Anda di halaman 1dari 9

DAFTAR ISI

Daftar isi i
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan ..
D. Manfaat
BAB II
PEMBAHASAN
1. Hukum Perorangan Adat Bali
2. Hukum Kekeluargaan Adat Bali
3. Hukum Perkawinan Adat Bali
4. Hukum Waris Adat Bali
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN
A Latar Belakang
Masyarakat Bali, khususnya etnis Bali yang beragama Hindu, terkenal dengan
kehidupan Adat dan Budayanya. Nilai Adat dan Budaya ini merupakan suatu ketentuan
yang harus di ikuti bagi Masyarakat Bali. Sebagai warganegara Indonesia, orang-orang
Bali tentu saja juga tunduk kepada Hukum Negara, yaitu peraturan perundang-undangan
Republik Indonesia. Disamping tunduk kepada Hukum Negara, bagi orang Bali juga
berlaku Hukum Adat. Bahkan pada bidang-bidang kehidupan tertentu. Hukum Adat Bali
justru berlaku dengan sangat kuat terutama akibat belum adanya Hukum Nasional yang
mengatur bidang kehidupan tersebut.
Kehidupan hukum adat bali ini merupakan suatu warisan dari leluhur terdahulu yang
sampai sekarang terjaga dan dilakukan, walaupun memang ada beberapa bagaian dalam
hukum adat bali mengalami suatu proses penyesuaian hukum sesuai perkembanghan
jaman. Hukum adat bali bagi masyarakat bali merupakan suatu petunjuk ,jalan, dan
batasan dalam melakukan suatu perbuatan dalam ranah hukum adat. Hingga begitu
kentalnya hukum adat bali ini tidak dapat dipisahkan dari ajaran agama, sehingga sulit
bagi kita untuk membedakan antara hukum adat , dan mana agama, karena dalam hukum
adat bali antara adat dan agama ini seolah menyatu, saling keterkaitan.
Selain agama hukum adat bali ini juga sering dihubungkan dengan sejarah kehidupan
masyarakat adat di bali, terutama kisah-kisah kerajaaan yang ada di bali yang memuat
bagaimana system social masyarakat adat di Bali. Masyarakat Bali sejak zaman Mpu
Kuturan mengenal sistem Kahyangan Tiga yang dalam kehidupan sosial masyarakatnya
di-implementasikan dalam wadah desa pakraman yang terbagi lagi dalam konsep banjarbanjar. Konsep yang adiluhung ini sekaligus menjadi pilar utama kehidupan masyarakat
Bali dalam menopang adat dan budayanya yang diwarisi sampai sekarang. Hukum adat
bali tidak hanya mengatur mengenai masyarakat adat tetapi juga pribadi/perorangan
terhadap, hak dan kewajibannya yang didasarkan atas kedudukannya(status social dan
keturunan) serta mengenai sanksi atas pelanggaran hukum adat tersebut.

B Rumusan Masalah
6

Adapun permasalahan dalam makalah ini adalah sebagai berikut :


1. Bagaimanakah hukum perorangan didalam hukum adat bali ?
2. Bagaimanakah hukum kekeluargaan didalam hukum adat bali ?
3. Bagaimanakah hukum perkawinan didalam hukum adat bali ?
4. Bagaimanakah hukum waris didalam hukum adat bali ?
C Tujuan
Tujuan dari pembuatan Makalah ini adalah agar kita dapat mengetahui Hukum
Adat Bali baik Hukum Perorangan, Hukum Kekeluargaan, Hukum Perkawinan, Serta
Hukum Waris,
D Manfaat
Manfaat dari pembuatan Makalah ini adalah dapat menambah wawasan tentang
Hukum Adat Bali baik Hukum Perorangan, Hukum Kekeluargaan, Hukum Perkawinan
dan Hukum Waris.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Hukum Perorangan
Hukum Perorangan, adalah keseluruhan kaedah hukum yang mengatur
kedudukan manusia sebagai subjek hukum dan wewenang untuk memperoleh,
memiliki, dan mempergunakan hak hak dan kewajiban ke dalam lalu lintas hukum
serta kecakapan untuk bertindak sendiri melaksanakan hak haknya, juga hal hal
yang mempengaruhi kedudukan subjek hukum. Dalam artian sempit hukum
perorangan dapat diartikan sebagai hukum orang yang hanya ketentuan orang sebagai
subjek hukum. Dan dalam artian yang luas Hukum orang tidak hanya ketentuan orang
sebagai subjek hukum tetapi juga termasuk aturan hukum keluarga.

