Anda di halaman 1dari 11

PEMBUNUHAN

Pengertian Pembunuhan
Kejahatan terhadap nyawa (misdrijven het leven) adalah berupa penyerangan terhadap nyawa
orang lain. Kepentingan hukum yang dilindungi dan yang merupakan obyek kejahatan ini
adalah nyawa (leven) manusia. Menurut Leden Marpaung, menghilangkan nyawa berarti
menghilangkan kehidupan pada manusia yang secara umum disebut Permbunuhan. Tindak
pidana ini termasuk delik materiil (materiale delict), artinya untuk kesempurnaan tindak
pidana ini tidak cukup dengan dilakukannya perbuatan, akan tetapi menjadi syarat juga
adanya akibat dari perbuatan itu. Timbulnya akibat yang berupa hilangnya nyawa orang atau
matinya orang dalam tindak pidana pembunuhan merupakan syarat mutlak.
Kejahatan terhadap nyawa dalam KUHP dapat dibedakan atau dikelompokkan atas 3 (dua)
dasar, yaitu :
1) Atas dasar unsur kesalahannya
2) Atas dasar obyeknya (nyawa)
Atas dasar unsur kesalahannya ada 2 (dua) kelompok kejahatan terhadap nyawa, ialah :
a. Kejahatan terhadap nyawa yang dilakukan dengan sengaja (dolus misdrijven), adalah
kejahatan yang dimuat dalam Bab XIX KUHP, pasal 338 sampai dengan 350 KUHP.
b. Kejahatan terhadap nyawa yang dilakukan tidak dengan sengaja (culpose misdrijven),
dimuat dalam Bab XXI (khusus pasal 359).
Sedangkan atas dasar obyeknya (kepentingan hukum yang dilindungi), maka kejahatan
terhadap nyawa dengan sengaja diobedakan dalam 3 (tiga) macam, yakni :
a. Kejahatan terhadap nyawa orang pada umumnya, dimuat dalam pasal 338, 339, 340,
344,345.
b. Kejahatan terhadap nyawa bayi pada saat atau tidak lama setelah dilahirkan, dimuat
dalam pasal 341, 342 dan 343.
c. Kejahatan terhadap nyawa bayi yang masih ada dal am kandungan ibu (janin) dimuat
dalam pasal 347, 348 dan 349.
Jenis-Jenis Pembunuhan :
1. Pembunuhan (Murder)
Hal ini diatur oleh pasal 338 KUHAP yang bunyinya sebagai berikut: Barang siapa sedang
sengaja menghilangkan nyawa orang dihukum karena bersalah melakukan pembunuhan
dengan hukuman penjara selama-lamanya 15 tahun.
Unsur-unsur pembunuhan adalah:

a. Barang siapa: ada orang tertentu yang melakukannya


b. Dengan sengaja: dalam ilmu hukum pidana, dikenal 3 (tiga) jenis bentuk sengaja (dolus)
yakni:
- Kesengajaan sebagai maksud (opzet als oogmerk )).
- kesengajaan sebagai kepastian ( opzet bij mogelijkheids bewustzijn )
Hal ini diatur pasal 339 KUHP yang bunyinya sebagai berikut:
- kesengajaan sebagai kemungkinan ( opzet bij mogelijkheids bewustzijn atau
Dolus eventualis )
Pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahuui oleh kejahatan dan yang dilakukan dengan
maksud untuk memudahkan perbuatan itu, atau jika tertangkap tangan, untuk melepaskan diri
sendiri atau pesertanya daripada hukuman, atau supaya barang yang didapatinya dengan
melawan hukum tetap ada dalam tangannya, dihukum dengan hukuman penjara seumur
hidup, atau penjara sementara selama-lamanya dua puluh tahun.
Rumusan pasal 339 KUHP diatas apabila diurai unsur-unsurnya adalah seperti di bawah ini :
a. Unsur pembunuhan dalam pasal 338 KUHP baik unsur yang subyektif (dengan sengaja)
maupun obyektif (menghilangkan nyawa orang lain)
b. Unsur diikuti, disertai atau didahului oleh tindak pidana lain
c. Unsur dengan maksud.
1. untuk mempersiapkan tindak pidana lain
2. untuk mempermudah pelaksanaan tindak pidana lain, atau
3. dalam hal tertangkap tangan, ditujukan untuk :
a. menghindarkan diri atau peserta lain dari pidana, atau
b. memastikan penguasaan benda yang diperolehnya secara melawan hukum.
2. Pembunuhan dengan Pemberatan
Hal ini diatur Pasal 339 KUHP yang bunyinya sebagai berikut :
pembunuhan yang diikuti, disertai , atau didahului oleh kejahatan dan
Yang dilakukan dengan maksud untuk memudahkan perbuatan itu, atau
Jika tertangkap tangan, untuk melepaskan diri sendiri atau pesertanya
Daripada hukuman , atau supaya barang yang didapatnya dengan

