Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH FARMASI SOSIAL

SISTEM ASURANSI KESEHATAN DI NEGARA SINGAPURA

Disusun oleh:
Kelompok 8 / Kelas A
Khumrotin Entik S. (G1F013007)
Siska Khoirunnisa

(G1F013011)

Anisa Rizky Nazala (G1F013071)


Dosen Pengampu : Nia Kurnia Sholihat, M.Sc., Apt.

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN FARMASI
PURWOKERTO
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Asuransi kesehatan adalah suatu sistem pembiayaan yang memberikan
jaminan penggantian sosial dalam menghadapi risiko yang disebabkan oleh
gangguan kesehatan (penyakit) baik penyakit yang dapat disembuhkan
dengan pelayanan rawat jalan maupun perawatan yang lebih intensif atau
rawat inap. Keadaan tersebut sebagai akibat adanya gangguan kesehatan dan
menimbulkan kerugian yang disebabkan pengeluaran biaya untuk pengobatan
dan perawatan serta kerugian akibat hilangnya waktu kerja (Murti, 2000).
Pembiayaan kesehatan yang dilakukan langsung (out of pocket/OOP)
masih mendominasi dinegara berkembang termasuk Indonesia. Sistem
pembiayaan seperti ini akan membebani setiap individu baik kesulitan untuk
mendapatkan akses maupun hambatan dalam finansial individu. Menurut
Thabrany (2005), tingginya pengeluaran OOP ini bersifat regresif, semakin
berat dirasakan bagi mereka yang berpendapatan rendah dibandingkan yang
berpendapatan tinggi. Selain itu semakin berkembangnya tehnologi kesehatan
dan kedokteran membuat biaya kesehatan semakin meningkat/tinggi. Sebagai
suatu solusi untuk menghadapi masalah tersebut dibutuhkan suatu sistem
pelayanan asuransi kesehatan (Thabrany, 2005).
Penduduk Indonesia yang kurang dari 225 juta, membuat Indonesia
sebenarnya pasar yang besar untuk asuransi namun karena banyaknya
kendala, seperti krisis ekonomi yang sedang dihadapi membuat persaingan
diantara perusahaan asuransi semakin ketat. Akan tetapi karena krisis
ekonomi ini pula membuat banyak dari masyarakat Indonesia yang kian
menyadari pentingnya asuransi kesehatan sebagai tranfers resiko keuangan
atau kejadian sakit yang dialami.
Dibandingkan dengan Indonesia, sistem pelayanan kesehatan negara
Asia seperti, Thailan, Filipina dan Singapura lebih maju. Di dalam
perkembangannya mereka mengarah kepada asuransi sosial. Sebagai contoh
Malaysia dan Singapura merupakan negara dengan income per kapita yang
cukup tinggi serta jumlah penduduk kecil, yaitu jumlah penduduk Malaysia
hanya 10% dari Indonesia, dan Singapura kurang lebih sama dengan

penduduk kota Bandung (3,5 juta/tahun 2000) mempunyai sistem pelayanan


kesehatan dan asuransi yang lebih mapan. Oleh karena itu penulis ingin
mengetahui mengenai bagaimana sistem kesehatan dan asuransi kesehatan
yang ada dinegara maju seperti Singapura, selain itu penulis juga ingin
mengetahui mengenai sistem regulasi obat-obatan dan sistem pricing serta
reimbursment di negara Singapura.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sistem kesehatan & asuransi kesehatan di Singapura?
2. Bagaimana pharmaceutical system atau pharmaceutical benefit
scheme di Singapura?
3. Bagaimana pricing and reimbursment di Singapura?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui sistem kesehatan & asuransi kesehatan di
Singapura.
2. Untuk mengetahui pharmaceutical system atau pharmaceutical
benefit scheme di Singapura.
3. Untuk mengetahui pricing and reimbursment di Singapura.

