Anda di halaman 1dari 30

CASE REPORT

BBLSR dan PREMATURITAS

Oleh
Vicky Octaviani
030.11.297

Pembimbing
dr. Thomas Harry Adoe, Sp.A

KEPANITERAAN KLINIK
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK
RSUD BEKASI
PERIODE 1 AGUSTUS-8 OKTOBER 2016
FAKULTAS KEDOKTERAN TRISAKTI

BAB I
LAPORAN KASUS
I. IDENTITAS
Pasien

Ayah

Ibu

Nama

By. Ny D

Tn. D

Ny. D

Jenis kelamin

Laki-laki

Laki-laki

Perempuan

28 hari

33 tahun

29 tahun

Usia
Alamat

Jl. Cut Mutia RT 04 RW 01, Sepanjang, Bekasi

Tanggal lahir

10-08-2016

A/S

6/7

BBL

1300 gram

PB

39 cm

II. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara Alloanamnesis dengan Ibu kandung pasien dan
data di status pasien, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik yang dilakukan
pada:
Lokasi
: Ruang Perinatologi RSUD Bekasi
Tanggal
: Rabu, 7 September 2016
Tanggal masuk
: Rabu, 7 September 2016
Keluhan utama
: Sering berhenti napas
Keluhan tambahan
: Bayi lahir kurang bulan, berat badan lahir rendah
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Bayi dirujuk dari RS Rawa Lumbu Bekasi pada tanggal 7 September 2016, dengan
keluhan bayi sering berhenti napas, lahir kurang bulan dan berat badan lahir rendah.
Bayi lahir dari ibu P2A0, sectio caesarea, atas indikasi gemelli, usia gestasi 35-36
minggu (HPHT: 2 Desember 2015), ditolong oleh dokter spesialis obstetri dan

ginekologi. Sebelumnya ibu pasien dan bidan yang biasa memeriksa tidak mengetahui
bahwa kehamilan gemelli. Bayi lahir pada tangga 10 Agustus 2016 2016 di RS Rawa
Lumbu dengan berat badan lahir 1300 gram, panjang badan 39 cm, dan APGAR
Score 6/7, anggota tubuh lengkap, anus (+). Bayi dirawat di NICU RS Rawa Lumbu
atas indikasi Respiratory Distress Syndrome, selama di NICU pasien mendapatkan
susu formula dan ASI. Riwayat trauma selama hamil disangkal. Riwayat konsumsi
obat-obatan atau jamu selama hamil disangkal. Ibu pasien mengalami muntah-muntah
hingga usia kehamilan 6 bulan sehingga ibu menjadi malas makan dan sudah berobat
ke bidan dan diberikan vitamin.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


Penyakit
Alergi
Cacingan
DBD
Typhoid
Otitis
Parotis

Umur
-

Penyakit
Difteria
Diare
Kejang
Gastritis
Varicela
Asma

Umur
-

Penyakit
Jantung
Ginjal
Darah
Radang Paru
Tuberkulosis
Morbili

Umur
-

RIWAYAT MAKANAN
Umur (bulan)

ASI

Buah /

Bubur Susu

Nasi Tim

Biskuit
02

ASI
Susu Formula

RIWAYAT KELUARGA
Corak Reproduksi

N
o

Usia

Jenis
kelamin

Lahir

Lahi

Hidu

mati
-

1.

9 tahun

Laki-laki

Ya

2 hari

Laki-laki

Ya

28 hari

Laki-laki

Ya

Keteranga

Abortu

Mati

(sebab)

n
kesehatan

Lemah
jantung
Pasien

Riwayat Pernikahan
Ayah

Ibu

Nama

Tn. D

Ny. D

Perkawinan ke-

Umur saat menikah

19 tahun

23 tahun

Pendidikan terakhir

Tamat SMA

Tamat SMA

Agama

Islam

Islam

Suku bangsa

Jawa

Jawa

Keadaan kesehatan

Sehat

Sehat

Riwayat Penyakit Keluarga


Saudara kembar pasien meninggal saat usia 2 hari, sebab kematian menurut
dokter di rumah sakit sebelumnya karena lemah jantung. Riwayat tekanan darah
tinggi, kencing manis, maupun alergi pada keluarga disangkal.
Riwayat Kebiasaan Keluarga
Keluarga pasien juga menyangkal adanya kebiasaan minum minuman
beralkohol, jamu, merokok, dan penggunaan obat-obatan terlarang.

RIWAYAT LINGKUNGAN PERUMAHAN


Menurut ibu pasien keadaan lingkungan rumah cukup padat penduduk. Rumah
berada tepat di pinggir jalan raya, sehingga mudah terpapar polusi. Pada rumah pasien
terdapat 2 jendela di depan dan 1 jendela di ruang tengah. Ventilasi udara, dan
pencahayaan kurang. Sumber air berasal dari air tanah.
III. PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum
:
S
: 44 mg/dl
T
: 37o C
A
: Napas spontan,

Tampak sakit berat


retraksi -/-, NCH -/-,

RR: 24x/menit
B
: Sianosis -, pallor-,
140x/menit
L
: Leu: 24.6
115
E

CRT <3, HR :

Hb 5.2

Ht 14.4

Tr:

:-

Data Antropometri
Berat Badan sekarang
Panjang Badan sekarang
Lingkar kepala

: 1470 gram
: 40 cm
: 35 cm

Status Gizi (Fenton)


BB: < 3%
TB: 50%
LK: > 50%

Status Generalisata
Kepala
Bentuk dan ukuran

: Simetris, bulat, normocephaly, UUB belum menutup,


caput suksadenum (-).

Rambut dan kulit kepala

: Warna hitam, tipis, pertumbuhan rambut kurang


merata.

