Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN KASUS

I.
IDENTITAS PASIEN
Nama
: Ny. HL
Agama
: Islam
Umur
: 25 tahun
Alamat
: KP. Baru Lainungan, Kab. Sidrap
Jenis Kelamin : Perempuan
Suku
: Bugis
Status
: Menikah
Pekerjaan
: Ibu Rumah Tangga
Tgl. Masuk
: 26 Mei 2016
II.

ANAMNESIS
Keluhan Utama

: Sesak

Anamnesis Terpimpin :

Informasi mengenai keluhan utama


Rasa sesak dialami sejak kurang lebih 1 bulan sebelum masuk rumah sakit dan
dirasakan makin memberat sejak 1 minggu terakhir. Rasa sesak berkurang
apabila pasien berbaring dengan posisi setengah duduk menggunakan tiga
bantal kepala dan pasien juga merasa lebih nyaman tidur disisi sebelah kiri.
Rasa sesak disertai dengan batuk lendir berwarna hijau yang sudah dialami
sejak 2 bulan yang lalu dan tidak terdapat darah pada lendir. Pasien mengeluh
demam sejak 1 minggu yang lalu dan dirasakan suhunya naik turun. Keluahan
disertai dengan nyeri kepala, nafsu makan menurun, dan tubuh terasa lemas.
Mual, muntah, dan nyeri ulu hati disangkal. BAK lancar BAB baik. Riwayat
mengonsumsi minum alkohol tidak ada, riwayat perokok tidak ada, akan
tetapi suami pasien adalah seorang perokok berat.

Anamnesis Sistematis
1

Demam 1 minggu yang lalu (+) Sakit kepala (+) Mual (-) Muntah (-) Nyeri
ulu hati (-) Badan lemas (+) BAK lancar BAB baik.
Riwayat penyakit terdahulu
Riwayat penyakit serupa
: disangkal
Riwayat konsumsi obat paru : disangkal
Riwayat hipertensi
: disangkal
Riwayat penyakit gula
: disangkal
Riwayat penyakit dalam keluarga
Keluarga pasien tidak ada mengalami hal serupa
III. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan Umum
Kesan
Kesadaran
Gizi

: Sakit sedang
:Compos mentis
: Baik

BB

: 60 kg

TB

: 155 cm

IMT

: 60 x 1.552

Tekanan Darah : 120/70 mmHg


Nadi
: 90x/menit
Pernapasan
: 30x/menit
Suhu
: 38C
Anemi
:+

: 24,9 kg/m2
Kepala
Ukuran
: Normocephal
Ekspresi
: Biasa
Simetris muka : Simetris kiri dan kanan
Deformitas
: Tidak ada
Rambut
: Hitam dan lurus
Mata
Eksoptalmus/Enoptalmus
: (-)
Gerakan
: Dalam batas normal
Kelopak mata
: Edema palpebral (-)
Konjungtiva
: Anemis (+/+)
Sklera
: Ikterus (-/-)
Kornea
: Jernih
Pupil
: Bulat, isokor 2,5mm/2,5mm
Telinga
Tophi
: (-)
Pendengaran
: Dalam batas normal
Nyeri tekan di prosesus mastoideus : (-)
2

Hidung
Perdarahan
Sekret
Mulut
Bibir
Gigi geligi
Gusi
Tonsil
Faring
Lidah

: (-)
: (-)

: Pucat (+), Kering (-)


: Caries (-)
: Perdarahan gusi (-)
: T1 T1, hiperemis (-)
: Hiperemis (-)
: Kotor (-), tremor (-), hiperemis (-)

Leher
Kelenjar getah bening
Kelenjar tiroid
Tumor
DVS
Pembuluh darah
Kaku kuduk
Tumor

: Tidak ada pembesaran


: Tidak ada pembesaran
: (-)
: R -2
: Tidak ada pembesaran
: Tidak ada
: Tidak ada

Thoraks
1. Inspeksi :
Bentuk
Pembuluh darah
Buah dada
Sela iga
Lain-lain
2. Palpasi

: Normochest, simetris kiri dan kanan


: Tidak ada kelainan
: Tidak ada kelainan
: Dalam batas normal
: (-)

