Anda di halaman 1dari 16

Dewan Perwakilan Rakyat 1965-1971

Dewan Perwakilan Rakyat 1965-1971 yang disebut dengan


Dewan

Perwakilan

Rakyat

Gotong

Royong

(DPR-GR),

dikelompok-kelompokkan kedalam dua kurun waktu:


1. 15 Nopember 1965 - 19 Nopember 19666
2. 19 Nopember 1966 28 Oktober 1971
Pembagian ini berdasarkan sumber hukum keanggotaan dan
sifat keanggotaanya yang ada dengan pemberontakan PKI
(G 30 S/PKI) yang kemudian melahirkan Orde Baru.
DPR-GR 1965-1966
G 30 S/PKI adalah peristiwa yang kemudian menjadi titik
balik terjadinya perubahan revolusioner secara nasional di
Indonesia

di

segala

bidang

kehidupan.

Perubahan

itu

mencakup bidang kehidupan politik, ekonomi, sosial buday


dan lain-lain. Pemberontakan ini didalangi oleh PKI yang
mengakibatkan

wafatnya

tujuh

perwira

TNI-AD

yang

kemudian ditetapkan menjadi pahlawan revolusi.


Terhadap peristiwa tersebut, DPR-GR mempunyai sikap yang
tegas. Sikap anggota DPR-GR terlihat dari pernyataan
pendapat

DPR-GR

tentang

petualangan

Gerakan

30

September), yang diputuskan dalam persidangan DPR-GR


(minus amggota dari PKI) tanggal 15 Nopember 1965. Sikap
tersebut

dapat

dilihat

dari

tiga

butir

konsiderans

menimbang, sebagai berikut:


1. bahwa yang di sebut Gerakan 30 September , yang
berdasarkan fakta-fakta yang hingga kini diperoleh, nyatanyata di dalangi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) dan
ormas-ormasnya.

2.

bahwa

petualangan

yang

disebut

Gerakan

30

September atau Gestapu itu adalah gerakan kontra


revolusi,

karena

mengkhianati

revolusi

Indonesia

dan

Pancasila serta melakukan tindakan-tindakan biadab diluar


peri kemanusiaan Indonesia sehingga menimbulkan banyak
korban, baik dikalangan pimpinan Angkatan Bersenjata,
maupun dikalangan rakyat.
3. bahwa rakyat pada umumnya termasuk buruh,tani,
pegawai, baik yang tergabung dalam partai-partai politik
serta ormas-ormas yang progresif revolusioner maupun
Angkatan Bersenjata mengutuk sekeras-kerasnya semua
tindakan

kontra

levolusioner

dari

apa

yang

di

sebut

Gerakan 30 September dan menutut pembubaran dari


partai dan ormas-ormas yang menjadi dalang gestapu
tersebut.
Sidang paripurna tanggal 15 Nopember 1965 didahului
adanya

Surat

Keputusan

Pimpinan

DPR-GR

mengenai

pembekuan keanggotaan DPR-GR yang berasal dari fraksi


PKI dan ormas-ormasnya. Surat keputusan Pimpinan DPR-GR
itu ialah No. 10/Pimp/I/65-66 yang membekukan 55 orang
anggota yang berasal dari PKI. Kemudian disusul lagi dengan
Keputusan Pimpinan DPR-GR No. 13/Pimp/I/1965-1966 yang
membekukan keanggotaan sebanyak delapan orang.
Keanggotaan DPR-GR pada waktu terjadinya peristiwa G 30
S/PKI, adalah memakili golongan politik yang memberikan
jaminan adanya kerja sama dengan presiden yang berisikan
hasil

pemilihan

umum

tahun

1955

ditambah

dengan

pengangkatan berdasarkan Surat Keputusan Presiden No.


156 sebagai kelanjutan dari Per.pres No. 4 tahun 1960.
Secara

material

anggota

DPR-GR

minus

anggota

menyalurkan

aspirasi

yang

berkembang

yaitu

dikuluarkannya dua butir tuntutan dari tiga tuntutan rakyat.


