Anda di halaman 1dari 36

Presentasi Kasus

SEORANG LAKI-LAKI 61 TAHUN DENGAN HEMIPARESE SINISTRA


ET CAUSA STROKE NON HEMORAGIK DAN DISFAGIA

Oleh:
Berlian Maya Dewi
G99161027
Pembimbing
Yunita Fatmawati, dr., Sp.KFR

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN REHABILITASI MEDIK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
RSUD DR.MOEWARDI
2016
BAB I
STATUS PENDERITA
I

ANAMNESIS

A Identitas Pasien

Nama
Umur
Jenis kelamin
Agama
Pekerjaan
Alamat
Status
Tanggal Masuk
Tanggal Periksa
No RM
Keluhan Utama

: Tn. P
: 61 tahun
: Laki-laki
: Islam
: Petani
: Miri, Sragen, Jawa Tengah
: Menikah
: 17 Desember 2015
: 21 Desember 2015
: 01362722

Kelemahan anggota gerak kiri


C

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien mengeluh kelemahan anggota gerak kiri yang mendadak 1
hari sebelum masuk rumah sakit. Pasien mengaku sebelumnya tidak ada
keluhan kelemahan anggota gerak, dan masih bisa melakukan aktivitas
jalan-jalan keliling sekitar rumah. Namun, tiba-tiba saat akan berjalan
memasuki rumah, pasien merasa anggota gerak kiri lemah sehingga
pasien tidak dapat berjalan. Keluhan dirasakan terus-menerus sepanjang
hari. Setelah bangun tidur di pagi hari, keluhan dirasakan semakin
memberat disertai dengan bicara pelo. Pasien tidak muntah, kejang,
maupun penurunan kesadaran. Tidak didapatkan riwayat trauma kepala
sebelumnya. Pasien juga menyangkal adanya demam dan riwayat
benjolan abnormal di tubuh.
Pasien memiliki riwayat sakit hipertensi sejak 10 tahun yang lalu
tetapi tidak rutin minum obat. Selain itu, pasien juga memiliki riwayat
sakit jantung kurang lebih 5 tahun yang lalu. Pasien dinyatakan
jantungnya membesar akan tetapi pasien tidak rutin meminum obat.
Kemudian oleh keluarga, pasien diantar RSDM karena merasa
kelemahan yang dialami tidak membaik.
Pada hari perawatan ke-4, pasien masih merasa anggota gerak kiri
masih lemah dan sulit digerakkan. Pasien masih berbicara pelo. Pasien
sampai saat ini juga masih mengalami kesulitan dalam melakukan
aktivitas sehari-hari.

D Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat Hipertensi

: + tidak terkontrol

Riwayat DM
Riwayat Stroke
Riwayat Dislipidemia
Riwayat Alergi obat/ makanan
Riwayat Trauma
Riwayat Penyakit Jantung
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat Hipertensi
Riwayat DM
Riwayat Penyakit Jantung
Riwayat Alergi obat/ makanan
Riwayat Stroke
Riwayat Kebiasaan dan Gizi
Penderita makan tiga kali sehari

: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal
: + tidak terkontrol
: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal
dengan sepiring nasi dan lauk pauk

berupa daging, tahu, tempe, telur, dan sayur.


Riwayat merokok
: (+) 1 pak habis 2 hari
Riwayat mengonsumsi alkohol
: disangkal
Riwayat olahraga
: tidak rutin
G Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien tinggal bersama istri dan seorang anaknya. Pasien bekerja sebagai
petani dan berobat dengan menggunakan fasilitas BPJS PBI.
II PEMERIKSAAN FISIK
A Status Generalis
Keadaan umum kesan gizi cukup, GCS E4V5M6.
B Tanda Vital
Tekanan darah
: 150/80 mmHg
Nadi
: 60 x/ menit, isi cukup, irama teratur
Respirasi
: 20 x/menit, irama teratur, tipe thoracoabdominal
Suhu
: 36,6 0C per aksiler
C Kulit
Warna sawo matang, pucat (-), ikterik (-), petechie (-).
D Kepala
Bentuk mesocephal, kedudukan kepala simetris, luka (-), rambut hitam
beruban, tidak mudah rontok, tidak mudah dicabut, atrofi otot (-).
E Mata
Conjunctiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-), refleks cahaya langsung dan tak
langsung (+/+), pupil isokor (3mm/3mm), oedem palpebra (-/-).
F Hidung
Nafas cuping hidung (-), deformitas (-), darah (-/-), sekret (-/-).
2

G Telinga
Deformitas (-/-), darah (-/-), sekret (-/-).
H Mulut
Bibir kering (-), sianosis (-), lidah kotor (-), lidah simetris (-), lidah
tremor (-), stomatitis (-), mukosa pucat (-), gusi berdarah (-), papil lidah
atrofi(-).
Leher
Simetris, trakea di tengah, JVP dalam batas normal, limfonodi tidak

membesar, nyeri tekan (-), benjolan (-).


Thorax
a Retraksi (-), simetris
b Cor
Inspeksi : Ictus Cordis tampak
Palpasi : Ictus Cordis kuat angkat, teraba di SIC V medial linea

axillaris anterior
Perkusi : Konfigurasi Jantung kesan normal
Auskultasi : BJ I-II intensitas normal, reguler, bising (-)
c Pulmo
Inspeksi : Pengembangan dinding dada kanan = kiri
Palpasi : Simetris, fremitus raba kanan = kiri
Perkusi : Sonor/Sonor
Auskultasi : Suara dasar vesikuler (+/+), Suara tambahan (-/-)
K Trunk
Inspeksi : deformitas (-), skoliosis (-), kifosis (-), lordosis(-)
Palpasi
: massa (-), nyeri tekan (-), oedem (-)
Perkusi
: nyeri ketok kostovertebra (-)
L Abdomen
Inspeksi : dinding perut sejajar dinding dada
Auskultasi : peristaltik (+) normal
Perkusi
: timpani
Palpasi
: supel, nyeri tekan (-), hepar lien tidak teraba
M Ekstremitas
Oedem
-

Akral dingin

N Status Neurologis
Kesadaran
Fungsi Luhur
Fungsi Vegetatif
Fungsi Sensorik

: GCS E4V5M6
: gangguan atensi
: BAB dan BAK normal, terpasang IV line dan DC
: dalam batas normal

Fungsi Motorik dan Reflek :


Kekuatan
5
4
5
3

Tonus
n
n

RF
n
n

+2
+2

RP
+2
+2

Nn. Craniales
N. I
: dalam batas normal
N. II, III : reflek cahaya (+/+), pupil isokor (3mm/3mm)
N. III, IV, VI : pergerakan bola mata dalam batas normal
N. V
: fungsi otot-otot mengunyah masih baik, sensibilitas
masih baik, refleks kornea (+).
N. VII : parese sinistra UMN
N. VIII : dalam batas normal
N. IX, X : refleks bersin (+), disfagia (-), gag refleks (+)
N. XI : dalam batas normal
N. XII : parese sinistra UMN
Meningeal Sign
Kaku kuduk
:Brudzinksi I-II : Laseque
:Kernig
:O Status Psikiatri
Deskripsi Umum
Penampilan :

