mathematical understanding), pemecahan masalah
matematik

(mathematical

problem

solving),

komunikasi

matematik

(mathematical

communication), koneksi matematik (mathematical connection), dan penalaran matematik


(mathematical reasoning). Kemampuan matematik lainnya yang lebih tinggi adalah kemampuan
berpikir kritis matematik dan kemampuan berpikir kreatif matematik (Soemarmo, 2014:19).
Kemampuan penalaran merupakan suatu kegiatan, suatu proses, suatu aktivitas berpikir
untuk menarik kesimpulan atau membuat suatu pernyataan baru yang benar dan berdasarkan pada
pernyataan yang kebenarannya sudah dibuktikan atau sudah diasumsikan sebelumnya.
Kemampuan bernalar berperan penting dalam memahami matematika. Bernalar secara matematis
merupakan suatu kebiasaan berpikir, dan layaknya suatu kebiasaan, maka penalaran semestinya
menjadi bagian yang konsisten dalam setiap pengalaman-pengalaman matematis siswa. Hal ini
seperti yang dikatakan oleh Sukayasa (2012), penalaran merupakan proses berpikir yang dapat
ditingkatkan melalui latihan-latihan secara langsung dan intensif.
Selain kemampuan penalaran, yang tidak kalah pentingnya yaitu kemampuan komunikasi
matematis. Kemampuan komunikasi matematis juga perlu dikuasai siswa karena dalam dunia
pendidikan tidak terlepas dari peran komunikasi. Kemampuan komunikasi perlu dilatih secara
intensif agar siswa terlibat aktif dalam pembelajaran dan siswa tidak menjadi asing. Menurut
Rosita (2014), komunikasi adalah aktivitas kelas yang menawarkan kemungkinan bagi siswa untuk
mengembangkan pemahaman yang lebih dalam tentang matematika yang mereka pelajari. Melalui
komunikasi akan terlihat sejauh mana siswa mengeksplorasi pemikiran dan pemahaman mereka
terhadap matematika. Matematika bukan hanya sekedar alat bantu berfikir, menemukan pola,
menyelesaikan masalah, atau menggambarkan kesimpulan, tetapi juga sebagai suatu bahasa atau

alat yang tak berhingga nilainya untuk mengkomunikasikan berbagai macam ide secara jelas, tepat
dan ringkas.
Namun, dalam prakteknya di lapangan, guru menjadi orang yang lebih aktif dalam proses
pembelajaran dibandingkan dengan peserta didik. Hal itu mengakibatkan peserta didik menjadi
pasif dan merasa jenuh dalam proses belajar. Sikap peserta didik pun menjadi takut dengan
matematika. Kejenuhan tersebut dapat dilihat dari penerimaan materi. Siswa cenderung diam dan
tidak berani mengeluarkan pendapat. Hal tersebut terjadi karena monotonnya pembelajaran yang
dilaksanakan sehingga pikiran peserta didik tidak tereksplor dengan maksimal. Akibatnya
kemampuan penalaran dan komunikasi matematik peserta didik tidak berkembang dengan baik.
Hasil penelitian terdahulu juga menunjukkan kemampuan penalaran siswa masih rendah yaitu
hasil penelitian dari Nurdalilah (2013) observasi di lapangan yang dilakukan terhadap siswa SMA
Negeri 1 Kualuh Selatan menunjukkan bahwa kemampuan penalaran matematika siswa masih
rendah terlihat dari soal yang diberikan pada siswa. Sedangkan hasil penelitian dari Saragih (2013)
observasi di lapangan yang dilakukan oleh peneliti pada siswa SMA/MA Negeri Simpang Ulim,
menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi matematika siswa masih rendah hal ini dapat dilihat
dari proses jawaban siswa pada ulangan harian.
Selain kedua kemampuan diatas, banyak faktor yang harus diperhatikan dalam mempelajari
matematika, antara lain kemauan, kecerdasan tertentu, kesiapan guru, kesiapan siswa, kurikulum,
dan metode pembelajarannya. Faktor yang tak kalah pentingnya adalah faktor jenis kelamin siswa
(gender). Perbedaan gender tentu menyebabkan perbedaan fisiologi dan memengaruhi perbedaan
psikologis dalam belajar. Sehingga Siswa laki-laki dan perempuan tentu memiliki banyak
perbedaan dalam mempelajari matematika. Amir (2013) menjelaskan perbedaan laki-laki dan
perempuan dalam belajar matematika adalah laki-laki lebih unggul pada keterampilan spatial
(penalaran ruang), sedangkan siswa perempuan lebih unggul dalam kemampuan verbal
(komunikasi) matematis, lebih termotivasi, dan terorganisasi dalam belajar.
Melihat latar belakang diatas, penulis tertarik untuk menelaah bagaimana kemampuan
penalaran dan komunikasi matematis siswa jika ditinjau dari perspektif gender. Pembahasan yang
dilakukan yaitu dengan studi literatur menganalisis berbagai hasil penelitian yang ada. Dan
diharapkan artikel ini dapat bermanfaat terhadap guru dalam melakukan pembelajaran di kelas
yang mana selain memperhatikan kemampuan siswa juga harus memperhatikan faktor gender.

