Anda di halaman 1dari 8

Joe taslim

Johannes Taslim (lahir di Palembang, 23 Juni 1981; umur 35 tahun), atau biasa disebut
sebagai Joe Taslim adalah atlet dan aktor Indonesia yang sekarang naik daun berkat kesuksesan film

The Raid: Redemtion pada tahun 2012 dan Fast and Furious pada tahun 2013 . Keahliannya dalam ilmu
bela diri tidak dapat dipungkiri lagi, ia mendapat medali emas South East Asia Judo Championship
Singapore 1999, SEA Games 2007 mendapatkan Medali Perak dan Pekan Olahraga Nasional
2008 mendapatkan Medali Emas. Tidak heran joe taslim mendapat tawaran berperan di film action laga
yang disutradai oleh orang inggris ini. Joe Taslim juga aktif sebagai model dan aktor. Ia tampil di berbagai
majalah, iklan televisi, dan sejumlah film Indonesia. Pada tahun 20082009 , Joe Taslim mengikuti
beberapa casting untuk menjadi aktor di dunia perfilman, hingga Pada tahun 2010, Taslim mendapatkan
peran sebagai Jaka, sersan pasukan khusus di film The Raid: Redemption, setelah mengikuti serangkaian
audisi baku hantam. Film The Raid memang cukup meledak hingga di panggung internasional. Tak sedikit
pemerannya, yang rata-rata pendatang baru, mendapat tawaran untuk bermain film luar negeri. Begitu pula
dengan Joe Taslim. Pria kelahiran Palembang ini pun dikenal saat berperan dalam film yang disutradarai Gareth
Evan ini. Dalam film tersebut, Joe Taslim berperan menjadi pimpinan regu yang sedang meringkus sebuah
apartemen tua berisi gembong mafia. Kemampuan akting Joe Taslim dalam peran tersebut sangat baik. Tak heran
jika kemudian banyak tawaran untuk bermain di film luar negeri yang ditujukan padanya.
Setelah The Raid, Taslim terlibat dalam film laga horor pertama buatan HBO Asia, Dead Mine,
yang dirilis di sejumlah negara Asia pada September 2012 dan ditayangkan perdana di semua saluran
televisi HBO Asia. Pada Juli 012, Variety melaporkan bahwa Taslim terlibat dalam film Fast and Furious
6 (2013). Taslim memerankan tokoh antagonis Jah, seorang pembunuh berdarah dingin yang memakai
kemampuan bela diri dan parkournya untuk melawan para protagonisnya, Dominic Toretto (Vin Diesel)
dan Brian O'Conner (Paul Walker). Film tersebut sudahgo international, Joe Taslim tiba-tiba sudah berperan
di film Fast Furious 6. ketika adegan Joe Taslim di-shoot close up sambil menyetir sebuah mobil dan berbicara
dengan Bahasa Indonesia. Bahkan, pada saat awal-awal pemutaran film ini di Indonesia, tak sedikit penonton
yang bertepuk tangan ketika Joe Taslim muncul, tidak hanya itu Pada tahun 2016, Taslim kembali
membintangi film besar Hollywood Star Trek Beyond. Dalam film tersebut, ia memerankan tokoh alien
bernama Manas
Setelah beberapa kali membintangi film Hollywood, tentu nama Joe Taslim akan semakin
diperhitungkan sebagai aktor berkelas internasional. Mungkin untuk proyek film holywood selanjutnya joe akan
ditawarkan kembali berperan di film laga, Joe Taslim belum mendapat peran utama di film-film Hollywood. Tapi,
dengan kerja keras dan usaha yang maksimal, kesempatan yang terbuka siapa sangka joe akan menjadi bintang
utama yang tidak hanya dikenal di seluruh masyarakat indonesia tetapi juga international