BAB II
PEMBAHASAN
A. SISTEM KESEHATAN & ASURANSI KESEHATAN DI SINGAPURA
Landasan dari sistem kesehatan singapura terdiri dari tiga poin besar yaitu:

1. Negara memiliki tujuan untuk menciptakan populasi yang sehat dengan


lebih menekankan kepada pelayanan kesehatan preventif serta upaya untuk
melakukan gaya hidup sehat.
2. Singapura lebih menekankan kepada tanggung jawab pribadi atau masingmasing penduduknya mengenai kesehatan mereka atau dalam kalimat lebih
sederhana kesehatan merupakan tanggung jawab masing-masing individu.
3. Pemerintah diharuskan untuk mempertahankan biaya pelayanan kesehatan
serta penyediaan subsidi untuk pelayanan kesehatan publik (Ministry of
Health, 2016).
Dalam prakteknya, sistem kesehatan singapura diatur baik dan teratur oleh
pihak pemerintahan maupun pihak swasta. Pihak-pihak pemerintah yang terlibat
antara lain Ministry of Health (MOH), Central Provident Fund (CFD) dan
Monetary Authority of Singapore (MAS). MOH bertanggung jawab terhadap
regulasi sebagian besar sistem kesehatan seperti mempromosikan edukasi
kesehatan, memonitor aksesibilitas serta kualitas pelayanan kesehatan, mencegah
dan mengontrol penyakit, serta mengalokasikan SDM dan infrastruktur kesehatan.
Sedangkan CFD dan MAS bertanggung jawab dalam pengaturan biaya jaminan
social yang ada di Singapura (Ministry of Health, 2016).
Singapura memberikan jaminan kesehatan menyeluruh bagi penduduknya
melalui sebuah sistem pembiayaan yang berdasarkan kepada tanggung jawab
individual dan pelayanan kesehatan yang terjangkau. Sistem pembiayaan yang
dipakai oleh Singapura merupakan sistem pembiayaan campuran yang terdiri dari
beberapa tingkatan sistem, sebagai berikut:
1. Tingkat perlindungan (sistem pembiayaan) yang pertama dilakukan melalui
subsidi pemerintah yang berasal dari perolehan pajak. Subsidi ini biasanya
menutupi hingga 80% dari keseluruhan tagihan biaya pelayanan kesehatan.
2. Tingkatan sistem pembiayaan selanjutnya dilakukan melalui social insurance
(asuransi sosial) yang telah ditetapkan oleh pemerintah Singapura. Asuransi
sosial ini terdiri dari MediSave (pembiayaan bersumber dari potongan uang
yang sengaja disimpan oleh masing-masing individu untuk persiapan biaya
pelayanan kesehatan), MediShield dan ElderShield (asuransi dengan biaya
premi rendah), serta Medifund (bantuan pembiayaan dari pemerintah untuk
mereka yang tidak mampu menutupi biaya pelayanan kesehatannya dengan
subsidi, MediSave, dan MediShield).

Sistem pembiayaan pelayanan kesehatan seperti yang telah disebutkan


diatas hanya berlaku untuk pelayanan kesehatan yang dilakukan di sektor publik.
Sedangkan pelayanan kesehatan yang dilakukan di sektor privat (swasta) dibiayai
oleh sumber pribadi serta asuransi komersial yang ada (Ministry of Health,
2016). Sistem asuransi kesehatan di singapura ada 2 yaitu: Asuransi sosial dan
Asuransi swasta. Asuransi swasta disingapura banyak digunakan sebagai
penunjang asuransi sosial. Masyarakat singapura menggunakan asuransi swasta
untuk pelayanan kesehatan yang tidak diliput oleh pemerintah. Asuransi swasta
biasanya digunakan pada pelayanan kesehatan non-pemerintah.
Singapura juga mempunyai beberapa jenjang pelayanan kesehatan seperti
pelayanan kesehatan primer (poliklinik atau klinik gp), pelayanan rumah sakit,
serta Intermediate and Long Term Care Service (ILTC). Pelayanan kesehatan
primer diselenggarakan oleh dokter umum, dokter keluarga dan perawat di dalam
komunitas. Pelayanan kesehatan jenis inilah yang pertama kali berkontak dengan
pasien dan kemudian memiliki kemampuan untuk merujuk pasien ke spesialisasi
kedokteran tertentu ataupun rumah sakit untuk diagnosis dan tata laksana yang
lebih lanjut. Untuk layanan rumah sakit sendiri, singapura menyediakan delapan
rumah sakit publik yang terdiri dari enam rumah sakit umum, satu rumah sakit ibu
dan anak, serta satu rumah sakit psikiatri. Sedangkan ILTC sendiri digunakan
untuk pasien-pasien yang tidak memerlukan perawatan di dalam rumah sakit lagi,
akan tetapi tetap membutuhkan perawatan dalam jangka waktu yang panjang.
Biasanya ILTC' ini bersifat community-based (Ministry of Health, 2016).
B. PHARMACEUTICAL