PEMBAHASAN
Kemampuan Penalaran dan Komunikasi Matematis
Kemampuan penalaran dan komunikasi matematis merupakan kedua kemampuan yang
saling berkaitan dalam pembelajaran matematika. Terbentuknya kemampuan penalaran dan
komunikasi matematis siswa merupakan salah satu tujuan dari beberapa tujuan pembelajaran
matematika. Dari kemampuan penalaran yang ada dalam diri siswa, dapat diketahui sejauh mana
siswa telah memahami, menyelesaikan masalah, dan mengimplementasikan matematika dalam
kehidupan sehari-hari. Seperti yang dikatakan oleh Lithner (2008), penalaran adalah pemikiran
yang diadopsi untuk menghasilkan pernyataan dan mencapai kesimpulan pada pemecahan masalah
yang tidak selalu didasarkan pada logika formal sehingga tidak terbatas pada bukti. Dengan
demikian siswa merasa yakin bahwa matematika dapat dipahami, dipikirkan, dibuktikan, dan dapat
dievaluasi.
Istilah penalaran sebagai terjemah dari istilah reasoning dapat didefinisikan juga sebagai
proses pencapaian kesimpulan logis berdasarkan fakta dan sumber yang relevan (Sumarmo, 1987).
Selanjutnya Soemarmo (2014:32) juga menjelaskan secara garis besar penalaran matematika
(mathematical reasoning) diklasifikasikan dalam dua jenis yaitu penalaran induktif dan penalaran
deduktif. Sedangkan menurut Baroody (1993), penalaran matematis diklasifikasikan dalam tiga
jenis penalaran yaitu intuitif, deduktif, dan induktif.
Baroody (1993) menjelaskan bahwa penalaran intuitif merupakan penalaran yang
memainkan intuisi sehingga memerlukan kesiapan pengetahuan. Konklusi diperoleh dari apa
yang dianggapnya benar sehingga pemahaman yang mendalam terhadap suatu pengetahuan
berperan penting dalam melakukan proses bernalar intuitif. Soemarmo (2014) menjeaskan
penalaran induktif didefinisikan sebagai penarikan kesimpulan yang bersifat umum atau khusus
berdasarkan pengamatan terhadap data terbatas, nilai kebenaran kesimpulan dalam penalaran
induktif tidak mutlak tetapi bersifat probabilistik. Hal yang sama, Baroody (193) menyatakan
bahwa penalaran induktif dimulai dengan memeriksa kasus tertentu kemudian ditarik kesimpulan
secara umum. Dengan demikian, penalaran induktif merupakan suatu proses berfikir dengan
penarikan kesimpulan secara umum dengan memperhatikan aturan atau pola khusus.

