Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

PERENCANAAN LAHAN

OLEH :
David Tri Budi

A 351 14 012

Hikma Nur

A 351 14 032

Moh. Gufran

A 351 14 038

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI


JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TADULAKO
2016

KATA PENGANTAR
Puji Syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan segala rahmad-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Pada kesempatan Ini, kami juga ingin mengucapkan terima kasih kepada segala pihak
yang telah memberikan bantuan demi terselesaikannya makalah ini. Juga kepada
dosen mata kuliah Penggunaan Lahan yang telah memberikan bimbingan.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, oleh
karena itu kami berharap kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi
perbaikan makalah ini kedepannya agar lebih baik lagi. Penulis juga memohon maaf
yang sebesar-besarnya apabila ada kata-kata yang kurang berkenan dihati.

Palu, 29 Desember 2016

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................................i
DAFTAR ISI................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................................1
1.1

Latar Belakang................................................................................................1

1.2

Rumusan Masalah...........................................................................................2

1.3

Tujuan.............................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN.............................................................................................3
2.1

Definisi dan Ide sentral perencanaan Tata Guna Lahan..................................3

2.2

Prinsip Perencanaan Tata Guna Lahan............................................................6

BAB III PENUTUP...................................................................................................10


3.1

Kesimpulan...................................................................................................10

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................11

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Lahan merupakan salah satu faktor yang penting bagi kehidupan manusia.
Lahan banyak digunakan oleh manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, selain
itu lahan juga digunakan sebagai tempat tinggal manusia. Sifat-sifat lahan (land
characteristics) adalah atribut atau keadaan unsur- unsur lahan yang dapat diukur
atau diperkirakan, seperti tekstur tanah, struktur tanah, kedalaman tanah, jumlah
curah hujan, distribusi hujan, temperatur, drainase tanah, jenis vegetasi, dan
sebagainya. Setiap

lahan

yang

terbentang

di

permukaan

bumi

memiliki

peruntukannya masing-masing, seperti untuk lahan pertanian, lahan bukan pertanian,


lahan permukiman, kawasan hutan lindung, dan sebagainya sesuai dengan
pemanfaatan- nya.

Pemanfaatan

lahan

diartikan

sebagai

setiap

bentuk

intervensi (campur tangan) manusia terhadap lahan dalam rangka memenuhi


kebutuhan hidupnya baik

materiil

maupun

spiritual Pemanfaatan lahan juga

dapat diartikan sebagai pemberian perlakuan oleh manusia terhadap lahan untuk
dimanfaatkan dalam upaya pemenuhan kebutuhan hidupnya.
Pemanfaatan lahan harus disesuaikan dengan kemampuan tanah dan
pemberian perlakuan harus disesuaikan dengan syarat-syarat yang diperlukan,
agar tanah dapat berfungsi dengan baik tanpa harus mengurangi tingkat
kesuburannya, sehingga kebutuhan hidup dapat terpenuhi.

Agar pemanfaatan

lahan sesuai dengan kemampuan tanah dan tidak terjadi kerusakan lingkungan, maka
1

perlu adanya suatu perencanaan tata guna lahan


1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka ditarik suatu rumusan masalah yaitu
Bagaimana definisi, ide serta prinsip perencanaan tata guna lahan ?

1.3

Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah untuk menginformasikan definisi, ide serta
prinsip perencanaan tata guna lahan

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi dan Ide sentral perencanaan Tata Guna Lahan
Perencanaan penggunaan Lahan merupakan suatu proses berulang-ulang yang
didasarkan pada dialog antara semua yang mempunyai kepentingan yang bertujuan
untuk menenegosiasi dan hasil dari keputusannya digunakan untuk penggunaan lahan
secara berkelanjutan hal ini dilakukan pada daerah pedesaanyang meliputi: memulai
dan memantau pelaksanaannya.
Perencanaan penggunaan lahan merupakan suatu upaya berupa negosiasi
dengan stackholder untuk mewujudkan keputusan dalam keberlanjutan penggunaan
tanah di wilayah pedesaan secara baik, dari tahapan inisiasi sampai pada monitoring
dalam implementasinya. Dalam perencaan penggunaan lahan tersebut dikenal istilah
reasonable, feasible dan economic
Reasonable mempunyai makna masuk akal. Proses dalam perencanaan
penggunaan lahan harus masuk akal dan mampu diterima nalar. Misalnya ketika
melakukan perencanaan penggunaan lahan dengan menempatkan suatu daerah
sebagai kawasan pariwisata, tentunya daerah tersebut harus memiliki beberapa objek
wisata sehingga objek wisata yang dapat menjalankan fungsinya dengan baik.
Jadi akan sangat tidak masuk akal jika suatu daerah tidak memiliki objek wisata, akan
tetapi pemerintah yang berkuasa ingin menjadikan daerah tersebut sebagai kawasan
pariwisata.
Feasible mempunyai makna memungkinkan. Memungkinkan dari segi fisik
daerah juga dari segi waktu dan biaya. Perencanaan penggunaan lahan yang
dilakukan harus mempertimbangkan pertanyaan dapatkah perencanaan penggunaan
lahan dilakukan disini? Sehingga aspek fisik, sosial, ekonomi wilayah perlu
dipertimbangkan dalam konteks feasible. Misalnya ketika akan melakukan
perencanaan penggunaan lahan untuk perumahan di daerah X. Perlu dipertimbangkan
3