Subjek Hukum Perorangan


Subjek hukum adalah setiap pendukung hak dan kewajiban yaitu : Manusia
(Natuurlijk Persoon) dan Badan Hukum (Rechts Persoon).
a) Manusia (Natuurlijk Persoon).
Manusia menurut pengertian hukum terdiri dari tiga pengertian :
o Mens, yaitu manusia dalam pengertian biologis yang mempunyai anggota
tubuh,kepala, tangan, kaki dan sebagainya.
o Persoon,

yaitu

manusia

dalam

pengertian

yuridis,baik

sebagi

individu/pribadi maupun sebagai makhluk yang melakukan hubungan


Hukum dalam masyarakat.
o Rehts Subject (Subjek Hukum).yaitu manusia dalam hubungan dengan
hubungan hukum (rechts relatie), maka manusia sebagai pendukung hak
dan kewajiban.
Pada azasnya manusia (naturlijk persoon) merupakan subjek hukum
(pendukung hak dan kewajiban ) sejak lahirnya sampai meninggal. Dapat dihitung
apabila memang untuk kepentingannya, dimulai ketika orang tersebut masih berada di
dalam kandungan ibunya.
(Teori Fiksi Hukum). Bahkan pasal 2 KUH.Perdata mengatakan : Anak ada
dalam kandungan seorang perempuan dianggap telah dilahirkan (menjadi subjek

hukum) bila mana kepentingan sianak menghendakinya misal mengenai pewarisan


dan jika sianak mati sewaktu dilahirkan dianggap sebagai tidak pernah ada.
b) Badan Hukum (Recht Person).
Badan Hukum adalah subjek hukum yang bukan manusia yang mempunyai
wewenang dan bertindak dalam hukum melalui wakil-wakil atau pengurusnya.
Sebagai subjek hukum yang bukan manusia tentu Badan Hukum mempunyai
perbedaaan dengan Subjek hukum manusia terutama dalam lapangan Hukum
Kekeluargaan seperti perkawinan, keturunan, serta mempunyai kekuasaan sebagai
suami atau orangtua dan sebagainya.
B. Hukum Kekeluargaan
Hukum keluarga diartikan sebagai keseluruhan ketentuan yang mengenai
hubungan hukum yang bersangkutan dengan kekeluargaan sedarah dan kekeluargaan
karena perkawinan (perkawinan, kekuasaan orang tua, perwalian, pengampunan,
keadaan tak hadir). Kekeluargaan sedarah adalah pertalian keluarga yang terdapat
antara beberapa orang yang mempunyai keluhuran yang sama.
Hukum keluarga adalah keseluruhan norma-norma hukum, tertulis maupun
tidak tertulis yang mengatur hubungan-hubungan hukum yang bersangkutan dengan
hubungan kekeluargaan, baik yang diakibatkan oleh hubungan darah maupun yang
diakibatkan oleh suatu perbuatan tertentu. Hukum adat yang mengatur tentang
bagaimana kedudukan pribadi seseorang sebagai anggota kerabat (keluarga),
kedudukan anak terhadapap orang tua dan sebaliknya, kedudukan anak terhadap
kerabat dan sebaliknya, dan masalah perwalian anak.
Perbuatan-perbuatan hukum yang dapat menimbulkan hubungan kekeluargaan
antara lain adalah pengangkatan anak dan perkawinan.
Hubungan-hubungan kekaluargaan itu berisi hak-hak dan kewajiban-kewajiban
dalam kehidupan keluarga, seperti hak dan kewajiban anak terhadap orang tua atau
sebaliknya hak dan kewajiban suami istri, dan seterusnya. Norma-norma hukum yang
tidak tertulis dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur hubunganhubungan tersebut di sebut hukum adat kekeluargaan.
C. Hukum Perkawinan
Undang-Undang R.I. No. 1/1974 pasal 1 menyebutkan bahwa perkawinan
adalah ikatan lahir bathin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri
dengan tujuan untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang berbahagia dan kekal
berdasarkan ke-Tuhan-an Yang Maha Esa.
6

