Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

KELUARGA BERENCANA

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah


Keperawatan Maternitas
Program Profesi Ners XXXII Unpad

Disusun Oleh :
Nurul Fatimah Saripudin
220112160094

PROGRAM PROFESI NERS ANGKATAN XXXII


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2017

A. Definisi
Adapun pengertian lain dari Keluarga Berencana (KB) adalah :
1. Upaya peningkatkan kepedulian masyarakat dalam mewujudkan keluarga kecil yang
bahagia sejahtera (Undang-undang No. 10/1992).

2. Keluarga Berencana (Family Planning, Planned Parenthood) : suatu usaha untuk


menjarangkan atau merencanakan jumlah dan jarak kehamilan.
3. WHO (Expert Committe, 1970), tindakan yg membantu individu/ pasutri untuk:
Mendapatkan objektif-obketif tertentu, menghindari kelahiran yang tidak diinginkan,
mendapatkan kelahiran yang diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan dan
menentukan jumlah anak dalam keluarga.
Menghindari kehamilan ada dua cara, yaitu secara menetap dan sementara. Untuk
menghindari kehamilan yang bersifat menetap dapat dilakukan sterilisasi, sedangkan untuk
menghindari kehamilan yang bersifat sementara dapat dilakukan kontrasepsi.
Kontrasepsi berasal dari kata kontra berarti mencegah atau melawan dan konsepsi
yang berartipertemuan antara sel telur yang matang dan sel sperma yang mengakibatkan
kehamilan. Maksud dari kontrasepsi adalah menghindari/ mencegah terjadinya kehamilan
sebagai akibat pertemuan antara sel telur yang matang dengan sel sperma tersebut.
B. Tujuan Program KB
Tujuan umum adalah membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekutan sosial
ekonomi suatu keluarga dengan cara pengaturan kelahiran anak, agar diperoleh suatu
keluargabahagia dan sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.
Tujuan lain meliputi pengaturan kelahiran, pendewasaan usia perkawinan,
peningkatan ketahanan dan kesejahteraan keluarga.
Kesimpulan dari tujuan program KB adalah: Memperbaiki kesehatan dan
kesejahteraan ibu, anak, keluarga dan bangsa; Mengurangi angka kelahiranuntuk
menaikkan taraf hidup rakyat dan bangsa; Memenuhi permintaan masyarakat akan
pelayanan KB dan KR yang berkualitas, termasuk upaya-upaya menurunkan angka
kematian ibu, bayi, dan anak serta penanggulangan masalah kesehatan reproduksi.
C. Syarat alat-alat KB
Sampai saat ini belum ada suatu cara kontrasepsi yang 100% ideal. Ciri-ciri suatu
kontrasepsi yang ideal meliputi daya guna, aman, murah, estetik, mudah didapat, tidak
memerlukan motivasi terus menerus dan efek samping minimal.
Syarat-syarat kontrasepsi :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Aman pemakaiannya dan dipercaya.


Efek samping yang merugikan tidak ada
Lama kerjanya dapat diatur menurut keinginan
Tidak mengganggu hubungan persetubuhan
Tidak memerlukan bantuan medik atau control yang ketat selama pemakaiannya
Cara penggunaannya sederhana
Harganya murah agar dapat dijangkau masyarakat
Dapat diterima oleh pasangan suami istri

Kontrasepsi yang ideal dan memenuhi syarat diatas belum ada. Yang ada kontrasepsi yang
memenuhi sebagian syarat atau hampir memenuhi syarat. Yang penting sebenarnya adalah

"memakai salah satu cara kontrasepsi jauh lebih baik daripada tidak memakai kontrasepsi
sama sekali".
D. Jenis Kontrasepsi
Menurut Kusumaningrum (2009), terdapat beberapa jenis kontrasepsi, di antaranya:
A. Alami
1. Metode Suhu Basal Tubuh
Suhu basal adalah suhu tubuh sebelum ada aktifitas apapun, biasanya diambil pada
saat bangun tidur dan belum meninggalkan tempat tidur. Suhu basal tubuh akan
meningkat setelah ovulasi. Pencatatan suhu dilakukan setiap hari pada sebuah
tabel/kertas grafik. Contohnya grafiknya sebagai berikut:

2. Metode Lendir Serviks


Metode berdasarkan lendir serviks yang muncul dalam siklus wanita. Lendir ini
dicek di vagina. Sesudah haid vagina biasanya kering. Setelah itu muncul lendir
yang lengket (sticky). Sesaat sebelum ovulasi, lendir berubah menjadi basah dan
licin (wet and slippery). Hari terakhir basah karena lendir ini biasanya bersamaan
dengan ovulasi.
3. Metode Sympthotermal
Metode ini menggabungkan kedua metode diatas. Selanjutnya wanita disuruh
mencari tanda tanda ovulasi lainnya yaitu: nyeri perut (cramps), spotting dan
perubahan posisi serta konsistensi serviks. Metode ini sedikit lebih unggul karena
4.

mengkombinasi berbagai variabel. Tetapi tetap juga memiliki keterbatasan.