Mata

: Konjungtiva anemis +/+, sklera ikterik -/-.

Hidung

: Collumelar (-), pernafasan cuping hidung (-)

Telinga

: Daun telinga sempurna, pinna memutar penuh, lunak,


rekoil langsung

Bibir

: Lembab, sianosis oral (-)

Mulut

: Bentuk simetris

Leher

: Trakea ditengah

Thoraks
Paru-paru
Inspeksi

: Gerak napas kedua hemitoraks simetris, retraksi (-), areola dan papilla
mammae (+), areola mamae datar < 1 mm.

Palpasi

: Vocal fremitus tidak dilakukan

Perkusi

: Tidak dilakukan pemeriksaan

Auskultasi

: Suara nafas bronkial (+/+) normal, ronchi (-/-), wheezing (-/-)

Jantung

Inspeksi

: Iktus kordis tidak terlihat

Palpasi

: Iktus kordis tidak teraba

Perkusi

: Tidak dilakukan pemeriksaan

Auskultasi

: S1-S2 reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen
Inspeksi

: Datar

Palpasi

: Supel, hepar dan lien tidak teraba membesar

Perkusi

: Tidak dilakukan pemeriksaan

Auskultasi

: Bising usus (+) normal

Genitalia

: Testis di bawah, rugae skrotum kurang jelas.

Anggota gerak

: Akral hangat, sianosis (-), CRT <3 detik, plantar crease 2/3
anterior.

Tulang belakang

: Kifosis (-), lordosis (-), skoliosis (-)

Kulit

: Turgor cukup, ikterik (-), kulit terkelupas, vena tidak


terlihat

Refleks

: Moro (+), hisap (-), rooting (-), genggam (-)

IV. LABORATORIUM & PEMERIKSAAN PENUNJANG LAINNYA


Laboratorium
7 September 2016
Pemeriksaan
Darah rutin
Hemoglobin
Hematokrit
Leukosit
Trombosit
GDS (10.00)
GDS (19.00)
8 September 2016

Hasil

Nilai Rujukan

5.2
14.4
24.6
115
44
38

11-14.5 g/dL
40-54 %
5-10 ribu/uL
150-400 ribu/uL
60-110 mg/dL
60-110 mg/dL

Pemeriksaan

Hasil

Nilai Rujukan
8

GDS (08.30)
GDS (10.30)
9 September 2016
Pemeriksaan
GDS

30
75

60-110 mg/dL
60-110 mg/dL

Hasil
78

Nilai Rujukan
60-110 mg/dL

Hasil
56

Nilai Rujukan
60-110 mg/dL

Hasil
53

Nilai Rujukan
60-110 mg/dL

Hasil
59

Nilai Rujukan
60-110 mg/dL

Hasil
91

Nilai Rujukan
60-110 mg/dL

10 September 2016
Pemeriksaan
GDS
11 September 2016
Pemeriksaan
GDS
12 September 2016
Pemeriksaan
GDS
13 September 2016
Pemeriksaan
GDS

Radiologi
Cor: tidak dinilai
Pulmo: corakan bronkovaskular
normal, tampak bercak kesuraman
di paracardial kanan dan kiri
Kesan: gambaran bronkopneumonia
duplex

V. RESUME
Bayi laki-laki, usia 28 hari, dirujuk dari RS Rawa Lumbu Bekasi pada tanggal
7 September 2016, dengan keluhan bayi sering berhenti napas, lahir kurang
bulan dan berat badan lahir rendah. Bayi lahir dari ibu P2A0, sectio caesarea,
atas indikasi gemelli, usia gestasi 35-36 minggu (HPHT: 2 Desember 2015),
ditolong oleh dokter spesialis obstetri dan ginekologi. Bayi lahir pada tanggal
9

10 Agustus 2016 di RS Rawa Lumbu dengan berat badan lahir 1300 gram,
panjang badan 39 cm, dan APGAR Score 6/7, anggota tubuh lengkap, anus
(+). Bayi dirawat di NICU RS Rawa Lumbu atas indikasi Respiratory Distress
Syndrome, selama di NICU pasien mendapatkan susu formula dan ASI.
Riwayat trauma selama hamil disangkal. Riwayat konsumsi obat-obatan atau
jamu selama hamil disangkal. Ibu pasien mengalami muntah-muntah hingga
usia kehamilan 6 bulan sehingga ibu menjadi malas makan dan sudah berobat
ke bidan dan diberikan vitamin.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum pasien tampak sakit berat,
S: 44 mg/dl, T: 37o C, HR: 140x/menit, RR: 24x/menit, BB: 1470 gram, PB:
40 cm, status gizi (Fenton) BB: <3%, TB: 50%, LK: 50% kulitterkelupas,
vena tidak terlihat, konjungtiva anemis +/+,collumelar(),pinna memutar
penuh, lunak, sudah recoil, areola mamae datar <1mm, lipatan plantar 2/3
anterior,testisdibawah,rugaekurangjelas,refleksmoro(+),ballardscore:30
(36minggu),APGARScore6/7,kurvaLubchenco:KMK,KB
PadapemeriksaanpenunjangHb:5.2 g/dL, Ht: 14.4%, Leu: 24.6 ribu/uL, Tr:
115 ribu/uL. Pada pemeriksaan GDS didapatkan:
07/09/16 10.0044 mg/dL
19.0038 mg/dL
08/09/1 6 08.30 30 mg/dL
10/09/16 56 mg/dL
11/09/16 53 mg/dL
12/09/16 59 mg/dL

