Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Gastrointestinal stromal tumor (GIST) adalah tumor saluran cerna yang jarang, namun

merupakan tumor mesenkim primer saluran cerna tersering, dan khas untuk saluran cerna,
berasal dari pacemaker Interstitiel cell of Cajal (ICC). Gastrointestinal stromal tumor berperilaku
khas, biasanya dengan pemeriksaan imunohitokimia (IHK) mengekspresikan protein CD117(ckit), dan sering terdapat mutasi gen KIT ataupun gen Platelet-derived growth factor receptor
alpha (PDGFRA) yang mengkode reseptor tIrosin kinase sebanyak kira-kira 85% seperti yang
dilaporkan oleh Corless, dan kira-kira 90% oleh Miettinen. Istilah ini pertama kali diciptakan
oleh Mazur dan Clark, pada tahun 1983, dalam rangka untuk menggambarkan kelompok
heterogen gastrointestinal neoplasma non-epitel. Pada tahun 1998, Hirota melaporkan bahwa
GISTs terkandung mengaktifkan mutasi c-kit, yang memainkan peran sentral dalam patogenesis
nya CD117 merupakan suatu epitop reseptor tirosin kinase yang dapat ditemukan pada ICC,
Pada pemeriksaan imunohistokimia petanda CD117 ini, dapat dideteksi adanya antibodi Kit pada
suatu tumor saluran cerna yang mengidentifikasikan sel Cajal,7-8 dan memberikan hasil positif
pada sebagian besar GIST (95%). Teridentifikasinya sel Cajal menunjukkan bahwa tumor itu
merupakan suatu GIST.1,6
Sampai kira-kira tahun 2000 semua tumor nonepitelial saluran cerna disebut
gastrointestinal stromal tumor berasal dari otot polos, jaringan ikat, dan saraf; namun dengan
pemeriksaan IHK petanda CD117 dan CD34 yang umumnya positif. Tumor ini dapat dibedakan
dari tumor mesenkim lainnya. yang histogenesisnya berasal dari suatu sel mesenkim dan
diidentifikasikan berasal dari sel interstitial Cajal (ICC)5 atau sel stem/ stem-cell like
precursor/sel ICC berdiferensiasi.2,3
Sel interstisial Cajal adalah suatu jenis sel interstisial yang terdapat pada salurana cerna,
suatu pacemaker-like intermediet antara sistem saraf otonom saluran cerna dan sel otot polos,
normal merupakan bagian dari sistem saraf autonom usus, berfungsi sebagai pacemaker yang
mencetuskan kontraksi saluran cerna, mengontrrol motilitas dan fungsi saraf otonom saluran
cerna. Sel intertisil Cajal berlokasi di sekitar pleksus mienterik dan muskularis propria di
1

