Anda di halaman 1dari 20

81

BAB VI
BATUAN METAMORF
6.1

Tujuan
1. Mengetahui deskripsi batuan metamorf
2. Mengklasifikasi batuan metamorf berdasarkan struktur
3. Mengklasifikasi batuan metamorf berdasarkan tekstur
4. Mengklasifikasi batuan metamorf berdasarkan komposisi mineral
5. Menyebutkan nama nama batuan metamorf

6.2

Dasar Teori
Batuan Metamorf adalah batuan yang terjadi karena proses ubahan
dari batuan asal oleh suatu proses metamorfosa. Batuan asal tersebut dapat
terdiri dari Batuan Metamorf, sedimen ataupun Batuan Metamorf itu sendiri.
Proses metamorf yaitu suatu proses dimana batuan asal mengalami
penambahan tekanan (P) atau temperatur (T) atau kenaikan P dan T secara
bersama-sama. Proses metamorfosa ini merlangsung dari fase padat ke
padat tanpa melalui fase cair. Dan hal ini sering disebut sebagai proses
isolimia. Dimana komposisi kimia batuan tidak berubah, yang berubah
adalah susunan mineralnya. Proses metamorfose meliputi proses:

Rekristalisasi.

Reorientasi.
Batuan Metamorf (atau batuan malihan) adalah salah satu kelompok

utama batuan yang merupakan hasil transformasi atau ubahan dari suatu tipe
batuan yang telah ada sebelumnya, protolith terkena suatu proses yang
disebut metamorfisme, yang berarti "perubahan bentuk". Protolith yang
dikenai panas (lebih besar dari 150 Celsius) dan tekanan ekstrem akan
mengalami perubahan fisika dan/atau kimia yang besar. Protolith dapat
berupa batuan sedimen, Batuan Metamorf, atau Batuan Metamorf itu sendiri
yang telah mengalami proses atau perubahan mineralogi, tekstur maupun
struktur akibat temperatur dan tekanan yang tinggi.

Laporan Resmi Praktikum Geologi Dasar 2015

Menurut Grovi (1931) perubahan dalam Batuan Metamorf adalah


hasil rekristalisasi dan dari rekristalisasi tersebut kristal-kristal baru begitu
pula teksturnya
Menurut H.G.F. Winkler (1906), metamorfisme adalah proses yang
mengubah mineral suatu batuan pada fasa padat karena pengaruh terhadap
kondisi fisika dan kimia di dalam kerak bumi. Dimana kondisi tersebut
berbeda dari sebelumnya, namun proses tersebut tidak termasuk diagenesa
dan pelapukan. Dalam pengamatan hal yang perlu diperhatikan.
a. Tekstur
Merupakan kenampakan batuan yang berdasarkan pada ukuran,
bentuk dan orientasi butir mineral dan individual penyusun Batuan
Metamorf. Penamaan tekstur Batuan Metamorf umumnya menggunakan
awalan blasto atau akhiran blastic tang ditambahkan pada istilah
dasarnya. (Jacson, 1997).

Kristoblastik
Lepidoblastik, apabila mineralnya

penyusunnya berbentuk tabular.


Nematoblastik,

apabila

mineral

penyusunnya berbentuk prismatik.


Granoblastik,

o
penyusunnya

berbentuk

granular,

apabila

equidimensional,

mineral
batas

mineralnya bersifat sutured (tidak teratur) dan umumnya kristalnya


berbentuk anhedral.
Granoblastik,

o
penyusunnya

berbentuk

granular,

apabila

equidimensional,

mineral
batas

mineralnya bersifat unsutured (lebih teratur) dan umumnya


kristalnya berbentuk anhedral.

Berdasarkan ukuran butirnya


o Fanerit, bila butiran kristal masih dapat dilihat dengan mata
o Afanitit, bila ukuran butir kristal tidak dapat dilihat dengan mata.

Laporan Resmi Praktikum Geologi Dasar 2015

Berdasarkan ketahanan terhadap proses metamorfosa


o Relict/Palimset/Sisa, Merupakan tekstur Batuan Metamorf yang
masih menunjukkan sisa tekstur batuan asalnya atau tekstur batuan
asalnya nasih tampak pada Batuan Metamorf tersebut.
o Kristaloblastik,

merupakan

tekstur

Batuan

Metamorf

yang

terbentuk oleh sebab proses metamorfosa itu sendiri. Batuan


dengan tekstur ini sudah mengalami rekristalisasi sehingga tekstur
asalnya tidak tampak. Penamaannya menggunakan akhiran blastik.
Berdasarkan bentuk kristal
o Idioblastik, apabila mineralnya dibatasi oleh kristal berbentuk
euhedral.
o Xenoblastik/Hypidioblastik, apabila mineralnya dibatasi oleh kristal
berbentuk anhedral.