Dian Sastro
Dian Sastrowardoyo memulai kariernya di dunia hiburan pada tahun 1996, sebagai juara pertama
di ajang GADIS Sampul majalah GADIS. Ia disebut-sebut sebagai ikon kebangkitan film nasional bersama
rekannya di film Ada Apa dengan Cinta?, Nicholas Saputra. Film pertamanya Bintang Jatuh (2000),
karya Rudi Sujarwo, diedarkan indie di kampus-kampus dan tidak ditayangkan di bioskop. Di film
tersebut, Dian beradu akting dengan Marcella Zalianty, Garry Iskak, dan Indra Birowo. Film selanjutnya
pada tahun 2001, Pasir Berbisik menyandingkannya untuk beradu akting dengan Christine Hakim, Slamet
Rahardjo, dan Didi Petet. Lewat film ini, Dian dianugerahi pemeran wanita terbaik pada Festival Film
Internasional Singapura (2002) dan Festival Film Asia di Deauville, Perancis (2002).
Ia juga pernah menjadi pembawa acara kuis Super Miliarder 3 Miliar yang ditayangkan di ANTV.
Selain itu, ia juga pernah membintangi serial TV yang berjudul Dunia Tanpa Koma di RCTI Melanjutkan
kariernya di dunia film Indonesia, ia berperan di film yang Drupadi, ia juga bertindak sebagai produser di
film ini. Pembawa obor di ajang Olimpiade 2008 ini kembali disandingkan bersama Nicholas Saputra pada
film yang berjudul 3 Doa 3 Cinta yang merupakan film dengan nuansa religius yang dibesut oleh sutradara
Nurman Hakim. Di ajang International Festival of Asian Cinema Vesoul, 3 Doa 3 Cinta berhasil membawa
pulang penghargaan Grand Prize of the International Jury. Dian juga berkesempatan melangkahkan
kakinya di Cannes Film Festival 2012 di Perancis mewakili Asia Tenggara sebagai brand ambassador
L'oreal yang merupakan official make-up gelaran bergengsi tersebut.
Dian Sastrowardoyo adalah anak dari pasangan Ariawan Rusdianto Sastrowardoyo dan Dewi
Parwati Setyorini. Hobinya adalah membaca, nonton, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan seni.
Selain sebagai aktris, Dian pernah memiliki rubrik sendiri di majalah GADIS yang berntajuk Kata Dian. Di
rubrik tersebut, ia menyalurkan bakat menulisnya dan berkomunikasi dengan pembaca majalah Gadis. Ia
adalah lulusan jurusan filsafat FIB UI yang sering dimintai sebagai asisten dosen oleh para seniornya. Dian
juga dikenal sebagai cucu salah seorang tokoh pergerakan nasional Prof. Mr. Sunario Sastrowardoyo. Dian
menikah dengan Indraguna Sutowo pada 18 Mei 2010.[2] Tanggal 17 Juli 2011 Dian melahirkan anak lakilaki pertamanya, Syailendra Sutowo.

MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBAHASA INDONESIA


Setiap keterampilan berbahasa indonesia itu erat sekali berhubungan dengan keterampilan bagaimana
kita berbicara dan berkomunikasi terhadap individu maupun publik dengan cara yang beraneka ragam. Dalam
keterampilan berbahasa, biasanya kita melalui suatu hubungan urutan yang terakhir mula-mula pada masa kecil
kita belajar menyimak bahasa, kemudian berbicara, sesudah itu kita membaca dan menulis. Dari keempat
keterampilan tersebut diatas pada dasarnya merupakan satu kesatuan dan catur tunggal.
Setiap keterampilan itu erat pula berhubungan dengan proses-proses berpikir yang mendasari bahasa.
Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya, semakin terampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas
pula jalan pikirannya. Keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktek dan banyak
latihan. Melatih keterampilan berbahasa berarti melatih keterampilan berpikir. Untuk mendapat keterampilan
yang lebih jelas, maka berikut ini akan dibahas sepintas kilas hubungan antara keempat keterampilan itu.
A.

Menyimak dan Berbicara


Menyimak dan berbicara merupakan kegiatan komunikasi dua arah yang langsung merupakan
komunikasi tatap muka atau face to face cominication. (Brooks, 1964:134). Antara berbicara dan
menyimak terdapat hubungan yang erat ternyata dari hal-hal berikut ini:
1.