Akta Perkawinan, Sesuai dengan Undang-Undang No. 1/1974 pasal 2, Akta


Perkawinan itu dicatatkan pada Kantor Catatan Sipil. Di Daerah Kabupaten yang
kecil, pejabat catatan sipil kadang-kadang dirangkap oleh Bupati atau didelegasikan
kepada Kepala Kecamatan. Jadi tugas catatan sipil disini bukanlah mengawinkan
tetapi mencatatkan perkawinan itu agar mempunyai kekuatan hukum.
UU Perkawinan no 1 th 1974, sahnya suatu perkawinan adalah sesuai hukum
agama masing-masing. Jadi bagi umat Hindu, melalui proses upacara agama yang
disebut Mekala-kalaan (natab banten), biasanya dipuput oleh seorang pinandita.
Didalam Hukum Adat Bali ada 4 sistem perkawinan :
o Sistim Mapadik/Meminang
Pihak calon suami meminta datang kerumah calon istri untuk
mengadakan perkawinan;
o Sistim Ngerorod/Rangkat (kawin lari):
Bentuk perkawinan cinta sama cinta berjalan berdua/beserta keluarga
laki secara resmi tak diketahui keluarga perempuan.
o Sistim Nyentana/Nyeburin (selarian):
Bentuk perkawinan berdasarkan perubahan status sebagai purusa dari
pihak wanita dan sebagai pradana dari pihak laki.
o Perkawinan Pada Gelahang
Perkawinan yang dilangsungkan sesuai ajaran agama Hindu dan hukum
adat Bali yang tidak termasuk perkawinan biasa (kawin ke luar) dan
juga tidak termasuk perkawinan nyentana (kawin ke dalam),
melainkan suami dan istri tetap berstatus ke purusa dirumahnya masingmasing, sehingga harus mengemban dua tanggung jawab (swadharma).
D. Hukum Waris
Pengertian Hukum Waris menurut ahli :
Prof. Soepomo, merumuskan hukum waris adalah : Hukum waris memuat peraturanperaturan yang mengatur proses meneruskan serta mengoperkan barang-barang harta

benda dan barang-barang tidak berwujud dari angkatan manusia kepada turunannya.
Ter Haar, merumuskan hukum waris adalah Hukum waris meliputi peraturanperaturan hukum yang bersangkutan dengan proses yang sangat mengesankan serta
yang akan selalu berjalan tentang penerusan dan pengoperan kekayaan materiil dan

immaterial dari suatu generasi kepada generasi berikutnya.


Wirjono Prodjodikoro, S.H., menyatakan : Warisan itu adalah soal apakah dan
bagaimanakah pelbagai hak-hak dan kewajiban-kewajiban tentang kekayaan sesorang
pada waktu meninggal dunia akan beralih kepada orang lain yang masih hidup.