Baroody (1993) mendefinisikan penalaran deduktif sebagai suatu aktivitas yang dimulai
dengan premis-premis (dalil umum) yang mengarah pada sebuah kesimpulan tak terelakkan
tentang contoh tertentu. Penalaran deduktif melibatkan suatu proses pengambilan kesimpulan yang
berdasarkan pada apa yang diberikan selain itu berlangsung dari aturan umum untuk suatu
kesimpulan tentang kasus yang lebih spesifik. Soemarmo (2014) menjelaskan penalaran deduktif
adalah penarikan kesimpulan berdasarkan aturan yang disepakati dan nilai kebenarannya bersifat
mutlak. Penalaran deduktif dapat tergolong tingkat rendah atau tingkat tinggi.
Dengan demikian, jelaslah bahwa penalaran merupakan kegiatan, proses atau aktivitas
berpikir untuk menarik kesimpulan atau membuat suatu pernyataan baru berdasar pada beberapa
pernyataan yang diketahui atau dianggap benar yang menjadi dasar penarikan suatu kesimpulan
inilah yang disebut antesedens atau premis. Sedangkan hasil suatu pernyataan baru yang
merupakan kesimpulan disebut konsekuens atau konklusi. Dengan kata lain penalaran merupakan
proses berpikir sistematis dan logis dalam menyelesaikan masalah untuk menarik kesimpulan.
Kemampuan komunikasi matematis merupakan kemampuan matematik esensial yang
tecantum dalam kurikulum matematika sekolah menegah (NCTM, 1999). Selain tercantum dalam
kurikulum matematika sekolah, pengembangan kemampuan komunikasi matematis juga sesuai
dengan hakikat matematika sebagai bahasa simbol yang efisien, padat makna, memiliki sfat
keteraturan yang indah dan kemampuan analisis kuantitatif, bersifat universal dan dapat dipahami
oleh setiap orang kapan dan dimana saja, dan membantu menghasilkan model matematikayang
diperlukan dalam model pemecahan masalah berbagai cabang ilmu pengetahuan dan masalah
kehidupan sehari-hari (Soemarmo, 2014). Komunikasi adalah aktivitas kelas yang menawarkan
kemungkinan bagi siswa untuk mengembangkan pemahaman yang lebih dalam tentang
matematika yang mereka pelajari. Melalui komunikasi akan terlihat sejauh mana siswa
mengeksplorasi pemikiran dan pemahaman mereka terhadap matematika. Sedangkan dalam
belajar memahami matematika umumnya melibatkan pengetahuan konsep dan prinsip serta
membangun hubungan bermakna antara pengetahuan dan konsep yang sedang dipelajari.
Menurut Baroody (1993), pembelajaran matematika hendaknya membantu siswa
mengomunikasikan ide matematisnya melalui representasi, mendengar (listening), membaca
(reading), diskusi (discussing), dan menulis (writing). Melalui komunikasi siswa dapat
mengorganisasi dan mengkonsolidasi berpikir matematisnya (NCTM, 2000), dan juga siswa

dapat mengeksplorasi ide-ide matematisnya. Pentingnya memiliki kemampuan komunikasi


