Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Otitis media supuratif kronik (OMSK) merupakan masalah kesehatan


masyarakat utama pada beberapa populasi di dunia, pada berbagai ras dan kultur
yang hidup dari daerah Arctic hingga di daerah garis equator. Di negara maju,
sejak perkembangan penggunaan agent antibiotika insidensi OMSK menurun,
namun lain halnya di negara berkembang insidensi OMSK masih tinggi dan
memerlukan perhartian yang lebih banyak. 1
OMSK ialah infeksi kronik di telinga tengah lebih dari 2 bulan dengan
adanya perforasi membran timpani, sekret yang keluar dari telinga tengah dapat
terus menerus atau hilang timbul. Sekret bisa encer atau kental, bening atau
berupa nanah.1
Di negara berkembang seperti Indonesia sendiri OMSK dikenal dengan
istilah congek, teleran atau telinga berair. Kebanyakan penderita OMSK
menganggap penyakit ini merupakan penyakit yang biasa yang nantinya akan
sembuh sendiri. Sehingga penyakit ini pada umumnya tidak memberikan rasa
sakit kecuali apabila sudah terjadi komplikasi. Biasanya komplikasi didapatkan
pada penderita OMSK tipe maligna seperti labirinitis, meningitis, abses otak yang
dapat menyebabkan kematian. Kadangkala suatu eksaserbasi akut oleh kuman
yang virulen pada OMSK tipe bening pun dapat menyebabkan suatu komplikasi.2

BAB II
LAPORAN KASUS
2.1. IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn R

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Umur

: 28 tahun

Alamat

: Kembang Kerang Daya Aikmel

Agama

: Islam

Suku

: Sasak

Pekerjaan

: Wiraswasta

Status

: Menikah

No. CM

: 287614

Tanggal Pemeriksaan

: 14 November 2014

2.2. ANAMNESIS
Auto dan alloanamnesa tanggal 14 November 2014 pukul 11.00 WITA di
Poli THT.
2.2.1.
Keluhan utama
Keluar cairan dari telinga kanan.
2.2.2.
Riwayat penyakit sekarang
Pasien datang ke Poli THT dengan keluhan sejak kurang lebih
3 bulan yang lalu pasien mengeluh keluar cairan awalnya berwarna
putih, encer dan tidak berbau, kemudian berwarna kekuningan kental
tersebut keluar terus menerus dan berbau dari telinga kanan. Pasien
juga mengeluh pendengaran pasien berkurang. Pasien tidak
menderita batuk, pilek, demam dan pusing. Pasien mengaku tidak
ada gangguan pada penciuman ataupun hidung tersumbat.
2.2.3.

Riwayat penyakit dahulu dan riwayat pengobatan


Pasien tidak pernah memiliki riwayat penyakit berat, riwayat
sinusitis (-), riwayat rinitis (-), hipertensi (-), diabetes mellitus (-),

asma (-), riwayat trauma pada telinga (-), riwayat penyakit pada
telinga sebelumnya (-)
Riwayat penyakit keluarga dan Sosial
Tidak ada keluarga yang mengalami penyakit seperti ini.
Riwayat alergi
Pasien mengaku tidak memiliki riwayat alergi makanan

2.2.4.
2.2.5.

maupun obat-obatan.
2.3. PEMERIKSAAN FISIK
Dilakukan tanggal 10 Juli 2014 pukul 11.00 WITA di Poli THT.
2.3.1.
Status Generalis
Keadaan umum
: Baik
Kesadaran
: Compos mentis
Berat badan
: 49 kg
Tinggi Badan
: 166 cm
Status Gizi
: Cukup
2.3.2.
Tanda vital
Tensi
: 110/70
Nadi
: 76 x/menit
Respirasi
: 22 x/menit
Suhu
: 36,5 C

2.3.3.
Status Lokalis
2.3.3.1. Pemeriksaan telinga

No
.
1.

Pemeriksaan

Telinga kanan

Telinga kiri

Telinga
Tragus

Nyeri tekan (-), edema (-)

Nyeri tekan (+), edema (+)

2.

Daun telinga

Bentuk dan ukuran dalam batas Bentuk dan ukuran dalam batas
normal, hematoma (-), nyeri normal, hematoma (-), nyeri
tarik aurikula (-)

3.

Liang telinga

tarik aurikula (-)

Serumen (+), hiperemis (-), Serumen (+), hiperemis (-),


furunkel (-), edema (-), otorhea furunkel (-), edema (-), otorhea
(-)

4.

Membran timpani

(+)

Intak. Retraksi (-), bulging (-), Intak. Retraksi (-), bulging (-),
hiperemi

(-),

edema

(-), hiperemi

perforasi (-), cone of light (+)

(-),

edema

(-),

perforasi (+), cone of light (-)

2.3.3.2. Pemeriksaan hidung

Pemeriksaan hidung

Dextra

Sinistra

Hidung

Bentuk normal

Bentuk normal

Sekret

Mukoserous

Mukoserous

Mukosa konka media Hiperemis(-), hipertrofi (-) Hiperemis(-), hipertrofi(-)


Mukosa konka

Hiperemis(-), hipertrofi (-) Hiperemis(-), hipertrofi(-)

inferior
Meatus media

Hiperemis(-), hipertrofi (-) Hiperemis(-), hipertrofi(-)

Meatus inferior

Hiperemis(-), hipertrofi (-) Hiperemis(-), hipertrofi(-)

Septum

Deviasi (-)

Deviasi (-)

Massa

(-)

(-)

2.3.3.3.

Pemeriksaan Tenggorokan

Bibir

Mukosa bibir basah, berwarna merah muda (N)

Mulut

Mukosa mulut basah berwarna merah muda


Warna kuning gading, caries (-), gangren(-)

Geligi
Warna merah muda, sama dengan daerah sekitar
Ginggiva
Lidah

Tidak ada ulkus, pseudomembrane (-), dalam batas normal

Uvula

Bentuk normal, hiperemi (+), edema (-)

Palatum mole

Ulkus (-), hiperemi (-)

Faring

Mukosa hiperemi (-), reflex muntah (+), membrane (-)

Tonsila palatine

Kanan

Kiri

Ukuran

T1

T1

Warna

Hiperemis (-)

Hiperemis (-)

Kripte

(-)

(-)

Detritus

Peri Tonsil
Fossa Tonsillaris

Abses (-)

Abses (-)

hiperemi (-)

hiperemi (-)

dan Arkus Faringeus

2.4. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Darah Lengkap, Radiologi, Audiometri
AC
Right
20
15
25
10
17,5

BC
Left
35
40
35
35
36,25

Right
10
5
10
5
7,5

Left
10
10
15
10
11,25

2.5. DIAGNOSIS
Otitis Media Supuratif Kronik Maligna tipe aktif (S)
2.6. RENCANA TERAPI
2.7.1. Aural toilet, pembersihan telinga dari secret
2.7.2. Pemberian medikamentosa
Antibiotik topikal : dapat diberi antibiotik topikal polimiksin B

dan neomisin, 3-4 tetes / 3-4 kali perhari.