seluruh saluran cerma, dan dalam abdomen. Sel Interstisial Cajal atau stem-cell like precursor
dapat berdiferensiasi menjadi sel otot polos bila sinyal KIT terganggu. Sel interstisial Cajal
ditemukan oleh Ramon Cajal (Spanyol), dan istilah GIST diperkenalkan oleh Mazur dan Clark
pada tahun. 1983.3,5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.DEFINISI
GIST (Gastrointestinal Stromal Tumor) merupakan tumor mesenkim yang terdapat pada
gastrointestinal. GIST diduga berasal dari intersisial sel cajal (ICC) yang dalam keadaan normal
merupakan bagian dari sistem saraf otonom pada usus. Pada ICC ini, terdapat gen c-kit yang
meng-kode reseptor transmembran pada growth factor (stem-cell factor). Mutasi gen c-kit terjadi
pada bagian intraseluler yang berfungsi sebagai tyrosin kinase untuk mengaktivasi berbagai
enzim. Mutasi ini menyebabkan fungsi c-kit tidak tergantung pada aktivasi stem cell factor
sehingga terjadi pembelahan sel yang sangat cepat.9
Gastrointestinal stromal tumor (GIST) adalah tumor saluran cerna yang jarang, namun
merupakan tumor mesenkim primer saluran cerna tersering, dan khas untuk saluran cerna,
berasal dari pacemaker Interstitiel cell of Caja l(ICC). Gastrointestinal stromal tumor berperilaku
khas, biasanya dengan pemeriksaan imunohitokimia (IHK) mengekspresikan protein CD117(ckit), dan sering terdapat mutasi gen KIT ataupun gen Platelet-derived growth factor receptor
alpha (PDGFRA) yang mengkode reseptor tIrosin kinase sebanyak kira-kira 85% seperti yang
dilaporkan oleh Corless, dan kira-kira 90% oleh Miettinen. Istilah ini pertama kali diciptakan
oleh Mazur dan Clark, pada tahun 1983, dalam rangka untuk menggambarkan kelompok
heterogen gastrointestinal neoplasma non-epitel. Pada tahun 1998, Hirota melaporkan bahwa
GISTs terkandung mengaktifkan mutasi c-kit, yang memainkan peran sentral dalam patogenesis
nya CD117 merupakan suatu epitop reseptor tirosin kinase yang dapat ditemukan pada ICC,
Pada pemeriksaan imunohistokimia petanda CD117 ini, dapat dideteksi adanya antibodi Kit pada
suatu tumor saluran cerna yang mengidentifikasikan sel Cajal,7-8 dan memberikan hasil positif
pada sebagian besar GIST (95%). Teridentifikasinya sel Cajal menunjukkan bahwa tumor itu
merupakan suatu GIST.1,6
2.2.EPIDEMIOLOGI
Epidemiologi GIST belum diketahui dengan pasti. Hasil study epidemiologi terbaru
menyebutkan prevalensi GIST diperkirakan sekitar 20-40 kasus per satu juta penduduk setiap
tahunnya. Pada study retrospektif di Swedia oleh Kindblom et al dan Nilsson et al menyebutkan
sekitar 14,5 16 kasus per satu juta penduduk baik pada kasus tumor benigna maupun yang
3

berpotensi untuk terjadinya malignansi. Sedangkan di Iceland sekitar 11 per satu juta penduduk
dan di Belanda sekitar 12,7 kasus per satu juta penduduk. Di Amerika Serikat, terdapat sekitar
5000 kasus baru tiap tahunnya dan diperkirakan 15-20 kasus per satu juta penduduk. Angka
kejadian GIST sendiri di Indonesia masih belum diketahui. Sulit untuk menentukan angka pasti
dari insidensi GIST karena definisi dan klasifikasinya yang tidak lengkap.8,1
Sekitar 90% dari penderita GIST merupakan usia dewasa (40 tahun keatas) dengan ratarata usia 63 tahun. GIST sendiri dapat terjadi pada semua umur termasuk anak-anak. Insidensi
GIST antara wanita dan laki-laki adalah sama, namun beberapa literatur menyebutkan GIST
predominan pada laki-laki. Tidak ada element yang mengindikasikan adanya hubungan GIST
dengan lokasi geografi, etnik, ras dan pekerjaan.9
2.3.ETIOLOGI
Penyebab pasti dari tumor ini belum dapat dipastikan, tetapi diduga berhubungan dengan
inflamatory bowel disease, terapi imunosupresif, infeksi human herpes virus 8 dan AIDS.8
GIST diduga berasal dari intersisial sel cajal (ICC) yang dalam keadaan normal
merupakan bagian dari sistem saraf otonom pada usus. Imunofenotipik CCD117 positif diduga
berasal dari interstitial cells of Cajal (ICC). Hipotesis ini didukung oleh berbagai studi yang
menyebutkan bahwa bentuk embrionik dari myosin pada GIST mirip dengan bentuk embrionik
pada ICC. Fungsi dasar ICC yaitu sebagai pacemaker yang berfungsi untuk mengatur motilitas
dan peristaltik usus. Ekspresi KIT proto-oncogene diduga memiliki peran yang penting dalam
perkembangan ICC. KIT banyak di ekspresikan terutama pada germ cell, mast cell, beberapa cel
epitelial dan haematopoietic stem cells. Produk dari KIT proto-onchogen, KIT, merupakan salah
satu bagian dari kelompok reseptor tirosin kinase yang terkait erat dengan platelet-derived
growthz factor (PDGF), macrophage colony-stimulating factor (MCSF), dan FMS-like receptor
tyrosine kinase (FLT3) ligand. KIT merupakan reseptor transmembran dari growth factor yang
dikenal sebagai stem cell factor (SCF) atau mast cell growth factor. Secara struktural, KIT terdiri
dari domain ekstraseluler, transelluler segment dan domain intraseluler. Pengikatan ekstraseluler
domain oleh SCF pada reseptor KIT menyebabkan dimerasi molekul KIT yang diikuti dengan
aktivasi intracellular KIT kinase domain sehingga mengaktivasi sinyal cascade intrasel yang
mengatur proses proliferasi, adhesi dan diferensiasi.8
Aktivasi reseptor tirosin kinase KIT merupakan bagian integral dari perkembangan GIST.
Aktivasi ini melibatkan mutasi dalam c-kit gene. Sekitar 70% pada kasus GISTs terdapat mutasi
pada exon, yang mengkode domain juxtamembrane. Pada 15% kasus, didapatkan mutasi pada
exon 9 yang mengkode domain ekstraseluler yang melibatkan dimerasi. Pada kasus yang lebih
4