Laki-laki,

tampak

sesuai

berpakaian rapi, perawatan diri cukup baik


Kesadaran

: Kuantitatif : GCS E4V5M6

Kualitatif

: Tidak berubah

Gangguan Persepsi
- Halusinasi
: (-)
- Ilusi
: (-)
Proses Pikir
- Bentuk
: realistik
- Isi
: waham (-)
- Arus
: koheren
Sensorium dan Kognitif
- Daya Konsentrasi
: Baik
- Orientasi
: Orang
: baik
Waktu
: baik
Tempat
: baik
- Daya Ingat
: Jangka pendek : baik
Jangka panjang : baik
Daya Nilai
: Daya nilai realitas dan sosial baik

umur,

Insight
: derajat 6
Taraf Dapat Dipercaya : dapat dipercaya
P Range of Motion (ROM) dan Manual Muscle Test (MMT)
NECK
Fleksi
Ekstensi
Lateral bending kanan

Lateral bending kiri


Rotasi kanan
Rotasi kiri

Elbow

Wrist
Finger

Trunk

Pasif
0 - 70
0 - 40
0 - 60
0 - 60
0 - 90
0 - 90

MMT

Aktif
0 - 70
0 - 40
0 - 60
0 - 60
0 - 90
0 - 90

5
5
5
5
5
5

Fleksi
Ektensi
Abduksi
Adduksi
Eksternal Rotasi
Internal Rotasi
Fleksi
Ekstensi
Pronasi
Supinasi
Fleksi
Ekstensi
Ulnar Deviasi
Radius deviasi
MCP I Fleksi
MCP II-IV fleksi
DIP II-V fleksi
PIP II-V fleksi
MCP I Ekstensi
Fleksi
Ekstensi
Right
Lateral

ROM Pasif
Dekstra Sinistra
0-90
0-90
0-50
0-50
0-180
0-180
0-75
0-75
0-90
0-90
0-90
0-90
0-150
0-150
0
0
0-90
0-90
0-90
0-90
0-90
0-90
0-70
0-70
0-30
0-30
0-20
0-20
0-50
0-50
0-90
0-90
0-90
0-90
0-100
0-100
0-30
0-30
0-90
0-30
0-35

ROM Aktif
Dekstra Sinistra
0-90
0-90
0-50
0-50
0-180
0-180
0-75
0-75
0-90
0-90
0-90
0-90
0-150
0-150
0
0
0-90
0-90
0-90
0-90
0-90
0-90
0-70
0-70
0-30
0-30
0-20
0-20
0-50
0-50
0-90
0-90
0-90
0-90
0-100
0-100
0-30
0-30
0-90
0-30
0-35

Bending
Left
Lateral

0-35

0-35

ROM Pasif
Dekstra Sinistr

ROM Aktif
Dekstra Sinistra

Ektremitas Superior

Shoulder

ROM

MMT
D
S
5
4
5
4
5
4
5
4
5
4
5
4
5
4
5
4
5
4
5
4
5
4
5
4
5
4
5
4
5
4
5
4
5
4
5
4
5
4
5
4
5
4
5
4
5

Bending

Ektremitas Inferior
Hip

Fleksi
Ektensi
Abduksi

0-120
0-30
0-45

a
0-120
0-30
0-45

0-120
0-30
0-45

0-80
0-20
0-30

MMT
D
S
5
5
5

3
3
3

Knee

Ankle

Adduksi
Eksorotasi
Endorotasi
Fleksi
Ekstensi
Dorsofleksi
Plantarfleksi
Eversi
Inversi

0-45
0-30
0-30
0-120
0
0-30
0-30
0-50
0-40

0-45
0-30
0-30
0-120
0
0-30
0-30
0-50
0-40

0-45
0-30
0-30
0-120
0
0-30
0-30
0-50
0-40

0-30
0-20
0-20
0-80
0
0-20
0-20
0-30
0-20

5
5
5
5
5
5
5
5
5

3
3
3
3
3
3
3
3
3

Q Status Ambulasi
Skor ADL dengan Barthel Index
Activity
Score
Feeding
0 = unable
10
5 = butuh bantuan memotong, mengoleskan mentega, dll, atau
membutuhkan modifikasi diet
10 = independen
Bathing
0 = dependen
0
5 = independen (atau menggunakan shower)
Grooming
0 = membutuhkan bantuan untuk perawatan diri
5
5 = independen dalam perawatan muka, rambut, gigi, dan bercukur
Dressing
0 = dependen
5
5 = membutuhkan bantuan, tapi dapat melakukan sebagian
pekerjaan sendiri
10 = independen (termasuk mengancingkan resleting, menalikan
pita, dll.
Bowel
0 = inkontinensia (atau membutuhkan enema)
10
5 = occasional accident
10 = kontinensia
Bladder
0 = inkontinensia atau memakai kateter dan tidak mampu
10
menangani sendiri
(dengan

5 = occasional accident
10 = kontinensia
Toilet use
0 = dependen
5 = membutuhkan bantuan, tapi dapat melakukan beberapa hal
sendiri
10 = independen (on and off, dressing)
Transfer
0 = unable, tidak ada keseimbangan duduk
5 = butuh bantuan besar (satu atau dua orang, fisik), dapat duduk
10 = bantuan kecil (verbal atau fisik)
15 = independen
Mobility
0 = immobile atau < 50 yard
5 = wheelchair independen, > 50 yard
10 = berjalan dengan bantuan satu orang (verbal atau fisik) > 50
yard
15 = independen (tapi dapat menggunakan alat bantu apapun,
tongkat) > 50 yard
Stairs
0 = unable
5 = membutuhkan bantuan (verbal, fisik, alat bantu)
10 = independen
Total (0-100)
Interpretasi: 0-20: Ketergantungan penuh
21-61: Ketergantungan berat
62-90: Ketergantungan moderat
91-99: Ketergantungan ringan
100 : Mandiri
IIIPEMERIKSAAN PENUNJANG
A Laboratorium Darah (17 Desember 2016)
Pemeriksaan
Hb
Hct
AL
AT
AE

MCV

Hasil
Satuan
SITOLOGI
g/dl
14.2
%
43
3
5.6
10 / L
255
103 / L
4.75
103/ L

INDEX ERITROSIT
90.9
/um

Rujukan
13 17,5
33 45
4.5 11.0
150450
4.50 5.90

80.0-96.0

DC)

10

10

65

MCH
MCHC
RDW
MPV
PDW
Eosinofil
Basofil
Netrofil
Limfosit
Monosit
PT
APTT
INR

29.9
pg
32.9
g/dl
12.1
%
9.2
fl
17
%
HITUNG JENIS
2.00
%
0.00
%
47.00
%
46.00
%
5.00
%
HEMOSTASIS
12.8
detik
24.5
detik
1.020
KIMIA KLINIK

GDS
Hba1c
GDP
Asam urat
Kolesterol total
Kolesterol LDL
Kolesterol HDL
Trigliserida
SGOT

102
6.1
152
5.8
232
181
36
142
16

mg/dL
%
mg/dL
mg/dL
mg/dL
mg/dL
mg/dL
mg/dL
u/l

SGPT
Ureum
Creatinin

13
32
0.9

mg/dL
mg/dL

u/l

28.0-33.0
33.0-36.0
11.6-14.6
7.2-11.1
25-65
0.00-4.00
0.00-2.00
55.00-80.00
22.00-44.00
0.00-7.00
10.0-15.0
20.0-40.0
60-140
4.8-5.9