Metode Kalender
Bila haid teratur (28 hari), hari pertama dalam siklus haid dihitung sebagai hari ke1 dan masa subur adalah hari ke-12 hingga hari ke-16 dalam siklus haid.
Sedangkan, bila siklus haid tidak teratur, harus dicatat siklus haid selama 6 bulan.
Yang paling normal haid adalah 28 hari, tetapi masih dianggap normal jika antara
21-35 hari. Masa subur awal didapatkan dengan siklus terpendek dikurangi 18 dan
akhir masa subur adalah siklus terpanjang dikurangi 11. Misalnya siklus terpendek
25 hari dan terpanjang 35 hari, maka waktu subur adalah antara hari ke 7 s/d 24.

5. Metode Amenorea Laktasi


Pada periode menyususi sering wanita menjadi tidak haid akibat hormon laktasi.
Ternyata disamping haid, ovulasi juga ikut terhambat. Supaya metode ini bekerja
dengan baik, ibu harus memberikan ASI saja (eksklusif). Interval menyusui pada
malam hari tidak melebihi 6 jam dan interval siang tidak lebih dari 4 jam. Semakin
sering dan lama bayi menyusui maka semakin kecil ovulasi akan timbul. Dalam 6
bulan pertama jika diterapkan dengan benar angka kehamilannya hanya 2%. Jika
perdarahan (haid) muncul maka kemungkinan hamil semakin muncul.
6. Coitus Interruptus (senggama terputus)
Ejakulasi dilakukan di luar vagina. Efektivitasnya 75-80%. Faktor kegagalan
biasanya terjadi karena ada sperma yang sudah keluar sebelum ejakulasi, orgasme
berulang atau terlambat menarik penis keluar.
B. Kontrasepsi Mekanik
1

Kondom

Terbuat dari latex, ada kondom untuk pria maupun wanita serta berfungsi sebagai
pemblokir/barrier sperma. Kegagalan pada umumnya karena kondom tidak dipasang
sejak permulaan senggama atau terlambat menarik penis setelah ejakulasi sehingga
kondom terlepas dan cairan sperma tumpah di dalam vagina.
Cara Kerja
Sarung karet ini mencegah sperma bertemu dengan ovum
o
Efektivitas
Dalam teori: 98% sedangkan dalam praktiknya: 85%. Efektif jika digunakan
o

benar tiap kali berhubungan. Namun efektivitasnya kurang jika dibandingkan


metode pil, AKDR, suntikan KB.
Keuntungan
a. Dapat dipakai sendiri
b. Dapat mencegah penularan penyakit kelamin
c. Tidak mempengaruhi kegiatan menyusui
d. Dapat digunakan sebagai pendukung metode lain
e. Tidak mengganggu kesehatan
f. Tidak ada efek samping sistemik
g. Tersedia secara luas
h. Tidak perlu resep atau penilaian medis
i. Tidak mahal (jangka pendek)
a. Kekurangan metode ini:
o

a. Mudah robek bila tergores kuku atau benda tajam lain


b. Membutuhkan waktu untuk pemasangan
c. Mengurangi sensasi seksual

Baik untuk pasangan yang:


a. Ingin menunda kehamilan atau ingin menjarangkan anak
b. Jarang bersenggama
c. Pasangan yang takut menularkan & tertular penyakit kelamin
d. Wanita yang kemungkinan sudah hamil
o
Kontraindikasi
Alergi.
2. Spermatisida
Bahan kimia aktif untuk 'membunuh' sperma, berbentuk cairan, krim atau tisu
o

vagina yang harus dimasukkan ke dalam vagina 5 menit sebelum senggama.