jarang, sekitar <10% terdapat mutasi pada exon 13 dan 17 yang mengkode split kinase domain
dan phosphotransferase domain. Mutasi tersebut mengaktivasi sinyal KIT, menyebabkan
gangguan pada proses fosforilasi dari sinyal jallur transduksi sehingga terjadi peningkatan
proloferasi sel.

Gambar Struktur reseptor tirosin kinase KIT

Gambar Mutasi KIT pada GIST

2.4.PATOGENESIS
Corless melaporkan bahwa kira-kira 95% GIST menunjukkan antigen CD117 positif.
Antigen CD117 merupakan suatu epitop Kit reseptor tyrosine kinase yang menunjukkan sel
Cajal, dan kira-kira 85% GIST mengandung mutasi onkogenik pada satu dari dua reseptor
5

tyrosine kinase yaitu Kit atau platelet-derived growth factor receptor alpha (PDGFRA).
Keaktifan reseptor tirosin kinase ini yang berperan paling penting dalam patogenesis GIST.
Aktifnya mutasi KIT dan PDGFRA menyebabkan terjadinya fosforilasi pada reseptor tyrosine
kinase yang menimbulkan sinyal reseptor terus-menerus dan mengaktifkan efektor selanjutnya.
Sebagai hasil akhir dari keaktifan ini berupa bertambahnya proliferasi sel dan berkurangnya
apoptosis, dan kemudian menjadi neoplasia, kemungkinan selanjutnya terbentuk gen baru yang
tidak dikenal. Selain mutasi reseptor tirosine kinase, ditemukan perubahan genetik lain pada
GIST, antara lain hilangnya gen yang berpotensi menekan tumor(tumor suppressor gene) yang
sering terjadi awal, dan mungkin juga merupakan patogenesis yang penting.11
CD117 dapat pula memberikan reaksi positif lemah pada neoplasma mesenkim
lainnya, dan pada sel mast.11,12
Predileksi tempat:
Gastrointestinal stromal tumor dapat terjadi pada seluruh saluran cerna,namun tersering
pada lambung atau usus halus. Menurut data The American joint Committee on Cancer, Cancer
Staging Manual18 distribusi GIST sebagai berikut: lambung (60%), usus halus (30%), rektum
(3%), kolon (1-2%), esophagus (<1%), dan omentum/ mesenterium jarang. Peneliti Miettinen
dkk., juga mendapatkan hasil yang kurang lebih sama, terbanyak pada lambung 60%, usus halus
sebanyak 30%, 35%, kurang dari 5% pada rectum, esophagus, omentum dan mesenterium, dapat
terjadi di seluruh saluran cerna dan jaringan lunak intrabdomendekat saluran cerna.13
2.5.MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis dari GIST tidak jelas. Sekitar 70% memberikan gejala, sementara 20%
nya asimptomatis dan 10% baru diketahui pada pemeriksaan autopsi. Gejala dan tandanya sangat
tidak spesifik, sekitar 50% pasien dengan GIST didapatkan telah mengalami metastasis ketika
diagnosis ditegakkan. GIST dengan ukuran yang kecil umumnya ditemukan secara kebetulan
pada saat dilakukan pemeriksaan luar abdomen, pemeriksaan pencitraan, saat pembedahan dan
pada pemeriksaan endoskopi.8
Perdarahan merupakan gejala yang paling umum ditemukan akibat erosi dari lumen
saluran gastrointestinal. Perdarahan yang terjadi di dalam rongga abdomen dapat menyebabkan
nyeri akut abdomen. Sedangkan perdarahan yang terjadi di dalam lumen saluran gastrointestinal
menyebabkan adanya hematemesis, melena dan anemia. Umumnya pasien tersebut akan
menderita anemia akibat perdarahan kronik.8
Gejala lain yang umumnya muncul yaitu adanya massa pada abdomen. Gejala yang
muncul tergantung dari ukuran tumor dan lokasinya. GIST dengan ukuran yang kecil umumnya