matematis dikemukakan oleh Baroody (1993), sedikitnya ada dua alasan penting yang menjadikan
komunikasi dalam pembelajaran matematika perlu menjadi fokus perhatian, yaitu: (1) matematika
sebagai bahasa: matematika bukan hanya sebagai alat bantu berpikir, alat untuk menemukan pola,
atau menyelesaikan masalah, tetapi juga matematika sebagai alat bantu yang baik untuk
mengkomunikasikan macam-macam ide sehingga jelas, tepat, dan ringkas, dan (2)
pembelajaran matematika sebagai aktivitas sosial : dalam pembelajaran matematika interaksi
antar siswa, komunikasi siswa dengan guru merupakan bagian yang cukup penting untuk
mengembangkan potensi siswa.
Perspektif Gender pada Kemampuan Penalaran dan Komunikasi Matematis
Beberapa penelitian yang menyangkut perbedaan kemampuan laki-laki dan perempuan telah
banyak dilakukan, berbagai macam sudut pandang telah dipaparkan untuk menjelaskannya.
Perbedaan gender dalam sudut pandang dunia pendidikan khususnya matematika juga telah
diteliti, berikut ini adalah beberapa penelitian yang menyangkut perbedaan kemampuan laki-laki
dan perempuan.
Gender adalah suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan perbedaan antara lakilaki dan perempuan secara sosial yang tampak apabila dilihat dari nilai dan tingkah laku (Bagong,
2007). Krutetskii (1976) menjelaskan perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam belajar
matematika adalah: (1) laki-laki lebih unggul dalam penalaran, perempuan lebih unggul dalam
ketepatan, ketelitian, kecermatan, dan keseksamaan berpikir. (2) laki-laki memiliki kemampuan
matematika dan mekanika yang lebih baik daripada perempuan, perbedaan ini tidak nyata pada
tingkat sekolah dasar akan tetapi menjadi tampak lebih jelas pada tingkat yang lebih tinggi.
Sementara Maccoby & Jacklyn (1974) mengatakan laki-laki dan perempuan mempunyai
perbedaan kemampuan antara lain sebagai berikut: (1) perempuan mempunyai kemampuan verbal
lebih tinggi daripada laki-laki. (2) laki-laki lebih unggul dalam kemampuan visual spatial
(penglihatan keruangan) daripada perempuan. (3) laki-laki lebih unggul dalam kemampuan
matematika. Menurut Susento (2006), perbedaan gender bukan hanya berakibat pada perbedaan
kemampuan dalam matematika, tetapi cara memperoleh pengetahuan matematika juga terkait
dengan perbedaan gender.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh faktor gender dalam pembelajaran
matematika, namun pada sisi lain beberapa penelitian mengungkapkan bahwa gender tidak
berpengaruh signifikan dalam pembelajaran matematika. Seperti yang dikatakan oleh Mufida
(2013) dalam penelitiannya bahwa tidak adanya pengaruh jenis kelamin terhadap hasil belajar
matematika siswa kelas VII MTsN Karangrejo Tulungagung. Namun analisis menunjukkan bahwa
nilai rata-rata siswa perempuan lebih besar daripada nilai rata-rata siswa laki-laki.
KESIMPULAN
Dari berbagai hasil penelitian dan studi literatur mengenai kemampuan penalaran dan
komunikasi matematis dapat disimpulkan bahwa terdapat berbagai macam penelitian yang
menjelaskan bahwa kemampuan penalaran lebih tinggi siswa laki-laki daripada siswa perempuan.
Sedangkan siswa perempuan kemampuan komunikasi matematisnya lebih tinggi daripada siswa
laki-laki. Namun, disisi lain juga banyak penelitian yang menjelaskan bahwa kemampuan siswa
perempuan juga tidak kalah dengan kemampuan siswa laki-laki. Bahkan ada juga penelitian yang
menjelaskan bahwa gender tidak berpengaruh signifikan terhadap kemampuan siswa dalam belajar
matematika.
Meskipun demikian, guru harus mengubah sudut pandang mengenai kemampuan penalaran
dan komunikasi matematis siswa laki-laki dan perempuan. Mengubah bagaimana cara belajar
siswa yang awalnya pasif menjadi aktif dalam pembelajaran matematika. Karena selain faktor
internal dari diri siswa laki-laki dan perempuan itu sendiri, faktor eksternal seperti lingkungan juga
turut memengaruhi kondisi psikologis siswa.
Oleh karena itu, dengan kerjasama dari guru dan siswa terutama menggabungkan siswa lakilaki dan perempuan dalam satu kelas, mereka akan belajar berinteraksi, siswa laki-laki dapat
belajar berkomunikasi dengan siswa perempuan begitu juga siswa perempuan dapat mempelajari
kemampuan penalaran matematis dari siswa laki-laki. Sehingga siswa laki-laki dan perempuan
dapat memperluas diri mereka sendiri secara akademis dan emosional dengan berbagi
pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan. Sehingga diharapkan pembelajaran matematika akan
lebih efektif jika ditinjau dari kemampuan penalaran dan komunikasi matematis.