Hukum Waris di dalam Adat Bali


5

Berbicara

kehidupan

bermasyarakat

seringkali

kita

berhadapan

dengan

kesenjangan sosial. Di Bali sebagian besar beraggapan bahwa kaum perempuan sering
ditindas dan tidak dihargai terutama persoalan pembagian waris. Hal ini disebabkan
sistem kekeluargaan yang dianut di Bali. Suatu sistem apabila tidak dipahami secara
benar maka akan melahirkan anggapan yang keliru bahkan menyesatkan.
Waris memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan umat
manusia.Hukum waris adalah bagian dari hukum kekayaan, akan tetapi erat sekali
kaitannya dengan hukum keluarga, karena seluruh pewarisan menurut undang-undang
berdasarkan atas hubungan keluarga sedarah dan hubungan perkawinan. Dengan
demikian, hukum waris termasuk bentuk campuran antara bidang yang dinamakan hukum
kekayaan dan hukum keluarga.
Masyarakat adat Bali menganut sistem kekeluargaan patrilineal atau kebapaan
yang lebih dikenal luas dalam masyarakat Bali dengan istilah kepurusaan atau purusa.
Kepurusaan tidak selalu keturunan berdasarkan garis laki-laki, adakalanya berdasarkan
garis perempuan, terutama dalam perkawinan nyentana, ini terjadi bilamana sebuah
keluarga tidak memiliki keturunan laki-laki. Sistim kewarisan menurut garis purusa yang
sepenuhnya tidak identik dengan garis lurus laki-laki, karena perempuanpun bisa menjadi
Sentana Rajeg sebagai penerus kedudukan sebagai kepala keluarga dan penerus
keturunan keluarga.
Di Indonesia, sistem pewarisan menggunakan tiga sistem yaitu (1) sistem hukum
waris Islam, (2) sistem hukum kewarisan perdata barat dari Burgerlijk Wetboek (BW)
atau umum dikenal Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan (3) sistem hukum adat.
Tampaknya tuntutan pembagian warisan yang sama antara laki-laki dan perempuan
dipengaruhi sistem kewarisan dalam hukum kewarisan perdata barat (BW), dimana
keturunan laki-laki dan perempuan mendapat warisan yang sama. Sedangkan di Bali
sistem kewarisan menggunakan sistem kewarisan adat yang dijiwai Hukum Agama
Hindu.

BAB III
PENUTUP
A Kesimpulan
6

Dari uraian makalah kami ini dapat disimpulkan bahwa hukum adat bali
merupakan sekumpulan peraturan baik tertulis maupun tidak tertulis berdasarkan atas
kebiasaan yang menjadi arah dan petunjuk dan batasan terhadap aktivitas agama
ataupun perbuatan anggota masyarakat adat. Adapun beberapa contoh Hukum Adat
Bali itu mengatur baik hukum perorangan, hukum kekeluargaan, hukum waris, serta
hukum perkawinan. Selain itu hukum adat bali juga sangat erat kaitannya bahkan
tidak terpisahkan dengan agama hindu, karena beberapa dari hukum adat yang ada
bersumber dari ajaran agama. Sehingga kadang sulit dibedakan antara hukum adat
dengan agama. Sehingga hukum adat bali ini pada akhirnya akan menunjukkan jiwa
masyarakat bali yang kental dengan budaya, dan tradisinya. Dari hukum adat bali itu
merupakan perwujudan dari konsep Tri Hita Karane , Bagaimana menjalin hubungan
yang harmonis antara manusia dengan tuhan, manusia dengan sesamanya, dan
hubungan manusia dengan alam.
B Saran
Melihat perkembangan jaman tentu membawa perubahan, karena sifat hukum
yang mengikuti pekembangan manusia. Begitu juga hukum adat bali sehingga untuk
dapat memahami secara utuh hukum adat bali perlu pengkajian mengenai bagaimana
perkembangan hukum adat di bali.

DAFTAR PUSTAKA
Soepomo.,1996.BabBab tentang Hukum Adat.Jakarta: PT. Pradnya Paramita.
Ter Haar,B.,2001.Asasasas dan Susunan Hukum Adat.Jakarta: PT. Pradnya Paramita.
5

Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang


Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Http://wikipedia.com/hukumadat , Acessed 17 May 2016