Nyeri tekan
Massa tumor
Vokal fremitus
Krepitasi

: Tidak ada
: Tidak ada
: menurun pada paru sinistra
: Tidak ada

3. Perkusi : Redup pada paru sinistra


4. Auskultasi : Bunyi pernapasan : Bronkovesikuler, menurun pada paru
sinistra
Bunyi tambahan

: Rh : +/+, Wh -/-

Jantung
1. Inspeksi
2. Palpasi
3. Perkusi

: Ictus cordis tidak tampak


: Ictus cordis tidak teraba
: Pekak, batas jantung kanan di linea parasternalis dextra, batas

jantung kiri sulit dinilai


4. Auskultasi : Bunyi jantung I/II murni regular, bunyi tambahan (-)
Abdomen
1. Inspeksi

: Cembung, ikut gerak napas, caput medusa (-), umbilicus

menonjol (-)
2. Palpasi
: Nyeri tekan area epigastrium (-), MT (-), Hepar / Lien tidak
teraba
3. Perkusi : Timpani, ascites (-)
4. Auskultasi : Peristaltik (+), kesan normal
Alat Kelamin
Tidak dilakukan pemeriksaan
Anus dan Rektum
Tidak dilakukan pemeriksaan
Ekstremitas
Akral hangat, Tofus (-/-) , nyeri (-/-)

IV.

V.

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
- Darah Rutin
WBC 11.4 x 103/uL
HCT 32.4%
PLT 540 x 103/uL
RBC 3.69 x 106/uL
MCH 29.9 pg
MCHC 34.1 pg
HB 11.0 g/dl
MCV 87.8 fl
- Glukosa Darah Sewaktu : 85 mg/dl
- Elektrolit : tidak dilakukan
PEMERIKSAAN RADIOLOGIK DAN PEMERIKSAAN LAIN-LAIN:
Pemeriksaan Foto Thorax (26.05.2016)
Efusi pleura sinistra massive
Cor : batas sinistra sulit dinilai
Pulmo, sinus, diafragma dalam batas normal
Pemeriksaan Foto Thorax (01.06.2016)
Hidropneumothorax sinistra
Dibanding foto 26/05/2016 efusi sedikit berkurang
Terpasang selang WSD
Pemeriksaan Sputum SPS: -++ (2x positif)
VI.

RESUME
Pasien perempuan berumur 25 tahun dibawa ke UGD RSUD Andi Makkasau

pada tanggal 26 Mei 2016 Pukul 21.57 WITA dengan keluhan sesak dialami sejak
kurang lebih 1 bulan sebelum masuk rumah sakit dan dirasakan makin memberat
sejak 1 minggu terakhir. Rasa sesak disertai dengan batuk lendir berwarna hijau yang
dialami sejak 2 bulan yang lalu dan tidak terdapat darah pada lendir. Riwayat febris
sejak 1 minggu yang lalu disertai dengan cephaligia, nafsu makan menurun, dan
lethargi. Mual, muntah, dan nyeri ulu hati disangkal. BAK lancar BAB baik. Pada
Pemeriksaan Fisik didapatkan kesan pasien sakit sedang, compos mentis, febris,
tanda-tanda vital lainnya dalam batas normal. Pada pemeriksaan fisik thorax
didapatkan vokal fremitus menurun pada paru sinistra, perkusi redup pada paru
sinistra, pada auskultasi bunyi pernapasan bronkovesikuler, suara pernapasan
menurun pada paru sinistra. Bunyi tambahan ronki positif pada kedua lapangan paru.

Dan pemeriksaan fisik lainnya dalam batas normal. Pada pemeriksaan darah rutin
didapatkan leukositosis sebesar 11.4 x 103/uL, Pada pemeriksaan foto thorax
didapatkan kesan efusi pleura sinistra massive dan pada pemeriksaan sputum SPS
didapatkan hasil -++ (positif 2x).
VII. DIAGNOSA
Efusi Pleura suspek et causa Tuberculosis
VIII. DIAGNOSA BANDING
Pneumoniae
Hematothorax
IX.
TERAPI
Medikamentosa :
- IVFD RL 20 TPM
- Cefobactam 1 gr/12 jam/IV
- Sanmol 1 gr/8 jam/IV
- Codein 10 mg 3x1
- Clobazam 10 mg 1x1

Non medikamentosa
- Pasien diminta untuk tidak beristirahat dengan keadaan tidur terlentang
X. FOLLOW UP
Hari/Tanggal
Jumat/27 Mei

S
- Demam

2016

O
TTV

A
Efusi

P
R/

- Sesak (+)

-TD: 120/70mmHg

Pleura

IVFD

- Batuk berlendir (+)

