Anda di halaman 1dari 14

SURAT PERJANJIAN KERJASAMA KEMITRAAN

ANTARA
PT.KARYA CIPTA BUANA SENTOSA (KCBS) MAUMERE
DENGAN
KELOMPOK NELAYAN
TENTANG
OPERASIONAL PENANGKAPAN DAN PENGANGKUTAN HASIL TANGKAPAN
Pada hari ini, ....., tanggal ..... September 2016, yang kami bertanda tangan
di bawah ini:
Nama
Jabatan
Alamat

: ...
: ...................................
:

Bertindak untuk dan atas nama PT. KARYA CIPTA BUANA SENTOSA MAUMERE
yang disebut PIHAK PERTAMA atau Inti.
Dengan
1. Nama
: ..
KTP Nomor
: ...............................................
Alamat
:
.
Jabatan
: Ketua Kelompok Nelayan......
2. Nama
: ..
KTP Nomor
: ...............................................
Alamat
:
.
Jabatan
: Ketua Kelompok Nelayan......
Bertindak untuk dan atas nama Ketua Kelompok... dan ... yang disebut PIHAK
KEDUA atau Plasma.
Sepakat mengadakan kerja sama dalam bidang Perikanan dengan ketentuanketentuan sebagai berikut :
BAB I
PERSYARATAN MENJADI PLASMA

Pasal 1
Pihak II disetujui menjadi plasma setelah melalui tahapan :
1. Memiliki kapal perikanan baik secara individu atau kelompok
2. Memiliki alat tangkap ikan baik dari segi jenis, jumlah, dan ukuran sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3. Menyerahkan foto kopi KTP
4.
5. Telah mendapatkan rekomendasi dari Team Survey untuk memelihara
puyuh dan bermitra dengan PT. Peksi Gunaraharja.
6. Sanggup dan bersedia mentaati semua peraturan yang ada dengan
menandatangani surat perjanjian ini.

BAB II
PERMODALAN
Pasal 2

Pihak II atau Plasma harus menyediakan rumah kandang, kandang bateray


dan peralatan pemeliharaan puyuh beserta tenaga kerjanya dengan biaya
Pihak II atau Plasma

Pasal 3
Pihak II atau Plasma harus membeli DOQ , Pakan Stater, Vitamin dan obat dari PT. Peksi
Gunaraharja.
Pasal 4
Pihak II atau Plasma akan mendapatkan pinjaman tray dan pakan Layer setelah
puyuh mulai bertelur

BAB III
JAMINAN
Pasal 5

Pihak II atau Plasma wajib memberikan agunan bila Pihak I atau Inti meminta
dari Pihak II atau Plasma
BAB IV
HAK DAN KEWAJIBAN

Hak dan Kewajiban Pihak I atau Inti


Pasal 6
Pihak I atau Inti wajib :
1. Menyediakan DOQ (bibit puyuh), obat dan Pakan dengan harga jual beli
yang sudah ditentukan oleh Pihak I atau Inti.
2. Memberikan pemahaman dan penyuluhan kepada Pihak II atau Plasma
tentang pemeliharaan burung puyuh yang benar.
3. Mengambil semua hasil produksi telur (sesuai standard) dan
mengantarkan pakan kepada Pihak II atau Plasma pada kondisi harga
bagus maupun jelek dan sejauh jangkauan armada Pihak I atau Inti.
4. Mengambil burung puyuh yang tidak produktif atau afkir atau sebab lain
yang sifatnya darurat dari Pihak II atau Plasma sesuai dengan harga yang
ditentukan Pihak I atau Inti.
5. Memberikan nota rincian transaksi jual beli kepada Pihak II atau Plasma
sebagai bukti transaksi kedua belah Pihak.
6. Mempertahankan serta menjaga kerjasama kedua belah Pihak demi
tercapai kesejahteraan bersama.

Pihak I atau Inti Berhak :


1. Menentukan jumlah populasi yang sesuai dengan kapasitas kandang Pihak
II atau Plasma
2. Mendapatkan informasi kondisi dan perkembangan burung puyuh dari
Pihak II atau Plasma.
3. Mengetahui tata laksana dan menagemen pemeliharaan burung puyuh
dari Pihak II atau Plasma.
4. Menentukan kebijakan dalam koridor kerjasama untuk menjaga loyalitas,
kredibilitas, konsistensi dari Pihak II atau Plasma.
5. Memberikan teguran, sangsi dan menghentikan sepihak atas kejasama
kemitraan kepada Pihak II atau Plasma apabila melanggar dari
kesepakatan yang sudah disepakati bersama kedua belah Pihak.