VI. DIAGNOSIS
- BeratBadanLahirSangatRendah
- Prematuritas
- Anemia
VII. TATALAKSANA
Inkubator
Ventilasi dengan CPAP, PIP 14/6, FiO2 21 %
IVFD N5+KCL+Ca Glukonas (100cc/kgBB) 147 cc 6 cc/jam
Cinam 2x110 mg ( 150 mg/kgBB per 6-8 jam)
Amikacin 2x11 mg (7.5 mg/kgBB per 12 jam)
Caffein 1x1 (20 mg/kgBB)
Minum 8x20 mL via OGT
10

Transfusi PRC 10 cc/kgBB20 cc


Kalori
Parenteral: (147x0.34 kkal) / 1.47 = 49.98 ~ 50 kkal/kg
Enteral : (160/30 x 20) / 1.47 = 72.5 kkal/kg
Total
: 112.5 kkal/kg
VIII. PROGNOSIS
Ad vitam
: dubia
Ad fungtionam: dubia
Ad sanationam: dubia ad bonam

IX. FOLLOW UP

08/09

10/09

S: 30 mg/dL
T: 37.5oC
A: retraksi (-)
B: sianosis (-) mottle (-) pallor
(-)
L: E: IVFD N5+KCL+CG 6
cc/jam
Cinam 2x110 mg
Amikacin 2x11 mg
Caffeine 1x1
Minum 8x20 mL
S: 78 mg/dL
T: 37.8oC
A: retraksi (-)
B: sianosis (-) mottle (-) pallor
(-)
L: E: IVFD N5+KCL+CG 6 cc/jam
Cinam 2x110 mg
Amikacin 2x11 mg
Caffeine 1x1
Minum 8x25 mL

09/09

S: 75 mg/dL
T: 37.8oC
A: retraksi (-)
B: sianosis (-) mottle (-) pallor (-)
L: E: IVFD N5+KCL+CG 6 cc/jam
Cinam 2x110 mg
Amikacin 2x11 mg
Caffeine 1x1
Minum 8x25 mL

11/09

S: 53 mg/dL
T: 37.6oC
A: retraksi (-)
B: sianosis (-) mottle (-) pallor (-)
L: E: IVFD N5+KCL+CG 6 cc/jam
Cinam 2x110 mg
Amikacin 2x11 mg
Caffeine 1x1
Minum 8x25 mL

11

12/09

S: 59 mg/dL
T: 37.8oC
A: retraksi (-)
B: sianosis (-) mottle (-) pallor
(-)
L: E: IVFD N5+KCL+CG 6 cc/jam
Cinam 2x110 mg
Amikacin 2x11 mg
Caffeine 1x1
Minum 8x25 mL

13/09

S: 91 mg/dL
T: 37oC
A: retraksi (-)
B: sianosis (-) mottle (-) pallor (-)
L: E: IVFD N5+KCL+CG 6 cc/jam
(stop)
Cinam 2x110 mg(stop)
Amikacin 2x11 mg(stop)
Caffeine 1x1
Minum 8x25 mL
Ceptik 3x5 mg

14/09

S: T: 37.2oC
A: retraksi (-)
B: sianosis (-) mottle (-) pallor
(-)
L: E: Caffeine 1x1
Minum 8x27.5 mL
Ceptik 3x5 mg

15/09

S: T: 37.1oC
A: retraksi (-)
B: sianosis (-) mottle (-) pallor (-)
L: E: Caffeine 1x1
Minum 8x27.5 mL
Ceptik 3x5 mg

16/09

S: T: 36.2oC
A: retraksi (-)
B: sianosis (-) mottle (-) pallor
(-)
L: E: Caffeine 1x1
Minum 8x27.5 mL
Ceptik 3x5 mg

17/09

S: T: 36.2oC
A: retraksi (-)
B: sianosis (-) mottle (-) pallor (-)
L: E: Caffeine 1x1
Minum 8x27.5 mL
Ceptik 3x5 mg

18/09

S: T: 36.8oC
A: retraksi (-)
B: sianosis (-) mottle (-) pallor
(-)
L: E: Caffeine 1x1
Minum 8x30 mL
Ceptik 3x5 mg (stop)

19/09

S: T: 37.2oC
A: retraksi (-)
B: sianosis (-) mottle (-) pallor (-)
L: E: Caffeine 1x1
Nymiko 3x0.5 cc
San B plex 1x0.3 cc
Minum 8x30 cc

12

20/09

S: T: 37.1oC
A: retraksi (-)
B: sianosis (-) mottle (-) pallor
(-)
L: E: Caffeine 1x1 (stop)
Nymiko 3x0.5 cc
San B plex 1x0.3 cc
Minum 8x32.5 cc

21/09

S: T: 37.1oC
A: retraksi (-)
B: sianosis (-) mottle (-) pallor (-)
L: E: Nymiko 3x0.5 cc
San B plex 1x0.3 cc
Minum 8x32.5cc

BAB III
ANALISA KASUS

Pasien dirawat di NICU sejak 7 September 2016. Diagnosis BBLSR dan


prematurias sesuai dengan riwayat kelahiran pasien di mana pasien BBL pasien
adalah 1300 gr, dan usai gestasi < 37 minggu.
Saat masuk NICU RSUD Bekasi berat badan pasien adalah 1470 gr. Pasien
diberikan terapi cairan N5+KCL+Ca Glukonas dengan dosis yang sesuai dengan breat
bedan pasien. Diberikan tambahan elektrolit untuk memenuhi kebutuhan pasien agar
dapat mempertahankan fungsi organ pasien. Pemberian antibiotik pada pasien ini
sesuai dengan hasil hitung leukosit, di mana didapatkan leukosit 24.600 uL yang
menunjukan adanya infeksi. Caffein diberikan untuk meningkatkan pernapasan,
mencegah apneu dan meningkatkan kerja jantung.
Asupan kalori diberikan melalui enteral dan parenteral, setelah dirawat selama
23 hari didapatkan berat badan pasien menjadi 1700 gr, menunjukkan kenaikan
sebesar 230 gr. Pasien mengalami kenaikan berat badan 10 gr/ hari.
Terapi yang diberikan pada pasien secara keseluruhan sudah sesuai, dilihat
dari perbaikan klinis dan adanya peningkatan berat badan pasien.
Di rumah sakit sebelumnya pasien dirawat di NICU selama 28 hari, namun
secara klinis dan berat badan tidak ada perbaikan, serta didapatkan adanya kerusakan
pada septum nasal yang disebabkan karena pemakaian kanul oksigen yang kurang
berhati-hari.