RL

20

-Nadi: 90x/menit

TPM

- Nyeri kepala (+)

-Pernafasan:

Cefobactam

- Pusing (-)

20x/menit

gr/12 jam/IV

- Lemas (+)

-Suhu: 38oC

Sanmol

- Sulit tidur (+)

Anemis (+)

jam/IV

Thorax: simetris

Codein

BP: bronkovesikuler,

3x1

menurun pada paru

Clobazam 10 mg

sinistra

1x1

BT: Rh(+/+) Wh(-/-)

gr/8

10

mg

Abdomen:

Rencana:

-Peristaltic + kesan N

-Konsul Bedah

-Nyeri

tekan

Sabtu/28 Mei

- Demam

abdomen (-)
TTV

2016

- Sesak (+)

-TD: 130/90mmHg

- Batuk berlendir (+)

Efusi

IVFD

RL

20

Pleura

TPM

-Nadi: 88x/menit

Cefobactam

- Nyeri kepala (-)

-Pernafasan:

gr/12 jam/IV

- Pusing (-)

22x/menit

Sanmol

- Lemas (+)

-Suhu: 38,8oC

jam/IV

- Sulit tidur (+)

Anemis (+)

Codein

Thorax: simetris

3x1

BP: bronkovesikuler,

Clobazam 10 mg

menurun pada paru

1x1

gr/8

10

mg

sinistra
BT: Rh(+/+) Wh(-/-)
Abdomen:
-Peristaltic + kesan N
-Nyeri

tekan

Minggu/29

- Demam

abdomen (-)
TTV

Efusi

IVFD

Mei 2016

- Sesak (+)

-TD: 100/80mmHg

Pleura

TPM

- Batuk berlendir (+)

RL

20

-Nadi: 80x/menit

Cefobactam

- Nyeri kepala (-)

-Pernafasan:

gr/12 jam/IV

- Pusing (-)

16x/menit

Sanmol

- Lemas (+)

-Suhu: 38,4oC

jam/IV

- Sulit tidur (+)

Anemis (-)

Codein

Thorax: simetris

3x1

BP: bronkovesikuler,

Clobazam 10 mg

gr/8

10

mg

menurun pada paru

1x1

sinistra
BT: Rh(+/+) Wh(-/-)
Abdomen:
-Peristaltic + kesan N
-Nyeri
Senin/30 Mei
2016

tekan

- Demam (+)

abdomen (-)
TTV

Efusi

R/

- Sesak (+)

-TD: 130/80mmHg

Pleura

IVFD

- Batuk berlendir (+)

-Nadi: 80x/menit

Futrolit 20 TPM

- Nyeri kepala (-)

-Pernafasan:

Cefobactam

- Pusing (-)

20x/menit

gr/12 jam/IV

- Lemas (+)

-Suhu: 37,4oC

Paracetamol

Anemis (-)

500mg 3x1

Thorax: simetris

Codein

BP: bronkovesikuler,

3x1

menurun pada paru

Vit B kompleks

sinistra

1x1

RL

10

:
1

mg

BT: Rh(+/+) Wh(-/-)


Abdomen:
-Peristaltic + kesan N
-Nyeri
Selasa/31 Mei
2016

tekan

- Demam (+)

abdomen (-)
TTV

Efusi

R/

- Sesak (+)

-TD: 100/60mmHg

Pleura

IVFD

- Batuk berlendir (+)

-Nadi: 32x/menit

Futrolit 20 TPM

- Nyeri kepala (-)

-Pernafasan:

Cefobactam

- Pusing (-)

20x/menit

gr/12 jam/IV

- Lemas (-)

-Suhu: 37,9oC

Isoniazid 300mg

RL

:
1

Anemis (+)

1x1

Thorax: simetris

Ethambutol

BP: bronkovesikuler,

250mg 1x3

menurun pada paru

Rifampicin

sinistra

450mg 1x1

BT: Rh(+/+) Wh(-/-)

Paracetamol

Abdomen:

500mg 3x1

-Peristaltic + kesan N

Codein

-Nyeri

3x1

tekan

abdomen (-)

10

mg

Vit. B kompleks

Rabu/1 Juni

- Demam (-)

TTV

Efusi

1x1
R/

2016

- Sesak (+)

-TD: 120/60mmHg

Pleura

IVFD

- Batuk berlendir (+)

-Nadi: 98x/menit

Futrolit 20 TPM

- Lemas (-)

-Pernafasan:

Isoniazid 300mg

- Sulit tidur (-)