Melawan hukum tetap ada dalam tangannya, dihukum dengan hukum


an penjara seumur hidup atau penjara sementara selama lamanya
dua puluh tahun
3. Pembunuhan Berencana
Hal ini diatur oleh pasal 340 KUHP yang beunyinya, sebagai berikut :
Barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana lebih dahulu menghilangkan nyawa orang
lain dihukum karena salahnya pembunuhan berencana, dengan hukuman mati atau hukuman
seumur hidup atau penjara sementara selama-lamanya dua puluh tahun.
Rumusan pada pasal 340 KUHP, diuraikan unsur-unsurnya akan nampak pada unsur-unsur
sebagai berikut :
1) Unsur obyektif : menghilangkan atau merampas nyawa pada orang lain:
2) Unsur obyektif
a. Unsur dengan sengaja
b. Unsur dengan rencana terlebih dahulu
Unsur kesengajaan dalam pasal 340 KUHP merupakan kesengajaan dalam arti luas, yang
meliputi :
a. Kesengajaan sebagai tujuan (opzetalsoogmerk)
b. Kesengajaan dengan tujuan yang pasti atau yang merupakan keharusan (opzet bij zaker
heid bewustzinj)
c. Kesengajaan dengan kesadaran akan kemungkinan atau sering disebut (opzet bij
mogelijkheids bewustzijn) atau dolus eventualis atau disebut juga woor wardelijk opzet.
3. Pembunuhan Bayi oleh Bayinya
Hal ini diatur oleh pasal 341 KUHP yang bunyinya sebagai berikut: Seorang ibu yang
dengan sengaja menghilangkan jiwa anaknya pada ketika dilahirkan atau tidak berapa lama
sesudah dilahirkan karena takut ketahuan bahwa ia sudah melahirkan anak dihukum karena
pembuhnan anak dengan hukuman penjara selama-lamanya tujuh tahun.

4. Pembunuhan Bayi oleh Ibunya secara Berencana (Kinder Moord)


Hal ini diatur oleh pasal 342 KUHP yang bunyinya sebagai berikut :
Seorang ibu yang dengan sengaja akan menjalankan keputusan yang diambil sebab takut
ketahuan bahwa ia tidak lama lagi akan melahirkan anak, menghilangkan jiwa anaknya itu