70-110
2.4-6.1
50-200
83-210
30-74
<150
<35

<45
<50
0.8-1.3

Natrium Darah
Kalium Darah
Kalsium Darah

ELEKTROLIT
135
mmol/ L
mmol/ L
3.3
mmol/ L
1.17
SEROLOGI HEPATITIS

136-145
3.3-5.4
1.17-1.29

HBsAg

Nonreaktif

Nonreaktif

B CT Scan Kepala (18 Desember 2016)

Kesan : Subacute ischemic cerebral infarction di capsula interna kanan


dan pericornu anterior ventrikel lateralis kiri

C Foto Rontgen Thoraks (18 Desember 2016)

Kesan : Kardiomegali disertai aortoskeloris

IVASSESSMENT
Klinis
Topis
Etiologis

: Hemiparese sinistra, parese N.VII dan N. XII sinistra UMN


: Cortex dextra
: Stroke non haemorragik

V DAFTAR MASALAH
A Problem Medis
1 Hemiparese sinistra
2 Parese N.VII, XII sinistra UMN
3 Disfagia
B Problem Rehabilitasi Medik
1 Fisioterapi :

Kelemahan ekstremitas kiri

atas dan bawah


2 Speech Terapi
3 Okupasi Terapi

: Bicara pelo
: Gangguan dalam melakukan

aktivitas fisik
4 Sosiomedik

Memerlukan bantuan

untuk melakukan aktivitas sehari-hari


5 Ortesa-protesa
: Keterbatasan mobilisasi
6 Psikologi : Beban pikiran karena kesulitan
melakukan aktivitas seharihari
VI PENATALAKSANAAN
A Terapi Medikamentosa
1 Infus NaCl 0.9% 20 tpm
2 Injeksi Ranitidin 50 mg/12 jam
3 Injeksi Citicolin 500 mg/ 12 jam
4 Injeksii Mecobalamin 500 mg/12 jam
5 Aspilet 1 x 80 mg
6 Amlodipin 1 x 10 mg
7 Ondansetron 1 x 8 mg
8 KSR 3 x 1
B Rehabilitasi Medik:
1

Fisioterapi :
- Head up 300
- PROM exercise anggota gerak kiri
- Proper bed positioning
- Alih baring tiap 2 jam, miring kiri kanan
- Edukasi modifikasi posisi menelan
Setelah fase akut :
- Latihan duduk jalan (mobilisasi bertahap)
- Electrical stimulation

10

- Infrared superficial
Speech terapi :
Latihan artikulasi, latihan berbicara pelan, penggunaan kata- kata
singkat

Okupasi terapi :
Melatih pasien agar dapat menjalankan ADL sesuai fungsi awalnya,
terutama latihan motorik halus tangan dengan aktif
Sosiomedik :
Edukasi terhadap keluarga pasien mengenai bagaimana perawatan
pasien dan pentingnya peran keluarga dalam pengawasan dan

5
6

membantu pasien untuk melakukan latihan rehabilitasi di rumah.


Ortesa dan protesa :
Menyiapkan alat bantu jalan jika diperlukan
Psikologis
Evaluasi status mental pasien setelah pasien sadar dan merencanakan
terapi psikologis berdasarkan hasil pemeriksaan status mental pasien
tersebut, memberikan terapi suportif pada keluarga pasien

VII

IMPAIRMENT, DISABILITAS, HANDICAP


A Impairment
1 Hemiparese sinistra e.c stroke non haemorragik
2

Parese N. VII, XII sinistra UMN

Disfagia

B. Disabilitas
Terjadi disabilitas personal dengan skor ADL 65 dengan gangguan dalam
makan, mandi, merawat diri, memakai baju, menggunakan toilet,
mobilisasi, dan menaiki tangga.
C. Handicap
Gangguan berinteraksi dengan masyarakat luas, keterbatasan melakukan
pekerjaan sebelumnya sebagai petani.
VIII

PLANNING
Planning Diagnostik

: tidak ada

Planning Terapi

:tidak ada

11

Planning Edukasi
:
- Penjelasan penyakit dan komplikasi yang bisa terjadi
- Penjelasan tujuan pemeriksaan dan tindakan yang dilakukan
- Edukasi untuk home exercise dan ketaatan untuk melakukan terapi
Planning Monitoring

: Evaluasi hasil terapi.

IX GOAL
A Jangka pendek
1 Perbaikan keadaan umum sehingga mempersingkat lama perawatan
2 Minimalisasi impairment dan disabilitas pada pasien
3 Mencegah terjadinya komplikasi akibat tirah baring lama seperti
ulkus decubitus, pneumonia, atrofi otot, hipotensi ortostatik dan lain
sebagainya.
B Jangka panjang
1 Memperbaiki kemampuan penderita mengatasi gejala tidak hanya
2

pada fase akut, tetapi juga fase kronik.


Memperbaiki kemampuan penderita dalam melaksanakan aktivitas

3
4
5

harian.
Meningkatkan dan memelihara kekuatan otot
Meningkatkan dan memelihara ROM
Mengatasi masalah psikososial yang timbul akibat penyakit yang
diderita pasien

X PROGNOSIS
Ad vitam
: dubia ad bonam
Ad sanam
: dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam

12

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I.

STROKE
A. DEFINISI
Stroke

sudah

lama

digolongkan

sebagai

defisit

neurologis yang dihubungkan dengan kerusakan fokal


akut terhadap sistem saraf pusat yaitu otak akibat
gangguan vaskuler seperti infark serebri, perdarahan
subarakhnoid, dan perdarahan intraserebri yang menjadi
penyebab utama kecacatan dan kematian di seluruh dunia
(Sacco et al., 2013). Menurut World Health Organization
(WHO) pada tahun 2006, stroke adalah gangguan fungsi
otak fokal atau global dengan gejala klinis mendadak dan
terjadi

selama

lebih

dari

24

jam

yang

tidak

lain

diakibatkan oleh gangguan vaskular serta bisa berujung


terhadap kematian.
B. EPIDEMIOLOGI
Stroke

menempati

peringkat

keempat

sebagai

penyebab kematian di dunia setelah penyakit jantung,


kanker, dan infeksi saluran pernapasan bawah kronis. Dari
semua kejadian stroke, 87% kasus adalah stroke iskemik,
10% kasus adalah stroke hemoragik intraserebral, dan 3%
kasus adalah stroke hemoragik subarakhnoid (Go et al.,
2013). Dari Survey ASNA di 28 RS seluruh Indoneisia,
diperoleh

gambaran

bahwa

penderita

laki-laki

lebih

banyak dari pada perempuan dan profil usia 45 tahun


yaitu 11,8%, usia

45-64 tahun berjumlah 54,2% dan

diatas usia 65 tahun 33,5%. Data-data lain dari ASNA


13

Stroke Collaborative Study diperoleh angka kematian


sebesar 24,5% (Misbach et al., 2007).
C. FAKTOR RISIKO
Menurut Setyopranoto (2011) dalam artikel Cermin
Dunia

Kedokteran

(CDK),

faktor

risiko

stroke

dapat

diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:


1) Faktor risiko yang bisa dikendalikan:
a Hipertensi
b Penyakit jantung
c Merokok
d Transient Ischemic Attack (TIA)
e Diabetes Mellitus
f Obesitas
g Inaktifitas fisik
h Konsumsi obat
i Dislipidemia
j Stress psikologis
2) Faktor risiko yang tidak dapat dikendalikan
a Jenis kelamin
b Usia
c Herediter
d Ras dan etnis
e Geografi
D. KLASIFIKASI
Stroke adalah
dengan

lebih

penyakit

dari

150

yang

bersifat

kemungkinan

heterogen
penyebab.