Hak dan Kewajiban Pihak II


Pasal 7
Pihak II atau Plasma Berhak :
1. Mendapatkan DOQ (bibit puyuh), obat dan Pakan dari Pihak I atau Inti
dengan harga jual beli yang sudah ditentukan oleh Pihak I atau Inti.
2. Mendapatkan pemahaman dan penyuluhan dari Pihak I tentang cara
menjaga mutu hasil tangkapan ikan yang benar.
3. Mendapatkan jaminan pemasaran telur (sesuai standard) dan afkiran
oleh Pihak I atau Inti dalam kondisi harga bagus maupun jelek.
4. Mendapatkan Jaminan suplay pakan oleh Pihak I atau Inti sesuai jadwal
dan kebutuhan.
5. Mendapatkan pelayanan teknis pengambilan telur dan pengantaran
pakan sejauh jangkauan armada Pihak I atau Inti
6. Mendapatkan nota rincian transaksi jual beli dari Pihak I atau Inti sebagai
bukti transaksi kedua belah Pihak.

Pihak II atau Plasma wajib :


1. Berkewajiban mematuhi kebijakan dan kesepakatan kerjasama baik jual
beli, konsistensi, dan loyalitas kepada Pihak.
2. Berkewajiban menyetor/menjual semua hasil/Produksi Perikanan dengan
kualitas sesuai dengan yang standard yang ditetapkan kepada Pihak I.
3. Berkewajiban melunasi segala kewajiban-kewajibanya (tunggakan
hutang-piutang) kepada Pihak I apabila berhenti bermitra.
4. Berkewajiban mempertahankan kerjasama para pihak demi tercapai
kesejahteraan bersama.

BAB V
MASA BERLAKUNYA PERJANJIAN
Pasal 8
Surat perjanjian ini berlaku sejak .. sampai
berakhirnya kemitraan atau sampai diputuskannya kesepakatan oleh para
pihak.
Apabila terjadi perselisihan yang tidak bisa diselesaikan dengan cara
kekeluargaan akan diselesaikan dengan jalur hukum. Demikian surat

perjanjian ini Kami buat dan Kami tanda tangani bersama tanpa ada paksaan
dari Pihak manapun juga.

Maumere, September 2016


Yang mengadakan Perjanjian

( ....... )
PIHAK I

(....)
PIHAK II

Saksi-saksi
Kepala Dinas Kelautan dan
Perikanan
Kabupaten Sikka,

DANLANAL-Maumere

( ....... )
( ....... )

Kepala Karantina Maumere

POLAIR-Maumere

( ....... )

( ....... )

Para Pihak menerangkan terlebih dahulu : --------------------------Bahwa PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA untuk selanjutnya dapat
disebut juga PARA PIHAK.
Bahwa PIHAK PERTAMA adalah Perseroan Terbatas yang bergerak dibidang
pertambangan, dan
bergerak

dibidang

PIHAK

KEDUA

kontraktor

adalah Perseroan Terbatas yang

alat-alat

berat

pertambangan.

PIHAK

PERTAMA adalah pemegang Hak Kuasa Pertambangan Batu Bara di Kutai


Kalimantan Timur, PIHAK KEDUA adalah Pemilik Kendaraan alat-alat berat
yang akan menjadi mitra kerja yaitu kerjasama operasi dalam hal ini.
Bahwa PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA sebelumnya telah membuat
dan menandatangani Memori of Understanding (MoU) tertanggal 1 Agustus
2012, mengenai:
1.

Pengoperasian

alat-alat

berat

yang

berupa

peralatan berat

(Heavy

Equipment) 4 Unit dump truck merk Hino serta 5 unit traktor merk Mitsubishi
dalam rangka eksploitasi tambang batu bara di Kutai, Kalimantan Timur.

2.

