Anda di halaman 1dari 4

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Tetanus adalah penyakit toksemia akut yang disebabkan oleh eksotoksin

yang dapat larut (tetanospasmin) dari Clostridium tetani. Biasanya toksin tersebut
dihasilkan oleh bentuk vegetatif organisme tersebut pada tempat terjadinya
perlukaan selanjutnya diangkut serta difiksasi di dalam susunan syaraf pusat.
Sedangkan Tetanus neonatorum terjadi pada neonatus (bayi berusia 0-28hari) dan
menyerupai tipe tetanus generalisata. Spora dari kuman Clostridum tetani masuk
melalui pintu masuk satu-satunya ke tubuh bayi baru lahir, yaitu tali pusat.
Peristiwa tersebut dapat terjadi pada saat pemotongan tali pusat ketika bayi lahir
maupun saat perawatannya sebelum puput (lepas tali pusat) (Depkes RI, 1993).
Tetanus dapat mengakibatkan kesulitan menetek dan menangis berlebihan
disusul kesulitan menelan, kekakuan tubuh, dan spasme. Opistotonus dapat terjadi
sangat hebat atau tidak timbul sama sekali (Berhman, 1988). Di negara-negara
berkembang angka kejadian tetanus neonatorum 85%, dengan mortalitas akibat
tetanus neonatorum akan mendekati 100% terutama kasus dengan masa inkubasi
pendek (Depkes RI, 1993).
Kasus tetanus banyak dijumpai di sejumlah negara tropis dan negara yang
masih memiliki kondisi kesehatan rendah. Data organisasi kesehatan dunia WHO
menunjukkan, kematian akibat tetanus di negara berkembang adalah 135 kali
lebih tinggi dibanding negara maju (www.nakita.com). Karena penyakit ini terkait
erat dengan masalah sanitasi dan kebersihan selama proses kelahiran
(www.tempointeraktif.com). Menurut laporan kerja WHO pada bulan April 1994,
dari 8,1 juta kematian bayi di dunia, sekitar 48% adalah kematian neonatal. Dari
seluruh kematian neonatal, sekitar 42% kematian neonatal disebabkan oleh infeksi
tetanus neonatorum. Sedangkan angka kejadian tetanus neonatorum di Indonesia,
pada tahun 1992 sebanyak 760 kasus, meninggal 478 dengan CFR 72,42%. Pada
tahun 1995 sebanyak 806 kasus, meninggal 475 kasus dengan CFR 58,93%.
Tahun 1996 terdapat 816 kasus, meninggal 499 dengan CFR 61,15%. Dan pada

Gambaran epidemiologi..., Resa Ana Dina, FKM UI, 2009

UNIVERSITAS INDONESIA

tahun 1997 terdapat 570 kasus, meninggal 106 dengan CFR 18,6% (Depkes RI,
1998).
Sejak tahun 1989, WHO memang mentargetkan eliminasi tetanus
neonatorum. Sebanyak 104 dari 161 negara berkembang telah mencapai
keberhasilan tersebut. Tetapi, karena tetanus neonatorum masih merupakan
persoalan signifikan di 57 negara berkembang lain, maka UNICEF, WHO dan
UNFPA pada Desember 1999 setuju mengulur eliminasi hingga tahun 2005
(www.tempointeraktif.com).
Menurut catatan Dinas Kesehatan Kabupaten Serang tahun 2005, 10 kasus
dengan CFR 80%. Tahun 2006, 16 kasus dengan CFR 81,25%. Pada tahun 2007,
18 kasus dengan CFR 50%. Dan hingga bulan Oktober 2008, terdapat 21 kasus
dengan CFR 50%. Setelah ada kesepakatan untuk mengulur eliminasi tetanus
neonatorum hingga tahun 2005, namun kasus meningkat hingga akhir tahun 2008
walaupun CFR mulai menurun.
Secara umum,faktor-faktor risiko yang dipandang mempengaruhi kejadian
dan kematian pada tetanus neonatorum adalah status imunisasi ibu dan hygiene
yang kurang selama dan setelah persalinan (WHO, 1991).
Adapun upaya yang telah dan sedang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan
Kabupaten Serang untuk menurunkan angka kejadian tetanus neonatorum, adalah:
1. Meningkatkan cakupan imunisasi rutin TT pada wanita usia subur.
2. Melakukan imunisasi khusus yaitu imunisasi sweeping pada semua wanita
usia subur (15-39 tahun) di desa/wilayah yang mempunyai risiko tinggi
tetanus neonatorum.
3. Meningkatkan cakupan antenatal care (ANC) dengan pemberian imunisasi
TT.
4. Meningkatkan