aspek geomorfologi, tanah, kondisi geologi daerah/patahan, sumber air/airtanah dan


sebagainya.
Economic memiliki makna ekonomi. Artinya dalam perencanaan penggunaan
lahan juga harus mempertimbangkan aspek ekonomi. Biaya yang dikeluarkan harus
dipertimbangkan sesuai dengan mendahulukan yang paling penting. Selain itu juga
perencanaan penggunaan lahan juga dapat menghasilkan nilai ekonomi bagi daerah
tersebut. Misalnya di Sleman, didirikan Mall X, maka Mall tersebut diharapkan dapat
menambah nilai ekonomi bagi daerah Sleman.
Dalam penggunaan lahan yang dilakukan kelompok masyarakat yang
menggunakan lahan dan tanah tanpa disadari atau tidak harus mempertimbangkan
perencanaan. Dalam Penggunaan lahan tidak hanya mempertimbangkan produksi
saja, tetapi juga memikirkan fungsi lahan seperti kawasan lindung, rekreasi lahan,
pembangunan jalan, sisi pembuangan limbah dan daerah terlarang seperti tempat
pembuangan gas, area untuk regenerasi tanah, dll. Perencanaan penggunaan lahan
tidak hanya dilakukan oleh pihak pemerintah saja yang mempunyai berwenang
mengintervensi atau sebagai hasil dari pengembangan kerjasama proyek. Perencanaan
penggunaan lahan juga terjadi di setiap masyarakat. Ini berkaitan dengan kasus-kasus
yang

terjadi

dalam

rangka

meningkatkan

pemanfaatan

lahan

dan

untuk

mempertahankan sumber daya alam. dahulu, keputusan yang dibuat dalam


penggunaan tanah telah mengakibatkan degradasi sumber daya lahan, atau
ketidakseimbangan antara suplai dan permintaan sumber daya tersebut. Di sini,
perencanaan penggunaan lahan dipahami sebagai instrumen dari kerjasama teknis
yang digunakan, yaitu :
1. Pengelolaan sumber daya (kehutanan, sistem produksi)
2. Kompatibel dengan sumber daya dan agroforestry, padang rumput
3. Manajemen, perlindungan alam dan pengendalian erosi)
4. Pembangunan daerah pedesaan
5. Dukungan masyarakat dan pembangunan desa
6. Konsultasi pemerintah
4

Perencanaan penggunaan lahan dalam kerjasama teknis adalah proses


berulang-ulang yang didasarkan pada kesepakatan semua peserta.Hal ini bertujuan
untuk mengambil keputusan pada bentuk penggunaan lahan berkelanjutan di daerah
pedesaan dan inisiasi tindakan yang tepat untuk implementasidan pemantauan
Adapun ide sentral dalam perencanaan tata guna lahan adalah:
a. Elemen inti dalam perencanaan penggunaan lahan adalah kesepakatan di
antara semua peserta untuk mencapai keputusan berdasarkan konsensus.
Tugas utama dari perencanaan penggunaan lahan ini adalah untuk
mendampingi dan memotivasi para peserta dan masyarakat terpengaruh dalam
rangka untuk mencapai rekonsiliasi kepentingan mengenai sumber daya lahan,
jenis dan tingkat penggunaan lahan.
b. Pembelajaran dan negosiasi proses diskusi yang berorientasi antara peserta
yang mengarah pengembangan perencanaan dan untuk mempertahankan
hubungan koperasi di tingkat lokal.
c. Peserta dalam perencanaan penggunaan lahan yang langsung dan tidak
langsung pengguna lahan, serta mereka yang terkena konsekuensi kegiatan
pemanfaatan lahan. Kelompok lain dibentuk oleh orang-orang yang sering
memiliki pengaruh politik atauekonomi; termasuk pemerintah, organisasi,
perantara, industri pengolahan produk pertanian,Namun, kelompok sasaran
yang paling penting dalam penggunaan perencanaan lahan terdiri dari
pengguna tanah langsung.
d. Proses Perencanaan Penggunaan Lahan mencakup semua langkah yang terdiri
dari pengumpulan data dan informasi pengolahan, analisis, pembahasan dan
evaluasi sampai ke negosiasi untuk mencapai kesepakatan mengenai bentuk
penggunaan lahan untuk dipraktekkan. Ini termasuk prasyarat untuk
mempersiapkan, memulai dan melaksanakan rencana tersebut. Namun, dalam
konteks