asimptomatis dan kadang ditemukan secara kebetulan. Keluhan lain seperti mual, muntah, rasa
tidak nyaman pada abdomen, berat badan menurun dan rasa cepat kenyang. Ruptur GIST pada
rongga peritoneum sangat jarang, namun bila terjadi dapat mengancam nyawa akibat perdarahn
intraperitoneal.8
Beberapa gejala yang berhubungan dengan lokasi GIST yaitu disfagia pada esofagus,
obstruksi saluran empedu bila tumor berada di sekitar ampula Vater hingga intususepsi pada usus
halus. Metastasis secara limfogen tidak lazim ditemukan. Metastasis jauh yang umum terjadi
pada GIST (intra-abdominal) yaitu peritoneum, omentum, area mesenterika dan hepar sedangkan
metastasis ekstra-abdominal jarang ditemui. GIST yang terdapat di rektum seringkali mengalami
metastasis ke pulmonal.8

Gambar Insidensi tertinggi GIST berdasarkan lokasinya

2.6.DIAGNOSIS
Evaluasi diagnostik GIST dapat dilakukan berdasarkan tehnik pencitraan, pemeriksaan
endoskopi dan yang paling penting yaitu dengan pemeriksaan histologi dan imunohistokimia.
Lesi yang kecil kadang tidak memberikan gejala dan sering didapatkan secara tidak sengaja pada
pemeriksaan endoskopi. Bila tersedia, pemeriksaan dengan endoscopic unltrasound (EUS) harus
dilakukan. GIST menunjukkan gambaran massa hipoechogenik dari dinding saluran cerna,
seringkali dari lapisan muscularis propia dan muscularis mukosa. EUS merupakan metode
7

diagnosis yang penting terutama untuk mengidentifikasi adanya malignansi. Pada massa yang
memiliki kecenderungan kearah keganasan, umumnya berukuran >40 mm, batas luar yang tidak
beraturan, adanya kista dan memiliki pola echo yang tidak homogen. Perlu diketahui bahwa pada
pemeriksaan EUS, tidak selalu mungkin untuk membedakan antara tumor stromal dan
leiomyosarcomas atau tumor mesenchymal lainnya. Leiomyosarcomas lebih sering terjadi pada
esofagus dan usus besar, jarang pada usus kecil dan lambung sehingga berdasarkan lokasi
tersebut dapat dijadikan indikasi diagnostik bila hasil EUS memberikan keraguan.1,8
Bila pemeriksaan EUS tidak tersedia, pemeriksaan dengan computed tomography (CT)
dapat dilakukan sebagai pemeriksaan alternatif. Pada massa yang besar dan dapat teraba pada
pemeriksaan palpasi yang disertai dengan adanya keluhan seperti perdarahan, nyeri perut dan
tanda-tanda obstruksi, CT dapat dilakukan sebagai pemeriksaan awal. CT dapat menunjukkan
baik perluasan tumor primer maupun metastasis. Magnetic resonance imaging (MRI) dapat
memberikan informasi tambahan.
Gambaran GIST pada pemeriksaan CT umumnya menunjukkan adanya massa
ekstraluminal yang berasal dari dinding saluran gastrointestinal, seringkali dengan nekrosis pada
sentralnya. Tumor yang berukuran kecil biasanya menunjukkan gambaran dengan tepi yang
tajam dan halus, homogen, massa jaringan lunak dengan peningkatan kontras sedang. Tumor
yang berukuran besar memberikan gambaran ulserasi mukosa, central necrosis, kavitasi dan
peningkatan kontras yang heterogen. CT juga teknik yang paling umum digunakan untuk menilai
adanya metastasis hati dari GIST. CT dada, perut dan panggul dianjurkan untuk menentukan
stadium GIST. Kecuali operasi darurat diindikasikan, yang terbaik adalah dilakukan sebelum
operasi untuk mengecualikan metastasis jauh.7,10
Pada kasus jinak, umumnya lesi tampak homogen dan menonjol ke dalam lumen saluran
gastrointestinal. Beberapa karakteristik lesi maligna yang tampak pada pemeriksaan CT scan
yaitu :1,8
1.
Ukuran lesi >5cm
2.
Permukaan ireguler
3.
Batas tumor tidak jelas
4.
Invasi ke jaringan sekitar
5.
Gambaran heterogen pada pemberian kontras
6.
Metastase hepar
7.
Penyebaran peritoneal
Diagnosis akhir ditegakkan berdasarkan dari pemeriksaan histologi dari spesimen biopsi.
Sampel tumor yang didapatkan dari endoscopic biopsy tidak selalu representative. Metode lain
yaitu

