Anda di halaman 1dari 29

Analisis Bonus Demografi Sebagai Kesempatan Memacu Perpercepatan

Industri di Indonesia
Oleh: Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM FEB UI 2015

1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk terbanyak di dunia.
Fakta itu dapat diartikan sebagai berkah, namun juga dapat diartikan sebagai musibah.
Berkah karena Indonesia akan memiliki banyak tenaga kerja yang dapat dijadikan sumber
daya bagi industri. Namun, disisi lain besarnya jumlah penduduk membuat tanggungan
pemerintah juga semakin besar, terlebih lagi jika penduduk tersebut tidak produktif dalam
menghasilkan multiplier bagi perekonomian. Polemik mengenai hubungan antara
pertumbuhan penduduk dengan pertumbuhan ekonomi memang sudah berlangsung dari
zaman classical economics. Namun, nyatanya tidak ada data dan hipotesa yang bisa
membuktikan hubungan keduanya. Semakin banyaknya tenaga kerja diharapkan mampu
membuat roda perekonomian berjalan semakin cepat.
Indonesia dalam waktu dekat akan memiliki masa dimana banyaknya jumlah
penduduk usia produktif sehingga menurunkan rasio ketergantungan. Masa inilah yang
disebut dengan bonus demografi. Hal ini merupakan dampak dari adanya perlambatan
pertumbuhan penduduk yang terjadi di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir.
Perlambatan jumlah penduduk disebabkan oleh salah satunya adalah Angka Kelahiran di
Indonesia yang menurun.
Angka kelahiran (TFR) Indonesia telah mengalami penurunan dalam jangka
waktu 30 tahunan, karena keberhasilan program KB Nasional. Keberhasilan ini mulai
menurun ketika kebijakan program KB didesentralisasi ke Kabupaten/Kota, dengan
peningkatan kembali TFR dari tahun 2000 ke 2010. Meskipun telah terjadi penurunan
angka kelahiran pada era 1970-2000, namun tambahan bayi yang lahir setiap tahun masih

cukup besar yaitu sekitar 3 4 juta bayi1. Kondisi ini dimasa depan akan semakin
meningkatkan jumlah penduduk produktif ke depan. Peningkatan jumlah penduduk usia
produktif yang akan menurunkan resio ketergantungan harus dibarengi dengan
peningkatan kualitasnya, agar mereka yang masuk ke usia tersebut dapat memperoleh
kesempatan kerja yang tersedia atau bahkan mampu menciptakan kesempatan kerja.
Di sisi lain, pemerintah dalam Rancangan Pembangunan Jangka Panjang sedang
melakukan percepatan proses industrialisasi di Indonesia. Proses ini dimulai dengan
pembangunan infrastruktur secara massif di berbagai daerah sebagai penunjang dari
industri. Pembangunan secara fisik pun sudah dilakukan oleh pemerintah, bahkan tahun
2016 dinyatakan oleh Bappenas sebagai tahun pembangunan infrastruktur.
Namun, pembangunan ini akan menjadi tidak berguna jika tidak dibarengi oleh
pembangunan modal manusia (Human Capital) yang mencakup pendidikan dan
kesehatan. Terlebih lagi, data dari BPS (Agustus, 2011) menunjukkan bahwa penduduk
usia 15 tahun ke atas yang bekerja menurut tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan
masih didominasi oleh lulusan SD ke bawah sebanyak 54,2 juta orang dengan persentase
49,40%. Jika dibandingkan dengan pekerja yang memiliki tingkat pendidikan yang relatif
tinggi tentunya proporsi ini masih sangat kecil. Tentunya pembangunan fisik sebagai
penunjang infrastruktur jika tidak dibarengi oleh pembangunan Human Capital akan
menjadi masalah besar pada masa bonus demografi. Disinilah sebenarnya terjadi
kesenjangan antara laju perkembangan industri dan juga Human Capital.

1.2. Rumusan Masalah


Dari adanya latar belakang tersebut, penulis merumuskan beberapa masalah, yaitu:
1. Bagaimana peranan Human Capital dalam industri?
2. Bagaimana implikasi bonus demografi agar Indonesia menjadi High-Income
Country?
3. Bagaimana implikasi bonus demografi terhadap industrialisasi dan industri manakah
yang harus dioptimalkan saat terjadinya bonus demografi?
1

Jurnal Kependudukan, Direktorat Analisis Dampak Kependudukan, BKKBN

4. Apa yang harus dilakukan oleh pemerintah untuk memaksimalkan bonus demografi
agar mempercepat industrialisasi di Indonesia?
2. STUDI LITERATUR
2.1. Pandangan Hubungan Pertumbuhan Penduduk dengan Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan penduduk adalah perubahan populasi sewaktu-waktu, dan dapat
dihitung sebagai perubahan dalam jumlah individu dalam sebuah populasi menggunakan
per waktu unit untuk pengukuran. Sedangkan pertumbuhan ekonomi adalah proses
peningkatan pendapatan (PDB) tanpa mengaitkannya dengan tingkat pertambahan
penduduk.
Mengenai hubungan antara keduanya, setidaknya ada tiga aliran pemikiran dalam
beberapa periode waktu yang membahas mengenai hubungan antara pertumbuhan
penduduk dan pertumbuhan ekonomi.
Aliran pertama adalah aliran tradisional pesimistis yang beranggapan kalau
pertumbuhan penduduk yang tinggi akan menghambat pertumbuhan ekonomi. Aliran ini
dicetuskan oleh Robert Malthus2 yang mengatakan bahwa pertumbuhan populasi
penduduk mengikuti deret ukur dan pertumbuhan pangan mengikuti deret hitung,
sehingga dengan bertambahnya jumlah penduduk secara otomatis jumlah permintaan
terhadap barang dan jasa akan bertambah yang berimplikasi pada perlambatan ekonomi.
Aliran kedua adalah aliran revisionis yang meragukan pernyataan aliran
sebelumnya karena tidak disertai dengan cukup bukti empiris. Aliran ini membantah
teori Malthus dengan melihat bahwa teknologi dapat mempengaruhi pertumbuhan
pangan dan kemampuan Human Capital dalam hal ini dapat menjadi modal besar agar
pertumbuhan penduduk tidak menjadi alasan dalam perlambatan ekonomi. Sedangkan,
aliran ketiga adalah aliran yang beranggapan kalau pertumbuhan penduduk memang
sangat berarti bagi perkembangan ekonomi dan penurunan kemiskinan (Population does
matter). Aliran ini mengatakan bahwa penurunan pesat dari fertilitas memberikan
kontribusi yang relevan terhadap penurunan kemiskinan3. Dengan meningkatnya
pertumbuhan penduduk yang disebabkan dengan menekan mortalitas akan memacu
pertumbuhan penduduk.
2