pada saat dilahirkan atau tidak lama kemudian dari pada itu dihukum karena membunuh bayi
secara berencana dengan hukuman penjara selama-lamanya sembilan tahun.
5. Pembunuhan atas Permintaan Sendiri
Hal ini diatur pada pasal 3445 KUHP yang bunyinya sebagai berikut : Barang siapa
menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang lain itu sendiri,yang disebutkan dengan
nyata dan sungguh-sungguh, dihukum penjara selama-lamanya dua belas tahun.
Istilah yang sangat populer untuk menyebut jenis pembunuhan ini adalah Euthanasia atau
mercykilling.
Unsur-unsur pasal 334 KUHP terdiri dari :
a. Unsur menghilangkan atau merampas nya orang lain.
b. Atas permintaan orang itu sendiri
c. Yang jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati.
6. Penganjuran Agar Bunuh Diri
Hal ini diatur pada pasal 345 KUHP yang bunyinya sebagai berikut :
Barang siapa dengan sengaja membujuk orang supaya membunuh diri, atau menolognya
dalam perbuatan itu, atau memberi ikhtiar kepadanya, untuk itu, dihukum dengan hukuman
penjara selama-lamanya 4 tahun, kalau jadi orangnya bunuh diri.
7. Pengguguran Kandungan
Kata pengguguran kandungan adalah terjemahan dari kata abortus provocatur yang
dalam kamus kedokteran diterjemahkan dengan: membuat keguguguran. Pengguguran
kandungan diatur dalam KUHP oleh pasal 346, 347, 348, dan 349.
Dapus :
1. M. Sholehuddin, Sistem Sanksi Dalam Hukum pIdana, Ide Dasar Double Track
Sistem Implementasinya, (Jakarta: Raja Grafika Persada, 2003), hal 110.
2. Adami Chazawi, Kejahatan Terhadap Tubuh dan Nyawa, (Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada, 2002), hal 55.
3. Leden Marpaung, Tindak Pidana Terhadap Nyawa dan Tubuh : Pemberantasan dan
Prevensinya, (Jakarta: Sinar Grafika, 2000), hal 4.
4. Tongat, Hukum Pidana Materiil Tinjauan Atas Tindak Pidana Terhadap Subyek
Hukum Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, (Jakarta: Djambatan, 2003),
hal 3.

PERKAWINAN
A. Pengertian Perkawinan
Menurut UU No. 1 tahun 1974 dalam pasal 1 mendefinisikan bahwa: Perkawinan
adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri
dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal
berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Sebagai ikatan lahir, perkawinan merupakan hubungan hukum antara seorang pria
dengan seorang wanita untuk hidup bersama sebagai suami istri. ikatan lahir batin ini
merupakan hubungan formil yang sifatnya nyata, baik bagi yang mengikatkan dirinya
maupun bagi orang laian atau masyarakat. Ikatan lahir ini terjadi dengan adanya
upacara perkawinan yakni upacara akad nikah bagi yang Beragama islam.
Sebagai ikatan bathin, perkawinan merupakan pertalian jiwa yang terjalin karena
adanya kemauan yang sama dan ikhlas antara seorang pria dengan seorang wanita
untuk hidup bersama sebagai suami istri. dalam tahap permulaan, ikatan batin ini
diawali dan ditandai dengan adanya persetujuan dari calon mempelai untuk
melangsungkan perkawinan.
Dalam rumusan perkawinan menurut Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 itu
tercantum tujuan perkawinan yaitu untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang
bahagia dan kekal. Ini berarti bahwa perkawinan dilangsungkan bukan untuk
sementara atau untuk jangka waktu tertentu yang direncanakan, akan tetapi untuk
seumur hidup atau selama-lamanya, dan tidak boleh diputus begitu saja. Karena itu,
tidak diperkenankan perkawinan yang hanya dilangsungkan untuk sementara waktu
saja seperti kawin kontrak. Pemutusan perkawinan dengan perceraian hanya
diperbolehkan dalam keadaan yang sangat terpaksa.
Selanjutnya, dalam pengertian perkawinan itu juga dinyatakan dengan tegas bahwa
pembentukan keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal itu berdasarkan
Ketuhanan Yang Maha Esa, ini berarti bahwa perkawinan harus didasarkan pada
agama dan kepercayaan masing-masing.
B. Syarat-Syarat dan Momentum Sahnya Perkawinan
Syarat-syarat melangsungkan perkawinan diatur dalam Pasal 6 sampai dengan Pasal 7
UU Nomor 1 Tahun 1974. Didalam ketentuan itu ditentukan dua syarat untuk dapat
melangsungkan perkawinan, yaitu syarat intern dan syarat ekstern.
Syarat intern yaitu syarat yang menyangkut pihak yang akan melaksanakan
perkawinan. Syarat-syarat intern meliputi:
a) Persetujuan kedua belah pihak
b) Izin dari kedua orang tua apabila belum mencapai umur 21 tahun
c) Pria berumur 19 tahun dan wanita 16 tahun pengecualiannya yaitu ada dispensasi
dari pengadilan atau camat atau bupati
d) Kedua belah pihak tidak dalam keadaan kawin
e) Wanita yang kawin untuk kedua kalinya harus lewat masa tunggu (iddah). Bagi
wanita yang putus perkawinannya karena perceraian, masa iddahnya 90 hari dan
karena kematian 130 hari.
Syarat ekstern yaitu syarat yang berkaitan dengan formalitas-formalitas dalam
pelaksanaan perkawinan. Syarat-syarat itu meliputi:

a) Harus mengajukan laporan ke Pegawai Pencatat Nikah, Talak, dan Rujuk


b) Pengumuman, yang ditandatangani oleh Pegawai Pencatat
Syarat Formil adalah syarat yang berkaitan dengan formalitas-formalitas dalam
pelaksanaan perkawinan. Syarat ini dibagi dalam dua tahapan. Syarat-syarat yang
dipenuhi sebelum perkawinan dilangsungkan adalah:
a) Pemberitahuan akan dilangsungkannya perkawinan oleh calon mempelai baik
secara lisan maupun tertulis kepada Pegawai Pencatat di tempat perkawinan akan
dilangsungkan,dalam jangka waktu sekurang-kurangnya 10 hari kerja sebelum
perkawinan dilangsungkan (Pasal 3 dan 4 PP No. 9 Tahun 1975).
b) Pengumuman oleh pegawai pencatat dengan menempelkannya pada tempat yang
disediakan di Kantor Pencatatan Perkawinan. Maksud pengumuman tersebut adalah
untuk memberitahukan kepada siapa saja yang berkepentingan untuk mencegah
maksud dari perkawinan tersebut jika ada Undang-Undang yang dilanggar atau
alasan-alasan tertentu. Pengumuman tersebut dilaksanakan setelah Pegawai Pencatat
meneliti syarat-syarat dan surat-surat kelengkapan yang harus dipenuhi calon
mempelai.
C. Tujuan Perkawinan
Tujuan perkawinan adalah untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal
berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Untuk itu suami istri saling membantu dan
melengkapi, agar masing-masing dapat mengembangkan kepribadiannya membantu
dan mencapai kesejahteraan spiritual dan materiil.
Dilihat dari tujuan perkawinan, maka perkawinan itu :
a) Berlangsung seumur hidup
b) Cerai diperlukan syarat-syarat yang ketat dan merupakan jalan terakhir
c) Suami-istri membantu untuk mengembangkan diri
Suatu keluarga dikatakan bahagia apabila terpenuhi kebutuhan pokok, yaitu
kebutuhan jasmaniah dan rohaniah. Yang termasuk kebutuhan jasmaniah seperti
papan, sandang, pangan, kesehatan, dan pendidikan. Sedangkan kebutuhan rohaniah
contohnya adanya seorang anak yang berasal dari darah daging mereka.
D. Pencegahan dan Pembatalan Perkawinan
Pencegahan perkawinan merupakan upaya untuk menghalangi suatu perkawinan
antara calon pasangan suami-istri yang tidak memenuhi syarat untuk malangsungkan
perkawinan.Tujuan pencegahan hukum perkawinan adalah untuk menghindari suatu
perkawinan yang dilarang hukum islam dan peraturan perundang-undangan yang
berlaku. Pencegahan perkawinan dapat dilakukan apabila calon suami istri yang akan
melangsungkan perkawinan tidak memenuhi syarat-syarat untuk melangsungkan
perkawinan menurut hukum islam dan peraturan perundang-undangan
Pencegahan perkawinan diatur dalam ketentuan berikut ini, yaitu:
Berdasarkan pasal 13 UU perkawinan No. 1 Tahun 1974 suatu perkawinan dapat
dicegah berlangsungnya apabila ada pihak yang tidak memenuhi syarat-syarat untuk
melangsungkan perkawinan.
Syarat-syarat perkawinan yang dapat dijadikan alasan untuk adanya pencegahan
perkawinan disebutkan dalam Pasal 20 UU Perkawinan No. 1 Tahun 1974, yaitu:

1) Pelanggaran terhadap Pasal 7 Ayat (1) yaitu menegani batasan umur untuk dapat
melangsungkan perkawinan
2) Melanggar Pasal 8 yaitu mengenai larangan perkawinan
Orang yang dapat melakukan pencegahan perkawinan adalah:
a) Para keluarga dalam garis keturunan lurus ke atas dan ke bawah
b) Saudara
c) Wali nikah
d) Wali pengampu dari salah seorang calon mempelai dan pihak-pihak yang
bersangkutan
e) Ayah kandung
f) Suami atau istri yang masih terkait dalam perkawinan dengan salah seorang calon
istri atau calon suami yang akan melangsungkan perkawina
g) Pejabat yang ditunjuk untuk mengawasi perkawinan.
Tata cara pencegahan perkawinan dikemukakan berikut ini:
1) Orang yang berwenang untuk melakukan pencegahan itu harus mengajukan
permohonan pencegahan perkawinan ke pengadilan di wilayah hukum tempat akan
dilangsungkannya perkawinan (Pasal 17 Nomor 1 Tahub 1974).
2) Orang tersebut harus memberitahukan kepada pegawai pencatat nikah. Pegawai
pencatat nikah inilah yang akan memberitahukan adanya permohonan pencegahan
perkawinan tersebut.
3) Apabila hakim telah menerima permohonan itu, maka dalam waktu yang tidak
terlalu lama pengadilan memutuskan permohonan percegahan tersebut. Putusan itu
berisi menolak atau menerima permohonan pencegahan tersebut.
4) Dengan adanya putusan ini, maka Pegawai Pencatat Nikah dapat melangsungkan
perkawinan tersebut.
Pembatalan perkawinan juga diatur dalam Pasal 70 sampai dengan Pasal 76 Inpres
Nomor 1 Tahun 1991. Di dalam ketentuan itu disebutkan bahwa pembatalan
perkawinan dibedakan menjadi dua macam, yaitu : (1) Perkawinan batal, dan (2)
Perkawinan yang dapat dibatalkan. Perkawinan batal adalah suatu perkawinan yang
dari sejak semula dianggap tidak ada. Perkawinan batal apabila:
1) Suami melakukan perkawinan, sedang ia tidak berhak melakukan akad nikah
karena sudah mempunyai empat orang istri, sekalipun salah satu dari keempat istrinya
itu dalam iddah talak raji
2) Seseorang menikahi bekas istrinya yang pernah dijatuhi tiga kali talak olehnya,
kecuali bekas istrinya tersebut pernak menikah dengan pria lain yang kemudian
bercerai lagi bada al dukhul dari pria tersebut dan telah habis masa iddahnya
3) Perkawinan dilakukan antara dua orang yang mempunyai hubungan darah semenda
dan sesusuan sampai derajat tertentu yang menghalangi perkawina menurut Pasal 8
UU Nomor 1 Tahun 1974, yaitu
4) Berhubungan darah dalam garis keturunan lurus ke bawah ataupun ke atas
5) Berhubungan darah dalam garis keturunan menyamping, yaitu antara saudara,
antara seorang dengan saudara orang tua dan antara seorang dengan saudara nenek
berhubungan semenda yaitu mertua, anak tiri, menantu, dan ibu/bapak tiri
6) Berhubungan susuan, yaitu orang tua susuan, anak susuan, saudara susuan, dan
bibi/paman susuan