Efektivitasnya 70% namun menyebabkan reaksi alergi. Kegagalan sering terjadi
karena waktu larut yang belum cukup, jumlah spermatisida yang digunakan terlalu
sedikit atau vagina sudah dibilas dalam waktu < 6 jam setelah senggama.
3. Vaginal diafragma
Lingkaran cincin dilapisi karet fleksibel ini akan menutup mulut rahim bila
dipasang dalam liang vagina 6 jam sebelum senggama. Efektivitasnya sangat kecil,
karena itu harus digunakan bersama spermatisida untuk mencapai efektivitas 80%.
Cara ini bisa gagal bila ukuran diafragma tidak pas, tergeser saat senggama, atau
terlalu cepat dilepas (< 8 jam) setelah senggama.
4. AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim)
AKDR atau spiral, atau Intra-Uterine Devices (IUD) adalah alat yang dibuat dari
polietilen dengan atau tanpa metal/steroid yg ditempatkan di dalam rahim.
Pemasangan ini dapat untuk 3-5 tahun dan dapat dilepaskan bila berkeinginan
untuk mempunyai anak.
o Jenis
a. Copper-T
IUD berbentuk T, terbuat dari bahan polyethelene di mana pada bagian
vertikalnya diberi lilitan kawat tembaga halus. Lilitan kawat tembaga halus ini
mempunyai efek antifertilisasi (anti pembuahan) yang cukup baik. IUD ini
melepaskan lenovorgegestrel dengan konsentrasi yang rendah selama minimal
lima tahun. Dari hasil penelitian menunjukkan efektivitas yang tinggi dalam
mencegah kehamilan yang tidak direncanakan maupun perdarahan menstruasi.
Kerugian metode ini adalah tambahan terjadinya efek samping hormonal dan
amenorhea.
b. Copper-7
IUD ini berbentuk angka 7 dengan maksud untuk memudahkan pemasangan.
fungsinya sama seperti halnya lilitan tembaga halus pada jenis Copper-T.
c. Multi Load

IUD ini terbuat dari dari plastik (polyethelene) dengan dua tangan kiri dan
kanan berbentuk sayap yang fleksibel.
d. Lippes Loop
IUD ini terbuat dari bahan polyethelene, bentuknya seperti spiral atau huruf S
o

bersambung. Untuk meudahkan kontrol, dipasang benang pada ekornya.


Cara Kerja
AKDR ini bekerja dengan mencegah pertemuan sperma dengan sel telur.
Imbarwati (2009), menjelaskan cara kerja IUD sebagai berikut:
a. Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopi
b. Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai cavum uteri
c. Mencegah sperma dan ovum bertemu dengan membuat sperma masuk ke

dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi sperma untuk fertilisasi


d. Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus
o
Efektivitas
Sangat efektif (0,5-1 kehamilan per 100 wanita setelah pemakaian selama 1
tahun)
o
Keuntungan
a. Tidak terganggu faktor lupa
b. Metode jangka panjang (perlindungan sampai 10 tahun dengan menggunakan
tembaga T 380 A)
c. Mengurangi kunjungan ke klinik
d. Lebih murah dari pil dalam jangka panjang
o
Baik untuk Wanita yang:
a. Menginginkan kontrasepsi dengan tingkat efektivitas yg tinggi, & jangka
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

panjang
Tidak ingin punya anak lagi atau ingin menjarangkan anak
Memberikan ASI
Berada dalam masa postpartum dan tidak memberikan ASI
Berada dalam masa pasca aborsi
Mempunyai resiko rendah terhadap PMS
Tidak dapat mengingat untuk minum sebutir pil setiap hari
Lebih menyukai untuk tidak menggunakan metode hormonal atau yang

memang tidak boleh menggunakannya


i. Yang benar-benar membutuhkan alat kontrasepsi darurat
o
Kontraindikasi
a. Hamil atau diduga hamil
b. Infeksi leher rahim atau rongga panggul, termasuk penderita penyakit kelamin
c. Pernah menderita radang rongga panggul
d. Penderita perdarahan pervaginam yg abnormal
e. Riwayat kehamilan ektopik
f. Penderita kanker alat kelamin
o
Efek samping
A. Perdarahan dank ram selama minggu2 pertama setelah pemasangan. Kadang2
ditemukan keputihan yg bertambah banyak. Disamping itu pada saat

berhubungan (senggama0 terjadi expulsi (IUD bergeser dari posisi) sebagian


atau seluruhnya
B. Pemasangan IUD

mungkin

meninmbulkan

rasa

tidak

nyaman

dan

dihubungkan dengan resiko infeksi rahim.