13

BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi
Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi yang dilahirkan
dengan berat lahir kurang dari 2500 gram tanpa memandang masa gestasi. 1
Sumber lain mendefinisikan

sebagai bayi dengan berat badan lahir dibawah

persentil 10 dari perkiraan berat menurut masa gestasi.2


Epidemiologi
Angka prevalensi dari BBLR adalah sekitar 10 % dari semua kehamilan.
Jumlah ini bervariasi pada tiap populasi. Sejumlah 3 - 5 % dari kejadian BBLR
terjadi pada keadaan ibu yang sehat, dan lebih dari 25 % kejadian terjadi pada
keadan ibu dengan kehamilan resiko tinggi.3
Prevalensi bayi berat lahir rendah (BBLR) diperkirakan 15 % dari seluruh
kelahiran di dunia dengan batasan 3,3 % - 38 % dan lebih sering terjadi di negaranegara berkembang atau sosio-ekonomi rendah. Secara statistik menunjukkan 90
% kejadian BBLR didapatkan di negara berkembang dan angka kematiannya 35
kali lebih tinggi dibanding pada bayi dengan berat lahir lebih dari 2500 gram.
BBLR termasuk faktor utama dalam peningkatan mortalitas, morbiditas dan
disabilitas neonatus, bayi dan anak serta memberikan dampak jangka panjang
terhadap kehidupannya dimasa depan. Angka kejadian di Indonesia sangat
bervariasi antara satu daerah dengan daerah lain, yaitu berkisar antara 9 % - 30 %,
hasil studi di 7 daerah multisenter diperoleh angka BBLR dengan rentang 2,1 % 17,2 %. Secara nasional berdasarkan analisa lanjut SDKI, angka BBLR sekitar 7,5
14

%. Angka ini lebih besar dari target BBLR yang ditetapkan pada sasaran program
perbaikan gizi menuju Indonesia Sehat 2010 yakni maksimal 7 %.4
Klasifikasi
BBLR dapat digolongkan sebagai berikut :
a. Prematuritas murni
Adalah masa gestasinya kurang dari 37 minggu dan berat badannya sesuai
dengan berat badan untuk masa gestasi itu atau biasa disebut neonatus kurang
bulan sesuai untuk masa kehamilan.
Kelompok BBLR ini sering mendapatkan penyulit dan komplikasi akibat
kurang matangnya organ karena masa gestasi yang kurang.
b. Dismaturitas
Adalah bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan
seharusnya untuk masa gestasi itu. Berarti bayi mengalami retardasi
pertumbuhan intrauterin dan merupakan bayi yang kecil untuk masa
kehamilannya. Hal ini disebabkan oleh terganggunya sirkulasi dan efisiensi
plasenta, kurang baiknya keadaan umum ibu atau gizi ibu, atau hambatan
pertumbuhan dari bayinya sendiri.
Bayi dengan berat lahir rendah sering diklasifikasikan berdasarkan :
1. Berat badan lahir
a. Bayi berat lahir amat sangat rendah (BBLASR), dengan berat lahir <1000
gram.
b. Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR), dengan berat lahir 1001-1500 gram.
c. Bayi berat lahir rendah (BBLR), dengan berat badan 1501-2499 gram .

2. Usia kehamilan
a. Bayi prematur adalah bayi yang lahir dengan usia kehamilan belum mencapai
38 minggu.
b. Bayi cukup bulan adalah bayi yang lahir dengan usia kehamilan 38-42
minggu.

15

c. Bayi lebih bulan adalah bayi yang lahir dengan usia kehamilan lebih dari 42
minggu.
3. Usia kehamilan dan berat badan lahir
a. Masa kehamilan kurang dari 38 minggu dengan berat yang sesuai dengan
berat badan untuk usia kehamilan (sesuai untuk masa kehamilan=SMK),
dimana masa kehamilan dihitung mulai hari pertama haid terakhir dari haid
yang teratur.
b. Bayi yang beratnya kurang dari berat semestinya menurut masa kehamilannya
(kecil untuk masa kehamilan=KMK)
c. Bayi yang beratnya lebih dari berat semestinya menurut masa kehamilannya
(besar untuk masa kehamilan=BMK)
Etiologi
Etiologi BBLR ada yang berasal dari faktor ibu, janin dan plasenta.
Berikut akan dikelompokkan etiologi BBLR berdasarkan 3 faktor di atas.
Faktor Ibu :

Toxemia

Hipertensi dan/atau penyakit ginjal

Hipoksemia (misalnya: menderita penyakit jantung atau paru)

Malnutrisi (mikro dan makro)

Menderita penyakit kronis

Anemia sel sabit

Konsumsi obat-obatan,alkohol, rokok.

dsb.

Faktor Janin :

Kelainan kromosom (autosomal trisomi)

Infeksi pada janin (cytomegalic inclusion disease, rubella kongenital,


sifilis)

Anomali kongenital

16

Radiasi

Kehamilan ganda

Hipoplasi pankreas

Defisiensi insulin

Defisiensi insulin-like growth factor type 1.

dsb.