dengan

endoscopic

submucosal-mucosal

resection

yang

memungkinkan

untuk
8

mendapatkan sampel terutama pada tumor dengan ukuran kecil (diameter <2 cm) dan terbatas
pada lapisan submukosa dengan endoscopic ultrasound guided fine-needle biopsy. Metode ini
tidak selalu berguna dalam penilaian histopatologi tumor namun dapat membantu memperoleh
spesimen untuk pemeriksaan immunohistokimia. Gambaran histologi dari GIST bervariasi dan
pada beberapa kasus tergantung lokasinya. Paling umum, GISTs memiliki pola sel spindle (6070%), sedangkan sel epithelioid terlihat pada 20 - 30% kasus dan pola pleomorfik jarang
ditemukan (<5%). Pada semua lokasi, GISTs sering tumbuh di antara bundel serat otot polos
membentuk suatu mikronodular, pola plexiform. Secara sitologi, batas sel bervariasi. Nukleus
umumya menunjukkan kromatin yang merata, namun beberapa tumor menunjukkan nukleolus
dengan kromatinisasi yang menonjol pada beberapa sel. Nukleus seringkali memanjang pada
bagian ujungnya, namun pada beberapa kasus menunjukkan tepi yang tumpul, berbentuk cerutu
yang mirip dengan leiomyosarcoma. Pada GIST gastric, mayoritas sel yaitu berbentuk spindle,
seringkali memiliki gambaran yang lebih basofilik bila dibandingkan dengan leiomyoma karena
memiliki densitas nuclear tinggi dan sitoplasma yang sedikit.
CD117 merupakan penanda paling sensitif untuk GIST, yang muncul pada hampir 90%
tumor stroma. Penanda lain yang signifikan dalam diagnosis GIST adalah dengan antigen CD34,
yang diekspresikan terbanyak pada kerongkongan dan usus besar. Pada 20-40% kasus GIST
berlokasi di lambung dengan CD34 negatif mengekspresikan smooth muscle actin (-SMA).
Oleh karena itu, CD34 dan -SMA adalah dua penanda yang membantu dalam diagnosis GIST
pada sekitar 10% kasus dengan CD117 negatif. Pemeriksaan imunohistokimia tidak hanya
membantu dalam menegakkan diagnosis tumor stroma, tetapi juga mampu menyingkirkan lesi
submukosa selain GIST. Diagnosis akhir didasarkan pada pemeriksaan patologis dari reseksi
tumor. Namun tindakan ini tidak selalu representative. Hal ini disebabkan oleh sulitnya
memperoleh sampel jaringan terutama pada tumor intramural.7,10
Tumor types in differesial diagnosis with GIST

