Anda di halaman 1dari 20

BAB 1

PENDAHULUAN

Tonsilitis kronis merupakan keradangan kronik pada tonsil yang biasanya


merupakan kelanjutan dari infeksi akut berulang atau infeksi subklinis dari tonsil.
Kelainan ini merupakan penyakit yang paling sering terjadi dari seluruh penyakit
tenggorok berulang dan merupakan kelainan tersering pada anak di bidang THT.
Berdasarkan data epidemiologi penyakit THT di 7 provinsi (Indonesia) pada tahun
1994-1996, prevalensi Tonsilitis Kronis 4,6% tertinggi setelah Nasofaringitis Akut
(3,8%). Sedangkan penelitian di RSUP Dr. Hasan Sadikin pada periode April 1997
sampai dengan Maret 1998 ditemukan 1024 pasien Tonsilitis kronik atau 6,75%
dari seluruh jumlah kunjungan.

Data morbiditas pada anak menurut Survey

Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1995 pola penyakit anak laki-laki dan
perempuan umur 5-14 tahun yang paling sering terjadi, Tonsilitis Kronis
menempati urutan kelima (10,5 persen pada laki-laki, 13,7 persen pada
perempuan). Mengingat angka kejadian yang tinggi dan dampak yang ditimbulkan
dapat mempengaruhi kualitas hidup anak, maka pengetahuan yang memadai
mengenai tonsilitis kronis diperlukan guna penegakan diagnosis dan terapi yang
tepat dan rasional.1,2

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ANATOMI TONSIL


Tonsil merupakan suatu akumulasi dari limfonoduli permanen yang
letaknya di bawah epitel yang telah terorganisir sebagai suatu organ. Berdasarkan
lokasinya, tonsil dibagi menjadi; Tonsilla lingualis yang terletak pada radix
linguae, Tonsilla palatina (tonsil) yang terletak pada ismus faucium antara arcus
glossopalatinus dan arcus glossopharingicus, Tonsilla pharingica (adenoid) yang
terletak pada dinding dorsal dari nasofaring, Tonsilla tubaria yang terletak pada
bagian lateral nasofaring di sekitar ostium tuba auditiva dan Plaques dari peyer
(tonsil perut), terletak pada ileum. 2
Dari kelima macam tonsil tersebut, Tonsilla lingualis, Tonsilla palatina,
Tonsilla pharingica, dan Tonsilla tubaria membentuk cincin jaringan limfe pada
pintu masuk saluran nafas dan saluran pencernaan. Cincin ini dikenal dengan
nama cincin waldeyer. Kumpulan jaringan ini melindungi anak terhadap infeksi
melalui udara dan makanan. Jaringan limfe pada cincin waldeyer menjadi
hipertrofi fisiologis pada masa kanak-kanak, adenoid pada umur 3 tahun dan
tonsil pada umur 5 tahun dan kemudian menjadi atrofi pada masa pubertas. 2
Tonsil palatina dan adenoid (tonsil faringeal) merupakan bagian terpenting
dari cincin waldeyer. Tonsil palatina adalah masa jaringan limfoid yang terletak di
dalam fossa tonsil pada kedua sudut orofaring dan dibatasi oleh pilar anterior (otot
palatoglosus) dan pilar posterior (otot palatofaringeus). Palatoglosus mempunyai
origo seperti kipas dipermukaan oral palatum mole dan berakhir pada sisi lateral
lidah. Palatofaringeus merupakan otot yang tersusun vertical dan di atas melekat
pada palatum mole, tuba eustachius dan dasar tengkorak. Otot ini meluas ke
bawah sampai ke dinding atas esophagus. Otot ini lebih penting daripada
palatoglosus dan harus diperhatikan pada operasi tonsil agar tidak melukai otot

ini. Kedua pilar bertemu diatas untuk bergabung dengan palatum mole. Di inferior
akan berpisah dan memasuki jaringan pada dasar lidah dan leteral dinding faring. 2
Jaringan limfoid pada cincin waldeyer berperan penting pada awal
kehidupan, yaitu sebagai daya pertahanan local yang setiap saat berhubungan
dengan agen dari luar (makan, minum, bernafas) dan sebagai surveilens imun.
Fungsi ini didukung secara anatomis dimana didaerah faring terjadi tikungan
jalannya material yang melewatinya disamping itu bentuknya tidak datar,
sehingga terjadi turbulensi khususnya udara pernafasan. Dengan demikian
kesempatan kontak berbagai agen yang ikut dalam proses fisiologis tersebut pada
permukaan penyusun cincin waldeyer itu semakin besar.2,3,5