SYSTEM

ATAU

PHARMACEUTICAL

BENEFIT SCHEME DI SINGAPURA


Pusat Administration obat (CDA) dan sistem registrasi obat didirikan di
Singapura pada tahun 1987. Pada tanggal 1 April 2001, Health Sciences Authority
(HSA) didirikan dan mengatur produk kesehatan. Pada Januari 2004, CDA
ditempatkan di bawah HAS dan diberi tanggung jawab untuk regulasi obat baru.
Produk farmasi di Singapura diatur oleh banyak hukum dan peraturan, meliputi:
(Lakkis, 2010).

The Medicines Act, diberlakukan pada tahun 1987 untuk memastikan


bahwa produk obat yang dipasarkan di Singapura terjamin standar

keamanan, khasiat dan mutu.


The Health Products Act, diberlakukan pada 2007 untuk memperluas
praktek regulasi untuk memasukkan semua produk kesehatan, seperti alat
medis, kosmetik, obat tradisional China dan suplemen.
Pedoman

pendaftaran

produk

obat

di

Singapura

tahun

2009

menggambarkan proses dan prosedur untuk pendaftaran obat baru atau variasi dan
registrasi ulang. Pendekatan alternatif dapat diterima jika didukung oleh
pembenaran ilmiah yang memadai dan disepakati terlebih dahulu dengan HSA.
HSA juga dapat meminta informasi jika dipandang perlu untuk menilai keamanan,
khasiat dan kualitas produk yang dievaluasi. HSA secara konsisten berupaya
menambahkan data penilaian dari instansi lain, seperti Laporan Penilaian Publik
Eropa (EPAR) dan US Food and Drug Administration (FDA).
Ada tiga jenis New Drug Applications (NDAs) di Singapura, meliputi: (Lakkis,
2010)
1. NDA-1: Aplikasi yang digunakan sebagai kekuatan pertama dari sebuah
produk inovator mengandung bahan kimia baru atau bahan biologi.
2. NDA-2: Jenis ini digunakan untuk kekuatan pertama produk inovator yang
mengandung kombinasi baru bahan kimia/biologi yang sudah terdaftar;
bentuk sediaan baru dari bahan kimia/biologi yang disetujui, rute
pemberian obat baru dari bahan kimia/biologi yang disetujui, nama yang
berbeda; atau indikasi baru, dosis baru dan / atau populasi pasien.
3. NDA-3 (perubahan postapproval): Aplikasi yang digunakan untuk
kekuatan dari produk inovator yang sebelumnya disetujui melalui NDA-1
atau NDA-2. Nama produk dan sediaan farmasi harus sama dengan produk
aslinya.
Ada dua jenis utama dari variasi: variasi besar (MAV) dibagi menjadi dua
kategori: MAV-1 termasuk setiap variasi untuk indikasi yang disetujui (s), dosis
regimen (s), kelompok pasien (s) dan atau masuknya informasi klinis memperluas
penggunaan produk; dan MAV-2 meliputi perubahan saat ini disetujui klasifikasi
forensik (reklasifikasi). variasi kecil (MIV) dibagi lagi menjadi MIV-1, yang