Pengklasifikasian stroke memiliki banyak tujuan seperti


mendeskripsikan karakteristik pasien, melakukan studi
epidemiologi

sesuai

pengelompokkannya,

melakukan

studi genetik dan menentukan terapi sesuai klasifikasi.


Sesuai etiologinya, stroke dibagi menjadi 5 kategori
utama (Amarenco et al., 2009), yaitu:
1 Stroke iskemik

14

Stroke iskemik terjadi apabila terdapat trombosis,


emboli, dan infark lakunar. Obstruksi aterosklerotik
membentuk

trombosis

pada

arteri

besar

serebri

maupun servikal yang berujung pada iskemi di wilayah


yang arterinya terdapat oklusi. Sedangkan emboli
merupakan sumbatan yang terbawa dari arteri atau
tempat lain semisal arteri karotis atau katub jantung
(WHO, 2006). Infark lakunar terjadi setelah oklusi
aterotrombotik dan penebalan lipohialinolitik yang
kemudian membentuk infark-infark kecil (Hartwig,
2006).
2 Stroke hemoragik intraserebral
Stroke hemoragik diakibatkan adanya perdarahan
langsung

ke

arah

atau

di

sekitar

otak

dan

menghasilkan gejala neurologis dari efek toksik darah


tersebut atau karena adanya peningkatan tekanan
intrakranial (Smith et al., 2008).
3 Stroke hemoragik subarakhnoid
Perdarahan subarakhnoid memiliki

dua

kausa

utama yaitu rupturnya suatu aneurisma vaskular dan


trauma kepala. Perdarahan tersebut menjadi sangat
hebat dan ekstravasasi ke ruang subarakhnoid, yaitu
ruang yang terdapat di antara arakhnoideamater dan
piamater dari otak atau sumsum tulang belakang
(Hartwig, 2006).
4 Trombosis vena serebri
Stroke yang diakibatkan oleh trombosis vena
serebri melibatkan sinus vena intrakranial, sistem
vena dalam, dan vena kortikal yang mengalir ke sinus
intrakranial

utama.

menyebabkan

Oklusi

beberapa

struktur

mekanisme

vena
cedera

dapat
otak

seperti iskemi atau infark jaringan dan petekie atau

15

bercak

perdarahan

pada

intrakranial

maupun

subarakhnoid. Gangguan drainase vena menyebabkan


edema fokal dan meningkatkan tekanan intrakranial
(Sacco et al., 2013).
5 Stroke sumsum tulang belakang
Stroke sumsum tulang belakang

merupakan

kondisi yang langka apabila dibandingkan dengan


stroke serebri. Stroke sumsum tulang belakang yang
disebabkan oleh gangguan akut suplai darah ke
sumsum tulang belakang akan mengakibatkan iskemi,
infark, dan disfungsi sumsum tulang belakang. Defisit
neurologis pada stroke sumsum tulang belakang
terkait dengan wilayah suplai darah arteri beserta
cabangnya (Romi & Naess, 2011).
Menurut Marshall dalam Misbach dan Jannis (2011),
stroke dapat diklasifikasikan menjadi :
1 Berdasarkan patologi anatomi dan etiologi
a Stroke Iskemik
1 Transient Ischemic Attack (TIA)
2 Trombosis serebri
3 Emboli serebri
b Stroke Hemoragik
1 Pendarahan intra serebral
2 Pendarahan subarachnoid

16

2 Berdasarkan stadium atau waktu


a Transient Ischemic Attack (TIA)
b Reversible Ischemic Neurologic Deficit (RIND)
c Progressing stroke atau stroke in evolution
d Completed stroke
3 Berdasarkan sistem pembuluh darah
a Sistem karotis
b Sistem vertebro-basilar

E. PATOFISIOLOGI
1.
Trombosis (penyakit trombo - oklusif):
Merupakan penyebab stroke yang paling sering.
Arteriosclerosis serebral dan perlambatan sirkulasi
serebral adalah penyebab utama trombosis selebral.
Tanda-tanda trombosis serebral bervariasi, sakit kepala
adalah awitan yang tidak umum. Beberapa pasien
mengalami pusing, perubahan kognitif atau kejang
dan beberapa awitan umum lainnya. Secara umum
trombosis serebral tidak terjadi secara tiba-tiba, dan
kehilangan

bicara

sementara,

hemiplegia

atau

parestesia pada setengah tubuh dapat mendahului


awitan paralysis berat pada beberapa jam atau hari.
2 Embolisme
Penderita embolisme biasanya lebih muda
dibanding dengan penderita trombosis. Kebanyakan
emboli serebri berasal dari suatu trombus dalam

17

jantung, sehingga masalah yang dihadapi sebenarnya


adalah perwujudan dari penyakit jantung.

Setiap

bagian otak dapat mengalami embolisme, tetapi


embolus biasanya embolus akan menyumbat bagian
bagian yang sempit. Tempat yang paling sering
terserang embolus sereberi adalah arteria sereberi
media, terutama bagian atas.
3 Perdarahan serebri
Perdarahan serebri termasuk urutan ketiga dari
semua penyebab utama kasus GPDO (Gangguan
Pembuluh Darah Otak) dan merupakan sepersepuluh
dari semua kasus penyakit ini. Perdarahan intrakranial
biasanya

disebabkan

oleh

ruptura

arteri

serebri.

Ekstravasasi darah terjadi di daerah otak dan /atau


subaraknoid,

sehingga

jaringan

yang

terletak

di

dekatnya akan tergeser dan tertekan. Darah ini


mengiritasi jaringan otak, sehingga mengakibatkan
vasospasme

pada

arteria

di

sekitar

perdarahan.

Spasme ini dapat menyebar ke seluruh hemisper otak


dan sirkulus wilisi. Bekuan darah yang semula lunak
menyerupai selai merah akhirnya akan larut dan
mengecil. Dipandang dari sudut histologis otak yang
terletak di sekitar tempat bekuan dapat membengkak
dan mengalami nekrosis. Stroke iskemik akut hasil dari
oklusi

vaskuler

sekunder

akibat

penyakit

tromboemboli. Iskemia menyebabkan hipoksia sel dan


menipisnya adenosin trifosfat selular (ATP). Tanpa ATP,
tidak ada lagi energi untuk mempertahankan gradien
ionik melintasi membran sel dan depolarisasi sel.
Masuknya ion natrium dan kalsium dan aliran pasif air
ke dalam sel memimpin timbulnya edema sitotoksik.