kerjasama

teknis,

selama

Proses

Perencanaan

Penggunaan

Lahanbelum tentu semua langkah yang direncanakan akan dilakukan secara


menyeluruh.
5

e. Iterasi berarti menempatkan hasil keputusan. membuat proses dalam


praktek dan mengubahnya menjadi situasi tertentu langkah demi langkah
dalam perencanaan. Hal inimerupakan suatu proses berulang untuk mencapai
hasil yang optimal. Perkembangan baru dan pengetahuan yang didapat selama
proses perencanaan akan digabungkan dan mungkin memerlukan revisi dan
update. Hal ini dapat mengakibatkan pengulangan Langkah-langkah yang
telah diambil seperti prosespendataan ulang, analisis, pembahasan dan
keputusan.
f. Perencanaan penggunaan lahan yang paling utama adalah proses klarifikasi
dan orang-orang yang mempunyai sifat yang optimis ingin mengubah keadaan
dan mempersiapkan masa depan dengantindakan yang sistematis. Bagian inti
dari proses perencanaan karena itu adalah Tujuan yang ingin dicapai dengan
menerapkan rencana tersebut. Waktu perencanaan terkait dengan fisik /
geografis / ekologis perencanaan daerah, dan keduanya saling tergantung.
g. Daerah pedesaan, berbeda dengan daerah perkotaan yang ditandai dengan
produksi pertanian dan kehutanan yang relatif lebih rendah dan bangunan
kepadatan. Infrastruktur, fasilitas atau jasa memiliki kepentingan yang relatif
rendah dibandingkan dengan daerah perkotaan.
2.2 Prinsip Perencanaan Tata Guna Lahan
a. Prinsip 1
Perencanaan tata guna lahan yang berorientasi pada kondisi lokal dalam hal
baik metode dan isi. Pendekatan perencanaan sering gagal karena model
global dan strategi implementasi yang diterapkan dan diambil alih secara
otomatis dan tidak kritis. Tapi LUP bukan standar prosedur yang seragam
dalam penerapannya di seluruh dunia. -Nya konten didasarkan pada analisa
situasi regional atau lokal awal

b. Prinsip 2
Perencanaan penggunaan lahan mempertimbangkan sudut pandang budaya
dan membangun pengembangan sesuai dengan kebutuhan masyarakat
setempat.Masyarakat pedesaan atau kelompok sering dapat memberikan
kompleks kearifan lokal lingkungan. Jika hal ini terjadi, pengetahuan lokal
tersebut harus menjadi bagian dari dasar untuk perencanaan dan menerapkan
penggunaan lahan yang berkelanjutan
c. Prinsip 3
Perencanaan penggunaan lahan memperhitungkan strategi tradisionaluntuk
memecahkan masalah dan konflik.Masyarakat pedesaan tradisional memiliki
cara sendiri untuk mendekati masalah dan konflik terhadap penggunaan lahan.
Dalam proses perencanaan penggunaan lahan, mekanisme tersebut harus
diakui, dipahami dan diperhitungkan.
d. Prinsip 4
Perencanaan penggunaan lahan mengasumsikan sebuah konsep yang mudah
di mengerti dalampembangunan pedesaan berdasarkan prosesself-help dan
self-seuai dengan tanggung jawab yang telah disepakati. Masyarakat harus
secara aktif berpartisipasi dalam proses Perencanaan Penggunaan Lahan.
Hasil perencanaan dan pelaksanaan tindakan hanya dapat berkelanjutan jika
rencana yang bersama-sama oleh masyarakat, sehinnga masyarakat mempuyai
rasa memiliki dari proses perencanaan tersebut.
e. Prinsip 5
Dalam Perencanaan penggunaan lahan perlu melakukan Negoisasi atau
diskusi

untuk

menciptakan

kesepakatan
7

kerjasama

antarpemangku

kepentingan.Tugas inti Perencanaan Penggunaan Lahan terdiri dari proses


komunikasi dan kerjasama yang memungkinkan semua peserta untuk
merumuskan kepentingan dan tujuan mereka dalam Diskusi.
Sebuah