Adapun struktur yang terdapat disekitar tonsila palatina adalah:2

Anterior
Posterior
Superior
Inferior
Medial

: arcus palatoglossus
: arcus palatopharyngeus
: palatum mole
: 1/3 posterior lidah
: ruang orofaring

Lateral

: kapsul dipisahkan oleh m. constrictor pharyngis superior

oleh jaringan areolar longgar. A. carotis interna terletak 2,5 cm di belakang


dan lateral tonsila.
Tonsil tidak mengisi seluruh fosa tonsilaris, daerah yang kosong di atasnya
dikenal sebagai fossa supratonsilaris. Bagian luar tonsil terikat longgar pada
muskulus konstriktor faring superior, sehingga tertekan setiap kali makan.
Permukaan lateral tonsil melekat pada fasia faring yang sering juga disebut kapsul
tonsil, sehingga mudah dilakukan diseksi pada tonsilektomi. 2
Tonsil mendapat vaskularisasi dari cabang-cabang a. karotis eksterna
yaitu: a. maksilaris eksterna (a. fasialis) yang mempunyai cabang a. tonsilaris dan
a. palatina asenden, a. maksilaris interna dengan cabangnya yaitu a.palatina
desenden, a. lingualis dengan cabangnya yaitu a. lingualis dorsal dan a. faringeal
asenden. a. tonsilaris berjalan ke atas di bagian luar m. konstriktor superior dan
memberikan cabang untuk tonsil dan palatum mole. Arteri palatina asenden,
mengirim cabang-cabangnya melalui m. konstriktor posterior menuju tonsil.
Arteri faringeal asenden juga memberikan cabangnya ke tonsil melalui bagian luar
m. konstriktor superior. Arteri lingualis dorsal naik ke pangkal lidah dan mengirim
cabangnya ke tonsil, plika anterior dan plika posterior. 2,4,6

Tonsil dipersarafi oleh nervus trigeminus dan glossofaringeus. Nervus


trigeminus mempersarafi bagian atas tonsil melalui cabangnya yang melewati
ganglion sfenopalatina yaitu nervus palatine. Sedangkan nervus glossofaringeus
selain mempersarafi bagian tonsil, juga dapat mempersarafi lidah bagian belakang
dan dinding faring.6
2.2 IMUNOLOGI TONSIL
Tonsil palatina merupakan penghasil utama dari sitokin yang dihasilkan
oleh makrofag - makrofag dan partikel netrofil didalam tubuh yang merupakan
mekanisme pertahanan tubuh dan juga merupakan organ limfatik sekunder yang
diperlukan untuk diferensiasi dan proliferasi limfosit yang sudah disensitisasi.

Interleukin ( IL) seperti IL-1, IL-6 . dan tumor necrosis factor- juga berperan
dalam pertahanan tubuh pada fase akut. Secara sistemik proses imunologi dari
tonsil terbagi 3 yaitu; 10

Respon imun tahap 1.

Respon imun tahap 2.