7) Istri adalah saudara kandung atau sebagai bibi atau kemenakan dari istri atau istriistrinya.
Perkawinan yang dapat dibatalkan adalah suatu perkawinan yang telah berlangsung
antara calon pasangan suami-istri, namun salah satu pihak dapat meminta kepada
pengadilan supaya perkawinan itu dibatalkan. Suatu perkawinan dapat dibatalkan
apabila:
a) Suami melakukan poligami tanpa izin Pengadilan Agama
b) Perempuan yang masih dikawini ternyata kemudian diketahui masih menjadi istri
orang lain
c) Perempuan yang dikawini masih dalam iddah dari suami
d) Perkawinan melanggar batas umur perkawinan sebagaimana yang ditatapkan dalam
Pasal 7 UU Nomor 1 Tahun 1974
e) Perkawinan dilangsungkan tanpa walu atau dilaksanakan oleh wali yang tidak
berhak;
f) Perkawinan yang dilaksanakan dengan paksaan.
Permohonan pembatalan perkawinan diajukan ke pengadilan yang meliputi wilayah
tempat tinggal suami atau istri atau tempat perkawina dilangsungkan. Batalnya suatu
perkawinan dimulai sejak putusan pengadilan mempunyai kekuatan hukum tetap dan
berlaku sejak saat berlangsungnya perkawinan. Batalnya perkawina tidak akan
memutuskan hunungan hukum antara anak denga orang tuanya.
E. Larangan Perkawinan
Larangan untuk melangsungkan perkawinan diatur dalam Pasal 8 sampai dengan
Pasal 12 UU Nomor 1 Tahun 1974. Ada larangan perkawinan antara laki dan wanita,
yaitu:
1) Berhubungan darah dalam garis keturunan lurus ke bawah ataupun keatas
2) Berhubungan darah dalam garis keturunan menyamping, yaitu antara saudara,
antara seseorang dengan saudara orang tua dan antara seorang dengan saudara
neneknya
3) Berhubungan semenda, yaitu mertua, anak tiri, menantu, dan ibu/bapak tiri
4) Berhubungan susuan, yaitu orang tua susuan, anak susuan, saudara susuan, dan
bibi/paman sususan
5) Berhubungan saudara dengan istri atau sebagai bibi atau kemenakan dari istri,
dalam hal seseorang suami beristri lebih dari seorang
6) Mempunyai hubungan yang oleh agamanya atau peraturan lain yang berlaku
dilarang kawin
7) Masih terikat tali perkawinan dengan orang lain
8) Antara suami-istri yang telah cerai, kawin lagi satu dengan yang lain dan bercerai
untuk kedua kalinya, mereka tidak boleh melangsungkan perkawinan lagi, sepanjang
hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu dari yang bersangkutan
tidak menentukan lain.
Di dalam KUH Perdata juga diatur tentang larangan perkawinan antara calon
pasangan suami istri. Larangan untuk kawin diatur didalam Pasal 30 sampai dengan
Pasal 33 KUH Perdata. Ada tiga larangan untuk melangsungkan perkawinan, yaitu:
a) Larangan kawin dengan orang yang sangat dekat dalam kekeluargaan sedarah dan
karena perkawinan
b) Larangan kawin karena zina