Ujaran (speech) biasanya dipelajari melalui menyimak dan meniru (imitasi), oleh karena itu
model atau contoh yang disimak serta direkam oleh sang anak sangat penting dalam
penguasaan serta kecakapan berbicara.

2.

Kata-kata yang akan dipakai serta kita pelajari biasanya ditentukan oleh pengarang (stimuli)
yang ditemui, misalnya: kehidupan desa,kota dan kata-kata yang paling banyak memberi
bantuan atau pelayanan dalam penyampaian gagasan-gagasanya.

3.

Meningkatkan keterampilan menyimak berarti membantu meningkatkan kualitas berbicara


seseorang.

4.
5.

Bunyi suara merupakan suatu faktor penting dalam peningkatan cara pemakaian kata-kata.
Berbicara dengan bantuan alat-alat peraga (visual aids) akan menghasilkan penagkapan
informasi yang lebih baik pada pihak penyimak.

B.

Menyimak dan Membaca

Menyimak dan membaca mempunyai persamaan, kedua-duanya bersifat reseprif, bersifat menerima.
Bedanya menyimak adalah menerima informasi dari sumber lisan, sedangkan membaca menerima
informasi dari sumber tertulis. Dengan kata lain menyimak menerima informasi dari perkataan
berbicara, sedangkan membaca menerima informasi dari kegiatan menulis.
Keterampilan menyimak juga merupakan faktor penting bagi keberhasilan seseorang dalam belajar
membaca secara efektif. Penelitian para pakar atau para ahli telah memperlihatkan beberapa hubungan
antara membaca dengan menyimak sebagai berikut:
a. Pengajaran serta petunjuk-petunjuk dalam membaca disampaikan oleh sang guru melalui bahasa
lisan, dan kemampuan sang siswa untuk menyimak dengan pemahaman.
b. Menyimak merupakan cara atau mode utama bagi pelajaran lisan (varbilized learning)
c. Para siswa membutuhkan bimbingan dalam belajar menyimak lebih efektif dan lebih teratur lagi agar
hasil pengajaran itu baik.
d. Kosa kata simak (listening vocabulary) yang sangat terbatas mempunyai kaitan dengan kesukarankesukaran dalam belajar membaca secara baik.
e. Pembeda-bedaan atau diskriminasi pendengaran yang jelek sering kali dihubungkan dengan
membaca yang tidak efektif dan mungkin merupakan suatu faktor pendukung atau faktor tambahan
dalam ketidakmampuan membaca (poor reading)
Selagi keterampilan-keterampilan menyimak dan membaca erat berhubungan, maka peningkatan pada
yang satu huruf pula menimbulkan peningkatan pada yang lain, kedua-keduanya merupakan proses
yang saling mengisi.

C.

Berbicara dan Membaca

Beberapa proyek penelitian telah memperlihatkan adanya hubungan yang erat antara
perkembangan kecakapan lisan dengan kesiapan membaca. Telaah-telaah tersebut memperlihatkan
bahwa kemampuan-kemampuan umum berbahasa lisan turut memperlengkapi suatu latar belakang
pengalaman yang menguntungkan serta ketentraman bagi pengajar membaca. Kemampuan tersebut
mencakup ujaran yang jelas dan lancer. Kosa kata yang luas dan beraneka ragam. Penggunaanpenggunaan kalimat lengkap dan sempurna bila diperlukan, pembedaan pandangan yang tepat, dan
kemampuan mengikuti serta menelusuri perkembangan urutan suatu cerita atau menghubungkan aneka
kejadian dalam urutan yang wajar. aneka hubungan antara bidang kegiatan lisan dan membaca telah
dapat kita ketahui dalam beberapa telaah penelitian antara lain:

Penformansi atau penampilan membaca berbeda sekali dengan kecakapan berbahasa lisan.

Polo-pola ujaran orang yang tuna aksara atau buta huruf mungkin sekali mengganggu pelajaran
membaca bagi siswa-siswi.