Migrasi limfosit

Pada respon imun tahap 1 terjadi ketika antigen memasuki orofaring


mengenai epitel kripta yang merupakan kompartemen tonsil pertama sebagai
barrier imunologi. Sel M tidak hanya berperan untuk mentransport antigen
melalui barrier tetapi juga membentuk kompartemen intraepitel spesifik yang
membawa material asing dalam konsentrasi yang tinggi secara bersamaan. Respon
imun tonsila palatina tahap kedua terjadi setelah antigen melalui epitel kripta dan
mencapai daerah ekstrafolikular atau folikel limfoid, sel plasma tonsil juga
menghasilkan lima jenis Ig ( Ig G 65 %, Ig A 30%, Ig M, Ig d, Ig E) yang
membantu melawan dan mencegah infeksi. Respon imun berikutnya berupa
migrasi limfosit. Dari penelitian didapat bahwa migrasi limposit berlanjut terus
menerus dari darah ke tonsil dan kembali ke sirkulasi melalui pembuluh limfe.10
Tonsilektomi merupakan tindakan operasi yang sering dilakukan pada
bidang THT. Ikinciogullary melaporkan kadar IgG, IgA, dan IgM dalam serum
mengalami penurunan setelah dilakukan tindakan tonsilektomi dibandingkan
dengan kadar sebelum operasi. Walaupun demikian, menurut Ikinciogullary
perubahan ini tidak menyebabkan defisiensi imun yang signifikan. Hasil yang
berbeda didapatkan oleh Faramazi (Iran, 2006), bahwa kadar IgA mengalami
peningkatan pada minggu-minggu awal pasca tonsiloadenoidektomi. Sedangkan
IgG dan IgM mengalami perubahan yang tidak bermakna. Faramazi juga
mendapatkan kadar limfosit T mengalami penurunan yang ringan, dan kembali
normal setelah 8 minggu. Sedangkan kadar limfosit B tidak mengalami perubahan
yang signifikan. Selain itu, aktivitas imunologi terbesar dari tonsil ditemukan pada
usia 3-10 tahun sehingga sampai saat ini masih terdapat kontroversi di kalangan
ahli penyakit dalam, ahli bagian anak dan ahli THT dalam hal pendekatan
diagnostik dan terapi pada kasus anak. 11
2.3 TONSILITIS
Tonsillitis adalah peradangan tonsil palatina yang merupakan bagian dari
cincin Waldeyer. Cincin Waldeyer terdiri atas susunan kelenjar limfa yang
terdapat di dalam rongga mulut, yaitu tonsil faringeal (adenoid), tonsil palatina

(tonsil faucial), tonsil lingual (tonsil pangkal lidah), tonsil tuba eustasius (lateral
band dinding faring/Gerlachs tonsil).2
2.4 TONSILITIS KRONIS
Tonsilitis kronis merupakan radang pada tonsila palatina yang sifatnya
menahun. Yang dimaksud kronis adalah apabila terjadi perubahan histologis pada
tonsil, yaitu didapatkannya mikroabses yang diselimuti oleh dinding jaringan
fibrotik dan dikelilingi oleh zona sel sel radang yang dapat menjadi fokal infeksi
bagi organ organ lain, seperti sendi, ginjal, jantung dan lain lain.2,6
Tonsilitis kronis umumnya terjadi akibat komplikasi tonsilitis akut yang
tidak mendapat terapi adekuat; mungkin serangan mereda tetapi kemudian dalam
waktu pendek kambuh kembali dan menjadi laten. Proses ini biasanya diikuti
dengan pengobatan dan serangan yang berulang setiap enam minggu hingga 3 4
bulan. Seringnya serangan merupakan faktor prediposisi timbulnya tonsilitis
kronis yang merupakan infeksi fokal.7
Faktor predisposisi lain timbulnya tonsillitis kronis ialah rangsangan yang
menahun dari rokok, beberapa jenis makanan, hygiene mulut yang buruk,
pengaruh cuaca, dan kelelahan fisik. Kuman penyebabnya sama dengan tonsillitis
akut tetapi kadang kuman berubah menjadi kumah golongan gram negatif. 2
2.4.1

ETIOLOGI
Etiologi penyakit ini dapat disebabkan oleh serangan ulangan dari

tonsilitis akut yang mengakibatkan kerusakan permanen pada tonsil atau


kerusakan ini dapat terjadi bila fase resolusi tidak sempurna. Bakteri penyebab
tonsilitis kronis pada umumnya sama dengan tonsilitis akut, yang paling sering
adalah kuman gram positif.6
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para ahli, bakteri yang paling
banyak ditemukan pada jaringan tonsil adalah Streptococcus hemolyticus.
Beberapa jenis bakteri lain yang dapat ditemukan adalah Staphylococcus,
Pneumococcus, Haemophylus influenza, virus, jamur dan bakteri anaerob.6
7