Mengangkut hasil batubara dari site pertambangan di Kutai dengan


menggunakan 20 Truk Tronton yang baru dibeli oleh PIHAK PERTAMA dan
20 Truk lainnya yang sudah dimliki sejak 2 tahun terakhir ini. Bahwa 40 Truk
itu akan dioperasikan 2 kali jalan setiap harinya.
Bahwa di dalam Perjanjian ini PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA akan
membentuk ikatan kerja sama dalam bentuk Kerja Sama Operasi.
Bahwa di dalam Perjanjian ini PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA setuju
dan sepakat untuk melakukan kerja sama operasi (joint operational) guna
mensinergikan kemampuan, ketepatan, kesesuaian, keberhasilan, kelancaran
dan keahlian untuk pelaksanaan Proyek Eksploitasi Pertambangan batubara
di Kutai, Kalimantan Timur.
Berdasarkan hal-hal yang diterangkan di atas, PARA PIHAK bertindak
sebagaimana tersebut di atas, telah setuju dan sepakat untuk membuat
Perjanjian ini berdasarkan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan sebagai
berikut:
=============== PASAL 1 ===============
DEFINISI
Perjanjian ini adalah perjanjian Kerjasama Operasi, merupakan perjanjian
kerjasama yang dilakukan oleh antara PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA
berkaitan dengan pelaksanaan Proyek Eksploitasi Pertambangan Batubara,
sesuai dengan ketentuan dan syarat-syarat yang diatur dalam Perjanjian ini.
===============PASAL 2 ===============
BENTUK KERJASAMA
(1) Bentuk kerjasama yang bersifat kemitraan antara PIHAK PERTAMA
dengan PIHAK KEDUA, diantara masing-masing pihak akan memperoleh
kemanfaatan dan keuntungan dari hasil kerjasama yang dimaksud.
(2) Dalam kerjasama ini PIHAK PERTAMA menunjuk dan memberikan ijin
hanya kepada PIHAK KEDUA untuk melaksanakan Objek Kerjasama Operasi
di Lokasi yang telah ditentukan, sesuai dengan syarat dan

ketentuan-

ketentuan lain yang merupakan bagian tidak terpisahkan dengan perjanjian


ini.
(3)

PARA

PIHAK

setuju

dan

sepakat,

bahwa

pelaksanaan

Proyek

dilaksanakan melalui konsep Kerjasama Operasi (KSO).


===============PASAL 3 ===============
OBJEK OPERASI
1. Objek Kerja Sama Operasi pada perjanjian yang dilakukan antara PIHAK
PERTAMA dan PIHAK KEDUA merupakan barang yang sah menurut hukum
dan tidak bertentangan dengan Peraturan Perundang-undangan, kesusilaan,
dan ketertiban umum.

2. PIHAK KEDUA akan mengoperasikan peralatan berat (heavy equipment)


milik PIHAK KEDUA tersebut, dengan rincian sebagai berikut:
1) Truk Penimbun (Dump Truck) sebanyak 4 unit, hasil produksi Jepang dengan
merk HINO.
2) Traktor sebanyak 5 unit, hasil produksi Jepang dengan merk MITSUBISHI.
3) Truk Tronton sebanyak 40 unit, hasil produksi Jepang dengan merk DHINA.
3. PIHAK KEDUA akan mengoperasikan Dump Truck dan Traktor sebanyak
yang telah disebutkan dalam ayat 2, setiap hari kerja atau perbulannya x 25
hari kerja, dan mengoperasikan 40 Truk Tronton sebanyak 2 kali jalan (pulang
pergi), atau setiap harinya 80 kali pengiriman batubara.
4. PIHAK KEDUA akan mengoperasikan peralatan berat sebagaimana yang
telah dijelaskan dalam ayat 2 pasal ini, sesuai dengan lokasi/tempat, waktu,
dan syarat-syarat ketentuan yang diatur dalam perjanjian ini.
=============== PASAL 4 ===============
LOKASI OPERASI
Kerjasama Operasi yang dilakukan oleh PIHAK PERTAMA dan PIHAK
KEDUA ini akan dilakukan dan dilaksanakan dari site Pertambangan
Batubara di Kutai Kalimantan Timur ke Pelabuhan Simantele di Bontang
Kalimantan Timur.
=============== PASAL 5 ===============
RUANG LINGKUP KERJASAMA
1.

PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA setuju dan sepakat satu sama lain
bahwa Kerja Sama Operasi ini dibuat khusus dan terbatas untuk pelaksanaan
Proyek Eksploitasi Pertambangan Batu Bara di Kutai Kalimantan Timur.

2.