Sistemik :
- Antibiotik : amoxicilin tab 500 gr 3x1
- Analgesik : Asam mefenamat 500gr 3x1 jika perlu

2.7. KIE pasien


Menjaga kebersihan telinga, telinga jangan dikorek-korek, jangan
sampai kemasukan air. Bila membersihkan telinga harus digunakan

peralatan yang bersih dan tidak tajam.


Menghilangkan rasa malu terhadap keluarga maupun lingkungannya.
Tidak menganggap bahwa OM adalah penyakit bawaan, tetapi suatu
infeksi yang dapat disembuhkan. Penyakit ini bila dibiarkan kan

mengakibatkan komplikasi yang sangat merugikan.


2.8. Prognosis
Dubia et bonam jika diobati dengan benar

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1.Telinga
Telinga sebagai alat pendengaran adalah salah satu indera terpenting yang
berperan dalam pembentukan kualitas sumber daya manusia. Gangguan terhadap
fungsi dengar dapat terjadi baik pada sistem konduksi suara maupun
sensorineural. 3
Bagian telinga terdiri dari tiga bagian: 4
1. telinga luar
2. telinga tengah
3. telinga dalam.
1. Telinga luar
Bagian luar merupakan bagian terluar dari telinga. Telinga luar
terdiri dari daun telinga, lubang telinga, dan saluran telinga luar. Telinga
luar meliputi daun telinga atau pinna. Bagian daun telinga berfungsi untuk
membantu mengarahkan suara ke dalam liang telinga dan akhirnya menuju
gendang telinga. Rancangan yang begitu kompleks pada telinga luar
berfungsi untuk menangkap suara dan bagian terpenting adalah liang
telinga. Saluran ini merupakan hasil susunan tulang dan rawan yang
dilapisi kulit tipis. Di dalam saluran terdapat banyak kelenjar yang
menghasilkan zat seperti lilin yang disebut serumen atau kotoran telinga.
Hanya bagian saluran yang memproduksi sedikit serumen yang memiliki
rambut. Pada ujung saluran terdapat gendang telinga yang meneruskan

suara ke telinga dalam. Peradangan pada bagian telinga ini disebut sebagai
otitis Eksterna. Hal ini biasanya terjadi karena kebiasaan mengorek telinga
& akan menjadi masalah bagi penderita diabetes mellitus (DM/sakit gula)
2. Telinga tengah

Pada manusia dan hewan darat lainnya, telinga tengah dan saluran
pendengaran akan terisi udara dalam keadaan normal. Tidak seperti pada
bagian luar, udara pada telinga tengah tidak berhubungan dengan udara di
luar tubuh. Telinga tengah terdiri dari : 4
1. Membran timpani.
2. Kavum timpani.
3. Prosesus mastoideus.
4. Tuba eustachius

1. Membran Timpani
Membran timpani dibentuk dari dinding lateral kavum timpani dan
memisahkan liang telinga luar dari kavum timpani. Membrana ini panjang
vertikal rata-rata 9-10 mm dan diameter antero-posterior kira -kira 8-9
mm, ketebalannya rata-rata 0,1 mm. Letak membrana timpani tidak tegak
lurus terhadap liang telinga akan tetapi miring yang arahnya dari belakang
luar kemuka dalam dan membuat sudut 450 dari dataran sagital dan
horizontal. Membrana timpani merupakan kerucut, dimana bagian puncak
dari kerucut menonjol kearah kavum timpani, puncak ini dinamakan

10

umbo. Dari umbo kemuka bawah tampak refleks cahaya ( none of ligth).
Membran timpani mempunyai tiga lapisan yaitu :
1. Stratum kutaneum ( lapisan epitel) berasal dari liang telinga.
2. Stratum mukosum (lapisan mukosa) berasal dari kavum timpani.
3. Stratum fibrosum ( lamina propria) yang letaknya antara stratum
kutaneum dan mukosum. Lamina propria yang terdiri dari dua lapisan
anyaman penyabung elastis yaitu: (1) Bagian dalam sirkuler (2) Bagian
luar radier. Secara Anatomis membrana timpani dibagi dalam 2 bagian :
1. Pars tensa
Merupakan

bagian

terbesar

dari

membran

timpani

suatu

permukaan yang tegang dan bergetar sekeliling menebal dan melekat pada
anulus fibrosus pada sulkus timpanikus bagian tulang dari tulang temporal.
2. Pars flaksida atau membran Shrapnell, letaknya dibagian atas muka dan
lebih tipis dari pars tensa dan pars flaksida dibatasi oleh 2 lipatan yaitu :
1. Plika maleolaris anterior ( lipatan muka).
2. Plika maleolaris posterior ( lipatan belakang).
Membran timpani terletak dalam saluran yang dibentuk oleh tulang
dinamakan sulkus timpanikus. Akan tetapi bagian atas muka tidak terdapat
sulkus ini dan bagian ini disebut insisura timpanika ( Rivini). Permukaan
luar dari membrana timpani disarafi oleh cabang n.Aurikulo temporalis
dari nervus mandibula dan nervus vagus. Permukaan dalam disarafi oleh n.
timpani cabang dari nervus glosofaringeal. Aliran darah membrana

11

timpani berasal dari permukaan luar dan dalam. Pembuluh-pembuluh


epidermal berasal dari aurikula yang dalam cabang
dari arteri maksilaris interna. Permukaan mukosa telinga tengah didarahi
oleh arteri timpani anterior cabang dari arteri maksilaris interna dan oleh
stylomastoid cabang dari arteri aurikula posterior.
Kavum Timpani
Kavum timpani terletak didalam pars petrosa dari tulang temporal,
bentuknya bikonkaf, atau seperti kotak korek api. Diameter anteroposterior
atau vertikal 15 mm, sedangkan diameter transversal 2-6 mm. Kavum
timpani mempunyai 6 dinding yaitu : bagian atap, lantai, dinding lateral,
dinding medial, dinding anterior, d inding posterior.
1. Atap kavum timpani
Dibentuk oleh lempengan tulang yang tipis disebut tegmen timpani.
Tegmen timpani memisahkan telinga tengah dari fosa kranial dan lobus
temporalis dari otak. Bagian ini juga dibentuk oleh pars petrosa tulang
temporal dan sebagian lagi oleh skuama dan garis sutura petroskuama.
Dinding ini hanya dibatasi oleh tulang yang tipis atau ada kalanya tidak
ada tulang sama sekali ( dehisensi). Pada anak-anak, penulangan dari
sutura petroskuamosa belum terbentuk pada daerah tegmen timpani,
sehingga memungkinkan terjadinya penyebaran infeksi dari kavum
timpani ke meningen dari fosa kranial media. Pada orang dewasa
bahkan vena-vena dari telinga tengah menembus sutura ini dan berakhir
pada sinus petroskuamosa dan sinus petrosal superior dimana hal ini

