Anda di halaman 1dari 5

TBC Tuberculosis

Daftar isi
[sembunyikan]

o
o
o
o
o

o
o
o
o

o
o
o
o

o
o

1 Pengertian
2 Penyebab
3 Karakteristik Kuman Mycobacterium Tuberculosis
4 Penularan
5 Gejala
5.1 Demam
5.2 Batuk
5.3 Sesak Nafas
5.4 Nyeri Dada
5.5 Malaise
6 Pengobatan
6.1 Kategori-1
6.2 Kategori-2
6.3 Kategori-3
6.4 AOT Sisipan
7 Pencegahan
7.1 Terhadap Infeksi Tuberculosis Paru
7.2 Sterilisasi Sputum
7.3 Kebersihan Lingkungan
7.4 Meningkatkan Daya Tahan Tubuh
8 Program Pemberantasan Tuberculosis
8.1 Strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-Course )
8.2 Pengawasan Menelan Obat
9 Jumlah Penderita Tuberculosis
10 Referensi

Pengertian
Tuberkulosis Paru adalah penyakit menular melalui udara (air borne disease) dengan agen
penyebab Mycobacterium Tuberculosis. Sumber penularan adalah penderita Tuberkulosis Paru BTA positif
yang mengeluarkan percikan dahak (droplet) yang mengandung kuman Tuberkulosis. Sebagian besar
kuman Tuberkulosis menyerang paru-paru tetapi juga dapat menyerang organ lainnya. Penyebaran infeksi
Tuberkulosis Paru kebagian tubuh lain melalui sistem peredarah darah, sistem saluran limfa dan
percabangan bronkus.[1]
Penyakit Tuberkulosis Paru bukanlah penyakit keturunan karena Tuberkulosis disebabkan oleh kuman.
Karena disebabkan oleh kuman, maka Tuberkulosis dapat ditularkan dari seseorang kepada orang lain.
Menurut WHO, sejak tahun 1995 di dunia diperkirakan setiap tahun tercatat sekitar 9 juta penderita baru
Tuberkulosis dengan kematian 3 juta orang, yang mana 95% penderita Tuberkulosis berada di negara-

negara berkembang. Kematian akibat Tuberkulosis di negara berkembang merupakan 25% dari seluruh
kematian, dan 75% penderita Tuberkulosis adalah kelompok usia produktif (15-50 tahun). [2]
Penyebab
Tuberkulosis Paru disebabkan oleh basil atau kuman yang diberi nama latin Mycobacterium Tuberculosis.
Kuman penyebab Tuberkulosis Paru ditemukan pertama kali oleh Robert Koch pada tahun 1882. Hasil
penemuannya ini dilaporkan pada masyarakat dunia pada tanggal 24 Maret 1882. Penemuan ini
merupakan peristiwa besar dalam perkembangan pengobatan Tuberkulosis, dan tanggal 24 Maret setiap
tahunnya diperingati sebagai Hari Tuberkulosis. [3]
Karakteristik Kuman Mycobacterium Tuberculosis
1) Berbentuk batang, tidak bergerak
2) Aerob
3) Gram negatif
4) dinding sel mengandung lipid, fosfatida, polisakarida
5) pertumbuhan kuman lambat
6) ukuran 1-4 mikron x 0,2-0,5 mikron
7) tidak berspora
8) tumbuh secara optimal pada suhu sekitar 370C
9) sifat istimewanya yaitu tahan terhadap penghilangan warna dengan asam (BTA, Basil Tahan Asam)
10) untuk berkembang biak, basil ini melakukan pembelahan diri, dari satu basil membelah menjadi dua di
butuhkan waktu 14-20 jam lamanya. Kuman ini mudah mati pada sinar matahari langsung dan air mendidih
(5 menit pada suhu 800C dan 20 menit pada suhu 600C).
Selain itu, tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat hidup dalam lemari es)
dan berbulan-bulan pada suhu kamar yang lembab. Hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat
dormant. Dari sifat dormant ini, kuman dapat bangkit kembali dan menjadi Tuberkulosis aktif lagi. [4]
Penularan
Sumber penularan adalah penderita Tuberkulosis Paru BTA positif, yang dapat menularkan kepada orang
yang berada di sekelilingnya, terutama pada waktu batuk, bersin, dan berbicara penderita menyebarkan
kuman ke udara dalam bentuk droplet. Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada
suhu kamar selama beberapa jam, tergantung pada adanya sinar ultraviolet, ventilasi yang baik dan
kelembaban.
Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup dalam saluran pernafasan tetapi ditentukan oleh
konsentrasi droplet per volume udara (hanya perlu satu kuman untuk mencapai alveoli), dan lamanya
menghirup udara tersebut. Setelah kuman Tuberkulosis masuk ke dalam tubuh manusia melalui
pernafasan, kuman Tuberkulosis menyebar dari paru kebagian tubuh lainnya, melalui sistem peredaran
darah, sistem saluran limfa dan saluran nafas. [5]
Tidak semua kuman Tuberkulosis yang masuk ke dalam tubuh akan berkembang menjadi penyakit.
Mekanisme pertahanan tubuh akan segera bekerja dan kuman yang masuk itu dapat dilumpuhkan. Akan
tetapi, kalau keadaan kesehatan buruk maka daya tahan tubuh berkurang, sehingga kemungkinan untuk
terjadinya penyakit lebih besar.