22x/menit

1x1

-Suhu: 37oC

Ethambutol

Anemis (+)

250mg 1x3

Thorax: simetris

Rifampicin

BP: bronkovesikuler,

450mg 1x1

menurun pada paru

Paracetamol

sinistra

500mg 3x1

BT: Rh(+/+) Wh(-/-)

Codein

Abdomen:

3x1

-Peristaltic + kesan N

Vit. B kompleks

-Nyeri

1x1

tekan

RL

10

abdomen (-)
Rencana:
Foto thorax

mg

Kamis/ 2 Juni

- Demam (+)

TTV

Efusi

R/

2016

- Sesak (+)

-TD: 120/80mmHg

Pleura

IVFD

- Batuk berlendir (+)

RL

20

-Nadi: 90x/menit

TPM

- Lemas (-)

-Pernafasan:

Cefobactam

- Sulit tidur (-)

20x/menit

gr/12 jam/IV

-Suhu: 36,8oC

Isoniazid 300mg

Anemis (+)

1x1

Thorax: simetris

Ethambutol

BP: bronkovesikuler,

250mg 1x3

menurun pada paru

Rifampicin

sinistra

450mg 1x1

BT: Rh(+/+) Wh(-/-)

Paracetamol

Abdomen:

500mg 3x1

-Peristaltic + kesan N

Codein

-Nyeri

3x1

tekan

abdomen (-)

10

mg

Vit. B kompleks
1x1

Pemeriksaan

Foto

Thorax (01.06.2016)
-Hidropneumothorax
sinistra
-Dibanding

foto

26/05/2016

efusi

sedikit berkurang
-Terpasang

selang

WSD
Jumat/3 Juni

- Demam (+)

TTV

Efusi

R/

2016

- Sesak (+)

-TD: 120/80mmHg

Pleura

IVFD

RL

20

- Batuk berlendir (+)

-Nadi: 92x/menit

TPM

- Lemas (-)

-Pernafasan:

Cefobactam

- Sulit tidur (-)

21x/menit

gr/12 jam/IV

-Suhu: 37,6oC

Isoniazid 300mg

Anemis (+)

1x1

Thorax: simetris

Ethambutol

BP: bronkovesikuler,

250mg 1x3

menurun pada paru

Rifampicin

sinistra

450mg 1x1

BT: Rh(+/+) Wh(-/-)

Paracetamol

Abdomen:

500mg 3x1

-Peristaltic + kesan N

Codein

-Nyeri

3x1

tekan

abdomen (-)

10

mg

Vit. B kompleks
1x1
Clobazam 10mg

Sabtu/4 Juni

- Demam (+)

TTV

Efusi

1x1
R/

2016

- Sesak (+)

-TD: 110/90mmHg

Pleura

IVFD

- Batuk berlendir(+)

RL

20

-Nadi: 96x/menit

TPM

- Nyeri kepala (-)

-Pernafasan:

Cefobactam

- Lemas (+)

18x/menit

gr/12 jam/IV

- Sulit tidur (+)

-Suhu: 37,6oC

Isoniazid 300mg

Anemis (+)

1x1

Thorax: simetris

Ethambutol

BP: bronkovesikuler,

250mg 1x3

menurun pada paru

Rifampicin

sinistra

450mg 1x1

BT: Rh(+/+) Wh(-/-)

Paracetamol

Abdomen:

500mg 3x1

-Peristaltic + kesan N

Codein

-Nyeri

3x1

tekan

abdomen (-)

10

mg

Vit. B kompleks
1x1
Clobazam 10mg

Minggu/5 Mei

- Demam (-)

TTV

Efusi

1x1
R/

2016

- Sesak (+)

-TD: 120/90mmHg

Pleura

IVFD

- Batuk berlendir (+)

RL

20

-Nadi: 92x/menit

TPM

- Nyeri kepala (-)

-Pernafasan:

Cefobactam

- Pusing (-)

20x/menit

gr/12 jam/IV

- Lemas (-)

-Suhu: 37,1oC

Isoniazid 300mg

- Sulit tidur (+)

Anemis (-)

1x1

Thorax: simetris

Ethambutol

BP: bronkovesikuler,

250mg 1x3

menurun pada paru

Rifampicin

sinistra

450mg 1x1

BT: Rh(+/+) Wh(-/-)

Paracetamol

Abdomen:

500mg 3x1

-Peristaltic + kesan N

Codein

-Nyeri

3x1

tekan

abdomen (-)