Kosa kata khusus mengenai bahan bacaan haruslah diajarkan secara langsung, andaikata muncul katakata baru dalam buku bacaan siswa, maka hendaklah guru mendiskusikannya dengan siswa agar mereka
memahami maknanya sebelum mereka mulai membacanya.
D .Ekpresi Lisan dan Ekspresi Tulisan
Adalah wajar bila komunikasi lisan dan komunikasi tulisan erat sekali berhubungan karena keduanya
mempunyai banyak kesejajaran bahkan kesamaan, yaitu:
v Seorang siswa belajar berbicara jauh sebelumnya dia dapat menulis, dan kosa kata, pola-pola
kalimat, serta organisasi ideide yang memberi ciri-ciri kepada ujarannya merupakan dasar bagi
ekspresi tulis berikutnya.
v Aneka perbedaan pun terdapat antara komunikasi lisan dan komunikasi tulis. Ekspresi lisan
cenderung kea rah kurang berstruktur, lebih sering berubah-ubah, tidak tetep, tetapi biasanya lebih
kacau serta membingungkan dibandingkan ekspresi tulis. Kebanyakan pidato atau pembicaraan
bersifat informal, dan sering kali kalimat-kalimat orang yang berpidato atau yang berbicara itu
tidak ada hubungannya satu sama lain.
v Membuat catatan serta merakit bagan atau kerangka ide-ide yang akan disampaikan pada suatu
pembicaraan akan menolong kita untuk mengutarakan ide-ide tersebut kepada para pendengar.
Biasanya bagan yang dipakai sebagai pedoman dalam berbicara sudahlah cukup memadai kecuali
dalam kasus laporan formal dan terperinci yang memerlukan penulisamn naskah yang lengkap
sebelumnya.
Indonesian Idol Vs X Factor

Apa sih perbedaan X Factor Indonesia dengan Indonesian Idol? Inilah pertanyaan besar yang menghinggapi
para penonton saat menyaksikan ajang pencarian bakat X Factor Indonesia. Pasalnya, sebelumnya sudah ajang
serupa di RCTI yang diberi nama Indonesian Idol.Banyak yang menilai kalau kedua ajang ini sama saja. Hanya
berganti nama saja agar para pentonton seperti disajikan acara yang fresh dan kembali menemukan greget
setelah sempat melempem di Idol terakhir. Namun, jika dilihat lebih jauh lagi kedua ajang ini ternyata memang
berbeda. Berikut ini perbedaan keduanya.
1. Audisi dan Rentang Usia Kontestan.
Audisi X Factor Indonesia memang memiliki kemiripan dengan Indonesian Idol dalam menggelar audisi
terbuka di beberapa kota besar. Hanya saja X Factor Indonesia tidak memberlakukan rentang usia atas bagi
mereka yang ingin mendaftar. X Factor Indonesia hanya menerapkan batas minimal usia bawah, yakni 15
tahun. Tidak seperti Indonesian Idol yang mewajibkan kontestan harus berusia 16-26 tahun saat audisi
digelar. Dengan kebijakan tersebut, X Factor Indonesia sejauh ini menghadirkan banyak kejutan karena
banyak kontestan lanjut usia datang mengadu bakat.
Kalau audisi Indonesian Idol dilakukan di depan juri di ruangan penjurian, tanpa mikrofon tanpa musik.
Sedang X Factor Indonesia sejak awal langsung menguji kontestan di panggung yang dinilai 4 juri dan
ditonton banyak orang. Musik dan mikrofon menjadi senjata mereka menghadapi juri.
2. Babak Booth Camp.
Lolos babak audisi, peserta X Factor Indonesia akan masuk Booth Camp. Peserta akan dinilai penampilan
individu, kerjasama kelompok, dan latihan dance di atas panggung. Kecuali penilaian dalam tes menari,
hampir semua yang ada di babak Booth Camp hampir mirip babak eliminasi Indonesian Idol.
Hanya saja pada babak ini X Factor Indonesia mulai mengelompokan peserta ke dalam kategori Boys
Under 24, Girls Under 24, Kelompok di atas 24 tahun, dan grup.Sedangkan pada babak Eliminasi, juri
Indonesian Idol memantau kemajuan peserta dari tampil tanpa musik, lalu diiringin piano dan musik.