o
Waktu Penggunaan IUD
Dalam Imbarwati (2009) dijelaskan penggunaan IUD sebaiknya dilakukan pada
saat:
a. Setiap waktu dalam siklus haid, yang dapat dipastikan klien tidak hamil
b. Hari pertama sampai ke-7 siklus haid
c. Segera setelah melahirkan, selama 48 jam pertama atau setelah 4 minggu
pascapersalinan, setelah 6 bulan apabila menggunakan metode amenorea
laktasi (MAL)
d. Setelah terjadinya keguguran (segera atau dalam waktu 7 hari) apabila tidak
ada gejala infeksi
e. Selama 1-5 hari setelah senggama yg tidak dilindungi
o
Waktu Kontrol IUD
Menurut Imbarwati (2009), waktu kontrol IUd yang harus diperhatikan adalah:
a. 1 bulan pasca pemasangan
b. 3 bulan kemudian
c. Setiap 6 bulan berikutnya
d. Bila terlambat haid 1 minggu
e. Perdarahan banyak atau keluhan istimewa lainnya
C. Kontrasepsi Hormonal
Dengan fungsi utama untuk mencegah kehamilan (karena menghambat ovulasi),
kontrasepsi ini juga biasa digunakan untuk mengatasi ketidakseimbangan hormon
estrogen dan progesteron dalam tubuh.
Kontrasepsi hormonal bisa berupa pil KB yang diminum sesuai petunjuk hitungan
hari yang ada pada setiap blisternya, suntikan, susuk yang ditanam untuk periode
tertentu, koyo KB atau spiral berhormon.
1. Kontrasepsi PIL
Tablet yang mengandung hormone estrogen dan progesterone sintetik disebut pil
kombinasi dan hanya mengandung progesterone sintetik saja disebut Mini Pil atau Pil
Progestrin.
o
Cara Kerja
a. Menekan ovulasi
Jika seorang wanita minum pil KB setiap hari maka tidak akan terjadi ovulasi
(tidak ada sel telur). Tanpa ovulasi tidak akan terjadi kehamilan.
b. Mengubah motilitas tuba sehingga transportasi sperma terganggu
c. Mengganggu pertumbuhan endometrium, sehingga menyulitkan proses
implantasi
d. Memperkental lender serviks (mencegah penetrasi sperma)
o
Efektivitas

Efektivitas teoritis untuk pil sebesar 99,7% sedangkan efektivitas praktisnya


sebesar 90-96%. Artinya pil cukup efektif jika tidak lupa meminum pil secara
o

teratur.
Keuntungan
a. Mudah penggunaannya dan mudah didapat
b. Mengurangi kehilangan darah (akibat haid) dan nyeri haid
c. Mengurangi resiko terjadinya KET (Kehamilan Ektopik Terganggu) dan Kista

Ovarium
d. Mengurangi resiko terjadinya kanker ovarium dan rahim
e. Pemulihan kesuburan hampir 100%
o
Baik untuk wanita yang:
a. Masih ingin punya anak
b. Punya jadwal harian yang rutin
o
Kontraindikasi
a. Menyusui (khsusu pil kombinasi)
b. Pernah sakit jantung
c. Tumor/keganasan
d. Kelainan jantung, varices, dan darah tinggi
e. Perdarahan pervaginam yang belum diketahui sebabnya
f. Penyakit gondok
g. Gangguan fungsi hati & ginjal
h. Diabetes, epilepsy, dan depresi mental
i. Tidak dianjurkan bagi wanita mur >40 tahun
o
Efek Samping
Penggunaan pil KB pada sebagian wanita dapat menimbulkan efek
samping, antara lain mual, berat badan bertambah, sakit kepala (berkunangkunang) perubahan warna kulit dan efek samping ini dapat timbul berbulanbulan.
2. KB Suntik
Kontrasepsi suntikan adalah hormone yang diberikan secara suntikan/injeksi
untuk mencegah terjadinya kehamilan. Adapun jenis suntikan hormone ini ada yg
terdiri atas 1 hormon, & ada pula yg terdiri atas dua hormone sebagai contoh jenis
suntikan yg terdiri 1 hormon adalah Depo Provera, Depo Progestin, Depo Geston &
Noristerat. Sedangkan yg terdiri dari atas dua hormone adalah Cyclofem dan
Mesygna.
KB suntik sesuai untuk wanita pada semua usia reproduksi yang menginginkan
kontrasepsi yang efektif, reversible, dan belum bersedia untuk sterilisasi.
o Cara Kerja
a. Menghalangi pengeluaran FSH dan LH sehingga tidak terjadi pelepasan ovum
untuk terjadinya ovulasi dengan jalan menekan pembentukan releasing faktor
dari hipotalamus.

b. Mengentalkan lender serviks sehingga sulit untuk ditembus oleh spermatozoa.