Faktor plasenta :

Penurunan berat plasenta dan/atau selularitas plasenta

Penurunan luas permukaan plasenta

Villous plaentitis (disebabkan bakteri, virus, parasit)

Infark plasenta

Tumor ( mola hidatidosa, chorioangioma)

Plasenta terpisah

dsb.2

Patofisiologi
Dari berbagai etiologi di atas, secara garis besar terjadinya BBLR
adalah sebagai berikut :

Plasenta
Berat lahir memiliki hubungan yang berarti dengan berat plasenta dan
luas permukaan villus plasenta. Aliran darah uterus, juga transfer
oksigan juga transfer oksigen dan nutrisi plasenta dapat berubah pada
berbagai penyakit vaskular yang diderita ibu. Disfungsi plasenta yang
terjadi sering berakibat gangguan pertumbuhan janin. Dua puluh lima
sampai tiga puluh persen kasus gangguan pertumbuhan janin dianggap
sebagai hasil penurunan aliran darah uteroplasenta pada kehamilan
dengan komplikasi penyakit vaskular ibu. Keadaan klinis yang meliputi
aliran darah plasenta yang buruk meliputi kehamilan ganda, penyalahgunaan obat, penyakit vaskular (hipertensi dalam kehamilan atau

17

kronik), penyakit ginjal, penyakit infeksi (TORCH), insersi plasenta


umbilikus yang abnormal, dan tumor vaskular.

Malnutrisi
Ada dua variabel bebas yang diketahui mempengaruhi pertumbuhan
janin, yaitu berat ibu sebelum hamil dan pertambahan berat ibu selama
hamil. Ibu dengan berat badan kurang seringkali melahirkan bayi yang
berukuran lebih kecil daripada yang dilahirkan ibu dengan berat normal
atau berlebihan. Selama embriogenesis status nutrisi ibu memiliki efek
kecil terhadap pertumbuhan janin. Hal ini karena kebanyakan wanita
memiliki cukup simpanan nutrisi untuk embrio yang tumbuh lambat.
Meskipun demikian, pada fase pertunbuhan trimester ketiga saat
hipertrofi seluler janin dimulai, kebutuhan nutrisi janin dapat melebihi
persediaan ibu jika masukan nutrisi ibu rendah. Data upaya menekan
kelahiran BBLR dengan pemberian tambahan makanan kepada populasi
berisiko tinggi (riwayat nutrisi buruk) menunjukkan bahwa kaloi
tambahan lebih berpengaruh terhadap peningkatan berat janin dibanding
pernmbahan protein.

Infeksi
Infeksi virus tertentu berhubungan dengan gangguan pertumbuhan janin.
Wanita-wanita dengan status sosioekonomi rendah diketahui melahirkan
bayi dengan gangguan pertumbuhan maupun bayi kecil di samping
memiliki insidensi infeksi perinatal yang lebih tinggi. Bayi-bayi yang
menderita infeksi rubella kongenital dan sitomegalovirus (CMV)
umumnya terjadi gangguan pertumbuhan janin, tidak tergantung pada
umur kehamilan saat mereka dilahirkan.

Faktor genetik
Diperkirakan 40% dari seluruh variasi berat lahir berkaitan dengan
kontribusi genetik ibu dan janin. Wanita normal tertentu memiliki
kecendrungan untuk berulang kali melahirkan bayi dengan berat lahir
rendah atau keil untuk masa kahamilan (tingkat pengulangan 25%-50%),
dan kebanyakan anita tersebut dilahirkan dalam keadaan yang sama.
Hubungan antara berat lahir ibu dan janin berlaku pada semua ras.2
18

Diagnosis
Menegakkan diagnosis BBLR adalah dengan mengukur berat lahir
bayi dalam jangka waktu kurang lebih dapat diketahui dengan dilakukan
anamesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
1) Anamnesis
Riwayat yang perlu ditanyakan pada ibu dalam anamesis untuk
menegakkan mencari etiologi dan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap
terjadinya BBLR :

Umur ibu

Riwayat hari pertama haid terakir

Riwayat persalinan sebelumnya

Paritas, jarak kelahiran sebelumnya

Penyakit yang diderita selama hamil

Obat-obatan yang diminum selama hamil

2) Pemeriksaan Fisik
Yang dapat dijumpai saat pemeriksaan fisik pada bayi BBLR antara
lain :

Berat badan

Tanda-tanda prematuritas (pada bayi kurang bulan)

Tulang rawan telinga belum terbentuk.

Masih terdapat lanugo.

Refleks masih lemah.

Alat kelamin luar; perempuan: labium mayus belum menutup


labium minus; laki-laki: belum terjadi penurunan testis & kulit
testis rata.

Tanda bayi cukup bulan atau lebih bulan (bila bayi kecil untuk masa
kehamilan).

Tidak dijumpai tanda prematuritas.

Kulit keriput.

Kuku lebih panjang

19

3) Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain

Pemeriksaan skor ballard

Darah rutin, glukosa darah, kalau perlu dan tersedia fasilitas diperiksa
kadar elektrolit dan analisa gas darah.

Foto dada ataupun babygram diperlukan pada bayi baru lahir dengan umur
kehamilan

kurang

bulan

dimulai

pada

umur

jam

atau

didapat/diperkirakan akan terjadi sindrom gawat nafas.