10

mg

Vit. B kompleks
1x1
Clobazam 10mg

Senin/6 juni
2016

- Demam (-)

TTV

Efusi

1x1
R/

- Sesak (-)

-TD: 120/70mmHg

Pleura

Isoniazid 300mg

- Batuk berlendir (+) -Nadi: 90x/menit

1x1

- Nyeri kepala (-)

-Pernafasan:

Ethambutol

- Pusing (-)

20x/menit

250mg 1x3

- Lemas (-)

-Suhu: 36,3oC

Rifampicin

- Sulit tidur (-)

Anemis (-)

450mg 1x1

Thorax: simetris

Paracetamol

BP: bronkovesikuler,

500mg 3x1

menurun pada paru

Codein

sinistra

3x1

BT: Rh(+/+) Wh(-/-)

Vit. B kompleks

Abdomen:

1x1

10

mg

-Peristaltic + kesan N
-Nyeri
Selasa/7 juni
2016

tekan

- Demam(-)

abdomen (-)
TTV

Efusi

R/

- Sesak (-)

-TD: 110/60mmHg

Pleura

Isoniazid 300mg

- Batuk berlendir (+) -Nadi: 90x/menit

1x1

- Nyeri kepala (-)

-Pernafasan:

Ethambutol

- Pusing (-)

20x/menit

250mg 1x3

- Lemas (-)

-Suhu: 36,5oC

Rifampicin

- Sulit tidur (-)

Anemis (-)

450mg 1x1

Thorax: simetris

Paracetamol

BP: bronkovesikuler,

500mg 3x1

menurun pada paru

Codein

sinistra

3x1

BT: Rh(+/+) Wh(-/-)

Vit. B kompleks

Abdomen:

1x1

-Peristaltic + kesan N
-Nyeri
abdomen (-)

tekan

10

mg

XI.
PROGNOSIS
Qua Ad Vitam
: Dubia et bonam
Qua Ad Sanationam : Dubia et bonam
Ad Fungsionam
: Dubia et bonam
XII. DISKUSI
Pasien perempuan berumur 25 tahun dibawa ke UGD RSUD Andi Makkasau
pada tanggal 26 Mei 2016 Pukul 21.57 WITA dengan keluhan sesak dialami
sejak kurang lebih 1 bulan sebelum masuk rumah sakit dan dirasakan makin
memberat sejak 1 minggu terakhir. Rasa sesak disertai dengan batuk lendir
berwarna hijau yang dialami sejak 2 bulan yang lalu dan tidak terdapat darah
pada lendir. Riwayat febris sejak 1 minggu yang lalu disertai dengan cephaligia,
nafsu makan menurun, dan lethargi. Mual, muntah, dan nyeri ulu hati
disangkal. BAK lancar BAB baik. Pada Pemeriksaan Fisik didapatkan kesan
pasien sakit sedang, compos mentis, febris, tanda-tanda vital lainnya dalam
batas normal. Pada pemeriksaan fisik thorax didapatkan vokal fremitus
menurun pada paru sinistra, perkusi redup pada paru sinistra, pada auskultasi
bunyi pernapasan bronkovesikuler, suara pernapasan menurun pada paru
sinistra. Bunyi tambahan ronki dan wheezing positif pada kedua lapangan paru.
Dan pemeriksaan fisik lainnya dalam batas normal. Pada pemeriksaan darah
rutin didapatkan leukositosis sebesar 11.4 x 103/uL dan Pemeriksaan foto thorax
didapatkan kesan efusi pleura sinistra massive.
Menurut hasil data data yang didapatkan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik
dapat disimpulkan pasien mengalami Efusi Pleura et causa Koch Pulmonum.
A. Definisi
Efusi pleura merupakan akumulasi cairan abnormal pada rongga pleura. Hal ini
dapat disebabkan oleh peningkatan produksi cairan ataupun berkurangnya
absorbsi. Efusi pleura merupakan manifestasi penyakit pada pleura yang paling
sering dengan etiologi yang bermacam-macam mulai dari kardiopulmoner,
inflamasi, hingga keganasan yang harus segera dievaluasi dan diterapi.