2.4.2

PATOFISIOLOGI
Terjadinya tonsilitis dimulai saat kuman masuk ke tonsil melalui kripte-

kriptenya, sampai disitu secara aerogen (melalui hidung, droplet yang


mengandung kuman terhisap oleh hidung kemudian nasofaring terus ke tonsil),
maupun secara foodvorn yaitu melalui mulut bersama makanan.6
Fungsi tonsil sebagai pertahanan terhadap masuknya kuman ke tubuh baik
yang melalui hidung maupun mulut. Kuman yang masuk kesitu dihancurkan oleh
makrofag, Sel-sel polimorfonuklear. Jika tonsil berulang kali terkena infeksi maka
pada suatu waktu tonsil tidak bisa membunuh kuman-kuman semuanya, akibatnya
kuman bersarang di tonsil. Pada keadaan inilah fungsi pertahanan tubuh dari tonsil
berubah menjadi sarang infeksi (tonsil sebagai fokal infeksi). Sewaktu waktu
kuman bisa menyebar ke seluruh tubuh misalnya pada keadaan umum yang
menurun. 6
Fokal infeksi adalah sumber kuman di dalam tubuh dimana kuman dan
produk-produknya dapat menyebar jauh ke tempat lain dalam tubuh itu dan dapat
menimbulkan penyakit. Kelainan ini hanya menimbulkan gejala ringan atau
bahkan tidak ada gejala sama sekali, tetapi akan menyebabkan reaksi atau
gangguan fungsi pada organ lain yang jauh dari sumber infeksi. Penyebaran
kuman atau toksin dapat melalui beberapa jalan. Penyebaran jarak dekat biasanya
terjadi secara limfogen, sedangkan penyebaran jarak jauh secara hematogen.
Fokal infeksi secara periodik menyebabkan bakterimia atau toksemia. Bakterimia
adalah terdapatnya kuman dalam darah. Kuman-kuman yang masuk ke dalam
aliran darah dapat berasal dari berbagai tempat pada tubuh. Darah merupakan
jaringan yang mempunyai kemampuan dalam batas-batas tertentu untuk
membunuh kuman-kuman karena adanya imun respon. Maka dalam tubuh sering
terjadi bakterimia sementara. Bakterimia sementara berlangsung selama 10 menit
sampai beberapa jam setelah tindakan. 6
2.4.3

MANIFESTASI KLINIS & DIAGNOSIS


Pasien dengan tonsillitis kronis akan mengeluh ada penghalang/rasa

mengganjal di tenggorokan, tenggorokan terasa kering dan pernafasan berbau.


8

Pada pemeriksaan tampak tonsil membesar dengan permukaan yang tidak rata,
kriptus membesar, dan kriptus berisi detritus.2
Bila tonsillitis kronis tersebut dalam keadaan eksaserbasi akut maka aka
nada tanda-tanda infeksi seperti demam, infeksi saluran nafas, nyeri menelan,
lesu, tidak nafsu makan, pada pemeriksaan tonsil terlihat hiperemi, membengkak,
ada kripte melebar, dan detritus.2
Berdasarkan rasio perbandingan tonsil dengan orofaring, dengan
mengukur jarak antara kedua pilar anterior dibandingkan dengan jarak permukaan
medial kedua tonsil, maka gradasi pembesaran tonsil dapat dibagi menjadi: 2

TO
T1
T2
T3
T4

: tonsil masuk di dalam fossa atau sudah diangkat


: <25% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring
: 25-50% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring
: 50-75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring
: > 75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring

Pada anak, tonsil yang hipertrofi dapat terjadi obstruksi saluran nafas atas
yang dapat menyebabkan hipoventilasi alveoli yang selanjutnya dapat terjadi
hiperkapnia dan dapat menyebabkan kor polmunale. Obstruksi yang berat
menyebabkan apnea waktu tidur, gejala yang paling umum adalah mendengkur
yang dapat diketahui dalam anamnesis. 6
2.4.4

TATALAKSANA
Pengobatan pasti untuk tonsillitis kronis adalah pembedahan dengan

pengangkatan tonsil. Tindakan ini dilakukan pada kasus-kasus dimana


penatalaksanaan medis atau yang konservatif gagal untuk meringankan gejalagejala. Penatalaksanaan medis termasuk pemberian penisilin yang lama, irigasi
tenggorokan sehari-hari dan usaha untuk membersihkan kripte tonsil dengan alat
irigasi gigi (oral). Ukuran jaringan tonsil tidak mempunyai hubungan dengan
infeksi kronis maupun berulang. 2,8