Kedua butir itu ialah bersihkan cabinet dari unsur PKI dan
bubarkan PKI. (DRr. Muchtar Pakpahan: DPR RI SEMASA
ORDE BARU:71)
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT GOTONG ROYONG MASA
ORDE BARU
Hasil kerja siding umum ke-4 MPRS 1966, yang dituangkan
dalam 24 ketetapan berikut Resolusi MPRS dan 4 keputusan,
telah menjadi sejarah sekaligus membawa arti sangat
penting dalam kehidupan berdemokrasi di Indonesia untuk
waktu-waktu selanjutnya.
Berlandaskan ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1996, yang
kemudian dikukuhkan dalam Undang-Undang No. 10/1966,
Maka DPR-GR Masa Orde Baru memulai kerjanya dengan
menyesuaikan diri pada masa transisi dari Orde Lama ke
Orde Baru.
DPR dalam masa Orde Baru masih tetap menyandang nama
DPR-GR. Hal ini dikaitkan dengan tata kerja DPR-GR yang
tetap berlandaskan kepada musyawarah dan mufakat, baik
ke dalam maupun keluar dengan pihak pemerintah, sesuai
dengan kepribadian Indonesia. DPR-GR masa Orde Baru
pada hakikatnya masih merupakan kelanjutan dari DPR-GR
masa Orde lama, yang disusun berdasarkan Penetapan
Presiden

(Penpres)

no.

4/1960,

yang

komposisi

keanggotaannya terdiri dari wakil-wakil golongan politik dan


golongan karya, ditambah dengan seorang wakil dari Irian
Jaya. Jumlah anggota DPR-GR 19 Nopember 1966, sebelum
diadakan penambahan pada pada waktu itu tetap 242
orang. Namun dirasakan bahwa DPR-GR perlu penyegaran

baik dalam personilia maupun dalam jumlah yang memadai.


(D N. Marbun : DPR-RI pertumbuhan dan cara kerjanya: 140)
Memasuki

kurun

diberlakukannya

waktu
UU

1966-1971

No.

10

diawali

dengan

1966

tentang

Tahun

keanggotaan DPR-GR. Undang-undang ini selain mengatur


keanggotaan, juga mengatur tugas dan wewenang. Yang
mendorong
rangka

lahirnya

pemurnian

undang-undang
pelaksanaan

UUD

ini

adalah

1945,

dalam

khususnya

kedudukan DPR-GR yang diatur dalam Per.Pres No.4 Tahun


1960.
Pada

hakikatnya

setelah

19

Nopember

1966

ini,

keanggotaan DPR GR merupakan kelanjutan dari Per.Pres


No. 4 Tahun 1960. Sehingga walaupun UU No. 10 Tahun
1966

sudah

ada

setelah

dilakukan

pergantian

dan

penyegaran, baru pada tanggal 13 Pebuari 1968 Pj. Presiden


Soeharto melantik anggota DPR-GR dalam rangka UU No. 10
Tahun 1966.
Jumlah anggota DPR-GR setelah pelantikan 13 Pebuari 1968
menjadi 414 orang. Seluruh anggota ini di kelompokkan
kedalam fraksi-fraksi, yang susunannya sebagai berikut:
1
2
3
4
5
6
7
8
9

P.N.I
N.U
Parkindo
Partai Katholik
P.S.I.I
I.P.K.I
Perti
Murba
Partai
Muslimin

78
75
17
15
20
11
9
4
18

Indonesia
10 A B R I
75
11 Karya Pembangunan 32
A

12 Karya Pembangunan 32
B
13 Karya Pembangunan 28
C
Jumlah

414
Orang

Satu

tindakan

penting

yang

diambil

DPR-GR

setelah

keluarnya UU no. 10 tahun 1966 adalah Resolusi dan


memorandum DPR-GR tertanggal 9 Pebuari 1967. Resolusi
itu meminta sidang MPRS agar mengambil tindakan:
a. memberhentikan presiden soekarno dari jabatannya dan
memilih/mengangkat Pejabat Presiden sesuai dengan Pasal
3 Ketetapan MPRS No. XV/MPRS/1966.
b. memerintahkan badan kehakiman untuk mengadakan
pengusutan, pemeriksaan dan penuntutan secara hukum.
Resolusi ini sebagai lanjutan dari jawaban Presiden
Perlengkap Nawaksara tertanggal 10 Januari 1967. Dalam
jawabn itu, presiden Soekarno menyatakan bahwa peristiwa
G30 S/PKI adalah peristiwa tak terduga-duga.
Dengan adanya resolusi dan memorandum DPR-GR yang
disampaikan

secara

resmi

tanggal

11

Pebuari

1967,

Pimpinan MPRS mengundang sidang Istimewa MPRS yang


berlangsung tanggal 7 sampai dengan 11 Maret 1967 di
Jakarta. Hasil sidang paling penting dari sidang MPRS ini
adalah mencabut kekuasaan pemerintahan negara dari
Presiden Soekarno. (DRr. Muchtar Pakpahan: DPR RI SEMASA
ORDE BARU:71)
Sidang MPRS Istimewa yang berlangsung selama enam hari
enam malam di Gedung Istora Senayan dibuka oleh ketua