Tekstur khusus lainnya


o Perfiroblastik, apabila terdapat mineral yang ukurannya lebih besar
tersebut sering disebut porphyroblasts.
o Poikloblastik/Sieve

texture,

tekstur

porfiroblastik

dengan

porphyroblasts tampak melingkupi beberapa kristal yang lebih


kecil.
o Mortar teksture, apabila fragmen mineral yang lebih besar terdapat
padamassadasar material yang barasal dari kristal yang sama yang
terkena pemecahan (crhusing).
o Decussate texture yaitu tekstur kristaloblastik batuan polimeneralik
yang tidak menunjukkan keteraturan orientasi.
o Saccaroidal Texture yaitu tekstur yang kenampakannya seperti gula
pasir.
o Homoblastik.Batuan mineral yang hanya terdiri dari satu tekstur
saja, sering disebut berstektur.
b. Struktur

Laporan Resmi Praktikum Geologi Dasar 2015

Struktur Foliasi, merupakan kenampakan struktur planar pada suatu


massa. Foliasi ini dapat terjadi karena adanya penjajaran mineralmineral

menjadi

lapisan-lapisan

(gneissoty),

orientasi

butiran

(schistosity), permukaan belahan planar (cleavage) atau kombinasi


dari ketiga hal tersebut (Jacson, 1970). Struktur foliasi yang
ditemukan adalah:
o Slaty Cleavage, Umumnya ditemukan pada Batuan Metamorf
berbutir sangat halus (mikrokristalin) yang dicirikan oleh adanya
bidang-bidang belah planar yang sangat rapat, teratur dan sejajar.
Batuannya disebut slate (batusabak).

Gambar 6.1
Struktur Slaty Cleavage
(Sumber :http://ptbudie.wordpress.com/2012/04/11/struktur-dan-tekstur batuan-metamorf/)

o Phylitic, Struktur ini hampir sama dengan struktur slatycleavage


tetapi terlihat rekristalisasi yang lebih besar dan mulai terlihat
pemisahan mineral pipih dengan mineral granular. Batuannya
disebut phyllite (filit)

Laporan Resmi Praktikum Geologi Dasar 2015

Gambar 6.2 Struktur Phylitic


(Sumber :http://ptbudie.wordpress.com/2012/04/11/struktur-dantekstur-batuan-metamorf/)

o Schistosic, terbentuk adanya susunan parallel mineral-mineral


pipih, prismatik atau lentikular (umumnya mika atau klorit) yang
berukuran butir sedang sampai kasar. Batuannya disebut schist
(sekis).
Gambar 6.3

Struktur Schistosic
(Sumber :http://ptbudie.wordpress.com/2012/04/11/struktur-dantekstur-batuan-metamorf/)

o Gneissic/Gnissose, terbentuk oleh adanya perselingan., lapisan


penjajaran mineral yang mempunyai bentuk berbeda, umumnya
antara mineral-mineral granular (feldspar dan kuarsa) dengan
mineral-mineral tabular atau prismatik(mineral ferromagnesium).

Laporan Resmi Praktikum Geologi Dasar 2015

Penjajaran mineral ini umumnya tidak menerus melainkan


terputus-putus. Batuannya disebut gneiss.

Gambar 6.4
Struktur Gneissic dan Sketsa Pembentukan Struktur
(Sumber :http://ptbudie.wordpress.com/2012/04/11/struktur-dantekstur-batuan-metamorf/)

Struktur Non-Foliasi, terbentuk oleh mineral-mineral equidimensional


dan umumnya terdiri dari butiran-butiran (granular). Struktur non
foliasi yang umum dijumpai antara lain:
o Hornfelsic/granulose, terbentuk oleh mozaic mineral-mineral
equidimensional dan equigranular dan umumnya berbentuk
polygonal. Batuannya disebut hornfels (batutanduk).