Proses pelaksanaan Kerja Sama Operasi yang akan dilakukan oleh PIHAK
PERTAMA dan PIHAK KEDUA akan mengacu dan sesuai dengan dokumen
perjanjian serta lampirannya untuk Proyek yang akan dibuat oleh dan antara
PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA.
=============== PASAL 6 ===============
KETENTUAN BIAYA DAN CARA PEMBAYARAN
1. PARA PIHAK telah setuju dan sepakat bahwa Biaya Kerjasama operasi,
dengan rincian sebagai berikut:
a.

PIHAK

PERTAMA

wajib

membayar

kepada

PIHAK

KEDUA

untuk

mengeksploitasi tambang batubara dengan mempergunakan barang-barang


kendraan alat berat sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 3, adalah
milik

PIHAK

KEDUA,maka

PIHAK

PERTAMA

dikenakan

biaya

Rp.

350.000.000,- yang wajib dibayarkan kepada PIHAK KEDUA, sesuai dengan


ketentuan dan syarat-syarat yang diatur dalam perjanjian ini.

b. Untuk biaya pengangkutan Batubara seusai trayek lokasi objek operasi


dengan objek operasi sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 4 perjanjian
ini, yang setiap harinya 80 kali pengiriman batubara dikenakan biaya Rp.
160.000.000,- per hari, atau perbulannya x 25 hari kerja atau semuanya
sejumlah Rp. 4.000.000.000,2. Cara pembayaran objek operasi adalah dengan cara transfer ke rekening
Bank Mandiri Nomor 131-00-9100018-4. Atas Nama PIHAK KEDUA dari total
keseluruhan biaya objek operasi, yang harus dibayarkan disetiap akhir bulan
yaitu pada tanggal 28 disetiap bulannya, selama 60 bulan, oleh PIHAK
PERTAMA kepada PIHAK KEDUA. Apabila akhir bulan merupakan hari libur
maka pembayaran dilakukan sebelum tanggal hari libur.
3. Di dalam pengoperasian alat-alat berat dump truk dan traktor tersebut maka
operator ditanggung oleh PIHAK KEDUA, sedangkan biaya bahan bakar
solar untuk truk-truk tersebut ditanggung oleh PIHAK PERTAMA.
=============== PASAL 7 ===============
JANGKA WAKTU
1. Perjanjian ini berlaku lima tahun setelah ditandatanganinya perjanjian
ini dan akan berakhir masa operasi dengan sendirinya pada tanggal 14
November 2017, kecuali diperpanjang dengan ketentuan sebagaimana
diatur dalam perjanjian ini.
2. Perjanjian ini dapat diperpanjang untuk jangka waktu sewa 5 tahun,
setelah berakhirnya masa jangka waktu sewa 5 (lima) tahun periode
pertama, dengan syarat-syarat yang disepakati oleh kedua belah
pihak.
3. PIHAK

KEDUA

dalam

jangka

waktu

bulan

sebelum

masa

berakhirnya perjanjian harus menyatakan kehendaknya secara tertulis


apabila berkehendak untuk melakukan perpanjangan jangka waktu
objek kerjasama operasi dalam perjanjian ini.

=============== PASAL 8 ===============


HAK DAN KEWAJIBAN PARA PIHAK
1.

Apabila PIHAK PERTAMA tidak dapat melunasi pembayaran setiap


bulannya, maka PIHAK KEDUA dapat memberikan surat teguran pelunasan
tagihan disetiap keterlambatan waktu pembayaran, dengan sanksi-sanksi
yang telah diatur dalam perjanjian ini.

2. PIHAK PERTAMA berhak atas dioperasikannya objek operasi oleh PIHAK


KEDUA, sebagaimana yang disepakati dan disetujui sebelumnya sesuai
dengan biaya,waktu, jaminan, dan cara pembayaran yang telah disepakati
dan disetujui dalam perjanjian ini.

3. PIHAK PERTAMA berhak atas pengoperasian objek kerjasama operasi yang


diberikan oleh PIHAK

KEDUA

selama jangka waktu dan ketentuan

sebagaimana telah disepakati dan disetujui.


4.

PIHAK PERTAMA wajib membayar biaya-biaya yang timbul karena


pelaksanaan kerjasama operasi, terhadap objek dan lokasi, selama jangka
waktu, tempat, dan cara pembayaran sebagaimana ditetapkan menurut
perjanjian ini.