1,2

Efusi pleura TB adalah efusi pleura yang disebabkan oleh M. TB yang


dikenal juga dengan nama pleuritis TB. Peradangan rongga pleura pada
umumnya secara klasik berhubungan dengan infeksi TB paru primer.3
B. Mikrobiologi
Kuman Mycobacterium tuberculosis berbentuk batang lurus atau agak
bengkok, berukuran panjang 5 dan lebar 3 . Dengan pewarnaan ZiehlNeelsen akan tampak berwarna merah dengan latar belakang biru
Suhu optimum 37C, tidak tumbuh pada suhu 25C atau lebih dari 40C.
Media

padat

yang

biasa dipergunakan adalah Lowenstein-jensen.

Mycobacterium tuberculosis dapat mati jika terkena cahaya matahari


langsung selama 2 jam. Karena kuman ini tidak tahan terhadap sinar ultra
violet. Mycobacterium tuberculosis mudah menular, mempunyai daya tahan
tinggi dan mampu bertahan hidup beberapa jam ditempat gelap dan lembab.
Oleh karena itu, dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dormant (tidur),
tertidur lama selama beberapa tahun. Basil yang ada dalam percikan dahak
dapat bertahan hidup 8-10 hari.
C. Patogenesis dan patofisiologi
Efusi pleura TB adalah efusi pleura yang disebabkan oleh M. TB suatu
keadaan dimana terjadinya akumulasi cairan dalam rongga pleura. 35
Mekanisme terjadinya efusi pleura TB bisa dengan beberapa cara5,6,7

1. Efusi pleura TB dapat terjadi dengan tanpa dijumpainya kelainan


radiologi toraks. Ini merupakan sekuele dari infeksi primer dimana efusi
pleura TB biasanya terjadi 6-12 minggu setelah infeksi primer, pada
anak-anak dan orang dewasa muda. Efusi pleura TB ini diduga akibat
pecahnya focus perkijuan subpleura paru sehingga bahan perkijuan dan
kuman M. TB masuk ke rongga pleura dan terjadi interaksi dengan
Limfosit T yang akan menghasilkan suatu reaksi hipersensitiviti tipe
lambat. Limfosit akan melepaskan limfokin yang akan menyebabkan
peningkatan permeabilitas dari kapiler pleura terhadap protein yang
akan menghasilkan akumulasi cairan pleura. Cairan efusi umumnya
diserap kembali dengan mudah. Namun terkadang bila terdapat banyak
kuman di dalamnya, cairan efusi tersebut dapat menjadi purulen,
sehingga membentuk empiema TB.
2. Cairan yang dibentuk akibat penyakit paru pada orang dengan usia lebih
lanjut. Jarang, keadaan seperti ini bisa berlanjut menjadi nanah
(empiema). Efusi pleura ini terjadi akibat proses reaktivasi yang
mungkin terjadi jika penderita mengalami imuniti rendah.
3. Efusi yang terjadi akibat pecahnya kavitas TB dan keluarnya udara ke
dalam rongga pleura. Keadaan ini memungkinkan udara masuk ke
dalam ruang antara paru dan dinding dada. TB dari kavitas yang
memecah mengeluarkan efusi nanah (empiema). Udara dengan nanah
bersamaan disebut piopneumotoraks.
D. Manifestasi Klinis
Kadang-kadang efusi pleura TB asimptomatik jika cairan efusinya masih
sedikit dan sering terdeteksi pada pemeriksaan radiologi yang dilakukan
untuk tujuan tertentu. Namun jika cairan efusi dalam jumlah sedang sampai
banyak maka akan memberikan gejala dan kelainan dari pemeriksaan fisik.
Efusi pleura TB biasanya memberikan gambaran klinis yang bervariasi
berupa gejala respiratorik, seperti nyeri dada, batuk, sesak nafas. Gejala

umum berupa demam, keringat malam, nafsu makan menurun, penurunan


berat badan, rasa lelah dan lemah juga bisa dijumpai. Gejala yang paling
sering dijumpai adalah batuk (~70%), nyeri dada (~75%) biasanya nyeri
dada pleuritik, demam sekitar 14% yang subfebris, penurunan berat badan
dan malaise.8
E. Diagnosis
Diagnosis efusi pleura TB ditegakkan berdasarkan gejala klinis,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan radiologi torak, pemeriksaan bakteri tahan
asam sputum, cairan pleura dan jaringan pleura, uji tuberkulin, biopsi pleura
dan analisis cairan pleura. Diagnosis dapat juga ditegakkan berdasarkan
1