c. Merubah suasana endometrium sehingga menjadi tidak sempurna untuk
implantasi dari hasil konsepsi.
o Efektivitas
Dalam teori: 99,75%. Dalam praktek: 95-97%.
o Keuntungan
a. Noristerat pemberiannya sederhana diberikan 200 mg sekali setiap 8 minggu
untuk 6 bulan pertama 3 x suntikan pertama kemudian selanjutnya sekali tiap
12 minggu.
b. DMPA pemberiannya diberikan sekali dalam 12 minggu dengan dosis 150 mg.
c. Tingkat efektifitasnya tinggi
d. Tidak mengganggu pengeluaran laktasi dan tumbuh kembang bayi.
e. Suntikan tidak ada hubungannya dengan saat bersenggama.
f. Tidak perlu menyimpan atau membeli persediaan.
g. Kontrasepsi suntikan dapat dihentikan setelah 3 bulan dengan cara tidak
disuntik ulang, sedangkan IUD dan implant yang non-bioderdable harus
dikeluarkan oleh orang lain.
h. Bila perlu, wanita dapat menggunakan kontrasepsi suntikan tanpa perlu
memberitahukan kepada siapapun termasuk suami atau keluarga lain.
i. Tidak ditemukan efek samping minor seperti pada POK yang disebabkan
estrogen, antara lain mual atau efek samping yang lebih serius seperti
timbulnya bekuan darah disamping estrogen juga dapat menekan produksi
ASI.
o Kerugian
a. Perdarahan yang tidak menentu

b. terjadinya amenorhoe yang berkepanjangan


c. Berat badan yang bertambah
d. Sakit kepala
e. Kembalinya kesuburan agak terlambat beberapa bulan
f. Jika terdapat atau mengalami side efek dari suntikan tidak dapat ditarik lagi.
g. Masih mungkin terjadi kehamilan, karena mempunyai angka kegagalan 0.7%.
h. Pemberiannya harus dilakukan oleh orang yang profesional.
i. Menimbulkan rasa sakit akibat suntikan
j. Memerlukan biaya yang cukup tinggi.
o Saat Pemberian yang tepat:
a. Pasca persalinan
Segera diberika ketika masih di Rumah Sakit atau setelah 6 minggu post
partum dan sebelum berkumpul dengan suami.
Tepat pada jadwal suntikan berikutnya.
b. Pasca Abortus
Segera setelah perawatan atau sebelum 14 hari.
Jadwal waktu suntikan yang diperhitungkan.
c. Interval
Hari kelima menstruasi
Jadwal waktu suntikan diperhitungkan.
o Baik untuk Wanita yang:

Calon akseptor yg tinggal di daerah terpencil


Lebih suka disuntik daripada makan pil
Menginginkan metode yang efektif dan bisa dikembalikan lagi
Mungkin tidak ingin punya anak lagi
Tidak khawatir kalau tidak mendapat haid
o Kontraindikasi
Hamil atau disangka hamil
Perdarahan pervaginam yg tidak diketahui sebabnya
Tumor/keganasan
Penyakit jantung, hati, darah tinggi, kencing manis, penyakit paru berat, varices
o Efek Samping
a. Gangguan Haid :
Amenorhoe yaitu tidak datang haid setiap bulan selama menggunakan
kontrasepsi suntikan kecuali pada pemakaian cyclofem.
Spoting yaitu bercak-bercak perdarahan diluar haid yang terjadi selama
menggunakan kontrasepsi suntikan.
Metrorhagia yaitu perdarahan yang berlebihan jumlahnya
b. Keputihan
Adanya cairan putih yang berlebihan yang keluar dari jalan lahir dan terasa
mengganggu ( jarang terjadi)
c. Perubahan berat badan
Berat badan bertambah beberapa kilogram dalam beberapa bulan setelah
menggunakan kontrasepsi suntikan
d. Pusing dan sakit kepala
Rasa berputar /sakit kepala, yang dapat terjadi pada satu sisi, kedua sisi atau
keseluruhan dari bagian kepala . Ini biasanya bersifat sementara.
e. Hematoma
Warna biru dan rasa nyeri pada daerah suntikan akibat perdarahan di bawah
kulit.
3. AKBK (Alat Kontrasepsi Bawah Kulit)/Implant
Adalah 2 kapsul kecil yang terbuat dari silicon berisi 75 gram hormon levonorgestrel
yang ditanam di bawah kulit.
o Cara Kerja