Daya penularan dari seseorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari
parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak makin menular penderita tersebut. Bila hasil
pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman), maka penderita tersebut dianggap tidak menular.
Gejala
Gejala umum Tuberkulosis adalah:
Demam
Biasanya menyerupai demam influenza, suhu badan dapat mencapai 40-410C.
Batuk
Sifat batuk dimulai dari batuk kering (non produktif) kemudian setelah terjadi peradangan, batuk menjadi
produktif (menghasilkan sputum). Keadaan yang lanjut adalah berupa batuk darah (hemoptoe) karena
terdapat pembuluh darah yang pecah.
Sesak Nafas
Gejala ini akan dirasakan pada keadaan penyakit yang sudah lanjut, di mana infiltrasinya sudah setengah
bagian dari paru-paru. Gejala ini dapat juga dapat terjadi bila Tuberkulosisnya telah menyerang selaput
paru dan menimbulkan penimbunan cairan di dalam rongga dada yang menekan paru sehingga parunya
sulit bergerak dan penderitanya menjadi sesak nafas. Cairan yang timbul ini biasanya berwarna kuning
jernih dan biasanya dapat sampai beberapa liter banyaknya.
Nyeri Dada
Gejala ini bisa timbul bila infiltrasi radang sudah sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleruritis. Nyeri
ini dapat bertambah jika orang itu batuk.
Malaise
Gejala malaise sering ditemukan seperti anoreksia, tidak ada nafsu makan, badan makin kurus, sakit
kepala, meriang, nyeri otot, keringat malam, dan lainnya. Gejala ini makin lama makin berat dan terjadi
hilang timbul tidak teratur.[6]
Pengobatan
Pemberantasan Tuberkulosis Paru menggunakan paduan OAT jangka pendek selama 6 bulan
yaitu: Isoniazid (H), Rifampisin (R), Pirazinamitte (Z), Sterptomicin (S), dan Ethambutl (E). Di Indonesia
paduan OAT (Obat Anti Tuberkulosis) ada 3 macam yaitu kategori-1, kategori-2, kategori-3 dan sisipan
(HRZE), obat ini diberikan pada penderita secara gratis dalam bentuk blister kombipak, satu paket untuk
satu penderita dalam satu masa pengobatan. Setiap kategori pengobatan terdiri atas 2 tahap yaitu fase
awal intensif dan fase lanjutan berkala. Pada fase awal penderita minum obat setiap hari dengan
pengawasan penuh, fase intermitten penderita minum obat 3 kali seminggu.
Kategori-1
Yaitu 2 bulan fase awal intensif (2HRZE), 4 bulan fase lanjutan (4H3R3). Diberikan kepada penderita baru
BTA positif dan BTA negatif.
Kategori-2
Yaitu 2 bulan fase awal (2HRZES), dilanjutkan 1 bulan (HRZE), dan fase lanjutan 5 bulan (5H3R3E3).
Diberikan kepada penderita BTA positif yang pernah makan OAT selama lebih sebulan, penderita kambuh,
BTA positif, gagal BTA positif, lain-lain.
Kategori-3
Yaitu 2 bulan fase awal (2HRZ), 4 bulan fase lanjutan (4H3R3). Diberikan kepada penderita baru BTA
negatif/rontgen positif, penderita ekstra paru ringan.
AOT Sisipan