Gambar 6.5
Sruktur Hornfelsic
(Sumber :http://ptbudie.wordpress.com/2012/04/11/struktur-dantekstur-batuan-metamorf/)

Laporan Resmi Praktikum Geologi Dasar 2015

o Kataklastik, berbentuk oleh pecahan/fragmen batuan atau mineral


berukuran kasar dan umumnya membentuk kenampakan breksiasi.
Struktur kataklastik ini terjadi akibat metamorfosa kataklastik.
Batuannya disebut cataclasite (kataklasit).
o Milonitic, Dihasilkan oleh adanya penggerusan mekanik pada
metamorfosa kataklastik. Ciri struktur ini adalah mineralnya
berbutir halus, menunjukkan kenampakan goresan-goresan searah
dan belum terjadi rekristalisasi mineral-mineral primer. Batiannya
disebut mylonite (milonit).

Gambar 6.6
Sruktur milonitic
(Sumber :http://ptbudie.wordpress.com/2012/04/11/struktur-dantekstur-batuan-metamorf/)

c. Komposisi

Mineral Stress. Mineral yang terbentuk stabil pada kondisi tekanan

dan suhu, dimana mineral ini berbentuk pipih dan prismatik.


Mineral Anti-Stress.Mineral yang terbentuk bukan dari kondisi
tekanan dimana biasanya berbentuk equidimensional.

Batuan Metamorf secara umum dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu:
a. Batuan Metamorf Kontak

Laporan Resmi Praktikum Geologi Dasar 2015

Batuan yang mengalami metamorfose sebagai akibat dari


adanya suhu yang sangat tinggi (sebagai akibat dari aktivitas magma).
Adanya suhu yang sangat tinggi menyebabkan terjadinya perubahan
bentuk maupun warna batuan. Contohnya batu kapur (gamping)
menjadi marmer.
b. Batuan Metamorf Dinamo
Batuan yang mengalami metamorfose sebagai akibat dari
adanya tekanan yang tinggi (berasal dari tenaga endogen) dalam waktu
yang lama. Contohnya batu lumpur (mud stone) menjzdi batu tulis
(slate).
c. Batuan Metamorf Kontak Pneumatolistis
Batuan yang mengalami metamorfose sebagai akibat dari
adanya pengaruh gas yang ada pada magma. Contohnya kuarsa dengan
gas fluorium berubah menjadi topas.
6.3

Alat dan Bahan


6.3.1

Alat

6.3.2

6.4

Kamera
Lup
Mistar
Penghapus
Pensil
Pulpen

Bahan

Batu Gneiss
Batu Marmer 1
Batu Marmer 2
Batu Sabak
Batu Sekis 1
Batu Sekis 2
Batu Sekis 3
Prosedur Percobaan

Laporan Resmi Praktikum Geologi Dasar 2015

6.5

1
2

Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan


Mengamati jenis batuan, warna batuan, struktur batuan, tekstur batuan,

3
4
5

komposisi batuan dan nama batuan


Mengambil foto dari batuan dan menggambar pada hasil pengamatan
Mencatat hasil deskripsi pada hasil pengamatan
Mengulangi langkah 1 4 untuk batuan selanjutnya

Hasil Pengamatan
6.5.1Batuan Pertama

Nomor Urut
Nomor Batuan
Nama Batuan
Warna Batuan
Jenis Batuan
Struktur Batuan
Tekstur Batuan
Komposisi
Gambar

:1
: 3.1
: Batu Skies
: Hitam
: Metamorf
: Foliasi ( Schistose )
: Nematoblastik
: Mineral Stress
:

Gambar 6.7
Batu Skies

Laporan Resmi Praktikum Geologi Dasar 2015

6.5.2Batuan Kedua

Nomor Urut
Nomor Batuan
Nama Batuan
Warna Batuan
Jenis Batuan
Struktur Batuan
Tekstur Batuan
Komposisi
Gambar

:2
: 2.4
: Batu Skies
: Hitam Perak
: Metamorf
: Foliasi ( Schistose )
: Nematoblastik
: Mineral Stress
:

Gambar 6.8
Batu Skies

Laporan Resmi Praktikum Geologi Dasar 2015

6.5.3Batuan Ketiga

Nomor Urut
Nomor Batuan
Nama Batuan
Warna Batuan
Jenis Batuan
Struktur Batuan
Tekstur Batuan
Komposisi
Gambar

:3
: 1.1
: Batu Marmer
: Putih Kekuningan
: Metamorf
: Non-foliasi ( Hornfelsik )
: Plimpsest ( Tekstur sisa )
: Mineral anti Stress
:

Gambar 6.9
Batu Marmer

Laporan Resmi Praktikum Geologi Dasar 2015

6.5.4Batuan Keempat

Nomor Urut
Nomor Batuan
Nama Batuan
Warna Batuan
Jenis Batuan
Struktur Batuan
Tekstur Batuan
Komposisi
Gambar

:4
: 2.1
: Batu Skies
: Hitam Perak
: Metamorf
: Foliasi ( Schistose )
: Nematoblastik
: Mineral Stress
:

Gambar 6.10
Batu Skies

6.5.5Batuan Kelima

Nomor Urut

:5

Laporan Resmi Praktikum Geologi Dasar 2015

Nomor Batuan
Nama Batuan
Warna Batuan
Jenis Batuan
Struktur Batuan
Tekstur Batuan
Komposisi
Gambar

: 4.3
: Batu Gneiss
: Putih bercorak hitam
: Metamorf
: Foliasi Gneissic
: Lapidoblastik dan Granuloblastik
: Mineral Stress
:

Gambar 6.11
Batu Gneiss

6.5.6Batuan Keenam

Nomor Urut
Nomor Batuan
Nama Batuan
Warna Batuan
Jenis Batuan

:6
: 1.5
: Batu Marmer
: Putih Kekuningan
: Metamorf

Laporan Resmi Praktikum Geologi Dasar 2015

Struktur Batuan
Tekstur Batuan
Komposisi
Gambar

: Non-foliasi ( Hornfelsik )
: Plimpsest ( Tekstur sisa )
: Mineral anti Stress
:

Gambar 6.12
Batu Marmer

6.5.7Batuan Ketujuh

Nomor Urut
Nomor Batuan
Nama Batuan
Warna Batuan
Jenis Batuan
Struktur Batuan
Tekstur Batuan
Komposisi
Gambar

:7
: 3.3
: Batu Sabak
: Gelap Hitam Keabuan
: Metamorf
: Foliasi (Slaticleavage)
: Granoblastik
: Mineral Stress
:

Laporan Resmi Praktikum Geologi Dasar 2015

Gambar 6.13
Batu Sabak

6.6 Analisa Percobaan


Percobaan ini bertujuan untuk Mengetahui deskripsi batuan
metamorf,

mengklasifikasi

batuan

metamorf

berdasarkan

struktur,

mengklasifikasi batuan metamorf berdasarkan tekstur, mengklasifikasi


batuan metamorf berdasarkan komposisi mineral dan menyebutkan nama
nama batuan metamorf.
Batuan Metamorf adalah batuan yang terjadi karena proses ubahan
dari batuan asal oleh suatu proses metamorfosa. Batuan asal tersebut dapat
terdiri dari Batuan Metamorf, sedimen ataupun Batuan Metamorf itu sendiri.
Proses metamorf yaitu suatu proses dimana batuan asal mengalami
penambahan tekanan (P) atau temperatur (T) atau kenaikan P dan T secara

Laporan Resmi Praktikum Geologi Dasar 2015

bersama-sama. Berdasarkan strukturnya batuan metamorf dikelompokan


menjadi foliasi (slaty-cleavage, phyletic, Schistose, Gneissic) dan nonfoliasi (Hornfelsik, Kataklastik dan Milonitik). Berdasarkan teksturnya
batuan metamorf dikelompokan menjadi berdasarkan bentuk (Lepidoblastik,
Nematoblastik, Granoblastik dan Granuloblastik) berdasarkan pengamatan
petrografi (Porfiroblastik, Poikiloblastik, Mortar texture, Decusssate
texture,

Acarodial

texture)

dan

berdasarkan

ketahanan

terhadap

metamorfosa yaitu palimpsest (Blastoopofiritik dan Blastoopotitik).


Berdasarkan komposisi mineralnya batu metamorf dibagi menjadi mineral
stress dananti-stress.
Pada percobaan kali ini ada beberapa alat yang digunakan,
diantaranya kamera, lup, mistar, penghapus, pensil dan pulpen. Sedangkah
bahan yang digunakan yaitu sebuah batu gneiss, tiga buah batu marmer dan
tiga buah batu sekis
Sebelum melakukan percobaan, praktikanmenyiapkan alat dan
bahan yang digunakan lalu mengamati jenis batuan, warna batuan, struktur
batuan, tekstur batuan, komposisi mineral dan nama batuan, kemudian
mengambil foto batuan, menggambar batuan pada lembar hasil pengamatan,
mencatat hasil deskripsi pada lembar percobaan, mengulangi langkah untuk
batuan ke-3 sampai batuan ke-7 kemudian merapikan kembali alat dan
bahan yang telah digunakan.
Pada Praktikum kali ini, batuan pertama dengan nomor urut 1,
nomor batuan 3.1 berwarna hitam. Berstruktur foliasi schistose karena
terdapat kepingan mika. Bertekstur Nematoblastik karena mineral
pembentuknya berbentuk prismatik. Dan berkomposisi mineral stress karena
mineral berwarna gelap. Dapat disimpulkan bahwa batu tersebut tergolong
kedalam batuan metamorf bernama batu Skies.
Batuan kedua dengan nomor urut 2, nomor batuan 2.4 berwarna
hitam perak. Berstruktur foliasi schistose karena terdapat kepingan mika.
Bertekstur