2.7.PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan dengan tindakan pembedahan radikal merupakan pilihan terapi yang
paling efektif pada GIST. Tujuan utama dari tindakan pembedahan yaitu untuk menghindari
terjadinya ruptur tumor. Angka harapan hidup dalam 5 tahun setelah menjalani operasi sebesar
28-65%. Pada tindakan operatif, tidak perlu mereseksi kelenjar getah bening regional, karena
seperti yang telah disebutkan di atas, GIST sangat jarang bermetastasis secara limfogen.
Extensive lymphadenectomy tidak direkomendasikan. Lebih dari pasien yang dilakukan
operasi memungkinkan untuk dilakukannya reseksi radikal secara makroskopik. Namun, sekitar
- 1/5 dari pasien tersebut ternyata tidak benar-benar radikal secara mikroskopik. Reseksi
komplit berkorelasi erat dengan angka harapan hidup setelah reseksi pertama pada GIST. Hingga
saat ini, pasien dengan tumor yang inoperable hanya diberikan pengobatan simptomatik, karena
GIST resisten terhadap kemoterapi konvensional sedangkan dengan radioterapi belum
memberikan hasil yang memuaskan. Reseksi komplit dari tumor memberikan angka 5-years
survival sebesar 48-65%. Resekti tumor parsial hanya dilakukan pada kasus dengan ukuran
tumor yang besar, sebagai tindakan paliatif maupun untuk mengontrol gejala dan komplikasi
yang ditimbulkan seperti kompresi terhadap organ lain, perdarahan dan nyeri. 2,7,10
Pada beberapa kasus, reseksi komplit kadang sulit untuk dilakukan mengingat letak
anatomi dan ukuran tumor. Pada kasus tersebut, Imatinib mesylate dapat digunakan sebagai
agent aktif untuk mengontrol pertumbuhan tumor pada stadium lanjut maupun metastasis. Terapi
10

Imatinib telah disetujui oleh FDA sebagai terapi GIST yang inoperabel dan GIST metastasis pada
1 Februari 2002. GIST memberikan respon yang buruk pada pengobatan kemoterapi
konvensional (<10%) sementara pengobatan dengan radioterapi hanya ditujukan untuk
mengatasi nyeri. GIST berespon buruk terhadap kemoterapi, namun tidak terhadap imatinib
mesylate, yang dikenal juga sebagai ST1571 yang bekerja sebagai inhibitor tyrosine kinase kuat
dari PDGFR

dan reseptor c-kit. Pengunaan terapi imatinib mesylate pada kasus rekuren,

metastasis atau GIST yang inoperabel memberikan hasil yang baik, pada 75-85% kasus pasien
yang diterapi dengan imatinib dapat menghambat progresivitas penyakit. Penghentian pemberian
imitinab setelah 1 tahun memiliki risiko tinggi untuk terjadinya relapse, bahkan pada pasien yang
telah menjalani remisi komplit. Pengobatan harus terus dilanjutkan hingga terjadi progresi,
intoleransi atau pasien menolak.6,8,9
Pada semua studi menyebutkan dosis Imatinib yang aman, efikasi dan dapat ditoleransi
oleh pasien yaitu 400-800 mg/hari. Respon terapi dengan imatinib rata-rata tercapai pada 12-15
minggu, namun pada banyak pasien didapatkan respon yang cepat yaitu dalam beberapa hari
setelah pemberian imatinib. Semakin besar dosis yang diberikan, memiliki efek toksik yang
besar pula. Pada suatu randomized trial, terapi imatinib dapat dihentikan pada pasien yang
memberikan respon setelah 12 bulan lamanya pengobatan, namun penghentian terapi ini dapat
menyebabkan progresivitas penyakit pada 66% kasus dibandingkan pada 15% dari mereka yang
dialokasikan untuk melanjutkan terapi imatinib. Hal ini menunjukkan bahwa penghentian
pengobatan sebaiknya dihindari, meskipun tidak ada perbedaan dalam angka harapan hidup
secara keseluruhan antara kedua kelompok tersebut. Konsentrasi imatinib di darah menjadi
semakin kecil pada pemberian jangka panjang. Saat ini, pemberian imatinib jangka panjang
direkomendasikan pada penyakit dengan tahap lanjut tanpa ada batas waktu yang ditentukan.
Efek samping pemberian imatinib seringkali ringan hingga sedang. Efek samping yang umum
muncul yaitu edem, terutama periorbital, keram otot pada jari dan kaki, diare, mual, muntah,
kelemahan dan rash. Efek samping lainnya yaiitu anemia (seringkali tipe makrositik), neutropeni
dan peningkatan enzim transaminase hati. Meskipun terapi dengan Imatinib merupakan suatu
revolusi dalam pengobatan GIST, namun pada beberapa kasus menunjukkan hasil yang kurang
memuaskan. Meskipun jarang, namun adanya resistensi terhadap Imatinib pernah dilaporkan.
Pasien yang mengalami resistensi primer umumnya mengalami mutasi KIT pada exon 9 atau non
detectable kinase mutation. Resistensi primer Imatinib jarang terjadi, hanya sekitar 15% kasus.