USG kepala terutama pada bayi dengan umur kehamilan kurang lebih.5

Tatalaksana
1) Medikamentosa
Pemberian vitamin K1 :
o Injeksi 1 mg IM sekali pemberian, atau
o Per oral 2 mg sekali pemberian atau 1 mg 3 kali pemberian (saat lahir, umur 310 hari, dan umur 4-6 minggu).4
2) Diatetik
Bayi prematur atau BBLR mempunyai masalah menyusui karena refleks
menghisapnya masih lemah. Untuk bayi demikian sebaiknya ASI dikeluarkan
dengan pompa atau diperas dan diberikan pada bayi dengan pipa lambung atau
pipet. Dengan memegang kepala dan menahan bawah dagu, bayi dapat dilatih untuk
menghisap sementara ASI yang telah dikeluarkan yang diberikan dengan pipet atau
selang kecil yang menempel pada puting. ASI merupakan pilihan utama :
o Apabila bayi mendapat ASI, pastikan bayi menerima jumlah yang cukup
dengan cara apapun, perhatikan cara pemberian ASI dan nilai kemampuan
bayi menghisap paling kurang sehari sekali.
o Apabila bayi sudah tidak mendapatkan cairan IV dan beratnya naik 20 g/hari
selama 3 hari berturut-turut, timbang bayi 2 kali seminggu.

20

Pemberian minum bayi berat lahir rendah (BBLR) menurut berat badan lahir dan
keadaan bayi adalah sebagai berikut :
Berat lahir 1750 2500 gram
Bayi Sehat
Biarkan bayi menyusu pada ibu semau bayi. Ingat bahwa bayi kecil lebih

mudah merasa letih dan malas minum, anjurkan bayi menyusu lebih sering
(contoh; setiap 2 jam) bila perlu.
Pantau pemberian minum dan kenaikan berat badan untuk menilai

efektifitas menyusui. Apabila bayi kurang dapat menghisap, tambahkan ASI


peras dengan menggunakan salah satu alternatif cara pemberian minum.
Bayi Sakit
Apabila bayi dapat minum per oral dan tidak memerlukan cairan IV,

berikan minum seperti pada bayi sehat.


Apabila bayi memerlukan cairan intravena:

Berikan cairan intravena hanya selama 24 jam pertama

Mulai berikan minum per oral pada hari ke-2 atau segera setelah
bayi stabil.
Apabila masalah sakitnya menghalangi proses menyusui (contoh;

gangguan nafas, kejang), berikan ASI peras melalui pipa lambung :

Berikan cairan IV dan ASI menurut umur

Berikan minum 8 kali dalam 24 jam (contoh; 3 jam sekali).


Apabila bayi telah mendapat minum 160 ml/kgBB per hari tetapi
masih tampak lapar berikan tambahan ASI setiap kali minum.

b. Berat lahir 1500-1749 gram


Bayi Sehat
o

Berikan ASI peras dengan cangkir/sendok. Bila jumlah yang dibutuhkan


tidak dapat diberikan menggunakan cangkir/sendok atau ada resiko terjadi
aspirasi ke dalam paru (batuk atau tersedak), berikan minum dengan pipa
lambung. Lanjutkan dengan pemberian menggunakan cangkir/ sendok apabila
21

bayi dapat menelan tanpa batuk atau tersedak (ini dapat berlangsung setela 1-2
hari namun ada kalanya memakan waktu lebih dari 1 minggu)
o

Berikan minum 8 kali dalam 24 jam (misal setiap 3 jam). Apabila bayi
telah mendapatkan minum 160/kgBB per hari tetapi masih tampak lapar, beri
tambahan ASI setiap kali minum.

Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan cangkir/


sendok, coba untuk menyusui langsung.

Bayi Sakit
o

Berikan cairan intravena hanya selama 24 jam pertama

Beri ASI peras dengan pipa lambung mulai hari ke-2 dan kurangi jumlah
cairan IV secara perlahan.

Berikan minum 8 kali dalam 24 jam (contoh; tiap 3 jam). Apabila bayi
telah mendapatkan minum 160/kgBB per hari tetapi masih tampak lapar, beri
tambahan ASI setiap kali minum.

Lanjutkan pemberian minum menggunakan cangkir/ sendok apabila


kondisi bayi sudah stabil dan bayi dapat menelan tanpa batuk atau tersedak
o Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan cangkir/
sendok, coba untuk menyusui langsung.

c. Berat lahir 1250-1499 gram


Bayi Sehat
o Beri ASI peras melalui pipa lambung
o Beri minum 8 kali dalam 24 jam (contoh; setiap 3 jam). Apabila bayi telah
mendapatkan minum 160 ml/kgBB per hari tetapi masih tampak lapar, beri
tambahan ASI setiap kali minum
o Lanjutkan pemberian minum menggunakan cangkir/ sendok.
o Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan cangkir/ sendok,
coba untuk menyusui langsung.
Bayi Sakit

22

Beri cairan intravena hanya selama 24 jam pertama.

Beri ASI peras melalui pipa lambung mulai hari ke-2 dan kurangi jumlah
cairan intravena secara perlahan.
Beri minum 8 kali dalam 24 jam (setiap 3 jam). Apabila bayi telah

mendapatkan minum 160 ml/kgBB per hari tetapi masih tampak lapar, beri
tambahan ASI setiap kali minum
o

Lanjutkan pemberian minum menggunakan cangkir/ sendok.

Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan cangkir/


sendok, coba untuk menyusui langsung.

d. Berat lahir < 1250 gram (tidak tergantung kondisi)


o Berikan cairan intravena hanya selama 48 jam pertama
o Berikan ASI melalui pipa lambung mulai pada hari ke-3 dan kurangi
pemberian cairan intravena secara perlahan.
o Berikan minum 12 kali dalam 24 jam (setiap 2 jam). Apabila bayi telah
mendapatkan minum 160 ml/kgBB per hari tetapi masih tampak lapar, beri
tambahan ASI setiap kali minum
o Lanjutkan pemberian minum menggunakan cangkir/ sendok.
o Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan cangkir/ sendok,
coba untuk menyusui langsung.
Suportif
Hal utama yang perlu dilakukan adalah mempertahankan suhu tubuh normal:
o Gunakan salah satu cara menghangatkan dan mempertahankan suhu tubuh bayi,
seperti kontak kulit ke kulit, kangaroo mother care, pemancar panas, inkubator
atau ruangan hangat yang tersedia di tempat fasilitas kesehatan setempat sesuai
petunjuk.
o Jangan memandikan atau menyentuh bayi dengan tangan dingin
o Ukur suhu tubuh dengan berkala
o Yang juga harus diperhatikan untuk penatalaksanaan suportif ini adalah :
o Jaga dan pantau patensi jalan nafas