Nematoblastik

karena

mineral

pembentuknya

berbentuk

prismatik. Dan berkomposisi mineral stress karena mineral berwarna gelap.

Laporan Resmi Praktikum Geologi Dasar 2015

Dapat disimpulkan bahwa batu tersebut tergolong kedalam batuan metamorf


bernama batu Skies.
Batuan ketiga dengan nomor urut 3, nomor batuan 1.1 berwarna
putih kekuningan. Berstruktur non-foliasi (Hornfelsik) karena butiran
mineral

relative

seragam.

Bertekstur

plimpsest

karena

mineral

pembentuknya berdasarkan dari tekstur sisa. Dan berkomposisi mineral


anti-stress karena mineral berwarna cerah. Dapat disimpulkan bahwa batu
tersebut tergolong kedalam batuan metamorf bernama batu Marmer.
Batuan keempat dengan nomor urut 4, nomor batuan 2.1 berwarna
hitam perak. Berstruktur foliasi schistose karena terdapat kepingan mika.
Bertekstur

Nematoblastik

karena

mineral

pembentuknya

berbentuk

prismatik. Dan berkomposisi mineral stress karena mineral berwarna gelap.


Dapat disimpulkan bahwa batu tersebut tergolong kedalam batuan metamorf
bernama batu Skies.
Batuan kelima dengan nomor urut 5, nomor batuan 4.3 berwarna
putih keabuan. Berstruktur foliasi gneissic karena memperlihatkan belahan
belahan

mineral

yang

tidak

rata.

Bertekstur

Lepidoblastik

dan

Granuloblastik karena mineral pembentuknya berbentuk tabular. Dan


berkomposisi mineral stress karena mineral berwarna gelap dan mineral
peenyusunnya lebih teratur. Dapat disimpulkan bahwa batu tersebut
tergolong kedalam batuan metamorf bernama batu Gneiss.
Batuan keenam dengan nomor urut 6, nomor batuan 1.5 berwarna
putih kekuningan. Berstruktur non-foliasi (Hornfelsik) karena butiran
mineral

relative

seragam.

Bertekstur

plimpsest

karena

mineral

pembentuknya berdasarkan dari tekstur sisa. Dan berkomposisi mineral


anti-stress karena mineral berwarna cerah. Dapat disimpulkan bahwa batu
tersebut tergolong kedalam batuan metamorf bernama batu Marmer.
Batuan ketujuh dengan nomor urut 7, nomor batuan 3.3 berwarna
gelap hitam keabuan. Berstruktur foliasi (slaticleavage) karena butiran
mineralnya sangat halus dan tidak dapat dilihat secara megaskopis.
Bertekstur granoblastik karena mineral pembentuknya berbentuk granular

Laporan Resmi Praktikum Geologi Dasar 2015

atau bulat. Dan berkomposisi mineral stress karena mineral berwarna gelap.
Dapat disimpulkan bahwa batu tersebut tergolong kedalam batuan metamorf
bernama batu Sabak.
6.7

Analisa Kesalahan
Dari Percobaan batuan metamorf yang telah dilakukan tidak ada
kesalahan dalam praktikum.