c) Larangan kawin untuk memperbarui perkawinan setelah adanya perceraian, jika


belum lewat waktu satu tahun.
F. Perjanjian Kawin
Perjanjian kawin diatur dalam pasal 29 UU No. 1 Tahun 1974 dan pasal 139 sampai
dengan pasal 154 KUH Perdata. Perjanjian kawin adalah perjanjian yang dibuat oleh
calon pasangan suami-istri sebelum atau pada saat perkawinan dilangsungkan untuk
mengatur akibat perkawinan terhadap harta kekayaan mereka. Perjanjian kawin
dilakukan sebelum atau pada saat akan dilangsungkan perkawinan. Perjanjian kawin
itu harus dibuatkan dalam bentuk akta notaries. Tujuannya adalah:
a )Keabsahan perkawinan
b) Untuk mencegah perbuatan yang tergesa-gesa, oleh karena akibat dari perkawina
itu untuk seumur hidup
c) Demi kepastian hukum
d) Alat bukti yang sah
e) Mencegah adanya penyelundupan hukum
G. Akibat Perkawinan
Di dalam peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perkawinan, terdapat
tiga akibat perkawinan, yaitu:
1) Adanya hubungan suami-istri
2) Hubungan orang tua dengan anak
3) Masalah harta kekayaan
Hubungan hukum adalah timbulnya hak dan kewajiban antara suami-istri sejak terjadi
perkawinan. Hak dan kewajiban suami istri diatur dalam pasal 30 sampai dengan
pasal 34 UU Nomor 1 Tahun 1974. Hak dan kewajiban suami-istri menurut UU
Nomor 1 Tahun 1974, yaitu:
a) Suami-istri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga yang
menjadi sendi dasar dari susunan masyarakat (pasal 30 UU Nomor 1 Tahun 1974)
b) Hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami dalam
kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup masyarakat (pasal 31 ayat (1) UU
Nomor 1 Tahun 1974)
c) Suami-istri berhak untuk melakukan perbuatan hukum (pasal 31 ayat (2) UU
Nomor 1 Tahun 1974)
d) Suami istri wajib mempunyai tempat kediaman yang tetap (Pasal 32 ayat (1) UU
Nomor 1 Tahun 1974)
e) Suami-istri wajib saling mencintai, hormat-menghormati, setia dan member
bantuan lahir batin yang satu kepada yang lain (Pasal 33 UU Nomor 1 Tahun 1974)
f) Suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu keperluan rumah
tangga sesuai dengan kemampuannya (Pasal 34 ayat (1) UU Nomor 1 Tahun 1974)
g) Istri wajib mengatur utusan rumah tangga sebaik-baiknya (Pasal 34 ayat (2) UU
Nomor 1 Tahun 1974).
Hak dan kewajiban antara orang tua dengan anak diatur dalam Pasal 45 sampai
dengan Pasal 49 UU Nomor 1 Tahun 1974. Hak dan kewajiban orang tua dan anak
adalah sebagai berikut:

a) Orang tua wajib memelihara dan mendidik anak-anak mereka sebaik-baiknya.


Kewajiban orang tua berlaku sampai anak itu kawin atau dapat berdiri sensiri (Pasal
45 ayat (1) dan ayat (2) UU nomor 1 Tahun1974)
b) Anak wajib menghormati orang tua dan menaati kehendak mereka yang baik (Pasal
46 ayat (1) UU Nomor 1 Tahun 1974)
c) Anak wajib memelihara dan membantu orang tuanya, manakala sudah tua (Pasal 46
ayat (2) UU Nomor 1 Tahun 1974)
d) Anak yang belum dewasa, belum pernah melangsungkan perkawinan ada dibawah
kuasa orang tua (Pasal 47 ayat (1) UU Nomor 1 tahun 1974)
e) Orang tua mewakili anak dibawah umur dan belum pernah kawin mengenai segala
perbuatan hukum di dalam dan di luar pengadilan (Pasal 47 ayat (2) UU Nomor 1
Tahun 1974)
f) Orang tua tidak diperbolehkan memindahkan hak atau menggadaikan barangbarang tetap yang dimiliki anaknya yang belum berusia 18 tahun atau belum pernah
melangsungkan perkawinan, kecuali kepentingan si anak menghendakinya (Pasal 48
UU Nomor 1 Tahun 1974).
Harta benda dalam perkawinan diatur dalam pasal 35 sampai dengan pasal 37 UU
Nomor 1 Tahun 1974. Didalam ketentuan itu dibedakan antara harta bersama dan
harta bawaan. Harta bersama adalah harta yang diperoleh selama perkawinan,
sedangkan yang diartikan dengan harta bawaan masing-masing suami-istri adalah
harta yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan.
Harta warisan itu berada di bawah penguasaan masing-masing pihak, sepanjang para
pihak tidak menentukan lain (Pasal 35 ayat (2) UU Nomor 1 Tahun 1974). Apabila
perkawinan antara suami-istri putus karena perceraian, harta bersama diatur menurut
hukumnya masing-masing. Harta bersama itu dibagi sama rata antara suami-istri.