AKBK atau sering disebut dengan implant secara tetap melepaskan hormon
tersebut dalam dosis kecil ke dalam darah. Bekerja dengan cara:
a. Lendir serviks menjadi kental
b. Mengganggu proses pembentukan endometrium sehingga sulit terjadi
implantasi
c. Menekan ovulasi
o Efektivitas
Dalam teori: 99,7% sedangkan dalam prakteiknya: 97-99%.
o Keuntungan
a. Sekali pasang untuk 3 tahun
b. Tidak mempengaruhi produksi ASI
c. Tidak mempengaruhi tekanan darah
d. Pemeriksaan panggul tidak diperlukan sebelum pemakaian
e. Baik untuk wanita yang tidak ingin punya anak lagi tetapi belum mantap untuk
di tubektomi
o Baik untuk wanita yang:
a. Ingin metode yang praktis
b. Mungkin tidak ingin punya anak lagi
c. Tinggal di daerah terpencil
d. Tak khawatir jika tak dapat haid
o Kontraindikasi
a. Hamil atau disangka hamil
b. Perdarahan pervaginam yang tidak diketahui sebabnya
c. Tumor/keganasan
d. Penyakit jantung, darah tinggi, kencing manis
o Efek samping
Kadang2 pada saat pemasangan akan terasa nyeri. Selain itu ditemukan haid yang
tidak teratur, sakit kepala, kadang2 terjadi spotting atau anemia karena
perdarahan yg kronis.
o Waktu Mulai Menggunakan Implant
a. Implant dapat dipasang selama siklus haid ke-2 sampai hari ke-7
b. Bila tidak hamil dapat dilakukan setiap saat
c. Saat menyusui 6 minggu sampai 6 bulan pasca persalinan
d. Pasca keguguran implant dapat segera diinsersikan
e. Bila setelah beberapa minggu melahirkan dan telah terjadi haid kembali,
insersi dilakukan setiap saat jangan melakukan hubungan seksual selama 7
hari

4. Koyo KB (Patch)
Ditempelkan di kulit setiap minggu, sayangnya bagi yang berkulit sensitif sering
menimbulkan reaksi alergi.
Efektivitas suatu metode kontrasepsi biasanya dinyatakan dengan angka z (PI). Angka
ini menunjukkan jumlah kehamilan yang terjadi pada 100 wanita bila menggunakan
metode kontrasepsi tersebut selama 1 tahun. Angka PI yang semakin kecil
menandakan semakin efektifnya metode kontrasepsi tersebut.
D. Kontrasepsi Strerilisasi
Adalah pemotongan/pegikatan kedua saluran telur wanita (tubektomi) atau kedua
saluran sperma laki-laki (vasektomi). Operasi tubektomi ada beberapa macam cara antara
lain adalah Kuldoskopik, Kolpotomi, Posterior, Laparoskopi, dan Minilaparotomi. Cara
yang sering diapaki di Indonesia adalah Laparoskopi dan Mini laparotomi.
1

TUBEKTOMI adalah setiap


tindakan pada kedua saluran

telur

yang menyebabkan wanita


bersangkutan tidak hamila

lagi.

Merupakan alat kontrasepsi

paling

efektif

dengan

angka

kegagalankurang dari 1%
o Keuntungan Tubektomi
a. Sangat efektif
b. Permanen
c. Tidak mempengaruhi proses menyusui
d. Tidak bergantung pada faktor senggama
e. Baik bagi klien apabila kehanilan akan menjadi resiko kesehatan yang serius
f. Pembedahan sederhana dan dapat dilakukan dengan anastesi local
g. Tidak ada efek samping dalam jangka waktu panjang
h. Tidak ada perubahan dalam fungsi seksual
i. Berkurangnya resiko kanker ovarium
o Yang Dapat Menjalani Tubektomi
a. Usia > 26 tahun
b. Peritas > 2
c. Yakin telah mempunyai besar keluarga ayng sesui dngan kehendak
d. Pada kehamilannya akan menimbulakn resiko kesehatan yang serius
e. Pascapersalinan
f. Pascakeguguran
g. Apham dan secara sukareka setuju dengan prosedur ini
o Yang sebaiknya tidak menjalani tubektomi
a. Hamil

b. Perdarahan vaginal yang belum terjelasajn


c. Infeksi sistemik atau pelvic yang akut
d. Tidak boleh menjalani proses pembedahan
e. Kurang pasti mengenai keinginannya untuk fertilitas dimasa depan
f. Belum memberikan persetujuan tertulis
o Kapan dilakukan
a. Setiap waktu selama siklus menstrusi apabila diyakini secara rasional klien tsb
tidak hamil
b. Hari ke 6 13 siklus menstruasi ( fase proliferasi )
c. Pasca persalinan
2

KONTAP PADA PRIA (VASEKTOMI )