elemen

penting

dari

Perencanaan

Penggunaan

Lahanadalah

identifikasi berbagai kelompok peserta dan membedakannya dalam hal


penggunaan dan akses terhadap sumber daya lahan. Selain itu, posisi mereka
pada skala sosial (jender approach) dan kapasitas mereka, baik sebagai
stakeholder atau sebagai anggota pemerintah dan organisasi-organisasi lain
juga harus dipertimbangkan
f. Prinsip 6
Perencanaan penggunaan lahan adalah proses menuju perbaikandalam
kapasitas peserta untuk merencanakan dan mengambil tindakan.Metode
partisipatif digunakan dalam semua langkah perencanaan penggunaan lahan.
proses kualifikasi ini berpengaruhterhadap peningkatan kapasitas kelompokkelompok lokal.
g. Prinsip 7
Perencanaan tata guna lahan membutuhkan transparansi.Oleh karena itu,
memberikan informasi kepada semua peserta adalah wajib. Transparansi
dalam perencanaan dan sejauh mana pihak yang memiliki kepentingan
diinformasikan.Dalam hal ini dapatmeningkatkan motivasi masyarakat untuk
menciptakan berkelanjutan hasilPenyebaran informasi dalam bahasa lokal (s)
memberikan

kontribusi

untuk

peningkatan

transparansi.

Selain

itu,

memperkuat kepercayaan dari Masyarakat dalam kegiatan perencanaan


penggunaan lahan.

h. Prinsip 8
Diferensiasi stakeholder dan pendekatan jenis kelamin adalah prinsip-prinsip
inti

dalam

perencanaan

penggunaan

lahan.Sebuah

prasyarat

untuk

perencanaan penggunaan lahan yang realistis adalah secara rinci dari berbagai
kelompok kepentingan. Tujuannya adalah untuk mengetahui berbagai
kepentingan dari para peserta dalam rangka menciptakan dasar untuk
negosiasi dan proses pengambilan keputusan. Pria dan wanita seringkali tidak
memiliki akses yang sama terhadap tanah dan memiliki spesifik cara
mengartikulasikan diri. Kepentingan yang berbeda yang timbul dari karakter
ekonomi dan sosial serta lingkup mereka. Oleh karena itu, peran gender
merupakan kriteria penting ketika membedakan stakeholder.
i. Prinsip 9
Perencanaan

penggunaan

lahan

didasarkan

pada

interdisipliner

co-

operasi.ekologi, ekonomi, teknis, keuangan, sosial dan dimensi budaya


penggunaan

lahan

perlu

dilakukanpendekatan

secara

interdisipliner.

Perencanaan tata guna lahan memberikan banyak interface terhadap teknis


dan bidang perencanaan.
j. Prinsip 10
Perencanaan penggunaan lahan merupakan proses berulang-ulang, hal itu
merupakan suatu yang fleksibeldan reaksi terbuka berdasarkan temuan baru
dalam memperbaiki dan mengubah suatukondisi pedesaan.
k. Prinsip 11
Perencanaan penggunaan lahan adalah implementasi berorientasi

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Perencanaan penggunaan Lahan merupakan suatu proses berulang-ulang yang
didasarkan pada dialog antara semua yang mempunyai kepentingan yang bertujuan
untuk menenegosiasi dan hasil dari keputusannya digunakan untuk penggunaan lahan
secara berkelanjutan hal ini dilakukan pada daerah pedesaa nyang meliputi: memulai
dan memantau pelaksanaannya, perencanaan penggunaan lahan dipahami sebagai
instrumen dari kerjasama teknis yang digunakan, yaitu Pengelolaan sumber daya
(kehutanan, sistem produksi), Kompatibel dengan sumber daya dan agroforestry,
padang rumput, Manajemen, perlindungan alam dan pengendalian erosi),
Pembangunan daerah pedesaan, Dukungan masyarakat dan pembangunan desa,
Konsultasi pemerintah
Dalam perencaan penggunaan lahan tersebut dikenal istilah reasonable,
feasible dan economic. Perencanaan penggunaan lahan dalam kerjasama teknis
adalah proses berulang-ulang yang didasarkan pada kesepakatan semua peserta.Hal
ini bertujuan untuk mengambil keputusan pada bentuk penggunaan lahan
berkelanjutan

di

daerah

pedesaan

daninisiasi

tindakan

yang

tepat

untuk

implementasidan pemantauan. Ada 11 prinsip dalam perencanaan tata guna lahan

10

DAFTAR PUSTAKA
http://pencariilmu-goresantinta.blogspot.co.id/2012/02/perencanaan-penggunaanlahan.html
http://jokowarino.id/definisi-dan-ide-sentral-perencanaan-penggunaan-lahan/
http://jokowarino.id/prinsip-penggunaan-lahan-perencanaan/

11