An Essay on the Principle of Population, Robert Malthus (1830)


Birdsal, N., C. Kelley, A., & W. Sinding, S. (2003). Population Matters. New York: Oxford University
Press.
3

2.2. Pasar Tenaga Kerja


Penduduk yang memasuki usia kerja (15-64 tahun) merupakan sumber daya
dalam menghasilkan output. Dalam ekonomi, tenaga kerja termasuk dalam input yang
memiliki pasar. Pasar Tenaga Kerja adalah seluruh aktivitas dari pelaku-pelaku untuk
mempertemukan pencari kerja dengan lowongan kerja, atau proses terjadinya
penempatan dan atau hubungan kerja melalui penyediaan dan penempatan tenaga kerja.
Pelaku-pelaku yang dimaksud di sini adalah pengusaha, pencari kerja dan pihak ketiga
yang membantu pengusaha dan pencari kerja untuk dapat saling berhubungan.
Sederhananya, pasar tenaga kerja adalah pasar yang mempertemukan penjual dan
pembeli tenaga kerja. Pasar Tenaga Kerja dapat digambarkan dalam kurva berikut,
dimana yang menjadi hargaadalah gaji (W):

Pasar tenaga kerja dipengaruhi oleh faktor-faktor dari penawaran dan


permintaannya. Faktor penawaran tenaga kerja meliputi Jumlah Penduduk (makin besar
jumlah penduduk, makin banyak tenaga kerja yang tersedia) struktur umur,
produktivitas, tingkat upah, kebijaksanaan pemerintah, dan wanita yang mengurus
rumah. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan tenaga kerja adalah
tingkat upah, penggunaan teknologi, dan produktivitas tenaga kerja. Faktor yang
mempengaruhi penawaran salah satunya adalah jumlah penduduk, dimana saat bonus
demografi jumlah penduduk usia kerja akan meningkat dan menaikan sisi penawaran
dari pasar tenaga kerja.

2.3. Penyebab adanya Bonus Demografi di Indonesia

Bonus demografi yang sedang dialami Indonesia merupakan buah dari


keberhasilan dalam mengendalikan laju pertumbuhan penduduk selama empat dekade
terakhir. Bonus demografi ini dihasilkan dari adanya keluarga berencana tahun 19702000an yang berjumlah lebih dari 80.000.000 jiwa
Dari keberhasilan program keluarga berencana ini menghasilkan sebuah kondisi
penduduk usia produktif yang meningkat jumlahnya dan berpotensi menjadi engine of
growth bagi perekonomian. Sejak tahun 1970, tingkat kelahiran total (Total Fertility
Rate/TFR) terus menurun secara konsisten dari sekitar 5,6 (setiap wanita usia 15-49
tahun/subur rata-rata akan mempunyai 5-6 anak hingga akhir masa reproduksinya)
menjadi 2,49 pada tahun 2010. Penurunan tersebut memberi konfirmasi mengenai
keberhasilan program Keluarga Berencana (KB).
Pada saat yang sama, keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan berhasil
menekan angka kematian bayi dari sekitar 145 kematian untuk setiap 1000 kelahiran
hidup pada awal 1970an menjadi 21 kematian per 1000 kelahiran hidup pada 2010.
Keberhasilan tersebut berbuah peningkatan angka harapan hidup dari sekitar 50 tahun
menjadi 69,8 tahun pada periode yang sama sehingga memicu transisi demografi.
Di samping itu, berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) hasil pendataan Survei
Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang menunjukkan pengguna alat kontrasepsi
mencapai 62,50% pada tahun 2013. Angka tersebut meningkat jika dibandingkan tahun
2004 (56,71%). Data yang disajikan BPS juga menggambarkan trend positif penggunaan
alat kontrasepsi dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir.
Transisi demografi tersebut merubah struktur umur penduduk Indonesia selama
empat dekade terakhir: struktur penduduk didominasi kelompok usia produktif,
khususnya angkatan kerja muda. Mereka yang lahir pada periode angka kelahiran tinggi
(dekade 70-80an) berhasil tetap hidup dan kini merupakan kelompok yang mendominasi
komposisi penduduk usia produktif. Hasil Sakernas menunjukkan bahwa 69,3%
angkatan kerja pada Agustus 2013, yang jumlahnya mencapai 118,3 juta orang,
merupakan penduduk kelompok usia 15-44 tahun.

(Sumber: Survei Angkatan Kerja Nasional, Agustu 2013)

2.4. Pengertian Industri dan Jenis-jenisnya


2.4.1. Definisi Industri
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan Industri adalah kegiatan memproses
atau mengolah barang dng menggunakan sarana dan peralatan. Sedangkan, UU Nomor 3
Tahun 2014 tentang Perindustrian mengartikan industri adalah seluruh bentuk kegiatan
ekonomi yang mengolah bahan baku dan/atau memanfaatkan sumber daya industri
sehingga menghasilkan barang yang mempunyai nilai tambah atau manfaat lebih tinggi,
termasuk jasa industri
2.4.2. Jenis-jenis Industri
Adapun jenis-jenis dari industri dapat diklasifikasikan kedalam beberapa kelas, yaitu
klasifikasi industri berdasarkan UU Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian,
berdasarkan SK Menteri Perindustrian No.19/M/I/1986, berdasarkan tempat bahan baku,
berdasarkan besar kecilnya modal, berasarkan jumlah tenaga kerja, berdasarkan
pemilihan lokasi, dan berdasarkan produktivitas perorangan

1.

Industri berdasarkan UU Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian

a. Industri Hijau
adalah Industri yang dalam proses produktisinya mengutamakan upaya
efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan
sehingga mampu menyelaraskan pembangunan industri dengan kelestarian
fungsi lingkungan hidup serta dapat memberikan manfaat bagi masyrakat
b. Industri Strategis
adalah industri yang penting bagi negara yang menguasai hajat hidup orang
banyak, meningkatkan atau menghasilkan nilai tambah sumber daya alam
strategis, atau mempunyai kaitan dengan kepentingan pertahanan serta
keamanan negara dalam rangka pemenuhan tugas pemerintah.
2.