VASEKTOMI
adalah
prosedur
klinik

untuk

menghenrtikan kapasitas reproduksi pria dengan jalan


melakukan

oklusi

vasa

deferensia

sehingga

alur

transportasi sperma terhambat dan proses fertilisasi tidak


terjadi.
o Indikasi
Upaya untuk menghentikan fertilitas dimana fungsi reproduksi mengancam atau
gangguan terhadap kesehatan pria dan pasangannya serta melemahkan ketahanan dan
kualitas keluaga.
o Kondisi Yang Memerlukan Perhatian Khusus Bagi Tindakan Vasektomi
a. Infeksi kulit pada daerah operasi
b. Infeksi sistemik yang sangat mengganggu kondisi kesehatan klien
c. Hidrokel atau varikokel yang besar
d. Hernia inguinalis
e. Filariasis / elephantiasis
f. Undesensus testikularis
g. Massa intraskrotalis
h. Anemia berat, gangguan pembekuan darah atau sedang menggunakan
antikoagulansia
E. Asuhan keperawatan
1 Pengkajian
a Identitas klien dan suami
b Keluhan utama
c Riwayat penyakit sekarang
d Riwayat mestruasi
e Riwayat KB
f Riwayat psikologi
g Pemeriksaan fisik
h Riwayat obstetri
2. Diagnosa Keperawatan

1. Perubahan pola haid, spotting haid b.d Proses adaftasi hormonal ditandai dengan klien
mengatakan haid tidak teratur
2. Ketidakmampuan memilih alat kontrasepsi yang efektif b.d kurangnya informasi akan
pengetahuan tentang KB ditandai dengan klien banyak bertanya.
3. Cemas b.d terjadinya efek samping dari alat kontrasepsi tertentu ditandai dengan klien
mengatakan khawatir untuk menggunakan alat kontrasepsi.
4. Gangguan konsep diri b.d timbul gejala-gejala sampingan (pigmentasi dan jerawat
pada muka) ditandai dengan klien mengatakan sejak menggunakan alat kontrasepsi pil
banyak bintik-bintik hitam dan jerawat pada muka.
5. Resiko infeksi berhubungn dengan pemajanan luka insisi ditandai dengan klien
mengeluh sakit di daerah insisi, kulit lebam, pembengkakan di daerah insisi,
kemerahan di daerah insisi,
3

Intervensi Keperawatan
NO. Dx

Tujuan

Intervensi

Tujuan Jangka 1. Kaji


lamanya
dan
Panjang: Dalam banyaknya spotting
jangka waktu 2
bulan pola haid
normal
2. Jelaskan pada ibu efek
samping alat kontrasepsi
AKDR dan hormonal pada
Tujuan jangka hari-hari
pertama
pendek: dalam pemakaian alat kontrasepsi.
waktu 1 bulan
haid
kembali
normal dengan 3. Observasi
untuk
kriteria:
pemeriksaan
lab,
Hb,

Rasional
1.Untuk mengetahui siklus
haid
dan
mengetahui
lamanya haid dan jumlah
perdarahan pada saat haid
2. Pada hari-hari pertama
pemakaian alat kontrasepsi
AKDR dan hormonal
biasanya
terjadi
efek
samping dari kontrasepsi
tersebut
3.Data penunjang dapat
mengetahui
kadar
keseimbangan hormon

Sifat darah haid Leukosit, trombosit, Ht.


kembali
pada 4. Konsul ke dokter bila
siklus awal/biasa keluhan menjadi berat
4.Untuk
mendapatkan
Tidak
ada
penanganan lebih lanjut
spotting
haid
yang berulang

Tujuan Jangka 1. Kaji


tingkat 1Untuk mengetahui tingkat
Panjang: Klien
pengetahuan
klien
pengetahuan klien agar
memilih
alat
tentang alat kontrasepsi
dapat
menentukan
kontrasepsi yang
yang sesuai dengan
intervensi selanjutnya:
2Memberikan
gambaran
efektif
untuk
kondisinya
2. Jelaskan pada klien
tentang
alat-alat
kesehatannya.
tentang
efektivitas,
kontrasepsi
efisiensi dari masingmasing alat kontrasepsi,
Tujuan jangka
keuntungan,
pendek: setelah
kerugian,indikasi
dan
diberi penjelasan
3KB yang diinginkan akan
kontraindikasi
klien
dapat
3. Berikan
pendidikan
sesuai dengan kondisi
memilih
alat
kesehatan kepada klien
suami istri
kontrasepsi yang
beserta suaminya untuk
efektif dengan
menentukan
pilihan
kriteria:
kontrasepsi yang mereka
inginkan
Klien
dapat
memilih salah
satu alat KB
yang
sesuai
dengan
kondisinya
untuk menunda
kehamilan (pil,
suntik, pantang
berkala) untuk
menjarangkan
kehamilan
(AKDR, suntik),
mengakhiri/men
jaga kesehatan
(MOW, WOP)