18

Stroke iskemik dapat terjadi berdasarkan 3 mekanisme


yaitu

trombosis

serebri,

emboli

serebri

dan

pengurangan perfusi sitemik umum. Trombosis serebri


adalah obstruksi aliran darah yang terjadi pada proses
oklusi satu atau lebih pembuluh darah lokal. Emboli
serebri adalah pembentukan material dari tempat lain
dalam

sistem

vaskuler

dan

tersangkut

dalam

pembuluh darah tertentu sehingga memblokade aliran


darah.

Pengurangan

mengakibatkan
pompa

perfusi

kondisi

iskemik

atau

proses

jantung

sistemik
karena

dapat

kegagalan

perdarahan

atau

hipovolemik (Jauch, 2015).


F.

TATALAKSANA
Penatalaksanaan

stroke

iskemik

trombotik

berdasarkan waktunya meliputi fase prehospital, fase


akut, fase perawatan dan fase pemulihan/rehabilitasi.
Pada fase prehospital diperlukan pendekatan diagnosis
secara klinis serta mengatasi kegawatan (primary survey),
selain itu diperlukan sistem transportasi dan rujukan yang
baik untuk mengantarkan penderita ke pusat kesehatan
secepat mungkin. Berdasarkan guideline PERDOSSI tahun
2011 penatalaksanaan stroke fase akut antara lain:
1 Evaluasi cepat dan diagnosis: berupa anamnesis,
pemeriksaan
2

fisik,

pemeriksaan

neurologis,

skala

stroke dengan NIHSS.


Terapi umum/suportif:
a Stabilitas jalan nafas dan pernafasan: dianjurkan
memantau terus status neurologis, nadi, tekanan
darah, suhu tubuh, dan saturasi oksigen dalam 72
jam pada pasien dengan defisiti neurologis yang
nyata.

Pemberian
19

oksigenasi

dianjurkan

pada

keadaan

saturasi

<95%

(bila

pasien

stroke

trombotik non hipoksia tidak perlu tambahan


oksigen).

Intubasi ETT diperlukan pada pasien

hipoksia (pO2 < 60 mmHg atau pCO2> 50 mmHg),


syok, atau pada pasien yang berisiko aspirasi. Bila
perlu dilakukan trakeostomi bila pemakaian ETT
b

lebih dari 2 minggu.


Stabilisasi hemodinamik:

infus

kristaloid/koloid,

pemasangan central venous catheter dan dijaga


tekanannya 5-12 mmHg, pemantauan tekanan
darah

optimal

140-220

mmHg

untuk

stroke

trombotik fase akut, monitoring jantung pada 24


jam pertama, bila ada penyakit jantung kongestif
segera
c

mengatasinya,

arterial,

hipovolemia.
Pemeriksaan awal fisik umum: tekanan darah,
pemeriksaan
umum

hipotensi

awal

jantung,
(derajat

pemeriksaan
kesadaran,

neurologis
pupil

okulomotor, keparahan hemiparesis).


Pengendalian
tekanan
intra
kranial
pemantauan

ketat

terhadap

edema

dan
(TIK):

serebral

terutama 24 jam pertama pasca stroke dengan


melihat perburukan neurologis, terutama penderita
dengan GCS <9 dipasang monitor TIK dengan
sasaran terapi <20 mmHg dan CPP> 70 mmHg.
Pada penderita dengan kenaikan TIK, posisi kepala
20-30o, hindari penekanan vena jugularis, hindari
hipotermi, jaga norovolumi, osmoterapi dengan
mannitol 0,25-0,5 g/kgBB selama 20 menit diulang
e

tiap 4-6 jam.


Pengendalian suhu tubuh: pemberian asetaminofe
650 mg bila suhu > 38,5 oC, pemeriksaan hapusan
20

dan kultur bila dicurigai ada infeksi.


Pemeriksaan penunjang: EKG, kimia darah, fungsi
ginjal, hemtologi, faal hemostasis, glukosa darah,
analisis urine, analisis gas darah, serum elektrolit,

foto rontgen dada, CT Scan tanpa kontras.


Agen trombolitik menunjukkan peran yang utama
dalam penatalaksaaan stroke. Agen trombolitik digunakan
untuk memicu tingkat reknalisasi endogen sehingga terjadi
reperfusi jaringan. Berdasarkan guideline stroke PERDOSSI
syarat pemberian tPA adalah hanya diberikan pada 3 jam
pertama

sejak

serangan,

tidak

ada

serangan

stroke

maupun trauma pada 3 bulan terakhir dan tekanan darah


sistolik < 185 mmHg sedangkan menurut The European
Cooperative Acute Stroke Study, penggunaan trombolitik
dalam 4,5 jam masih bermanfaat dan aman.
Penurunan tekanan darah pada stroke akut akan
memperkecil kemungkinan terjadinya edema serebral,
transformasi perdarahan, mencegah kerusakan vaskular
lebih lanjut dan terjadinya serangan stroke ulang (early
recurrent stroke). Akan tetapi, disisi lain, penurunan
tekanan darah pada stroke akut dapat mengakibatkan
penurunan perfusi serebral sehingga kerusakan daerah
iskemik di otak akan menjadi semakin luas. Terlebih pada
hipertensi kronik dengan kurva perfusi (tekanan darah
aliran darah ke otak) bergeser ke kanan, Penurunan
tekanan darah pada kondisi seperti ini akan semakin
mengakibatkan penurunan perfusi serebral. Atas dasar
itu, dalam batas-batas tertentu, penurunan tekanan darah
pada pasien stroke fase akut dengan kondisi darurat
emergensi sebagai tindakan rutin tidak dianjurkan, karena
dapat

memperburuk

kondisi

21

pasien,

menimbulkan

kecacatan dan kematian. Sementara itu, pada banyak


pasien stroke akut, tekanan darah akan turun dengan
sendirinya

dalam

24

serangan stroke.
Penatalaksanaan

jam

pertama

Hipertensi

setelah

pada

awitan

Stroke

akut

berdasarkan Guideline Stroke tahun 2011 perhimpunan


dokter spesialis saraf Indonesia. Penurunan tekanan darah
yang tinggi pada stroke akut sebagai tindakan rutin tidak
di anjurkan, karena kemungkinan dapat memperburuk
keluaran neurologik. Pada sebagian besar pasien, tekanan
darah akan turun dengan sendirinya dalam 24 jam
pertama setelah awitan serangan stroke. Guideline stroke
tahun 2011 merekomendasikan penurunan tekanan darah
yang tinggi pada stroke akut agar dilakukan secara hatihati dengan memperhatikan beberapa kondisi dibawah
ini :
1 Pada pasien stroke iskemia akut, tekanan darah
diturunkan sekitar 15% (sistolik maupun diastolik)
dalam 24 jam pertama setelah awitan apabila tekanan
darah sistolik > 220 mmHg atau tekanan darah
diastolik > 120 mmHg. Pada pasien stroke iskemik
akut yang diberi terapi trombolitik (rTPA), tekanan
darah sistolik diturunkan hingga < 185 mmHg dan
tekanan

darah

antihipertensi
2

diastolik

yang

<

110

digunakan

mmHg.

adalah

Obat

Labetolol,

Nitropruside, Nikardipin atau Diltiazem intravena.