Industri berdasarkan SK Menteri Perindustrian No.19/M/I/1986


a. Industri Kimia Dasar (IKD)
Adalah sebuah industri yang berfokus dalam pengerjaan bahan-bahan kimia.
yang termasuk kedalam IKD ini adalah industri kimia organic (peledak, kimia
tekstil), industri kimia anorganik (semen, asam sulfat, dan kaca), industri
agrokimia (pupuk, dan peptisida), dan industri selulosa (karet, ban, kertas)
b. Industri mesin dan logam dasar
Adalah sebuahindustri yang berfokus pada mengolah bahan mentah logam
menjadi barang setengah jadi seperti instrumen perakitan atau barang jadi
logam seperti mesin berat.
c. Industri kecil
Industri

ini

sering

dikatakan

sebagai

industri

sederhana

karena

mempekerjakan sedikit karyawan dan teknologi yang sederhana


d. Aneka industri
Adalah sebuah industri yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan sehari-hari
seperti tekstil, pangan, bahan bangunan, alat listrik dan bahan kimia yang
biasa digunakan sehari-hari
3.

Industri berdasarkan tempat bahan baku


a. Ekstraktif
Merupakan sebuah industri yang bahan bakunya mengambil langsung dari
alam

b. Nonekstraktif
Merupakan sebuah industri yang bahan bakunya tidak diambil langsung dari
alam
c. Fasilitatif
Adaah sebuah industri dengan output jasa yang kemudian dijual kepada
konsumen
4.

Industri berdasarkan besar kecilnya modal


a. Padat karya
Adalah industri yang berfokus pada penggunaan tenaga kerja secara masal
b. Padat modal
Adalah

sebuah

industri

yang

membutuhkan

modal

besar

dalam

pelaksanaannya
5.

Industri berasarkan jumlah tenaga kerja


a. Industri rumah tangga (1-4 orang tenaga kerja)
b. Industri kecil (5-19 tenaga kerja)
c. Industri menengah (20-99 tenaga kerja)
d. Industri besar (100 orang atau lebih tenaga kerja)

6.

Industri berdasarkan pemilihan lokasi


a. Market oriented industri
Sesuai dengan namanya, industri ini berfokus untuk mencari tempat dengan
mendekati konsumen.
b. Labor oriented industri
Merupakan jenis industri yang mencari tempat berada di pemukiman
penduduk
c. Supply oriented industri
Merupakan industri yang mencari tempat dekat dengan bahan baku untuk
meminimalisir biaya yang dikeluarkan dalam proses produksinya

7.

Industri berdasarkan produktivitas perorangan


a. Industri primer
Merupakan industri yang outputnya bukanlah merupakan hasil dari proses
olahan

b. Industri sekunder
Adalah industri yang menggunakan bahan mentah menjadi barang setengah
jadi ataupun barang jadi. Bahan mentah ini dapat diambil langsung dari alam
ataupun dapat berasal dari hasil atau output dari industri primer
c. Industri tersier
Merupakan sebuah industri yang output atau hasil olahannya berupa jasa
seperti transportasi dan telekomunikasi

2.5. Studi-Studi Terdahulu


Studi mengenai bonus demografi telah banyak dilakukan di Indonesia maupun di
negara lain. Studi yang dilakukan Andre Mason (2005), menemukan bahwa keberhasilan
bonus demografi di berbagai negara sangat tergantung pada kebijakan pemerintahnya.
Bonus demografi tidak serta merta menaikan atau menurunkan kondisi ekonomi.
Keuntungan bonus demografi dapat diambil jika pertumbuhan lapangan kerja lebih cepat
dibandingkan dengan pertumbuhan pencari kerja. Mason juga menemukan bahwa
periode dan keuntungan bonus demografi di negara industri lebih kecil dibandingkan
dengan negara berkembang.
Studi lain yang dilakukan oleh Morne Oosthhuizen (2013) di Afrika Selatan
menemukan fakta saat terjadi bonus demografi, penduduk usia kerja sebelum 29 tahun
dan sesudah 59 tahun mengonsumsi lebih banyak dari penghasilan yang mereka dapatkan
di pasar tenaga kerja yang mengakibatkan terjadinya lifecycle deficits. Defisit ini dapat
ditanggulangi dengan asset-based reallocations (specifically asset income). Rekomendasi
kebijakan yang diberikan Morne adalah intervensi di dalam pengelolaan pendidikan dan
pelatihan bagi mereka yang meninggal bangku sekolah menengah untuk diberikan
keahlian yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Selain itu, untuk bidang kesehatan
rekomendinya adalah mencegah dan menanggulangi penyakit yang umum terjadi di
Afrika Selatan seperti HIV/Aids dan TBC yang terbukti efektif menurunkan angka
ketergantungan.
Di Indonesia, penelitian yang dilakukan oleh Gisty Ajeng Septami (2015) yang
menganalisis dengan menggunakan model Inpu-Output menemukan bahwa industri
pupuk, industri sepeda motor, dan industri damar sintetis, bahan plastik, dan serat sintetis,

memiliki angka pengganda tenaga kerja yang tertinggi dibandingkan dengan sektor
industri yang lainnya. Untuk angka pengganda pendapatan, industri sepeda motor,
industri pupuk, dan industri penggilingan padi dan penyosohan merupakan industri
dengan angka pengganda pendapatan tertinggi. Rekomendasi yang diberikan salah
satunya adalah

pengganda tenaga kerja (employment multiplier) maupun angka

pengganda pendapatan (income multiplier) dengan mengalihkan investasi ke sektor


tersebut.

3. ANALISIS
3.1. Peranan Human Capital dalam Industri
3.1.1. Pendidikan dan Alih Teknologi
Berdasarkan Undang-Undang nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat,
bangsa dan negara. Pendidikan dan pelatihan termasuk ke dalam investasi non fisik atau
investasi sumber daya manusia (Human Capital). Melalui pendidikan dan pelatihan,
peserta didik telah menginvestasikan dirinya untuk di masa depan memperoleh nilai yang
lebih besar. Beberapa faktor yang menyebabkan perlunya mengembangkan tingkat
pendidikan di dalam usaha untuk membangun suatu perekonomian, adalah.
1.

Pendidikan yang lebih tinggi memperluas pengetahuan masyarakat dan


mempertinggi rasionalitas pemikiran mereka. Hal ini memungkinkan
masyarakat mengambil langkah yang lebih rasional dalam bertindak atau
mengambil keputusan

2.