MPRS Jendral A.H. Nasution pada 7 Maret 1967. Peristiwa ini


sering disebut sebagai detik-detik berhasilnya Orde Baru
dan kemengan Pancasila/UUD 1945. Dalam Sidang Istimewa
MPRS 7-11 Maret 1967, diputuskan pencabutan kekuasaan
pemerintahan negara dari Presiden Soekarno, peninjauan
kembali

ketetapan

MPRS

No.

1/MPRS/1960

tentang

manifesto Politik sebagai Garis-garis Besar Halauan Negara,


dan beberapa ketetapan MPRS lainnya.
Keberhasilan MPRS lewat sidang Istimewa telah mengakhiri
dualisme pemerintahan dan konflik situasi serta sekaligus
meluruskan jalan bagi Orde Baru dalam menuntaskan
tugasnya sesuai dengan ketetapan MPRS. (D N. Marbun :
DPR-RI pertumbuhan dan cara kerjanya: 151)

Dengan berakhirnya sidang MPRS tanggal 11 Maret 1967


berakhirlah ketegangan nasional yang berlangsung sejak
tanggal 1 Oktober 1965 sebagai akibat peristiwa G 30 S/PKI.
Keadaan politik nasional memasuki suasana baru dengan
ketidak hadiran Soekarno secara formal di panggung politik.
Mulailah pemerintah menyusun rencan kerja pembangunan
nasional, yang terbagi dalam Pola Umum Pembangunan
Jangka

Panjang

25

Tahun,

dan

Repelita

(Rencan

Pembangunan Lima Tahun). (DRr. Muchtar Pakpahan: DPR RI


SEMASA ORDE BARU:71)
Dewan Perwakilan Rakyat 1971-1982
Dewan perwakilan rakyat kurun waktu 1971-1982 dapat
dibagi dalam dua masa kerja:
1. Hasil pemilihan umum tahun 1971 dengan masa kerja
1971-1977

2.Hasil pemilihan umum tahun 1977 dalam masa kerja


1977-1982.
DPR kurun waktu 1971-1982 merupakan awal pembahasan
DPR masa kerja 1982-1987. Untuk membantu memahami
peranan DPR kurun waktu 1971-1982 ini, harus ditinjau
dasar hukum dan pelaksanaan pemilihan umum tahun 1971
dan

1977.

Sebab

keanggotaan

DPR

kurun

waktu

ini

dihasilkan kedua pemilihan umum tersebut diatur dalam


sebuah undang-undang pemilu, sebagai kristalisasi dari
iklim politik.
DPR Periode 1971 1977
Pemilihan umum diselenggarakan pada tanggal 3 juli 1971.
Pelantikan

atau

pengambilan

sumpah

anggota

DPR

dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober 1971 oleh Oemar


Senoadji selaku ketua MA, sebagai mana diatur dalam UU
No. 19 tahun 1969 tentang Susunan dan Kedudukan Majelis
Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat dan
Dewan

Perwakilan

Daerah

(di

singkat

susunan

dan

kedudukan MPR,DPR dan DPRD). Jumlah seluruh anggota


DPR adalah 460 dan anggota MPR adalah 920. Jumlah
anggota DPR tersebut berasal: 360 dari pemilihan umum
dan 100 melalui pengangkatan. Komposisi keanggotaan DPR
yang dilantik pada tanggal 28 Oktober 1971 itu (sesuai
dengan pertimbangan pemilihan umum).
Dalam Kep.Pres No. 107/M tahun 1971 adalah sebagai
berikut:
A
B
C
D
E

Partai
Partai
Partai
Partai
Partai

Katholik
Syarikat Islam
Nahdatul Ulama
Muslimin Indonesia
Kristen Indonesia

3 kursi
10 kursi
58 kursi
24 kursi
7 kursi

F
Partai Nasional Indonesia
G
Partai Islam Perti
H
Partai Golongan Karya
Jumlah

20 kursi
2 kursi
227 kursi
351 kursi

Hasil Pengangkatan
A
Golongan Karya ABRI
B
Golongan Karya Non-ABRI
Jumlah

75 kursi
25 kursi
100 kursi

Susunan Pimpinan DPR 1971-1977 ialah:


Ketua

: K.H. Dr. Idham Chalid

Wakil Ketua : Drs. Sumiskun


Wakil Ketua : J. Naro S.H
Wakil Ketua : R. Domo Pranoto (Irjen Pol)
Wakil Ketua : Mh. Isnaeni
Pimpinan DPR menggambarkan hasil musyawarah untuk
mufakat dan mewakili semua kelompok atau fraksi di DPR.
Sesuai dengan ini rumusan Pasal 2 ayat (1) Peraturan Tata
Tertib DPR-RI, dirumuskan bahwa DPR adalah lembaga
negara yang bertanggung jawab dan berwenang untuk
menjalankan tugas utama yaitu:
a. bersama-sama dengan Pemerintah menetapkan Anggaran
pendapatan dan Belanja Negara sesuai dengan Pasal 23
ayat (1) UUD 1945 beserta penjelasannya.
b. bersama-sama dengan pemerintah membentuk undangundang, sesuai dengan pasal 5 ayat (1), Pasal 20, Pasal 21,
ayat (1), pasal 22 UUD 1945 beserta penjelasannya.

c. melakukan pengawasan atas pelaksanaan Anggaran


Pendapatan

dan

Belanja

pemerintah

sesuai

Negara

dengan

jiwa

dan

kebijaksanaan

UUD

1945

dan

Penjelasannya.
Sesuai dengan tugas DPR yang telah dirumuskan
diatas, berikut hak-hak DPR dan anggota DPR, maka DPR-RI
1971-1977 telah berhasil membuat 43 undang-undang
dalam berbagai bidang. Disamping itu DPR 1971-1977
menghasilkan

memorandum

(memorandum

masalah

Proyek miniatur Indonesia Indah dan Hari Depan Generasi


Muda; Memorandum Tentang Penetapan Harga Gula Hasil
Panen

1972

dan

Rencana

Ekspor

Gula

Tahun

1974;

Memorandum DPR-RI Tentang Masalah Barat), dan usul


pernyataan Pendapat (usul pernyataan Jacob Tobing dan
kawan-kawan tentang pengamatan dan pengembangan
Industri Dalam Negeri; usul pendapat Cosmas Batubara dan
kawan-kawan tentang peristiwa 15 Januari 1974; usul
pernyataan
tentang

pendapat

proses

Widyapranata

Dekolonialisasi

dan

Timor

kawan-kawan
Portugis;

usul

pernyataan pendapat A.A Oka Mahendra dan kawan-kawan


tengtang masalah Timor Portugis), serta mengajukan 2
pencalonan untuk Lembaga Tinggi Negara: pencalonan
ketua,

wakil

dan

anggota-anggota

Badan

Pemeriksa

Keuangan; pencalonan hakim-hakim Mahkamah Agung. (D


N. Marbun : DPR-RI pertumbuhan dan cara kerjanya: 154)

DPR Periode 1977-1982


Berdasarkan

Tap

No.

VIII/MPR/1973

tentang

Pemilihan

Umum, dipandang perlu untuk mengadakan perubahan


terhadap undang-undang No. 15/1969 tentang Pemilihan

Umum

anggota-anggota

Badan

Permusyawaratan/

Perwakilan Rakyat, yang bertujuan untuk menyempurnakan


sesuai dengan keadaan.
Dengan demikian maka pemilihan umum 1967 untuk
memilih anggota DPR RI. Undang-Undang No. 15/1969 tidak
dipergunakan lagi dan sebagai gantinya adalah UndangUndang No. 4/1975 LN No 38/1975 dan TLNRI no 3063.
Pemilihan umum tahun 1977 adalah kedua kali sejak
kembali ke UUD 1945 dalam masa Orde Baru atau yang
ketiga sejak Indonesia merdeka. Pemilihan umum yang
kedua ini diadakan pada tanggal 2 Mei 1977. Seperti
diketahui bahwa setelah di undang-undangkannya UU No.
3/1975 tentang parpol dan Golkar maka ditetapkan bahwa
pemilihan umum di ikuti oleh dua Parpol yaitu Partai
Persatuan

Pembangunan

(PPP)

dan

Partai

Demokrasi

Indonesia (PDI) serta satu Golongan Karya (Golkar).