12

dapat menyebabkan penyebaran infeksi dari telinga tengah secara


langsung ke sinus-sinus venosus kranial.
2. Lantai kavum timpani
Dibentuk oleh tulang yang tipis memisahkan lantai kavum timpani dari
bulbus jugularis, atau tidak ada tulang sama sekali hingga infeksi dari
kavum timpani mudah merembet ke bulbus vena jugularis.
3. Dinding medial.
Dinding medial ini memisahkan kavum timpani dari telinga dalam, ini
juga merupakan dinding lateral dari telinga dalam. Dinding ini pada
mesotimpanum menonjol kearah kavum timpani, yang disebut
promontorium Tonjolan ini oleh karena didalamnya terdapat koklea.
Didalam promontorium terdapat beberapa saluran-saluran yang berisi
saraf-saraf yang membentuk pleksus timpanikus. Dibelakang dan atas
promontorium terdapat fenestra vestibuli atau foramen ovale (oval
windows), bentuknya seperti ginjal dan berhubungan pada kavum
timpani dengan vestibulum, dan ditutupi oleh telapak kaki stapes dan
diperkuat oleh ligamentum anularis. Foramen ovale berukuran 3,25 mm
x 1,75 mm. Di atas fenestra vestibuli, sebagai tempat jalannya nervus
fasialis. Kanalis ini di dalam kavum timpani tipis sekali atau tidak ada
tulang sama sekali (dehisensi). Fenestra koklea atau foramen rotundum
(round windows), ditutupi oleh suatu membran yang tipis yaitu
membran timpani sekunder, terletak di belakang bawah. Foramen
rotundum ini berukuran 1,5 mm x 1,3 mm pada bagian anterior dan

13

posterior 1,6 mm. Kedua lekukan dari foramen ovale dan rotundum
berhubungan satu sama lain pada batas posterior mesotimpanum
melalui suatu fosa yang dalam yaitu sinus timpanikus. Suatu ruang
secara klinis sangat penting ialah sinus posterior atau resesus fasial
yang didapat disebelah lateral kanalis fasial dan prosesus piramidal.
Dibatasi sebelah lateral oleh anulus timpanikus posterosuperior, sebelah
superior oleh prosesus brevis inkus yang melekat kefosa inkudis. Lebar
resesus fasialis 4,01 mm dan tidak bertambah semenjak lahir. Resesus
fasialis penting karena sebagai pembatas antara kavum timpani dengan
kavum mastoid sehingga bila aditus as antrum tertutup karena suatu
sebab maka resesus fasialis bisa dibuka untuk menghubungkan kavum
timpani dengan kavum mastoid.
4. Dinding posterior
Dinding posterior dekat ke atap, mempunyai satu saluran disebut aditus,
yang menghubungkan kavum timpani dengan atrum mastoid melalui
epitimpanum. Di bawah aditus terdapat lekukan kecil yang disebut fosa
inkudis yang merupakan suatu tempat prosesus brevis dari inkus dan
melekat pada serat-serat ligamen. Di bawah fosa inkudis dan di medial
dari korda timpani adalah piramid, tempat terdapatnya tendon muskulus
stapedius, tendon yang berjalan keatas dan masuk kedalam stapes.
Diantara piramid dan anulus timpanikus adalah resesus fasialis.
Dibelakang dinding posterior kavum timpani adalah fosa kranii
posterior dan sinus sigmoid. Disebelah dalam dari piramid dan nervus

14

fasialis merupakan perluasan kearah posterior dari mesotimpani adalah


sinus timpani. Perluasan sel-sel udara kearah dinding posterior dapat
meluas seperti yang dilaporkan Anson dan Donaldson (1981), bahwa
apabila diukur dari ujung piramid, sinus dapat meluas sepanjang 9 mm
kearah tulang mastoid. Dinding medial dari sinus timpani kemudian
berlanjut ke bagian posterior dari dinding medial kavum timpani
dimana berhubungan dengan dua fenestra dan promontorium.
5. Dinding anterior
Dinding anterior kavum timpani agak sempit tempat bertemunya
dinding medial dan dinding lateral kavum timpani. Dinding anterior
bawah adalah lebih besar dari bagian atas dan terdiri dari lempeng
tulang yang tipis menutupi arteri karotis pada saat memasuki tulang
tengkorak dan sebelum berbelok ke anterior. Dinding ini ditembus oleh
saraf timpani karotis superior dan inferior yang membawa serabutserabut saraf simpatis kepleksus timpanikus dan oleh satu atau lebih
cabang timpani dari arteri karotis interna1. Dinding anterior ini
terutama berperan sebagai muara tuba eustachius. Tuba ini berhubungan
dengan

nasofaring

dan

mempunyai

dua

fungsi.

Pertama

menyeimbangkan tekanan membran timpani pada sisi sebelah dalam,


kedua sebagai drainase sekresi dari telinga tengah, termasuk sel-sel
udara mastoid. Diatas tuba terdapat sebeuah saluran yang berisi otot
tensor timpani. Dibawah tuba, dinding anterior biasanya tipis dimana
ini merupakan dinding posterior dari saluran karotis.

15

6. Dinding lateral
Dinding lateral kavum timpani adalah bagian tulang dan membran.
Bagian tulang berada diatas dan bawah membran timpani. Kavum
timpani dibagi menjadi 3 bagian yaitu :
a. Epitimpanum.
Berada dibagian atas membran timpani. Merupakan bagian superior
kavum timpani, disebut juga atik karena terletak diatas membran
timpani. sebagian besar atik diisi oleh maleus inkus. Dibagian superior
epitimpanum dibatasi oleh suatu penonjolan tipis os posterior. Dinding
medial atik dibentuk oleh kapsul atik yang ditandai oleh penonjolan
kanalis semisirkularis lateral. Pada bagian anterior terdapat ampula
kanalis superior, dan lebih anterior ada ganglion genikulatum, yang
merupakan tanda ujung anterior ruang atik. Dinding anterior terpisah
dari maleus oleh suatu ruang yang sempit, disini dapat dijumpai muara
sel-sel udara yang membuat pneumatisasi pangkal tulang pipi
(zygoma). Dinding lateral atik dibentuk oleh os skuama yang berlanjut
kearah lateral sebagai dinding liang telinga luar bagian tulang sebelah
atas. Diposterior, atik menyempit menjadi jalan masuk ke antrum
mastoid, yaitu aditus ad antrum.
b. Mesotimpanum
Terletak kearah medial dari membran timpani. Disebelah medial
dibatasi oleh kapsul otik, yang terletaknya lebih rendah dari pada
nervus fasialis pars timpani. Dinding anterior mesotimpani terdapat

16

orifisium timpani tuba eustachius pada bagian superior dan membentuk


bagian tulang dinding saluran karotis asendens pada bagian inferior.
Dinding ini biasanya mengalami pneumatisasi yang baik dan dapat
dijumpai bagian-bagian tulang lemah.
c. Hipotimpanum atau resesus hipotimpanikus
Terletak dibawah membrana timpani, berhubungan dengan bulbus
jugulare.
Kavum timpani terdiri dari :
1. Tulang-tulang pendengaran ( maleus, inkus, stapes).
2. Dua otot.
3. Saraf korda timpani.
4. Saraf pleksus timpanikus.
Tulang-tulang pendengaran terdiri dari :
1. Malleus ( hammer / martil).
2. Inkus ( anvil/landasan)
3. Stapes ( stirrup / pelana)
Malleus
Malleus adalah tulang yang paling besar diantara semua tulang-tulang
pendengaran dan terletak paling lateral, leher, prosesus brevis (lateral),
prosesus anterior, lengan (manubrium). panjangnya kira-kira 7,5 sampai
9,0 mm. Kepala terletak pada epitimpanum atau didalam rongga atik,
sedangkan leher terletak dibelakang pars flaksida membran timpani.
Manubrium terdapat didalam membran timpani, bertindak sebagai tempat