23

o Pantau kecukupan nutrisi, cairan dan elektrolit


o Bila terjadi penyulit, harus dikoreksi dengan segera (contoh; hipotermia, kejang,
gangguan nafas, hiperbilirubinemia)
o Berikan dukungan emosional pada ibu dan anggota keluarga lainnya
o Anjurkan ibu untuk tetap bersama bayi. Bila tidak memungkinkan, biarkan ibu
berkunjung setiap saat dan siapkan kamar untuk menyusui.
Pemantauan (Monitoring)
1). Pemantauan saat dirawat
a. Terapi
o Bila diperlukan terapi untuk penyulit tetap diberikan
o Preparat besi sebagai suplemen mulai diberikan pada usia 2 minggu

b. Tumbuh kembang
o Pantau berat badan bayi secara periodik
o Bayi akan kehilangan berat badan selama 7-10 hari pertama (sampai 10%
untuk bayi dengan berat lahir 1500 gram dan 15% untuk bayi dengan
berat lahir <1500>
o Bila bayi sudah mendapatkan ASI secara penuh (pada semua kategori berat
lahir) dan telah berusia lebih dari 7 hari :
-

Tingkatkan jumlah ASI denga 20 ml/kg/hari sampai tercapai


jumlah 180 ml/kg/hari

Tingkatkan jumlah ASI sesuai dengan peningkatan berat badan


bayi agar jumlah pemberian ASI tetap 180 ml/kg/hari

Apabila kenaikan berat badan tidak adekuat, tingkatkan jumlah


pemberian ASI hingga 200 ml/kg/hari

Ukur berat badan setiap hari, panjang badan dan lingkar kepala
setiap minggu.

Indikasi bayi BBLR pulang:

24

o Suhu bayi stabil.


o Toleransi minum oral baik terutama ASI.
o Ibu sanggup merawat BBLR di rumah
2). Pemantauan setelah pulang
Diperlukan pemantauan setelah pulang untuk mengetahui perkembangan bayi dan
mencegah/ mengurangi kemungkinan untuk terjadinya komplikasi setelah pulang
sebagai berikut :
o Sesudah pulang hari ke-2, ke-10, ke-20, ke-30, dilanjutkan setiap bulan.
o Hitung umur koreksi.
o Pertumbuhan; berat badan, panjang badan dan lingkar kepala.
o Tes perkembangan, Denver development screening test (DDST).
o Awasi adanya kelainan bawaan.
Tanda kecukupan pemberian ASI:
o BAK minimal 6 kali/ 24 jam.
o Bayi tidur lelap setelah pemberian ASI.
o BB naik pd 7 hari pertama sbyk 20 gram/ hari
o Cek saat menyusui, apabila satu payudara dihisap ASI akan menetes
dari payudara yg lain.6
Komplikasi7
a. Enterokolitis nekrotikans neonatal
Enterokolotis nekrotikan merupakan penyakit saluran cerna yang serius pada
bayi yang baru lahir dan ditandai dengan bercak nekrosis atau nekrosis difus pada
mukosa atau submukosa usus serta vaskularisasi usus. Insidensi terjadinya
dihubungkan dengan umur kehamilan yang kurang, dan merupakan komplikasi yang
penting yang terjadi pada kelahiran premature. Terhitung 7,5 % kasus EKN sebagai
penyebab kematian neonatal.
b. Hipotermia
Perbedaan suhu di dalam kandungan dan lingkungan akan memberi pengaruh
pada kehilangan panas tubuh bayi, selain itu hipotermia dapat terjadi karena

25

kemampuan untuk untuk mempertahankan panas dan kesanggupan menambah


produksi panas sangat terbatas, karena pertumbuhan otot-otot yang belum cukup
matang, lemak subkutan yang sedikit, belum matangnya sistem saraf pengatur suhu
tubuh, luas permukaan tubuh relatif lebih besar dibanding dengan berat badan
sehingga mudah kehilangan panas.
Tanda klinis hipotermia:
Suhu tubuh dibawah normal
Kulit dingin
Akral dingin
Sianosis

Hipotermia dapat dicegah pada waktu bayi lahir yaitu dengan :


-

Segera keringkan bayi dengan kain yang lembut

Berikan topi atau tutup kepala

Metode kantung kangguru

c. Sindrom Gawat Nafas


Sampai saat ini penyakit membrane hyaline dianggap terjadi karena defisiensi
pembentukan surfaktan pada paru bayi yang belum matang. Surfaktan adalah zat yang
penting dalam pangembangan paru dan merupakan suatu kompleks yang terdiri dari
protein, karbohidrat dan lemak. Senyawa utama zat tersebut adalah lesitin dan mulai
terbentuk pada kehamilan 22 24 minggu dan berjumlah lengkap dan mulai berfungsi
normal pada minggu ke-35 kehamilan.
Defisiensi Surfaktan menyebabkan gangguan kemampuan paru untuk
mempertahankan stabilitasnya dan tegangan di alveolus. Alveolus akan kembali
kolaps setiap akhir ekspirasi sehingga untuk pernafasan berikutnya dibutuhkan
tekanan negatif intratoraks yang lebih besar yang disertai usaha inspirasi yang kuat.
Pada aspirasi mekonium terjadi hipoksia intrauterin akan mengakibatkan janin
mengalami gasping dalam uterus, selain itu mekonium akan dilepaskan dan
bercampur dengan cairan amnion, cairan amnion yang mengandung mekonium
tersebut akan masuk ke dalam paru janin karena inhalasi. Ketika bayi lahir akan
26

menderita gangguan pernafasan karena melekatnya mekonium dalam saluran


pernafasan.
Tanda klinis sindrom gawat nafas :