Bila pengobatan kategori-1,2 pada akhir fase awal masih BTA positif, maka diberikan obat sisipan selama
satu bulan (HRZE).(Dep.Kes RI, 1999)
Pencegahan
Pencegahan infeksi Tuberkulosis Paru meliputi:
Terhadap Infeksi Tuberculosis Paru
a) Case finding, yaitu menemukan kasus atau penderita Tuberkulosis Paru baik dengan cara aktif yaitu
mencari penderita maupun secara pasif yaitu menemukan penderita karena mereka datang ke fasilitas
kesehatan.
b) Memberikan pengobatan yang adekuat dengan hasil pemeriksaan sputum positif.
Sterilisasi Sputum
a) Menjemur kasur, sprei, pakaian, di bawah matahari secara langsung akan membunuh kuman
Tuberkulosis dalam waktu 5 menit.
b) Kuman Tuberkulosis akan rusak pada pemanasan 600C dalam 20 menit atau 700c dalam 5 menit.
c) Tisu harus segera di bakar setelah digunakan.
Kebersihan Lingkungan
a) Mengurangi tingkat kepadatan penduduk
b) Meningkatkan jumlah ventilasi rumah
c) Memberi penyuluhan kepada masyarakat akan akibat yang ditimbulkan bila meludah di sembarang
tempat.
Meningkatkan Daya Tahan Tubuh
Meningkatkan daya tahan tubuh dapat dilakukan dengan makanan yang bergizi, cukup tidur, berolahraga
dan pemberian vaksin BCG.[7]
Program Pemberantasan Tuberculosis
Strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-Course)
Diajurkan oleh WHO pada tahun 1995, suatu strategi yang komprehensif digunakan oleh pelayanan
kesehatan primer diseluruh dunia untuk mendeteksi dan menyembuhkan penderita Tuberkulosis Paru, agar
transmisi penularan di masyarakat berkurang. Kunci keberhasilan DOTS adalah pengawasan dan
pengendalian yang ketat dengan minum obat setiap hari di depan petugas PMO. Lima unsur utama strategi
DOTS:
a) komitmen politik
b) pelayanan mikroskopik
c) ketersediaan obat
d) pengawasan langsung pada pengobatan
e) pencatatan dan pelaporan untuk memudahkan pemantauan dan evaluasi
Pengawasan Menelan Obat
a) Persyaratan PMO : dipercaya dan disetujui oleh petugas kesehatan maupun penderita, tinggal dekat
dengan penderita, membantu penderita dengan sukarela, bersedia dilatih atau mendapat penyuluhan
bersama dengan penderita.
b) Tugas PMO: melakukan pengawasan minum obat, memberikan dorongan agar penderita berobat
teratur, mengingatkan jadwal pemeriksaan ulang dahak, memastikan penderita benar-benar meminum
obat, mengenali efek samping obat dan menasehati agar tetap mau menelan obat, merujuk penderita bila
efek samping semakin berat, melakukan kunjungan rumah, menganjurkan anggota keluarga untuk
memeriksakan dahak bila ditemui gejala Tuberkulosis, melakukan pencatatan pada kartu PMO. [8]

Jumlah Penderita Tuberculosis


Laporan WHO tahun 2009, mencatat peringkat Indonesia menurun ke posisi lima dengan jumlah penderita
429.000 orang. Lima negara dengan jumlah terbesar kasus insiden pada tahun 2009 adalah India, Cina,
Afrika Selatan, Nigeria dan Indonesia (sumber WHO Global Tuberculosis Control 2010).Pada Global
Report WHO 2010, didapat data Tuberkulosis Indonesia, Total seluruh kasus tahun 2009 sebanyak 294731
kasus, dimana 169213 adalah Tuberkulosis baru BTA positif, 108616 adalah Tuberkulosis BTA negatif,
11215 adalah Tuberkulosis Extra Paru, 3709 adalah Tuberkulosis Kambuh, dan 1978 adalah pengobatan
ulang diluar kasus kambuh (retreatment, excl relaps).Sementara itu, untuk keberhasilan pengobatan dari
tahun 2003 sampai tahun 2008 (dalam %), tahun 2003 (87%), tahun 2004 (90%), tahun 2005 sampai 2008
semuanya sama (91%).[9]
Di Jakarta sekitar 2.500 penduduk menderita penyakit Tuberkulosis. Dari jumlah itu, 1.900 dewasa dan 600
anak-anak. Jumlah penderita Tuberkulosis hingga akhir 2007 mencapai 14.416 orang, meliputi 5.784
pasien baru, pasien kambuhan 437 orang, BTA negatif/rongten positif kasus baru 8.982 pasien. Banyaknya
jumlah penderita Tuberkulosis, membuat Jakarta menduduki ranking pertama di Indonesia. Menurut Dinkes
DKI Jakarta, penderita Tuberkulosis terbanyak berasal dari Jakarta timur sebanyak 5.666, Jakarta Pusat
sebanyak 3.188, Jakarta Barat 3.046, Jakarta Selatan 2.679, dan Jakarta Utara 837 (Dinkes, 2008). [10]
Referensi
1.

Jump up DepKes RI, 2002. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke-8:
Jakarta.

2.

Jump up WHO, 1997. Treatment of Tuberculosis, Guidelines for National Programmes, edisi

1997, Geneva, Switzerland.


3.
Jump up Dep.Kes RI, 1993. Pedoman Epidemiologi Tuberkulosis Paru, Dep.Kes RI, Cetakan 1,
Jakarta.
4.

Jump up Aditama Tjandra Yoga, 2002. Tuberkulosis Paru, Diagnosa, Terapi & Masalahnya, Ed-IV.

Penerbit IDI, Jakarta.


5.
Jump up Girsang Merryani, 2002. Pengobatan Standart Penderita Tuberkulosis, Cermin Dunia
6.
7.
8.

Kedokteran No 137.
Jump up Hasibuan Pantas, 1998. Buku Pedoman Penyakit Paru, Cetakan I.
Jump up Bahar Asril. 1998. Ilmu Penyakit Bagian Dalam. Jakarta.
Jump up Dep.Kes RI, 1999. Pedoman Penanggulangan Tuberkulosis. Dep.Kes. RI, Cetakan ke-

4, Jakarta.
9.
Jump up Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia. PPTI (online).
10.
Jump up Rifqatussaadah. 2012. Prosiding Seminar Nasional Kesehatan Jurusan Kesehatan
Masyarakat (online). FKIK UNSOED, Purwokerto.