17

perlekatan serabut-serabut tunika propria. Ruang antara kepala dari maleus


dan membran Shrapnell dinamakan Ruang Prussak. Maleus ditahan oleh
ligamentum maleus anterior yang melekat ke tegmen dan juga oleh
ligamentum lateral yang terdapat diantara basis prosesus brevis dan
pinggir lekuk Rivinus.
Inkus
Inkus terdiri dari badan inkus ( corpus) dan 2 kaki yaitu : prosesus brevis
dan prosesus longus. Sudut antara prosesus brevis dan longus membentuk
sudut lebih kurang 100 derajat. Inkus berukuran 4,8 mm x 5,5 mm pada
pinggir dari corpus, prosesus longus panjangnya 4,3 mm-5,5 mm. Inkus
terletak pada epitimpanum, dimana prosesus brevis menuju antrum,
prosesus longus jalannya sejajar dengan manubrium dan menuju ke
bawah. Ujung prosesus longus membengkok kemedial merupakan suatu
prosesus yaitu prosesus lentikularis. Prosesus ini berhubungan dengan
kepala dari stapes. Maleus dan inkus bekerja sebagai satu unit,
memberikan respon rotasi terhadap gerakan membran timpani melalui
suatu aksis yang merupakan suatu garis antara ligamentum maleus anterior
dan ligamentum inkus pada ujung prosesus brevis. Gerakan-gerakan
tersebut tetap dipelihara berkesinambungan oleh inkudomaleus. Gerakan
rotasi tersebut diubah menjadi gerakan seperti piston pada stapes melalui
sendi inkudostapedius.

18

Stapes
Merupakan tulang pendengaran yang teringan, bentuknya seperti
sanggurdi beratnya hanya 2,5 mg, tingginya 4mm-4,5 mm. Stapes terdiri
dari kepala, leher, krura anterior dan posterior dan telapak kaki ( foot
plate), yang melekat pada foramen ovale dengan perantara ligamentum
anulare. Tendon stapedius berinsersi pada suatu penonjolan kecil pada
permukaan posterior dari leher stapes. Kedua krura terdapat pada bagian
leher bawah yang lebar dan krura anterior lebih tipis dan kurang
melengkung dari pada posterior. Kedua berhubungan dengan foot plate
yang biasanya mempunyai tepi superior yang melengkung, hampir lurus
pada tepi posterior dan melengkung di anterior dan ujung posterior.
panjang foot plat e 3 mm dan lebarnya 1,4 mm, dan terletak pada fenestra
vestibuli dimana ini melekat pada tepi tulang dari kapsul labirin oleh
ligamentum anulare Tinggi stapes kira-kira 3,25 mm
Otot-otot pada kavum timpani.
Terdiri dari : otot tensor timpani (muskulus tensor timpani) dan otot
stapedius (muskulus stapedius) Otot tensor timpani adalah otot kecil
panjang yang berada 12 mm diatas tuba eustachius. Otot ini melekat pada
dinding semikanal tensor timpani. Kanal ini terletak diatas liang telinga
bagian tulang dan terbuka kearah liang telinga sehingga disebut semikanal.
Serabut -serabut otot bergabung dan menjadi tendon pada ujung
timpanisemikanal yang ditandai oleh prosesus kohleoform. Prosesus ini
membuat tendon tersebut membelok kearah lateral kedalam telinga tengah.

19

Tendon berinsersi pada bagian atas leher maleus. Muskulus tensor timpani
disarafi oleh cabang saraf kranial ke 5. kerja otot ini menyebabkan
membran timpani tertarik kearah dalam sehingga menjadi lebih tegang dan
meningkatkan frekuensi resonansi sistem penghantar suara serta
melemahkan suara dengan freksuensi rendah. Otot stapedius adalah otot
yang relatif pendek. Bermula dari dalam kanalnya didalam eminensia
piramid, serabut ototnya melekat ke perios kanal tersebut. Serabutserabutnya bergabung membentuk tendon stapedius yang berinsersi pada
apek posterior leher stapes. M. Stapedius disarafi oleh salah satu cabang
saraf kranial ke 7 yang timbul ketika saraf tersebut melewati m. stapedius
tersebut pada perputarannya yang kedua. Kerja m.stapedius menarik stapes
ke posterior mengelilingi suatu pasak pada tepi posterior basis stapes.
Keadaan ini stapes kaku, memperlemah transmisi suara dan meningkatkan
frekuensi resonansi tulang-tulang pendengaran.
Saraf Korda timpani
Merupakan cabang dari nervus fasialis masuk ke kavum timpani dari
kanalikulus posterior yang menghubungkan dinding lateral dan posterior.
Korda timpani memasuki telinga tengah bawah pinggir posterosuperior
sulkus timpani dan berjalan keatas depan lateral keprosesus longus dari
inkus dan kemudian ke bagian bawah leher maleus tepatnya diperlekatan
tendon tensor timpani. Setelah berjalan kearah medial menuju ligamentum
maleus anterior, saraf ini keluar melalui fisura petrotimpani. Korda
timpani

juga

mengandung

jaringan

sekresi

parasimpatetik

yang

20

berhubungan dengan kelenjar ludah sublingual dan submandibula melalui


ganglion submandibular. Korda timpani memberikan serabut perasa pada
2/3 depan lidah bagian anterior.
Pleksus timpanikus
Adalah berasal dari n. timpani cabang dari nervus glosofaringeus dan
dengan nervus karotikotimpani yang berasal dari pleksus simpatetik
disekitar arteri karotis interna. Saraf dari pleksus ini dan kemudian
berlanjut pada :
1. Cabang-cabang pada membrana mukosa yamg melapisi kavum
timpani, tuba eustachius, antrum mastiod dan sel-sel mastoid.
2. Sebuah cabang yang berhubungan dengan nervus petrosus
superfisial mayor.
3. Pada nervus petrosus superfisial minor, yang mengandung serabutserabut parasimpatis dari N. IX. Saraf ini meninggalkan telinga
tengah melalui suatu saluran yang kecil dibawah m. tensor timpani
kemudian menerima serabut saraf parasimpatik dari N. VII dengan
melalui cabang dari ganglion genikulatum. Secara sempurna saraf
berjalan melalui tulang temporal, dilateral sampai nervus petrosus
superfisial mayor, diatas dasar fosa kranial media, diluar
durameter. Kemudian berjalan melalui foramen ovale dengan
nervus mandibula dan arteri meningeal assesori sampai ganglion
otik. Kadang-kadang saraf ini tidak berjalan pada foramen ovale
tetapi melalui foramen yang kecil sampai foramen spinosum.