11

Pada beberapa kasus, terjadi progresifitas penyakit setelah terapi imatinib selama >6 bulan, pada
keadaan ini dikatakan sebagai resistensi sekunder. 6,8,9
Saat ini, beberapa obat lain yang dapat digunakan sebagai obat alternatif pada GIST yang
resisten terhadap imatinib masih dalam penelitian. Tidak ada indikasi untuk dilakukannya
kemoterapi maupun radioterapi setelah operasi reseksi pada GIST karena tumor tidak responsif
pada terapi tersebut. 6,8,9
2.9. Prognosis
Semua tumor GISTs memiliki potensi untuk kearah malignansi. Pemeriksaan secara kasar
berdasarkan ukuran tumor dan estimasi jumlah mitosis sangat penting dalam menentukan
prognosis. Sebuah skema untuk mendefinisikan risiko malignansi GIST berdasarkan ukuran
tumor dan jumlah mitosis awalnya diusulkan oleh National Institutes of Health pada tahun 2002.
Tumor dengan ukuran kecil, 2cm dengan jumlah mitosis <5 mitosis/50 high power fields
biasanya jinak dan memiliki prognosis yang bagus.
Dalam upaya untuk meningkatkan penilaian diagnosis GIST, suatu kriteria baru untuk
memprediksi kemungkinan relapse telah diusulkan oleh Miettinen dan Lasota. Kriteria ini
memperhitungkan ukuran tumor, indeks mitosis dan lokasi tumor untuk memprediksi risiko
relapse yang lebih akurat.9
Pada GIST, kemungkinan terjadinya malignansi yaitu sebesar 10-30% kasus. Manifestasi
malignansi dapat berupa selularitas yang tinggi, invasi local maupun metastase jauh terutama
pada hati dan peritoneum. Metastase secara limfogen umumnya jarang terjadi. Prognosis
biasanya buruk bila dijumpai adanya ruptur pada tumor, lokasi pada daerah distal, selularitas
yang tinggi, nekrosis pada tumor, adanya invasi maupun metastase.1,8,6

12

BAB III
PENUTUP

3.1.

Kesimpulan
Gastrointestinal stromal tumor (GIST) merupakan tumor mesenkim primer saluran cerna

tersering, namun

merupakan tumor saluran cerna yang jarang, paling sering pada organ

lambung, dan sering pada usia 55-65 tahun.


GIST berasal dari sel interstisil sel Cajal, dengan ciri khas, diidentifikasikan dengan
pemeriksaan imunohistokimia petanda CD117 receptor tyrosine kinase yang umumnya postif,
yang sampai tahun 2000 dianggap berasal dari tumor mesenkim lainnya yaitu dari otot polos
maupun saraf. Pada GIST sering terjadi mutasi KIT atau Platelet-derived growth factor receptor
alpha(PDGFRA). ICC merupakan suatu jenis sel interstisil yang ditemukan pada seluruh saluran
cerna, berperan sebagai pacemaker, menciptakan kontraksi otot polos saluran cerna dan
mengontrol motilitas serta fungsi saraf otonom, dan bila terjadi gangguan pada atau hilangnya
ICC akan menimbulkan kelainan berupa gangguan motilitas.
GIST berperilaku biologik bersprektrum luas dari jinak sampai ganas, sering bersifat
jinak dan sporadik, dan sering dengan manifestasi klinik berupa keluhan perut yang samarsamar.
Gambaran mikroskopik GIST sebagian besar terdiri atas tipe sel spindel, dapat pula tipe
sel epiteliolid, dan campuran dengani variannya. Diagnosa GIST berdasarkan pemeriksaan
histopato gik dan imunohistokimia terutama petanda CD117, CD34.
Pembedahan merupakan pengobatan standar untuk GIST tanpa metastasis, dan untuk
yang bermetastasis diberikan obat inhibitor tyrosine kinase sebagai pengobatan standar.
Dengan terapi target inhibor tyrosine kinase surival rate relatif dua tahun meningkat.
Ukuran tumor dan jumlah mitosis merupakan parameter prognostik yang paling penting dan
paling bermanfaat.

13