Pendidikan memungkinkan masyarakat mempelajari pengetahuan-pengetahuan


teknis yang diperlukan untuk memimpin dan menjalankan perusahaanperusahaan modern dan kegiatan-kegiatan modern lainnya.

3.

Pengetahuan yang lebih baik yang diperoleh dari pendidikan menjadi


perangsang untuk menciptakan pembaharuan-pembaharuan dalam bidang
teknik, ekonomi dan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat lainnya.

Salah satu aspek perlunya pendidikan adalah mempelajari pengetahuanpengetahuan teknis. Meningkatnya pengetahuan-pengetahuan teknis dapat menciptakan
perkembangan teknologi yang pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas Indonesia
di zaman industrialisasi ini.
Pada kurva penawaran, jika teknologi mengalami perkembangan maka kurva
penawaran akan bergeser ke kanan. Jika kurva penawaran bergeser ke kanan maka titik
keseimbangan akan bergeser ke kanan bawah. Pergeseran titik keseimbangan
menyebabkan kuantitas barang mengalami kenaikan dan harga mengalami penurunan.
Ceteris paribus.

Kurva Penawaran Bergeser ke Kanan

Meningkatnya jumlah penawaran juga menandakan bahwa produktivitas dalam


proses indutri telah meningkat. Penguasaan teknologi melalui proses pendidikan telah
menjadi faktor penting demi meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun,
saat ini penguasaan teknologi di Indonesia masih sangat buruk. Indeks Pencapaian
Teknologi (IPT) Indonesia di urutan ke-60 dari 72 negara berdasarkan data United Nation
for Development Program (UNDP) pada 2013. Ukurannya berupa penciptaan teknologi

yang dilihat dari perolehan hak paten dan royalti atas karya dan penemuan teknologi,
difusi inovasi teknologi mutakhir yang diukur dari jumlah pengguna Internet dan besaran
sumbangan ekspor teknologi terhadap total barang ekspor. Ukuran lainnya, difusi inovasi
teknologi lama yang dilihat dari jumlah pengguna telepon dan pemakai listrik, serta
tingkat pendidikan penduduk berdasarkan rata-rata lama sekolah penduduk usia 15 tahun
ke atas dan angka partisipasi kasar penduduk yang menempuh pendidikan tinggi di
bidang iptek. IPT Indonesia yang rendah menunjukkan kurang efisiennya dan rendahnya
produktivitas tenaga kerja di Indonesia. Selain itu, kandungan teknologi dalam negeri
pada produk ekspor juga sangat rendah, umumnya kegiatan perakitan yang komponen
impornya mencapai 90 persen.
IPT yang rendah inilah yang harus diperbaiki melalui proses pendidikan agar
human capital ini dapat berperan besar pada industrialisasi di Indonesia. Selain proses
pendidikan yang harus diperbaiki, pemerintah juga harus mempercepat dan memberikan
bantuan baik finansial maupun perizinan terhadap alih teknologi dan kegiatan penelitian
dan pengembangan sebagaimana yang telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 20 Tahun 2005 tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual serta
Hasil Kegiatan Penelitian dan Pengembangan oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga
Penelitian dan Pengembangan.
Jika pendidikan, alih teknologi, dan kegiatan penelitian dan pengembangan telah
terlaksana dengan baik maka kemampuan Indonesia akan ilmu pengetahuan dan
teknologi akan berkembang pesat. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi inilah yang
akan meningkatkan human capital kita yang berperan besar bagi produktivitas baik
sektor barang maupun jasa di zaman industrialisasi demi memanfaatkan bonus demografi
di tahun 2025.

3.1.2. Pergerakan Laju Industri


Laju industri di Indonesia dalam dekade terakhir ini sudah bergerak dari sektorsektor riil (goods) menuju sektor-sektor pelayanan (service). Dari tabel di bawah,
dapat dilihat bahwa Industri sektor perdagangan, jasa, dan investasi merupakan salah
satu sektor dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia.

Frekuensi Perdagangan Saham Menurut Sektor (kali), 2012-2013


Melihat dari data dari tahun 2012 menuju 2013, angka frekuensi perdagangan
saham sektor tersebut di Indonesia memiliki kenaikan yang cukup besar yaitu sebesar
1.094.514 kali dengan kenaikan nilai perdagangannya yang naik sebesar 107.319.466
juta rupiah dan kapitalisasi pasar dengan kenaikan terbesar dari seluruh sektor
industri yakni sebesar 78.343 miliar rupiah. Hal ini mengindikasikan bahwa para
pemain saham sangat memperhitungkan industri perdagangan, jasa, dan investasi ini
sebagai industri yang sedang bertumbuh dan cenderung memiliki prospek yang baik.

Kapitalisasi Pasar Menurut Sektor (dalam miliar rupiah), 2012-2013

Nilai Perdagangan Saham Menurut Sektor (dalam juta rupiah), 2012-2013

Bergeraknya Indonesia dari industri sektor riil (goods) menjadi sektor pelayanan
(service) diakibatkan salah satunya oleh semakin luasnya pengetahuan masyarakat
mengenai ilmu-ilmu perekonomian dan bisnis. Dalam hal ini, khususnya adalah
analyzing skill.
Sebagai contoh, dalam industri investasi yaitu reksadana. Dibutuhkan lebih
banyak pemain dalam pasar reksadana untuk memajukan industri tersebut.
Sayangnya, persentase masyarakat Indonesia yang bermain di pasar reksadana cukup
rendah. Sampai akhir tahun 2014, hanya ada sebanyak 250 ribu nasabah reksadana
dari total 252.370.792 penduduk. Alasannya sederhana, pengetahuan mengenai
industri ini pada umumnya baru diberikan pada jenjang pendidikan tinggi di program
studi yang berkaitan dengan ekonomi dan bisnis. Pada umumnya, masyarakat pun
masih sangat awam mengenai ilmu akuntansi dan statistik yang menjadi salah satu
kunci keberhasilan dari industri ini. Padahal, industri investasi dapat menjadi pemicu
pembangunan industrialisasi di Indonesia karena dapat menyerap banyak orang,
terutama reksadana yang tidak membutuhkan modal yang banyak.
3.1.3. Individual Capability
Industri dari sektor manapun membutuhkan managerial and organisational skills
yang baik untuk memajukan industrinya. Diperlukan beberapa atribut penting dari
kemampuan manusia sebagai human capital dalam mensokong perkembangan
industrinya. Tak hanya hard skill seperti teknologi dan ilmu pengetahuan, soft skill
pun sangat dibutuhkan. Pada umumnya, atribut manusia yang diperlukan oleh suatu
industri adalah kreatif dan inovatif, gigih dan disiplin, positif, mampu menganalisa,
fleksibel, client-oriented, sadar budaya, jujur, beretika, serta inklusif, kolaboratif, dan
suportif.
Atribut-atribut di atas dapat disebut sebagai Personal Attributes Matrix yang
merupakan kemampuan non-ilmiah yang dibutuhkan human capital dalam profesi
apapun pada industri tersebut. Kemampuan di atas dibutuhkan untuk menjalankan
fungsi-fungsi manajemen guna mengelola industri.