21

Serabut post ganglion dari ganglion otik menyuplai serabut-serabut


sekremotor pada kelenjar parotis melalui nervus aurikulotempor

Saraf fasial
Meninggalkan fosa kranii posterior dan memasuki tulang temporal melalui
meatus akustikus internus bersamaan dengan N. VIII. Saraf fasial terutama
terdiri dari dua komponen yang berbeda, yaitu :
1. Saraf motorik untuk otot-otot yang berasal dari lengkung brankial
kedua (faringeal) yaitu otot ekspresi wajah, stilohioid, posterior belly
m. Digastrik dan m. stapedius.
2. Saraf intermedius yang terdiri dari saraf sensori dan sekretomotor
parasimpatetis preganglionik yang menuju ke semua glandula wajah
kecuali parotis. Saraf kranial VII mencapai dinding medial kavum
timpani melalui auditori meatus diatas vestibula labirin tulang.
Kemudian membelok kearah posterior dalam tulang diatas feromen
ovale terus ke dinding posterior kavum timpani. Belokan kedua terjadi
dinding posterior mengarah ke tulang petrosa melewati kanal fasial
keluar dari dasar tengkorak melewati foramen stilomastoidea. Pada
belokan pertama di dinding medial dari kavum timpani terdapat
ganglion genikulatum, yang mengandung sel unipolar palsu. Sel ini
adalah bagian dari jaringan perasa dari 2/3 lidah dan palatum. Saraf
petrosa superfisial yang besar bercabang dari saraf kranial VII pada
ganglion genikulatum, masuk ke dinding anterior kavum timpani, terus
ke fosa kranial tengah. Saraf ini mengandung jaringan perasa dari

22

palatum dan jaringan sekremotor dari glandula atap rongga mulut,


kavum nasi dan orbita. Bagian lain dari saraf kranial VII membentuk
percabangan motor ke otot stapedius dan korda timpani. Korda timpani
keluar ke fosa intra temporal melalui handle malleus, bergerak secara
vertikal ke inkus dan terus ke fisura petrotimpanik. Korda timpani
mengandung jaringan perasa dari 2/3 anterior lidah dan jaringan
sekretorimotor dari ganglion submandibula. Sel jaringan perasanya
terdapat di ganglion genikulatum.
Perdarahan Kavum Timpani
Pembuluh-pembuluh darah yang memberikan vaskularis asi kavum
timpani adalah arteri-arteri kecil yang melewati tulang yang tebal.
Sebagian besar pembuluh darah yang menuju kavum timpani berasal dari
cabang arteri karotis eksterna. Pada daerah anterior mendapat vaskularisasi
dari a. timpanika anterior, yang merupakan cabang dari a. maksilaris
interna yang masuk ke telinga tengah melalui fisura petrotimpanika. Pada
daerah posterior mendapat vaskularisasi dari a. timpanika psoterior, yang
merupakan cabang dari a. mastoidea yaitu a. stilomastoidea. Pada daerah
superior mendapat perdarahan dari cabang a. meningea media juga a.
petrosa superior, a. timpanika superior dan ramus inkudomalei. Pembuluh
vena kavum timpani berjalan bersama-sama dengan pembuluh arteri
menuju pleksus venosus pterigoid atau sinus petrosus superior. Pembuluh
getah bening kavum timpani masuk ke dalam pembuluh getah bening
retrofaring atau ke nodulus limfatikus parotis.

23

Tuba Eustachius
Tuba eustachius disebut juga tuba auditory atau tuba faringotimpani.
bentuknya seperti huruf S. Tuba ini merupakan saluran yang
menghubungkan kavum timpani dengan nasofaring. Pada orang dewasa
panjang tuba sekitar 36 mm berjalan ke bawah, depan dan medial dari
telinga tengah 13 dan pada anak dibawah 9 bulan adalah 17,5 mm. Tuba
terdiri dari 2 bagian yaitu :
1. Bagian tulang terdapat pada bagian belakang dan pendek (1/3 bagian).
2. Bagian tulang rawan terdapat pada bagian depan dan panjang (2/3
bagian).
Fungsi tuba eustachius sebagai ventilasi telinga yaitu mempertahankan
keseimbangan tekanan udara didalam kavum timpani dengan tekanan
udara luar, drenase sekret dari kavum timpani ke nasofaring dan
menghalangi masuknya sekret dari nasofaring ke kavum timpani.
Prosesus Mastoideus
Rongga mastoid berbentuk seperti bersisi tiga dengan puncak mengarah ke
kaudal. Atap mastoid adalah fosa kranii media. Dinding medial adalah
dinding lateral fosa kranii posterior. Sinus sigmoid terletak dibawah
duramater pada daerah ini. Pada dinding anterior mastoid terdapat aditus
ad antrum. Aditus antrum mastoid adalah suatu pintu yang besar iregular
berasal dari epitispanum posterior menuju rongga antrum yang berisi
udara, sering disebut sebagai aditus ad antrum. Dinding medial merupakan

24

penonjolan dari kanalis semisirkularis lateral. Dibawah dan sedikit ke


medial dari promontorium terdapat kanalis bagian tulang dari n. fasialis.
Prosesus brevis inkus sangat berdekatan dengan kedua struktur ini dan
jarak rata-rata diantara organ : n. VII ke kanalis semisirkularis 1,77 mm;
n.VII ke prosesus brevis inkus 2,36 mm : dan prosesus brevis inkus ke
kanalis semisirkularis 1,25 mm. Antrum mastoid adalah sinus yang berisi
udara didalam pars petrosa tulang temporal. Berhubungan dengan telinga
tengah melalui aditus dan mempunyai sel-sel udara mastoid yang berasal
dari dinding-dindingnya. Antrum sudah berkembang baik pada saat lahir
dan pada dewasa mempunyai volume 1 ml, panjang dari depan kebelakang
sekitar 14 mm, daria atas kebawah 9mm dan dari sisi lateral ke medial 7
mm. Dinding medial dari antrum berhubungan dengan kanalis
semisirkularis posterior dan lebih ke dalam dan inferiornya terletak sakus
endolimfatikus dan dura dari fosa kranii posterior. Atapnya membentuk
bagian dati lantai fosa kranii media dan memisahkan antrum dengan otak
lobus temporalis. Dinding posterior terutama dibentuk oleh tulang yang
menutupi sinus. Dinding lateral merupakan bagian dari pars skumosa
tulang temporal dan meningkat ketebalannya selama hidup dari sekitar 2
mm pada saat lahir hingga 12-15 mm pada dewasa. Dinding lateral pada
orang dewasa berhubungan dengan trigonum suprameatal ( Macewens)
pada permukaan luar tengkorak. Lantai antrum mastoid berhubungan
dengan otot digastrik dilateral dan sinus sigmoid di medial, meskipun pada
aerasi tulang mastoid yang jelek, struktur ini bisa berjarak 1 cm dari