Dengan demikian maka Organisasi peserta pemilu
atau Orsospol yang ikut dalam Pemilu 1977 adalah PP,
GOLKAR dan PDI. Jumlah anggota DPR RI adalah sebanyak
460 orang dengan perincian sebanyak 360 orang dipilih
dalam pemilihan umum dan 100 orang yang diangkat.
Anggota yang diangkat tersebut terdiri dari 75 Golongan
Karya ABRI dan 25 Golongan Karya Non-ABRI. (Max Boboy,
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT INDONESIA Dalam Perspektif
Sejarah dan Tatanegara:61)
Komposisi kursi DPR RI sebagai hasil pemilihan umum tahun
1977 adalah sebagai berikut:
A

Partai

Pembangunan
Golongan Karya

Persatuan 99 Kursi
203 Kursi

C
Partai Demokrasi Indonesia
Jumlah
D Golkar ABRI
E
Golkar non-ABRI
Jumlah
Jumlah seluruhnya

29 Kursi
360 Kursi
75 Kursi
25 Kursi
100 Kursi
460 Kursi

Adapun pimpinan DPR RI periode 1977 1982 adalah:


Ketua

: H. Adam Malik

Wakil Ketua : Mashuri, S. H.


Wakil Ketua : Kartidjo
Wakil Ketua : Mh. Isnaeni
Wakil Ketua : K. H. Masykur
Karena Adam malik oleh MPR RI diangkat menjadi Wakil
Presiden, maka kedudukan Ketua DPR RI tersebut digantikan
oleh Jendral TNI Daryatmo.
Selama masa kerjanya DPR ini telah menghasilkan 56
undang-undang, 1 hak interpelasi tetapi ditolak oleh sidang
pleno DPR. Mengajukan 6 hak bertanya, membicarakan hak
angket 1 kali menerima 368 delegasi perorangan dan
menerima 4.1914 delegasi masyarakat. (Max Boboy, DEWAN
PERWAKILAN RAKYAT INDONESIA Dalam Perspektif Sejarah
dan Tatanegara:62)
DPR RI Periode 1982-1987
Sama seperti DPR RI periode 1977-1982, maka untuk
pemilihan umum DPR RI tahun 1982 peraturan perundangundangannya

pun

mengalami

perubahan

yakni

menyesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan.

untuk

Dengan dilandasi oleh Tap No. VII/MPR/1978 tentang


Pemilihan Umum dipandang perlu mengadakan perubahan
terhadap Undang-Undang No. 15/1969 yang selanjutnya
telah diubah dengan Undang-Undang No. 4/1975 dengan
tujuan

untuk

menyempurnakan

sesuai

dengan

perkembangan keadaan.
Adapun

undang-undang

yang

menggantikan/mengubah undang-undang tersebut diatas


ialah undang-undang No. 2/1980 LN No.24 1980 dan TLNRI
No.3163 yang merupakan dasar hukum pemilihan umum
anggota-anggota badan permusyawaratan/perwakilan tahun
1982.
Pemilihan

umum

tahun

1982

adalah

merupakan

pemilihan umum yang ketiga setelah berlakunya UUD 1945


atau yang ke-4 sejak Proklamasi Kemerdekaan RI. Organisasi
Peserta Pemilu atau Organisasi Sosial Politik yang ikut dalam
Pemilu tahun 1982 adalah Partai Persatuan Pembangunan
(PPP), Golongan Karya (GOLKAR) dan Partai Demokrasi
Indonesia (PDI). Pemilu ke-3 ini dilaksanakan pada tanggal 4
mei 1987.
Jumlah anggota DPR periode 1982-1987 adalah sebanyak
460 orang dengan komposisi 360 orang dipilih dalam
pemilihan umum dan 100 orang yang di angkat termasuk 4
orang wakil dari propinsi Timor Timur. (Max Boboy, DEWAN
PERWAKILAN RAKYAT INDONESIA Dalam Perspektif Sejarah
dan Tatanegara:62)
Adapun komposisi anggota DPR yang terpilih adalah:
1. Fraksi Golongan Karya
Anggota

246

2. Fraksi Partai Demokrasi Indonesia

24

Anggota
3. Fraksi Partai Persatuan Pembangunan

94

Anggota
Susunan Pimpinan DPR adalah:
Ketua

: H.Amir Machmud

Wakil Ketua : Dr. Amir Murtono, S.H.