cakupan

persalinan

oleh

tenaga

kesehatan

atau

pendampingan persalinan yang dilakukan dukun oleh bidan (Dinkes


Serang, 2002).

1.2.

Rumusan Masalah
Angka kejadian dan angka kematian tetanus neonatorum di Kabupaten

Serang masih tinggi. Terlihat dari data hingga akhir Desember tahun 2008 pun,

Gambaran epidemiologi..., Resa Ana Dina, FKM UI, 2009

UNIVERSITAS INDONESIA

kasus sudah ada dan melebihi kasus pada tahun sebelumnya. Meskipun telah
ditetapkan ETN (Eliminasi Tetanus Neonatorum) sebagai komitmen internasional
diulurkan hingga tahun 2005, namun masih tetap terjadi kasus dengan angka
kematian yang masih tinggi pula.

1.3.

Pertanyaan Penelitian
Bagaimana

gambaran

epidemiologi

kasus

dan

kematian

tetanus

neonatorum di wilayah Kabupaten Serang pada tahun 2005-2008 ?

1.4.

Tujuan

1.4.1. Tujuan Umum


Mengetahui gambaran epidemiologi kasus dan kematian tetanus
neonatorum di wilayah Kabupaten Serang pada tahun 2005-2008.

1.4.2. Tujuan Khusus


1. Mengetahui distribusi frekuensi kasus dan kematian kasus tetanus
neonatorum berdasarkan waktu kejadian tetanus neonatorum di Kabupaten
Serang tahun 2005-2008.
2. Mengetahui distribusi kasus dan kematian tetanus neonatorum berdasarkan
karakteristik jenis kelamin neonatus di Kabupaten Serang tahun 20052008.
3. Mengetahui distribusi frekuensi kasus dan kematian tetanus neonatorum
berdasarkan riwayat perawatan kehamilan (tenaga pemeriksa, frekuensi
kunjungan antenatal, dan status imunisasi TT bumil) di Kabupaten Serang
tahun 2005-2008.
4. Mengetahui distribusi frekuensi kasus dan kematian tetanus neonatorum
berdasarkan riwayat pertolongan persalinan (tenaga penolong persalinan,
tempat persalinan, dan alat pemotong persalinan) di Kabupaten Serang
tahun 2005-2008.
5. Mengetahui distribusi frekuensi kasus dan kematian berdasarkan riwayat
perawatan tali pusat (tenaga perawatan tali pusat, obat/ramuan yang
dibubuhkan) di Kabupaten Serang tahun 2005-2008.

Gambaran epidemiologi..., Resa Ana Dina, FKM UI, 2009

UNIVERSITAS INDONESIA

1.5.

Manfaat Penelitian

1.5.1. Manfaat Aplikatif


Menjadi masukan bagi mahasiswa dalam memperoleh pengalaman dan
keterampilan dalam melaksanakan penelitian tetanus neonatorum di Kabupaten
Serang.

1.5.2. Manfaat Metodologis


Diharapkan hasil dari penelitian ini nantinya dapat menjadi masukan bagi
pendekatan baru dalam rangka memperoleh dan memperbaiki program
penanggulangan tetanus neonatorum sebelumnya di Dinas Kesehatan Kabupaten
Serang.

1.5.3. Manfaat bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Serang


Diharapkan dari kegiatan penelitian kesehatan masyarakat ini nantinya
dapat memberi masukan kepada pengelola program dan pengambil keputusan
pada Dinas Kesehatan Serang dalam melaksanakan penanggulangan tetanus
neonatorum.

Gambaran epidemiologi..., Resa Ana Dina, FKM UI, 2009

UNIVERSITAS INDONESIA