Terapi antibiotik pada tonsilitis kronis sering gagal dalam mengurangi dan
mencegah rekurensi infeksi, baik karena kegagalan penetrasi antibiotik ke dalam
parenkim tonsil ataupun ketidaktepatan antibiotik. Oleh sebab itu, penanganan
yang efektif bergantung pada identifikasi bakteri penyebab dalam parenkim tonsil.
Pemeriksaan apus permukaan tonsil tidak dapat menunjukkan bakteri pada
parenkim tonsil, walaupun sering digunakan sebagai acuan terapi, sedangkan
pemeriksaan aspirasi jarum halus (fine needle aspiration/FNA) merupakan tes
diagnostik yang menjanjikan.6
Indikasi tonsilektomi menurut American Academy of Otolaryngology
Head and Neck Surgery Clinical Indicators Compendium tahun 1995
menetapkan : Indikasi tonsilektomi menurut The American Academy of
Otolaryngology,Head and Neck Surgery:2,9
a) Indikasi absolut:
i) Pembesaran tonsil yang menyebabkan sumbatan jalan nafas atas,
disfagia menetap, gangguan tidur atau komplokasi kardiopulmunar.
ii) Tonsil hipertrofi yang menimbulkan maloklusi gigi dan menyebabkan
gangguan pertumbuhan orofacial
iii) Rhinitis dan sinusitis yang kronis, peritonsilitis, abses peritonsil yang
tidak hilang dengan pengobatan. Otitis media efusi atau otitis media
supuratif.
iv) Tonsilitis yang menimbulkan febris dan konvulsi
v) Biopsi untuk menentukan jaringan yang patologis

(dicurigai

keganasan)
b) Indikasi relatif :
i) Penderita dengan infeksi tonsil yang kambuh 3 kali atau lebih dalam
setahun meskipun dengan terapi yang adekuat
ii) Bau mulut atau bau nafas yang menetap yang menandakan tonsilitis
kronis tidak responsif terhadap terapi media
iii) Tonsilitis kronis atau rekuren yang disebabkan kuman streptococus
yang resisten terhadap antibiotik betalaktamase
iv) Pembesaran tonsil unilateral yang diperkirakan neoplasma
c) Kontra indikasi :
i) Diskrasia darah kecuali di bawah pengawasan ahli hematologi

10

ii) Usia di bawah 2 tahun bila tim anestesi dan ahli bedah fasilitasnya
tidak mempunyai pengalaman khusus terhadap bayi
iii) Infeksi saluran nafas atas yang berulang
iv) Perdarahan atau penderita dengan penyakit sistemik yang tidak
terkontrol.
v) Celah pada palatum
2.4.5

KOMPLIKASI
Radang kronik tonsil dapat menimbulkan komplikasi ke daerah sekitarnya

berupa rhinitis kronik, sinusitis atau otitis media secara perkontinuitatum.


Komplikasi jauh terjadi secara hematogen atau limfogen dan dapat timbul
endokarditis, arthritis, miositis, nefritis, uveitis, iridosiklitis, dermatitis, pruritus,
urtikaria, dan furunkolosis.2
2.4.6

PROGNOSIS
Tonsilitis biasanya sembuh dalam beberapa hari dengan beristirahat dan

pengobatan suportif. Menangani gejala gejala yang timbul dapat membuat


penderita tonsilitis lebih nyaman. 6

11

BAB 3
LAPORAN KASUS

3.1 IDENTITAS PASIEN


Nama pasien
Umur
Jenis kelamin
Alamat

: An M
: 9 tahun
: Perempuan
: Selong

Tanggal Pemeriksaan

: 26 agustus 2014

3.2 ANAMNESIS

Keluhan utama: nyeri menelan.


Riwayat penyakit sekarang:
Pasien merasa nyeri dan kesulitan menelan sejak 1 minggu yang lalu. Selain
itu, demam sejak 1 minggu yang lalu namun saat ini suhu telah turun, dan ibu
pasien menyatakan pasien ngorok saat tidur (snoring). Selain itu, tidak ada

keluhan lain.
Riwayat penyakit dahulu dan riwayat pengobatan:
Pasien memiliki riwayat pilek yang cukup lama dan hilang timbul sejak 2
bulan terakhir. Pasien telah berobat ke puskesmas dan diberi obat amoksisilin

dan parasetamol. Seminggu yang lalu obatnya habis dan keluhan muncul lagi.
Riwayat penyakit keluarga/sosial: (-)
Riwayat alergi:
Pasien mengaku tidak memiliki riwayat alergi makanan maupun obat-obatan.