3. Judges Home Visit


Jika terus melaju, kontestan X Factor Indonesia akan dihadapkan pada babak Judges Home Visit. Di sana
mereka akan mulai tahu bahwa mereka semakin dikelompokan. Peserta dalam berbagai kategori umur
mulai bertemu mentor masing-masing.

Peserta dalam kubu tiap mentor akan diminta bernyanyi, untuk kemudian dipilihnya 3 penyanyi terbaik.
Semua murni pilihan juri, tanpa melibatkan vote seperti babak eliminasi Indonesian Idol.
Di babak ini, juri Indonesian Idol cenderung memilah-milah peserta berdasarkan bakat menyanyi dan aura
kebintangan. Sesuai namanya acaranya yang menekankan pada kata 'idola', penonton sering disajikan
lolosnya kontestan muda yang terlihat hijau pengalaman. Di sisi lain banyak kontestan dengan pengalaman
pulang dengan wajah lesu. Mentor X Factor Indonesia mungkin memilih kontestan yang lebih berdasarkan
selera dan latar belakang mereka. Maklum selain sebagai juri, mereka lah yang harus membimbing
langsung para peserta.
Dalam hal ini juri atau mentor bisa memberi masukan untuk memperbaiki penampilan yang dianggap
kurang.
5. Gala Live Show
Indonesian Idol menamakan babak ini sebagai babak Spektakuler Show, X Factor Indonesia
memperkenalkannya sebagai Gala Live Show. Babak ini normalnya melibatkan 12 finalis. Tapi Indonesian
Idol sendiri awalnya memasukan 10 kontestan plus 1 wild card, kemudian berkembang jadi 12 kontestan.
Sedangkan X Factor Indonesia berisikan 12 kontestan plus 1 wild card. Nah perbedaan konsep dan sistem
penjurian sangat berbeda.
Di Indonesian Idol juri hanya bertugas menjuri, menilai penampilan kontestan dari pekan ke pekan, tanpa
terlibat langsung mementori mereka. Ada sekali dua juri Indonesian Idol melatih dan memilihkan lagu, tapi
secara keseluruhan, Kontestanlah yang menentukan penampilan seperti apa yang akan mereka tampilkan.

6. Voting dan Sistem Penjurian


Di babak Gala Live Show X Factor Indonesia, para kontestan bisa mendiskusikan lagu yang dipilih dan
konsep yang akan ditampilkan dengan juri yang juga bertugas sebagai mentor. Bahkan juri juga bertugas
memilihkan kostum dan menentukan konsep koreografi. Tapi jika kontestan ingin membuat aransemen lagu
sendiri, seperti yang terjadi pada Shena juga diperbolehkan, tentunya dalam pantauan mentor.
Meski sama-sama dinilai dengan vote penonton. Ada sistem yang berbeda antara kedua acara yang
memungkinkan juri ikut ambil bagian menentukan nasib kontestan.
Saat dua kontestan berada di posisi tidak aman, X Factor Indonesia menawarkan sistem "save me song",
atau lagu terakhir yang dipilih peserta untuk mempromosikan diri pada penonton bahwa mereka layak

dipilih. Kemudian juri bakal melakukan vote. Kalau terjadi suara seri, atau disebut deadlock, peserta akan
ditentukan jumlah vote yang sudah masuk.
Sedang di Indonesian Idol, juri memiliki sistem hak veto. Hak veto bisa digunakan apabila kontestan yang
mendapat suara terendah dianggap cukup bagus. Juri akan memberi hak veto mereka untuk menyelamatkan
kontestan.
Dari enam poin yang sudah dijabarkan di atas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa X Factor Indonesia
dan Indonesian Idol memang berbeda. Bukan hanya mengganti nama acaranya saja.