5. Segala kerusakan dari objek operasi menjadi tanggungan sepenuhnya dari


PIHAK KEDUA kecuali terhadap kerusakan yang ditimbulkan bukan oleh
PIHAK KEDUA (force majuer) akan ditanggung secara bersama oleh kedua
belah pihak sebagaimana yang disepakati.
6. PIHAK PERTAMA berhak untuk meminta perpanjangan jangka waktu masa
kerjasama operasional kepada PIHAK KEDUA sesuai dengan ketentuan dan
syarat-syarat yang diatur dalam perjanjian ini.
7. PIHAK KEDUA wajib mengoperasikan objek kerjasama tersebut seutuhnya
setelah

PIHAK

PERTAMA

menandatangani

Surat

Perjanjian

ini

dan

membayarkan uang sebesar Rp. 350.000.000,- kepada PIHAK PERTAMA,


sebagaimana sudah disetujui dan disepakati sebelumnya.
8.

PIHAK

KEDUA wajib bertanggung jawab atas objek operasi yang

dioperasikan kepada PIHAK PERTAMA, sesuai dengan kewajiban yang


diatur dalam perjanjian ini.
9. PIHAK KEDUA wajib mengoperasikan objek kerjasama tersebut kepada
PIHAK PERTAMA meliputi segala sesuatu yang menjadi perlengkapannya
serta dimaksudkan bagi penggunanya yang tetap, selama jangka waktu
masa operasi.
10. PIHAK PERTAMA berkewajiban menanggung biaya-biaya bahan bakar solar
untuk truk-truk tersebut
11. PIHAK KEDUA berhak menerima pembayaran secara lunas terhadap
Pengoperasian

objek

operasi,

sesuai

dengan

ketentuan

dan

cara

pembayaran yang sebagaimana telah disepakati dan disetujui sebelumnya


oleh kedua belah pihak.
12. PIHAK KEDUA berkewajiban menyediakan serta mengirimkan instruktur
yang akan mengoperasikan objek kerjasama operasi.
=============== PASAL 9 ===============
TANGGUNG JAWAB PARA PIHAK
1.

PARA PIHAK bertanggung jawab secara penuh untuk kepeduliannya


terhadap keberhasilan pelaksanaan kerjasama ini sesuai dengan Perjanjian

ini.
2. Dalam pelaksanaan kerjasama, apabila ada salah satu PIHAK yang tidak
dapat memenuhi kewajiban dan tugas yang telah ditentukan dan ditetapkan

untuknya, maka PIHAK lainnya wajib mengambilalih kewajiban dan tugas


tersebut.
3. Pengambilalihan kewajiban dan tugas oleh salah satu PIHAK sebagaimana
dimaksud pada Pasal 7.2. Perjanjian ini, tidak membebaskan PIHAK yang
diambilalih kewajiban dan tugasnya itu untuk mengganti segala kerugian,
kerusakan dan kehilangan yang timbul atau yang diderita oleh Pihak lainnya
(termasuk biaya-biaya, ongkos-ongkos dan beban-beban).
4. Tanggung jawab para pihak secara bersama-sama adalah untuk mencarikan
solusi pelaksaan kerjasama operasi yang diperlukan sebagaimana dimaksud
dalam Perjanjian ini.
=============== PASAL 10 ===============
PERALATAN, PERLENGKAPAN DAN TENAGA KERJA
1.

PARA PIHAK setuju dan sepakat berkaitan dengan pengadaan peralatan dan
perlengkapan untuk pelaksanaan Proyek yang dikelola secara terpadu
(integrated management) maka : Pengadaan peralatan dan perlengkapan
yang merupakan milik PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA yang akan
digunakan untuk pelaksanaan Proyek,

2.

Masing-masing PIHAK akan bertanggung jawab terhadap tenaga kerja atau


personil yang berasal dari masing-masing PIHAK yang akan digunakan
dalam Pelaksanaan Kerjasama Operasi, baik itu mengenai kemampuan,
kecakapan dan keahlian kerja.

3.

Masing-masing PIHAK akan bertanggung jawab terhadap proses dan tata


cara seleksi tenaga kerja atau personil dari masing-masing PIHAK yang akan
digunakan oleh dalam Pelaksanaan Proyek Kerjasama Operasi.

4.