Pernafasan cepat

Sianosis perioral

Merintih sewaktu ekspirasi

Retraksi substernal dan interkostal

d. Hipoglikemia.
Penyelidikan kadar gula darah pada 12 jam pertama menunjukkan bahwa
hipoglikemia dapat terjadi sebanyak 50% pada bayi matur. Kecepatan glukosa yang
diambil janin tergantung dari kadar gula darah ibu karena terputusnya hubungan
plasenta dan janin yang menyebabkan terhentinya pemberian glukosa.
Tanda klinis hipoglikemia

Gemetar

Sianosis

Apatis

Kejang

Apnea Intermiten

Tangisan lemah atau melengking

Kelumpuhan atau letargi

Hipoglikemia pada neonatus terjadi bila gula darah < 47 mg/dl, Pada
hipoglikemia berat didapatkan hasil gula darah < 25 mg/dl, dan hipoglikemia
ringan/sedang jika kadar gula darah >25 - <47 mg/dl.
e. Perdarahan Intrakranial
Pembuluh darah pada bayi prematur masih sangat rapuh dan mudah pecah,
sehingga perdarahan intrakranial dapat terjadi karena trauma lahir,

diseminated

intravascular coagulopathy atau trombositopenia idiopatik. Matriks germinal epidimal


yang kaya pembuluh darah merupakan wilayah yang sangat rentan terhadap
perdarahan selama minggu pertama kehidupan.

27

Tanda klinis perdarahan intrakranial :

Kegagalan umum untuk bergerak normal

Refleks moro menurun atau tidak ada

Letargi

Pucat dan sianosis

Apnea

Kegagalan menetek dengan baik

Muntah yang kuat

Tonus otot menurun

Tangisan bernada tinggi dan tajam

Kejang

Fontanela mayor tegang dan cembung

f. Hiperbilirubinemia
Terjadi karena belum maturnya fungsi hepar, dimana terjadi kekurangan enzim
glukoronil transferase sehingga konjugasi bilirubin indirek menjadi bilirubin direk
belum sempurna, dan kadar albumin darah yang berperan dalam transportasi bilirubin
dari jaringan ke hepar berkurang. Kadar bilirubin normal pada bayi prematur 10
mg/dL. Jika terjadi hiperbilirubinemia pada bayi prematur, bila tidak segera diatasi
dapat menjadi kern ikterus yang akan menimbulkan gejala yang permanen.
Tanda klinis hiperbilirubinemia :

Sklera, puncak hidung, sekitar mulut, dada, perut dan ekstremitas berwarna
kuning

Letargi

Kemampuan mengisap menurun

Kejang
Ikterus yang kemungkinan menjadi patologi atau dapat dianggap sebagai

hiperbilirubinemia adalah :

Ikterus terjadi pada 24 jam pertama sesudah kelahiran.

Peningkatan konsentrasi bilirubin 5 mg% atau lebih setiap 24 jam.

Konsentrasi bilirubin serum sewaktu 10 mg% pada neonatus kurang bulan dan
12,5 mg% pada neonatus cukup bulan.

28

g. Lebih rentan terhadap infeksi :


Bayi prematur mudah menderita infeksi karena imunitas humoral dan seluller
masih kurang, sehingga bayi mudah menderita infeksi. Selain itu pada kulit dan
selaput lendir membran tidak memiliki perlindungan seperti pada bayi cukup bulan.
Sensitivitas yang kurang akan memudahkan terjadinya kerusakan integritas kulit,
terutama pada daerah yang sering tertekan dalam waktu yang lama.
Prognosis
Kematian perinatal pada bayi BBLR 8 kali lebih besar dari bayi normal.
Prognosis akan lebih buruk bila BB makin rendah, angka kematian sering disebabkan
karena komplikasi neonatal seperti asfiksia, aspirasi, pneumonia, perdarahan
intrakranial, hipoglikemia. Bila hidup akan dijumpai kerusakan saraf, gangguan
bicara, IQ rendah.8

BAB V
DAFTAR PUSTAKA

1. Dalmanik Sylvia M. Klasifikasi Bayi Menurut Berat Lahir dan Masa Gestasi.
Dalam : Buku Ajar Neonatologi. Jakarta : Badan Penerbit IDAI 2008 ; 11-30.
2. Stoll Barbara, Chapman. The High-Risk Infant, In : Kliegman RM, Behrman
RE, Jenson HB, Stanton BF, editors. Nelsons Textbook of Pediatrics. 18th Ed.
Philadelphia : Saunders, 2007 ; p 701-10.
3. Dogra

VS.

Intrauterine

Growth

Retardation.

Available

at:

www.emedicine.com.
4. Kosim, Sholeh. Buku Ajar Neonatologi, edisi pertama. Jakarta: Badan
Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2012

29

5. Subramanian

KS.

Low

Birth

Weight

Infant.

Avaliable

from

http://www.emedicine.com.
6. Suradi R. Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Melihat situasi dan kondisi bayi.
Avaliable from : http://www.IDAI.or.id.
7. Suraatmaja, Sudrajat, dr,SpA(K). Pedoman Diagnosis dan Terapi
Ilmu Kesehatan Anak. RSUP Sanglah, Denpasar.

8. Behrman, RE, Kliegman RM. The Fetus and the Neonatal Infant, In : Nelson
Textbook of pediatrics; 17 th ed. California: Saunders. 2004; 550-8.

30