6.8

Kesimpulan
Dari Percobaan Batuan Metamorf yang telah dilakukan dapat
diambil beberapa kesimpulan, yaitu :
1. Percobaan ini bertujuan untuk Mengetahui deskripsi batuan metamorf,
mengklasifikasi batuan metamorf berdasarkan struktur, mengklasifikasi
batuan metamorf berdasarkan tekstur, mengklasifikasi batuan metamorf
berdasarkan komposisi mineral, menyebutkan nama nama batuan
metamorf
2. Batuan Metamorf adalah batuan yang terjadi karena proses ubahan dari
batuan asal oleh suatu proses metamorfosa. Batuan asal tersebut dapat
terdiri dari Batuan Metamorf, sedimen ataupun Batuan Metamorf itu
sendiri. Proses metamorf yaitu suatu proses dimana batuan asal
mengalami penambahan tekanan (P) atau temperatur (T) atau kenaikan P
dan T secara bersama-sama
3. Batuan metamorf dapat dibedakan secara struktur, tekstur maupun
komposisi mineral.
4. Secara umum struktur yang di jumpai dalam batuan metamorf
dikelompokan menjadi struktur foliasi dan foliasi.
5. Tekstur Porfiroblastik adalah tekstur yangsama dengan tekstur porfiritik
(batuanbeku), hanya kristal besarnyadisebut porfiroblast.
6. Tekstur Granuloblastik adalah tekstur yang memperlihatkan butir-butir
mineral seragam.
7. Tekstur Lepidoblastik adalah tekstur yang memperlihatkan susunan
mineral saling sejajar dan berarah dengan bentuk mineral pipih.

Laporan Resmi Praktikum Geologi Dasar 2015

8. Foliasi adalah sifat pelapisan berdaun.


9. Foliasi terbagi menjadi empat yaitu slatycleavage, philitic, schistose, dan
gneissic.
10. Non-foliasi dicirikan dengan tidak terdapatnya suatu penjajaran dari
mineral yang ada dalam batuan metamorf.
11. Tekstur batuan metamorf berdasarkan

bentuknya

terdiri

dari

lepidoblastik, nematoblastik, granoblastik, granuloblastik.


12. Komposisi mineral dibagi menjadi dua yaitu mineral stress dan antistress.
13. Pada prosedur percobaan kita harus memperhatikan penjelasan asisten
praktikum, mempersiapkan alat dan bahan, melakukan pengamatan pada
batuan metamorf, mengambil gammbar, mencatat hasil pengamatan, dan
merapihkan kembali alat dan bahan yang telah digunakan.
14. Alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu :
Kamera untuk memfoto batuan
Lup untuk mengmati batuan
Mistar untuk mengukur batuan
Penghapus untuk menghapus gambar dan tulisan yang salah
Pensil untuk menulis dan menggambar batuan
Pulpen untuk menulis
15. Bahan bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu :
Batu Gneiss
Batu Marmer 1
Batu Marmer 2
Batu Sabak
Batu Skies 1
Batu Skies 2
Batu Skies 3
16. Hasil pengamatan berdasarkan warna batuan yaitu :
Batu Gneiss berwarna putih keabuan
Batu Marmer 1 berwarna putih kekuningan
Batu Marmer 2 berwarna putih kekuningan
Batu Sabak berwarna gelap hitam keabuan
Batu Skies 1 berwarna hitam
Batu Skies 2 berwarna hitam perak
Batu Skies 3 berwarna hitam perak
17. Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa keenam batuan
tersebut tergolong kedalam batuan metamorf.
18. Berdasarkan struktur yaitu :

Laporan Resmi Praktikum Geologi Dasar 2015

Batu Gneiss berstruktur foliasi gneissic


Batu Marmer 1 berstruktur non-foliasi plimpsest
Batu Marmer 2 berstruktur non-foliasi plimpses
Batu Sabak berstruktur foliasi slaticleavage
Batu Skies 1 berstruktur foliasi schistose
Batu Skies 2 berstruktur foliasi schistose
Batu Skies 3 berstruktur foliasi schistose

19. Berdasarkan tekstur yaitu :


Batu Gneiss bertekstur lepidoblastik dan granuloblastik
Batu Marmer 1 bertekstur nematoblastik
Batu Marmer 2 bertekstur nematoblastik
Batu Sabak bertekstur granoblastik
Batu Skies 1 berstruktur bertekstur nematoblastik
Batu Skies 2 berstruktur bertekstur nematoblastik
Batu Skies 3 berstruktur bertekstur nematoblastik
20. Berdasarkan komposisi mineral yaitu :
Batu Gneiss berkomposisi mineral stress
Batu Marmer 1 berkomposisi mineral anti-stress
Batu Marmer 2 berkomposisi mineral anti-stress
Batu Sabak berkomposisi mineral stress
Batu Skies 1 berkomposisi mineral stress
Batu Skies 2 berkomposisi mineral stress
Batu Skies 3 berkomposisi mineral stress

Laporan Resmi Praktikum Geologi Dasar 2015