membutuhkan persetujuan peraturan (misalnya, mengubah atau dimasukkannya


packager baru), dan MIV-2, yang membutuhkan pemberitahuan tapi tidak butuh
persetujuan regulasi (misalnya, perubahan nama pemegang lisensi) (Lakkis,
2010).
Singapura bergabung dengan Pharmaceutical Inspection Cooperation
Scheme (PIC/S) pada Januari 2000 dan dalam PIC / S terdapat panduan untuk
praktek pembuatan obat yang baik yang merupakan standar yang digunakan oleh
oleh HSA untuk menilai kesesuaian produsen. Dalam rangka untuk memastikan
bahwa produsen asing yang mengekspor produk ke Singapura mengikuti Good
Manufacturing Practice (GMP) dan obat-obatan impor memenuhi kualitas standar
internasional, GMP dilaksanakan 1 April 2004, dimana produsen wajib
memberikan secara berkala bukti kepatuhan GMP, jika tidak, HSA akan
melakukan audit (Lakkis, 2010).
Singapura merupakan daerah panas dan lembab, oleh karena itu, obat
memerlukan data stabilitas kondisi Zona IVb. Data uji stabilitas minimal yang
dibutuhkan untuk zat obat dan produk obat setidaknya 12 bulan data real-time
(30 C, 75% kelembaban) dan enam bulan data stabilitas dipercepat (40 C, 75%
kelembaban), pada setidaknya tiga batch utama (Lakkis, 2010).
Singapura adalah negara kecil, namun, ia memiliki pengembangan
ekonomi dan bisnis infrastruktur. Pentingnya persetujuan dan pemasaran produk
farmasi di Singapura adalah karena fakta bahwa, banyak situs manufaktur yang
terletak di sana, dan karena itu, Singapura berfungsi sebagai "source country"
yang merupakan pasar internasional dan dapat menyediakan Certificate of
Pharmaceutical Product (CPP). Singapura menganut sistem ekonomi terbuka dan
regulasi yang efisien telah membuat negara ini menjadi tujuan bagi banyak
perusahaan komersial termasuk perusahaan farmasi. Sebagai tambahan, Singapura
dimodernisasi sistem pengawas obatnya untuk memastikan dialog terbuka dan
interaksi dengan industri (Lakkis, 2010).
C. PRICING AND REIMBURSMENT DI SINGAPURA

Singapura adalah negara dengan pembayar saku fundamental swasta yang


didorong oleh pasar. Ada berbagai skema di mana asuransi kesehatan atau biaya
dari kebutuhan kritis terpenuhi. Pendekatan ini terutama didorong oleh pasar.
Pasien menerima subsidi obat berdasarkan status pembayaran dan skema
pengobatan. Skema pengobatan ada 3 yaitu medisave, medishield dan medifund.
Medisave
Medisave adalah skema tabungan wajib dirancang membangun tabungan
yang cukup untuk biaya rawat inap dan biaya rawat jalan pada setiap rumah sakit
di Singapura, terutama selama usia tua. Setiap anggota memberikan kontribusi 68% dari gaji bulanan. Kontribusi ke medisave ditetapkan sebesar $ 32.500. Ketika
anggota mencapai usia 55, ia perlu mempertahankan maksimal $ 27.500 atau
saldo medisave yang sebenarnya. Namun, ada batas-batas jumlah penarikan yang
diijinkan untuk tinggal di rumah sakit, berbagai prosedur bedah dan untuk
perawatan rawat jalan tertentu (seperti dialisis ginjal, radioterapi, kemoterapi dll).
Medisave dikenakan untuk memastikan bahwa anggota memiliki tabungan untuk
kebutuhan medis di masa depan, terutama selama usia tua. Medisave dapat
digunakan untuk penyakit kronis seperti diabetes melitus, hipertensi, gangguan
lipid dan stroke. Pasien dapat membayar pertama $ 30 dari tagihan rawat jalan
serta 15 persen dari saldo tagihan. Medisave dapat digunakan untuk membayar
pokok jumlah yang tersisa untuk batas penarikan tahunan sebesar $ 300 per akun.
Pasien juga dapat menggunakan medisave dari anggota keluarga dekat mereka
sampai batas $ 300 per tahun per akun (hingga maksimal 10 akun) (Shu-Chuen Li.
2006).
Medishield
Medishield diperkenalkan pada bulan Juli 1990 sebagai skema asuransi
kesehatan dasar dan murah yang dirancang untuk membantu membayar tagihan
rumah sakit, terutama pada B2 dan C bangsal rumah sakit yang medisave saja
tidak akan cukup untuk menutupi. MediShield adalah skema untuk semua
pemegang rekening medisave. MediShield usia masuk maksimum 75 tahun dan
usia cakupan maksimal berusia 85 tahun. MediShield meliputi biaya pengobatan