H. Putusnya Perkawinan
Putusnya perkawinan adalah berakhirnya perkawinan yang telah dibina oleh pasangan
suami-istri, yang disebabkan oleh beberapa hal, seperti kematian, perceraian, dan atas
putusan pengadilan.
Putusnya perkawinan karena kematian adalah berakhirnya perkawinan yang
disebabkan salah satu pihak baik suami maupun istri meninggal dunia.
Perceraian adalah penghapusan perkawinan dengan putusan hakim atau tuntutan salah
satu pihak dalam perkawinan. Putusnya perkawinan karena perceraian dapat terjadi
karena dua hal, yaitu:
a) Talak, atau
b) Berdasarkan gugatan perceraian.
Talak adalah ikrar suami di hadapan Pengadilan Agama yang menjadi salah satu sebab
putusnya perkawinan. Gugatan perceraian adalah perceraian yang disebabkan adanya
gugatan lebih dahulu oleh salah satu pihak, khususnya istri ke pengadilan.
Perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilan setelah pengadilan yang
bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak (Pasal 39
Ayat 1). Maksud pasal ini adalah untuk mempersulit perceraian, mengingat tujuan

perkawinan adalah membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal
berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa.
I. Akibat Putusnya Perkawinan
Bila perkawinan putus karena perceraian, bekas suami-istri yang bersangkutan yang
merupakan ayah dan ibu dari anak-anaknya, tetap berkewajiban memelihara dan
mendidik anak-anaknya, semata-mata untuk kepentingan anaknya.
Bila terjadi perselisihan mengenai anak-anak tersebut, pengadilan memberikan
keputusan ikut bersama siapa anak-anak itu (Pasal 1 ayat 1).
Meskipun anak-anak itu ikut bersama ibunya, tetapi ayahnya bertanggung jawab
sepenuhnya atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan anak-anaknya. Kecuali
bilamana ayah dalam kenyataan tidak dapat memenuhi kewajiban tersebut, pengadilan
dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul biaya tersebut (Pasal 4 ayat 2).
Pengadilan dapat juga mewajibkan bekas suami untuk memberi biaya penghidupan
dan/atau menentukan sesuatu kewajiban bagi bekas istrinya (Pasal 41 ayat 3).
Kemudian mengenai harta bersama akibat putusya perkawinan, sebagaimana telah
diterangkan, Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 pada pasal 37 menyerahkan
pengaturannya kepada masing-masing yaitu hukum agama, hukum adat dan hukumhukum lainnya.
Dapus :
Mertokusumo, sudikno. Pengantar Hukum Perdata Tertulis (BW) (Jakarta: Sinar
Grafika, 2002)
Komariah. Hukum Perdata (Malang: UPT Penerbitan Universitas Muhammadiyah
Malang, 2002)
Saleh, K. Wantjik. Hukum Perkawinan Indonesia (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1976)
Syahrani, Riduan. Seluk-Beluk Asas-asas Hukum Perdata (Banjarmasin: PT. Alumni,
2006)