Pada pasien stroke perdarahan intraserebral akut,
apabila tekanan darah sistolik > 200 mmHg atau
mean Arterial Pressure (MAP) > 150 mmHg, tekanan
darah

diturunkan

antihipertensi

dengan

intravena

22

menggunakan

secara

kontinyu

obat
dengan

pemantauan tekanan darah setiap 5 menit.


Apabila tekanan darah sistolik > 180 mmHg atau MAP
>130

mmHg

disertai

peningkatan

dengan

tekanan

pemantauan

tekanan

gejala

dan

intrakranial,
intrakranial,

tanda

dilakukan

tekanan

darah

diturunkan dengan menggunakan obat antihipertensi


intravena secara kontinu atau intermitten dengan
4

pemantauan tekanan perfusi serebral > 60 mmHg.


Apabila tekanan darah sistole > 180 mmHg atau MAP
>

130

mmHg

peningkatan

tanpa

tekanan

disertai

gejala

intrakranial,

dan

tanda

tekanan

darah

diturunkan secara hati-hati dengan menggunakan obat


antihipertensi

intravena

kontinu

atau

intermitten

dengan pemantauan tekanan darah setiap 15 menit


hingga MAP 110 mmHg atau tekanan darah 160/90
mmHg.

Pada

Studi

INTERACT

2010,

penurunan

tekanan darah sistole hingga 140 mmHg masih


5

diperbolehkan.
Pada perdarahan
tekanan

darah

subaraknoid

harus

dipantau

(PSA)

aneurismal,

dan

dikendalikan

bersama pemantauan tekanan perfusi serebral untuk


mencegah resiko terjadinya stroke iskemik sesudah
PSA

serta

perdarahan

ulang.

Untuk

mencegah

terjadinya perdarahan subaraknoid berulang, pada


pasien stroke perdarahan subaraknoid akut, tekanan
darah diturunkan hingga tekanan darah sistole 140
160 mmHg. Sedangkan tekanan darah sistole 160
180 mmHg sering digunakan sebagai target tekanan
darah

sistole

vasospasme,
tergantung

dalam
namun

pada

mencegah
hal

usia

23

ini

pasien,

resiko

terjadinya

bersifat

individual,

berat

ringannya

kemungkinan
6

vasospasme

dan

komorbiditas

kardiovaskuler.
Penurunan tekanan darah pada stroke akut dapat
dipertimbangkan hingga lebih rendah dari target
diatas pada kondisi tertentu yang mengancam target
organ lainnya, misalnya diseksi aorta, infark miokard
akut, edema paru, gagal ginjal akut dan ensefalopati
hipertensif. Target penurunan tersebut adalah 15
25% pada jam pertama dan tekanan darah sistolik

160/90 mmHg dalam 6 jam pertama.


Pada stroke iskemik akut, hipertensi yang tidak di
kelola dengan baik dapat berakibat meluasnya area
infark (reinfark), edema serebral serta transformasi
perdarahan,

sedangkan

pada

stroke

perdarahan,

hipertensi dapat mengakibatkan perdarahan ulang dan


semakin luasnya hematoma (perdarahan).
Penatalaksanaan

fase

perawatan

menurut

Guideline

PERDOSSI antara lain:


1

Cairan
a Infus cairan isotonis, dijaga euvolemi dengan CV 5b
c
d

12 mmHg
Rata-rata kebutuhan cairan 20 cc/kgBB/hari.
Balance cairan
Mengkoreksi kelainan elektrolit dan asam basa

darah
Cairan

hipotonis

yang

mengandung

glukosa

dihindri kecuali dalam keadaan hipoglikemia.


Nutrisi
a Nutrisi parenteral sebaiknya diberikan dalam 48
jam, oral nutrisi diberikan bila fungsi menelan
b

sudah baik.
Nutrisi yang diberikan pada masa akut adalah
sebesar 25-30mg/kgBB/hari.

24

Apabila diperkirakan pemasangan nasogastrik tube


melebihi

minggu

sebaiknya

dilakukan

gastrostomi.
Pencegahan dan komplikasi
Komplikasi sub akut yang sering terjadi antara lain
aspirasi, malnutrisi, pneumonia, deep vein thrombosis,
emboli paru, dekubitus, komplikasi ortopedik, dan
kontraktur.

Untuk

itu

perlu

dilakukan

mobilisasi

terbatas, penggunaan antibiotik sesuai kultur, bila


perlu menggunakan kasur anti dekubitus. Pasien
dengan risiko DVT perlu diberi heparin subkutan atau
LMWH atau heparinoid. Pada pasien dengan risiko DVT
yang tidak dapat menggunakan obat anti koagulan,
sebaiknya
4

menggunakan

stocking

eksternal

atau

aspirin.
Penatalaksanaan medik lain
Penatalaksanaan medik lain antara lain menjaga
kadar glukosa darah tetap normal, analgesik dan
antiemetik

digunakan

sesuai

indikasi,

perdarahan

lambung dapat diberikan antihistamin 2.


G. REHABILITASI
Secara umum rehabilitasi pada stroke dibedakan
dalam beberapa fase. Pembagian ini dalam rehabilitasi
medis dipakai sebagai acuan untuk menentukan tujuan
(goal)

dan

jenis

intervensi

rehabilitasi

yang

akan

diberikan, yaitu:
1. Stroke fase akut: 2 minggu pertama pasca serangan
stroke
Pada fase ini kondisi hemodinamik pasien belum
stabil, umumnya dalam perawatan di rumah sakit, bisa
di

ruang

rawat

biasa

ataupun

di

unit

stroke.

Dibandingkan dengan perawatan di ruang rawat biasa,


25

pasien yang di rawat di unit stroke memberikan


outcome

yang

lebih

baik.

mandiri,

lebih

mudah

Pasien

kembali

menjadi

dalam

lebih

kehidupan

sosialnya di masyarakat dan mempunyai kualitas


hidup yang lebih baik. Rehabilitasi pada fase itu tidak
akan di bahas lebih lanjut dalam makalah ini, karena
memerlukan penanganan spesialistik di rumah sakit.
2. Stroke fase subakut: antara 2 minggu-6 bulan pasca
stroke
Pada

fase

ini

kondisi

hemodinamik

pasien

umumnya sudah stabil dan diperbolehkan kembali ke


rumah,

kecuali

bagi

pasien

yang

memerlukan

penanganan rehabilitasi yang intensif. Sebagian kecil


(sekitar 10%) pasien pulang dengan gejala sisa yang
sangat ringan, dan sebagian kecil lainnya (sekitar
10%) pasien pulang dengan gejala sisa yang sangat
berat

dan

sepenuhnya.