25

dinding antrum inferior. Dinding anterior antrum memiliki aditus pada


bagian atas, sedangkan bagian bawah dilalui n.fasialis dalam perjalanan
menuju ke foramen stilomastoid. Prosesus mastoid sangat penting untuk
sistem pneumatisasi telinga. Pneumatisasi didefinisikan sebagai suatu
proses pembentukan atau perkembangan rongga-rongga udara didalam
tulang temporal, dan sel-sel udara yang terdapat didalam mastoid adalah
sebagian dari sistem pneumatisasi yang meliputi banyak bagian dari tulang
temporal. Sel-sel prosesus mastoid yang mengandung udara berhubungan
dengan udara didalam telinga tengah. Bila prosesus mastoid tetap berisi
tulang-tulang kompakta dikatakan sebagai pneumatisasi jelek dan sel-sel
yang berpneumatisasi terbatas pada daerah sekitar antrum. Prosesus
mastoid berkembang setelah lahir sebagai tuberositas kecil yang
berpneumatisasi secara sinkron dengan pertumbuhan antrum mastoid.
Pada tahun pertama kehidupan prosesus ini terdiri dari tulang-tulang
seperti spon sehingga mastoiditis murni tidak dapat terjadi. Diantara usia 2
dan 5 tahun pada saat terjad i pneumatisasi prosesus terdiri atas campuran
tulang-tulang spon dan pneumatik. Pneumatisasi sempurna terjadi antara
usia 6 12 tahun. Luasnya pneumatisasi tergantung faktor herediter
konstitusional dan faktor peradangan pada waktu umur muda. Bila ada
sifat biologis mukosa tidak baik maka daya pneumatisasi hilang atau
kurang. Ini juga terjadi bila ada radang pada telinga yang tidak
menyembuh. Maka nanti dapat dilihat pneumatisasi yang terhenti
(pneumatisationshemung arrested pneumatisation) atau pneumatisasi yang

26

tidak ada sama sekali (teori dari Wittmack). Menurut derajatnya,


pneumatisasi prosesus mastoideus ini dapat dibagi atas :
1. Proesesus Mastoideus Kompakta ( sklerotik), diomana tidak ditemui
sel-sel.
2. Prosesus Mastoideus Spongiosa, dimana terdapat sel-sel kecil saja.
3. Prosesus Mastoideus dengan pneumatisasi yang luas, dimana sel-sel
disini besar. Sellulae mastoideus seluruhnya berhubungan dengan kavum
timpani. Dekat antrum sel-selnya kecil tambah keperifer sel-selnya
bertambah besar. Oleh karena itu bila ada radang pada sel-sel mastoid,
drainase tidak begitu baik hingga mudah terjadi radang pada mastoid
(mastoiditis). Menurut tempatnya sel-sel ini dapat dibedakan :
1. Terminal

5. Zygomatic

2. Perisinus

6. Facial

3. Sudut petrosal

7. Periantral

4. Sub dural

8. Perilabirinter

3. Telinga dalam
Telinga dalam terdiri dari labirin osea (labirin tulang), sebuah rangkaian
rongga pada tulang pelipis yang dilapisi periosteum yang berisi cairan
perilimfe & labirin membranasea, yang terletak lebih dalam dan memiliki
cairan endolimfe. Di depan labirin terdapat koklea atau rumah siput.
Penampang melintang koklea trdiri aras tiga bagian yaitu skala vestibuli,
skala media, dan skala timpani. Bagian dasar dari skala vestibuli
berhubungan dengan tulang sanggurdi melalui jendela berselaput yang

27

disebut tingkap oval, sedangkan skala timpani berhubungan dengan telinga


tengah melalui tingkap bulat. Bagian atas skala media dibatasi oleh
membran vestibularis atau membran Reissner dan sebelah bawah dibatasi
oleh membran basilaris. Di atas membran basilaris terdapat organo corti
yang berfungsi mengubah getaran suara menjadi impuls. Organo corti
terdiri dari sel rambut dan sel penyokong. Di atas sel rambut terdapat
membran tektorial yang terdiri dari gelatin yang lentur, sedangkan sel
rambut

akan

dihubungkan

dengan

bagian

otak

dengan

saraf

vestibulokoklearis.

3.2.Definisi
Radang telinga tengah menahun atau otitis media supuratif kronik
(OMSK) atau yang biasa disebut congek adalah radang kronis telinga tengah
dengan adanya lubang (perforasi) pada gendang telinga (membran timpani) dan
riwayat keluarnya cairan (sekret) dari telinga (otorea) lebih dari 2 bulan, baik terus
menerus atau hilang timbul. Sekret mungkin serous, mukous atau purulen. OMSK
merupakan lanjutan dari episode initial otitis media akut (OMA) yang ditandai
dengan adanya sekret persisten dari telinga tengah melalui perforasi membran
timpani. 5

3.3.Prevalensi
Insiden OMSK ini bervariasi pada setiap negara. Secara umum, insiden
OMSK dipengaruhi oleh ras dan faktor sosioekonomi. Misalnya, OMSK lebih

28

sering dijumpai pada orang Eskimo dan Indian Amerika, anak-anak aborigin
Australia dan orang kulit hitam di Afrika Selatan.3
Walaupun demikian, lebih dari 90% beban dunia akibat OMSK ini dipikul
oleh negara-negara di Asia Tenggara, daerah Pasifik Barat, Afrika, dan beberapa
daerah minoritas di Pasifik. Kehidupan sosial ekonomi yang rendah, lingkungan
kumuh dan status kesehatan serta gizi yang jelek merupakan faktor yang menjadi
dasar untuk meningkatnya prevalensi OMSK pada negara yang sedang
berkembang. Survei prevalensi di seluruh dunia, yang walaupun masih bervariasi
dalam hal definisi penyakit, metode sampling serta mutu metodologi,
menunjukkan beban dunia akibat OMSK melibatkan 65330 juta orang dengan
telinga berair, 60% di antaranya (39200 juta) menderita kurang pendengaran
yang signifikan. Secara umum, prevalensi OMSK di Indonesia adalah 3,8% dan
pasien OMSK merupakan 25% dari pasien-pasien yang berobat di poliklinik THT
rumah sakit di Indonesia.3
Dari survei pada 7 propinsi di Indonesia pada tahun 1996 ditemukan
insiden OMSK sebesar 3% dari penduduk Indonesia. Dengan kata lain dari 220
juta penduduk Indonesia diperkirakan terdapat 6,6 juta penderita OMSK. Jumlah
penderita ini kecil kemungkinan untuk berkurang bahkan mungkin bertambah
setiap tahunnya mengingat kondisi ekonomi masih buruk, kesadaran masyarakat
akan kesehatan yang masih rendah dan sering tidak tuntasnya pengobatan yang
dilakukan. (7)
3.4.Etiologi
Penyebab OMSK antara lain : 8

29

1. Lingkungan
2. Genetik
3. Otitis media sebelumnya.
4. Infeksi
5. Infeksi saluran nafas atas
6. Autoimun
7. Alergi
8. Gangguan fungsi tuba eustachius.
Beberapa faktor-faktor yang menyebabkan perforasi membran timpani
menetap pada OMSK : 8

Infeksi yang menetap pada telinga tengah mastoid yang mengakibatkan

produksi sekret telinga purulen berlanjut.


Berlanjutnya obstruksi tuba eustachius yang mengurangi penutupan

spontan pada perforasi.


Beberapa perforasi yang besar mengalami penutupan spontan melalui

mekanisme migrasi epitel.