Tujuan Jangka 1. Kaji tingkatan cemas


1. Untuk
mengetahui
Panjang:
tingkat
kecemasan
Kecemasan
klien
2. Sebagai pengetahuan
dapat
2. Jelaskan pada klien
klien, supaya klien
dikurangi/dikont
tentang efek samping
dapat memilih salah
rol
dari alat kontrasepsi
satu alat kontrasepsi
yang sesuai dengan

3. Berikan
kesempatan
kondisinya
3.
Dapat
menurunkan
pada ibu untuk bertanya
Tujuan jangka
kecemasan klien dalam
tentang kerugian alat
pendek: setelah
memilih
alat
kontrasepsi
diberi
kontrasepsi
penjelasan
4. Berikan
support
kecemasan
psikososial kepada klien
berkurang
4. Supaya klien dapat
terhadap
pemasangan
dengan kriteria:
beradaftasi
terhadap
alat kontrasepsi
pemasangan
alat
Klien
tampak
kontrasepsi
pada
tenang dan dapat
minggu
awal
memahami efek
pemasangan
samping
penggunaan alat
kontrasepsi.
Klien kooperatif
dan
mau
bekerjasama
dalam
pemasangan alat
kontrasepsi
4

Tujuan Jangka 1. Jelaskan efek samping 1. Menambah wawasan


Panjang: klien
dari KB pil
/pengetahuan
bagi
tidak
merasa
klien
malu
dengan
2. Untuk
mempercepat
keadaanya
2. Anjurkan klien untuk
informasi lebih untuk
konsultasi
dengan
menntukan intervensi
spesialis kulit
selanjutnya
Tujuan jangka
pendek:
klien
merasa percaya
diri
dengan
keadaanya
dengan kriteria:
Tidak
malu
untuk bergaul

5.

Tupan:
Infeksi
dicegah

1. Beritahu klien bahwa 1. Balutan yang basah


selama 48 jam pertama
merupakan media yang
dapat
daerah
insisi
harus
baik
untuk
dibiarkan kering
pertumbuhan
media
yang
baik
untuk

Tupen:

pertumbuhan
mikroorganisme

Dalam 2 x 24
jam tidak ada
2. Lebam dan perih bukan
2.
Jelaskan
efek
dari
tanda
infeksi
indikasi infeksi jika
pemsangan
implant,
dengan kriteria:
hilang dalam beberapa
MOW/MOP
secara
hari
- Luka kering
langsung seperti lebam
dan rasa perih
Tidak ada tanda 3. Hindari
benturan, 3. -Untuk
mencegah
infeksi
gesekan dan penekanan
terjadinya
trauma
di daerah insisi
berlebih selain dari
tempat insisi
4. Dapat
mencegah
ekspulsi
batang
4. Balutan jangan dibuka
implant,
cara
dalam 48 jam, plester
memungkinkan
dipertahankan
hingga
menyebabkan infeksi
luka sembuh (biasanya 5
5.
Memungkinkan klien
hari)
mendapat pertolongan
5. Anjurkan klien kembali
lebih
dini
untuk
ke klinik jika ada tanda
mencegah kondisi lebih
infeksi seperti demam,
buruk
peradangan
selama
6. Antibiotik
untuk
beberapa hari
mencegah infeksi
6. Kolaborasi
pemberian
terapi antibiotik
Daftar Pustaka
Bagian SMF Obgin UNHAS. 2000. Pedoman Diagnosis dan Terapi. Makssar.
Gunawan, Sulistia. 2007. Farmakologi dan Terapi edisi 5. Jakarta : Gaya Baru
Ida Bagus G., M. 2000. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB. EGC. Jakarta.
Katzung. 2004. Basic and Clinical Pharmacology 9th ed. USA : McGraw Hill
Imbarwati. 2009. Beberapa Faktor yang Berkaitan dengan Penggunaan KB IUD pada Peserta KB
non
IUD
di
Kecamatan
Pedurungan
Kota
Semarang.
http://eprints.undip.ac.id/17781/1/IMBARWATI.pdf. Diakses tanggal 19 Juni 2012. Pukul19.49
WIB
Kusumaningrum, Radita. 2009. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Jenis Kontrasepsi
yang
Digunakan
Pada
Pasangan
Usia
Subur.
http://eprints.undip.ac.id/19194/1/Radita_Kusumaningrum.pdf. Diakses tanggal 19 Juni 2012.
Pukul 19.20 WIB.

Mochtar R., Prof, Dr,MPH. Sinopsis Obstetri Obstetri Operatif Obstetri Sosial,
Penerbit Buku Kedokteran. EGC. Jakarta.

Jilid 2,Edisi 2.

Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria
Hasil
NOC.
Diterjemahkan
oleh:
Widyawati,
dkk.
Jakarta.
EGC.http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19183/4/Chapter%20II.pdf