memerlukan
Namun

perawatan

sekitar

80%

orang

pasien

lain

pulang

dengan gejala sisa yang bervariasi beratnya dan


sangat memerlukan intervensi rehabilitasi agar dapat
kembali

mencapai

kemandirian

yang

optimal.Rehabilitasi pasien stroke fase subakut dan


kronis

mungkin

dapat

ditangani

oleh

pelayanan

kesehatan primer. Rehabilitasi fase ini akan dibahas


lebih rinci terutama mengenai tatalaksana sederhana
yang tidak memerlukan peralatan canggih.
3.
Stroke fase kronis: diatas 6 bulan pasca stroke
Program latihan untuk stroke fase kronis tidak
banyak berbeda dengan fase sebelumnya. Hanya
dalam fase ini sirkuit-sirkuit gerak/aktivitas sudah
terbentuk,

membuat

pembentukan

sirkuit

baru

menjadi lebih sulit dan lambat. Hasil latihan masih


26

tetap

dapat

berkembang

memperlancar

sirkuit

bila

yang

ditujukan
telah

untuk

terbentuk

sebelumnya, membuat gerakan semakin baik dan


penggunaan tenaga semakin efisien. Latihan endurans
dan

penguatan

otot

secara

bertahap

terus

ditingkatkan, sampai pasien dapat mencapai aktivitas


aktif yang optimal. Tergantung pada beratnya stroke,
hasil luaran rehabilitasi dapat mencapai berbagai
tingkat seperti mandiri penuh dan kembali ke tempat
kerja seperti sebelum sakit, mandiri penuh dan bekerja
namun alih pekerjaan yang lebih ringan sesuai kondisi,
mandiri penuh namun tidak bekerja, aktivitas seharihari perlu bantuan minimal dari orang lain, atau
aktivitas sehari-hari sebagian besar atau sepenuhnya
dibantu orang lain.
Rangkaian program rehabilitasi stroke:
Fisioterapi
a Stimulasi elektrikal untuk otot-otot dengan kekuatan
otot (kekuatan 2 ke bawah)
b Diberikan terapi panas superficial (infra red) untuk
melemaskan otot.
c Latihan gerak sendi bisa pasif, aktif dibantuatau aktif
tergantung dari kekuatan otot.
d Latihan untuk meningkatkan kekuatan otot.
e Latihan fasilitasi / redukasi otot
f

Latihan mobilisasi.

Okupasi Terapi (aktifitas kehidupan sehari-hari/AKS)

27

Sebagian besar penderita stroke dapat mencapai


kemandirian dalam AKS, meskipun pemulihan fungsi
neurologis pada ekstremitas yang terkena belum tentu
baik. Dengan alat bantu yang disesuaikan, AKS dengan
menggunakan
dikerjakan.

satu

tangan

Kemandirian

secara

dapat

mandiri

dipermudah

dapat
dengan

pemakaian alat-alat yang disesuaikan.


Terapi Wicara
Penderita stroke sering mengalami gangguan bicara
dan

komunikasi.

Ini

dapat

ditangani

oleh speech

therapist dengan cara:


a Latihan pernapasan ( pre speech training ) berupa
latihan napas, menelan, meniup, latihan gerak bibir,
lidah dan tenggorokan.
b Latihan di depan cermin untuk latihan gerakan lidah,
bibir dan mengucapkan kata-kata.
c Latihan pada penderita disartria lebih ditekankan ke
artikulasi mengucapkan kata-kata.
d Pelaksana terapi adalah tim medik dan keluarga.
Ortotik Prostetik
Pada penderita stroke dapat digunakan alat bantu atau
alat

ganti

penderita.

dalam
Alat-alat

membantu
yang

transfer

sering

dan

ambulasi

digunakan

antara

lain: arm sling, hand sling, walker, wheel chair, knee back
slap, short leg brace, cock-up, ankle foot orthotic (AFO),
knee ankle foot orthotic (KAFO).
Psikologi
Semua penderita dengan gangguan fungsional yang
akut akan melampaui serial fase psikologis, yaitu: fase
28

shok,

fase

penolakan,

fase

penyesuaian

dan

fase

penerimaan. Sebagian penderita mengalami fase-fase


tersebut

secara

cepat,

sedangkan

sebagian

lagi

mengalami secara lambat, berhenti pada salah satu fase,


bahkan kembali ke fase yang telah lewat. Penderita harus
berada pada fase psikologis yang sesuai untuk dapat
menerima rehabilitasi.
Sosial Medik dan Vokasional
Pekerja sosial medik dapat memulai bekerja dengan
wawancara

keluarga,

keterangan

tentang

pekerjaan,

kegemaran, sosial, ekonomi dan lingkungan hidup serta


keadaan rumah
(Wirawan, 2009)
Tujuan rehabilitasi medik adalah tercapainya sasaran
fungsional yang realistik dan untuk menyusun suatu
program

rehabilitasi

yang

sesuai

dengan

sasaran

tersebut.
Pemeriksaan

penderita

meliputi

empat

bidang

evaluasi:
1. Evaluasi neuromuskuloskeletal
Mencakup evaluasi neurologi secara umum dengan
perhatian khusus pada:
Tingkat kesadaran
Fungsi mental termasuk intelektual.
Kemampuan bicara.
Nervus kranialis.
Pemeriksaan sensorik.
Pemeriksaan fungsi persepsi.
Pemeriksaan motorik
Pemeriksaan gerak sendi.
Pemeriksaan fungsi vegetatif.

29

2. Evaluasi medik umum


Mencakup

sistem

kardiovaskuler,

sistem

pernapasan, sistem endokrin serta sistem saluran


urogenital.
3.
Evaluasi kemampuan fungsional
Meliputi kegiatan sehari-hari (AKS) seperti makan
dan minum, mencuci, kebersihan diri, transfer dan
ambulasi.

Untuk

setiap

jenis

aktivitas

tersebut

ditentukan derajat kemandiriaan dan ketergantungan


penderita juga kebutuhan alat bantu.
4. Evaluasi psikososial-vokasional
Mencakup

faktor

psikologis,

vokasional

dan

aktifitas rekreasi, hubungan dengan keluarga, sumber


daya ekonomi dan sumber daya lingkungan Evaluasi
psikososial

dapat

dilakukan

dengan

menyuruh

penderita mengerjakan suatu hal sederhana yang


dapat dipakai untuk penilaian tentang kemampuan
mengeluarkan pendapat, kemampuan daya ingat dan
orientasi.
H. PROGNOSIS
Sehubungan dengan pemulihan secara fungsional,
prognosis stroke pada dewasa muda baik, terutama bila
dibandingkan dengan usia lanjut. Sekitar 50% orang
dewasa muda dengan stroke iskemik serangan pertama
akan sembuh. Dari sebuah studi didapatkan, 90% pasien
dengan tindak lanjut jangka panjang mampu melakukan
semua kegiatan sehari-hari secara independen dan 95%
mampu berjalan tanpa bantuan. Berbeda dengan usia
lanjut, 35-40% pasien dengan stroke bergantung pada
orang lain pasca stroke. Namun, stroke iskemik pada usia

30

muda berujung pada keterbatasan dalam kualitas hidup


dan okupasi. Selain itu, 22% memiliki depresi yang
signifikan hingga membutuhkan bantuan psikiatri dan
25% pasien mengalami stroke berulang. (Varona et al.,
2004).

I.