Pada pinggir perforasi dari

epitel

skuamous

dapat

mengalami

pertumbuhan yang cepat diatas sisi medial dari membran timpani. Proses
ini juga mencegah penutupan spontan dari perforasi.
Faktor-faktor yang menyebabkan penyakit infeksi telinga tengah supuratif
menjadi kronis majemuk, antara lain : 10
1. Gangguan fungsi tuba eustachius yang kronis atau berulang :
a. Infeksi hidung dan tenggorok yang kronis atau berulang.
b. Obstruksi anatomik tuba Eustachius parsial atau total
2. Perforasi membran timpani yang menetap.
3. Terjadinya metaplasia skumosa atau perubahan patologik menetap lainya
pada telinga tengah.
30

4. Obstruksi menetap terhadap aerasi telinga atau rongga mastoid.


5. Terdapat daerah-daerah dengan sekuester atau osteomielitis persisten di
mastoid.
6. Faktor-faktor konstitusi dasar seperti alergi, kelemahan umum atau
perubahan mekanisme pertahanan tubuh.
Mikroorganisme

yang

paling

sering

menyebabkan

OMSK

ialah

Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus, Proteus mirabilis, Klebsiella


pneumoniae, Escherichia coli, Aspergillus spp dan Candida spp. Sehingga
diperlukan terapi antibiotika untuk meeradikasi mikroorganisme penyebab OMSK
tersebut. Namun harus dipikirkan adanya resistensi bakteri terhadap antibiotika
yang seiring waktu meningkat teruatama di negara berkembang. Berdasarkan hasil
penelitian oleh Mansoor dkk yag mengidentifikasi bakteri yang terdapat di
discharge dari liang telinga penderita OMSK didapatkan hasil sebagai berikut : 10

Tabel 1. Bakteri pada penderita OMSK

3.5.Patogenensis
Banyak penelitian pada hewan percobaan dan preparat tulang temporal
menemukan bahwa adanya disfungsi tuba Eustachius, yaitu suatu saluran yang
menghubungkan rongga di belakang hidung (nasofaring) dengan telinga tengah

31

(kavum timpani), merupakan penyebab utama terjadinya radang telinga tengah ini
(otitis media, OM). 5
Pada keadaan normal, muara tuba Eustachius berada dalam keadaan
tertutup dan akan membuka bila kita menelan. Tuba Eustachius ini berfungsi
untuk menyeimbangkan tekanan udara telinga tengah dengan tekanan udara luar
(tekanan udara atmosfer). Fungsi tuba yang belum sempurna, tuba yang pendek,
penampang relatif besar pada anak dan posisi tuba yang datar menjelaskan
mengapa suatu infeksi saluran nafas atas pada anak akan lebih mudah menjalar ke
telinga tengah sehingga lebih sering menimbulkan OM daripada dewasa. 5
Pada anak dengan infeksi saluran nafas atas, bakteri menyebar dari
nasofaring melalui tuba Eustachius ke telinga tengah yang menyebabkan
terjadinya infeksi dari telinga tengah. Pada saat ini terjadi respons imun di telinga
tengah. Mediator peradangan pada telinga tengah yang dihasilkan oleh sel-sel
imun infiltrat, seperti netrofil, monosit, dan leukosit serta sel lokal seperti
keratinosit dan sel mastosit akibat proses infeksi tersebut akan menambah
permeabilitas pembuluh darah dan menambah pengeluaran sekret di telinga
tengah. Selain itu, adanya peningkatan beberapa kadar sitokin kemotaktik yang
dihasilkan mukosa telinga tengah karena stimulasi bakteri menyebabkan
terjadinya akumulasi sel-sel peradangan pada telinga tengah.(5)
Mukosa telinga tengah mengalami hiperplasia, mukosa berubah bentuk
dari satu lapisan, epitel skuamosa sederhana, menjadi pseudostratified respiratory
epithelium dengan banyak lapisan sel di antara sel tambahan tersebut. Epitel
respirasi ini mempunyai sel goblet dan sel yang bersilia, mempunyai stroma yang

32

banyak serta pembuluh darah. Penyembuhan OM ditandai dengan hilangnya selsel tambahan tersebut dan kembali ke bentuk lapisan epitel sederhana. 5
Terjadinya OMSK disebabkan oleh keadaan mukosa telinga tengah yang
tidak normal atau tidak kembali normal setelah proses peradangan akut telinga
tengah, keadaan tuba Eustachius yang tertutup dan adanya penyakit telinga pada
waktu bayi. 5
3.6.Klasifikasi
OMSK ini dibagi atas 2 tipe, yaitu:
1. Tipe tubotimpanal.
Tipe tubotimpanal disebut juga sebagai tipe jinak (benigna) dengan
perforasi yang letaknya sentral. Biasanya tipe ini didahului dengan
gangguan fungsi tuba yang menyebabkan kelainan di kavum timpani. Tipe
ini disebut juga dengan tipe mukosa karena proses peradangannya
biasanya hanya pada mukosa telinga tengah, dan disebut juga tipe aman
karena tidak menimbulkan komplikasi yang berbahaya.
2. Tipe atikoantral
Beberapa nama lain digunakan untuk tipe ini OMSK tipe tulang karena
penyakit menyebabkan erosi tulang, tipe bahaya ataupun sering disebut
sebagai chronic supurative otitis media with cholesteatoma. Perforasi
membran timpani yang terjadi pada tipe ini biasanya perforasi yang
marginal yang dihasilkan dari suatu kantong retraksi dan muncul di pars
plasida, merupakan perforasi yang menyebabkan tidak ada sisa pinggir
membran timpani (anulus timpanikus). Oleh sebab itu dinding bagian
tulang dari liang telinga luar, atik, antrum, dan sel-sel mastoid dapat

33

terlibat dalam proses inflamasi sehingga tipe ini disebut penyakit


atikoantral. 5
Kolesteatoma pada OMSK tipe atikoantral adalah suatu kantong retraksi
yang dibatasi oleh epitel sel skuamosa yang diisi dengan debris keratin yang
muncul dalam ruang yang berpneumatisasi dari tulang temporal. Kolesteatoma
mempunyai kemampuan untuk tumbuh, mendestruksi tulang, dan menyebabkan
infeksi kronik sehingga suatu otitis media kronik dengan kolesteatoma sering
dikatakan sebagai penyakit yang tidak aman dan secara umum memerlukan
penatalaksanaan bedah. 5
3.7.Diagnosis
Diagnosis OMSK ditegakan dengan cara: 5,11
1. Anamnesis (history-taking)
Penyakit telinga kronis ini biasanya terjadi perlahan-lahan dan penderita
seringkali datang dengan gejala-gejala penyakit yang sudah lengkap.
Gejala yang paling sering dijumpai adalah telinga berair, adanya sekret di
liang telinga yang pada tipe tubotimpanal sekretnya lebih banyak dan
seperti berbenang (mukous), tidak berbau busuk dan intermiten, sedangkan
pada tipe atikoantral, sekretnya lebih sedikit, berbau busuk, kadangkala
disertai pembentukan jaringan granulasi atau polip, maka sekret yang
keluar dapat bercampur darah. Ada kalanya penderita datang dengan
keluhan kurang pendengaran atau telinga keluar darah. OMSK lebih sering
terjadi pada infants dan anak-anak (60%).
Dari penelitian Alabbasi juga didapatkan gejala klinik yang ditemukan
yaitu :