DAFTAR RUJUKAN
Amir, Zubaidah. 2013. Perspektif Gender dalam Pembelajaran Matematika. Jurnal Marwah,
(Online), 12 (1): 14-31, (http://ejournal.uin-suska.ac.id/index.php/marwah) diakses 6
November 2016.
Bagong Suyanto dan J. Dwi Narwoko. 2007. Sosiologi Teks Pengantar & Terapan. Jakarta:
Kencana Prenada Media Group.
Baroody, A. J. (1993). Problem Solving, Reasoning, and Communicating, K-8. New York:
Macmillan Publishing Company.
Krutetskii, V.A. (1976). The Psychology of Mathematical Abilities in School. Children. Chicago:
The University of Chicago Press.
Lithner, J. 2008. A Research Framework for Creative and Imitative Reasoning. Education Study
Mathematic, (67), 255-276.
Maccoby, E.E & Jacklin, C.N. 1974. The Psychology of Sex Differences. Stanford: Stanford
University.
Mufida, Siti Iva. 2013. Pengaruh Metode Pembelajaran Mind Mapping dan Jenis Kelamin
terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VII MTsN Karangrejo Tulungagung.
Skripsi tidak Diterbitkan. Tulungagung: Program Studi Tadris Matematika Jurusan
Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Tulungagung.
NCTM. 1999. Curriculum and Evaluation Standards for School Mathematics. Reston, V.A:
Author.
NCTM. 2000. Principles and Standards for School Mathematics. USA: NCTM.
Nurdalilah. 2013. Perbedaan Kemampuan Penalaran Matematika dan Pemecahan Masalah pada
Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pembelajaran Konvensional di SMA Negeri 1
Kualuh Selatan. Jurnal Pendidikan Matematika PARADIKMA, (Online), 6 (2): 109-119,
(http://www.jurnal.unimed.ac.id) diakses 7 November 2016.

Rosita, Cita Dwi. 2014. Kemampuan Penalaran dan Komunikasi Matematis: Apa, Mengapa, dan
Bagaimana Ditingkatkan pada Mahasiswa. Jurnal Euclid, (Online), 1(1): 33-46,
(http://www.fkip-unswagati.ac.id/ejournal) diakses 4 Desember 2016.
Saragih, Sahat & Rahmayani. 2013. Peningkatan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa
SMA/MA di Kecamatan Simpang Ulim Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
STAD.

Jurnal

Pendidikan

dan

Kebudayaan,

(Online),

19

(2):

174-188,

(http://jurnaldikbud.kemdikbud.go.id) diakses 20 Desember 2016.


Soemarmo, Utari & Hendriana, Heris. 2014. Penilaian Pembelajaran Matematika. Bandung:
Refika Aditama.
Soemarmo, Utari. 1987. Kemampuan Pemahaman dan Penalaran Matematika Siswa SMA
Dikaitkan dengan Kemampuan Logika Siswa dan Beberapa Unsur Proses Belajar
Mengajar. Disertasi tidak Diterbitkan. Bandung: Jurusan Pendidikan Matematika
Pascasarjana UPI.
Sukayasa. 2012. Karakteristik Penalaran Siswa SMP dalam Memecahkan Masalah Geometri
Ditinjau dari Perbedaan Gender dan Tingkat Kemampuan Matematika. Disertasi tidak
Diterbitkan. Surabaya: Jurusan Pendidikan Matematika Pascasarjana UNESA.
Susento. 2006. Mekanisme Interaksi Antara Pengalaman Kultural-Matematis, Proses Kognitif,
dan Topangan dalam Reinvensi Terbimbing. Disertasi tidak Diterbitkan. Surabaya:
Jurusan Pendidikan Matematika Pascasarjana UNESA.