Masing-masing PIHAK akan bertanggung jawab terhadap hak-hak dan


kewajiban-kewajiban tenaga kerja atau personil masing-masing PIHAK yang
akan digunakan dalam Pelaksanaan Kerjasama Operasi, beserta akibatakibat hukum lainnya yang berkaitan dengan perjanjian kerja yang dibuat
oleh dan antara masing-masing PIHAK dengan tenaga kerjanya.
=============== PASAL 11 ===============
PAJAK-PAJAK
1. Segala pajak-pajak yang timbul dalam rangka pelaksanaan Proyek akan
menggunakan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) PIHAK PERTAMA,
sebagaimana yang telah disepakati oleh para pihak, kecuali ditentukan lain
dalam perjanjian ini.
2. Pajak-Pajak yang timbul dari Alat-alat berat sesuai dengan tahun dan
ketentuan lain yang mengaturnya, menjadi tanggung jawab PIHAK KEDUA
Sebagai Pemilik dari barang tersebut.

=============== PASAL 12 ===============


PERNYATAAN DAN JAMINAN
PARA PIHAK setuju dan sepakat menyatakan dan menjamin bahwa:
a. Akan melaksanakan kewajiban-kewajiban PARA PIHAK yang disyaratkan
dalam Perjanjian ini.
b. Untuk melaksanakan Perjanjian ini atas dasar itikad baik, dan setiap
perubahan yang terjadi pada struktur organisasi Proyek, anggaran dasar,
kepengurusan, pemilikan saham PARA PIHAK dalam Perjanjian ini akan
diberitahukan oleh PIHAK yang mengalami perubahan itu kepada PIHAK
yang lain dan tidak akan memperngaruhi pelaksanaan Perjanjian ini.
c. Penandatangan Perjanjian ini berhak dan berkewenangan untuk bertindak
untuk dan atas nama PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA, dan setiap dan
semua tindakan, prosedur dan langkah yang diwajibkan atau selaziman
dilakukan untuk memperoleh hak dan kewenangan tersebut telah dilakukan
sesuai dengan ketentuan undang-undang dan anggaran dasar yang berlaku
bagi PARA PIHAK dalam Perjanjian ini.
d. Masing-masing PIHAK telah melakukan segala tindakan hukum yang
diperlukan untuk sahnya Perjanjian ini sehingga pelaksanaannya tidak dan
tidak akan bertentangan dengan atau melanggar ketentuan-kententuan
hukum atau peraturan-peraturan atau kebijaksanaan pemerintah.
=============== PASAL 13 ===============
KORESPODENSI
1. Segala surat menyurat yang berkaitan dengan PARA PIHAK akan ditujukan
dengan alamat sebagai berikut :
a. Apabila ditujukan kepada PIHAK PERTAMA atau PT. PP (Persero), maka
dialamatkan kepada :
PT.PRIMA BATUBARA ABADI
JL. TB Simatupang 57 Pasar Rebo, Jakarta 13760
Telp. (021) 8403919/ Fax. (021) 8403929. Up. General Manager
b. Apabila ditujukan kepada PIHAK KEDUA atau PT. Hutama Karya (Persero)
Divisi Gedung, maka dialamatkan kepada :
PT.SERJO COAL SEJAHTERA
JL. Iskandarsyah I No. 6 Kebayoran Baru, Jakarta 12160.
Telp. (021) 7221668/ Fax. (021) 7251239. Up. General Manager
2. Segala surat menyurat yang diserahkan secara langsung dianggap telah
diterima pada hari penyerahan dengan bukti tanda tangan penerimaan pada
buku ekspedisi atau buku tanda terima pengirim, sedangkan pengiriman
melalui faksimili dianggap telah diterima pada saat telah diterima kode
jawaban (answerback) pada konfirmasi faksimili pada pengiriman faksimili.

Setiap perintah atau pemberitahuan yang dikirim melalui email akan


dianggap sebagai bukan perintah atau pemberitahuan.
3. Apabila terjadi perubahan alamat untuk korespodensi oleh salah satu PIHAK
di Indonesia, maka perubahan alamat untuk korespodensi itu harus
diberitahukan secara Terulis sebelumnya kepada PIHAK lainnya.