34

2. Pemeriksaan otoskopi
Pemeriksaan otoskopi akan menunjukan adanya dan letak perforasi. Dari
perforasi dapat dinilai kondisi mukosa telinga tengah.
3. Pemeriksaan audiologi
Evaluasi audiometri, pembuatan audiogram nada murni untuk menilai
hantaran tulang dan udara, penting untuk mengevaluasi tingkat penurunan
pendengaran dan untuk menentukan gap udara dan tulang. Audiometri
tutur berguna untuk menilai speech reception threshold pada kasus
dengan tujuan untuk memperbaiki pendengaran.
4. Pemeriksaan radiologi
Radiologi konvensional, foto polos radiologi, posisi Schller berguna
untuk menilai kasus kolesteatoma, sedangkan pemeriksaan CT scan dapat
lebih efektif menunjukkan anatomi tulang temporal dan kolesteatoma.
3.8.Komplikasi
Komplikasi OMSK dapat dibagi atas: 5
1. Komplikasi intratemporal (komplikasi ekstrakranial) terdiri dari parese n.
Fasial dan labirinitis.
2. Komplikasi ekstratemporal (komplikasi intrakranial) terdiri dari abses
ekstradural, abses subdural, tromboflebitis sinus lateral, meningitis, abses
otak, hidrosefalus otitis.
Pada OMSK ini walaupun telinga berair sudah bertahun-tahun lamanya
telinga tidak merasa sakit, apabila didapati telinga terasa sakit disertai demam,
sakit kepala hebat dan kejang menandakan telah terjadi komplikasi ke intrakranial.
35

3.9.Penatalaksanaan
Penatalaksanaan OMSK tidak jarang memerlukan waktu lama, serta harus
berulang-ulang. Pada dasarnya penatalaksanaan pada OMSK tergantung dari
tipenya. Pada tipe aman atau benign pada prinsipnya adalah terpai konservatif
atau medikamentosa. Sedangkan pada tipe ganas atau malignan prinsipnya ialah
pembedahan. Bila terdapat abses subperiosteal retroaurikuler, maka insisi abses
sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum pembedahan.
3.9.1. Penatalaksanaan Medis
Prinsip mendasar penatalaksanaan medis pada OMSK adalah: 5
1. Aural toilet, yaitu pembersihan telinga dari sekret.
2. Terapi antimikroba topikal, yaitu pemberian tetes telinga antibiotik topikal.
3.9.2. Penatalaksanaan Bedah
Penatalaksanaan

bedah

dari

OMSK

adalah

secara

operasi

mastoidektomi,yang terdiri dari: (5)


1. Mastoidektomi sederhana
Bertujuan untuk mengevakuasi penyakit yang hanya terbatas pada rongga
mastoid.
2. Mastoidektomi radikal
Bertujuan untuk mengeradikasi seluruh penyakit di mastoid dan telinga
tengah, di mana rongga mastoid, telinga tengah, dan liang telinga luar
digabungkan menjadi satu ruangan sehingga drainase mudah.
3. Untuk kasus-kasus yang akan dilakukan perbaikan fungsi pendengaran
dilakukan timpanoplasti.
3.10.
Kekurangan pendengaran
Kekurangan Pendengaran sering menyertai OMSK. Kekurangan yang
terjadi biasanya bersifat tuli konduksi (conductive hearing loss) derajat ringan
hingga menengah (sekitar 3060 dB). Kekurangan pendengaran ini
merupakan akibat dari perforasi membrana timpani dan putusnya rantai
36

tulang pendengaran pada telinga tengah karena proses osteomielitis sehingga


suara yang masuk ke telinga tengah langsung menuju tingkap oval (foramen
ovale). Kekurangan pendengaran derajat yang lebih tinggi lagi dapat terjadi
bila proses infeksi melibatkan koklea atau saraf pendengaran. Penelitian di
beberapa negara oleh WHO, 2004, menunjukkan kekurangan pendengaran
terjadi pada 50% penderita OMSK dan secara keseluruhan tidak kurang dari
164 juta kasus dengan kekurangan pendengaran merupakan akibat dari
OMSK dan sekitar 90% kejadian ini terjadi pada negara yang sedang
berkembang.5

37

BAB IV
PEMBAHASAN
Pada kasus ini diagnosis otitis media supuratifditegakkan berdasarkan
anamnesis gejala klinis dan pemeriksaan fisik pasien. Berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan fisik, pasien didiagnosis menderita OMSK tipe malignansi. Dari
anamnesa, pasien mengeluhkan keluarnya cairan dari telinga kanan terus menerus,
dimana sekret awalnya berwarna putih, encer dan tidak berbau, kemudian berubah
menjadi agak kental, kekuningan, dan berbau selama kurang lebih tiga bulan.
Sehingga pada pasien ini dapat didiagnosis OMSK.
Pada pasien OMSK dapat terjadi gangguan pendengaran. Penurunan
pendengaran tergantung dari derajat kerusakan tulang-tulang pendengaran yang
terjadi. Biasanya dijumpai tuli konduktif, namun dapat pula terjadi tuli persepsi
yaitu bila telah terjadi invasi ke labirin, atau tuli campuran. Gangguan
pendengaran mungkin ringan sekalipun proses patologi sangat hebat, karena
daerah yang sakit ataupun kolesteatom, dapat menghambat bunyi sampai dengan
efektif ke fenestra ovalis. Beratnya ketulian tergantung dari besar dan letak
perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas sistim pengantaran suara
ke telinga tengah.
Prinsip pengobatan pasien OMSK maligna adalah pembedahan, yaitu
mastoidektomi. Pembedahan bertujuan untuk menghentikan infeksi secara
permanen, memperbaiki membran timpani yang perforasi, mencegah terjadinya
komplikasi atau kerusakan pendengaran yang lebih berat serta memperbaiki
pendengaran. Namun tujuan utama dari terapi ini adalah mencegah terjadinya
kematian akibat komplikasi yang berat. Terapi konservatif dengan medikamentosa
hanyalah merupakan terapi sementara seblum dilakukan pembedahan. Pada pasien
ini diberikan terapi medikamentosa yaitu antibiotika.
DAFTAR PUSTAKA
38

1. Djaafar ZA. Kelainan telinga tengah. Dalam: Soepardi EA, Iskandar N,


Ed. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher. Edisi
kelima. Jakarta: FKUI, 2001.
2. Adams FL, Boies LR, Higler PA. Buku Ajar Penyakit THT. 6th ed.
Jakarta; Balai Penerbit FKUI; 1997
3. Helmi. Komplikasi otitis media supuratif kronis dan mastoiditis. Dalam:
Soepardi EA, Iskandar N, Ed. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung
tenggorok kepala leher. Edisi kelima. Jakarta: FKUI, 2001.
4. Paparella MM, Adams GL, Levine SC. Penyakit telinga tengah
dan

mastoid. Dalam: Effendi H, Santoso K, Ed. BOIES buku ajar

penyakit THT. Edisi 6. Jakarta: EGC, 1997.


5. Berman S. Otitis media in developing countries. Pediatrics. July 2006.
Available from URL: http://www.pediatrics.org/
6. Thapa N, Shirastav RP. Intrakranial complication of chronic suppuratif
otitis media, attico-antral type: experience at TUTH. J Neuroscience.
2004; 1: 36-39 Available from URL: http://www.jneuro.org/
7. Dugdale AE. Management of chronic suppurative otitis media. Medical
Journal of Australia. 2004. Available from URL: http://www.mja.com.au/
8. Vesterager V. Fortnightly
review:
tinnitusinvestigation
and
management. BMJ. 1997. available from URL: http://www.bmj.org/

39