pemeriksaan ADA, IFN-, dan PCR cairan pleura. Hasil darah perifer tidak
bermanfaat; kebanyakan pasien tidak mengalami lekositosis.30 Sekitar 20%
kasus efusi pleura TB menunjukkan gambaran infiltrat pada foto toraks.
Kelainan yang dapat dijumpai pada pemeriksaan fisik sangat tergantung
9

pada banyaknya penumpukan cairan pleura yang terjadi. Pada inspeksi dada
bisa dilihat kelainan berupa bentuk dada yang tidak simetris, penonjolan
pada dada yang terlibat, sela iga melebar, pergerakan tertinggal pada dada
yang terlibat. Pada palpasi vokal fremitus melemah sampai menghilang,
perkusi dijumpai redup pada daerah yang terlibat, dari auskultasi akan
dijumpai suara pernafasan vesikuler melemah sampai menghilang, suara
gesekan pleura. Berdasarkan pemeriksaan radiologis toraks menurut kriteria
1

American Thoracic Society (ATS), TB paru dapat dibagi menjadi 3


kelompok yaitu lesi minimal, lesi sedang, dan lesi luas. Sedangkan efusi
pleura TB pada pemeriksaan radiologis toraks posisi Posterior Anterior
(PA) akan menunjukkan gambaran konsolidasi homogen dan meniskus,
dengan sudut kostophrenikus tumpul, pendorongan trakea dan mediastinum
ke sisi yang berlawanan.

Apusan dan Kultur Sputum, Cairan Pleura dan Jaringan Pleura

Diagnosis pasti dari efusi pleura TB dengan ditemukan basil TB pada


sputum, cairan pleura dan jaringan pleura. Pemeriksaan apusan cairan
pleura secara Ziehl-Nielsen (ZN) walaupun cepat dan tidak mahal akan
tetapi sensitivitinya rendah sekitar 35%. Pemeriksaan apusan secara ZN ini
memerlukan konsentrasi basil 10.000/ml dan pada cairan pleura
pertumbuhan basil TB biasanya sejumlah kecil. Sedangkan pada kultur
cairan pleura lebih sensitif yaitu 11-50% karena pada kultur diperlukan 10100 basil TB. Akan tetapi kultur memerlukan waktu yang lebih lama yaitu
sampai 6 minggu untuk menumbuhkan M.TB.

Biopsi Pleura
Biopsi pleura merupakan suatu tindakan invasif dan memerlukan suatu
pengalaman dan keahlian yang baik karena pada banyak kasus, pemeriksaan
histopatologi dari biopsi spesimen pleura sering negatif dan tidak spesifik. 52
Akan tetapi, diagnosis histopatologis yang didapat dari biopsi pleura
tertutup dengan dijumpainya jaringan granulomatosa sekitar 60-80%.34
Sementara pemeriksaan yang dilakukan oleh A. H. Diacon dkk sensitiviti
histologis, kultur dan kombinasi histologis dengan kultur secara biopsi
jarum tertutup mencapai 66%, 48%, 79% dan pemeriksaan secara
torakoskopi sensitivitinya 100, 76%, 100% dan spesifisitinya 100%.5
Uji Tuberkulin
Dulu tes ini menjadi pemeriksaan diagnostik yang penting pada pasien yang
diduga efusi pleura TB. Test ini akan memberikan hasil yang positif setelah
mengalami gejala > 8 minggu. Pada penderita dengan status gangguan
kekebalan tubuh dan status gizi buruk, tes ini akan memberikan hasil yang
negatif.1
Analisis Cairan Pleura
Analisis cairan pleura ini bermanfaat dalam menegakkan diagnosis efusi
pleura TB. Sering kadar protein cairan pleura ini meningkat > 5 g/dl. Pada