=============== PASAL 14 ===============


SANKSI DAN DENDA
1. PIHAK PERTAMA yang tidak dapat menyelesaikan pembayaran setiap
bulannya sesuai dengan waktu dan cara pembayaran, maka pihak kedua
dikenakan denda sebesar Rp 30.000.000,-/hari terhitung sejak setelah
tanggal 28 disetiap akhir bulan.
2. Apabila PIHAK PERTAMA tetap tidak dapat menyelesaikan pembayaran
hingga 3 bulan berturut-turut maka PIHAK PERTAMA dapat menghentikan
operational alat-alat berat dan/atau menarik kembali objek operasi dibawah
penguasaannya hingga sisa pembayaran dapat dilunasi.
3. Apabila objek operasi selama proses pengehentiannya oleh PIHAK KEDUA
melebihi selama waktu 3 bulan, maka PIHAK KEDUA dapat menyelesaikan
masalah ini dengan cara-cara yang diatur di dalam perjanjian ini.
=============== PASAL 15 ===============
PEMBERITAHUAN
Semua pemberitahuan antara kedua belah pihak yang berkaitan
dengan perjanjian ini, akan dilakukan secara tertulis dan berlaku sebagai alat
pembuktian.
=============== PASAL 16 ===============
PENGAKHIRAN PERJANJIAN
1. Jangka waktu Kerjasama Operasi berlaku sejak tanggal ditandatanganinya
Perjanjian ini oleh PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA dan akan berakhir
apabila:
a.

Pelaksanaan Objek Operasi telah selesai dengan dibuktikan telah habisnya


masa pelaksanaan Proyek, serta seluruh hak dan kewajiban antara PIHAK
PERTAMA dan PIHAK KEDUA maupun pihak-pihak diluar Perjanjian ini yang
masih berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan

Objek Operasi telah

terpenuhi semuanya.
b.

Telah diselesaikannya hak dan kewajiban masing-masing PIHAK dalam


Kerjasama Operasi.

c.

Atas persetujuan PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA untuk mengakhiri


Perjanjian ini.

2. PARA PIHAK telah melaksanakan seluruh kewajiban-kewajibannya di dalam


Perjanjian ini.
3. PARA PIHAK setuju dan sepakat untuk mengesampingkan berlakunya pasal
1266 dari Kitab Undang-Undang Hukum Perdata sehubungan dengan
pengakhiran Perjanjian ini.
=============== PASAL 17 ===============
KERAHASIAAN
1. Sehubungan dan sesuai dengan syarat-syarat dan kondisi dalam Perjanjian
ini, dokumen-dokumen perjanjian, masing-masing PIHAK bersedia untuk
memberikan kepada PIHAK lainnya informasi yang bersifat rahasia yang
berhubungan dengan Proyek yang termasuk namun tidak terbatas pada
dokumen-dokumen

perjanjian,

strategi,

angka-angka

dan

data

lain,

informasi, penafsiran, kontrak dan dokumen lain yang terkait dengan Proyek.
2. Dengan memperhatikan pemberian informasi rahasia yang sebagaimana
dimaksud pada ayat 1. Perjanjian ini, PARA PIHAK menyetujui bahwa
informasi rahasia harus dijaga kerahasiaannya dan tidak boleh diumumkan
kepada publik atau diungkapkan kepada siapapun dengan cara apapun,
termasuk dengan cara memfotokopi atau memproduksi, tanpa persetujuan
Tertulis terlebih dahulu dari PIHAK lainnya, kecuali sebagaimana dimaksud
dalam ketentuan-ketentuan dibawah ini :
a. yang sudah menjadi milik publik atau tersedia untuk publik selain dari
tindakan atau kelalaian PARA PIHAK; atau
b. yang diperlukan untuk diungkapkan berdasarkan ketentuan hukum atau
perintah pemerintah, keputusan, peraturan (dengan ketentuan bahwa
PIHAK yang akan mengungkapkan informasi rahasia dimaksud wajib
memberikan pemberitahuan secara Tertulis terlebih dahulu kepada Pihak
lainnya mengenai pengungkapan tersebut); atau
c. yang diperoleh sendiri oleh PIHAK atau PARA PIHAK dari pihak ketiga
lainnya yang mempunyai hak untuk memberitahukan informasi tersebut.
3.

Masing-masing PIHAK dengan ini menyatakan dan menjamin bahwa


masing-masing PIHAK memiliki hak dan kewenangan untuk mengungkapkan
informasi rahasia kepada PIHAK lainnya dalam Perjanjian ini.
=============== PASAL 13 ===============
FORCE MAJEURE

1. PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA dibebaskan dari hak dan kewajiban
dari Perjanjian Kerjasama ini apabila terjadi force majeure.
2. Force majeure sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi keadaankeadaan sebagai berikut:

a.