3.3 PEMERIKSAAN FISIK


Status Generalis

Keadaan umum
Kesadaran

: Baik
: Compos mentis
12

Tanda vital
Tensi
Nadi
Respirasi
Suhu

:: 88 x/menit
: 24 x/menit
: afebris

Status Lokalis
Pemeriksaan telinga

No
.

Pemeriksaan

Telinga kanan

Telinga kiri

Telinga

1.

Tragus

Nyeri tekan (-), edema (-)

Nyeri tekan (-), edema (-)

2.

Daun telinga

Bentuk dan ukuran dalam batas Bentuk dan ukuran dalam batas
normal, hematoma (-), nyeri normal, hematoma (-), nyeri
tarik aurikula (-)

3.

Liang telinga

tarik aurikula (-)

Serumen (+), hiperemis (-), Serumen (+), hiperemis (-),


furunkel (-), edema (-), otorhea furunkel (-), edema (-), otorhea
(-)

(-)

13

4.

Membran timpani

Intak. Retraksi (-), bulging (-), Intak. Retraksi (-), bulging (-),
hiperemi

(-),

edema

(-), hiperemi

perforasi (-), cone of light (+)

(-),

edema

perforasi (-), cone of light (+)

Pemeriksaan hidung

Pemeriksaan Hidung

Hidung kanan

Hidung kiri

Bentuk normal, hiperemi (-),

Bentuk normal, hiperemi (-),

nyeri tekan (-), deformitas (-)

nyeri tekan (-), deformitas (-)

Vestibulum nasi

Hiperemis (-), sekret (-)

Hiperemis (-), sekret (-)

Cavum nasi

Bentuk (normal), hiperemia Bentuk (normal), hiperemia

Hidung luar

Rinoskopi anterior

(-)

(-),

(-)

14

Meatus nasi media

Konka nasi inferior

Septum nasi

Mukosa hiperemis, sekret (-), Mukosa hiperemis, sekret (-),


massa (-)

massa (-)

Edema (-), mukosa hiperemi

Edema (-), mukosa hiperemi

(-)

(-)

Deviasi (-), perdarahan (-), Deviasi (-), perdarahan (-),


ulkus (-), abses (-)

ulkus (-), abses (-)

Pemeriksaan Tenggorokan

Bibir

Mukosa bibir basah, berwarna merah muda (N)

Mulut

Mukosa mulut basah berwarna merah muda

Geligi

Normal

Lidah

Tidak ada ulkus, pseudomembrane (-)

Uvula

Bentuk normal, hiperemi (+), edema (-)

Palatum mole

Ulkus (-), hiperemi (-)

15

Faring

Mukosa hiperemi (-), reflex muntah (+), membrane (-)

Tonsila palatine

Fossa Tonsillaris

kanan

kiri

T3

T4

Hiperemi (+), kripte (+),

Hiperemi (+), kripte (+),

detritus (+)

detritus (+)

hiperemi (+)

hiperemi (+)

dan Arkus Faringeus

3.4 PEMERIKSAAN PENUNJANG


Laboratorium: Darah lengkap, bleeding time, cloting time.
3.5 DIAGNOSIS
Tonsilitis kronis eksaserbasi akut.

3.6 DIAGNOSIS BANDING


Adenotonsilitis kronis
3.7 RENCANA TERAPI
a. Obat-obatan
o Amoxicillin (sirup kering 250mg/5ml) selama 5-7 hari
o Paracetamol sirup (120mg/5ml)
o Obat kumur + desinfektan
b. Pembedahan
16

Tonsilektomi.
3.8 KIE pasien

Untuk sementara hindari makanan yang berminyak, manis, pedas, dan


lainnya yang dapat mengiritasi tenggorokan. Begitu pula dengan minuman
dingin.

Menjaga higiene mulut.

Datang kembali untuk kontrol setelah 5 hari, untuk melihat perkembangan


penyembuhan.

Sarankan

keluarga

untuk

menjaga

kesehatan

pasien

dan

mempertimbangkan untuk melakukan operasi pengangkatan amandel atau


tonsilektomi jelaskan indikasi, dan komplikasinya.