selama di rumah sakit, termasuk biaya bangsal, intensif biaya unit perawatan,
obat-obatan, investigasi, implan bedah dan biaya prosedur bedah. Juga melayani
untuk perawatan rawat jalan tertentu yang disetujui. Batas penarikan medishield $
800 per tahun (Shu-Chuen Li. 2006).
Medifund
Medifund adalah dana abadi yang didirikan oleh pemerintah sebagai jaring
pengaman untuk membantu masyarakat miskin untuk membayar perawatan
medis. Medifund menjadi pilihan terakhir bagi pasien jika medisave dan
medishield tidak mampu membayar biaya pengobatan. Pasien menerima
pengobatan rawat inap di B2 atau C atau rawat jalan bersubsidi di rumah sakit
umum dapat mengajukan permohonan bantuan dari medifund. Permohonan
bantuan medifund akan dipertimbangkan oleh komite medifund. Anggota komite
medifund adalah individu yang secara aktif terlibat dalam masyarakat atau
pekerjaan sosial dan yang akan akrab dengan kebutuhan dan masalah dari
kelompok berpenghasilan rendah. Pada tahun 2002, 177.949 disetujui dengan
bantuan sebesar S $ 26.400.000. Dari jumlah ini, 57,7% diberikan untuk
membantu pasien rawat inap, 37,3% untuk membantu pasien rawat jalan
bersubsidi dan sisanya 5% digunakan oleh organisasi kesejahteraan (Shu-Chuen
Li. 2006).

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Sistem pembiayaan yang dipakai oleh Singapura merupakan sistem
pembiayaan campuran yang terdiri dari tingkat perlindungan (sistem
pembiayaan) yang pertama dilakukan melalui subsidi pemerintah yang
berasal dari perolehan pajak dan asuransi sosial.
2. Produk farmasi di Singapura diatur oleh banyak hukum dan peraturan,
meliputi: The Medicines Act, diberlakukan pada tahun 1987 untuk
memastikan bahwa produk obat yang dipasarkan di Singapura terjamin

standar keamanan, khasiat dan mutu dan The Health Products Act,
diberlakukan pada 2007 untuk memperluas praktek regulasi untuk
memasukkan semua produk kesehatan, seperti alat medis, kosmetik,
obat tradisional China dan suplemen.
3. Sistem pembiayaan kesehatan diSungapura ada 3 jenis yaitu:
MediSave (pembiayaan bersumber dari potongan uang yang sengaja
disimpan oleh masing-masing individu untuk persiapan biaya
pelayanan kesehatan), MediShield dan ElderShield (asuransi dengan
biaya premi rendah), serta Medifund (bantuan pembiayaan dari
pemerintah untuk mereka yang tidak mampu menutupi biaya
pelayanan kesehatannya dengan subsidi, MediSave, dan MediShield).

DAFTAR PUSTAKA
Lakkis, M.M, 2010, Regulation of pharmaceutical products in Singapore,
Regulatory Focus, Vol.10, hlm: 35-38.
Ministry of Health, 2016, Costs and

Financing,

https://www.moh.

gov.sg/content/moh_web/home/costs_and_financing.html, diakses pada


tanggal 12 Desember 2016, 21:31.
Shu-Chuen Li. 2006. Health Care System and Public Sector Drug Formulary in
Singapore. University of Newcastle, Callaghan, Australia & University of
Singapore. Singapore.
Murti Bhisma, 2000, Dasar-dasar Asuransi Kesehatan, Kanisius, Yogyakarta.
Thabrany.H, 2005, Social Health Insurance Implementation in Indonesia, Center
for Health Economic Studies University of Indonesia, Jakarta