Bencana alam seperti banjir, kebakaran, gempa bumi, longsor dan kejadian-

b.

kejadian lain di luar kemampuan manusia;


Huru-hara, seperti kerusuhan sosial, perang dan kejadian lain yang
ditimbulkan oleh manusia namun berada di luar kemampuan PARA PIHAK

c.

untuk mengatasinya;
Perubahan kebijakan Pemerintah, yang secara langsung ataupun tidak

langsung mempengaruhi pelaksanaan Perjanjian Kerjasama ini.


3. Apabila terjadi keadaan memaksa (Force Majeur). PIHAK KEDUA harus
memberitahukan

kepada

PIHAK

PERTAMA

secara

tertulis

selambat-

lambatnya dalam 7 (tujuh) hari sejak terjadi keadaan memaksa, disertai


bukti-bukti yang sah, demikian juga pada waktu keadaan memaksa berakhir
4. Atas permintaan PIHAK KEDUA, PIHAK PERTAMA akan menyetujui atau
menolak secara tertulis selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari. Apabila
PIHAK PERTAMA tidak memberikan jawaban kepada PIHAK KEDUA, maka
5.

PIHAK PERTAMA dianggap menyetujui adanya keadaan memaksa tersebut.


Bilamana keadaan memaksa itu tidak diberitahukan kepada PIHAK
PERTAMA oleh PIHAK KEDUA, sesuai dengan ketentuan pada ayat (3)
Pasal ini, maka PIHAK PERTAMA dapat menyatakan bahwa force majeure
dianggap tidak pernah terjadi.
=============== PASAL 14 ===============
BAHASA DAN HUKUM YANG BERLAKU

1. PARA PIHAK setuju dan sepakat bahwa bahasa yang dipergunakan dalam
Perjanjian ini adalah bahasa Indonesia.
2. Jika diterjemahkan kedalam bahasa Inggris atau bahasa lainnya, dalam hal
terjadi perbedaan penafsiran maka yang akan berlaku adalah Perjanjian yang
dibuat dalam bahasa Indonesia.
3. Perjanjian ini tunduk kepada ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku di
wilayah negara Republik Indonesia.
=============== PASAL 15 ===============
PENYELESAIAN PERSELISIHAN
1. Setiap perselisihan, pertentangan dan perbedaan pendapat yang
berhubungan dengan Perjanjian ini akan sepanjang memungkinkan
diselesaikan secara musyawarah dan mufakat antara PARA PIHAK paling
lama 30 (tiga puluh) Hari.
2. Apabila penyelesaian secara musyawarah tidak berhasil, maka kedua

belah pihak sepakat untuk memilih domisili hukum dan tetap di kantor
Kepaniteraan Pengadilan Negeri Kutai, Kalimantan Timur.

=============== PASAL 16 ===============


LAIN-LAIN

1.

Segala sesuatu yang tidak atau belum termasuk dalam Perjanjian ini, baik
perubahan-perubahan, peyimpangan-penyimpangan amupun tambahantambahan akan diatur dan dijelaskan lebih lanjut oleh PARA PIHAK secara
Tertulis dalam suatu tambahan atau Addendum yang tidak dapat dipisahkan
dan merupakan bagian yang utuh dari Perjanjian ini.

2.

Apabila terdapat salah satu pasal dan atau ayat atau ketentuan dalam
Perjanjian ini bertentangan dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku dan atau dinyatakan batal demi hukum dan atau
cacat hukum oleh pengadilan, maka pernyataan tersebut tidak berpengaruh
terhadap ayat-ayat dan atau pasal-pasal lain dalam Perjanjian ini, sehingga
ketentuan-ketentuan lain dalam Perjanjian ini tetap berlaku dan mengikat
masing-masing PIHAK.

3.

Perjanjian ini berlaku dan mengikat PARA PIHAK sejak ditandatanganinya


oleh masing-masing PIHAK.

Demikian Perjanjian ini disetujui dan dibuat, serta ditandatangani oleh kedua
belah pihak dengan dihadiri saksi-saksi yang dikenal oleh kedua belah pihak.
Jakarta, 14 November 2012.
Pihak Pertama

(Ir.John Willy)

Pihak Kedua

( Ir.Surya Permadi )

SAKSI-SAKSI
-

Putra Perwira, S.H.


Muktaman Rasyid, S.H.

- Rudolof Parepare, S.E.


- Ahmad Sukamto, S.T.