Wakil Ketua : M. Kharis Suhud
Wakil Ketua : H. Nuddin Lubis
Wakil Ketua : Drs. Hardjanto Sumosdisastro
Seperti hasil pemilu 1977 juga komposisi pimpinan
DPR mencerminkan semua fraksi secara berimbang.
Kalau

pemilu

1977

lebih

mantap

dibanding

pelaksanaan pemilu 1971, maka pemilu 1982 berjalan lebih


tertib serta masyarakat semakin terbiasa dengan pemilihan
umum atau kehidupan berdemokrasi. Hal ini merupakan
modal pembangunan umumnya dan modal pembangunan
politik

khususnya,

terutama

menuju

terealisasinya

Demokrasi Pancasila. Sampai akhir tugasnya, DPR periode


1982-1987 telah menyelesaikan 45 undang-undang dari
berbagai bidang serta melaksanakan isi UUD 1945 serta
ketetapan MPR No. II/MPR/1978 dan Ketetapan MPR No.
III/MPR/1978, tentang kedudukan dan Tata Kerja Lembaga
Tinggi Negara dangan/atau antar lembaga Tinggi-Tinggi
Negara, menyebutkan DPR yang seluruh anggotanya adalah
MPR berkewajiban senantiasa mengawasi tindakan-tindakan
presiden dalam rangka pelaksanaan Haluan Negara.
DPR Periode 1987-1992

Dasar hukum yang dipakai untuk memilih anggota-anggota


Badan Permusyawaratan / Perwakilan Rakyat adalah Tap No.
III/MPR/1983

tentang

Pemilihan

Umum,

serta

sesuai

demgam perkembangan keadaan, sehingga dipandang perlu


untuk menyempurnakan dan mengadakan perubahan atas
Undang-Undang No. 15/1969 yang telah di ubah dengan
undang-undang No. I/1985
Dengan demikian untuk pemilihan umum anggotaanggota badan permusyawaratan atau perwakilan rakyat
tahun 1987 ialah undang-undang No. I/1985 dan TLNRI No.
3281.
Pemilihan

umum

untuk

DPR

periode

1987-1992

dilaksanakan pada tanggal 23 April 1987 dan merupakan


pemilihan umum yang ke-4 sejak berlakunya kembali UUD
1945atau yang ke-5 sejak Indonesia memproklamirkan
kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945.
Organisasi peserta pemilu atau organisasi politik
(Orsospol) yang ikut berpartisipasi dalam pemilu 1987 sama
dengan Orsospol yang ikut Pemilihan umum tahun 1977 dan
1982
Jumlah

anggota

DPR

periode

1987-1982

adalah

sebanyak 500 orang yang terdiri dari 400 orang dipilih


melalui pemilihan umum dan 100 orang berdasarkan
pengangkatan. Adapun komposisi anggota DPR yang terpilih
adalah :
1.
2.
3.
4.

Fraksi Golongan Karya


: 299
Fraksi Partai Demokrasi Indonesia
Fraksi Partai Persatuan Pembangunan
Golongan Karya ABRI yang diangkat
Jumlah

orang
: 40 orang
: 61 orang
: 100 orang
: 500 orang

Susunan Pimpinan DPR ini adalah :


Ketua

: H. Kharis Suhud

Wakil Ketua : Syaiful Sulun


Wakil Ketua : Sukardi
Wakil Ketua : Drs. Suryadi
Wakil Ketua : J. Naro, S.H.
Sama seperti hasil pemilu 1971, 1977, 1982, juga komposisi
pimpinan DPR hasil pemilu 1987 mencerminkan semua
unsur fraksi DPR.
Setingkat demi setingkat pemilu 1987 mengalami
perbaikan

dan

relatif

lancer.

Semua

kegiatan

yang

merupakan hak, kewajiban dan wewenang DPR dirumuskan


dalam Peraturan Tata Tertib DPR (1987) yang pada garis
besarnya berisikan antara lain:
a. bersama-sama presiden membentuk undang-undang
b. bersama-sama dengan presiden menetapkan APBN
c. melakukan pengawasan atas:
1. Pelaksanaan undang-undang
2. Pelaksanaan APBN serta pengelolaan

keuangan

neraga
3. Kebijakan pemerintah sesuai dengan jiwa UndangUndang Dasar 1945 dan Ketetapan-ketetapan MPR
d. membahas untuk meratifikasi dan/atau memberikan
persetujuan atas pernyataan perang, membuat perdamaian
dan perjanjian dengan negara lain yang dilakukan oleh
presiden

e. membahas hasil pemeriksaan atas pertanggung jawaban


f. melaksanakan hal-hal yang di tugaskan oleh ketetapanketetapan MPR ke DPR.