17

BAB 4
PEMBAHASAN
Pasien datang dengan keluhan nyeri dan sulit menelan yang sebelumnya
diawali oleh demam, batuk, dan pilek. Ketika dimintai keterangan lebih lanjut,
pasien mengaku sejak dulu sudah sering merasa sulit menelan. Saat dilakukan
pemeriksaan pada daerah tenggorok, terlihat tonsil membesar T3 (dextra) dan T4
(sinistra) dengan tampilan hiperemis, bengkak, kripte melebar, dan terlihat
detritus. Keterangan tersebut dapat digunakan sebagai acuan untuk mendiagnosa
pasien dengan tonsillitis kronis eksaserbasi akut. Hal ini diperkuat dengan riwayat
infeksi yang sedang diderita pasien saat ini yaitu demam, batuk, dan pilek yang
menandakan adanya eksaserbasi akut.
Dilihat dari ukurannya T3 dan T4, keadaan pasien merasa kesulitan untuk
makan dan minum, dan seringnya keadaan ini kambuh dalam 2 bulan terakhir,
maka disarankan untuk dilakukan operasi tonsilektomi. Namun sebelum
dilakukan tonsilektomi, peradangan pada tonsil ditenangkan terlebih dahulu
dengan

terapi

medikamentosa sembari

member

waktu

keluarga

untuk

mempertimbangkan persetujuan operasi. Bila nantinya telah ada persetujuan


untuk dilakukannya tonsilektomi dan saat kontrol kembali keadaan tonsil sudah
tenang, maka dapat dipersiapkan untuk operasi, mulai dengan pemeriksaan
laboratorium untuk mengecek darah lengkap, bleeding time dan clotting time.

18

DAFTAR PUSTAKA

1. Rubin MA, Gonzales R, Sande MA. 2005. Infections of the Upper


Respiratory Tract. Harrisons Principle of Internal Medicine. 16th ed. New
York, NY: McGraw Hill.
2. Soepardi et all. 2007. Penyakit dan kelainan tonsil dan Faring. Buku Ajar
Ilmu THT. Jakarta : Balai Penerbit FKUI
3. Nave H, Gebert A, Pabst. 2001. Morphology and immunology of the human
palatine tonsil. Anatomy Embryology 2004: 367-373.
4. Byron J., 2001. Laringology. Head and Neck Surgery-Otolaryngology 3rd
Edition, New York : Lippincott Williams and Wilkin
5. Seeley, Stephens, Tate. 2004. Lymphatic System and Immunity. Anatomy and
Physiology, Ch.22, 6th Ed. The McGrawHill Companies, New York
6. Nurjanna Z, 2011. Karakteristik Penderita Tonsilitis Kronis di RSUP H.
Adam Malik Medan tahun 2007-2010. USU Institutonal Repository. Available
at:

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/32582/4/Chapter

%20II.pdf [accessed 5th June 2012]


7. Amarudin, Tolkha et Anton Christanto. 2005. Kajian Manfaat Tonsilektomi,
Cermin Dunia Kedokteran. Available at :
http://www.cerminduniakedoteran.com [accessed 5th June 2012]
8. Dedya, et. Al. Tonsilitis Kronis Hipertrofi dan Obstructive Sleep Apnea

(OSA) Pada Anak. Bagian/Smf Ilmu Penyakit Tht Fk Unlam. 2009.


9. Derake A, Carr MM. Tonsillectomy. Dalam : Godsmith AJ, Talavera F, Allen
Ed. EMedicine.com.inc.2002 : 1 10

19

10. Wanri, Arwansyah. 2007. Anatomi dan Fisiologi Tonsil. Universitas Sumatra
Utara.

Available

from

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/27639/4/Chapter%20II.pdf
[accessed 7th June 2012]
11. Hafiz, Novialdi. 2010. Pengaruh Tonsilektomi Terhadap Kadar Interferon-

dan Tumor Necrosis Factor- pada Pasien Tonsilitis Kronis. Bagian Ilmu
Kesehatan THT Bedah Kepala dan Leher Fakultas Kedokteran Universitas
Andalas

RSUP

Dr.

M.

Djamil

Padang.

Available

from

http://repository.unand.ac.id/17674/1/Referat%202%20-20Tonsilektomi.pdf
[accessed 7th June 2012]

20