3.2. Pengaruh Bonus Demografi Terhadap Middle-Income Trap

3.2.1. Middle-Income Trap


Pendapat klasik para ahli ekonomi pada akhir abad ke-20 mengasumsikan bahwa
proses pertumbuhan ekonomi berjalan tanpa kendala walaupun dengan beberapa
fluktuasi, namun mereka percaya bahwa ekonomi akan terus berkembang seiring
dengan berjalannya waktu. Low-Income Countries cenderung mempunyai tingkat
pertumbuhan lebih besar dari negara negara maju atau High-Income Countries.
Namun dengan konsep seperti itu pada saat ini negara negara Low-Income
Countries dan Middle-Income Countries pada tahun 1960-an sudah menjadi negara
maju saat ini namun faktanya hanya segelintir negara yang berhasil menjadi negara
maju. Dari fenomena tersebut muncul lah istilah Middle Income Trap yaitu
fenomena penurunan tingkat pertumbuhan secara signifikan di kelompok negara
Middle Income sehingga ekonomi menjadi stagnan dan berujung dengan
kegagalannya untuk menjadi negara maju.
Fenomena yang memicu pembahasan Middle Income Trap adalah negara negara
di kawasan Asia Pasfik dan Amerika latin. Pada tahun 1960-an kedua kawasan
tersebut merupakan negara dengan Middle Income namun saat ini beberapa negara
di Asia Pasifik seperti Korea, Singapore, dan Taiwan sudah bisa masuk kejajaran
High-Income Countries sementara laju pertumbuhan China, Thailand, dan Malaysia
masih tinggi dan diproyeksikan menjadi negara maju dalam beberapa tahun
mendatang. Sementara negara negara Amerika Latin masih stagnan pendapatan
kapitanya dalam 4 dekade terakhir.

*t=0 adalah tahun dimana negara tersebut mencapai GDP per kapita 3000
US$, misal Indonesia t=16 berarti Indonesia sudah 16 tahun GDP per
kapitanya berada lebih besar sama dengan 3000 US$
Sebagaimana yang digambarkan pada grafik diatas perkembangan GDP per kapita
Taiwan dan Korea sudah meroket jauh meninggalkan negara negara lain yang ada
digrafik tersebut walaupun baru 40 tahun GDP per kapitanya menyentuh angka 3000
US$ sedangkan negara negara latin amerika yang sudah menyentuh angka 3000
US$ lebih lama namun posisi GDP per kapita tidak berkembang secara signifikan
atau cenderung stagnan.
Fenomena trap ini tidak hanya terjadi di kelompok Middle-Income Countries
namun terjadi di negara miskin atau Low-Income Countries bahkan di negara maju
namun frequensinya jauh lebih sedikit jika dibandingkan Middle-Income Countries
sehingga kelompok negara menengah menjadi fokus fenomena lalu munculah istilah
tersebut. Dari semua Middle-Income Countries pada tahun 1960 hanya 13 negara
yang berhasil menembus menjadi negara maju seperti ditunjukkan figure dibawah

Sumber: World Bank dilansir dari The Economist


(http://www.economist.com/blogs/graphicdetail/2012/03/focus-3)

Fenomena diatas terjadi karena adanya Perlambatan Pertumbuhan atau Growth


Slowdown yang lebih banyak terjadi di negara negeara Middle Income
dibandingkan dengan negara maju ataupun negara Low Income. Misal kita ambil set
i dengan batas bawah T1 yang terdiri dari 3 nilai yaitu 1000, 2000, dan 3000 (dalam
US$ PPP 2005) dan batas atas T2 yang terdiri dari 5 nilai yaitu 12.000 16.000
(setiap 1000) kita bisa menggambarkan dalam grafik atas 15 klasifikasi (3x5) kita
bisa melihat bagaimana fenomena Growth Slowdown lebih sering terjadi pada kelas
Middle-Income Countries.

*1/12 menunjukkan batas bawah 1000 dan batas atas 12000 (dalam US$)
Jika dikaitkan dengan Bonus Demografi, Demografi merupakan salah satu faktor
penting yang menyebabkan Middle Income Trap dan merupakan yang kedua paling
berpengaruh dibawah Legal Institutions. Faktor faktor tersebut secara berurut dari
yang paling berpengaruh yaitu Legal Institutions, Demografi, Infrastruktur,
Lingkungan Ekonomi dan Kebijakan Ekonomi, dan Struktur Ekonomi. Pengaruh
Demografi sendiri meliputi adanya Demographic Dividend dan Demographic Debt
yang akan dijelaskan pada sub bab berikutnya.

3.2.1. Demographic Debt


Demographic Debt merupakan masalah yang hampir semua negara akan
menghadapinya cepat atau lambat. Negara negara maju biasanya yang akan
mengalami ini segera karena fenomena ini dipengaruhi perubahan jumlah angkatan
kerja yang berkurang yang biasanya karena usia tua. Mengapa negeara negara maju
akan mengalami hal ini lebih cepat karena mereka sekarang sudah hampir melewati
tahap akhir Demographic Dividend atau yang lebih dikenal dengan Bonus Demografi
sehingga Demographic Debt cepat atau lambat akan dirasakan semua negara. Bahkan
krisis fiskal saat ini di Yunani berakar di Old Aging Crisis yang bagian dari
Demographic Debt dimana Yunani masih menerapkan sistem lama

yang sudah

diterapkan dari abad ke 19 dan masih dipakai pada abad ke 21 walaupun sudah tidak
relevan lagi.
Pokok permasalahannya jika dikaitkan dengan Bonus Demografi di Indonesia
yaitu bagaimana Indonesia bisa memanfaatkan periode Bonus Demografi tersebut

dengan maksimal sehingga bisa keluar menjadi negara maju. Terdapat 3 sektor yang
perlu diperhatikan dalam suksesnya melewati periode tersebut yaitu Labor
Participation Rate, Savings Rate, dan Labor Allocation Efficiency. Jika kita lihat dari
apa yang sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya bahwa masalah terbesar dari hal ini
adalah Middle Income Trap dan bagaimana kondisi Indonesia saat ini yang bahkan
lebih buruk dibandingkan dengan negara negara Amerika Latin. Indonesia harus bisa
membangun kekuatan yang terdiri dari Institutions, Dependency ratio, Infrastructure,
Macroeconomics Factors, dan Trade Structure. Seperti bagaimana yang digambarkan
pada diagram berikut ini bagaimana posisi Indonesia masih tertinggal dibandingkan
negara negara asia pasifik yang lain dalam kekuatan ekonominya.