pasien kebanyakan hitung jenis sel darah putih cairan pleura mengandung
limfosit >50%.50,54 Pada sebuah penelitian dengan 254 pasien dengan efusi
pleura TB, hanya 17 (6,7%) yang mengandung limfosit < 50% pada cairan
pleuranya. Pada pasien dengan gejala < 2 minggu, hitung jenis sel darah
putih menunjukkan PMN lebih banyak. Pada torakosentesis serial yang
dilakukan, hitung jenis lekosit ini menunjukkan adanya perubahan ke
limfosit yang menonjol. Pada efusi pleura TB kadar LDH cairan pleura >
200 U, kadar glukosa sering menurun. Analisis kimia lain memberi nilai
yang terbatas dalam menegakkan diagnostik efusi pleura TB. Pada
penelitian-penelitian dahulu dijumpai kadar glukosa cairan pleura yang
menurun, namun pada penelitian baru-baru ini menunjukkan kebanyakan
pasien dengan efusi pleura TB mempunyai kadar glukosa diatas 60 mg/dl.
Kadar pH cairan pleura yang rendah dapat kita curigai suatu efusi pleura
TB. Kadar CRP cairan pleura lebih tinggi pada efusi pleura TB
dibandingkan dengan efusi pleura eksudatif lainnya.1
Polymerase Chain Reaction (PCR)
Ini merupakan tehnik amplifikasi DNA yang dengan cepat mendeteksi
M.TB. Dewasa ini telah dikembangkan beberapa metode untuk amplifikasi
asam nukleat in vitro. Dimana tujuan utama dari teknik ini adalah untuk
memperbaiki sensitiviti uji yang berdasarkan pada asam nukleat dan untuk
menyederhanakan prosedur kerjanya melalui automatisasi dan bentuk
deteksi non-isotopik. PCR ini merupakan salah satu tehnik pemeriksaan
yang digunakan dalam penegakan diagnosis efusi pleura TB karena metode
konvensional masih rendah sensitivitinya. Sensitiviti PCR pada efusi pleura
TB berkisar 20-81% dan spesitifitinya berkisar 78-100%.2
F. Terapi
Efusi yang terinfeksi perlu segera dikeluarkan dengan memakai pipa
intubasi melalui sela iga. Bila cairan pusnya kental sehingga sulit keluar

atau bila emfiemanya multilokular, perlu tinfakan operatif. Pengobatan


secara sistemik hendaknyasegera diberikan, tetapi ini tidak berarti jika tidak
diiringi pengeluaran cairan yang adekuat.
Pada pleuritis tuberkulosa pengobatan diberikan dengan menggunakan
obat-obatan

antituberkulosis

(Rifampisin,

INH,

Pirazinamid/

Etambutol/Streptomisin) memakan waktu 6-12 bulan. Dosis dan cara


pemberian obat seperti pada pengobatan tuberculosis paru. Pengobatan ini
menyebabkan cairan efusi dapat diserap kembali, tapi untuk menghilangkan
eksudat in dengan cepat dapat dilakukan torakosintesis. Umumnya cairan
diresolusi dengan sempurna, tapi dapat diberikan kortikosteroid secara
sistemik (Prednison 1 mg/kgBB selama 2 minggu kemudian dosis
diturunkan secara bertahap)10
G. Komplikasi
Efusi pleura yang berulang, emfiema dan gagal napas
H. Prognosis
Prognosis ditentukan berdasarkan dari etiologi dan respon pada terapi.
Prognosis kearah jelek apabila ditemukan adanya kekambuhan, kompikasi
kearah cor-pulmonal, dan adanya cavity yang cukup banyak dan adanya
penyakit Diabetes Mellitus yang sukar untuk diregulasi. Pada pasien tidak
ditemukan salah satu dari beberapa kelainan diatas.10

DAFTAR PUSTAKA

1. Yataco JC, Dweik RA. 2005. Pleural effusions : evaluation and management.
Cleveland clinic journal of medicine, vol 72, No 10.
2. Rubins J. 2012. Pleural effusion. Medscape reference. Tersedia pada :
http://emedicine.medscape.com/article/299959.
3. Light RW. Pleural Diseases. Fifth edition. Lippincott William & Wilkins.
US.2007. p: 55-6,73-5, 211-2
4. bakteri
5. Darmanto DR. Respirologi (Respiratory Medicine). Cetakan I. EGC.
Jakarta.2009. P: 174-7
6. Harun M, Sutiono E, Citraningtyas T, Cho P, Noviani ED. Tuberkulosis
klinis.Edisi 2. Widya Medika. Jakarta. 2002. P: 111
7. Khatami K. Pleural tuberculosis. SEMJ 2002; 3: 1-10
8. Marel M, Zrustova M, Stasny B, Light RW. The incidence of pleural effusion
in a well-defined region. Epidemiologic study in central Bohemia. Chest
1993; 104:14861489.
9. Valdes L, Alvarez D, Jose SE, Juanatey JR, Pose A, Valle JM, et al.
Tuberculous pleurisy: a study of 254 patients. Arch Intern Med 1998; 158:
20172021.
10. Sudoyo AW. Kelainan Paru. Dasar-dasar. Ilmu Penyakit Dalam, Edisi V. Jilid
III. Balai Penerbit FKUI; Jakarta;2009