KOMPLIKASI
Dalam Martono (2011), komplikasi akibat stroke dibagi
menjadi dua yaitu, komplikasi akut dan komplikasi kronis.
Gejala yang diakibatkan oleh komplikasi akut lima kali
lebih mematikan dari gejala akibat lesi.
Komplikasi akut, di antaranya:
1
2
3
4
5
6

Kenaikan tekanan darah


Kadar gula darah
Gangguan jantung dan respirasi
Infeksi dan sepsis
Gangguan ginjal dan hati
Gangguan cairan, elektrolit, dan keseimbangan asam
basa

7 Ulkus dekubitus akibat stress


Komplikasi kronis, di antaranya:
1
2
3
4

Komplikasi dari imobilisasi


Rekurensi stroke
Spastisitas
Kontraktur

II. DISFAGIA
Disfagia

diartikan

sebagai

perasaan

melekat

atau

obstruksi pada tempat lewatnya makanan melalui mulut,


faring, atau esophagus. Gejala ini harus dibedakan dengan
gejala lain yang berhubungan dengan menelan. Kesulitan
memulai gerakan menelan terjadi pada kelainan-kelainan

31

fase volunter menelan. Namun demikian setelah dimulai


gerakan menelan ini dapat diselesaikan dengan normal.
Odinofagia berarti gerakan menelan yang nyeri, acapkali
odinofagia dan disfagia terjadi secara bersamaan. Globus
faringeus merupakan perasaan adanya suatu gumpalan yang
terperangkap dalam tenggorokan. Arah makanan yang keliru
sehingga terjadi regurgitasi nasal dan aspirasi makanan
kedalam laring serta paru sewaktu menelan, merupakan ciri
khas disfagia orofaring.
Disfagia adalah kesulitan menelan yang dapat pula
disertai dengan nyeri menelan. Esofagus normal merupakan
suatu aktifitas terkoordinasi yang rumit dimana cairan dan
makanan padat diteruskan dari mulut kelambung. Mekanisme
ini

juga

mencegah

aspirasi

makanan

ke

dalam

paru,

regurgitasi kehidung, dan refluks melalui sfingter esophagus


bawah. Oleh sebab itu disfagia menyebabkan dua masalah
yang berbeda yaitu: pertama, seringkali ada penyebab dasar
yang

serius.

Dan

kedua,

menyebabkan

konsekuensi

berbahaya (misal, aspirasi atau malnutrisi).


Disfagia adalah kondisi yang kompleks yang memiliki
pengaruh

besar

pada

kehidupan

pasien.

Pasien

yang

mengalami disfagia masalah yang sering ditemukan adalah


kehilangan nafsu makan serta penurunan berat badan yang
diakibatkan oleh asupan nutrisi yang berkurang. Dalam
manejemen gizi pada pasien yang mengalami disfagia harus
lebih diperhatikan lagi tentang cara penyediaan makanan
bergizi yang sesuai dengan kebutuhan tubuh pasien agar
komplikasi seperti terjadinya aspirasi dapat dihindari

32

DAFTAR PUSTAKA
Amarenco P, Bogousslavsky J, Caplan LR, Donnan GA, Hennerici
MG (2009). Classification of stroke subtypes. Cerebrovasc
Dis., 27: 493-501.
Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Ditjen Bina
Kefarmasian dan Alat Kesehatan. Pharmaceutical Care Untuk
Penyakit Hipertensi. Jakarta: Departemen Kesehatan.
616.132 Ind P; 2006.
Gaete JM, Bogousslavsky J (2008). Post-stroke depression. Expert
Rev. Neurotherapeutics., 8 (1): 75-92.
Go AS, Mozaffarian D, Roger VL, Benjamin EJ, Berry JD, Borden
WB, Bravata DM et
al. (2013). Heart disease and stroke statistics2013
update: A report from the American Heart Association.
Circulation., 127: e6-e245.

33

Guyton, AC. Hall, JE. Aliran Darah Serebral, Cairan Serebrospinal,


dan Metabolisme Otak. Dalam: Buku Ajar Fisiologi
Kedokteran. Edisi ke-11. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Jakarta. 2006. Hlm: 801-808
Hartwig MS (2006). Penyakit Serebrovaskular. Dalam: Price SA,
Wilson LM (eds). Patofisiologi: konsep klinis proses-proses
penyakit. Edisi 6 dalam Volume 2. Jakarta: EGC, pp: 11051132.
Jauch,
EC
(2015).
Ischemic
Stroke.
Diakses
dari
http://emedicine.medscape.com/article/1916852-overview#aw2aab6b2b7
Martin Jeffery. Hypertension Guidelines: Revisiting The JNC 7
Recommendations. The Journal of Lancaster General
Hospital: Hypertension and kidney specialists. 2008. Vol. 3
No. 3.
Martono HH (2011). Penatalaksanaan stroke berdasarkan bukti
medis (EBM). Proseding Simposium Geriatric Syndromes:
Revisited.
Semarang:
Badan
Penerbit
Universitas
Diponegoro, pp: 31-44.
Misbach J, Achmad A, Soertidewi L, Jannis J, Harris S, Lumempauw
S, Rasyid A, Mulyatsih E (2007). Unit Stroke Manajemen
Stroke secara Komprehensif. Jakarta: Balai Penerbit FK-UI.
Misbach J, Jannis J (2011). Diagnosis stroke. Dalam: Soertidewi L,
Jannis J (eds). Stroke: aspek diagnostik, patofisiologi,
manajemen. Jakarta: Badan Penerbit FKUI, pp: 57-84.
PERDOSSI (2011). Guideline Stroke 2011. Jakarta: Perhimpunan
Dokter Spesialis Saraf Indonesia.
Pusat Data dan Informasi. Mencegah dan Mengontrol Hipertensi
Agar Terhindar dari Kerusakan Organ Jantung, Otak dan
Ginjal. Jakarta Selatan: Kementerian Kesehatan RI; 2014.
Rahajeng, Ekowati dan Sulistyowati Tuminah. Prevalensi
Hipertensi dan Determinannya di Indonesia. Jakarta: Pusat
Penelitian Biomedis dan Farmasi Badan Penelitian
Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Maj Kedokt Indon,
Volum: 59, Nomor: 12, Desember 2009.
Romi F, Naess H (2011). Characteristics of spinal cord stroke in
clinical neurology. Eur Neurol., 66: 305-309.

34

Sacco RL, Kasner SE, Broderick JP, Caplan LR, Connors JJ,
Culebras A, Elkind MSV et al.. (2013). An updated definition
of stroke for the 21st century: A statement for healthcare
proffesionals from the American Heart Association/
American Stroke Association. Stroke., 44: 2064-2089.
Setyopranoto I (2011). Stroke: Gejala dan penatalaksanaan.
Cermin Dunia Kedokteran.,38 (4): 247-250.
Smith WS, English JD, Johnston SC (2010). Cerebrovascular
disease. Dalam: Fauci AS, Kasper DL, Longo DL, Braunwald
E, Hauser SL, Jameson JL, Loscalzo J (eds). Harrisons
Neurology in Clinical Medicine Second Edition. US: McGrawHill, pp: 246-281.
Varona JF, Bermejo F, Guerra JM, Molina JA (2004). Long-term
prognosis of ischemic stroke in young adults: Study of 272
cases. J Neurol., 251: 1507-1514.
WHO

(2014).
Stroke,
cerebrovascular
accident.
http://www.who.int /topics/cerebrovascular_accident/en/-

Wirawan RP (2009). Rehabilitasi medik pada pelayanan


kesehatan primer. Maj Kedokt Indon., 59(2): 61-71.

35