3.3. Memaksimalkan Bonus Demografi Dalam Industrialisasi


3.3.1. Gambaran Kondisi Tenaga Kerja Indonesia Saat Ini

Berdasarkan data BPS pada Februari 2014, angkatan kerja Indonesia kini
telah mencapai 125.3 juta atau bertambah 5.2 juta orang jika dibandingkan
dengan angkatan kerja Agustus 2013 yang berjumlah 120.2 juta. Tingkat
pengangguran terbuka (TPT) di Indonesia sendiri telah mengalami penurunan 50
ribu orang atau 5.70 persen bila dibandingkan dengan rentang waktu yang sama.
Menurut Kepala Badan Pusat Statistik, Suryamin, seluruh sektor usaha
mengalami kenaikan jumlah pekerja produktif. Pada tahun 2014 sendiri, sektor
kemasyarakatan terdiri atas 640 ribu orang, sektor perdagangan terdiri atas 450
ribu orang, dan sektor industri sebanyak 390 ribu orang. Sektor-sektor ini
mengalami kenaikan berbeda dengan sektor pertanian dengan penurunan 0.68%.
Penurunan ini terjadi karena perpindahan kerja banyak petani dari sektor
agrikultur ke manufaktur.

Tabel trend TPK dan TPT dari tahun 1996 ke 2010


TPK atau tingkat partisipasi kerja adalah perbandingan antara jumlah
angkatan kerja dengan jumlah penduduk dalam angkatan kerja. TPT atau tingkat
partisipasi terbuka penduduk adalah perbandingan antara jumlah pengangguran
dengan jumlah penduduk angkatan kerja. Setelah krisis 1998, dapat dilihat bahwa
TPK sempat menurun untuk naik lagi di tahun 2005 sampai dengan sekarang.

3.3.2. Memaksimalkan Bonus Demografi Untuk Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi


dan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia.
Bonus demografi harus benar-benar dimanfaatkan untuk meningkatkan
output dengan modal manusia (angkatan kerja) yang tersedia. Menurut data dari
Lembaga Demografi FEB UI, disebutkan bahwa proyeksi angkatan kerja dari
tahun 2005 sekitar 106,8 juta akan meningkat menjadi 148,5 juta pada 2025.
Artinya akan terjadi peningkatan jumlah angkatan kerja di Indonesia, sesuai
dengan tabel proyeksi dibawah ini.
Proyeksi Penduduk Indonesia, 2010-2035 (Ribuan)
Tahun
Negara
Indonesia

2010

2015

2020

2025

2030

2035

238.519

255.462

271.066

284.829

296.405

305.652

Sumber : Badan Pusat Statistik


Dengan proyeksi penduduk Indonesia yang akan semakin meningkat
dikarenakan turunnya fertilitas dan kematian bayi yang membuat rasio
ketergantungan semakin menurun. Hal itu disebabkan pula oleh penurunan
proporsi penduduk muda dan peningkatan proporsi usia kerja. Kemudian
terdapat pula transisi demografi dikarenakan terjadi penurunan fertilitas dan
mortalitas dalam jangka panjang. Adapun penurunan fertilitas akan menurunkan
proporsi anak-anak (0-14 tahun) sedangkan penurunan dari mortalitas akan
meningkatkan jumlah bayi yang hidup dan mencapai pada usia kerja (15-64
tahun). Berikut adalah tabel mengenai jumlah usia kerja, anak-anak, dan lansia.
Tabel proyeksi usia kerja, anak-anak, dan
lansia di Indonesia
penduduk I(juta)

250
200

usia kerja

150

0-14

100

anak-anak 0-

50
0

15-64
65+

lansia 65+

Sumber : LD FEUI (Sri Moertiningsih Adioetomo)


Dengan kondisi seperti yang digambarkan diatas, terlihat untuk
memaksimalkan modal manusia atau capital labour maka diperlukan penyerapan
atau pemanfaatan sumber daya manusia itu sendiri. Dari berbagai industri
terdapat 3 industri besar yang menyerap tenaga kerja yang besar, yakni pakaian
dan tekstil, makanan dan minuman, serta furniture. Namun industri tersebut
memiliki presentase sumbangan terhadap PDB yang minim bila dibandingkan
dengan presentase industri migas yang mencapai 0,25% dari PDB atau 2.5x lipat
presentase dari ketiga industri yang menyerap banyak sumber daya tersebut.
Berikut adalah industri yang menyerap tenaga kerja paling banyak di Indonesia
yakni :
Industri paling menyerap tenaga kerja paling banyak d Indonesia per orang
No

Industri

2010

Presentase
terhadap PDB

Industri Pakaian dan Tekstil

1.006.907 orang

0,02%

Industri Makanan & Minuman

415.479 orang

0,07%

Industri Furniture

215.022 orang

0.012%

Sumber : BPS, 2010


Adapun untuk dapat menyerap tenaga kerja yang banyak diperlukan pula kualitas
dari sumber manusia yang baik. Salah satunya adalah dengan melakukan wajib

belajar 15 tahun, mempromosikan kembali sekolah menengah kejuruan, dan


mengadakan latihan atau kursus dengan membangun balai pelatihan tenaga kerja
didaerah.
3.3.3. Kriteria Sektor Industri yang Cocok dengan Bonus Demografi
Bonus demografi adalah bonus yang dinikmati suatu negara sebagai akibat
dari besarnya proporsi penduduk produktif. Jika tidak disiapkan dengan baik,
bonus demografi ini dapat menjadi jebakan bagi Indonesia yang membuat
proses pengejaran keberhasilan negara lain semakin lama.
Pertanian adalah jenis industri padat karya yang memegang peran strategis
dalam ketenagakerjaan Indonesia. Berdasarkan data Sakernas tahun 2006,
penduduk Indonesia yang berkarir di bidang ini mencapai 42,039,250 orang dari
95,177,102 (44.2%) penduduk Indonesia yang bekerja. Data ini menujukan bahwa
hampir dari setengah tenaga kerja berada di bidang pertanian yang keuntungannya
bergantung dengan harga pangan. Kualitas sumber daya manusia petani di
Indonesia sendiri masih sangat rendah. Hal ini ditunjukan dari data bahwa 59.2%
petani tidak berhasil menamatkan SD, 32.1% tamatan SD, 5.7% tamatan SMP,
dan 2.9% tamatan SMA. Frekuensi pengulangan kerja petani membuat petani
dapat digolongkan menjadi tenaga kerja terlatih.
Namun, industri pertanian kerap mengalami penurunan dari waktu ke
waktu. Disaat sektor usaha lain mengalami peningkatan penyerapan jumlah
pekerja, tenaga kerja di bidang pertanian malah menurun. Selama kurun waktu
1990-1997, tenaga kerja di sektor bukan pertanian meningkat lebih dari 16.5 juta
orang dan di sektor pertanian turun lebih dari 6.7 juta orang. Penurunan
atraktivitas pekerjaan di bidang agrikultur disebabkan oleh banyaknya lahan
pertanian yang telah di alihfungsikan menjadi lahan tempat tinggal ataupun usaha
dan kurangnya intervensi dari pemerintah untuk hal ini.
Dalam menghadapi kondisi bonus demografi di tahun 2030-an, diperlukan
intervensi dari pemerintah untuk menyiapkan sektor-sektor usaha yang sesuai
dengan penambahan jumlah pekerja usia produktif. Industri agrikultur adalah

industri yang dapat banyak menyerap tenaga kerja dan masih memiliki banyak
ruang untuk dikembangkan terutama di bidang produktivitas. Produktivitas sektor
pertanian mencapai 1.69 juta rupiah per orang, urutan pertama terendah diikuti
oleh sektor perdagangan besar, eceran, rumah makan, dan hotel sebesar 4.21 juta
rupiah per bulan.
Sektor industri lainnya yang menarik untuk dikembangkan dalam kondisi
bonus demografi adalah industri kreatif. John Howkins dalam bukunya The
Creative Economy: How People Make Money from Ideas (2001) adalah kegiatan
ekonomi dalam masyarakat yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk
menghasilkan ide tidak hanya melakukan hal-hal yang rutin dan berulang-ulang.
Ekonomi kreatif sendiri mencakup empat buah modal yaitu sosial budaya,
manusia, strukturan, dan kreativitas yang dapat mengembangkan keunikan suatu
negara bermodalkan keanekaragaman budaya. Laporan PBB menunjukan bahwa
ekonomi kreatif berada pada sektor paling dinamis di dalam perekonomian dunia
dan menawarkan kesempatan pertumbuhan yang pesat di negara-negara
berkembang.
Saat ini, kondisi ekonomi kreatif di Indonesia berada pada kisaran 7
persen dengan nilai 641.8 triliun. Jumlah tenaga kerja yang diserap pada sektor ini
sendiri adalah 11.5 juta orang dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 1%. Dengan
modal 220 juta orang, belum termasuk penduduk usia produktif yang berada di
era bonus demografi, masih banyak potensi dari peluang bidang industri ekonomi
kreatif yang dapat dimaksimalkan. Strategi jangka panjang dalam peningkatan
kualitas sumber daya manusia adalah hal krusial penunjang ekonomi kreatif.
Indonesia harus berkembang dari fakta bahwa saat ini, 54.6% dari seluruh
penduduk Indonesia adalah jumlah kumulatif dari tamatan dan bukan lulusan SD.
Program pendidikan akan dikembangkan untuk mengasah daya pikir, kekuatan
kognitif, dan softskills para penerus pembangunan di masa depan sehingga
mereka dapat menjadi tenaga kerja berkualitas yang penuh ide ataupun membuka
usaha milik mereka sendiri.
3.3.4. Bonus Demografi untuk Kesejahteraan Rakyat

Dalam memaksimalkan bonus demografi harus memerhatikan dan


memprioritaskan kesejahteraan rakyat dalam arti pemerataan. Tak hanya sekedar
memperhatikan pertumbuhan ekonomi semata, tapi harus simultan dengan
pemerataan distribusi pendapatan. Seperti diketahui angka rasio gini Indonesia
tertahan di angka 0.41 pada tahun 2013, walaupun kemiskinan relatif turun 11.5%
(29 juta jiwa) pada 2013 menjadi 11% (28 juta jiwa) dari keseluruhan penduduk
Indonesia (Sumber: World Bank dan BPS) bukan menjadi alasan untuk tidak
menekan angka koefisien gini yang masih timpang tersebut. Dengan pendapatan
perkapita Indonesia yang mencapai $1810.31 lebih rendah dari Malaysia
$6990.25, Thailand $3437.84, paling jauh dengan Singapura $36897.87 harus
dijadikan semangat lebih untuk mengejar ketertinggalan khususnya dikawasan
regional ASEAN. Mengingat bonus demografi yang akan dihadapi oleh Indonesia
harus dimaksimalkan mengejar ketertinggalan dan meningkatkan pertumbuhan
ekonomi yang sejalan dengan pemerataan kesejahteraan masyarakat.

4. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI


4.1. Kesimpulan
Salah satu aspek perlunya pendidikan adalah mempelajari pengetahuanpengetahuan teknis. Hal inilah yang menjadi Human Capital. Dengan ,eningkatnya
pengetahuan-pengetahuan teknis,

diharapkan

dapat

menciptakan

perkembangan

teknologi yang pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas Indonesia di zaman


industrialisasi ini.
Jika dikaitkan dengan Middle-Income Trap bonus demografi, Demografi
merupakan salah

satu faktor penting yang menyebabkan Middle Income Trap dan

merupakan yang kedua paling berpengaruh dibawah Legal Institutions. Faktor faktor
tersebut secara berurut dari yang paling berpengaruh yaitu Legal Institutions, Demografi,
Infrastruktur, Lingkungan Ekonomi dan Kebijakan Ekonomi, dan Struktur Ekonomi.
Pengaruh Demografi sendiri meliputi adanya Demographic Dividend dan Demographic
Debt yang akan dijelaskan pada sub bab berikutnya.
Untuk memaksimalkan modal manusia atau capital labour saat bonus demografi,
maka diperlukan penyerapan atau pemanfaatan sumber daya manusia itu sendiri. Dari

berbagai industri terdapat 3 industri besar yang menyerap tenaga kerja yang besar, yakni
pakaian dan tekstil, makanan dan minuman, serta furniture. Namun, industri tersebut
memiliki presentase sumbangan terhadap PDB yang minim bila dibandingkan dengan
presentase industri migas yang mencapai 0,25% dari PDB atau 2.5x lipat presentase dari
ketiga industri yang menyerap banyak sumber daya tersebut.
Selain itu, industri agrikultur adalah industri yang dapat banyak menyerap tenaga
kerja dan masih memiliki banyak ruang untuk dikembangkan terutama di bidang
produktivitas. Produktivitas sektor pertanian mencapai 1.69 juta rupiah per orang, urutan
pertama terendah diikuti oleh sektor perdagangan besar, eceran, rumah makan, dan hotel
sebesar 4.21 juta rupiah per bulan. Sektor industri lainnya yang menarik untuk
dikembangkan dalam kondisi bonus demografi adalah industri kreatif.

4.2. Rekomendasi
Untuk

memaksimalkan

bonus

demografi,

Indonesia

harus

benar-benar

memanfaatkan The Window of Opportunity dengan melakukan langkah sebagai berikut :

Melakukan pengalihan dana investasi dari sektor konsumtif ke sektor produktif terutama
industri padat karya (Industri pakaian/tekstil, minuman & makanan, serta furniture dsb.)
dan ke sektor pendidikan.

Memperbaiki iklim investasi dan birokrasi yang kondusif untuk membuka kesempatan
kerja produktif seluas-luasnya bagi masyarakat.

Meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia dengan program pendidikan


kejuruan, program pelatihan pekerja, perluasan jangkauan pendidikan dan kualitasnya.

Peningkatan industri kreatif nasional dengan mendukung ekonomi kreatif Indonesia


dan melakukan inovasi di sektor perindustrian Indonesia guna meningkatkan
produktifitas dengan Research and Development Program.

Memfokuskan pembangunan industri dasar sebagai penunjang aktivitas perekonomian.

Referensi:
1. Kamus Besar Bahas Indonesia (KBBI)
2. UU Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian
3. Lembaga Demografi FEUI
4. http://www.kemenperin.go.id/statistik/ (diakses 23 April jam 13.30)
5. http://www.bps.go.id/ (diakses 22 April jam 14.05)
6. http://www.worldbank.org/in/news/press-release/ (diakses 23 April jam 16.43)
7. http://www.organisasi.org/1970/01/pengertian-definisi-macam-jenis-dan-penggolonganindustri-di-indonesia-perekonomian-bisnis.html(diakses 21 April 2015 jam 21.35)
8. http://www.beritasatu.com/ekonomi/182140-bps-kondisi-ketenagakerjaan-di-indonesiasemakin-membaik.html (diakses 22 Februari 2015 jam 23.46)
9. http://id.tradingeconomics.com/indonesia/gdp-per-capita (diakses 23 April jam 16.32)
10. Moertiningsih, Sri. (2005). BONUS DEMOGRAFI MENJELASKAN HUBUNGAN
ANTARA

PERTUMBUHAN

PENDUDUK

EKONOMI. Pidato Pengukuhan Guru Besar.

DENGAN

PERTUMBUHAN

11. Septami, Gisty Ajeng. (2015). PEMBANGUNAN SEKTOR INDUSTRI DAN


MANUFAKTUR DI INDONESIA GUNA MEMETIK BONUS DEMOGRAFI. Makalah
Seleksi Mahasiswa Berprestasi FEB UI 2015.
12. Oosthuizen, Morne. (2013). MAXIMISING SOUTH AFRICAS DEMOGRAPHIC
DIVIDEND. Development Policy Research Unit Paper.
13. Mason, Andrew. (2005). DEMOGRAPHIC TRANSITION AND DEMOGRAPHIC
DIVIDENDS IN DEVELOPED AND DEVELOPING COUNTRIES. UNITED
NATIONS

EXPERT

GROUP

MEETING

ON

SOCIAL

AND

ECONOMIC

IMPLICATIONS OF CHANGING POPULATION AGE STRUCTURES.


14. Aiyar,. S., Duval, R., Puy, D., Wu, Y., & Zhang, L. (2013). IMF Working Paper. Growth
Slowdowns and the Middle-Income Trap. Washington: International Monetary Fund.
Diakses pada April 21, 2015, dari
https://www.imf.org/external/pubs/ft/wp/2013/wp1371.pdf
15. Butler, Robert (2010, 24 Mei). Debt and the Demographics of Aging. International
Longevity Center, Washington Times. Diakses pada April 21, 2015, dari
http://www.cfr.org/aging/debt-demographics-aging/p22195
16. Economist Online (2012, 27 Maret). The Middle-Income Trap. Diakses pada April 21,
2015, dari http://www.economist.com/blogs/graphicdetail/2012/03/focus-3
17. Survei Angkatan Kerja Nasional Tahun 2013
18. Wei, Xing. (2012) From Demographic Dividend to Demographic Debt. Institute of
Social Development Research, NDRC Diakses pada April 21, 2015, dari
http://en.amr.gov.cn/en/Projects/ReportDetail.aspx?id=154
19. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2005 tentang Alih Teknologi
Kekayaan Intelektual serta Hasil Kegiatan Penelitian dan Pengembangan oleh Perguruan
Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan
20. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional
21. http://eprints.undip.ac.id/16864/1/Investasi_Sumber_Daya_Manusia_Melalui_Pendidikan
....by_Hastarini_Dwi_Atmanti_%28OK%29.pdf diakses Jumat, 24 April 2015 pukul
12.30

22. http://www.idx.co.id/en-us/home/information/forinvestor/mutualfunds.aspx diakses


Jumat, 24 April 2015 pukul 12.35
23. Statistik Pasar Modal 2012 oleh Badan Pusat Statistik
24. Statistik Pasar Modal 2013 oleh Badan Pusat Statistik
25. Workforce Capability Framework Tool Kit oleh The Department of Human Services,
Victorian Government